Saturday, March 28, 2026

DODDY SUKMA, TELAH TIADA


 DODDY SUKMA, TELAH TIADA  (Kabar Lawas). Doddy Sukma Wijaya pemain film yang sering berperan sebagai dokter, hari Senin, 21 Januari 1991 pukul 11.50 WIB telah berpulang kerahmatullah dalam usia 49 tahun. Almarhum mengidap penyakit lever yang di derita beberapa minggu belakangan. Hari Sabut, 5 Januari 1991, almarhum di bawa ke Rumah Sakit selama seminggu, karena penyakit  yang diderita makin parah akhirnya atas saran dokter, almarhum harus dipindahkan ke Paviliun yang khusus menangani penderita penyakit lever. 

Selama berada di Pavilyun dari tanggal 12 Januari 1991 keadaan almarhum masih belum ada perubahan, ia minta pada keluarganya untuk di bawa pulang kerumah. "Saya ingin bertemu keluarga", kata Kartika putri pertama almarhum. Almarhum segera di bawa pulang dan pada hari Minggu, 20 Januari 1991 tepat pukul 02.00 WIB dini hari almarhum dalam keadaan kritis.

Semenjak itulah, almarhum sempat memberikan pesan-pesan terakhir pada keluarganya, isteri dan putra putrinya. Antara lain pesannya, agar isteri dan putra putrinya jangan sampai meninggalkan sholat lima waktu, selalu berziarah ke makam ayah untuk mengirim doa. 

Pesan terakhir disampaikan kepada isterinya agar menjaga anak-anaknya baik-baik. 

Pukul 17.00 WIB almarhum di makamkan di pemakaman Umum Karet Jakarta. Kawan-kawan seprofesi yang hadir saat itu antara lain Ade Irawan, Agus Melasz, El Manik, Irwinsyah serta karyawan TVRI, Mardali Syarief dan banyak lagi artis serta karyawan film yang mengantarkan dari rumah duka hingga ke pemakaman. Salah satu kawan akrab yang sering menjadi lawan mainnya adalah Ade Irawan. "Saya merasa benar-benar kehilangan seorang sahabat, sebab mas Doddy ternyata banyak memberikan input tentang masalah agama. Walau dia lagi suting sembahyang lima waktu tak pernah di tinggalkan. Kadang kadang saya juga ditegur agar banyak-banyak beristighfar, selalu ingat kepada Allah SWT. Saat saya temui dirumah sakit seminggu setelah dirawat mas Doddy bilang bahwa pekerjaannya yang terakhir beristighfar dan selalu bersyukur kepada Allah SWT, " jelas Ade sambil mengenang saat pertemuan terakhir dengan almarhum. 

Doddy Sukma yang dilahirkan di Betawi, 11 Juli 1941 mulai terjun kedunia film tahun 1972 lewat film pertama "Samtidar". Doddy telah bermain lebih dari 50 film, yang terkesan saat dia memerankan Umar Wirahadikusumah pada film penumpasan G 30 S PKI.

Sebelum meninggal, Doddy SUkma telah menandatangani kontrak film Catatan Si Emon berpasangan dengan Ade Irawan. Almarhum mengusulkan kepada sutradara dan produser agar peranannya di gantikan saja dengan orang lain, sebab dia disarankan istirahat paling kurang tiga bulan. Sedang dalam sinetron TV yang terakhir almarhum main dalam cerita Cak Gaol yang ditayangkan di TVRI. Almarhum meninggalkan seorang isteri bernama Ny. Noverny, tiga orang putri Kartika, Sita Dewi, Yusnita Irawati serta dua orang putra , Doddy Mulyono dan Feby Darmawan. ~sumber MF 120/88 tahun VII, 2 Feb-15 Feb 1991


ALBA FUAD, BUTUH KEHANGATAN KASIH SAYANG PAPA

 


ALBA FUAD, BUTUH KEHANGATAN KASIH SAYANG PAPA (Berita lawas) Ternyata di balik wajah manis, Alba Fuad tersimpan kesedihan yang menahun. Sepintas kelihatan seperti gadis periang, tak pernah murung, tapi dibalik ceritanya tersimpan duka panjang. "Ketika masih kecil tidak pernah ada rasa rindu dengan papa. Setelah gede seperti ini rasanya butuh kehangatan kasih sayang papa," katanya mengungkap. Dia merasa dirinya orang yang paling "tol*l". Ketika papanya terbaring kaku, dan dibawa ke pemakaman, Alba tidak pernah tahu itu perpisahan dengan papa. Bocah centil malah asyik bermain. "Ketika itu umur saya baru lima tahun, tidak tahu arti kematian" , kata putri tunggal alm. Fuad Hasan, drumer beken God Bless dengan suara parau. 

