Showing posts with label Nicky Astria. Show all posts
Showing posts with label Nicky Astria. Show all posts

Wednesday, March 18, 2015

BACK TO 90's INDONESIAN MUSIC


Berbicara musik tahun 90an apa yang terlintas dalam pikiran anda? Pop, Rock, Metal, atau alternatif? Berdasarkan pengamatan penulis musik di tahun 90an identik dengan musik-musik atau lagu-lagu slow rock. Sederetan bintang slow rock sebut saja seperti nama besar almarhumah Nike Ardilla, Nicky Astria, Inka Christie dan masih banyak lagi artis-artis slow rock 90an turut serta meramaikan blantika musik Indonesia.
berbeda dengan tahun 80an yang lebih di dominasi oleh musik-musik pop, era 90an Musik di tanah air lebih banyak mengusung tema slow rock, meski tetap saja ada tema-tema pop, maupun dangdut. Namun secara garis besar tahun 90an Slow Rock adalah musik yang berkembang pada jamannya.

Berkelana ke tahun 90an ingatan akan dibawa pada penyanyi-penyanyi atau lagu-lagu yang pernah jaya sebutlah Gambaran Cinta - Inka Christie, atau Bintang Kehidupan - Nike Ardilla tentu tidak asing di telinga karena sering di perdengarkan di radio-radio. Di acara televisi yang masih di dominasi oleh TVRI dan tv swasta yang baru seperti RCTI, lagu-lagu slowrock. 90an cukup komplek sebenarnya, selain slowrock yang berkembang juga dangdut di era 90anlah yang lebih enak di dengar di banding era sekarang.

Nicky Astria merupakan salah satu pionir dari penyanyi slowrock pada saat itu, kemudian disusul dengan ketenaran Nike Ardilla, penyanyi arahan Deddy Dores yang berhasil melejitkan namanya lewat lagu-lagunya, kemudian ada Inka Christie , Mayangsari, Ita Purnamasari, kalau di deretan penyanyi Pria memang tidak menonjol, meski ada nama seperti Yana Yulio yang lebih mengusung pop ketimbang slowrocknya, Dedy Dores meski di tahun 80an lebih dominan membawakan lagu-lagu pop namun setelah era Nike Ardilla, Dedy merupakan salah satu penyanyi slowrock pria yang cukup diperhitungkan, karena lagu-lagunya seringkali diputar di radio-radio.

Mengenang 90an adalah mengenang masa-masa kejayaan musik dan televisi Indonesia, memasuki tahun 2000an musik lebih berkembang pada grup-grup band, bukan lagi pada penyanyi solo. Namun sayangnya di era 2000an lagu-lagu yangdibawakan oleh grup band lebih mudah untuk tenggelam dan tidak bertahan lama dibanding lagu yang dibawakan oleh penyanyi tahun 90an. 

Ngomongin musik di tahun 90an tentu saja kita akan berbicara dengan yang namanya kaset atau CD dari penyanyi-penyanyi era tersebut. Kalau ngomongin kaset, untuk saat ini kaset hampir tidak ada produksi lagi, sedangkan mencari CD untuk penyanyi tahun 90an tentu sudah sangat sulit didapatkan.
Nah kali ini saatnya berbagi nih untuk mendapatkan CD-CD tahun 90an, cara yang biasa didapat adalah dengan mencarinya di toko lapak barang bekas. Namun jangan ditanya harganya. Untuk CD-CD keluaran tersebut harganya sudah melambung jauh antara 100rb keatas. Untuk penyanyi tertentu harga nya sudah sangat mahal. Sebuh saja album Nike Ardilla, jika ada itu harganya bisa berkisar antara 500rb hingga jutaan rupiah, sedangkan album sekelas Inka Christi yang langka atau Nicky astria pun demikian. harga sudah diatas 200rbuan keatas.
Sebuah harta karun kan? namun bernostalgia di era 90an tentu menjadi saat-saat yang indah.
Bagaimana dengan pembaca? ada yang punya nostalgia di tahun 90an..?

Tuesday, April 29, 2014

Haruskah Membeli CD Karya Anak Bangsa dengan Mengimpornya? ; Sebuah Keprihatinan

CD keluaran Malaysia yang kini bertengger di Beberapa Toko Kaset di Indonesia
Dalam beberapa bulan ini, seperti biasa saya jalan-jalan di toko kaset/CD dengan nama terkemuka di Jakarta. Di bilangan Jakarta Pusat, dan sudah beberapa kali saya lihat CD dengan artis Indonesia tapi dengan hologram negeri tetangga nongol di toko tersebut. Yang pernah saya temui adalah CD Andi Liany, CD Kantata, CD Nicky Astria dan CD Atik CB. CD tersebut di banderol antara 75rb sd 125rb Rupiah dengan label dan produksi Malaysia.  Boleh dibilang CD CD tersebut merupakan CD album artis yang bersangkutan dan sudah tidak ada satupun label/keluaran Indonesia yang memproduksinya.

Memang ini menjadi keprihatinan tersendiri bagi saya yang juga gemar membeli CD album. Original itu sudah pasti. Langka dan tentu album-album yang sudah tidak edar lagi di Indonesia.

Industri musik tanah air memang sudah semakin menurun, dan satu persatu toko kaset mulai bertumbangan. Yang baru-baru ini tutup adalah Aquarius Mahakam, sebuah gerai musik yang sangat terkenal namun tidak bisa bertahan karena dilindas oleh jaman. Kemudahan teknologi digital (internet) menurut saya merupakan salah satu penyebab matinya industri musik tanah air. Kebiasaan download gratis juga merupakan habit masyarakat yang sulit untuk dibendung. Karena download dapat di lakukan kapan saja, apalagi teknologi handphone saat ini sudah bisa digunakan untuk browsing internet meski handphone murah. Selain juga kini penjualan lagu juga dapat dibeli di iTunes.

Pemasaran CD kian susah dan masyarakat kian malas untuk ke gerai musik. Dulu banyak gerai musik yang bisa di temui seperti Disctarra, Duta suara, Musik + , namun kini gerai musik tersebut juga sudah mulai langka dengan. Ditambah lagi para artis/penyanyi yang kini sudah menggaet restoran cepat saji sebagai tempat penjualan albumnya menyebabkan pemasaran di gerai musik untuk album yang bersangkutanpun tidak bisa ditemui. Hal ini juga yang tentu saja mempengaruhi  sepinya pengunjung gerai musik.

Satu pertanyaan yang perlu di ungkapkan adalah, apakah label musik tanah air sudah tidak bisa memproduksi lagi album-album lama sehingga kini bermunculan album-album artis Indonesia yang harus di impor dulu ke Malaysia untuk kemudian di beli dan dipasarkan di Indonesia? akh...... rasanya saya tidak terima dengan keadaan ini, karena seharusnya label di Indonesia mampu memproduksi ulang CD-CD rilisan lama, sehingga kita tidak perlu membeli rilisan Malaysia.

Tapi siapa yang peduli? ongkos produksinya mahalkah? atau ribet harus ijin sana sini? terus siapa yang bisa mengatasi keadaan ini, haruskah ada campurtangan dari pemerintah? rasanya kegalauan ini sulit untuk terjawab.

Ironis ketika kita harus membeli album artis negeri sendiri sementara produksi luar negeri............

Namun demikian, saya tetap mengapresiasi terhadap toko kaset/CD yang masih bertahan hingga sekarang karena tuntutan pasar yang kian menurun.

#GALAU #