Wednesday, July 22, 2026

CHIATA HENDRAYANI, SI PEMERAN "FATIMA"


 CHIATA HENDRAYANI, SI PEMERAN "FATIMA"(berita lawas). Mengejar da memburu Chiata "Fatima" Hendrayani, peraih piala Vidia untuk Pemeran Utama Wanita kategori Komedi seri pada Festival Sinetron Indonesia (FSI) 1997, ternyata gampang-gampang susah. Sesudah berulangkali janjian lewat telepon maupun via handphone, akhirnya bisa bertemu di lokasi suting di Cipinang besar. Saat ditemui Chiata baru sakit. 

Selain sakit, Aya-biasa begitu disapa memang punya jam kerja tak pasti. Maklum, selain main sinetron, menjadi model, ia bekerja sebagai marketing pada sebuah pabrik cat. Tapi "Saya disana bukan karyawan tetap kok. kalau ada order dan goal, dapat bonus. 

Kok jauh benar dengan dunia entertaint? Aya tergelak. Menjadi tenaga pemasaran, kata Aya justru main jobnya, dan sudah dijalani selama tiga tahun. 

Lha kalau main sinetron? "Biar honorarium dari Fatima sudah lumayan, tapi buat saya sinetron masih side job. Kebetulan, untuk ukuran Ciganjur dan sekitarnya, wajah dan postur Aya merepet dan masih lumayan. 

Keberhasilannya meraih Piala Vidia dalam penyelenggaraan FSI akankah merubah pandangan Aya? Main sinetron bukan lagi side job tetapi sudah main job? "Nggak juga begitu. Tetapi dengan keberhasilan itu saya akan makin serius berakting dan selektif memilih peran. bener! katanya gagah. 

Ditengah menunggu pengambilan gambar, penggemar masakan ayam rica-rica, masakan sang mama ini, banyak bercerita mengenai apa saja yang dilakukannya untuk masuk ke dalam 'ruh' Fatima. Janda muda, cantik dengan seorang anak laki-laki, tinggal dalam lingkungan masyarakat Betawi yang sederhana. 

Aya mengaku, ia antara lain mengamati perilaku dan gaya bicara pembantu rumah tangganya yang berasal dari Betawi. Ia juga memerhatikan dan berbincang dengan para tetangganya di Ciganjur. "Selain itu tentu saja banyak bertanya pada Babe, Mpok Nori, Manaf, Bang Syamsul serta lainnya. Mereka sangat membantu. Terima kasih untuk bantuannya itu, "kata pemilik tinggi 175 cm ini. 

Nama Chiata Hendrayani mungkin pernah anda dengar. Mungkin juga anda lupa-lupa ingat. Untuk menyegarkan ingatan anda tentangnya, kita rewind apa siapa Chiata. Anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Theo H Sinnighe dengan Faizah Bahasoan ini memulai kiprahnya lewat film layar lebar Blok M (Bakal Lokasi Mejeng) garapan sutradara Edward Pesta Sirait tahun 1990. Laiknya pemain film Ia hanya mengantar seorang temannya untuk casting. Saat test, Chiata juga ikut ditest. "Kamu nggak mungkin diterima. Soalnya kamu belum pernah main film atau jadi model, "ujar Chiata menirukan ucapan temannya waktu itu dalam perjalanan pulang. "Nggak kepilih juga nggak apa-apa. Orang tua gue juga keberatan kalau gue main film,"jawab Aya. 

Eduard Pesta Sirait, sperti diungkapkan Chiata, tak selang lama malah menelponny dan mengabari ia diterima sebagai Winda. Kedua orangtuanya, tentu saja bingung. mereka keberatan Chiata main film. Image film Indonesia ketika itu masih kurang bagus dimata para orang tua. Apalagi saat itu Chiata jelang ujian SMP. Untuk meyakinkan filmnya berbeda dengan film nasional kebanyakan, Edu secara pribadi menemui orangtua Chiata. Tak lupa membawa skenario dan bagaimana karakter Winda. 

"Bokap dan Nyokap akhirnya memberi izin, dengan catatan nilai ujianku harus bagus. Dan selama suting, Mama selalu ngikutin, " paparnya. "Honorarium main film itu juga nggak gede-gede amat. Kalau tak salah ingat sekitar limaratus ribu rupiah. Mama yang ngatur duitnya,"ungkapnya mengenang. 

Film Blok M itu mungkin saja akan menjadi film pertama sekaligus terakhir Chiata Hendrayani. ~MF 114/82 Tahun VII, 10 - 23 Nov 1990


No comments:

Post a Comment