Selepas SMA, dia baru kenal rasa rindu dan duka.  Sebelumnya di acewek periang, menikmati masa puber dengan gelak tawa. Di SMA dia cukup badung. Sering bolos sekolah. "Kalau bolos suka ke Ancol. Main di Dunia Fantasi kayak anak-anak," ngakunya. Mama jarang marah kepadanya. Begitu juga saudara dari mamanya, Achmad Albar dan Camelia Malik. Dimanja, tapi dia tahu diri. Mengaji pelajaran yang membosankan tapi dia jarang bolos . 

Perempuan bernama lengkap Monna Alba Fuad ini lahir di Jakarta 4 Maret, 1969. Tadinya dia seorang modelling. Bergabung dalam blantika Studio. Ketika itu dia cukup menarik perhatian. Ketika Iwan, sang boss Blantika Studio dapat order mencari artis pendatang baru dari produser, pilihan kontan jatuh kepada perempuan berbintang Pisces ini. Alba kelabakan ketika berhadapan dengan produser. Perjalanannya tidak mulus. Harus di tes dulu. "Eeh..engak tahunya saya berhasil test. Padahal saya kikuk lho. Ndak perna latihan akting, mungkin bakat dari sono kali ," cetusnya rada bangga. 

Kontan Maman Firmansyah memberikannya peran utama sebagai Mila dalam Permainan di Balik Tirai (1988). Lakonnya pertama kurang menggigit. Tapi cukup baik sebagai artis pemula. 

Lalu Abnar Romli menggarapnya lewat Tumbal Siluman Kera (1988), beberapa sutradara beruntun menggaetnya, Ratno Timoer lewat Si Buta Dari Goa Hantu (Lembah Maut) 1990, Lilik Sudjio lewat  Pembalasan Si mata Elang, Slamet Riyadi lewat Pedang Naga Pasa (1990), Lilik Sudjio lewat Misteri dari Gunung Merapi II (1990), NOrman Benny lewat Makelar Kodok II (1990), Acuk Rachman lewat Guntur Tengah Malam (1990), Abdul Kadir lewat Perjanjian Terlarang (1991) dan juga Achiel Nasrun lewat Olga dan sepatu Roda (1991). 

Ditanya Apa arti film bagi Alba Fuad, "Kalau saya bilang, film cuma hobby, itu konyol. Film tempat cari uang dan sebagai profesi saya ndak munafik. Dan bukan batu loncatan untuk ajang lain, katanya ceplas ceplos. 

Rupanya Alba mengintip profesi lain di film. Tidak semata sebagai anak wayang. Nah, ini membuatnya sering kasak kusuk. Tanya sana, tanya sini. Rasa ingin tahu soal kamera, sutradara, tata lampu, skrip, tata busana, sampai pross film di lab sangat besar sekali. "Saya tidak mau jadi artis terus sampai tua. Cuma belum tahu pilih profesi apa selain artis. Terkadang pengin jadi sutradra, terkadang ingin jadi penulis skenario, pokoknya masih ngaco deh!. 

Karena dia pintar mengambil hati kru film, jadi banyak yang suka menjelaskan kepadanya. "Modal kita kan cuma pergaulan dan keseriusan, " sergapnya tanpa tedeng aling-aling. Toh tak salah merebut hati orang untuk baik. 

 ~sumber MF 120/88 tahun VII, 2 Feb-15 Feb 1991

Wednesday, March 25, 2026

NASRI CHEPPY SUTRADARA YANG STRESS


 NASRI CHEPPY SUTRADARA YANG STRESS (berita lawas). Tiga jam Nasri Cheppy menongkrongi satu lob untuk dubbing film Catatan Si boy IV. Biasanya dub satu lob paling lama satu jam. Sehingga banyak pemain menjadi nganggur. Meriam Bellina kelihatan tertidur di bangku, Paramitha Rusady sibuk dengan temannya latihan bahasa Prancis, Ida Kusuma cuma bengong sementara Nani Widjaya yang lagi dubbing menjadi kesal melihat pemeran Abud dilakoni oleh Budi. Sebab pengisi Abut ini selama tigak jam tidak becus dialognya. Ada saja salahnya. 

Hal ini membuat Nasry Cheppy nampak sedikit stress. Dia telah mencoba berbuat baik. tapi sang artis tak juga bisa membenarkan dialognya. 

"Gua dari dingin sampa jadi gerah,' katanya. Padahal AC interstudio cukup dingin. Sampai akhirnya ia membuka jaketnya. Lalu dia marah-marah, namun tak menemui hasil. Tetap saja pelakon berdialog tidak becus. 

