Saturday, February 28, 2026

IN MEMORIAM TUTI INDRA MALAON


IN MEMORIAM TUTI INDRA MALAON. (Berita Lawas). Sebulan sebelum kepergiannya, seorang rekan menyapa "Mbak, kelihatannya sehat dan ceria banget. Ikut fitness ya? Yang disapa bilang "Ah , nggak juga, orang penyakitan kok, mana sempat ikutan fitness."

Itu kiranya pertanda yang tak disadari. Penyakit yang diderita Tuti Indra Malaon, yang disapa itu ternyata memang serius. Tiga hari menjelang tutup usia, ia di operasi di RSAL Mintohardjo Jakarta karena menderita Sirosis hepatitis (pengerutan hati) dengan beberapa komplikasi. Dan hari Rabu, 20 September 2989 pukul 04.55 ia wafat. 

"Ia tak pernah mengeluh tentang penyakitnya itu. Ia tak ingin orang lain tahu, " lontar N Riantiarno, rekan sekerjanya di majalah "Matra". Nggak nyangka kalau mbak Tuti mengidap penyakit serius. Sewaktu dubbing film "Pacar Ketinggalan Kereta" ia biasa-biasa saja, sehat, " Ungkap Camelia Malik di TPU Karet, Jakarta. 

Tuti yang nama lengkapnya Pudjiastuti lahir 1 Desember 1939 di Jakarta adalah tipikal pecinta sekaligus pengabdi kehidupan. Ia berjalan dengan banyak peran yang di beri nuansa kesungguhan. Dedikasi terhadap pilihan hidupnya begitu sarat. 

Pertama kali naik Pentas pada HUT ke 5 Kemerdekaan RI di Istana Merdeka. Saat itu ia membawakan tari Gambir Anom, Tari bedoyo dan berperan sebagai Satria dalam tari duet perang tanding antara Satria dan Bambang Cakil. Dan sempat belajar di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI), tapi tak sampai selesai. Namun, ia sering terpilih menjadi anggota misi kesenian, antara lain ke Filipina, Muangthai (Skg Thailand), Korea, Kamboja, RRC, Vietnam, Jepang dan Uni Sovyet (Apa dan siapa..PT. Grafiti).

Tahun 1965 anak kelima dari sembilan bersaudara ini lulus sarjana Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan tiga tahun kemudian ia diangkat menjadi dosen. Hingga akhir hayatnya ia adalah pengajar tetap pada FSUI seksi Bahasa Inggris. Pada waktu yang bersamaan , 1968 ia bersama Slamet Rahardjo bergabung dengan Teater Populer pimpinan Teguh Karya yang pada saat itu bermarkas di Hotel Indonesia lalu pindah ke Kebon Kacang. Tuti pernah ikut mementaskan "Pernikahan Darah" (FG Lorca). Serta ia pun tampil bersama Teater Koma, dalam pertunjukan "Opera Kecoa" (1987). 

Sejak tahun 1971, putri kelaurta Suratno Sastroamidjojo ini, menapakkan kaki di dnia film lewat "Wajah Seorang Laki-laki" garapan Teguh Karya. Dengan sutradara yang sama ia terus memamerkan seni akting yang indah dan manis pada "Kawin Lari" "Perkawinan Dalam Semusim" , "Ibunda" dan yang terakhir "Pacar Ketinggalan kereta", serta Tuti pun main untuk filmnya Nyak Abbas Acup "Cintaku Di Rumah Susun", Hengky Solaiman "Neraca Kasih", "Arifin C Noer "Matahari Matahari", dan Hadi Purnomo "Perisai Kasih Yang Terkoyak". Dan pencapaian anugerah dalam seni akting dirahnya Piala Citra sebagai peran utama wanita terbaik dalam film "Ibunda" FFI 1989 dan Pacar Ketinggalan Kereta FFI 1989 yang diraih setelah wafat. 

Niatnya yang belum kesampaian ialah menyelesaikan disertasi doktor tentang dunia teater. Ia mendalami tentang black theatre di AS. 

Tuti- yang juga anggota MPR pun memerankan ibu sekaligus ayah dari tiga anaknya Dama Meivida, Reita Indriani dan Ridho Zulfikar, setelah suaminya Indra Malaon meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas di jalan tol.

Dalam kegiatan menulis, Tuti banyak membuat artikel mengenai kewanitaan, kritik film dan drama, juga terjemahan misalnya "Perempuan Dilihat Dewa" karya Bertold Bracht. Sebagai anggota sidang redaksi majalah Matra, Tuti selalu mengisi rubrik wawancara dan etiket. Untuk rubrik wawancara itu, ia telah mewawancarai 33 tokoh terkenal dari berbagai bidang di Indonesia diantaranya ada WS Rendra, Mendikbud Fuad Hassan, Menko Polkan Sudomo, TB Simatupang, Menpen Harmoko, Mensesneg Moerdiono, Dubes AS Paul Wolfowitz, Dubes Malaysia Dato' Muhammad Khatib, Deddy Mizwar, Teguh Karya, Rhoma Irama dan banyak lagi. 

