Showing posts with label aktor. Show all posts
Showing posts with label aktor. Show all posts

Sunday, August 2, 2026

ELDHY BILADT

 


ELDHY BILADT (berita lawas). Masih ingat bintang iklan, dan aktor ini? Eldhy Biladt, nama aslinya  adalah Syaiful Biladt. Inem Pelayan Seksi, Jejaka 2000, Catatan Si  Boy, Annisa 3, Hati Seluas Samudera, Matahariku, Remaja Lima dan yang terbaru Istana Pasir tampil bareng Rima Melati dan Febby Febiola. Itulah Sinetron  yang sudah dimainkan Syaiful Biladt (Si Pedang Agama) atau dengan nama popnya, Eldhy Biladt. 

Sedang untuk iklan, cowok handsome kelahiran Jakarta, 9 Nopember 1974 sudah pula beraksi pada iklan Suklat, Asma Soho, Puyer 16, Page One, Bank Danamon, Koyo Cap Cabe, Snip Snap, Yamaha Force One, Kartu Halo Telkomsel, dan Lauk Mie. 

Seperti umumnya para artis kita, Eldhy begitu disapa memasuki dunia seni tanpa disengaja. Menurut pemilik tinggi 170 cm ini karirnya diawali sebagai model, ketika temannya tak jadi tampil diacara lomba fashion. 

Meskipun hanya sebagai pengganti teman, tak disangka dalam lomba itu, ia berhasil keluar sebagai juara ke 3, berbekal Juara 3 dan didorong oleh teman-teman, Eldhy yang terangkat namanya lewat finalis Coverboy Aneka '92 jadi serius menekuninya. 

berikut petikan wawancara yang di muat di MF No. 313/279/XIV, 13-26 Juni 1998

T : Hasil ikut lomba, main iklan dan Sinetron?

J : Alhamdulillah ternyata banyak bawa rejeki, mulai kuliah sampai tamat, biaya kost dan lainnya sudah bisa saya penuhi sendiri tanpa perlu minta dengan ortu. 

T : Artinya ingin terus menekuni dunia seni?

J : Maunya terus tapi dalam kondisi serba sulit begini apa mungkin ya bisa bertahan. Untuk jaga-jaga sebetulnya saya ingin mengembangkan ilmu perhotelan yang didapat semasa kuliah. Sekarang coba membuat lamaran ke sebuah hotel.

T : Maksudnya mulai tak yakin bisa hidup dari seni?

J : Saya akui perasaan itu kadang sering menghantui diri ini. Tapi boleh dong saya mencoba bidang laing, sayanglah kalau ilmu yang didapat di bangku kuliah dengan biaya yang tidak sedikit saya keluarkan kalau tidak dikembangkan. 

T : Ceritanya sedang mereformasi diri sendiri toh?

J : Tentu saja karena saya ingin maju tidak saja di dunia seni tapi juga dibidang lainnya. 

T : Caranya?

J : Dengan kerja keras tanpa mengenal lelah sesuai yang saya cita-citakan tadi. 

T : Kamu juga mendukung reformasi nasional yang kini sedang digalakkan?

J : Tanpa basa basi saya mendukung penuh reformasi nasional yang dimotori rekan-rekan mahasiswa dan tokoh-tokoh masyarakat. Kalau kita mau maju yang namanya KKN memang harus di berantas sampai ke akar-akarnya. 

T : Ngomong-ngomong apakah kamu punya pengalaman dimasa kecil yang membuat kamu trauma?

J : Ya, kalau nggak salah ketika masih duduk di kelas 2 SD saya pernah dikejar-kejar orang gila hingga masuk ke halaman sekolah. Kejadian itu memang membuat saya trauma karena setiap melihat saya orang gila itu terus mengejar. Bahkan suatu kali saya pernah tak bisa mencari jalan dan terpaksa merayap melewati pagar kawat hingga salah satu paha kaki saya terluka dan membekas hingga kini. Katanya sih, dia sakit itu suka sekali dengan saya, ha ha ha..

T : Pernah Jatuh Cinta tapi bertepuk sebelah tangan?

J : Pernah, ceritanya saya terlibat disebuah sinetron dan sangat suka sekali dengan seorang pemain. Pokoknya saat perhatian saya penuh sekali dengannya. Ketika dia ulang tahun, saya diundangnya dan sayapun hadir. Sakit juga saya dikenalkan dengan cowoknya. Mungkin begitu cara halusnya menolak saya! ha..ha..ha..

T : Pernah juga ditaksir cewek tapi kamu sendiri tak suka padanya?

J : Pengalaman itu saya alami ketika masih di SMU. Waktu itu sedang ada ospek terhadap murid baru dan nggak disangka salah satu dari mereka, ada yang jatuh cinta. Hal ini terlihat dari cara dan sikapnya dengan saya. Nah ketika dia mulai mengutarakan niatnya, saya katakan pada dia kalau saya hanya ingin jadi kakaknya saja daripada jadi pacarnya. 

T : Film Nasional pertama yang kamu tonton di Bioskop?

J : G 30 S PKI adalah film nasional pertama yang saya tonton. Saya ingat betul nontonnya di bioskop Manggarai Teater di Pasar Rumput Raya. hari itu juga merupakan pengalaman pertama saya nonotn di bioskop. 

****************

Saturday, July 25, 2026

ALDI RIZALDY, AKTOR 90an


 ALDI RIZALDY, AKTOR 90an (berita lawas). Kali ini mari kita berkenalan dengan aktor dan juga bintang iklan era 90an. Aldi Rizaldy. Aldi Rizaldy, mengaku kadang sulit jika ditanya aslinya darimana. Maklumlah cowok handsome kelahiran Palembang, 2 Agustus 1971 ini mengaku lahir dari buah cinta pasangan campuran. 

Bintang Iklan Rexona dan Minak Djinggo Internasional terlahir dari ayahnya asli Arab Irak, mamanya Arab Saudi dan Neneknya Malaysia China. 

"Aku ini bisa disebut anak gado-gado. Jelasnya, sih anak Indonesia dong!, terang bintang andalan layar lebar di "GAIRAH YANG PANAS" , "JARINGAN TABU" dan GAIRAH HILDA" ini. 

Tentang dunia artis menurut wajah baru yang mirip bintang India Kumar Gaurav ini baru ditekuninya sekitar dua tahun. Walau begitu ia merasa betah untuk terus berkiprah sebagai pelakon. 

Berikut petikan wawancara yang dimuat di MF  No. 281/248/XIII/22 Maret - 4 April 1997


T : Kok langsung betah berprofesi sebagai artis?

J : Habis enak sih!. Lagi pula jadi artis memang sudah cita-citaku sejak kecil. 

T : Usia berapa cita-cita itu muncul?

J : Sejak Usia 10 tahun aku sudah sering berkhayal ingin jadi bintang film. 

T : Keinginan yang kuat itu datang setelah Aldy melihat permainan siapa?

J : Ketika melihat permainannya Rano Karno, Widyawati, dan Sophan Sophiaan. Saat itu setiap mereka main aku selalu menghayati permainan mereka dan begitu kagum dengan kepiawaiannya bermain dalam perannya. 

T : Bagaimana reaksi ortu begitu Aldy memutuskan terjun sebagai pelakon?

J : Mereka setuju dan mendukung saja. 

T : Profesi Papimu sendiri apa ?

J : Papiku, pengusaha kayu. 

T : Kenapa kamu tidak mengikuti jejak papimu saja, toh hasilnya jauh lebih besar daripada jadi artis?

J : Aku pernah mengikuti jejak papi sebagai pengusaha kayu. Tapi  aku ini bosenan. Akhirnya aku tinggalkan pekerjaan itu. 

T : Setelah jadi artis, kalau bosen lagi, ditinggal lagi?

J : Kalau sebagai artis aku nggak bosenan,  karena seperti yang sudah dikatakan tadi, profesi ini aku cinta sekali. (Profesi Aldi sebagai artis, katanya diawali dari model, dimana ia disalurkan lewat sebuah agency. Sedang tentang ilmu akting, menurut Aldi ia dapat dari banyak nonton film-film di bioskop dan televisi).

T : Siapa saja teman cowokmu dikalangan artis?

J : Denny Malik, Thomas Djorghie dan Jamil Reza

T : Kalau yang ceweknya?

J : Mila Karmelia, Anne J Coto dan beberapa model lainnya. 

T : Sebelum hijrah ke Jakarta, kamu tinggal dimana? 

J ; Aku tinggal di Palembang

T : Begitu kamu memutuskan untuk meniti karir di Jakarta, apakah langsung direstui ortu?

J : Tentu saja. Bahkan saat melepas kepergian aku ke tanah rantau, diadakan selamatan segala dengan mengundang pengajian. 

T : Saat orangtua melepaskan anaknya untuk merantau, kalimat apa yang kamu ucapkan agar mereka yakin anaknya nanti tidak bermasalah?