"Biasa pemain baru. Begini tah jadinya. Kalau tidak pemain baru, sudah saya maki-maki, " ujarnya kesal setangah mati. "Sudah! ini tidak bisa diperbaiki. Seratus tahun juga tetap salah, " teriak Cheppy marah-marah. Akhirnya Cheppy bingung sendiri. Jalan keluarnya sutradara ini meng ok kan take dub yang menurutnya masih tetap salah. "Kita cari jalan keluarnyalah, " gerutunya kesal .

"Bayangkan, Mitha (Paramitha Rusady), belum lagi mengisi suara. Padahal dia artis pertama sekali datang, " kilahnya. Mitha yang mendengar cuma bisa tersenyum hambar. Sebab ketika berdialog latihan si Abut yang dilakoni Budi ini lancar, tapi begitu recording kalau nggakbuntutnya yang salah pasti awalnya. Keluar dari bilik rekaman Budi jadi keringat dingin. Barangkali grogi berhadapan dengan artis beken. Apalagi Budi baru untuk pertama kalinya mengisi suaranya. 

"Gua nggak grogi kok," bela Budi. Tapi Cheppy hanya bisa menarik nafas mendengar bicara Budi. Sehingga iba juga hati Cheppy melihat pendatang baru ini.~MF 110/78 Tahun VI, 15-28 sept 1990


Tuesday, March 24, 2026

LINTAR KETIKA MUSIM DURIAN TIBA, MOBIL KE JURANG DILUAR SKENARIO

 


LINTAR KETIKA MUSIM DURIAN TIBA, MOBIL KE JURANG DILUAR SKENARIO, (Berita Lawas).Sebuah sedan Twincam merah meluncur mulus dari arah Lido menuju kota Bogor. Di dalam mobil yang benar-benar masih gres, maklum baru beberapa hari di ambil dari dealer, nampak sutradara Abdi Wiyono duduk di samping Sarijo, sopirnya. Sementara Bagong kru film dari PT. Virgo Putra  duduk di kursi belakang dengan santainya. Memang siang itu, tepatnya Kamis 20 Oktober 1988,direncanakan akan suting film "Lintar, Ketika Musim Durian Tiba" di sekitar Puncak. Baru beberapa kilometer mau memasuki daerah Ciawi, tiba-tiba dari arah berlawanan sebuah Minibus L300 putih, menyenggol sisi kanan sedang merah yagn ditumpangi sutradra itu. Braak!.

Abdi Wiyono langsung mengambil tas besar yang dibawanya untuk melindungi kepalanya dari benturan yang lebih keras. Begitupun sang sopir yang dengan sigap membanting stir untuk menghindari. Tapi mobil tak terkendali dan malah melayang, membentur tembok bertulang beton langsung nyelonong sebelah kiri jalan . Bruuk....! Abdi Wiyono langsung memerintahkan untuk segera meninggalkan mobil yang terperosok itu. Bagong, langsung mendobrak pintu yang masih terkunci secara otomatis. Akhirnya semua berhasil , bisa keluar dengan segar bugar. Tetapi baru beberapa meter dari mobil ketiganya jatuh terkulai serta merintih kesakitan. Sementara mobil putih yang bikin penyebab kecelakaan itu, malah tancap gas dan kabur. 

Untunglah beberapa mobil kru film yang beriringan masih ada di belakang, sehingga ketiga korban bisa di tolong dan dibawa kerumah sakit yang terdekat di Ciawi. Walau sutradara tak mengalami luka yang parah, tetapi rencana suting film yang nyaris hampir selesai di hari itu pun jadi berantakan. 

Akibat kecelakaan itu, selain suting gagal, produser pun dituntut tanggung jawab untuk mengganti kerusakan kendaraan. Memang sedang merah dipinjamkan pihak sponsor untuk perlengkapan film."Lintar Ketika Musim Durian Tiba" ini. Yang jelas semua kerugian ditanggung Ferry Angriawan selaku produser film.~sumber MF 062/30/Tahun V, 12-25 November 1988

Monday, March 23, 2026

BENNY G RAHARDJA, LUKA KENA TOMBAK


BENNY G RAHARDJA, LUKA KENA TOMBAK, (berita lawas). Lama Benny G Rahardja mengilang dari dunia film, kemudian muncul kembali lewat film Tutur Tinular. Film kedua setelah tiga tahun menjadibisnisman inilah malapetaka terjadi. Seorang figuan  film Jago menombaknya, sehingga tangannya berlumur darah dan diapun meringis kesakitan. Suting jadi break. Semua kru ikut panik. Tapi dia cepat di selamatkan kerumah sakit.

