Showing posts with label aktor. Show all posts
Showing posts with label aktor. Show all posts

Monday, March 23, 2026

BENNY G RAHARDJA, LUKA KENA TOMBAK


BENNY G RAHARDJA, LUKA KENA TOMBAK, (berita lawas). Lama Benny G Rahardja mengilang dari dunia film, kemudian muncul kembali lewat film Tutur Tinular. Film kedua setelah tiga tahun menjadibisnisman inilah malapetaka terjadi. Seorang figuan  film Jago menombaknya, sehingga tangannya berlumur darah dan diapun meringis kesakitan. Suting jadi break. Semua kru ikut panik. Tapi dia cepat di selamatkan kerumah sakit.

"Lukanya tidak seberapa, tapi tiga jahitan juga. Namun saya tidak bisa langsung suting," kata artis kelahiran Ujung Pandang ini. Apa pasal kecelakaan terjadi? "Salah kontrol saja. itulah resikonya menjadi pemain film action. Meleng sedikit saja cidera," ujarnya menyesali. Karena Benny juga seorang guru silat soal luka tidak menjadi masalah. Bayangkan besoknya dia dapat berlakon kembali. Apakah karena lokasi suting cukup angker? Beberapa artis ada yang kesambet, bahkan seorang darinya kesurupan?"Ah tidak, " tangkisnya. 

Lalu apa yang membuatnya kembali ke film? Sebenarnya dia ingin meninggalkan dunia film. Karena ditawarkan untuk  berlakon dalam film Tutur Tinular hal ini sulit ditolaknya. Salah satunya adalah instrukturnya orang HOngkong. Sebab dari beliau-beliau itu kita bisa memetik pengalaman, tanpa harus ke Hongkong. Kalau kita kesana berapa harus mengeluarkan biaya. Begitu juga dengan yang lainnya, katanya terus terang. 

Karena dia tersentuh film lagi, mau tidak mau diapun menerima dalam film Jago. "Inilah yang sulit, badan saya panas kembali kalau melihat kamera. Padahal tugas-tugasnya masih banyak sebagai seroang bisnisman. Namun yang jelas dia takkan surut dari dunia film walau cedera bagaimanapun. Sebab dia telah tertempa oleh ilmu bela diri yang memadai.~MF 110/78 Tahun VI, 15-28 sept 1990

Sunday, March 22, 2026

SYAIFUL NAZAR, DARI STUNTMAN KE PERAN UTAMA


 SYAIFUL NAZAR, DARI STUNTMAN KE PERAN UTAMA, Stuntman adalah satu istilah dalam dunia film yang ditujukan pada orang yang tugasnya menggantikan bintang melakukan adegan berbahaya. Sudah barang tentu seorang stuntman harus punya kemahiran dan keberanian istimewa. Seperti halnya Syaiful Nazar yang berasal dari Salido, Pesisir Selatan Sumatera Barat ini. 

"Saya sudah pernah menggantikan Barry Prima (Dalam Bergola Ijo) , Advent Bangun (Dalam Si Buta dan Jaka Sembung), Georgy Rudy (Jaka Gledek) dan Willy Dozan (Pendekar Liar), khususnya untuk adegan salto dan jumpalitan," katanya bangga. 

Lulusan FPOK (Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan) ini memang sudah berhak menyandang gelar Drs. Prestasinya dalam bidang olahraga seabreg. Untuk meyebutkan beberapa diantaranya, juara Gulat Remaja 76, Juara Senam PON IX (77), Juara Senam Seagames 79, Juara Senam Pelajar Asean 80, sekaligus merebut 4 medali emas dalam PON X (81) serta Sea Games 2 di Manila. 

"Tahun 85, saat mengikuti Sea Games di Bangkok, saya mengalami cedera tulang punggung, kendati begitu masih bisa menyabet medali perak,"kenangnya. 

Perkara main film memang sudah jadi cita-citanya sejak kecil. Sayang, karena tingginya kurang, cuma 1,59 meter, maka paling cuma dipasang sebagai pemeran pembantu saja. Mulai main film diajak sutradara Dasri Yacob lewat "Pendekar Liar" sebagai guru Willy Dozan. Perannya yang mengesankan sebagai si Kupra pendekar bego pendamping Barry Prima dalam "Mandala dari Sungai Ular", lalu jadi petinju panter Willy dalam Rio Sang Juara. 

"Bekal saya memang pencak silat dan senam, " aku Syaiful. tapi kemudian saya mencangkok jurus-jurus taekwondo dari Barry, karate dari Advent dan Kungfu dari Willy."

Memasuki tahun 1990, nampakna bintang Syaiful mulai mencorong. Dipercaya untuk berperan lebih dalam film silat seperti  "Pendekar Tapak Sakti", "Misteri Lembah Naga" dan "Jago" yang paling membanggakan adalah ketika dipilih sebagai pemeran utama dalam produksi PT. Garuda Film yaitu "Pendekar Cabe Rawit" berpasangan dengan Uci Bing Slamet dan bertarung melawan WD Mochtar dan Johan Saimima. 

Syaiful Nazar beristrikan Meliani mahasiswi teladan IKIP, dan memiliki putri Melisa Fitri. Harapannya bisa mempopulerkan silat tradisional lewat film laga nasional. ~MF 110/78 Tahun VI, 15-28 sept 1990


Tuesday, March 10, 2026

ACHMAD NUGRAHA, PERAN YANG BAIK-BAIK


 ACHMAD NUGRAHA, PERAN YANG BAIK-BAIK (Berita Lawas). Tampangnya pasti cukup familiar bagi penonton setia drama seri Jendela Rumah Kita, sebagai Kahar suami Ratna (Nungki Kusumastuti) yang penurut dan sabar. Dilayar perak film-filmnya sudah banyak seperti Jakarta-Jakarta, Rahasia Seorang Ibu, Serangan Fajar, Rembulan dan Matahari, Untukmu Kuserahkan Segalanya, Wolter Monginsidi, Mereka Memang Ada dan sederetan judul lainnya. Sekali waktu ikut nongol di pentas teater. 