J : Aku katakan, kalau aku akan mencari rejeki yang halal. Soal sholat lima waktu dan mengaji, aku tegaskan jangan kuatir. Itu memang sudah kewajibanku untuk menjalani dan tidak pernh untuk meninggalkannya. 

T : Apakah sebelum hijrah ke Jakarta, kamu sempat singgah di kota lain?

J : Ya, aku sempat juga tinggal di Bandung, bua usaha jual onderdil mobil dan mebel. Tapi karena bosen lagi , aku tinggalkan. 

T : Sepertinya kamu memang senang mandiri. Padahal kamu datang dari keluarga yang berkecukupan dan anak laki-laki bungsu dari 7 bersaudara. Jadi apa yang mau dicari?

J : Karena aku merasa sudah waktunya hidup tanpa bantuan orangtua. malu dong, kalau terus-terusan minta orangtua. Bahkan sekarang saatnya giliran aku yang memberi untuk orangtuaku. 

T : Maksudnya?

J : Ingin nyenengin orangtua. Salahsatu caranya, ingin mmeberangkatkan mereka ke Tanah Suci Mekah. Kalau keuangan lebih dari cukup, aku juga inign menyertainya ke tanah suci. ~

Friday, July 24, 2026

ROBERT SYARIF, INGIN MEMBAHAGIAKAN ORANG LEWAT AKTING

 


ROBERT SYARIF, INGIN MEMBAHAGIAKAN ORANG LEWAT AKTING (berita lawas), Wawancara dengan Robert Syarief.  Kalau saja H. Usmar Ismail, Bapak Perfilman Nasional tidak mengcasting Robert Syarif dalam film "Toha Pahlawan Bandung Selatan", barangkali sampai saat ini ia tidak akan pernah muncul di layar lebar maupun di layar kaca. 

Selama 30 tahun, Bapak kelahiran Bandung, 27 November 1939 ini hanya diberikan peran sebagai figuran film. Namun kecintaan kepada seni peran tidak pernah surut, barulah setelah pensiun dari Polri dengan Pangkat Mayor, Bapak dua anak ini melesat bak anak panah. Peran demi peran silih berganti menghampirinya. 

Meski popularitas melejit di usianya yang menjelang senja, namun tidak membuat aktor bertubuh subur ini loyo, sebaliknya vitalitasnya di seni peran semakin meningkat. 

Saking banyaknya peran yang dilakoni selama sebulan penuh membuat Robert Syarif kehilangan masa istirahat. Namun dibalik itu ia menemukan kebahagiaan pada segala aktivitasnya seni peran. "Saya ingin melakoni peran apa saja. Selama tu belum terlaksana saya tidak akan istirahat dalam  seni peran, " katanya dengan semangat membara. 

Berikut petikan wawancara dengan Rober Syarif oleh wartawan MF yang dimuat di MF No 302/268/XIV, 10 - 23 Januari 1998.

T : Tanya

J : Jawab

T : Sejak kapan Pak Robert menggeluti seni peran?

J : Saya mulai main di film tahun 1959, film "Toha Pahlawan Bandung Selatan", sutradara H. Usmar Ismail. Kehadiran saya sebagai kapten Belanda tersebut tanpa disengaja. Waktu itu Pak Usmar Ismail lagi membtuhkan satu kompi tentara yang pakaian lorengnya mirip dengan loreng tentara Belanda zama dahulu. Ternyata di Jawa Barat hanya kompi dari batalyon Pelopor Brimot tempat saya bertugas yang memiliki kemiripan lorengnya dengan tentara Belanda. 

Begitu Pak Usmar melihat saya ia langsung memanggil saya karena mirip orang Belanda. Pak Usmar Ismail langsung memberikan peran Kapten Belanda karena saya bisa berbahasa Belanda. 

Sejak saat itulah saya mulai mengenal seni peran, meski dengan bekal wawasan akting sangat nihil. Jadi selama 30 tahun mulai dari tahun 1959 sampai 1989 saya selalu menjadi pemeran figuran. Dan saya tidak pernah merasa kecil hati. Saya rasa kalau orang  lain tidak akan sanggup menjadi figuran selama 30 tahun, ha..ha...ha....!.

T : Sejak kapan Pak Robert mengenal wawasan akting secara benar?

J : Saya mengenal wawasan akting setelah alm. Pak Wahyu Sihombing mengcasting sebagai Pak Surya dalam sinetron Dr. Sartika. Pada waktu itu saya baru tahu  apa yagn namanya wawasan akting.  Sampai sekarang saya merasa berhutang budi dengan beliau. Karena Pak Hombinglah yang membuka cakrawala akting saya. Meski saya sudah gaek seperti ini saya tetap belajar tentang akting. 

T : Dalam sebulan berapa judul sinetron yang dapat Pak Robert lakoni?

J : Pokoknya setiap hari itu saya ada suting sinetron. Paling dalam sepuluh hari saya bisa istirahat cuma sehari. Satu bulang paling banyak delapan sampai sepuluh produksi sinetron sekaligus yagn pernah saya lakoni. Dan kondisi itu sudah saya alami sejak dua tahun yang lalu. Begitu saya pensiun sebagai anggota Polri order untuk berlakon sangat banyak sekali. Karena sudah pensiun itulah membuat saya bisa total pada seni peran. 

Saya tidak pernah menolak peran apapun yang disodorkan kepada saya. Meski hanya sebagai figuran sekalipun. Andaikan diberikan hanya satu scene pun saya terima dengan senang hati.

T : Mengapa hal itu mau dilakukan, bukankah nama dan honor serta popularitas Pak Robert sudah melangit?

J : Pisau kalau tidak diasah akan karatan. Saya anggap  berlakon satu scene sekalipun merupakan proses mengasah kemampuan akting. 

T : Peran apa yang Pak Robert tolak jika diberikan?

J : Sejak dari muda cuma satu peran yang saya tolak, yakni adegan berciuman dan percintaan yang berlebihan. Mengapa peran antagonis maupun protagonis selalu saya terima, karena saya yakin yang membentuk diri kita bukan kita sendiri, disamping Tuhan juga seorang sutradara. 

T : Bagaimana kiat Pak Robert bila mengembangkan kemampuan akting sesuai dengan peran, mengingat dalam satu bulan harus melakoni berbagai karakter?

J : Bagi saya hal tersebut tidak menjadi masalah. Saya ini seperti koki. Misalnya, pagi ia harus memasak makanan Cina, siang memasak masakan India dan malam memasak masakan Padang. karena saya koki sudah pegnalaman tentu memasak dengan menu yang berbeda tidak menjadi masalah dalam satu hari. 

Namun tidak semua orang bisa seperti saya. Ada pemin sebulan setelah melakoni peran tertentu masih terbawa karakternya pada produksi yang lain. 

T : Bagaimana Pak Robert bisa tepat waktu ke lokasi suting?

J : Saya ini mantan ABRI, jadi sepanjang usia saya hampir setiap pagi melakukan hal yang menjenuhkan, yaki apel pagi. Atas dasar disiplin itulah saya bisa hadir tepat waktu di lokasi suting. Jika saya harus hadir pukul 08.00 pagi di Jakarta, maka dari rumah di Bandung, saya keluar pukul 03.00 pagi. 

T : Peran apa saya yang membuat Pak Robert merasa tertantang?

J : Selama 38 tahun menggeluti seni peran hanya tiga peran yang membuat saya merasa tertantang waktu melakoninya. Satu ketika menjadi Pak Sunarya dalam sinetron Dr. Sartika, kedua melakoni Pak Waskito dalam sinetron Catatan Buku Harian, dan yang ketiga menjadi orang Belanda dalam sinetron Misteri Dalam Kubur. 

Dan yang ke empat yang agak istimewa yang memberikan hikmah bagi saya adalah melakoni Kakek Jin dalam sinetron komedi Jin dan Jun. Karena saya punya fans anak-anak kecil, meskipun saya tidak mendapat tantangan. 

T : Apa yang menjadi Obsesi Pak Robert?

J : Obsesi saya secara khusus tidak ada. Tapi yang menjadi keinginan saya adalah membahagiakan orang lain dengan akting. 

T : Apa yang menjadi keinginan Pak Robert dengan adanya Festival Sinetron Indonesia?

J : Saya ingin sekali saja dalam hidup  dapat menyerahkan piala kepada pemenang pada acara puncak FSI. Setidaknya ada kebanggaan saya sebagai senior meski saya tidak pernah menang dalam FFI maupun FSI, ha..ha...ha. ~~~~~~


Wednesday, May 13, 2026

"GEMPOL" SUNARYO ANAK DESA DI UJI KEMAMPUANNYA BERAKTING DALAM FILM LANGITKU RUMAHKU


 "GEMPOL" SUNARYO ANAK DESA DI UJI KEMAMPUANNYA BERAKTING DALAM FILM LANGITKU RUMAHKU (Berita Lawas). Tidak hanya Dewa Gede Badung Sumartha, anak 'kampung' yang sempat di seret ke layar putih, yang akhirnya menghasilkan karya film Nyoman dan Merah Putih, arahan Judi Subroto, Slamet Rahardjo pun akhirnya tertarik untuk mengangkat anak kampung, yang berpenampilan polos, untuk diuji keampuhannya berakting, melawan orang kota yang kesehariannya sudah bergelimang dalam fasilitas yang 'wah'.

