Showing posts with label landscaper. Show all posts
Showing posts with label landscaper. Show all posts

Friday, July 12, 2019

SUNSET DAN SUNRISE BAGI LANDSCAPER MUSLIM

Sunset di suatu masa
Pecinta fotografi landscape (pemandangan) atau istilah yang familiar bagi kalangan fotografer di Indonesia adalah Landscaper merupakan salah satu profesi atau hobby yang banyak di cintai oleh fotografer tanah air. Mengcapture sebuah moment, sebuah pemandangan memiliki keasyikan tersendiri. Seorang landscaper yang sudah terlatih dengan sendirinya akan mengenali karakter alam yang akan terjadi seiring berjalannya waktu, meski itu tidak mutlak terjadi.

Fotografi landscape sendiri memiliki banyak sekali faktor yang harus di perhatikan. Foto landscape bukanlah foto dokumentasi melainkan sebuah foto yang menggambarkan keadaan, mood maupun kejadian yang ditangkap melalui bantuan lensa kamera sehingga gambar yang di hasilkan memiliki makna tersendiri, bisa menjadi datar, luar biasa, moody dan tentu saja takjub akan hasilnya. Hal yang di tonjolkan biasanya adalah sebuah gagasan yang indah, sebuah gambar yang indah. Sebagai contoh bagaimana air yang mengalir di foto sehingga halus seperti kapas, atau cahaya yang dilukis menjadi sebuah kilatan garis halus, dan sebagainya. Hal ini tentu memiliki tekhnik dan membutuhkan peralatan tambahan tersendiri.
Sunset di suatu masa

Namun kesempatan ini saya bukan ingin membahas tekhnik foto namun sharing tentang dilema bagi fotografer muslim ketika harus berburu sunset dan sunrise. Dua momen ini merupakan momen emas yang banyak di buru oleh fotografer landscape. Mengcapture saat Sunset dan Sunrise menjadi pilihan bagi para pecinta fotografi landscape apalagi saat saat itulah saat yang indah untuk mengabadikan sebuah momen. Karena fotografi landscape tidak terlepas dari yang namanya langit. Ya kondisi langit menjadi salah satu daya tarik tersendiri.

Kalau kita berbicara Sunset dan Sunrise maka kita akan berbicara yang namanya waktu. Ya Sunset terjadi pada sore hari dimana matahari terbenam yang akan memancarkan sinarkan yang indah, atau sunrise terjadi pada pagi hari dengan cuaca yang indah misalnya akan menghasilkan langit yang indah, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi para landscaper.

Setelah lama menggeluti dunia perhobian foto landscape dan biasanya mengambil waktu sunset dan sunrise maka sebagai seorang muslim lama-lama merasa 'hampa' ketika harus hunting foto di dua waktu tersebut. Kenapa demikian? karena kalau kita mengambil foto sunset maka akan terbentur sama yang namanya waktu maghrib. Ketika adzan berkumandang sering sekali kita masih ada di lokasi motret karena disitulah kadang-kadang sedang puncaknya matahari terbenam yang tentu saja sangat sayang kalau harus dilewatkan. Belum lagi lokasi pengambilan foto yang kerap kali jauh dari yang namanya mushola maupun masjid. Dari berkali-kali hunting foto sunset maka sering kali saya harus melewatkan waktu solat magrib. Hal ini terus berulang ketika hunting, lokasi hunting yang jauh dari masjid, belum lagi ada rasa solidaritas tersendiri terhadap teman-teman yang lain membuat kita kadang tidak berani untuk mendahului mereka hanya untuk sekedar menjalankan sholat magrib karena lokasi mushola atau masjid yang rata-rata jauh.

Setelah mengabadikan momen sunset, maka hal yang sering dilakukan kalau tidak ada masjid di sekitarnya adalah melanjutkan dengan kongkow atau sekedar bincang-bincang dengan kawan yang lain, hingga waktu magrib lewat bahkan sering sekali kebablasan sholat isyanya.

Demikian juga dengan waktu Sunrise, tidak jauh berbeda, Sunrise justru akan lebih sulit lagi karena biasanya dari jam 2 pagi kita sudah bangun untuk menuju lokasi tempat motret yang memang rata-rata jauh. Bayangin jam 2 pagi sudah bangun, hanya untuk mengejar matahari terbit yang di abadikan lewat kamera sementara orang-orang masih terlelap atau ada yang terbangun dan menunaikan sholat tahajud. Sementara kita berjibaku menyiapkan tripod dan peralatan lainnya. Untuk Sunrise, warga  Jakarta biasanya ke tanjung kait di Tangerang , atau paling dekat ke Ancol. Bagaimana dengan tanjung kait? meski kelihatannya dekat namun ternyata jauh, karena takut kehilangan momen maka sebelum waktu subuh tiba kita harus siap-siap menuju lokasi sunrise ketika hari masih gelap. Bagaimana dengan waktu sholat subuh? ya ketika waktu sholat tiba biasanya karena jaraknya jauh dari masjid maka terpaksa subuhnya pun lewat.