"Lukanya tidak seberapa, tapi tiga jahitan juga. Namun saya tidak bisa langsung suting," kata artis kelahiran Ujung Pandang ini. Apa pasal kecelakaan terjadi? "Salah kontrol saja. itulah resikonya menjadi pemain film action. Meleng sedikit saja cidera," ujarnya menyesali. Karena Benny juga seorang guru silat soal luka tidak menjadi masalah. Bayangkan besoknya dia dapat berlakon kembali. Apakah karena lokasi suting cukup angker? Beberapa artis ada yang kesambet, bahkan seorang darinya kesurupan?"Ah tidak, " tangkisnya. 

Lalu apa yang membuatnya kembali ke film? Sebenarnya dia ingin meninggalkan dunia film. Karena ditawarkan untuk  berlakon dalam film Tutur Tinular hal ini sulit ditolaknya. Salah satunya adalah instrukturnya orang HOngkong. Sebab dari beliau-beliau itu kita bisa memetik pengalaman, tanpa harus ke Hongkong. Kalau kita kesana berapa harus mengeluarkan biaya. Begitu juga dengan yang lainnya, katanya terus terang. 

Karena dia tersentuh film lagi, mau tidak mau diapun menerima dalam film Jago. "Inilah yang sulit, badan saya panas kembali kalau melihat kamera. Padahal tugas-tugasnya masih banyak sebagai seroang bisnisman. Namun yang jelas dia takkan surut dari dunia film walau cedera bagaimanapun. Sebab dia telah tertempa oleh ilmu bela diri yang memadai.~MF 110/78 Tahun VI, 15-28 sept 1990

Sunday, March 22, 2026

FILM LANGKAH LANGKAH PASTI, WANITA BUAT UMPAN


 FILM LANGKAH LANGKAH PASTI, WANITA BUAT UMPAN. Langkah Langkah Pasti merupakan karya ke 7 sutradara Acok Rahman, Produksi ke II PT. Metro Vistaria Film . Pendukung film ini cukup bisa diandalkan. Menggunakan artis besar yagn sebagian remaja seperty Hengky Tornando, Sally Marcellina, Vivian Boyoh, Simon Cader, Johny Indo, Rudy Salam dll. Sementara tokoh old crack Muni Cader yang biasa dapat peran antagonis, dalam film ini diberi peran sebagai orang baik yagn selalu jadi tumpuan nasihat dan harapan anak-anak muda. 

Film laga ini oleh Acok Rahman sengaja tidak di visualikan untuk lebih banyak meletuskan senjata api. Yang dominan justru fight menggunakan tangan kosong. 

"Saya ingin menonjolkan Indonesianya di film ini. Jika dengan senjata modern seperti aetion modern Barat atau HOngkong, saya rasa kuran sreg. Ada adegan mobil nyebur, atau menembus pertokoan atau lewat etalase kaca. "Saya perlu menampilkannya, mengingat cerita itu sendiri, kata sutradara Acok Rahman, yang sudah menangani 7 film, sejak film pertamanya "Mandi Madu" pada tahun 1984.~MF 095/63/Tahun VI, 17 Feb - 2 Mar 1990


SYAIFUL NAZAR, DARI STUNTMAN KE PERAN UTAMA


 SYAIFUL NAZAR, DARI STUNTMAN KE PERAN UTAMA, Stuntman adalah satu istilah dalam dunia film yang ditujukan pada orang yang tugasnya menggantikan bintang melakukan adegan berbahaya. Sudah barang tentu seorang stuntman harus punya kemahiran dan keberanian istimewa. Seperti halnya Syaiful Nazar yang berasal dari Salido, Pesisir Selatan Sumatera Barat ini. 

"Saya sudah pernah menggantikan Barry Prima (Dalam Bergola Ijo) , Advent Bangun (Dalam Si Buta dan Jaka Sembung), Georgy Rudy (Jaka Gledek) dan Willy Dozan (Pendekar Liar), khususnya untuk adegan salto dan jumpalitan," katanya bangga. 

Lulusan FPOK (Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan) ini memang sudah berhak menyandang gelar Drs. Prestasinya dalam bidang olahraga seabreg. Untuk meyebutkan beberapa diantaranya, juara Gulat Remaja 76, Juara Senam PON IX (77), Juara Senam Seagames 79, Juara Senam Pelajar Asean 80, sekaligus merebut 4 medali emas dalam PON X (81) serta Sea Games 2 di Manila. 