Adalah Sunaryo, anak seorang petani desa Sambi Rejo Kabupaten Malang, Jawa Timur. Ketika lulus Sekolah Dasar, bocah itu lantas tak melanjutkan sekolah. Maklum, orang tua hanya seorang petani. Tentu saja , ia tak tega melihat orangtuanya harus juga menanggung biaya adik-adiknya yang berjumlah 6 orang. Ia punya tekad bekerja untuk meringankan beban orang tuanya. 

Bekerjalah Sunaryo di sebuah hotel di Blitar, entah sebagai apa. "Waktu itu pak Rudi nginep di hotel . Saya terus ditanya, Mau ke Jakarta nggak? saya jawab saja mau. Lalu saya di potret. Seminggu kemudian temannya Pak Slamet (maksudnya Slamet Rahardjo) membawa saya ke Jakarta. Saya tidak tahu kalau mau diajak main film. Dari pulang kerja, saya langsung diajak berangkat ke Jakarta. Nggak boleh pulang dulu ambil pakaian, apalagi bilang sama orang tua, lha saya kepingin jug ake Jakarta sih, saya mau saja, " ujar Sunaryo yang memerankan tokoh Gempol dalam film Langitku Rumahku arahan sutradara Slamet Rahardjo. 

"Saya baru ketemu Pak Slamet itu di kantornya. Ada teman saya yang bilang. Kalau kamu ke Jakarta ketemu Pak Slamet, kamu bisa main film. Eh, saya ditanyai betul sama Pak Slamet. Mau nggak kamu main film. Ya, saya jawab mau. Padahal sebelum ke Jakarta saya itu belum tahu lho yang namanya kamera. Belum tahu lampu yang terang lima kilo. Saya belum tahu itu. Tahu-tahu, wah panas banget, " cerita Gempol Sunaryo mengenang. 

Kepergian Sunaryo ke Jakarta memang mengejutkan orang tuanya. Karena setelah kepergian Sunaryo ke Jakarta, orangtuanya baru menerima surat. Meskipun sempat bingung, ayah si Gempol itu akhirnya kagum juga pada anaknya, yang kini jadi bintang film. 

Sesampai di Jakarta, Sunaryo bukan berarti tak sekolah, Ia kini sudah masuk SMP Muhammadiyah di Jakarta, kelas satu, beberapa hari, ia tinggal di lingkungan para pemulung, untuk memperkuat akting yang diperaninya. Maka iapun mendapat dorongan dan bimbingan dari orang-orang Eka Praya film. Meskipun hidup  dilingkungan orang film, bagi Sunaryo main film adalah hal yang sangat baru Bukan pula tak berarti ia tak mengalami kesulitan dalam berakting. "Ya ada yang susah, ada yang nggak. Kalu adegannya panjang, saya suka lupa,  " Jelas Sunaryo menjawab tentang aktingnya. 

Sunaryo memang polos. Seperti kepolosannya peran yang dimainkan sebagai Gempol. Soerang anak pemulung yang di tuduh mencuri, yang akhirnya justru menemukan seorang sahabat, yang baik tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Sunaryo kini terus tinggal di Jakarta untuk meneruskan sekolahnya. "Saya senagn main film. Sekolah mau, main film juga mau. Insya Allah sekaran gsaya sudah sampai Jakarta, " sela Sunaryo menimpali. 

Sunaryo sekaran anak Jakarta. Bermain dengan anak-anak sebayanya, dan menekuni lagi dunia sekolah yang dia impikan. Ia sudah bisa mengirim uang ke orang tuanya di kampung, hasil jerih payahnya bermain film. Gempol Sunaryo kini telah membetulkan kursinya, memperbaiki nasibnya. 

Monday, May 11, 2026

S.Y.S NS,

 


S.Y.S  NS, (Berita Lawas) Bisa diamati cowok kelahiran Semarang, 18 Juli 1956 ini paling suka bersibuk diri setiap harinya. Sys seorang penyiar radio juga komandan grup lawak Sersan Prambors. Selain sibuk ngurus-ngurus pagelaran, Sys juga bintang film. Sys NS pun mengakui, jadwal kegiatan film yang mengontraknya harus mengikuti jadwal kegiatannya. Itu memang prinsipnya. 

"Ya, dulu pernah ketika ikut film "Damai Kami Sepanjang Hari", yang di sutradarai Chairul Umam, yang mengambil suting di Yogyakarta, saya sudah ngebela-belain bolak balik Jogya-Jakarta, satu hari harus break mendadak lantaran satu pemainnya, Gina Adriana harus main di film Wim Umboh. Terus saya tanya, tuh bintang siapa duluan yang ngontrak. Setelah tahu permasalahannya dan saya ada di pihak yang benar. Hari itu juga, baru datang dari Jakarta saya tinggalin dan kembali ke Jakarta. Waktu film "Terang Bulang Di Tengah Hari, " pun waktu itu bentrok dengan film yang di produksi TVRI "Pondokan". Untung jarak lokasinya tidak begitu jauh, Yang satu di Puncak dan yang lain di Jakarta. Udah gitu kita kan di Indonesia, sesuatu bisa selesai dengan musyawarah. Saya pun damai, pihak TVRI lebih baik, " kata Sys NS yang memerankan Sonny  sebagai suami Sora (Zoraya Perucha) dalam film "Terang Bulan di Tengah Hari" ini. 

Sys NS, (Nama sebenarnya) dulu punya cita-cita jadi sutradara. Untuk itu ia sempat mempelajari dulu ilmu itu di LPKJ. Sekarang Institute Kesenian Jakarta. Anak ke 3 dari 11 bersaudara ini mengawali karernya lewat film "Kecupan Pertama(1070an) lalu film-film lainnya seperti "Kabut Sutra Ungu", "Seindah Rembulan", "Anunya Kamu" dan "Sama-sama Enak". Dan sampai kini (1988) Sys NS bersama Sersan Prambors masih dikontrak untuk 3 film lagi dari PT Bola Dunia Film. 

"Sebenarnya saya tuh sudah malas untuk main film. Terkecuali film itu ceritanya hebat, digarap oleh orang-orang hebat, sutradaranya hebat. Ya nggak apa-apa filmnya jelek juga asal duitnya hebat saja he..he..he. Seperti tahuin ini sebenarnya kontrak dari Bola Dunia Film tahun ini bisa hangus lho?. Habis tiap disodori skenario ceritanya nggak berkenan di hati, jadi saya tolak, " katanya. 

Kok mau main film bersama Zoraya Perucha?

"Itu lain, dulu memang almarhum Sumanjaya sudah mempersiapkan cerita itu buat saya dan Perucha itu. Sumanjaya sendiri adalah sahabat saya sekaligus bapak saya. Belum lagi sutradara yang menangani  dan semua kru film itu teman-teman dekat saya. Jadi sayapun suka untuk pegang peranan di film itu, " katanya. 

Katanya, dulu kepengin jadi sutradara, kok malas bergelut di dunia film lagi?

"Wah, payah. Sekarang dunia film banyak ditangani oleh senior-senior, mungkin 'hepengnya' takut kerebut. Coba saja birokrasi film bertele-tele, jadi sutradara harus lewat jadi asisten sutradara dulu lima kali, terus belum tentu bisa jadi sutradara langsung. Padahal kan yang nentuin tuh film bukan mereka, tapi penonton. Jadi sutradara langsung, asal yahut kan masyarakan bisa menilai," kata pelawak muda ini sambil membereskan berkas-berkas di meja kerjanya. Lagi ngapain tuh? 

"Biasa, mau nemenin Mick Jagger," kata Sys, yang memang lagi sibuk ngurus kedatangan vokalis dari The Rolling Stones yagn akan konser di Jakarta akhir Oktober (1988). ~sumber MF 61/29 tahun V, 20 Oktober - 11 November 1988

Sys NS meninggal pada 23 Januari 2018

Tuesday, April 21, 2026

HADISYAM TAHAX, ANTIGONE DARI MEDAN

 


HADISYAM TAHAX, ANTIGONE DARI MEDAN, Idham Sjamsuddin bin Taha ini lebih terkenal dengan Hadisyam Tahax, "profesi film' kan selalu menuntut yang praktiks dan khas, " begitu kilahnya. Lahir di Tanjung Balai , 15 Agustus 1927, menyelesaikan pendidikannya di Anglo Indonesia School, Medan, sampai kelas VII. 

