Showing posts with label buce malawau. Show all posts
Showing posts with label buce malawau. Show all posts

Sunday, February 8, 2026

BUCE MALAWAU MENCARI RUMAH UNTUK SUTING TRAGEDI BINTARO, KETEMU RUMAH ANGKER DI JAKARTA


 BUCE MALAWAU MENCARI RUMAH  UNTUK SUTING TRAGEDI BINTARO, KETEMU RUMAH ANGKER DI JAKARTA, Agaknya tak seorang pernah membayangkan kalau di Jakarta masih ada rumah penduduk yang jendelanya tak pernah di buka. Tapi itulah yang di temui Buce Malawau ketika ubek-ubekan mencaro lokasi untuk suting film "Tragedi Bintaro".

"Saya kaget juga. Kusen jendelanya malah sudah pada keropos. Tapi rumah itu masih tetap di tempati yang punya sepasang suami istri yang sudah tua. Begitu ketemu rumah itu, saya langsung saja tertarik. Padahal hati kecil saya was-was juga", kata sutradara Tragedi Bintaro ini. 

Rumah di jalan Perdatam Raya kawasan Pancoran menurut Buce, memang sangat unik. Letaknya di pojok. Di sela-sela rumah penduduk. Sekeliling umah ditutupi oleh rimbun pohon bambu dan pohon-pohon lain. Cat dindingnya yang putih sudah berubah menjadi kecoklatan. Dan lebih dari semua itu, perabotan rumah itu tampak seperti dibiarkan berantakan. 

"Mulanya sulit juga meminta izin pada pemilik rumah tersebut untuk tempat suting. Tapi lama-lama mereka benarkan juga. Dengan catatan, jendela tetap tidak boleh dibuka, " ujar Buce. Karena tak menemukan alasan yang tepat mengapa jendela tak boleh dibuka, Buce lalu mencoba bertanya pada orang-orang disekitar rumah itu. 

Tragedi Bintaro, kisah nyata yang ditulis menjadi skenario oleh Marseli ini, adalah film ke lima Buce setelah "Gerhana", "Beri Aku Waktu", "Luka diatas Luka", dan "Cinta Anak Jaman". Tapi ada yang membuat Buce, seperti katanya harus berhati-hati menerima skenario yang disodorkan padanya. "Soalnya saya tidak ingin pengalaman menggarap "Cinta Anak Zaman" yang ternyata saduran dari film barat, terulang lagi, " katanya. 

Lalu tentang rumah angker itu?, "Mudah mudahan selama 15 hari suting disitu, semua berjalan aman. Meskipun untuk itu saya dan semua kru harus ekstra hati-hati. Soalnya langit-langit rumahnya saja sudah pada bolong, " komentar Buce. "Rasanya kita memang sulit bisa percaya kalau di Jakarta masih ada rumah penduduk yang tak pernah terbuka jendelanya, " kata Buce lagi. Tapi untuk suting kali ini, Buce toh merasakan manfaat rumah seperti itu.


~MF 082/50/TH.V, 19 Agustus - 1 Sept 1988

Saturday, October 18, 2025

BUCE MALAWAU MUNCULKAN DJUNET ASLI DALAM FILM "TRAGEDI BINTARO"

 


Buce Malawau tampaknya tak meleset kalau di gelari pendeta. Pasalnya sutradara berpembawaan sederhana dan kalem ini punya sikap yang jelas terhadap film-film yang dibuatnya. "Saya memang selalu punya sasaran bahwa film-film yang saya buat targetnya adalah moral penonton," katanya. Itulah sebabnya, menurut Buce, ia tak mau menyajikan sesuatu yang terkesan berlebihan dalam film-filmnya. "Soalnya membuat film dan menyajikan sesuatu yang sederhana itu sulit, Tid"Saya ingin orak mudah", katanya lagi. 

Dan itulah yang di coba Buce dalam filmnya "Tragedi Bintaro". Film ini sasarannya jelas moral penonton. Itu makanya saya lebih menekankan pada problematiknya, bukan peristiwanya," katanya tentang film yang memang diangkat dari kisah nyata tersebut. Karenanya menurut Buce, ia lalu menghadirkan Djunet asli ke dalam film tersebut sebagai perwujudan tanggung jawab moralnya sebagai sutradara. "Saya ingin orang lebih yakin bahwa Djunet memang menderita. Saya tak mau orang-orang terpukau pada pemeran si Djunet saja,"katanya. 

Perihal tanggungjawab moral itu Buce agaknya memang berusaha untuk tetap konsisten. Dan itu dia lakukan pula ketika diminta Pemda Sumsesl untuk menuliskan skenario film "Si Pahit Lidah". Pokoknya sekalipun film tersebut berangkat dari legenda saya tak mau film itu lantas dipenuhi oleh hal-hal yang tidak logis," tuturnya tentang film Pemda itu. 

Buce memang tak tampak berlebihan dengan semua itu. Dalam Tragedi Bintaro, misalnya dia berhasil menyajikan sebuah film yang mampu menawarkan persoalan pada penontonnya, lebih dari sekedar mengangkat peristiwa dramatis kisah film itu sendiri. "Memang ada beberapa kelemahan di film itu, tapi tidak terlalu jelekkan?", ujarnya. 

Sementara itu Buce juga tengah memikirkan kelanjutan film "Tragedi Bintaro II" cuma lebih berfokus ke tokoh Ferry Octora dan Ferry Iskandar, dua penjual koran dalam Tragedi Bintaro I. 


*sumber MF 88/56/Tahun VI, 11 - 24 Nov 1989

~dan.... tak pernah ada film Tragedi Bintaro II ya hehe. ~