Memang sih bisa saja sebelum subuh berhenti di sebuah masjid, namun naluri kadang berkata lain, atau rombongan lain udah jalan terlebih dahulu sehingga kalau kita menyusul akan ketinggalan. Akhirnya ya udah ikut arus biar aman. Beda soal kalau yang hunting bareng kita juga sholat, biasanya akan menyempatkan diri untuk subuh kok, namun kadang ya karena mengejar momen dan lokasi itulah maka sering kali lewat. Alhasil sholat subuhpun lewat hanya untuk mengabadikan momen sunrise. Di sisi lain dari lubuk hati yang paling dalam mulai terusik nih karena hanya karena mengejar momen sunset dan sunrise kita melupakan hubungan kita sama Allah, melupakan kewajiban. Memang tidak ada yang susah kalau tetap di lakukan namun ketika di lapangan itu bisa berbalik 180 derajat dari apa yang kita inginkan.


Sunrise di pantai selaki
berangkat dari keresahan-keresahan yang terus terjadi akhirnya saya sendiri mulai mengurangi kegiatan hunting foto Sunset maupun Sunrise karena sering terjadi melewatkan waktu sholat. Ketika kita di beri kenikmatan untuk menikmati matahari terbenam maupun terbit namun disisi lain kita lupa akan pencipta matahari terbit dan terbenam, maka terasa tidak sejalan. Disisi lain kita diberi kemudahan untuk menikmati alam semesta yang indah namun kewajiban akan umat sering terlupakan. Kalau ada pertanyaan kan sholatnya bisa di jamak, atau kan sholatnya bisa nanti, atau pertanyaanya kan disana bisa sholat? Eits tunggu dulu............dimanakah kita mau hunting? di Sawarna? Cukul? Tanjung Kait? Anyer? atau ancol tau bahkan curug parigi? kita harus memastikan bahwa di sekitarnya terdapat masjid sehingga waktu sholatnya dapat, jepretannya dapat. Dua nikmat yang sungguh luar biasa.

Namun kadang teori tidak semudah prakteknya, kadang dilokasi tidak ada tempat ibadah, atau kalaupun ada tempat ibadah tapi itu jauh dari pengambilan foto. tentu ini menjadi dilema tersendiri.

So bagi diri saya sendiri sih sebisa mungkin menghindari untuk memotret dua waktu tersebut saat ini, meski hasrat akan itu sangat tinggi. Meski sekali dua kali masih suka hunting Sunset dan Sunrise namun saya lebih mencari tempat yang ada mushola di sekitarnya sehingga dapat melaksanakan kewajibannya sebagai muslim. Terkadang kita menganggap remeh akan hal ini, melupakan sesuatu yang memang tidak boleh dilupakan. Sebagai contoh kalau di jakarta ada spot 3 gedung (Spot Regatta) yang kalau motret harus melewati perumahan elit terlebih dahulu. Disini biasanya spot sunset, maka boleh dipastikan sholatnya akan terlewat karena jarak pengambilan foto dengan parkiran lumayan jauh. Belum lagi haha hihinya bareng teman-teman landscaper, belum lagi kalau mau lanjut motret malam. hmmm........

Artinya adalah untuk memotret sunset dari jam 5 atau bahkan jam 4 kita sudah berjalan menuju spot motret agar tidak ketinggalan momen saat sunset tiba, dan akan berakhir setelah magrib usai bahkan seringkali lewat hingga jelang isya. Belum lagi membereskan tripod dan lain-lain. Inti tentu menjadi sebuah dilema terutama bagi para fotografer muslim. Oke memang sholatnya bisa dijamak tapi apa akan selalu seperti itu? ini bukan karena udzur/halangan kan tapi karena sengaja, jadi alesan menjamakpun tidak kuat. .

Berikut ini alasan-alasan menghindari motret sunrise dan sunset menurut saya :

1. Jarak antara masjid dan spot sunset maupun sunrise terkadang jauh, kebanyakan malah jauh sehingga seringkali demi mengejar 'moment' maka kita harus mengorbankan sholat magrib/subuh.

2. Untuk magrib memang bisa di jamak dan agama juga memudahkan untuk itu namun hanya untuk mengejar sunset? lantas kita harus menjamaknya? sementara kita tahu bahwa udzur/halangan yang dibuat adalah di sengaja.