Mengenal dunia film, juga ditanah kelahirannya 1955, ketika dibuat film berjudul, " Peristiwa Danau Toba". Sebagai pemain juga "Sungai Ular" (1961). 

Hijrah ke Jakarta, pusat kegiatan perfilman nasional, Tahax makin memantapkan nama. 1965 dia tampil sebagai pemeran utama dalam "Luka 3 kali", wajahnya yang khas, membuat namanya cepat terserap oleh ingatan masyarakat. Apalagi, dalam kebanyakan filmnya yang puluhan judul, Tahax sering kali tampil sebagai lawan main pemegang peran utama. Peran-peran antagonis, yang umumnya berkarakter jahat. Tahax sempat mendapat julukan "The bad boy on teh screen," Si Buruk di layar putih. 

Peran-peran demikian, ruanya tetap menjadi "langganan"nya sampai dasawarsa 1980an, dia tetap kebagian peran-peran sebagai antigone. "Itulah rejeki abang" tanggapnya. Menekur, mengingat sekian banyak mulut dalam keluarganya yang mesti dibela dan diperjuangkannya lewat kesempatan-kesempatan main film itu. 

Dalam umurnya yang semakin menua, peran-peran yang dipercayakan sutradara maupun produser kepadanya, memang semakin kurang. Tetapi bagi Tahax, kepercayaan itu cukuplah seabgai tanda bahwa orang masih mengingat diri dan prestasinya. Demikian, tak terkirakan senang dan bangganya, ketika "Musang Berjanggut" mencantumkan namanya sebagai salah seorang pemain. Senang dan bangga, karena kesempatan dalam tahun ke 28 karir filmnya, justru dari daerah kelahirannya sendiri. Produser dari Medan dan film itu dibuat justru untuk menghadapi festival film Indonesia di Medan. Diapun bangga, merasakan tanah kelahirannya mampu menjadi tuan rumah, sebuah peristiwa kebudayaan yang besar dalam catatan sejarah negaranya. 

Kebanggaan yang tersisa, setelah aktivitas dalam sandiwara dipentas maupun televisi, berlangsung surut. ~buku ffi 83

Sunday, April 5, 2026

ANWAR FUADY

 


ANWAR FUADY, (Berita Lawas). "Kalau aku tidak meninggalkan Palembang tahun 60an, barangkali aku akan jadi bajingan tengik," kalimat ini meluncur spontan dari mulut Anwar Fuady. Masa remajanya penuh dengan liku-liku kenakalan. Saban Minggu, minimal sekali ia baku hantam. Tak jarang pula mukanya pulang ke rumah memar dan bengkak-bengkak. 

"Aku punya bakat jadi ba jingan, itu kata kawan-kawan sepermainan. Setelah aku merenung, lalu aku putuskan preman bukan bidangku, dan akupun hengkang ke Jakarta, " ujarnya. Dengan modal apa adanya, lelaki kelahiran Palembang, 14 Maret 1947 ini cari nasib ke ibukota. Perjalanannya tak mulus, ia sempat terlunta-lunta. Katanya, ia tanpa sanak saudara di Tanah betawi. Modalnya hanya semangat dan keyakinan. 

Langkahnya yang terseok-seok itu, membuatnya berani bertarung apa saja. yang penting perut selamat. Kenyataan itu membuatnya menggelandang di Terminal Tanah Abang. "Karena itu aku pernah berumah di terminal, bergaul dengan para bromocorah, " kenangnya.

Rupanya begitu sampai di Jakarta, niatnya hanya satu, ingin jadi bintang film. Ingin jadi terkenal. Namun keinginannya tak cepat terkabul. Meski punya niat, namun nyali masih juga ciut berhadapan dengan bintang film, apalagi produser. 

"Apa saja aku kerjakan untuk cari hidup, " katanya. Berangkat dari kelas paling bawah tidak membuat Anwar Fuady minder. Malahan semangatnya semakin membara. "Aku mengikuti beberapa kursus-kursus dan kegiatan apa saja. Langkah untuk masuk kesini peran belum juga terkuak. Tapi keinginan itu terus membara,".

Sejak SD ia telah gemar menonton, kebetulan rumahnya sangat dekat dengan bioskop. Sehingga hampir semua film Barat tak luput dilahapnya. "Waktu itu anak-anak dibawah umur 17 tahun dilarang menonton, karena tidak cukup umur. Aku tidak habis akal. Penjaga bioskop aku ajak main mata. Supaya aku bisa lolos masuk setiap nonton penjaga karcis kuberikan tip. Kalau sudah pulang dari nonotn, maka lagakkupun tak ubahnya seperti bintang film yang baru aku saksikan, " katanya dengan tertawa. Gila nonton membuatnya bercita-cita jadi bintang film. 

Sampai tahun 70, film belum memberikan nafas, iapun menyelonong ke tv. Dari layar kaca debutnya dimulai. Tahun 1978 beneranya seni peran mulai berkibar. Sampai sekarang ia telah membintangi puluhan sinetron. Melihat kemampuannya di seni peran, sutradara Bahcrum Halilintar memasangnya untuk film "Mendung tak selamanya kelabu (1982), menyusul kemudian film-film Sunan Kalijaga (1983), Syech Siti Jenar (1983), Merangkul Langit (1985), Arini (1986), Ayu dan Ayu (1987), Suami (1988) , Lupus V (1991) dan Kuberikan Segalanya (1992).

"Film hanya bisa top atau populer, namun tak menjanjikan apa-apa untuk masa depan. Maka, bagi aku seni peran hanya sampingan, semacam hobby. Prioritas utama adalah bekerja," katanya. Cukup banyak tawaran main film yang ditolaknya. Adanya yang memberikan honor yang menggiurkan, namun harus beradegan ranjang. "Meski aku begini, untuk menerima peran harus pilih-pilih. Berapa jutapun dibayar kalau beradegan ranjang aku pasti tolak. Aku punya anak bini, dan kita ini orang timur, hal-hal sepele seperti itu bisa menjadi masalah besar. 

Mantan koordinator artis Parfi periode 83/86 dan periode 86/89 ini sempat menjadi Corporate Secretary di PT. Mas Ayu dan Kiagoes. Ia juga menjadi staff direksi sebuah perusahaan kontraktor Elektoroni. Karena kesibukannya di kantor membuat Sanggar Gending Sriwijaya, pimpinannya ikut terlunta-lunta. Padahal sanggar pimpinannya nyaris sebulan dua kali tampil di TVRI, baik membawakan fragmen maupun drama televisi. ~MF 171/138/Th IX 23 Jan - 5 Feb 1993


Monday, March 23, 2026

BENNY G RAHARDJA, LUKA KENA TOMBAK


BENNY G RAHARDJA, LUKA KENA TOMBAK, (berita lawas). Lama Benny G Rahardja mengilang dari dunia film, kemudian muncul kembali lewat film Tutur Tinular. Film kedua setelah tiga tahun menjadibisnisman inilah malapetaka terjadi. Seorang figuan  film Jago menombaknya, sehingga tangannya berlumur darah dan diapun meringis kesakitan. Suting jadi break. Semua kru ikut panik. Tapi dia cepat di selamatkan kerumah sakit.

"Lukanya tidak seberapa, tapi tiga jahitan juga. Namun saya tidak bisa langsung suting," kata artis kelahiran Ujung Pandang ini. Apa pasal kecelakaan terjadi? "Salah kontrol saja. itulah resikonya menjadi pemain film action. Meleng sedikit saja cidera," ujarnya menyesali. Karena Benny juga seorang guru silat soal luka tidak menjadi masalah. Bayangkan besoknya dia dapat berlakon kembali. Apakah karena lokasi suting cukup angker? Beberapa artis ada yang kesambet, bahkan seorang darinya kesurupan?"Ah tidak, " tangkisnya. 

Lalu apa yang membuatnya kembali ke film? Sebenarnya dia ingin meninggalkan dunia film. Karena ditawarkan untuk  berlakon dalam film Tutur Tinular hal ini sulit ditolaknya. Salah satunya adalah instrukturnya orang HOngkong. Sebab dari beliau-beliau itu kita bisa memetik pengalaman, tanpa harus ke Hongkong. Kalau kita kesana berapa harus mengeluarkan biaya. Begitu juga dengan yang lainnya, katanya terus terang. 

Karena dia tersentuh film lagi, mau tidak mau diapun menerima dalam film Jago. "Inilah yang sulit, badan saya panas kembali kalau melihat kamera. Padahal tugas-tugasnya masih banyak sebagai seroang bisnisman. Namun yang jelas dia takkan surut dari dunia film walau cedera bagaimanapun. Sebab dia telah tertempa oleh ilmu bela diri yang memadai.~MF 110/78 Tahun VI, 15-28 sept 1990

Sunday, March 22, 2026

SYAIFUL NAZAR, DARI STUNTMAN KE PERAN UTAMA


 SYAIFUL NAZAR, DARI STUNTMAN KE PERAN UTAMA, Stuntman adalah satu istilah dalam dunia film yang ditujukan pada orang yang tugasnya menggantikan bintang melakukan adegan berbahaya. Sudah barang tentu seorang stuntman harus punya kemahiran dan keberanian istimewa. Seperti halnya Syaiful Nazar yang berasal dari Salido, Pesisir Selatan Sumatera Barat ini. 