"Tahun 85, saat mengikuti Sea Games di Bangkok, saya mengalami cedera tulang punggung, kendati begitu masih bisa menyabet medali perak,"kenangnya. 

Perkara main film memang sudah jadi cita-citanya sejak kecil. Sayang, karena tingginya kurang, cuma 1,59 meter, maka paling cuma dipasang sebagai pemeran pembantu saja. Mulai main film diajak sutradara Dasri Yacob lewat "Pendekar Liar" sebagai guru Willy Dozan. Perannya yang mengesankan sebagai si Kupra pendekar bego pendamping Barry Prima dalam "Mandala dari Sungai Ular", lalu jadi petinju panter Willy dalam Rio Sang Juara. 

"Bekal saya memang pencak silat dan senam, " aku Syaiful. tapi kemudian saya mencangkok jurus-jurus taekwondo dari Barry, karate dari Advent dan Kungfu dari Willy."

Memasuki tahun 1990, nampakna bintang Syaiful mulai mencorong. Dipercaya untuk berperan lebih dalam film silat seperti  "Pendekar Tapak Sakti", "Misteri Lembah Naga" dan "Jago" yang paling membanggakan adalah ketika dipilih sebagai pemeran utama dalam produksi PT. Garuda Film yaitu "Pendekar Cabe Rawit" berpasangan dengan Uci Bing Slamet dan bertarung melawan WD Mochtar dan Johan Saimima. 

Syaiful Nazar beristrikan Meliani mahasiswi teladan IKIP, dan memiliki putri Melisa Fitri. Harapannya bisa mempopulerkan silat tradisional lewat film laga nasional. ~MF 110/78 Tahun VI, 15-28 sept 1990


TIEN ISTRI BZ KADARYONO

 


TIEN ISTRI BZ KADARYONO, (berita lawas). BZ Kadaryono salah satu nama sutradara yang terkadang jadi bulan-bulanan pemain orbitannya, tentu saja yang dimaksud pemain cewek. Berbagai tudingan pun mampir bertubi-tubi bahwa sutradara bertubuh jangkung ini cenderung memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Seperti memacari si pemain atau mengintiminya dengan maksud-maksud tertentu. Benar atau tidak kabar burung ini hanya yang bersangkutan yang lebih tahu. 

Tapi istrinya, Tien Kadaryono malah membenarnkan, meski tidak seratus persen,. "Omongan oran gluar itu pernah saya buktikan kok. Cuma saja kita orang-orang tua berpikir panjang kalau sampai persoalan ini menjadi malapetaka dalam keluarga. Ya sudahlah selama ia masih memperhatikan kebutuhan anak-anak dan saya, macam gituan saya redam saja, " tukas Tien maklum. 

Karena Tien juga sebagai pemain sering mendapat godaan dari sutradara atau sesama pemain. Di lokasi itu segalanya bisa saja terjadi, namun Tien bilang kompensasi itu perlu asal tidak melahirkan ekses. Nah, bagi Tien soal pergi ke disko misalnya, tetap masih suka. penah suatu saat Tien juga dikait-kaitkan dengan Hengky Tornando. "Ya saya sering jalan bareng dengannya, namun tuduhan itu nggak mutlak, karena disamping Hengky saya ditemani Lina Budiarti,  papar Tien. 

Ulah suaminya yang sering dipanggi Mas Yon, Tien bilang wajar-wajar saja. Yang namanya manusia, ada yang tahan atau tidak menepis godaan. Mungkin, kata Tien suaminya puya maksud baik dalam pendekatannya kepada pemain, tinggal tergantung pemain itu sendiri menentukan sikap. "Karena pernah suatu hari saya kedatangan cewek yang juga pemain film. Gara-gara berita dimajalah, bahwa Mas YOn makin intim dengannya. Saya tenang saja dan ia minta maaf. Justru dengan maaf itu saya tambah bingung. Masalahnya jika orang itu minta maaf berarti punya salah kan?, "Sikap mas Yon sendiri, ya gitulah namanya aja laki-laki, ' gumamnya seperti ada sesuatu yang mengganjal. 

Tien berterus terang segala macam kabar buruk tentang suaminya diluar itu tanggungjawabnya. "Tugas saya menetralisir keburukan itu kepada anak-anak. Abis mau gimana. Mas Yon kan manusia bukan hewan, masa sih mau kita paksa untuk takluk pada pendirian kita. Mana mungkin?, serganya. "Dirumah ia suami saya dan diluar milik publik. Saya pasrah saja dengan takdir. Jika memang kabar burung itu menjadi kenyataan, " tandasnya agak klise. ~MF 110/78 Tahun VI, 15-28 sept 1990