Bila judul film yang dibintanginya berderet-deret, sebaliknya namanya belum bisa di deretkan dijajaran artis populer macam Ray Sahetapy, Rano Karno, atau Mathias Muchus. 

"Mungkin karena peran-peran yang saya mainkan tidak terlalu menonjol. Kalau soal kemampuan saya yakin kemampuan saya ada. Saya sendiri ingin mencapai prestasi yang setinggi-tingginya, tetapi kesempatan belum ada, " tuturnya bersemangat. 

Seperti dalam Jakarta '66, ia merasa bermain cukup mantap dan menurutnya film itu pun di garap begitu serius. Sangat serius bahkan. Sayangnya tidak diikutsertakan dalam festival. Lagi-lagi kesempatan meraih prestasi melayang. 

Untuk pengagum Sjumandjaya ini cenderung suka peran keras atau sadis, yang datang selalu itu ke itu saja. Tidak jauh dari karakter orang sabar, penurut, soleh,.. pokoknya orang-orang yang menyenangnkan. Monoton, apa boleh buat!. 

"Mungkin pendekatan figur yagn di pakai sutradara tiap kali memberi suatu peran buat saya. Katanya sih tampang saya tampang orang baik-baik, makanya selalu di sodori peran orang baik, " celotehnya sambil tertawa. 

Biar dalam film-filmnya aktor yang nggak suka kerja dobel ini selalu jadi orang sabar dan sejenisnya atau suami yang penurut rada-rada lemah, namun itu semua sangat berlawanan dengan kehidupan sehari-harinya. "Jelas saya bukan suami  penurut di rumah. Sebagai leader saya harus tegas. Di rumah ini untuk semua gejala sayalah satu-satunya decision maker. Tapi bukan diktator lho, " jelasnya lebih bersemangat. 

Kalau dengan 'Ratna" dia begitu penurut, di rumah dia selalu tegas mengajarkan kepada anak sulungnya Kian Santang supaya sadar akan hak dan kewajiban. 

Berkecimpung di dunia film memberinya banyak pengalaman. Setiap kali suting di satu daerah atau daerah mana saja, selalu ada pengalaman  menarik yang bisa diambil. Paling tidak jadi tahu banyak tentang berbagai kultur atau dialek suatu daerah tetapi disisi lain kegiatannya di film seringkali membuatnya kaget, manakala tiba-tiba ada yang nyeletuk, "Bintang film kok belanja di obralan?". Memang Nugraha suka iseng mengobrak abrik obralan di pusat perbelanjaan. 

MF No. 094/62/Tahun VI 3 - 16 Feb 1990

Tuesday, March 3, 2026

KUSNO SOEDJARWADI, MANTAN POLISI MILITER YANG JUGA AKTOR


 KUSNO SOEDJARWADI, MANTAN POLISI MILITER YANG JUGA AKTOR, (Berita Lawas). Kusno Soedjarwadi, lelaki kelahiran Jogyakarta, 16 Juni 1932 tidak sembarangan menerima tawaran untuk main film. "Selain kerja dan kesibukan organisasi, ia juga membina 30 orang lebih anak-anak di Sanggar Teater Graha Mandiri Bogor, " ujar wkail ketua komisi film Dewan Kesenian Jakarta. 

Tapi ada alasan lain mengapa mantan Polisi Militer yang terjun ke film sejak tahun 1956 ii ngumpulin anak-anak dan bikin sanggar teater. "Saya rindu film anak-anak yang tahun-tahun terakhir  begitu langka. Karena itu ia mengumpulkan anak-anak ini di kota saya. Saya bina mereka, saya ajari akting dan main drama dengan cerita-cerita yang mengandung humaniora. Tapi jangan salah lho, bukan berarti anggota sanggar saya melulu anak-anak. Ada juga yang mahasiswa, "ujar aktor yang pernah jadi penjaga gawang dan ketua klub sepakbola ini. 

Menurut aktor terbaik pilihan PWI Jaya lewat film "Perkawinan " tahun 1977 ini, langkanya film anak-anak di negeri ini bukan karena produser atau insan film enggan membuat film anak-anak. "Insan film siapapun dia, pasti berkeinginan untuk membuat film anak-anak, tapi bagaimana kita akan membuat kalau peredarannya jadi masalah? Tidak terjamin, " jelasnya. 

Ketika disinggung tentang apa yang dimaksud dengan film anak-anak tersebut, aktor yagn sudah membintangi puluhan judul film ini, dengan tangkas mengelak, "Batasan untuk pengertian film anak-anak tersebut memang masih kabur. Ceritanya tentang anak-anak atau pemainnya anak-anak? Soalnya tidak semua film anak-anak harus dimainkan anak-anak kan? Orang tua juga bisa memainkannya, " tutur aktor yang juga sutradar aini. 

Kusno mencontohkan film "Don Aufar" . Menurutnya itu bukan film anak-anak. "Soalnya film itu mengambah sih". Karena itu Kusno berpendapat film anak-anak adalah film yang mampu menarik minat dan disukai anak-anak. "Untuk melahirkan film yang disukai dan dimintai anak-anak tersebut kita memang harus lebih dulu mengerti dunia kanak-kanak tersebut, " ujarnya. 

