Showing posts with label siti noerbaya. Show all posts
Showing posts with label siti noerbaya. Show all posts

Sunday, August 9, 2026

NOVIA KOLOPAKING

 


NOVIA KOLOPAKING (berita lawas). Novia Kolopaking artis yagn sering manggung untuk menyanyikan lagu-lagu baik pada acara show maupun undangan sebagai bintang tamu. Via , panggilan sehari-hari , perempuan imut-imut yang lincah dan ramah terhadap siapapun baik dengan cowok maupun cewek, ia menganggap sebagai keluarga sendiri. "Konsep ini yang saya terapkan. Saya senang bergaul pada semua orang, dan saya berusaha untuk menyenangkan, untuk diri saya mungkin sudah menjadi milik masyarakat, "celoteh Via saat ditemui pada acara Parade Artis Taman Impian Jaya Ancol. 

Kesibukan Via akhir-akhir ini mengisi acara musik, hampir seminggu 2 kali ia manggung bersama artis-artis yang ada di ibukota. Sejak kecil Via sudah berani pentas untuk menyanyikan lagu anak-anak. Berkat suaranya yang enak di dengar serta didukung kemampuan dalam membawakan setiap lagu, Via  sering dibutuhkan oleh masyarakat untuk menghibur. Dalam kesempatan di Parade Artis Taman Impian, Via sempat menyanyikan lagu dangdut, untuk meramaikan suasana Via langsung punya inisiatif gaet cowok untuk mendampingi sebagai pacar sementara untuk berjoget diatas panggung. 

"Saya mencoba memberanikan diri untuk ajak cowok yang sedang nonton. Sebetulnya saya agak ragu, tapi karena tidak punya maksud apa-apa jadi ya langsung say apegang tangannya agar kelihatan mesra. Ini nggak lama kok, hanya lima menit,"ujar Via menegaskan. Via memang sering mengisi acara di Ancol, ia mengaku bahwa semangatnya untuk meniti karir berawal dari Ancol, yang mana Via sering ngobrol dengan seniman-seniman yang ada didaerah Pasar Seni. 

Keinginan untuk sukses sebagai seorang artis, Via banyak belajar pada seniman yang ada di Pasar Seni. Berkat keberaniannya Via pernah dicoba untuk menyanyi diArena Panggung terbuka Pasar Seni Ancol. Yah , Via bersyukur bahwa kehadirannya pada saat itu diambut dengan tepuk tangan dari penonton yang berjubel-jubel untuk melihat secara dekat dengan artis yang lincah ini. 

Walau sudah banyak dikenal masyarakat, Via tidak pernah melupakan sumber mata air yang pernah membawa dirinya untuk mencapai sukses sebagai seorang penyanyi. Disamping menyanyi ia akting mengisi sandiwara radio "Saur Sepuh" sebagai "Dewi Anjani". Tokoh ii yang membuatnya semakin terkenal, pada akhirnya mendapat tawaran untuk main drama TVRI, diantaranya, Marina, Kutub-kutub Nyanyian untuk Dini, juga melakoni drama serial TVRI berjudul Jendela Rumah Kita sebagai tokoh Anna dan inipun telah dikaloni sebagai tokoh yang tetap. Via tetap melaju dengan banyak pengalaman di bidang tarik suara maupun drama TV. 

Pada saatnya pula, Via telah merampungkan filmnya berjudul Brahmana Manggala sebagai tokoh Antini. Banyak sekali tawaran main film namun artis ini memang selektif sekali. Jika skenarionya ada adegan yang tak senonoh, ia menolak secara langsung, via bukan fanatik, tetapi bagi Via ia tidak pantas untuk membawakannya. Pada saat ini ia masih harus menyelesaikan sinetron berjudul "Siti Nurbaya".

 ~MF 114/82 Tahun VII, 10 - 23 Nov 1990

Saturday, January 24, 2026

HIM DAMSYIK, DISERANG PENGGEMAR AKIBAT PERAN DATUK MARINGGIH

 


HIM DAMSYIK, DISERANG PENGGEMAR AKIBAT PERAN DATUK MARINGGIH (Kisah Lawas).  Bintang film bertubuh langka Him Damsyik yang kembali mencuat lewat tokoh "Datuk Maringgih" dalam mini seri "Situ Noerbaya" kena getahnya. Tidak sedikit makian yang meluncur dari mulut pemirsa terhadap Datuk Maringgih, padahal pemutaran "Siti Noerbaya" telah lama berlalu. Makian atas keberhasilan Damsyik memerankan Datuk yang kaya, sombong, angkuh dan bermuka buruk itu. 

Baginya, permainanya dalam mini seri itu tidak ada yang perlu dibanggakan. 

"Saya rasa biasa-biasa saja, nggak ada yang luar biasa. Kalaupun dikatakan berhasil, itu cuma perasaan masyarakat saja, " Ucap Damsyik merendah. 

Meski peran antagonis, tapi Damsyik tidak melihat adanya antipati masyarakat terhadapnya. Itu terbukti ketika ia melakukan perjalanan ke tanah kelahirannya , Teluk Betung, Lampung.  "Sambutan disana luar biasa. Jalanan macet total, " katanya. Semuanya positif, begitu juga ketika berada disalah satu bank di Teluk Betung. Seluruh kegiatan bank tersebut berhenti total. Karyawan maupun manajer bank memberi selamat. 

Yang paling merepotkan, kata Damsyik, ketika dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Begitu tiba di Bakauheni, tepatnya saat memasuki kapal penyeberangan, ia langsung disambut oleh para staf kapal tersebut lewat pengeras suara. Karuan saja seluruh penumpang yang ada disitu menyerbu tempat Damsyik berada . Untuk menjaga hal-hal yang tidak diingini, Damsyik terpaksa diselamatkan dan di boyong ke anjungan kapal. 

"Sebenarnya sih nggak apa-apa. Cuma staff kapal takut terjadi sesuatu. Maklum namanya orang banyak. Mereka cuma mau salaman, ucapin selamat, foto-foto. Begitu juga waktu di Teluk Betung, ya mungkin karena mereka bangga terhadap putra daerah. Sayakan dilahirkan dan dibesarkan disana, " paparnya. 

Sambutan itupun menurutnya merata, mulai dari anak-anak, remaja maupun orang tua. Hanya saja, katanya yang paling banyak adalah kaum wanita. 

"Yang saya lihat memang ada kemajuan. Apresiasi masyarakat terhadap sinetron atau film kita cukup meningkat. Terlebih mengapresiasikan akting seorang pemain. Buktinya mereka semua salut, bukan benci, " kata Damsyik bangga. Namun berdasarkan pengamatan dari beberapa pemirsa, ada rasa dendam yang amat dalam terhadap Damsyik yang berperan sebagai Datuk Maringgih itu.

"Kalau saya ketemu itu orang, saya mau timpuk pakai batu, " kata seorang pemuda di bilangan Tanjung Duren, Tomang Barat, Jakarta Barat yang enggak disebut jati dirinya. Semula memang pemuda yang satu ini merasa biasa-biasa saja. Ia sadar kalau itu cuma kebolehan seseorang dalam memainkan peran tapi setelah ia menyaksikan episode ketiga sinetron "Siti Noerbaya" emosinyapun tiba-tiba muncul. Apalagi setelah melihat penderitaan Noerbaya yang menikah dengan Datuk Maringgih. 

"Mam pus kek orang itu," celetuk beberap aanak kecil saat menyaksikan sinetron episode ketiga itu dirumah salah satu keluarga di bilangan Cempaka Putih, Jakarta Pusat. 

MF 140/107 Th VIII/9-22 Nov 1991