Showing posts with label Robert Syarif. Show all posts
Showing posts with label Robert Syarif. Show all posts

Wednesday, September 30, 2026

SINETRON : PARIBAN DARI BANDUNG, MENGUAK KERUKUNAN ADAT

 


Tidak Banyak sinetron yang temanya menggarap kehidupan antar suku yang ada di Indonesia. Dan salah satunya adalah "Pariban Dari Bandung" karya Edward Pesta Sirait, sutradara yang sudah cukup banyak menggelar film layar lebar. Kini, Edward terjun ke sinetron lagi, dan karyanya yang kedua ini dan sedianya ditayangkan di layar TPI pada bulan Maret 1993, sedang memasuki tahap editing pihak penggarap, PT. Cipta Isthika Rucitra Indonesia. 

Dua kubu yang dibaurkan dalam sinetron yang proses sutingnya ditargetkan 4 bulan, namun berhasil diselesaikan hanya dengan 3,5 bulan ini, adalah dari suku Sunda dan Batak. Dimana mempertentangkan kedua suku. Namun justru harmonisasi perkawinan beda suku mereka justru mencuat cerita yang cukup menarik. Sebelum ini, Edward pernah membuat sinetron Suster Bulan. 

Awal Cerita dimulai dari kehidupan rumah tangga Asep Sastranegara (Robert Syarif) yang asal Parahiyangan serta Nurmala (Tarida Gloria), wanita Tapanuli, yang meski lain suku dan latar budayannya, namun digambarkan hidup ideal. Keduanya juga dikaruniai 3 orang anak serta menetap di Kalimantan. 

Namun setelah mereka masuk ke dalam jenjang usia tua dan selama ini lalai dan larut dalam waktu, belum pernah berkunjung bahkan berkirim surat selembarpun pada keluarga yang di Medan. Baru setelah berada di Bandung, serta anak sulung mereka, Daniel (Cok Simbara) berhasil menjadi seorang pengusaha muda sesuai dengan keahliannya sebagai insinyur ITB dan MSC dari Amerika. 

Kebanggaan Asep dan Nurmala akan keberhasilan Daniel sebetulnya selalu di gelisahkan oleh ketenangan Daniel yang pada usia ke 34 tahun seakan tak punya waktu dan minat untuk berumahtangga. Sehingga suatu saat Daniel mau mengembangkan usahanya ke Batam, ibunya meminta agar mampir ke Medan untuk mengunjungi Tulang (Paman) dan Paribannya (Anak gadis paman). Daniel yang menginginkan wanita yang bakal menjadi istrinya nanti tidak hanya melihat kedudukan maupun kekayaan semata. Maka dengan mengisyaratkan pada seluruh keluarganya agar kunjungannya ke Medan nanti dengan caranya sendiri. Terutama dalam melekatkan hubungannya dengan calon istrinya. 

Konflik cerita dari sinilah berawal. Dimana munculnya Daniel yang dengan penampilan seorang pemuda miskin serta bego, sangat menghancurkan harapan Paribannya, Betty (Nella Regar). Mengingat bualnya kepada semua orang-orang yang dekat dengan gadis ini maupun sahabat-sahabatnya di kampus, bahwa lelaki yang akan menjadi pacarnya, sekaligus calon suaminya adalah pemuda intelek, terhormat sekaligus kaya. 

Kekuatan permainan Cok Simbara yang sekaligus memainkan dua peran antara pemuda kota, kaya dan intelek, serta merubah menjadi lugu, miskin dan tentunya diperhinakan. Juga sosoknya sebagai lelaki yang perilakunya melebur dari perpaduan Batak-Sunda, memperkuat perannya. Hingga sebagai  hitam putih, kasar, gagah dan terpelajar, lembut, bego namun kritis, dimankan secara lentur oleh Cok dalam perannya sebagai Daniel. 

Namun seperti yang diungkapkan oleh Edward PS, bahwa ia sangat memuji oleh jempolnya akting Nella Regar. Mengingat dunia akting, baik film maupun sinetron hal yang betul-betul baru bagi keberadaannya sebagai penyanyi. Disinilah muncul kesabaran serta penanaman pemahaman Edward sebagai sutradara. Dari keragu-raguan Nella saat disodorkan peran , namun justru jadi lebur oleh minatnya artis ini yang cukup besar untuk mencoba langkah baru di dunia akting. 