"Pokokny aalasan saya mengumpulkan anak-anak di Bogor adalah untuk mengajak mereka mengenal dunianya dan dapat mengekspresikannya. Kalau mau tahu bagaimana saya membina anak-anak tersebut datang saja ke Sanggar saya, " ajak aktor yang juga mantan dosen Asdrafi Jogya ini 

diambil dari MF 61/29 tahun V, 29 Okt - 11 Nov 1988.

Friday, February 27, 2026

GITO GILAS, LEBIH SUKA JADI WARTAWAN


 GITO GILAS, LEBIH SUKA JADI WARTAWAN , (Berita Lawas). Tidak semua artis ingin menggantungkan hidup pada dunia film. Contohnya Gito Gilas. Dia lebih suka menjadi wartawan daripada artis yang menurut pendapat orang-orang punya masa depan cerah. Lalu alasan apa yang membuat anak muda yang kuliah di STP ingin menjadi wartawan?

"Karena saya kuliah di STP, mengambil jurusan Jurnalistik, " kata Gito yang lahir 27 Mei 1966 berterus terang. "Tapi saya tidak mau menjadi wartawan harian. Sebab sangat sibuk. Saya lebih suka menjadi wartawan Majalah, terserah mau majalah apa, " lanjut anak ke 2 dari 4 bersaudara ini. Kapan dunia wartawan akan digelutinya. "Saya sendiri belum tahu. Yang jelas saya akan jadi wartawan setelah selesai kuliah, " katanya menambahkan. 

Walau Gito Gilas sudah beberapa kali melakoni film nasional namun baginya lebih suka bermain di layar gelas milik pemerintah itu. Alasan apa yang membuat tertarik berlakon di TVRI?

"Kan banyak masyarakat yang tidak sempat menonton di bioskop. Kalau nonton di bioskop, kan harus bayar, di TV tidak. Gratis. Lagipula masyarakat langsung mengenal kita, " kata lelaki berbintang Gemini yang lahir di Kota Bandung ini. 

Dalam film TV dia beberapa kali melakoni cerita remaja, antara lain Fanny, sutradara Partom Hutapea, Opera Anak-anak Kost sutradara Partom Hutapea, dan juga Tegar sutradara Bamang Rochyadi serta beberapa film TV yang lain. "Alasan saya mau menerima tawaran main sinetron sederhana saja. Karena kita bisa belajar. Kan ada monitor untuk melihat akting kita. Jadi kalau tidak pas bisa di hapus dan direkam kembali, " lanjutnya. "Lagi pula kalau main disini kita bisa totalitas. Artinya kita langsung berdialog memakai suara kita sendiri, tapi kalau film kan harus di dubbing lagi, " katanya menambahkan. 



MF 095/63/Tahun VI, 17 Februari - 2 Maret 1990

Wednesday, February 25, 2026

JOSEPH GINTINGS


 JOSEPH GINTINGS. (Berita Lawas). Dia merupakan "Singa" panggung. Beberapa kali menjadi aktor terbaik pada festival teater. Kemudian dari teaterlah dia tahu akting baik yang diperolehnya dari IKJ tempatnya menimba ilmu. 

Namun sukses Joesph Gintings di panggung teater tidak sama dengan suksesnya di dunia film dan televisi. Walau begitu bapak yang menjadi salah seorang pengajar di IKJ ini merasa yakin bisa melejit ke permukaan dunia akting. 

"Saya tidak bisa idealis. Sebab tuntutan zaman kita harus bisa segalanya," katanya. "Oleh sebab itulah saya mau main TV atau film. Kalau di panggung beberapa honor yang kita terima? begitu pula banyak masyarakat yang belum kenal dunia panggung, " katanya lebih lanjut. 

Walau prestasinya di dunia panggung tidak terhitung lagi, namun Joseph merasa belum dikenal masyarakat. Padahal dia telah berkali-kali main drama atau film TV. "Itu dulu sekarang saya sudah dikenal", ujarnya sambil ngakak. Sejak kapan dikenal? "Sejak saya main film TV Setegar Lintasan Baja. Padahal dalam film itu saya terburu-buru menerima peran, " katanya. Dia memerankan seorang masinis PJKA yang penuh penderitaan batin. 

Walau sudah cukup pengalaman, tapi Joseph merasa kelimpungan ketika berperan sebagai Monang, dalam film seri "Tembang Di Tengah Padang". Kenapa bisa begitu? Pasalnya dia membawakan karakter orang Batak. Dia juga orang Batak, tapi jadi bingung orang Batak yang mana yang harus dia perankan. 

"Saya Batak, tapi Batak yang saya bawakan kejawa-jawaan, " lanjutnya. 

Dalam film seri Tembang Di Tengah Padang itu Joseph mendapat kesempatan bermain sebanyak 4 episode. Padahal ketika suting film TV itu dia juga sedang sibuk suting film Dua Diantara TIga laki-Laki, sutradara Edward Pesta Sirait, mengambil lokasi di Surabaya. 

Dan karena sutingnya bersamaan, membuatnya harus pontang panting di Surabaya-Cipanas. "Karena saya suting dua film bersamaan. Satu suting film TV, yang satu lagi film bioskop. Itulah risiko seorang artis. Harus tahan banting, " kilahnya mengenang perjalanannya dari Surabaya ke Cipanas. 

Kala di urut, banyak sudah prestasinya, antara lain dia melakoni di film Jakarta 66, Hidup Semakin Panas, Panggung Pementasan Waiting for Godot, Hilang Tanpa Bekas dan lain-lain. Berlakon di TV sudah puluhan kali, sebagai sutradara panggung dia sempat mementaskan Kebebasan Abadi naskah CM Nas dan Wek Wek naskah D. Djajakusuma. 