3. Daya tarik sunset dan sunrise kadang lebih menarik dibanding harus mengikuti panggilan adzan sehingga ketika adzan berkumandang maka masih asyik untuk menjepret gambar di spot .


Bagi Landscaper, mengabadikan momen saat matahari terbenam atau terbit alias sunset dan sunrise merupakan momen yang paling banyak di jepret oleh pecinta fotografi Landscape. Kita bisa lihat dan cek di instragram tentang fenomena dan trend ini. Namun bagi saya yang sudah mulai menua ini, menjadikan sunset dan sunrise waktu untuk memotret ada semacam di lema sendiri karena berdasar pengalaman kita akan terlewatkan sama yang namanya sholat di waktu yang tepat. Karena akan asyik untuk mengabadikan momen yang kadang takut sekali untuk terlewatkan. 

Maka itulah sekarang saya ingin merubah koleksi foto dari sunset sunrise menjadi motret di luar waktu tersebut. Satu hal terpenting adalah tidak melupakan sholat hanya karena keasyikan motret.

Buat teman-teman landscaper khususnya yang muslim, please yuk mulai rubah waktu motretnya karena dua waktu tersebut emang sulit untuk dapat sholat tepat pada waktunya kalau sedang motret. Memang passion tidak bisa di larang sih, dan akan kembali kepada masing-masing orang, tapi tidak ada salahnya saya mengajak teman-teman untuk mengurangi memotret di waktu tersebut. Kalau bukan dari diri sendiri itu tentu akan sangat sulit terutama teman-teman yang sudah menginjak usia 40th keatas lah ya.

Ternyata foto disiang haripun akan terasa indah. Ini bukan sok idealis tapi lebih ke sebuah hobi yang dapat seiring sejalan, karena sesungguhnya setiap orang berbeda-beda keasyikannya dan perasaan rohaninya. Bagi yang belum bisa semoga suatu saat mulai bisa ya. Allah memang memudahkan ketika kita punya udzur untuk sholatnya di gabung, tapi kalau motret berdasarkan hobi menurut saya sih bukan udzur syar'i yang harus selalu menjamak sholat atau telat sholat gara-gara motret.  Tapi alasan-alasan diatas memang tidak mutlak namun saling mengingatkan tentu tidak salah. Salam Landscaper

Bukan sunrise juga tetep cantik

Tuesday, February 12, 2019

Curug Parigi Bekasi, Spot Indah Buruan Para Landscaper

Bersama para Landscaper
Curug Parigi, rasanya belum bosan-bosan juga sih untuk menceritakan tempat yang sangat dekat dengan Jakarta, tepatnya di timur Jakarta alias Bekasi hehe. Namun lebih tepat lagi curug atau air terjun ini terletak diantara dua wilayah yaitu Kota Bekasi dan Kabupaten Bogor. Curug Parigi masuk ke Gunung Putri - Bogor dan di seberangnya adalah masuk  Bekasi tepatnya Narogong. Untuk mengetahui titik ini dapat di cari di google map atau waze  jika ingin berkunjung ke tempat ini. Ingin memotret Keindahan alam di sekitar Jakarta? tidak perlu jauh-jauh pergi ke Curug Parigi hehe..Sebelumnya saya pernah menulis tentang curug Parigi juga di Indahnya Curug Parigi dalam Jepretan Kamera
silahkan di cek juga di link berikut ini : Curug Parigi  At Glance 

Namun masih menarik untuk menengok sejenak keindahan curug Parigi meski sudah di tulis berkali-kali.

Curug Parigi di waktu sore

Para Landscaper di Curug Parigi

Spot Bawah Curug Parigi

Selamat pagi dari Curug Parigi
Curug Parigi dulu dan Kini sangat berbeda terutama untuk akses menuju tempat ini. Sebelum ke Curug Parigi terlebih dahulu kita harus menentukan Mau Lewat Mana, untuk menuju Curug ini? Ada dua akses yang memang bisa di lalui yaitu melalui Jalan Raya Narogong untuk kemudia masuk melalui Pangkalan V, Pangkalan V terletak di samping PT Hakapole masuk mengikuti jalan hingga sampai pemukiman warga, hingga ada sebuah akses melalui rumah warga yang biasanya akan membukakan pintu untuk masuk tempat ini, namun informasi terakhir terjadi "kisruh' antar warga Pangkalan V karena dianggap tidak dibagi hasil "retribusi" yang ditarik oleh warga sehingga beberapa kali mereka para warga mencegat siapa saja yang mau memasuki curug Parigi.

