HIM DAMSYIK, DISERANG PENGGEMAR AKIBAT PERAN DATUK MARINGGIH (Kisah Lawas). Bintang film bertubuh langka Him Damsyik yang kembali mencuat lewat tokoh "Datuk Maringgih" dalam mini seri "Situ Noerbaya" kena getahnya. Tidak sedikit makian yang meluncur dari mulut pemirsa terhadap Datuk Maringgih, padahal pemutaran "Siti Noerbaya" telah lama berlalu. Makian atas keberhasilan Damsyik memerankan Datuk yang kaya, sombong, angkuh dan bermuka buruk itu.
Baginya, permainanya dalam mini seri itu tidak ada yang perlu dibanggakan.
"Saya rasa biasa-biasa saja, nggak ada yang luar biasa. Kalaupun dikatakan berhasil, itu cuma perasaan masyarakat saja, " Ucap Damsyik merendah.
Meski peran antagonis, tapi Damsyik tidak melihat adanya antipati masyarakat terhadapnya. Itu terbukti ketika ia melakukan perjalanan ke tanah kelahirannya , Teluk Betung, Lampung. "Sambutan disana luar biasa. Jalanan macet total, " katanya. Semuanya positif, begitu juga ketika berada disalah satu bank di Teluk Betung. Seluruh kegiatan bank tersebut berhenti total. Karyawan maupun manajer bank memberi selamat.
Yang paling merepotkan, kata Damsyik, ketika dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Begitu tiba di Bakauheni, tepatnya saat memasuki kapal penyeberangan, ia langsung disambut oleh para staf kapal tersebut lewat pengeras suara. Karuan saja seluruh penumpang yang ada disitu menyerbu tempat Damsyik berada . Untuk menjaga hal-hal yang tidak diingini, Damsyik terpaksa diselamatkan dan di boyong ke anjungan kapal.
"Sebenarnya sih nggak apa-apa. Cuma staff kapal takut terjadi sesuatu. Maklum namanya orang banyak. Mereka cuma mau salaman, ucapin selamat, foto-foto. Begitu juga waktu di Teluk Betung, ya mungkin karena mereka bangga terhadap putra daerah. Sayakan dilahirkan dan dibesarkan disana, " paparnya.
Sambutan itupun menurutnya merata, mulai dari anak-anak, remaja maupun orang tua. Hanya saja, katanya yang paling banyak adalah kaum wanita.
"Yang saya lihat memang ada kemajuan. Apresiasi masyarakat terhadap sinetron atau film kita cukup meningkat. Terlebih mengapresiasikan akting seorang pemain. Buktinya mereka semua salut, bukan benci, " kata Damsyik bangga. Namun berdasarkan pengamatan dari beberapa pemirsa, ada rasa dendam yang amat dalam terhadap Damsyik yang berperan sebagai Datuk Maringgih itu.
"Kalau saya ketemu itu orang, saya mau timpuk pakai batu, " kata seorang pemuda di bilangan Tanjung Duren, Tomang Barat, Jakarta Barat yang enggak disebut jati dirinya. Semula memang pemuda yang satu ini merasa biasa-biasa saja. Ia sadar kalau itu cuma kebolehan seseorang dalam memainkan peran tapi setelah ia menyaksikan episode ketiga sinetron "Siti Noerbaya" emosinyapun tiba-tiba muncul. Apalagi setelah melihat penderitaan Noerbaya yang menikah dengan Datuk Maringgih.
"Mam pus kek orang itu," celetuk beberap aanak kecil saat menyaksikan sinetron episode ketiga itu dirumah salah satu keluarga di bilangan Cempaka Putih, Jakarta Pusat.
MF 140/107 Th VIII/9-22 Nov 1991