Ia meninggalkan nama dan kenangan yang indah dan manis. Pudjiastuti, selamat jalan.....

di sadur dari MF No. 085/53/tahunVI, 30 September - 13 Oktober 1989

Friday, February 27, 2026

SISWORO GAUTAMA PUTRA, SUTRADARA SPESIALIS PENEMU BINTANG

 


SISWORO GAUTAMA PUTRA, SUTRADARA SPESIALIS PENEMU BINTANG . Mengaku lebih enak main di kelas menengah kebawah, Sisworo Gautama Putra punya prinsip yang diakuinya tidak berbelit. Dalam membuat film, katanya yang harus kita utamakan adalah penonton. "Dan itu sama seperti membuat  majalah atau koran. Pembaca harus dinomorsatukan, " ujar sutradra kelahiran Kisaran, Sumatera Utara ini. 

Karena mengutamakan keinginan penonton itulah mengapa Sisworo, seperti katanya, tak ingin menyajikan film dengan cerita yang rumit-rumit."Enak dinikmati, dan mudah dicerna, itu yang saya pegang, " kata pria kelahiran 26 Mei 1938 ini. Dan itu dibuktikannya tak cuma lewat film-film horor yang sudah menjadi trade marknya. Tapi juga lewat film komedi. "Mudah-mudahan semua film-film saya laku kok, " katanya sambil tertawa. 

Sutradara yang memulai karirnya tahun 1972 lewat "Dendam Anak Haram" ini mengaku tak punya prosensi lain dalam membuat film kecuali menyajikan hiburan pada penontonnya. Tidak juga untuk jadi sutradara terbaik?. "Itu terserah penilaian orang saja, " ujarnya diplomatis. 

Biar begitu toh Sisworo merasa bangga juga setelah sekian tahun menggeluti dunianya "Banyak bintang yang lahir dari tangan saya, " katanya sambil menyebut beberapa nama.

Dan bintang-bintang  itu menurutnya kini sudah jadi semua. Mereka jadi bintang yang populer dan terkenal . Dan saya sendiri akan terus mencari  bibit-bibit potensial untuk main film, " kata sutradara yang oleh teman-temannya ini dianggap sebagai sutradara spesialis penemu bintang. 

Tentang anggapan itu, Sisworo tak menolak tapi juga tidak menerimanya. "Yah saya pikir tidak juga. Saya cuma memulainya saja kok, " tuturnya merendah. Sisworo yang ditemui saat menyelesaikan film ke 72nya berjudul Wanita Harimau atau Santet II menyebutkan kini iapun tenggah menggodok bintang baru. 

"Pokoknya memakai bintang baru lebih mudah ngaturnya. Beda dengan bintang lama", ujarnya. 

Namun Sisworo membuktikan ucapannya ketika suting film Santet II berlangsung. Ia marah dan kesal ketika bintang-bintang tua itu harus beberapa kali latihan adegan. "Wah kalin ini gimana sih. Sudah berkali-kali main film kok main bodoh," katanya kesal setelah itu ia kembali tertawa. 

Tapi kini biar katanya ia mengacu pada selera penonton, tapi Sisworo tak ingin melakukan kesalahan lagi setelah filmnya dulu "Petualangan Cinta Nyi Blorong" menimbulkan heboh. "Sekarang saya sadar kok bahwa masyarakat kita semakin kritis, sekarang saya akan bikin film yang wajar-wajar saja dan tidak bikin penonton marah, "katanya. 

di sadur dari MF No. 085/53/tahunVI, 30 September - 13 Oktober 1989

GITO GILAS, LEBIH SUKA JADI WARTAWAN


 GITO GILAS, LEBIH SUKA JADI WARTAWAN , (Berita Lawas). Tidak semua artis ingin menggantungkan hidup pada dunia film. Contohnya Gito Gilas. Dia lebih suka menjadi wartawan daripada artis yang menurut pendapat orang-orang punya masa depan cerah. Lalu alasan apa yang membuat anak muda yang kuliah di STP ingin menjadi wartawan?

"Karena saya kuliah di STP, mengambil jurusan Jurnalistik, " kata Gito yang lahir 27 Mei 1966 berterus terang. "Tapi saya tidak mau menjadi wartawan harian. Sebab sangat sibuk. Saya lebih suka menjadi wartawan Majalah, terserah mau majalah apa, " lanjut anak ke 2 dari 4 bersaudara ini. Kapan dunia wartawan akan digelutinya. "Saya sendiri belum tahu. Yang jelas saya akan jadi wartawan setelah selesai kuliah, " katanya menambahkan. 

Walau Gito Gilas sudah beberapa kali melakoni film nasional namun baginya lebih suka bermain di layar gelas milik pemerintah itu. Alasan apa yang membuat tertarik berlakon di TVRI?