"Saya belum apa-apa. Saya masih harus banyak belajar. Sebagai orang seni saya selalu kurang puas, " tuturnya. Awal tahun 1990, Wahyu Sihombing gurunya telah pergi untuk selama-lamanya. "Pak Hombing tak meninggal. Saya merasa dia hanya keluar negeri. Saya pikir juga dia tidak akan pernah meninggal, " katanya dengan pandangan berkaca-kaca. 


MF 095/63/Tahun VI, 17 Februari - 2 Maret 1990

Monday, February 23, 2026

ARIF RIVAN

 


ARIF RIVAN, Tidak Bisa Casting Rangkap (Berita Lawas). Untuk sepekan Film TV akhir tahun 1989, Arif Rivan berlakon menjadi Radeng Pengung. Cerita komedi berjudul Raden Pengung, itu berdasar skenario Arswendo Atmowiloto dan sutradara Mustafa. Karena film TV itu pula yang membuatnya marah kepad dirinya sendiri. Kenapa bisa begitu? Karena  Arif Rivan tidak puas. "Saya tidak puas karena ketika mempelajari karakter Raden Pengung terburu-buru. Bayangkan cuma 3 hari waktu saya mempelajarinya."kata artis kelahiran Padang 1 November 1951. "Apalagi cerita komedi. Dan komedinya karena karakter. " ujar anak bungsu dari 7 bersaudara ini. Padahal dia pernah berhasil melakoni cerita komedi "Nujum Pak Belalang" ketika sepekan Film Tradisional TV pada Mei 1989 di TVRI, ketika it dia melakoni seorang Raja Melayu di Sumatera Timur. 

"Ketika itu, waktu saya mempelajari karakter cukup. Apalagi didukung oleh Artis yagn berpengalaman, " lanjutnya. Untuk mempelajari karakter bagi Arif Rivan tidak cukup hanya 3 atau 5 hari. 

"Itulah sebabnya saya tidak berani menerima casting pada saat bersamaan. Kalau sudah selesai satu, barulah yang satu lagi saya terima, " kilah artis ini. Kiranya Arif Rivan mempunyai sikap juga untuk menerima tawaran. Padahal banyak artis selagi laku berani menerima tawaran 3 sampai 4 casting sekaligus. "Saya bisa saja begitu, tapi untuk mempelajari karakter kan tidak bisa terburu-buru, " tangkisnya. 

Arif Rivan pertama sekali terjun ke dunia akting melalui layar gelas. "Biar honor main TV kecil, saya puas. Selain waktu sutingnya singkat, juga kita bisa akrab dengan kru serta sutradaranya," katanya. Karena alasan itu pula membuat Arif Rivan bersedia melakoni Herman dalam film serial TV "Tembang Di Tengah Padang" sutradara Darto Joned. Ia melakoni seorang insinyur yang mengabdi di desa.  


MF 095/63/Tahun VI, 17 Februari - 2 Maret 1990

Thursday, February 12, 2026

ARIE SANJAYA


 ARIE SANJAYA, Ada yang tahu sosok ini? Bagi yang pernah menonton Operasi Trisula, Penumpasan Sisa-Sisa PKI di Blitar Selatan,atau sinetron SCTV Perjalanan tentu masih ingat sosok ini. Ya dialah Arie Sanjaya. 

Sebagai seorang aktor yang sudah malang melintang di dunia layar perak, seperti Arie Sanjaya, memainkan sebuah tokoh sentral bukan sesuatu yang baru. Bahkan merupakan makanan sehari-hari. Pria kelahiran Ambarawa 17 Agustus 1932 ini baru merasakan kenikmatan sebagai seorang aktor, karena pada sinetron Opera Senja, Pak Arie demikian pria yang hampir seluruh rambutnya memutih ini dipercaya oleh Noto Bagaskoro untuk menggantikan posisi almarhum S Bono yang waktu itu tidak bisa main karena sudah mulai sakit-sakitan. 

"Saya sungguh bersyukur dipercaya sutradara untuk menggantikan peran Pak Bono, namun kepercayaan itu buat saya sangat berat. Karena antara saya dan Pak Bono kemampuan aktingnya jauh berbeda, tapi sebagai pemain saya telah berusaha untuk bermain sebaik mungkin. Dan alhamdulillah tidak ada masalah apa-apa, kelihatannya sutradara juga puas dengan permainan saya, " tandas pemeran Pak MOchtar di sinietron yang juga dibintangi oleh Bob Sadino, Wawan Wanisar, Mathias Muchus dan Cut Rizky Theo ini. 

Aktor yang menekuni dunia film sejak tahun 1960an lewat film Si Pendek dan Sri panggung garapan sutradara Said HJ ini mengaku walau permainannya di puji sutradara karena dianggap mendekati permainan S Bono ini, tetap merasa belum maksimal. Karena dalam sinteron yang di produksi 6 episode ini, Pak Arie belum mengeluarkan seluruh kemampuannya. 

"Wah, kalau dibandingkan dengan Pak Bono, saya nggak ada apa-apanya, " ujar pria yang sudah lama menduda ini merendah. 

Ketika disinggung mengenai kesendiriannya tiba-tiba wajahnya yang menyiratkan kedamaian berubah keruh. Kemudian bintang iklan salah satu produk minuman energi dan Pasar Raya ini sorot matanya menerawang ke masa-masa indah bersama keluarganya dulu. 