"Saya sudah pernah menggantikan Barry Prima (Dalam Bergola Ijo) , Advent Bangun (Dalam Si Buta dan Jaka Sembung), Georgy Rudy (Jaka Gledek) dan Willy Dozan (Pendekar Liar), khususnya untuk adegan salto dan jumpalitan," katanya bangga. 

Lulusan FPOK (Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan) ini memang sudah berhak menyandang gelar Drs. Prestasinya dalam bidang olahraga seabreg. Untuk meyebutkan beberapa diantaranya, juara Gulat Remaja 76, Juara Senam PON IX (77), Juara Senam Seagames 79, Juara Senam Pelajar Asean 80, sekaligus merebut 4 medali emas dalam PON X (81) serta Sea Games 2 di Manila. 

"Tahun 85, saat mengikuti Sea Games di Bangkok, saya mengalami cedera tulang punggung, kendati begitu masih bisa menyabet medali perak,"kenangnya. 

Perkara main film memang sudah jadi cita-citanya sejak kecil. Sayang, karena tingginya kurang, cuma 1,59 meter, maka paling cuma dipasang sebagai pemeran pembantu saja. Mulai main film diajak sutradara Dasri Yacob lewat "Pendekar Liar" sebagai guru Willy Dozan. Perannya yang mengesankan sebagai si Kupra pendekar bego pendamping Barry Prima dalam "Mandala dari Sungai Ular", lalu jadi petinju panter Willy dalam Rio Sang Juara. 

"Bekal saya memang pencak silat dan senam, " aku Syaiful. tapi kemudian saya mencangkok jurus-jurus taekwondo dari Barry, karate dari Advent dan Kungfu dari Willy."

Memasuki tahun 1990, nampakna bintang Syaiful mulai mencorong. Dipercaya untuk berperan lebih dalam film silat seperti  "Pendekar Tapak Sakti", "Misteri Lembah Naga" dan "Jago" yang paling membanggakan adalah ketika dipilih sebagai pemeran utama dalam produksi PT. Garuda Film yaitu "Pendekar Cabe Rawit" berpasangan dengan Uci Bing Slamet dan bertarung melawan WD Mochtar dan Johan Saimima. 

Syaiful Nazar beristrikan Meliani mahasiswi teladan IKIP, dan memiliki putri Melisa Fitri. Harapannya bisa mempopulerkan silat tradisional lewat film laga nasional. ~MF 110/78 Tahun VI, 15-28 sept 1990


Tuesday, March 10, 2026

ACHMAD NUGRAHA, PERAN YANG BAIK-BAIK


 ACHMAD NUGRAHA, PERAN YANG BAIK-BAIK (Berita Lawas). Tampangnya pasti cukup familiar bagi penonton setia drama seri Jendela Rumah Kita, sebagai Kahar suami Ratna (Nungki Kusumastuti) yang penurut dan sabar. Dilayar perak film-filmnya sudah banyak seperti Jakarta-Jakarta, Rahasia Seorang Ibu, Serangan Fajar, Rembulan dan Matahari, Untukmu Kuserahkan Segalanya, Wolter Monginsidi, Mereka Memang Ada dan sederetan judul lainnya. Sekali waktu ikut nongol di pentas teater. 

Bila judul film yang dibintanginya berderet-deret, sebaliknya namanya belum bisa di deretkan dijajaran artis populer macam Ray Sahetapy, Rano Karno, atau Mathias Muchus. 

"Mungkin karena peran-peran yang saya mainkan tidak terlalu menonjol. Kalau soal kemampuan saya yakin kemampuan saya ada. Saya sendiri ingin mencapai prestasi yang setinggi-tingginya, tetapi kesempatan belum ada, " tuturnya bersemangat. 

Seperti dalam Jakarta '66, ia merasa bermain cukup mantap dan menurutnya film itu pun di garap begitu serius. Sangat serius bahkan. Sayangnya tidak diikutsertakan dalam festival. Lagi-lagi kesempatan meraih prestasi melayang. 

Untuk pengagum Sjumandjaya ini cenderung suka peran keras atau sadis, yang datang selalu itu ke itu saja. Tidak jauh dari karakter orang sabar, penurut, soleh,.. pokoknya orang-orang yang menyenangnkan. Monoton, apa boleh buat!. 

"Mungkin pendekatan figur yagn di pakai sutradara tiap kali memberi suatu peran buat saya. Katanya sih tampang saya tampang orang baik-baik, makanya selalu di sodori peran orang baik, " celotehnya sambil tertawa. 

Biar dalam film-filmnya aktor yang nggak suka kerja dobel ini selalu jadi orang sabar dan sejenisnya atau suami yang penurut rada-rada lemah, namun itu semua sangat berlawanan dengan kehidupan sehari-harinya. "Jelas saya bukan suami  penurut di rumah. Sebagai leader saya harus tegas. Di rumah ini untuk semua gejala sayalah satu-satunya decision maker. Tapi bukan diktator lho, " jelasnya lebih bersemangat. 

Kalau dengan 'Ratna" dia begitu penurut, di rumah dia selalu tegas mengajarkan kepada anak sulungnya Kian Santang supaya sadar akan hak dan kewajiban. 

Berkecimpung di dunia film memberinya banyak pengalaman. Setiap kali suting di satu daerah atau daerah mana saja, selalu ada pengalaman  menarik yang bisa diambil. Paling tidak jadi tahu banyak tentang berbagai kultur atau dialek suatu daerah tetapi disisi lain kegiatannya di film seringkali membuatnya kaget, manakala tiba-tiba ada yang nyeletuk, "Bintang film kok belanja di obralan?". Memang Nugraha suka iseng mengobrak abrik obralan di pusat perbelanjaan. 

MF No. 094/62/Tahun VI 3 - 16 Feb 1990

Tuesday, March 3, 2026

KUSNO SOEDJARWADI, MANTAN POLISI MILITER YANG JUGA AKTOR


 KUSNO SOEDJARWADI, MANTAN POLISI MILITER YANG JUGA AKTOR, (Berita Lawas). Kusno Soedjarwadi, lelaki kelahiran Jogyakarta, 16 Juni 1932 tidak sembarangan menerima tawaran untuk main film. "Selain kerja dan kesibukan organisasi, ia juga membina 30 orang lebih anak-anak di Sanggar Teater Graha Mandiri Bogor, " ujar wkail ketua komisi film Dewan Kesenian Jakarta. 

Tapi ada alasan lain mengapa mantan Polisi Militer yang terjun ke film sejak tahun 1956 ii ngumpulin anak-anak dan bikin sanggar teater. "Saya rindu film anak-anak yang tahun-tahun terakhir  begitu langka. Karena itu ia mengumpulkan anak-anak ini di kota saya. Saya bina mereka, saya ajari akting dan main drama dengan cerita-cerita yang mengandung humaniora. Tapi jangan salah lho, bukan berarti anggota sanggar saya melulu anak-anak. Ada juga yang mahasiswa, "ujar aktor yang pernah jadi penjaga gawang dan ketua klub sepakbola ini. 

Menurut aktor terbaik pilihan PWI Jaya lewat film "Perkawinan " tahun 1977 ini, langkanya film anak-anak di negeri ini bukan karena produser atau insan film enggan membuat film anak-anak. "Insan film siapapun dia, pasti berkeinginan untuk membuat film anak-anak, tapi bagaimana kita akan membuat kalau peredarannya jadi masalah? Tidak terjamin, " jelasnya. 

Ketika disinggung tentang apa yang dimaksud dengan film anak-anak tersebut, aktor yagn sudah membintangi puluhan judul film ini, dengan tangkas mengelak, "Batasan untuk pengertian film anak-anak tersebut memang masih kabur. Ceritanya tentang anak-anak atau pemainnya anak-anak? Soalnya tidak semua film anak-anak harus dimainkan anak-anak kan? Orang tua juga bisa memainkannya, " tutur aktor yang juga sutradar aini. 

Kusno mencontohkan film "Don Aufar" . Menurutnya itu bukan film anak-anak. "Soalnya film itu mengambah sih". Karena itu Kusno berpendapat film anak-anak adalah film yang mampu menarik minat dan disukai anak-anak. "Untuk melahirkan film yang disukai dan dimintai anak-anak tersebut kita memang harus lebih dulu mengerti dunia kanak-kanak tersebut, " ujarnya. 

