SALLY MARCELLINA, TAK MENOLAK CIUM DAN RANJANG (kisah lawas). Si Doi merupakan film ketiga yang dibintang utamai oleh Sally Marcellina, cewek kelahiran Jakarta, 28 Juli 1969 berdarah campuran ayah Manado dan ibu berasal dari Minang. Semula judul film tersebut "Catatan Si Doi" tapi atas berbagai pertimbangan akhirnya cukup dengan "Si Doi" saja. Ceritanya seakan akan kebalikan Catatan si Boy. Yang jadi idola dalam Si Doi justru seorang cewe yagn sering nangkring diatas mobil balap Porsche.
Di mulai sebagai figuran lewat film "Jejaka Jejaka", Sally berperan sebagai gadis cakep diincar Richie Ricardo. Kemudian muncul pula dalam film "Birahi dalam Kehidupan", dan mendukung beberapa episode ACI yang pernah ditayangkan di TVRI.
Sudah kerasan di film rupanya, "Masih kepingin lihat-lihat dulu. Main film sekedar menyalurkan hobby, mengisi waktu sementara masih nganggur. Suatu saat nanti saya akan kuliah, " katanya. Sementara belum kuliah, Sally memang kepingin sepenuhnya konsentrasi di film. Merasa enak di film, terutama suasana kerjanya maupun pergaulannya. Kebetulan kedua orang tuanya mendukung kehadiran Sally sehingga bertambah licinlah jalan kearah itu.
Nama Sally mulai dikenl sesudah membintangi "Macan Kampus" mendampingi Rano Karno. Sesudah itu Sally di gaet Andah Kencana Film untuk membintangi "Putri Kuntilanak" menyusul "Si Doi" dan "Si Gobang" produksi Virgo Putra Film. Dua film terakhir disutradarai oleh Atok Suharto. Bedanya kalau dalam film Si Doi sebuah film remaja masa kini sedangkan Si Gobang bercerita Betawi tahun 1800an.
Bedanya lagi dalam film ini Sally berperan sebagai Jamilah gadis Betawi tempo doeloe dengan latar belakang budaya betawi jaman baheula. Untuk menghayati tokoh Jamilah dalam si Gobang ini Sally cukup repot juga. Bayangkan memerankan sebuah tokohyang bertolak belakang dengan kehidupan sehari-hari, cukup bikin ia repot. "Tapi saya senang, karena dengan begini saya merasa ditantang, " kilahnya. Saya memang kepingin mencoba macam-macam tema, sehingga dengan begitu saya bisa mengukur kemampuan saya di film. Saya kepingin mencari pengalaman sebanyak-banyaknya di film, " lanjutnya.
Tapi konon tidak berarti Sally kepingin selamanya di film. "Nanti dulu, saya malah kepingin mendalami sastra Prancis, karena selain senang juga perhatian orang kearah ini masih belum sebanyak yan gmemilih jurusan sastra inggir misalnya. Di film sekaligus bisa di jadikan batu loncatan untuk memupuk karir di belakang hari. Setidak-tidaknya kalau saya selesai kuliah nanti, orang akan mengenal saya. Mungkin tidak terlalu sulit untuk mencari lapangan kerja yang saya minati, " katanya.
Apa bermaksud meninggalkan dunia film? Sementara ini memang belum terpikir kearah itu. "Tapi suatu saat nanti mungkin saya akan meninggalkan film dan terjun ke masyarakat. Bekerja misalnya, nah untuk itu kan saya musti punya bekal. " katanya.
Bagaimana dengan adegan cium dan ranjang? Saya tidak tabu dengan adegan-adegan semacam itu. Asal wajar dan sesuai dengan alur cerita, ya boleh boleh saja, katanya bernada klise. Memang cewek manis yang satu ini kehadirannya di beberapa film cukup menantang. Salah satu adegan Si Doi yang terpampang penghias kalender 1989 menampilkan sebuah gambar yang cukup hangat. Pahanya tersibak keatas karena kakinya yang mulus nangkring diatas mobil warna merah yang ikut menghias film Si Doi. Posenya yang menantang itu cukup berbicara bahwa pendatang yang satu ini cukup berani sepanjang beralasan. ~MF 066/34/Tahun V/7-20 Jan 1989