"Karena usaha saya ancur, keluargapun jadi berantakan. Semua itu karena istri saya nggak bisa menerima kenyataan, terus terang waktu saya masih bekerja sebagai Manajer Imam (Industri Artis Music Management) di Surabaya dan Kalimantan, hidup saya lumayan, tapi tiba-tiba usaha tersebut mengalami kemerosotan sehingga usaha bangkrut dan akhirnya saya kembali kedunia seni seperti sekarang ini, ujarnya. 

Pak Arie kemudian sedikit mengungkapkan masa lalunya, bahwa istrinya yang tadinya terbiasa hidub berkecukupan, tidak bisa menerima perubahan nasib yang dialami suaminya. Akhirnya sang istri pilih cerai dan kawin lagi dengan salah seorang pengusaha, sementara Pak Arie masih betah menduda. 

"Saya tidak menyesal tidak menikah lagi, karena terus terang ketika saya mau memulai memikirkan untuk berumah tangga lagi, impian buruk saya berumahtangga dulu terus membayangi, jadi saya terus diliputi rasa takut ketika mau menikah lagi, " paparnya. 

~MF


Wednesday, February 4, 2026

NIZAR ZULMY


 NIZAR ZULMY. Kenal Barep? Dia adalah seorang bapak yang arif, lembut tatakramanya, bijaksana dalam mengambil keputusan dan menjadi panutan dalam keluarga besar Krido, pada drama seri "KISAH SERUMPUN BAMBU" karya Darto Joned yang pernah di tayangkan TVRI. 

Nizar Zulmy ini adalah sosok yang urakan, tapi tidak dengan Barep, ia tidak sama dengan Nizar bintang TV ini bekas anak pasaran alias Preman di Lubuk Pakam, Pangkalan Brandan dan Kota Medan. Dan pengalaman di pasaran itulah yang membuat ia berhasil melakoni Wiril, tokoh dalam drama "Doa seorang Narapidana" arahan Irwinsyah , drama TV yang menurutnya paling berkesan. 

Nizar Zulmy anak yang bedarah melayu Deli ini sempat menjadi panutan bagi masyarakat setelah membintangi dalam Kisah Serumpun Bambu, kemudian ia juga mendapat tantangan untuk bermain dalam drama seri karya Darto Jonet yang berjudul "Tembang Diatas Padang". Temanya agak mirip dengan Kisah Serumpun Bambu, madih berkisah tentang transmigrasi. Suting pengambilan gambar di lakukan di Sumatera. 

Apakah Tembang Diatas Padang sambungan dari Kisah Serumpun Bambu? Tidak. Memang ceritanya masih mengenai transmigrasi. Tapi transmigrasi kan macam-macam. Tidak harus selalu seperti kisah "Serumpun Bambu", kilahnya. 

Perokok berat ini merasa telah menyatu dengan "Kisah Serumpun Bambu" dan Nizar merasa sedih meninggalkannya. Tapi apaholeb buat, ternyata drama ini hanya sampai 24 episode saja. "Kami dilapangan ketika itu seperti satu keluarga. Saling membantu. Pokoknya AMK-lah (Aktor merangkap Kuli). ya kadang saya menjadi supier, menjemput artis atau keperluan lain. Kadang juga mengurus kostum dan membangun setting, " katanya. 

Nizar yang siap juga utnuk di botaki atau menguruskan badan, mengaku telah ratusan drama telah ia lakonkan. Tapi dia belum merasa apa-apa. "Saya memang ingin bermain jadi apa saja. Saya sanggup melakonkan apa saja. Dari presiden hingga tukang beling, " katanya. 

"Berdrama bagi saya bukan sekedar hobby, tapi ia sudah menjadi tuntutan hidup bagi saya, "sambungnya melanjutkan. Inilah yang membuat Nizar atau akrabnya Bung Adek ini tidak pilih-pilih peran. Asal mengena di hatinya kontan diterimanya, di dunia film pun Bung Adek bukan muka baru. Tapi dia berkeyakinan satu saat nanti ia akan melambung ke tangga terhormat dalam perfilman Indonesia. 

~MF 61/29 Tahun V, 29 Oktober- 11 November 1988

Wednesday, January 28, 2026

ATIN MARTINO, SI MANTAN JUARA SILAT


 ATIN MARTINO, SI MANTAN JUARA SILAT, Hidup Harus Ulet dan Tekun! Hidup itu tidak gampang, penuh tantangan dan untuk menghadapi segala tantangan itu, perlu perjuangan dan ketekunan, keuletan agar meraih sukses yang diharapkan. 

Demikian papar mantan juara IPSI se Jatim yagn sejak akhir tahun 1985 menggeluti dunia film, ketika wawancara disela-sela suting "Anak Anak Kolong" arahan Lukmantoro yang berlokasi di Cirebon - Kuningan dan sekitarnya. 

ATIN MARTINO yang mengawali karir sebagai film figuran lewat film perdananya "Menerjang Badai" arahan Dasri Yacob ini mengaku sejak usia SD hobby nonton film action. Dari situlah ia tertarik belajar bela diri Pencak Silat dan menggemari kung fu. 

Anak bungsu dari pasangan Soedirman dan Soenarti ini terlahir di kota Surabaya tepatnya 16 Desember 1962. Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, ia dituntut mengikuti jejak kakak-kakaknya belajar hidup mandiri dan tidak menggantungkan diri pada orang lain. 

Itulah sebabnya ia memutuskan memilih film sebagai ladang hidupnya. Siapa bilang film tidak bisa diharapkan, buktinya saya berangkat dari bawah sebagai figuran. Modalnya itikad dan semangat juang, saya bersikeras menggeluti dunia film ini sampai prestasi puncak, tutur arek Suroboyo penggemar musik cadas ini. 