"Pokokny aalasan saya mengumpulkan anak-anak di Bogor adalah untuk mengajak mereka mengenal dunianya dan dapat mengekspresikannya. Kalau mau tahu bagaimana saya membina anak-anak tersebut datang saja ke Sanggar saya, " ajak aktor yang juga mantan dosen Asdrafi Jogya ini 

diambil dari MF 61/29 tahun V, 29 Okt - 11 Nov 1988.

Friday, February 27, 2026

GITO GILAS, LEBIH SUKA JADI WARTAWAN


 GITO GILAS, LEBIH SUKA JADI WARTAWAN , (Berita Lawas). Tidak semua artis ingin menggantungkan hidup pada dunia film. Contohnya Gito Gilas. Dia lebih suka menjadi wartawan daripada artis yang menurut pendapat orang-orang punya masa depan cerah. Lalu alasan apa yang membuat anak muda yang kuliah di STP ingin menjadi wartawan?

"Karena saya kuliah di STP, mengambil jurusan Jurnalistik, " kata Gito yang lahir 27 Mei 1966 berterus terang. "Tapi saya tidak mau menjadi wartawan harian. Sebab sangat sibuk. Saya lebih suka menjadi wartawan Majalah, terserah mau majalah apa, " lanjut anak ke 2 dari 4 bersaudara ini. Kapan dunia wartawan akan digelutinya. "Saya sendiri belum tahu. Yang jelas saya akan jadi wartawan setelah selesai kuliah, " katanya menambahkan. 

Walau Gito Gilas sudah beberapa kali melakoni film nasional namun baginya lebih suka bermain di layar gelas milik pemerintah itu. Alasan apa yang membuat tertarik berlakon di TVRI?

"Kan banyak masyarakat yang tidak sempat menonton di bioskop. Kalau nonton di bioskop, kan harus bayar, di TV tidak. Gratis. Lagipula masyarakat langsung mengenal kita, " kata lelaki berbintang Gemini yang lahir di Kota Bandung ini. 

Dalam film TV dia beberapa kali melakoni cerita remaja, antara lain Fanny, sutradara Partom Hutapea, Opera Anak-anak Kost sutradara Partom Hutapea, dan juga Tegar sutradara Bamang Rochyadi serta beberapa film TV yang lain. "Alasan saya mau menerima tawaran main sinetron sederhana saja. Karena kita bisa belajar. Kan ada monitor untuk melihat akting kita. Jadi kalau tidak pas bisa di hapus dan direkam kembali, " lanjutnya. "Lagi pula kalau main disini kita bisa totalitas. Artinya kita langsung berdialog memakai suara kita sendiri, tapi kalau film kan harus di dubbing lagi, " katanya menambahkan. 



MF 095/63/Tahun VI, 17 Februari - 2 Maret 1990

Wednesday, February 25, 2026

JOSEPH GINTINGS


 JOSEPH GINTINGS. (Berita Lawas). Dia merupakan "Singa" panggung. Beberapa kali menjadi aktor terbaik pada festival teater. Kemudian dari teaterlah dia tahu akting baik yang diperolehnya dari IKJ tempatnya menimba ilmu. 

Namun sukses Joesph Gintings di panggung teater tidak sama dengan suksesnya di dunia film dan televisi. Walau begitu bapak yang menjadi salah seorang pengajar di IKJ ini merasa yakin bisa melejit ke permukaan dunia akting. 

"Saya tidak bisa idealis. Sebab tuntutan zaman kita harus bisa segalanya," katanya. "Oleh sebab itulah saya mau main TV atau film. Kalau di panggung beberapa honor yang kita terima? begitu pula banyak masyarakat yang belum kenal dunia panggung, " katanya lebih lanjut. 

Walau prestasinya di dunia panggung tidak terhitung lagi, namun Joseph merasa belum dikenal masyarakat. Padahal dia telah berkali-kali main drama atau film TV. "Itu dulu sekarang saya sudah dikenal", ujarnya sambil ngakak. Sejak kapan dikenal? "Sejak saya main film TV Setegar Lintasan Baja. Padahal dalam film itu saya terburu-buru menerima peran, " katanya. Dia memerankan seorang masinis PJKA yang penuh penderitaan batin. 

Walau sudah cukup pengalaman, tapi Joseph merasa kelimpungan ketika berperan sebagai Monang, dalam film seri "Tembang Di Tengah Padang". Kenapa bisa begitu? Pasalnya dia membawakan karakter orang Batak. Dia juga orang Batak, tapi jadi bingung orang Batak yang mana yang harus dia perankan. 

"Saya Batak, tapi Batak yang saya bawakan kejawa-jawaan, " lanjutnya. 

Dalam film seri Tembang Di Tengah Padang itu Joseph mendapat kesempatan bermain sebanyak 4 episode. Padahal ketika suting film TV itu dia juga sedang sibuk suting film Dua Diantara TIga laki-Laki, sutradara Edward Pesta Sirait, mengambil lokasi di Surabaya. 

Dan karena sutingnya bersamaan, membuatnya harus pontang panting di Surabaya-Cipanas. "Karena saya suting dua film bersamaan. Satu suting film TV, yang satu lagi film bioskop. Itulah risiko seorang artis. Harus tahan banting, " kilahnya mengenang perjalanannya dari Surabaya ke Cipanas. 

Kala di urut, banyak sudah prestasinya, antara lain dia melakoni di film Jakarta 66, Hidup Semakin Panas, Panggung Pementasan Waiting for Godot, Hilang Tanpa Bekas dan lain-lain. Berlakon di TV sudah puluhan kali, sebagai sutradara panggung dia sempat mementaskan Kebebasan Abadi naskah CM Nas dan Wek Wek naskah D. Djajakusuma. 

"Saya belum apa-apa. Saya masih harus banyak belajar. Sebagai orang seni saya selalu kurang puas, " tuturnya. Awal tahun 1990, Wahyu Sihombing gurunya telah pergi untuk selama-lamanya. "Pak Hombing tak meninggal. Saya merasa dia hanya keluar negeri. Saya pikir juga dia tidak akan pernah meninggal, " katanya dengan pandangan berkaca-kaca. 


MF 095/63/Tahun VI, 17 Februari - 2 Maret 1990

Monday, February 23, 2026

ARIF RIVAN

 


ARIF RIVAN, Tidak Bisa Casting Rangkap (Berita Lawas). Untuk sepekan Film TV akhir tahun 1989, Arif Rivan berlakon menjadi Radeng Pengung. Cerita komedi berjudul Raden Pengung, itu berdasar skenario Arswendo Atmowiloto dan sutradara Mustafa. Karena film TV itu pula yang membuatnya marah kepad dirinya sendiri. Kenapa bisa begitu? Karena  Arif Rivan tidak puas. "Saya tidak puas karena ketika mempelajari karakter Raden Pengung terburu-buru. Bayangkan cuma 3 hari waktu saya mempelajarinya."kata artis kelahiran Padang 1 November 1951. "Apalagi cerita komedi. Dan komedinya karena karakter. " ujar anak bungsu dari 7 bersaudara ini. Padahal dia pernah berhasil melakoni cerita komedi "Nujum Pak Belalang" ketika sepekan Film Tradisional TV pada Mei 1989 di TVRI, ketika it dia melakoni seorang Raja Melayu di Sumatera Timur. 

"Ketika itu, waktu saya mempelajari karakter cukup. Apalagi didukung oleh Artis yagn berpengalaman, " lanjutnya. Untuk mempelajari karakter bagi Arif Rivan tidak cukup hanya 3 atau 5 hari. 

"Itulah sebabnya saya tidak berani menerima casting pada saat bersamaan. Kalau sudah selesai satu, barulah yang satu lagi saya terima, " kilah artis ini. Kiranya Arif Rivan mempunyai sikap juga untuk menerima tawaran. Padahal banyak artis selagi laku berani menerima tawaran 3 sampai 4 casting sekaligus. "Saya bisa saja begitu, tapi untuk mempelajari karakter kan tidak bisa terburu-buru, " tangkisnya. 

Arif Rivan pertama sekali terjun ke dunia akting melalui layar gelas. "Biar honor main TV kecil, saya puas. Selain waktu sutingnya singkat, juga kita bisa akrab dengan kru serta sutradaranya," katanya. Karena alasan itu pula membuat Arif Rivan bersedia melakoni Herman dalam film serial TV "Tembang Di Tengah Padang" sutradara Darto Joned. Ia melakoni seorang insinyur yang mengabdi di desa.  


MF 095/63/Tahun VI, 17 Februari - 2 Maret 1990

Thursday, February 12, 2026

ARIE SANJAYA


 ARIE SANJAYA, Ada yang tahu sosok ini? Bagi yang pernah menonton Operasi Trisula, Penumpasan Sisa-Sisa PKI di Blitar Selatan,atau sinetron SCTV Perjalanan tentu masih ingat sosok ini. Ya dialah Arie Sanjaya. 

