Friday, April 17, 2026

GAIRAH MALAM III, 60% SUTING DI GUDANG

 


GAIRAH MALAM III, 60% SUTING DI GUDANG, Kesuksesan sebuah film nasional acap dipengaruhi judulnya. Demikian mitos yang terdapat di perfilman nasional. Simak saja judul film nasional belakangan ini begitu bombastis dan penuh dengan adegan yang menggiurkan  hawa nafsu, meskipun terkadang materi cerita tidak sesuai dengan judul filmnya. Dengan judul film yang "luar biasa" itu diniatkan memancing minat penonton untuk melirik perfilman nasional. 

Film Gairah Malam III diproduksi PT. Elang Perkasa Film ini, ceritanya tidak ada kaitan dengan Film Gairah Malam  I dan Gairah Malam II. Hanya artis sexy Malvin Shayna pemain tetap film Gairah Malam I,II dan III. Diakui para booker film daerah, artis panas ini masih punya nilai jual yang cukup tinggi. Teruji dari sekian banyak film yang dibintanginya menghasilkan rupiah yang cukup lumayan ke kocek produsernya. Akibatnya sering akhir-akhir ini Malvin Shayna tampil di layar perak sampai melahirkan anekdot, Malvin Shayna penyelamat film nasional. Karena dengan tubuh mulusnya menggairahkan penonton untuk datang ke bioskop. Gairah Malam III juga yang dibintangi Eddy Chaniago, Sonny Dewantara, Diaz Astuty, Malvin Shayna, Hengky Sonny RB, Thea Novita, dan Shinta DS ini. 

Ketiga serial film, Gairah Malam ceritanya secuilpun tidak memiliki continuity atau kesinambungan. Dipakainya judul Gairah Malam III hanyalah kiat produser mencuri perhatian. 

"Judul film Gairah Malam semacam ada 'garansi' dalam meraih keuntungan," komentar sutradara Prawoto Soeboer Rahardjo.

Adanya 'garansi' dari judul Gairah Malam bukan membuat sutradara jebolan IKJ ini berlaha. Dalam pengadeganan dan pembuatan trik-trik effect ia mencoba menampilkan gagasan baru. Antara alam mistik dan alam nyata. Dari materi skenario yang ditulis Prawoto, film ini 'bermain-main' dalam alam imaginasi. Rumusan seks dan kekerasan yang menjadi handalan tetap dipelihara. 

Materi cerita tentang perebutan pusaka. Mirip seperti kisah nyata Brandon Lee ketika suting film The Crow. Hanya saja alur ceritanya dilencengkan kealam mistik. 

Dalam suting sebuah film tiba-tiba pemeran utamanya tanpa di sengaja kena tembak dan mati. Kemudian dibawa kerumah sakit. Akan tetapi begitu Jodi sadar ia sudah berada disebuah alam gaib, alam antara hidup dan mati. Dalam alam itu ia bertemu dengan teman-temannya yang telah lama mati. ANehnya semua jadi mayat hidup. Hanya Jodi yang masih bernafas. Kiranya pembunuhan Jodi disengaja oleh Bu Darmi, seorang wanita yang memiliki ilmu tinggi. 

Bu Darmi dendam melihat Jodi anak musuh bebuyutannya sukses sebagai bintang film. Apa lagi musuh yang sekaligus kakak seperguruannya, Darman belum dapat dikalahkan. Sakit hati Darmi bermula karena merasa Darman mengabaikan anaknya yang dititipkan untuk menuntut ilmu. Akibat keteledoran itu anak Bu Darmi yang dititipkan kepada Darman sejak kecil menjadi gila. 

75% dari film ini penuh dengan adegan laga sedang sisa 25% untuk love scene. Sutradara muda ini mencoba memadukan unsur penuturan Amerika dan Mandarin dengan peralatan yagn ada di perfilman nasional. Para awak film yang terilbat dalam film ini adalah Prawoto Soeboer Rahardjo (Sutradara), Heru Susanto (Kamerawan), R.A Maktal (Penata Artistik), Chris (Penata Kelahi) dan Andy Burnama (unit Manager) ~sumber MF 256/222/XII/6-19 April 1996

No comments:

Post a Comment