FAROUK AFERO, PEMAIN ANTAGONIS PUN HARUS DIBAYAR MAHAL. Farouk Afero sempat lama tidak main film. Bukan karena produser sudah muak padanya, tapi dia sendirilah yang tak mau menerima begitu saja tiap tawaran. "Selain skenarionya harus cocok, saya juga harus dibayar mahal", ujarnya. Lebih dari itu, sikap hidupnya yang terlalu idealis, diakuinya memang menyebabkan banyak kalangan perfilman yang enggan berhubungan padanya. "Tapi tidak apa-apa. Berdiri diluar, saya malah blebih rasional. Tidak lagi emosional. Dan kalau kemudian saya menerima tawaran TVRI itu untuk ikut membintangi sebuah sinetron, itu karena saya ingin menyalurkan kerinduanya pada dunia film. Itupun setelah menolak banak tawaran yang disodorkan," tambahnya.
Lelaki kelahiran Pandori Bali, Pakistan, 4 Juni 1940 tampil juga dalam TVRI di sinetron dengan judul "Tangan Tangan Hitam". Mulai terjun ke film tahun 1964 lewat "Ekspedisi Terakhir". Farouk yang nama aslinya Farouk Ahmad ini mengaku baru dikenal setelah ikut membintangi film "Bernafas Dalam Lumpur" tahun 1970. "Afero sendiri adalah nama tambahan setelah saya terjun sebagai petinju amatir," ujarnya.
Tahun 1983 ikut pula bermain dalam film "Wolter Monginsidi ", lantas sebagai orang yang kini tak terlibat langsung, Farouk melihat dunia film Indonesia di akir 80an makin merosot di banding tahun-tahun sebelumnya dimana ia masih aktif. "Secara teknis, dalam arti film sebagai tontonan memang sudah baik. Tapi untuk yang lain-lain temasuk gagasan-gagasan yang ditawarkannya, nanti dulu," katanya.
"Artis film Indonesia saat ini ibarat spare part. Tidak diberi kesempatan menjadi matang. Benar, dimanapun di duni aini produser adalah orang yang paling berkuasa. Solidaritas antar sesama pekerja film saja sudah tidak ada. Masing-masing memikirkan perutnya sendiri-sendiri. Dan dari dulu sistem yang tidak membina inilah yang saya tentang. Saya protes dengan cara kerja saya sendiri, kata aktor yang diluar kemauannya sendiri terpilih jadi aktor pembantu terbaik FFI 1976 lewat film "Laila majenun" itu.
"Saya emmang bercita-cita artis Indonesia harus mahal. Harus bagus kondisi sosial ekonominya. Sebab saya yakin kreativitas lahir kalau kondisi ekonomi seseorang sudah mapan", ujar aktor terbaik FFA 1971 lewat "Noda Tak Berampun".
~MF