Sebagai seorang aktor yang sudah malang melintang di dunia layar perak, seperti Arie Sanjaya, memainkan sebuah tokoh sentral bukan sesuatu yang baru. Bahkan merupakan makanan sehari-hari. Pria kelahiran Ambarawa 17 Agustus 1932 ini baru merasakan kenikmatan sebagai seorang aktor, karena pada sinetron Opera Senja, Pak Arie demikian pria yang hampir seluruh rambutnya memutih ini dipercaya oleh Noto Bagaskoro untuk menggantikan posisi almarhum S Bono yang waktu itu tidak bisa main karena sudah mulai sakit-sakitan. 

"Saya sungguh bersyukur dipercaya sutradara untuk menggantikan peran Pak Bono, namun kepercayaan itu buat saya sangat berat. Karena antara saya dan Pak Bono kemampuan aktingnya jauh berbeda, tapi sebagai pemain saya telah berusaha untuk bermain sebaik mungkin. Dan alhamdulillah tidak ada masalah apa-apa, kelihatannya sutradara juga puas dengan permainan saya, " tandas pemeran Pak MOchtar di sinietron yang juga dibintangi oleh Bob Sadino, Wawan Wanisar, Mathias Muchus dan Cut Rizky Theo ini. 

Aktor yang menekuni dunia film sejak tahun 1960an lewat film Si Pendek dan Sri panggung garapan sutradara Said HJ ini mengaku walau permainannya di puji sutradara karena dianggap mendekati permainan S Bono ini, tetap merasa belum maksimal. Karena dalam sinteron yang di produksi 6 episode ini, Pak Arie belum mengeluarkan seluruh kemampuannya. 

"Wah, kalau dibandingkan dengan Pak Bono, saya nggak ada apa-apanya, " ujar pria yang sudah lama menduda ini merendah. 

Ketika disinggung mengenai kesendiriannya tiba-tiba wajahnya yang menyiratkan kedamaian berubah keruh. Kemudian bintang iklan salah satu produk minuman energi dan Pasar Raya ini sorot matanya menerawang ke masa-masa indah bersama keluarganya dulu. 

"Karena usaha saya ancur, keluargapun jadi berantakan. Semua itu karena istri saya nggak bisa menerima kenyataan, terus terang waktu saya masih bekerja sebagai Manajer Imam (Industri Artis Music Management) di Surabaya dan Kalimantan, hidup saya lumayan, tapi tiba-tiba usaha tersebut mengalami kemerosotan sehingga usaha bangkrut dan akhirnya saya kembali kedunia seni seperti sekarang ini, ujarnya. 

Pak Arie kemudian sedikit mengungkapkan masa lalunya, bahwa istrinya yang tadinya terbiasa hidub berkecukupan, tidak bisa menerima perubahan nasib yang dialami suaminya. Akhirnya sang istri pilih cerai dan kawin lagi dengan salah seorang pengusaha, sementara Pak Arie masih betah menduda. 

"Saya tidak menyesal tidak menikah lagi, karena terus terang ketika saya mau memulai memikirkan untuk berumah tangga lagi, impian buruk saya berumahtangga dulu terus membayangi, jadi saya terus diliputi rasa takut ketika mau menikah lagi, " paparnya. 

~MF


Wednesday, February 4, 2026

NIZAR ZULMY


 NIZAR ZULMY. Kenal Barep? Dia adalah seorang bapak yang arif, lembut tatakramanya, bijaksana dalam mengambil keputusan dan menjadi panutan dalam keluarga besar Krido, pada drama seri "KISAH SERUMPUN BAMBU" karya Darto Joned yang pernah di tayangkan TVRI. 

Nizar Zulmy ini adalah sosok yang urakan, tapi tidak dengan Barep, ia tidak sama dengan Nizar bintang TV ini bekas anak pasaran alias Preman di Lubuk Pakam, Pangkalan Brandan dan Kota Medan. Dan pengalaman di pasaran itulah yang membuat ia berhasil melakoni Wiril, tokoh dalam drama "Doa seorang Narapidana" arahan Irwinsyah , drama TV yang menurutnya paling berkesan. 

Nizar Zulmy anak yang bedarah melayu Deli ini sempat menjadi panutan bagi masyarakat setelah membintangi dalam Kisah Serumpun Bambu, kemudian ia juga mendapat tantangan untuk bermain dalam drama seri karya Darto Jonet yang berjudul "Tembang Diatas Padang". Temanya agak mirip dengan Kisah Serumpun Bambu, madih berkisah tentang transmigrasi. Suting pengambilan gambar di lakukan di Sumatera. 

Apakah Tembang Diatas Padang sambungan dari Kisah Serumpun Bambu? Tidak. Memang ceritanya masih mengenai transmigrasi. Tapi transmigrasi kan macam-macam. Tidak harus selalu seperti kisah "Serumpun Bambu", kilahnya. 

Perokok berat ini merasa telah menyatu dengan "Kisah Serumpun Bambu" dan Nizar merasa sedih meninggalkannya. Tapi apaholeb buat, ternyata drama ini hanya sampai 24 episode saja. "Kami dilapangan ketika itu seperti satu keluarga. Saling membantu. Pokoknya AMK-lah (Aktor merangkap Kuli). ya kadang saya menjadi supier, menjemput artis atau keperluan lain. Kadang juga mengurus kostum dan membangun setting, " katanya. 

Nizar yang siap juga utnuk di botaki atau menguruskan badan, mengaku telah ratusan drama telah ia lakonkan. Tapi dia belum merasa apa-apa. "Saya memang ingin bermain jadi apa saja. Saya sanggup melakonkan apa saja. Dari presiden hingga tukang beling, " katanya. 

"Berdrama bagi saya bukan sekedar hobby, tapi ia sudah menjadi tuntutan hidup bagi saya, "sambungnya melanjutkan. Inilah yang membuat Nizar atau akrabnya Bung Adek ini tidak pilih-pilih peran. Asal mengena di hatinya kontan diterimanya, di dunia film pun Bung Adek bukan muka baru. Tapi dia berkeyakinan satu saat nanti ia akan melambung ke tangga terhormat dalam perfilman Indonesia. 

~MF 61/29 Tahun V, 29 Oktober- 11 November 1988

Wednesday, January 28, 2026

ATIN MARTINO, SI MANTAN JUARA SILAT


 ATIN MARTINO, SI MANTAN JUARA SILAT, Hidup Harus Ulet dan Tekun! Hidup itu tidak gampang, penuh tantangan dan untuk menghadapi segala tantangan itu, perlu perjuangan dan ketekunan, keuletan agar meraih sukses yang diharapkan. 

Demikian papar mantan juara IPSI se Jatim yagn sejak akhir tahun 1985 menggeluti dunia film, ketika wawancara disela-sela suting "Anak Anak Kolong" arahan Lukmantoro yang berlokasi di Cirebon - Kuningan dan sekitarnya. 

ATIN MARTINO yang mengawali karir sebagai film figuran lewat film perdananya "Menerjang Badai" arahan Dasri Yacob ini mengaku sejak usia SD hobby nonton film action. Dari situlah ia tertarik belajar bela diri Pencak Silat dan menggemari kung fu. 

Anak bungsu dari pasangan Soedirman dan Soenarti ini terlahir di kota Surabaya tepatnya 16 Desember 1962. Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, ia dituntut mengikuti jejak kakak-kakaknya belajar hidup mandiri dan tidak menggantungkan diri pada orang lain. 

Itulah sebabnya ia memutuskan memilih film sebagai ladang hidupnya. Siapa bilang film tidak bisa diharapkan, buktinya saya berangkat dari bawah sebagai figuran. Modalnya itikad dan semangat juang, saya bersikeras menggeluti dunia film ini sampai prestasi puncak, tutur arek Suroboyo penggemar musik cadas ini. 

Alhamdulillah sudah banyak film yang saya geluti diantaranya Mat Ireng, Wiro Sableng dalam judul Kapak Maut Tutur Sepuh , Anak-anak Kolong dan lain-lain yang sebagian besar film aksi, " ujar Atin Martino yang berperakawan kekar dengan tinggi 172 cm . 

Aktor yang mulai naik daun ini sudah beberapa kali memegang peran utama. Namun ia sendiri tidak pernah merasa puas, ia selalu mengevaluasi diri dari film yang satu ke film lain, disamping menimba pengalaman dari para senior dan sutradara. 

Setiap insan pasti merindukan keluarga, akan halnya saya dalam kegiatan syuting terkadang muncul rasa rindu. Dalam hal ini, kita harus bisa membagi jadwal antara profesi dan kepentingan keluarga, dengan penuh pengertian dan ketulusan hati, " ucap Atin . 

Menyinggung soal honor main film, ia mengelak. Ini rahasia dong dan rasanya kurang etis diketahui secara umum kilahnya. Pokoknya lumayan buat kebutuhan "dapur ngebul" dan prinsip hidup saya, menerima apa adanya dengan penuh kesadaran ikhlas dan tabah menghadapi tantangan hidup, ujar laki-laki yang benci kepada orang yang tidak jujur dan munafik ini. 

