Showing posts with label tembang di tengah padang. Show all posts
Showing posts with label tembang di tengah padang. Show all posts

Monday, February 16, 2026

TEMBANG DI TENGAH PADANG, Suting Sederhana, Namun Selalu di tunggu

 


TEMBANG DI TENGAH PADANG, Suting Sederhana, Namun Selalu di tunggu (Berita Lawas).Persaingan film seri dalam negeri yang ditayangkan TVRI cukup ketat seperti antara Jendela Rumah Kita, Sartika, Keluarga Rahmat, Pak Kontak dan Tembang di Tengah Padang. Film seri Tembang di Tengah Padang sempat terhenti masa putarnya di TVRI bukan berarti film seri itu tak bergeming lalu mati. "Kami terhenti karena masalah teknis saja, " kata Darto Joned selaku sutradara. 

Dan film seri itu bangkit untuk menggebrak kembali. Suting mengambil lokasi di Segunung Cipanas, Bogor dan Muara Enim. Dalam satu paket mereka kemas enam episode sekaligus.

Semula film seri ini berjudul Serumpun Bambu lalu kemudian berganti dengan Tembang di Tengah Padang. "Penggantian judul bukan berarti kami mencari bentuk baru. Tidak sama sekali. Supaya dekat dengan masyarakat saja. Kalau tembang itu kan sederhana, "lanjut Darto Joned yang menyutradarai film seri ini. 

Awal berdirinya film seri ini terjadi lima tahun lalu (1985an) ketika pihak Departemen Transmigrasi ingin membuat film untuk ditayangkan di TVRI. Untuk menyutradarainya ditunjuklah Darto Joned, sementara manajemennya di percayakan kepada PT. Puyuh Sedayu Film. Pembiayaan per episode rata-rata kurang lebih 30 juta, seperti biasanya satu paket film TV. 

Kalau kita lihat film seri yang ada sekarang ini, maka pantaslah dikatakan bahwa Tembagn di Tengah Padang merupakan film seri yang sederhana, baik ide cerita, penggarapan, juga pembiayaannya. Namun demikian Darto Joned selaku sutradara mempunyai warna sendiri. Set dan suting digarap ecara apik dan profesional. Karena penggarapan yang serius, maka tak jarang suting sampai dinihari. Kami kru, pemain dan pekerja lainnya benar-benar membuat sebuah film dengan sikap kekeluargaan, " kata Darto Joned menambahkan.

Ide cerita dikatakan sederhana, karena kejadian cerita memang hidup di masyarakat. Tidak mencari-cari atau semacam gagah-gagahan untuk membuat cerita. Yang utama jelas menggambarkan kehidupan transmigrasi. Dan dari film seri ini juga melemparkan pesan moral kepada penonton. Selain itu tidak untuk mengangkat satu orang pemain. Pembagian perannya merata. Tidak ada yang dilebihkan porsinya. 

Dalam Episode Wiryo dan Kemal, yang saat itu sedang dibuat, Keduanya transmigrasi asal Jakarta, yang biasa hidup di ibukota dengan aneka kehidupan. Lalu hidup dalam alam yang jauh berbeda. Mereka berontak pada alam, tapi penyelesaian konflik tidak ada seorang nabi sebagai juru selamat. Kesadaran berontak karena situasi konflik itu sendiri.

Kalau kita lihat film seri tv seperti Jendela Rumah Kita, maka akan kita lihat kehidupan wah dari satu keluarga bekas pejuang yang punya anak sebagai juru selamat. Sartika juga menggambarkan kehidupan yang wah. Tapi Tembang di Tengah Padang mengambil lokasi yang benar-benar sederhana. Walau itu rumah insinyur sekalipun. Satu setting bisa di ciptakan menjadi beberapa suasana rumah untuk pemeran lainnya. Mereka membuat studio sendiri untuk film seri Tembang Di Tengah Padang. Bukan studio seperti TVRI yang serba canggih itu. Tapi studio sederhana yang dibangun oleh anak-anak remaja yang bergerak di Teater Sendiri di Jakarta. Dengan pengarahan Yopie selaku Art Director. 

Di tengah lokasi suting, Darto Joned kelihatan arif. Ini membuat komunikasi lancar antara pemain, kru dan sutradara. "Kami bukanlah yang terbaik, tapi telah berbuat baik untuk satu kerja film, " kata Darto Joned merendah. 

~MF 093/61 Th VI, 20 Jan - 2 Feb 1990

Saturday, December 6, 2025

HERMAN NGANTUK , SELALU KURANG TIDUR

 


HERMAN NGANTUK YANG SELALU KURANG TIDUR. Rambutnya keriting, selalu memakai iket kepala dan bila muncul di tv seperto orang yang kurang tidur serta bicara ceplas ceplos. Dialah Panjol, sosok yang acap di perankan Herman Ngantuk dalam serial TV Tembang di Tengah Padang. Di balik suksesnya herman memerankan sosok Panjol ternyata dia belajar karakter dari membaca dialog, sehingga dia selalu berulang-ulang membaca skenario sebelum pengambilan gambar. Apa tidak menganalisa naskah atau karakter?.

"Yang jelas saya belajar karakter Panjol dari membaca dialog. Malam, pagi dan siang saya terus membaca. Kadang saya juga lupa kalau saya tidak berada di lokasi suting. Dari situlah saya membuat karakter Panjol," kata Herman Ngantuk yang lahir di Tasikmalaya 5 Februari 1952.

Walau Panjol telah di kenal namun bagi Herman sangat tabu menampilkan karakter Panjol dalam cerita lain. Walau dia acap tampil dalam film cerita tv. "Saya sering melakoni tokoh Panjol. Bukan sama tapi ada kemiripan karakter. Walau saya tahu itu baik, saya tidak akan meminjam tokoh Panjol dalam bentuk apapun,"janjinya. 

Dalam disiplin kita boleh acung jempol padanya. Ketika suting tengah malam dimulai , Herman sudah menunggu di lokasi, walaupun ia tahu giliran suting menjelang fajar. Dia menunggu scene-nya sampai terkantuk-kantuk, namun kru Tembang Di Tengah Padang tidak mengetahui kalau Herman Ngantuk lagi terkantuk kantuk. 

"Itulah untungnya mata saya ini. Orang tidak tahu bahwa mata saya lagi ngantuk berat," kata aktor yang pernah kuliah di IKJ bagian teater. Namun bukan karena suting itu membuat namanya menjadi Herman Ngantuk. "Saya buat nama begitu karena saya menyadari mata saya mirip orang yang kurang tidur. Walau begitu mata saya ini kan anugerah Tuhan," kata anak ke 4 dari 10 bersaudara. 

"Walau saya berhasil melakoni Panjol, tapi semua itu tak terlepas dari tangan dingin Mas Darto. Apalagi mas Darto itu orangnya sangat terbuka," katanya. 

Namun bila disimak karakter seharian Herman Ngantuk ternyata sangat bertolak belakang dengan karakter Panjol. Kalau dalam Tembang di Tengah Padang, Panjol orangnya lugu, polos dan terkadang kocak, ternyata seharian Herman ngantuk orangnya serius. Bahkan dia adalah guru teater pada sebuah SMA di bilangan Jakarta Selatan.