Ternyata, bakat Nella yang sudah lama terpendam perlahan-lahan mencuat. Cocoknya sebagai gadis Batak, walau tidak seluruhnya ditunjang oleh karakternya yang kebetulan dialiri darah Sumatera Utara. Karena ayahnya yang memang berasal dari sana, serta memiliki marga Siregar. Namun ia ternyata punya tingkat santun yang cenderung nyunda berkat didikan ibunya, berasal dari Parahiyangan, Garut. 

Padahal dalam perannya sebagai Betty, gadis Batak yang masih totok. Disertai warna perilaku, yang sombong, kasar serta sok intelek. Sosok ini mampu diwujudkan oleh Nella. Tak kalah dengan kemampuan Cok Simbara dalam perannya sebagai Daniel. Nilai lebihnya adalah , cok tentunya sudah tak asing dalam memainkan peran dihadapan kamera film maupun TV. 

Secara keseluruhan cerita Pariban Dari Bandung yang kisahnya berasal dari cerita bersambung yang dimuat di Sinar Indonesia Pembangunan (SIP) karya Arifin Siregar, sebetulnya sudah cukup lama mengendap di benak Edward. Hanya baru sekarang tiba kesempatan untuk menumpahkan mencari karya sinetronnya. Sedangkan pendukung dari penggarapannya adalah Nestor Rico Tambunan (Skenario), Yusup/Fauzy (Kameramen), Edward Pesta Sirait (Editor) Indah/Charles (Tata Rias) dan Tarida Panjaitan (Musik). 

Para pemain yang menurut Edward, hampir semua berasal dan memahami adat istiadat Batak serta Sunda, yakni Cok Simbara, Nella Regar, Robert Syarif, Ida Kusumah, Ully Artha, Tarida Gloria, serta pendukung dari Sanggar Devimir, Bandung. Serta para pemain dari Medan. 

Penayangannya yang dipastikan di layar TPI sebanyak 10 sd 12 episode, memakan waktu 30 menit setiap episode. 

~MF No. 174/141/TH.IX, 6 - 19 Maret 1993


Friday, July 24, 2026

ROBERT SYARIF, INGIN MEMBAHAGIAKAN ORANG LEWAT AKTING

 


ROBERT SYARIF, INGIN MEMBAHAGIAKAN ORANG LEWAT AKTING (berita lawas), Wawancara dengan Robert Syarief.  Kalau saja H. Usmar Ismail, Bapak Perfilman Nasional tidak mengcasting Robert Syarif dalam film "Toha Pahlawan Bandung Selatan", barangkali sampai saat ini ia tidak akan pernah muncul di layar lebar maupun di layar kaca. 

Selama 30 tahun, Bapak kelahiran Bandung, 27 November 1939 ini hanya diberikan peran sebagai figuran film. Namun kecintaan kepada seni peran tidak pernah surut, barulah setelah pensiun dari Polri dengan Pangkat Mayor, Bapak dua anak ini melesat bak anak panah. Peran demi peran silih berganti menghampirinya. 

Meski popularitas melejit di usianya yang menjelang senja, namun tidak membuat aktor bertubuh subur ini loyo, sebaliknya vitalitasnya di seni peran semakin meningkat. 

Saking banyaknya peran yang dilakoni selama sebulan penuh membuat Robert Syarif kehilangan masa istirahat. Namun dibalik itu ia menemukan kebahagiaan pada segala aktivitasnya seni peran. "Saya ingin melakoni peran apa saja. Selama tu belum terlaksana saya tidak akan istirahat dalam  seni peran, " katanya dengan semangat membara. 

Berikut petikan wawancara dengan Rober Syarif oleh wartawan MF yang dimuat di MF No 302/268/XIV, 10 - 23 Januari 1998.

T : Tanya

J : Jawab

T : Sejak kapan Pak Robert menggeluti seni peran?