~sumber MF 119/87 Tahun VII, 19 Jan - 1 Feb 1991

Tuesday, January 20, 2026

DOYOK SUDARMADJI

 


DOYOK SUDARMADJI, ASAL MULA PAKAI NAMA DOYOK DAN KEHIDUPAN SEBELUM MAIN FILM, Nasib baik memang tak pernah pandang bulu. Dan nasib baik itu pula yang menyinggahi Doyok Sudarmadji. arek Surabaya yang kondang sebagai pelawak."Padahal dulu saya ini hobbynya ngebut lho, sampai pernah jungkir balik di jalanan, " ujar Doyok. 

Padahal, menurut Bapak bertubuh kecil ini, sebelumnya jadi pelawak dan kemudian main film, hidupnya sejak berada di Jakarta begitu pahit. "Saya malah pernah jadi tukang tambal ban, " tuturnya.  Tidak cuma itu, iapun mengaku sempat pula hidup dalam suasana yang ugal-ugalan. "ngebut dan petentengan di jalanan dengan motor besar, itu dulu menjadi bagian sehari-hari saya, " katanya. 

Namun nasib lain kemudian merubah hidupnya. Ya kecelakaan di jalanan waktu ngebut itulah yang menurutnya membuat sadar. Lalu bersama beberapa rekannya yang seide ia lalu bikin grup lawak yang diberi nama "Doyok Group". "Nama Doyok sendiri kami ambil dari nama tokoh komik di Poskota atas izin mas Kelik, pengarangnya. Waktu itu kami akan ikut lomba lawak di Ancol," ujar Doyok. 

Doyok yang mengaku dari hasil melawak dan main film itu bisa beli rumah dan pasang telepon, menyebutkan, dunia lawak dan film tampaknya memang sudah menjadi bagian dari hidupnya. "Pokoknya saya akan terus main film dan melawak," tuturnya. Lalu bagaimana pembagian rejeki dengan teman-teman? "Kalau soal itu kita berusaha terbuka. Kita bagi rata hasil pendapatan kita. Tentunya dengan aturan main tersendiri dong, " jawabnya. 

Lalu apa sih enaknya main film dan melawak? "Wah pokoknya lebih enak daripada ngebut. Main film itu bisa bikin saya dikenal banyak orang, dan melawak bikin saya gembira karena bisa menghibur orang banyak," jawabnya. Demikian seperti dituturkan dalam MF tahun 1988

~MF 082/50/TH.V, 19 Agustus - 1 Sept 1988

Friday, December 26, 2025

YAN BASTIAN, "SAYA SENIMAN JALANAN"


 YAN BASTIAN. Siapa tak kenal Yan Bastian lelaki yang telah membintangi puluhan film? Apalagi di lingkungan PT. Inem Film, namanya sepertinya sudak mengakar dan menyatu dengan perusahaan film tersebut. 

Menarik sekali bisa bincang-bincang dengan seniman berkumis yang memiliki wawasan luas dan logat bicara yang berwibawa. Ia selain dikenal sebagai bintang laga, juga seorang biduan. Kedua bidang seni ini telah digelutinya bertahun-tahun. Bayangkan, untuk bidang tarik suara ini saja, teman seangkatan Elly Kasim. Sedang film ia berangkat sama-sama dengan Ratno Timoer. 

Sebagai seorang seniman, kalau boleh dibilang begitu, ia nampak sederhana dan bersahaja. Tak pernah ada kesan mau mencari popularitas dalam bidang ini. "Saya ini kan seniman jalanan, seniman kecil. Ya mesti tahu diri. Nggak perlulah macam-macam. Bagi saya sikap berkesenian ini adalah berkarya," ujar lelaki asal Padang ini. 

Berkarya, sesuatu hal yang harus dilakukan seorang seniman, tapi bagi Yan Bastian, berkarya tidak harus 'ngoyo'. Ketika ditanya kemungkinan dapat Piala Citra, spontan Yan Bastian menyambar. "Buat apa citra-citraan? Biar terkenal? kalau kita sudah terkenal terus mau apa? Toh itu tidak membuat orang memiliki jiwa besar. Tak usahlah aneh-aneh," tambah Yan pemeran Ganda dalam film "Seruling Naga Sakti" yang sutingnya di Pelabuhan Ratu. 

Ia paling gemar membintangi film-film laga. Ia mungkin karena kondisi fisiknya yang mendukung, seperti tubuh tegap dan memiliki watak yang keras. Itulah sebabnya film-film yang dibintangi selalu berkisar film-film aksi. Tidak mencoba film yang memiliki tema lain, seperti drama?

"Film drama kita kan monoton. Dari itu ke itu saja. Paling yang di perlihatkan hanya yang berdasi, keluarga yang sedang makan di meja dirumahnya yang mewah. NGgak ada kecuali itu," tegas lelaki yang memulai debutnya dalam film "Dendam Berdarah" (1970) sebagai figuran. 

Menanggapi himbauan menteri Penerangan saat itu tentang pembuatan film-film cerita daerah, Yan Bastian setuju dengan imbauan Bapak Menteri Penerangan tentang pembuatan film cerita daerah. Bayagkan saja, kalau masing-masing propinsi saja membuat film, sudah tambah berapa film? Lagian film daerah itu kan banyak manfaatnya, budaya masing-masing daerah bisa di kenal di seluruh tanah air. Nilai budayanya terangkat. Dan lagi, kalau pembuatan film itu melibatkan seniman daerah, kan mereka juga berkembang . Juga akn ikut meningkatkan sektor pariwisata, " Jelas Yan Bastian.


~MF 095/63/Tahun V, 17 Feb - 2 Maret 1990


Tuesday, December 16, 2025

MAMAT YATIM, BIAR CEBOL SUDAH BERCUCU


 MAMAT YATIM, BIAR CEBOL SUDAH BERCUCU. Ada yang tahu aktor kecil ini? Baru berumur 3 bulan ayahnya meninggal. Dan ketika dia berusia 2 bulan, ibunya meninggal. Lalu sejak itu dia berpetualang dalam kehidupannya. Lebih dari itu, dia lahir sudah memiliki cacat. Kakinya letter O lalu diapun diberi nama Muhammad Yatim alias Mamat Yatim. 

Walau tingginya tidak sampai 1 meter, namun Mamat Yatim tidak pernah putus asa. 

Sekali waktu, Ratno Timoer mengenalnya di suatu tempat. Melihat Mamat, hati Ratno Timoer tergetar. Dan dia pun di beri kesempatan berperan dalam film Misteri Candi Borobudur (Misteri Borobudur) dan Pendekar Bambu Kuning, tahun 70an. Dan sejak saat itulah Mamat terlibat dalam film nasional secara penuh. Ratno, memberi nama Mamat yatim. Dan sampai sekarang (tahun 1990) telah membintangi lebih dari 40 judul film nasional. 

Aktor cebol ini lahir pada tanggal 16, bulannya lupa, tahunnya 1930. Artinya usianya sudah menginjak 60 tahun pada tahun 1990. Walau usia telah diambang senja, namun fisiknya kelihatan seperti anak berusia 5 tahun. Wajahnya pun belum menggambarkan usianya telah demikian matang. Hanya saja penglihatan dan pendengarannya sudah berkurang, layaknya kebanyakan orang tua. Namun begitu kalau sedang berakting, gerakannya masih gesit, begitu pula jurus-jurus yagn dimainkannya. Bahkan dia bisa loncat dari ketinggian 3 sampai 5 meter. Dan itu dilakukan dengan baik. 

Walau tubuhnya cebol, Mamat rajin bekerja. Sering dia sebagai pembantu umum dalam sebuah produksi film. Mamat senang guyon. Dan tak jarang kru artis ngakak dibuatnya. "Andaikata ada yang membawa saya, saya bisa menjadi pelawak. Kalau yang namanya Jojon bisa putus saya buat," katanya sambil ngakak. 

Mamat memiliki 6 anak dan bercucu 5 orang. Rumah tangganya selalu bahagia dan rukun. Sekarang ini anaknya yang perempuan selalu mendampingi Mamat pergi suting. "Barangkali mereka kuatir karena saya sudah tua," katanya. 

Sebagai aktor, Mamat selalu mendapat honor sesuai dengan perannya. Pertama sekali main film dia dapat honor sebesar lima ratus ribu rupiah. "Saya ucapkan terima kasih kepada mas Ratno, kalau tidak ada dia mungkin saya tidak jadi artis," lanjutsta. Kan tidak baik untuk  menolak pemberian orang  apa lagi orang itu ikhlas?" lanjutnya. 

Namun demikian bila naik bis kota, Mamat Yatim tetap bayar. "Sebagai bintang film malu kalau tidak bayar ongkos. Apalagi saya sudah di kenal," katanya guyon.


~MF 094/62/Tahun VI, 3 - 16 Feb 1990