Alhamdulillah sudah banyak film yang saya geluti diantaranya Mat Ireng, Wiro Sableng dalam judul Kapak Maut Tutur Sepuh , Anak-anak Kolong dan lain-lain yang sebagian besar film aksi, " ujar Atin Martino yang berperakawan kekar dengan tinggi 172 cm . 

Aktor yang mulai naik daun ini sudah beberapa kali memegang peran utama. Namun ia sendiri tidak pernah merasa puas, ia selalu mengevaluasi diri dari film yang satu ke film lain, disamping menimba pengalaman dari para senior dan sutradara. 

Setiap insan pasti merindukan keluarga, akan halnya saya dalam kegiatan syuting terkadang muncul rasa rindu. Dalam hal ini, kita harus bisa membagi jadwal antara profesi dan kepentingan keluarga, dengan penuh pengertian dan ketulusan hati, " ucap Atin . 

Menyinggung soal honor main film, ia mengelak. Ini rahasia dong dan rasanya kurang etis diketahui secara umum kilahnya. Pokoknya lumayan buat kebutuhan "dapur ngebul" dan prinsip hidup saya, menerima apa adanya dengan penuh kesadaran ikhlas dan tabah menghadapi tantangan hidup, ujar laki-laki yang benci kepada orang yang tidak jujur dan munafik ini. 

~sumber MF 119/87 Tahun VII, 19 Jan - 1 Feb 1991

Tuesday, January 20, 2026

DOYOK SUDARMADJI

 


DOYOK SUDARMADJI, ASAL MULA PAKAI NAMA DOYOK DAN KEHIDUPAN SEBELUM MAIN FILM, Nasib baik memang tak pernah pandang bulu. Dan nasib baik itu pula yang menyinggahi Doyok Sudarmadji. arek Surabaya yang kondang sebagai pelawak."Padahal dulu saya ini hobbynya ngebut lho, sampai pernah jungkir balik di jalanan, " ujar Doyok. 

Padahal, menurut Bapak bertubuh kecil ini, sebelumnya jadi pelawak dan kemudian main film, hidupnya sejak berada di Jakarta begitu pahit. "Saya malah pernah jadi tukang tambal ban, " tuturnya.  Tidak cuma itu, iapun mengaku sempat pula hidup dalam suasana yang ugal-ugalan. "ngebut dan petentengan di jalanan dengan motor besar, itu dulu menjadi bagian sehari-hari saya, " katanya. 

Namun nasib lain kemudian merubah hidupnya. Ya kecelakaan di jalanan waktu ngebut itulah yang menurutnya membuat sadar. Lalu bersama beberapa rekannya yang seide ia lalu bikin grup lawak yang diberi nama "Doyok Group". "Nama Doyok sendiri kami ambil dari nama tokoh komik di Poskota atas izin mas Kelik, pengarangnya. Waktu itu kami akan ikut lomba lawak di Ancol," ujar Doyok. 

Doyok yang mengaku dari hasil melawak dan main film itu bisa beli rumah dan pasang telepon, menyebutkan, dunia lawak dan film tampaknya memang sudah menjadi bagian dari hidupnya. "Pokoknya saya akan terus main film dan melawak," tuturnya. Lalu bagaimana pembagian rejeki dengan teman-teman? "Kalau soal itu kita berusaha terbuka. Kita bagi rata hasil pendapatan kita. Tentunya dengan aturan main tersendiri dong, " jawabnya. 

Lalu apa sih enaknya main film dan melawak? "Wah pokoknya lebih enak daripada ngebut. Main film itu bisa bikin saya dikenal banyak orang, dan melawak bikin saya gembira karena bisa menghibur orang banyak," jawabnya. Demikian seperti dituturkan dalam MF tahun 1988

~MF 082/50/TH.V, 19 Agustus - 1 Sept 1988

Friday, December 26, 2025

YAN BASTIAN, "SAYA SENIMAN JALANAN"


 YAN BASTIAN. Siapa tak kenal Yan Bastian lelaki yang telah membintangi puluhan film? Apalagi di lingkungan PT. Inem Film, namanya sepertinya sudak mengakar dan menyatu dengan perusahaan film tersebut. 

Menarik sekali bisa bincang-bincang dengan seniman berkumis yang memiliki wawasan luas dan logat bicara yang berwibawa. Ia selain dikenal sebagai bintang laga, juga seorang biduan. Kedua bidang seni ini telah digelutinya bertahun-tahun. Bayangkan, untuk bidang tarik suara ini saja, teman seangkatan Elly Kasim. Sedang film ia berangkat sama-sama dengan Ratno Timoer. 

Sebagai seorang seniman, kalau boleh dibilang begitu, ia nampak sederhana dan bersahaja. Tak pernah ada kesan mau mencari popularitas dalam bidang ini. "Saya ini kan seniman jalanan, seniman kecil. Ya mesti tahu diri. Nggak perlulah macam-macam. Bagi saya sikap berkesenian ini adalah berkarya," ujar lelaki asal Padang ini. 

Berkarya, sesuatu hal yang harus dilakukan seorang seniman, tapi bagi Yan Bastian, berkarya tidak harus 'ngoyo'. Ketika ditanya kemungkinan dapat Piala Citra, spontan Yan Bastian menyambar. "Buat apa citra-citraan? Biar terkenal? kalau kita sudah terkenal terus mau apa? Toh itu tidak membuat orang memiliki jiwa besar. Tak usahlah aneh-aneh," tambah Yan pemeran Ganda dalam film "Seruling Naga Sakti" yang sutingnya di Pelabuhan Ratu. 