J : Saya mulai main di film tahun 1959, film "Toha Pahlawan Bandung Selatan", sutradara H. Usmar Ismail. Kehadiran saya sebagai kapten Belanda tersebut tanpa disengaja. Waktu itu Pak Usmar Ismail lagi membtuhkan satu kompi tentara yang pakaian lorengnya mirip dengan loreng tentara Belanda zama dahulu. Ternyata di Jawa Barat hanya kompi dari batalyon Pelopor Brimot tempat saya bertugas yang memiliki kemiripan lorengnya dengan tentara Belanda. 

Begitu Pak Usmar melihat saya ia langsung memanggil saya karena mirip orang Belanda. Pak Usmar Ismail langsung memberikan peran Kapten Belanda karena saya bisa berbahasa Belanda. 

Sejak saat itulah saya mulai mengenal seni peran, meski dengan bekal wawasan akting sangat nihil. Jadi selama 30 tahun mulai dari tahun 1959 sampai 1989 saya selalu menjadi pemeran figuran. Dan saya tidak pernah merasa kecil hati. Saya rasa kalau orang  lain tidak akan sanggup menjadi figuran selama 30 tahun, ha..ha...ha....!.

T : Sejak kapan Pak Robert mengenal wawasan akting secara benar?

J : Saya mengenal wawasan akting setelah alm. Pak Wahyu Sihombing mengcasting sebagai Pak Surya dalam sinetron Dr. Sartika. Pada waktu itu saya baru tahu  apa yagn namanya wawasan akting.  Sampai sekarang saya merasa berhutang budi dengan beliau. Karena Pak Hombinglah yang membuka cakrawala akting saya. Meski saya sudah gaek seperti ini saya tetap belajar tentang akting. 

T : Dalam sebulan berapa judul sinetron yang dapat Pak Robert lakoni?

J : Pokoknya setiap hari itu saya ada suting sinetron. Paling dalam sepuluh hari saya bisa istirahat cuma sehari. Satu bulang paling banyak delapan sampai sepuluh produksi sinetron sekaligus yagn pernah saya lakoni. Dan kondisi itu sudah saya alami sejak dua tahun yang lalu. Begitu saya pensiun sebagai anggota Polri order untuk berlakon sangat banyak sekali. Karena sudah pensiun itulah membuat saya bisa total pada seni peran. 

Saya tidak pernah menolak peran apapun yang disodorkan kepada saya. Meski hanya sebagai figuran sekalipun. Andaikan diberikan hanya satu scene pun saya terima dengan senang hati.

T : Mengapa hal itu mau dilakukan, bukankah nama dan honor serta popularitas Pak Robert sudah melangit?

J : Pisau kalau tidak diasah akan karatan. Saya anggap  berlakon satu scene sekalipun merupakan proses mengasah kemampuan akting. 

T : Peran apa yang Pak Robert tolak jika diberikan?

J : Sejak dari muda cuma satu peran yang saya tolak, yakni adegan berciuman dan percintaan yang berlebihan. Mengapa peran antagonis maupun protagonis selalu saya terima, karena saya yakin yang membentuk diri kita bukan kita sendiri, disamping Tuhan juga seorang sutradara. 

T : Bagaimana kiat Pak Robert bila mengembangkan kemampuan akting sesuai dengan peran, mengingat dalam satu bulan harus melakoni berbagai karakter?

J : Bagi saya hal tersebut tidak menjadi masalah. Saya ini seperti koki. Misalnya, pagi ia harus memasak makanan Cina, siang memasak masakan India dan malam memasak masakan Padang. karena saya koki sudah pegnalaman tentu memasak dengan menu yang berbeda tidak menjadi masalah dalam satu hari. 

Namun tidak semua orang bisa seperti saya. Ada pemin sebulan setelah melakoni peran tertentu masih terbawa karakternya pada produksi yang lain. 

T : Bagaimana Pak Robert bisa tepat waktu ke lokasi suting?

J : Saya ini mantan ABRI, jadi sepanjang usia saya hampir setiap pagi melakukan hal yang menjenuhkan, yaki apel pagi. Atas dasar disiplin itulah saya bisa hadir tepat waktu di lokasi suting. Jika saya harus hadir pukul 08.00 pagi di Jakarta, maka dari rumah di Bandung, saya keluar pukul 03.00 pagi. 