Kemudian tanah di seputar Curug Parigi yang milik sebuah PT saat ini sudah di ratakan dan akan di bangun pabrik sehingga dengan demikian akses menuju tempat ini praktis di tutup belum ada jalan lain menuju Curug Parigi melalui Jalan Raya Narogong lagi. Akses melalui Pangkalan V lebih di kenal dengan akses Sunrise namun demikian tidak menutup kemungkinan kapan saja fotografer mau memotret dapat melalui tempat ini. Namun akibat kisruh intern antar  warga dan juga akan di bangun pabrik sehingga untuk menuju tempat ini memang sudah tertutup untuk saat ini, harapannya semoga ada jalan menuju tempat ini dan pemerintah Kota Bekasi mau memperhatikan jalan ini dan memberikan jalan keluar sehingga alternatif wisata murah di dekat kota metropolitan dapat terwujud kembali. Namun untuk menuju tempat ini tidak perlu berkecil hati, masih ada satu jalan yang dapat di tempuh.

Setelah akses melalui jalan raya Narogong di tutup maka selanjutnya untuk menuju curug ini dapat melalui Vila Nusa Indah 5. Vila Nusa Indah 5 ini terletak di seberang Curug Parigi. Spot melalui Vila Nusa Indah V lebih di kenal spot sunset. Tentu saja view yang di dapat sangat berbeda dengan view akses Pangkalan 5. Namun demikian kita masih bisa memiliki foto dengan view berbeda syaratnya adalah harus menyeberangi sungai terlebih dahulu. Pastikan kalau mau menyeberang harus memperhatikan debit air yang ada dan jangan ketika musim hujan sedang dalam curah yang tinggi.

Bagaimana nasib landscaper yang ingin berburu foto di Curug Parigi? Saat ini dapat di lalui dengan melewati Vila Nusa Indah 5. Sekelumit cerita di balik Curug Parigi. Ketika hunting terakhir waktu sunset di Curug parigi, seperti biasa magrib di masjid samping Curug Parigi. Nah saya di samperin seorang ibu kalau dicurug Parigi selama kurun waktu 10 tahun sudah menelan korban meninggal dunia 50 jiwa. Jadi mereka memberikan warning agar kita harus berhati-hati.

Terus bagaimana keindahan curug parigi dari berbagai sudut, yuk lihat hasil foto-foto saya. 

Namun demikian, meski sedikit takut namun untuk mendapatkan foto bagus saya dan teman-teman tetap ingin berburu kesana. Ada yang berniat kesana? jangan lupa Follow IG saya @totoandromeda dan @totoandromeda.id

Galery Curug Parigi :
Curug Parigi

Menjepret Moment

Curug Parigi Ketika Surut

Sunrise

Spot Curug Parigi dari Vila Nusa Indah 5

Spot Curug dari Bawah saat Surut

Berbagi Spot dengan para landscaper

Para Landscaper

Spot Sunrise dari atas

Spot Sunrise dari seberang Vila Nusa Indah V

Para Landscaper, ada yang kenal?

Angle Curug Parigi yang lain

Angle Curug Parigi

Tuesday, December 11, 2018

MENGEJAR SUNSET DI PANTAI MELASTI TABANAN

Siap Jepret


Sayangnya cuaca tidak cetar
Pulau Bali memang terkenal dengan keindahan pantainya. Surga keindahan pantainya yang selalu di kunjungi oleh para wisatawan. Salah satu keindahannya adalah Pantai Melasti yang ada di Tabanan. Sebenarnya di Bali terdapat beberapa pantai Melasti karena memang di tempat tersebut sering dilakukan upacara Penyucian diri 'Melasti' yang dilakukan sebelum hari raya Nyepi. Demikian Juga di Pantai Melasti Tabanan ini.

Nah letak dari pantai Melasti ini sebenarnya tidak jauh dari Pantai Tanah Lot sebagai patokannya.Untuk mencapai tempat ini bagi wisatawan terlebih dahulu harus memasuki kawasan Tanah Lot dengan membayar tiket masuknya untuk kemudian memarkirkan kendaraannya. Kemudian berjalan menuju arah Pura Batu Bolong. Letak Pura Batu Bolong sendiri berada tidak jauh dari Pura Tanah Lot. Patokan yang paling mudah adalah tempat di mana Tari Kecak di Tanah Lot di lakukan pada jam-jam tertentu. Sebuah tanah lapang khusus sebagai tempat pertunjukan Tari Kecak. Dari sini berjalan menuju ke dalam, melewati tanah lapang dan menyeberangi sungai kecil maka sampailah di Pantai Melasti.
Angle Yang Lain

Harus pandai pandai mencari spot

Harus hati-hati karena saat menyeberangi sungai terdapat batu-batu yang kadang-kadang licin. Karakter ombak di Pantai Melasti cukup besar karena itu harus selalu waspada. Uniknya di pantai ini terdapat batu di tengah yang kalau di perhatikan seperti kucing yang sedang tertidur, dan apabila beruntung saat kesini di musim hujan maka akan menemukan air terjun yang langsung terjun ke pantai. Cukup indah. Hempasan ombak memecah batu-batu karang dan keindahan matahari terbenam menjadi salah satu daya tarik terutama bagi para pecinta fotografi Landscape.