Ia paling gemar membintangi film-film laga. Ia mungkin karena kondisi fisiknya yang mendukung, seperti tubuh tegap dan memiliki watak yang keras. Itulah sebabnya film-film yang dibintangi selalu berkisar film-film aksi. Tidak mencoba film yang memiliki tema lain, seperti drama?

"Film drama kita kan monoton. Dari itu ke itu saja. Paling yang di perlihatkan hanya yang berdasi, keluarga yang sedang makan di meja dirumahnya yang mewah. NGgak ada kecuali itu," tegas lelaki yang memulai debutnya dalam film "Dendam Berdarah" (1970) sebagai figuran. 

Menanggapi himbauan menteri Penerangan saat itu tentang pembuatan film-film cerita daerah, Yan Bastian setuju dengan imbauan Bapak Menteri Penerangan tentang pembuatan film cerita daerah. Bayagkan saja, kalau masing-masing propinsi saja membuat film, sudah tambah berapa film? Lagian film daerah itu kan banyak manfaatnya, budaya masing-masing daerah bisa di kenal di seluruh tanah air. Nilai budayanya terangkat. Dan lagi, kalau pembuatan film itu melibatkan seniman daerah, kan mereka juga berkembang . Juga akn ikut meningkatkan sektor pariwisata, " Jelas Yan Bastian.


~MF 095/63/Tahun V, 17 Feb - 2 Maret 1990


Tuesday, December 16, 2025

MAMAT YATIM, BIAR CEBOL SUDAH BERCUCU


 MAMAT YATIM, BIAR CEBOL SUDAH BERCUCU. Ada yang tahu aktor kecil ini? Baru berumur 3 bulan ayahnya meninggal. Dan ketika dia berusia 2 bulan, ibunya meninggal. Lalu sejak itu dia berpetualang dalam kehidupannya. Lebih dari itu, dia lahir sudah memiliki cacat. Kakinya letter O lalu diapun diberi nama Muhammad Yatim alias Mamat Yatim. 

Walau tingginya tidak sampai 1 meter, namun Mamat Yatim tidak pernah putus asa. 

Sekali waktu, Ratno Timoer mengenalnya di suatu tempat. Melihat Mamat, hati Ratno Timoer tergetar. Dan dia pun di beri kesempatan berperan dalam film Misteri Candi Borobudur (Misteri Borobudur) dan Pendekar Bambu Kuning, tahun 70an. Dan sejak saat itulah Mamat terlibat dalam film nasional secara penuh. Ratno, memberi nama Mamat yatim. Dan sampai sekarang (tahun 1990) telah membintangi lebih dari 40 judul film nasional. 

Aktor cebol ini lahir pada tanggal 16, bulannya lupa, tahunnya 1930. Artinya usianya sudah menginjak 60 tahun pada tahun 1990. Walau usia telah diambang senja, namun fisiknya kelihatan seperti anak berusia 5 tahun. Wajahnya pun belum menggambarkan usianya telah demikian matang. Hanya saja penglihatan dan pendengarannya sudah berkurang, layaknya kebanyakan orang tua. Namun begitu kalau sedang berakting, gerakannya masih gesit, begitu pula jurus-jurus yagn dimainkannya. Bahkan dia bisa loncat dari ketinggian 3 sampai 5 meter. Dan itu dilakukan dengan baik. 

Walau tubuhnya cebol, Mamat rajin bekerja. Sering dia sebagai pembantu umum dalam sebuah produksi film. Mamat senang guyon. Dan tak jarang kru artis ngakak dibuatnya. "Andaikata ada yang membawa saya, saya bisa menjadi pelawak. Kalau yang namanya Jojon bisa putus saya buat," katanya sambil ngakak. 

Mamat memiliki 6 anak dan bercucu 5 orang. Rumah tangganya selalu bahagia dan rukun. Sekarang ini anaknya yang perempuan selalu mendampingi Mamat pergi suting. "Barangkali mereka kuatir karena saya sudah tua," katanya. 

Sebagai aktor, Mamat selalu mendapat honor sesuai dengan perannya. Pertama sekali main film dia dapat honor sebesar lima ratus ribu rupiah. "Saya ucapkan terima kasih kepada mas Ratno, kalau tidak ada dia mungkin saya tidak jadi artis," lanjutsta. Kan tidak baik untuk  menolak pemberian orang  apa lagi orang itu ikhlas?" lanjutnya. 

Namun demikian bila naik bis kota, Mamat Yatim tetap bayar. "Sebagai bintang film malu kalau tidak bayar ongkos. Apalagi saya sudah di kenal," katanya guyon.


~MF 094/62/Tahun VI, 3 - 16 Feb 1990

Sunday, November 23, 2025

DEDDY SUTOMO


DEDDY SUTOMO ,  Sebelum terjun ke film, nama Deddy Sutomo sudah di kenal lewat drama-drama TVRI. Ketika dunia film nasional mulai ramai, Deddy mulai melebarkan sayap ke film. Penampilannya yang paling mengesankan lewat film "Atheis" arahan Syumandjaya. 

Deddy juga pernah main bersama artis Mandarin handal Shang Kuan Lin Fung, lewat film join produksi dengan Hongkong berjudul "Pandji Tengkorak". Deddy Sutomo berperan sebagai Pandji Tengkorak, yang wajahnya hampir sebagian besar tidak kelihatan jelas, karena menggunakan topeng. Film ini cukup sukses dalam peredarannya. Ceritanya sendiri di angkat berdasarkan Cergam karya Hans Jaladara yang sudah beberapa kali di cetak ulang. 