T : Peran apa saya yang membuat Pak Robert merasa tertantang?

J : Selama 38 tahun menggeluti seni peran hanya tiga peran yang membuat saya merasa tertantang waktu melakoninya. Satu ketika menjadi Pak Sunarya dalam sinetron Dr. Sartika, kedua melakoni Pak Waskito dalam sinetron Catatan Buku Harian, dan yang ketiga menjadi orang Belanda dalam sinetron Misteri Dalam Kubur. 

Dan yang ke empat yang agak istimewa yang memberikan hikmah bagi saya adalah melakoni Kakek Jin dalam sinetron komedi Jin dan Jun. Karena saya punya fans anak-anak kecil, meskipun saya tidak mendapat tantangan. 

T : Apa yang menjadi Obsesi Pak Robert?

J : Obsesi saya secara khusus tidak ada. Tapi yang menjadi keinginan saya adalah membahagiakan orang lain dengan akting. 

T : Apa yang menjadi keinginan Pak Robert dengan adanya Festival Sinetron Indonesia?

J : Saya ingin sekali saja dalam hidup  dapat menyerahkan piala kepada pemenang pada acara puncak FSI. Setidaknya ada kebanggaan saya sebagai senior meski saya tidak pernah menang dalam FFI maupun FSI, ha..ha...ha. ~~~~~~


Thursday, May 21, 2026

IBU SUBANGUN MAIN FILM "JANGAN PAKSA DONG"


 IBU SUBANGUN MAIN FILM "JANGAN PAKSA DONG" (berita lawas). Berakhirnya sinetron "Keluarga Rahmat" bukan berarti putusnya karier Thenzara Zaid sebagai artis. Perempuan parobaya bertubuh gemuk yang ngetop lewat peran yang di"Bu Subangun" terjun ke dunia film. 

Adalah producer Lucy Sukardi dan sutradara Chris Helweldery yang mengajaknya tampil dalam produksi PT. Cipta Permai Indah Film "Jangan Paksa Dong". 

Yang berperan sebagai suami Zara bukan lagi Haryo Sungkono (pemera Pak Subangun yang sabar kelewat itu), melainkan Robert Syarief yang juga terkenal peran ayah angkat Dewi Yull dalam serial sinetron "Dr. Sartika".

Kalau dalam serial yang cerita-skenarionya digarap oleh Tatiek Maliyati WS itu, Robert selalu tampil serius, sekarang justru dijajal kebolehnnya berperan komik, termasuk mengekspos kepalanya yang botak berkilat. 

"Kalau peran saya sih masih serupa dengan perwatakan Bu Subangun yang cerewet, bawel dan nyerocos terus, apalagi saking cemburu pada suami yang dikira nyeleweng dengan cewek muda, " ungkap Zara. 

Sebagaian besar suting berlokasi di kota gudeg Yogya, menyusul bagian akhirnya diambil dikawasan real estate mewah Cinere, Jakarta Selatan. Suting hari terakhir mempertemukan para pemain utama, Zara, Robert, Sylvana Herman, Basuki dan Malih Bokir. 

Terlihat adegan Zara ngomel panjang memaki maki Robert yang dituduh pacaran dengan Syl. Mungkin saking takutnya mendengar omelan Zara yang merentet persis mercon, maka Basuki dan malih lari terbirit-birit. Begitu gugupnya sampai mereka tercebur ke empang! "Byurr!".

"Sama sekali tak pernah terlintas dalam benak kalau saya bisa main film," berterus terang Zara yang berasal dari Padang ini. "Saya  tak pernah belajar akting, tapi Pak Fritz G Schadt minta saya untuk mencoba bermain dalam serial produksi PPFN itu, eh keterusan sampai sekarang. Belum tahun sesudah film ini nanti ada yang mengajak main lagi atau tidak."

Berapa besar honornya, Zara segan menyebutkan. Yang jelas, sesudah hampir 10 tahun ditinggalkan suami, ia merasa bersyukur karena dari imbalan sebagai pemain mampu  memberi nafkah keluarga serta membiayai kuliah dua anaknya Leticia Alfrieda dan Muhammad Alfredo. ~MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990