Pantai ini tergolong sepi dengan garis pantainya yang pendek dan karakter pasirnya yang lembut di pinggiran namun kasar sekali di bibir pantainya. Seringkali pantai ini di jadikan tempat Prewedding, atau kadang-kadang terlihat sejoli yang sedang menyatakan cintanya. Daya tarik lain dari pantai ini adalah keindahan bebatuan yang akan terlihat indah dalam jepretan, dan ombaknya yang besar namun bagi yang suka bermandi ria di pantai sebenarnya tempat ini tidak recomended untuk mandi, Namun tetap indah untuk di nikmati.

Nah Bagi kalangan Landscaper ini mejadi tempat yang di buru karena disinilah salah satu tempat untuk menjepret matahari terbenam alias Sunset. Saat ini saya ke Melasti ramai-ramai bersama teman-teman landscaper yang lain. Sesampai di sini cuaca masih sore menjelang magrib sehingga memiliki waktu untuk mempersiapkan peralatan motret dari Tripod, filter dan segala tetek bengek yang di perlukan untuk motret.

Mengambil angle yang tepat, memotret hingga puas.

Setelah selesai menjepret maka segera bergegas pulang menuju parkiran, biasanya saat ada pertunjukkan Tari Kecak pertunjukannya belum selesai. Oh iya jangan kalau kesini jangan lupa bawa baterai karena keadaan agak gelap walaupun bisa mengandalkan baterai dari handphone.
Air terjun di Melasti

Aliran air terjun menuju pantai

Menjepret Senja



Tuesday, November 27, 2018

MENIKMATI SENJA DI PANTAI KELAN BALI

Pemecah Ombak, bayak yang sedang mancing di ujung sana

Bagian Utara, terlihat pagar pembatas dengan Bandara
Pulau Bali memang memiliki daya tarik tersendiri, selain keindahan alamnya, ragam budayanya dan juga pantai-pantainya yang indah. Namun wisatawan lebih sering mengunjungi pantai-pantai ikonik di Bali seperti pantai Kuta ataupun Sanur. Tanah Lot juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan, namun kadang meski kita sering ke Bali namun luput atau tidak eksplore untuk mengunjungi pantai lain yang tak kalah indahnya.

Kalau di lihat dari pengunjung, memang sih jarang terlihat pengunjung yang kesini selain yang saya lihat para pemancing dan nelayan. Meski demikian pantai ini tak kalah indah dari pantai lainnya lho, Kelan merupakan pantai yang bagus untuk menikmati senja sambil menunggu matahari terbenam. Saat matahari terbenam itulah keindahan makin menjadi. Pantai ini terletak di teluk Jimbaran dan letak geografisnya tidaklah jauh dari Bandara Ngurah Rai Bali.

Untuk menuju ke Pantai Kelan, saat itu saya beserta teman-teman yang baru mendarat di bandara sekitar jam 5 waktu setempat segera memesan taksi online untuk diantarkan ke pantai ini. Letaknya tidak terlalu jauh dari Bandara sehingga kami masih dapat menikmati senja dan mengabadikannya. Ini momen yang penting tentu saja daripada hanya sekedar mendarat kemudian langsung menuju hotel. Letaknya yang dekat dengan Bandara sesekali kita dapat melihat pesawat yang mau mendarat.
Ditengah seorang nelayan

Pattern pasir

Disini terdapat pemecah ombak yang biasanya di gunakan oleh para pemancing untuk memancing ikan, kemudian di sebelah utara ada pembatas pagar Bandara. Juga kita dapat menyaksikan nelayan . Ombak disini tidak besar karena mungkin teluk ya sehingga ombak tidak terlalu besar beda sekali dengan karakter ombak di pantai Kuta maupun Sanur. Hamparan pasirnya juga indah terkadang membentuk pattern yang indah.

Bagi kami pecinta fotografi landscape tentu mengabadikan suasana matahari terbenam menjadi sesuatu yang di cari. Namun bagi pengunjung yang datang hanya sekedar menikmati suasana tentu saja bisa menikmatinya dengan duduk di pasir atau duduk di warung-warung sekitar pantai. Bagi Landscaper nama Kelan Barat cukup populer selain juga di Kelan Timur. Namun Kelan Timur merupakan spot sunrise alias matahari terbit.