Selain itu Deddy Sutomo juga bermain dalam film "Perisai Kasih Yang Terkoyak" yang diangkat dari novel laris karya Mira W, novelis wanita yang hampir sebagian besar novelnya dijadikan film. Dalam film itu, Deddy berpeperan sebagai seniman gaek yang hidup bersama anak perempuannya yang di perankan oleh Nena Rosier. 

"Peran seperti ini memang baru pertama kali saya perankan" jawab Deddy. Karakternya penuh tantangan. 

Dari sekian banyak film yang dibintangi film yang paling berkesan menurut Deddy ada dua kesan. "Kesan dalam lingkungan kerja dan nilai artistiknya. Deddy mengatakan film "Atheis" yang paling berkesan. Dalam film ini ia banyak belajar dari sutradara Syumandjaya. Kesan Deddy terhadap Syuman juga semakin bertambah. "sampai kini suasana seperti itu belum saya alami lagi", meskipun sudah sering bekerjasama dengan sutradara-sutradara besar. 

Film lain dimana Deddy juga ikut bermain dengan kelompok Teater Populer, dalam film "Cinta Yang Terjual" arahan Yazman Yazid. Dalam film ini, Deddy berperan sebagai duda beranak tiga, yang akhirnya menikah dengan gadis atas usul kakak perempuannya. 

Peran Deddy dalam film itu, memang tidak berbeda jauh dengan kehidupannya di luar film.

Nama Deddy Sutomo nyaris dilupakan orang kalau saja ia tidak tampil kembali lewat serial TV "Rumah masa Depan" yang di sutradarai oleh Ali Shahab. Penampilan Deddy lewat serial tersebut sudah kembali lagi pada bentuknya yang semula, wajar, santai dan pas. Mungkin karena Deddy berasal dari TV, sehingga tidak sulit buat menyesuaikan diri dengan karakter yang di perankannya Di samping juga belajar dari orang-orang  yang menjadi tokoh panutan. 

~RF657

Saturday, November 1, 2025

SEKILAS DJOHAN DJEHAN

 


SEKILAS DJOHAN DJEHAN. Dilahirkan di Bogor, 11 Agustus 1956. Keinginan dan perhatian pada dunia seni berkembang terutama pada jenis seni teater, Setelah lulus SMA ia masuk IKJ pada departemen Teater. Dan Teater mengantarkannya ke dunia film. 

Sejak kecil memang senang nonton pertunjukkan sandiwara dan film, demikian pengakuan Djohan, maka ketika SMA ia aktif mengikuti kegiatan drama sekolah. Dan ketika menjadi mahasiswa IKJ ia sering ikut mengadakan pertunjukkan sebagai pemain baik di panggung maupun TV. Kemudian akhirnya ia diajak Nasri Cheppy untuk mendukung film Didadaku Ada Cinta dengan bintang utama Rano Karno dan Paramitha Rusady. 

Dalam film ini Djohan mendapat peran pembantu sebagai Johan yang merupakan teman Bob Ridwan yang di mainkan Rano Karno. Djohan yang dulu senang nonton film sejak kecil, kini telah menjadi bintang film. Film-film yang paling senang di tonton adalah Action dan horor. Adapun bintang idolanya adalah Marlon Brando, Al Pacino dan WD Mochtar. Setelahnya Djohan Djehan juga bermain dalam film-film lain seperti Pesona Natalia bersama Marissa Haque.

~film 019-tahun ke II



Friday, October 10, 2025

HARRY CAPRI, DIKERJAIN SUTRADARA


Di awal tahun 80an saat itu Harry masih sibuk-sibuknya dibidang keperagawanan, dapat tawaran peran di film "Nenek Grondong". Kehadiran pria asal Sumatera Barat yang punya perawakan tegap, besar dan tampan ternyata dilirik sutradara lain, hingga dia dipercaya untuk memerankan tokoh pewayangan BIMA dalam film "Pandawa Lima".Lebih dari 35 judul film yang dibintangi oleh Harry Capri. Pada saat berita ini diturunkan film yang beredar adalah "Kisah Cinta Nyi Blorong" memerankan tokoh Gunawan, kekasih Wenny yang diperankan oleh Kiki Fatmala. 

Bila diamati, hampir semua film yang dibintangi oleh Harry adalah jenis film laga, jadi tak salah bila ia di juluki bintang laganya Indonesia. Dan karena itu juga, buat seorang Harry yagn selalu beradegan ciat ciat an mau tak mau harus bisa menguasai pengetahuan tentang bela diri. Namun, nampaknya Harry yang bisa dibilang cukup sibuk bergelut dalam karir filmnya, tak menggantungkan penghasilan dari dunia peran itu sendiri. Nyatanya Harry yang merupakan suami Camelia Malik (Saat berita ini diturunkan, kini sudah bercerai) tetap sibuk mengelola rumah makan miliknya di sekitar monas (pada saat itu). 

Dari celotehannya, ketika berbincang di sebuah hotel di Bandung, ternyata Harry Capri punya kesan tersendiri dalam dunia film ini. Harry pernah merasa dikerjain sutradara, yangmungkin perlu dirahasiakan siapa sutradara itu. 

"Ya, saat itu baru barunya main film. Belum tahu apa-apa. Karena pada waktu itu saya datang terlambat di lokasi suting, maka hari-hari berikutnya ketika ada adegan saya setelah dimake up, tiba-tiba sutradara bilang break, tanpa mengambil adegan saya. Perbuatan itu berturut-turut sampai 4 hari. Datang ke lokasi di make up, tiba-tiba break begitu saja. Wah! Saya belum bisa bilang apa-apa, terima saja," tuturnya. 


~sumber MF~