Menikmati senja sambil mengabadikan momen memang luar biasa bagi kami, karena terkadang alam bersahabat dan memberikan panorama yang indah namun terkadang juga hujan lho. Nah saat saya kesana sih suasananya asyik. Terus terang ini yang pertama bagi saya pribadi mengunjungi Kelan Barat untuk menjepret suasana matahari terbenam, tentu saya akan mengulangnya kembali di lain kesempatan.
Senja itu

Sisi lain

Bagi yang sudah stay di Bali dalam beberapa saat ketika mau mengunjungi tempat ini, sangat simpel bisa kok gunakan google map.

Seperti biasa nih tips bagi fotografer yang mau ke Kelan Barat :
1. Siapkan kamera dan Tripod
2. Siapkan Filter, penulis memakai Filter NiSi supported by NiSi Filter Indonesia
3. Jangan lupa Memory Card
4. Usahakan bawa teman jangan sendirian karena tempatnya lumayan sepi
5. Cari spot yang aman dan nyaman
6. Gunakan sepatu dan sandal yang nyaman
7. Bawa makanan dan minuman tapi sampahnya buang pada tempatnya yaa
8. Dan jangan lupa memory card hehe....

So, tertarik mau ke Kelan? atau tertarik mau membeli foto saya? atau mau endorse saya? saya open endorse yaa....dan jangan lupa hubungi saya..

Instagram : @totoandromeda dan @totoandromeda.id di follow yaa.

Tuesday, October 9, 2018

PANTAI BATU NAGA, SURGA TERSEMBUNYI DI LAMPUNG

Pantai batu Naga
Kalau ngomongin lampung yang terlintas pertama kali apa? Gigi Hiu? Lumba-Lumba?  trus apa lagi hmm pasti jawabannya beragam, mungkin ada yang makanan ada yang tempat wisata lainnya. Hehe suka suka jawabannya yaa.... Nah berhubung saya termasuk pehobi foto landscape atau lebih kerennya sih istilahnya Landscaper kata orang hehe... hal pertama yang di ingat sih Pantai Gigi Hiu yang terletak di Kelumbayan - Tanggamus Propinsi Lampung. Pantai yang sangat ngehits dan banyak sekali di kunjungi oleh para wisatawan maupun para Landscaper khususnya Jakarta. Bahkan beberapa kali ada phototrip menuju ke Pantai Gigi Hiu.

Eit tapi jangan salah lho, tidak jauh dari Pantai Gigi Hiu juga ada pantai yang keindahannya cukup memukau yaitu Pantai Batu Naga. Pantai ini masih terletak di kecamatan Kelumbayan Kabupaten Tanggamus. Keindahan Pantai Batu Naga terletak pada gugusan bebatuan yang membentuk kepala Naga dan backround pegunungan dari sisi sebelah kanan. Pantai Batu Naga memang masih kurang di kenal selain oleh masyarakat setempat. Batu-batu karangnya yang hitam dan di bulan tertentu terdapat lumut yang menghijau menambah keindahan pantai. Karakter dari pantai Batu Naga sendiri adalah berupa kerikil dan batu kecil ditambah dengan batu-batu karang yang menghempas deburan ombak.
Pantai Batu Naga dari View Lain

Kesulitan yang dialami untuk menuju kesini adalah infrastruktur yang belum memadai, harus mencari penghubung atau guide warga sekitar dulu untuk mencapainya. Nah saya saat mengunjungi Pantai batu Naga di pandu oleh teman-teman dari Lalamper dengan menggunakan kendaraan roda dua. Medan yang di lalui lumayan sulit harus melalui jalan setapak. Untuk sampai ke sebuah perkampungan kecil yang cukup terpencil karena diapit oleh bukit dan pantai seolah-olah kita membayangkan tidak bisa hidup disitu karena begitu terisolir kelihatannya namun mereka tetap eksis bahkan memiliki listrik dari genset. Untuk mencapai perkampungan kecil ini harus melalui sungai selebar sekitar 7 meter sebanyak dua kali yang dua duanya dilalui dengan jalan darat ya alias harus nyebrang manual. Beruntung saat berangkat air sedang surut sehingga motor masih bisa menyeberang. Sesampai di perkampungan penduduk hujan turun dengan lebat, terpaksa saya dan rombongan menumpang di rumah penduduk untuk berteduh. Ramahnya penduduk sekitar menambah hangat suasana dengan suguhan teh yang di hidangkan meski diluar hujan.
Keindahan Pantai batu Naga

Lumutpun Menghijau

menjelang sore hujan belum juga reda terpaksa nekat kami menuju pantai yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah penduduk. Untuk mencapai pantai pun harus menyeberang sungai selebar 2 meter. Sesampai di lokasi keadaan masih turuh hujan rintik, kami mendirikan tenda. Menjelang tenda selesai hujan reda dan merah merona di langit yang segera kami abadikan. Malam menjelas sedikit api unggun dinyalakan dari ranting-ranting yang basah namun hujan kembali turun, terpaksa kami tidur masing-masing di tenda dengan angannya masing masing. Dan pagipun ternyata belum bersahabat meski gerimis usai namun tidak turun panas. dan keadaan hujan semalam membuat sungai meluap terpaksa menunda kepulangan hingga siang. menjelang jam 12 siang kami nekat pulang dengan perjalanan yang lumayan mendebarkan melewati sungai yang airnya deras dan akhirnya karena cukup dalam di sungai terakhir motor harus di gotong menggunakan pikulan dari kayu.
Berbagi Spot Motret

Batu Naga nan ciamik

hehe kisah tersebut nyata lho , nah kembali ngomongin keindahan alam Pantai Batu Naga nih, disitu terdapat gugusan seperti perbukitan kecil yang indah sebagai forground pemotretan ditambah lagi deburan ombaknya yang keras. Bagi Landscaper hal utama yang harus dijaga adalah keselamatan, baik keselamatan diri maupun kamera. karena jika tidak kamera bisa kena cipratan air laut.
Tips motret di Pantai Batu Naga :

1. Persiapkan Kamera dan tas kamera sesimpel mungkin
2. Gunakan sandal yang nyaman dan tidak licin
3. Selalu waspada dengan sekitarnya karena ombaknya yang cukup besar
4. Selalu hati-hati ketika jalan karena beberapa karakter seperti bebatuan kecil-kecil yang bisa menyebabkan tergelincir dan terpeleset.
5. Selalu berdoa semoga hasilnya cetar
6. Jangan buang sampah sembarangan,

Nah ada yang penasaran dengan Batu Naga? kalau mengunjungi Gigi Hiu usahakan mampir sejenak kesini. Tertarik membeli foto diatas? hubungi saya yah..

Sunday, October 7, 2018

DANAU TAMBLINGAN SPOT INDAH UNTUK PARA LANDSCAPER

Memulai hari di Danau tamblingan
Bagi pecinta fotografi yang beraliran landscape nama Tamblingan di Bali sudah tidak asing lagi. Bali memang menjadi salah satu tujuan wisata bagi masyarakat bagi dalam dan luar negeri. Keindahan alamnya, budayanya dan keramahan penduduknya menjadi daya tarik tersendiri. Sebenarnya Pulau Bali memiliki banyak sekali spot-spot yang menjadi buruan para Landscaper untuk mengabadikan momen yang tidak selalu bisa di dapatkan. Sebagai seorang Landscaper , saya pribadi sadar betul momen tidak bisa di beli namun keberuntungan sajalah yang akan memihak apabila kita mendapatkan momen yang bagus.
Menikmati Pagi

Sisa Semalam

Landscaper itu akan merasa beruntung ketika ia mendapatkan langit yang bagus, langit bagus itu tidak gelap, langit bagus itu ada awannya namun cerah dan kalau pagi atau sore akan kelihatan merahnya, apabila beruntuk maka akan mendapatkan ROL (Ray of light) yang menarik. Nah kembali ke jeprat jepret kali ini saya akan membawa ke Danau Tamblingan yang terletak di sebelah utara lereng gunung Lesung Desa Munduk Kecamatan Banjar kabupaten Buleleng. Danau Tamblingan di kelilingi oleh hutan sehingga menambah kesejukannya. Terletak di ketinggian lebih dari 1000 m diatas permukaan laut, udara danau Tamblingan akan terasa lebih sejuk dan dingin serta danaunya yang di selimuti kabut.

Dengan ketinggian seperti itu di pingiran Danau Tamblingan sering di jadikan tempat camping, di sekitar Danau juga terdapat Pura yang sebenarnya di sekitar danau terdapat 11 Pura, dua diantaranya Pura Embang dan Pura Tukang Timbang adalah merupakan peninggalan jaman Pra Hindu pada abad 10 Masehi.

Well, saya tidak akan membicarakan sejarah Danau Tamblingan yang sebenarnya menarik untuk di kaji,namun keindahan danau yang menarik wisatawan dan para Landscaper. Untuk mencapai danau Tamblingan penulis hanya mengikuti jejak aplikasi saja dengan dipandu google map berangkat dari Sunset road di pusat kota menuju Buleleng pada jam 3 dini hari sudah berangkat menuju lokasi. Sesampai di sana memang langit tidak se'cetar' yang di inginkan namun tetap menarik dan tidaklah Zonk karena meski tidak berawan yang banyak namun udaranya cerah sehingga apapun yang terjadi tetap jepret.

Di area tamblingan juga sering di jadikan sebagai tempat Foto Prewedding dan tidak hanya masyarakat sekitar Bali saja yang melakukan prewedding di sini namun seluruh Indonesia, saat saya kesana sedang ada sepasang calon pengantin dari China yang sedang melakukan prosesi foto prewedding.
Seorang Nelayan bergegas untuk mencari Ikan

Perahu yang ada di Tamblingan cukup ikonik karena itulah bentuk perahunya yang sering di foto oleh para landscaper. Perahu tersebut biasanya di gunakan oleh penduduk sekitar untuk mencari ikan, dan uniknya mereka tidak mau berganti perahu apalagi bermesin karena mereka ingin menjaga kealamian lingkungan sehingga tetap terjaga dan ramah lingkungan.

Selain motret Sunrise hal lain yang di lakukan oleh para fotografer disini adalah ngonsep, apapun itu konsepnya tergantung dari kreatifitas fotografer.
So bagi anda para fotografer Landscape dan sedang berada di Bali, jangan  lupa mampir danau Tamblingan yaa dan nikmati keindahannya dalam jepretan .

Ada yang tertarik dengan foto saya dan ingin membelinya? hubungi saya via email atau kontak instagram yang terletak di halaman utama.

Ngonsep bersama penduduk sekitar

Pergi Sembahnyang

Thursday, October 4, 2018

BERBURU SUNRISE DI PANTAI SELAKI LAMPUNG

Mengambil Sisi Curve Pantai Selaki

Pohon Galau idaman para landscaper
Nah ini masih dalam rangkaian perjalanan hunting ke Gigi Hiu nih. Setelah sebelumnya hunting foto sunset di pantai Gigi Hiu, untuk kemudian hari kedua sunrise di Dewi Mandapa, hari terakhir kami akhirnya memutuskan untuk berburu sunrise di Pantai Selaki. Kondisi badan masih capek setelah menempuh perjalanan dari Gigi Hiu dan hanya beristirahat sejenak. Paginya sebelum subuh harus berangkat lagi untuk mengejar matahari terbit. Bersama kawan-kawan Lalamper kami meluncur ke lokasi.

Pantai Selaki terletak di Lampung Selatan sekitar 45menit dari Bandar Lampung tempat di mana kami menginap. Sebenarnya pagi itu saya sendiri berasa capek dan tidak ada semangat untuk menjepret pagi itu, terlebih ini adalah pertama kali ke Selaki dan belum tahu point of interest atau pemandangan apa yang akan di potret. Dan sedikit pesimistis karena cuaca juga tidak sedang 'cetar'. Sesampai di lokasi ternyata langit menyemburatkan keindahannya dengan memerah di ufuk timur.

Agak buru-buru untuk mempersiapkan 'senjata' motret, tapi sebelum turun saya terlebih dahulu untuk menunaikan Sholat Subuh di mobil mengingat di sekitar kami berhenti tidak menemukan spot untuk dapat melaksanakan sholat. berbeda dengan di Dewi Mandapa yang terdapat mushola. Selepas subuh bergegas saya mempersiapkan tripod, kamera, filter holder Nisi, dan tentu saja siap siap dengan filter Nisinya jika di perlukan. Seperti sebelumnya saya ceritakan, saya merupakan salah satu pengguna filter Nisi dukungan dari @nisifiltersIndonesia dan @matrixcamera yang masih setia hingga saat ini. So yang pengin tahu lebih lanjut boleh lho nanya nanya tentang filter.
Inilah perahu perahu nelayan yang pagi itu gak bisa diam karena angin

The Landscaper

Pantai selaki ini terdapat dua bagian pantai yang di batasi oleh jalan. Pagi itu pertama kali saya mengambil sisi kiri menghadap sunrise. Namun sayangnya moment itu harus terlewat karena di sisi kiri terdapat banyak sekali perahu kecil nelayan yang tak bisa diam karena angin bertiup kencang sehinga kalau di foto objeknya akan berbayang sementara langit tidak dapat di kompromi semakin beranjak siang. Dengan latar belakang pegunungan yang indah akhirnya saya bergeser ke sisi kanan jalan. Terdapat spot pohon galau yang jadi rebutan.

Penulis menjepret dari sisi agak pinggir mengambil curve sehingga terlihat lebih indah. Dan akhirnya setelah proses jeprat jepret selesai sebelum pulang foto bersama dong bareng rombongan .

Pantai selaki cukup indah untuk di jadikan tempat memburu sunrise di lampung . Ada yang mau kesana?

Sisi lain dari Landscaper adalah selfi ala ala landscaper. Inframe Merdian Sigit yang tercyduk sedang selfi

Skuad Motret pagi itu dari teman2 Lalamper dan dari Jakarta