"Kan banyak masyarakat yang tidak sempat menonton di bioskop. Kalau nonton di bioskop, kan harus bayar, di TV tidak. Gratis. Lagipula masyarakat langsung mengenal kita, " kata lelaki berbintang Gemini yang lahir di Kota Bandung ini. 

Dalam film TV dia beberapa kali melakoni cerita remaja, antara lain Fanny, sutradara Partom Hutapea, Opera Anak-anak Kost sutradara Partom Hutapea, dan juga Tegar sutradara Bamang Rochyadi serta beberapa film TV yang lain. "Alasan saya mau menerima tawaran main sinetron sederhana saja. Karena kita bisa belajar. Kan ada monitor untuk melihat akting kita. Jadi kalau tidak pas bisa di hapus dan direkam kembali, " lanjutnya. "Lagi pula kalau main disini kita bisa totalitas. Artinya kita langsung berdialog memakai suara kita sendiri, tapi kalau film kan harus di dubbing lagi, " katanya menambahkan. 



MF 095/63/Tahun VI, 17 Februari - 2 Maret 1990

DEVI IVONE ganti nama Devi Sabah


DEVI IVONE ganti Nama Devi Sabah. Devi Sabah, film-film yang dibintanginya sebagian besar bertema action. Pertama kali bergelut dalam dunia film tahun 1987 padahal sebelumnya ia tak pernah terbersit niat menerjuninya. 

Di lahirkan dan di besarkan di pulau Nunukan dekat perbatasan Malaysia. Setelah lepas SMA ia sering berkeluyuran di Sabah dan Sarawak. Ia tak pernah bermimpi jadi bintang film. Ketika hijrah ke Jakarta itulah awal berkenalan dengan dunia film. Lewat seorang teman ia pun diperkenalkan pada seorang sutradara. "Sutradara itu memberikan semangat buat saya kepercayaan saya pun tumbuh," katanya. 

Tatkala dilihat kemahiran dalam film-film action, maka tawaran buatnya makin berdatangan. Devi tetap bermain di film-film bertema  action dan horor. Semua tawaran diterimanya hingga ia tak pernah tidur pulas. Setiap pulang suting pagi hari. Devi nyaris tak tidur, pasalnya disiang hari ia sudah harus hadir di lokasi untuk film yang lain. Disamping itu iapun disibukkan dengan olahraga serta jadwal kegiatan lainnya. Karenanya mau tak mau ia harus memakan makanan yang tinggi gizinya, agar tetap sehat dan kuat. 

Karena kurang dikenal dengan nama Devi Ivone, maka sejak main di film "Syech Siti Kobar Membangkang" yang disutradarai Ratno Timoer itu ia mengubah nama dengan Devi Sabah. "Saya ganti nama karena saya suka aja. Nggak ada alasan lain kok, " ungkapnya dengan logat melayu. 

Selama ini dalam film-filmnya suara Devi selalu diisi orang lain. Karena itu kini, ia ngotot belajar bahasa Indonesia. Dan itu akan ia buktikan di film "Tertangkap Basah, lewat arahan SA Karim. Keinginannya sih dapat masuk nominasi sebagai artis terbaik. "Kalau tidak dimulai dari sekarang kapan lagi. Maklum deh lingkungan saya dekat dengan Malaysia dari keluarga saya pun banyak yang telah jadi warga negara Malaysia. Yah kini saya mesti bisa berbahasa Indonesia, ucapnya mantap. 

di sadur dari MF No. 085/53/tahunVI, 30 September - 13 Oktober 1989

Thursday, February 26, 2026

NANI SOMANEGARA, PINGIN NONTON FILM VIDEO P O R N O

 


NANI SOMANEGARA, PINGIN NONTON FILM VIDEO P O R N O . Kalau ada anak-anak yang butuh perhatian oleh Ibu atau neneknya itu lumrah. Tapi kalau sebaliknya, ada nenek yang butuh di perhatikan oleh anak dan cucunya? itu juga wajar kalau dilihat dari kebutuhannya, " tegas seorang nenek. 

Adalah Nani Somanegara, si Nenek itu yagn asli Sunda. Tahun 1968/1969 itu awal kariernya dalam film. Ketika itu ia masih menjadi figuran dalam film "Kamar 13". Kemudian oleh Nyak Abbas Acup, ia dilibatkan dalam film yang berjudul "Nency". Lalu cukup lama beristirahat, tapi kecintaanya terhadap dunia film ternyata mampu menunjukkan jalan. 

Lalu ia terlibat dalam film Kasmaran, Gema Kampus, Pacar Ketinggalan Kereta dan  film komedi situasi "Cas Cis Cus" arahan sutradara Putu Wijaya. 

Dalam film Cas Cis Cus, Nani mendapat peran yang cukup penting. Memerankan tokoh nenek yang sempat sewot karena nggak boleh nonton film video p o r n o . Perannya emmang berat. Perwatakannya jauh berbeda dengan keadaan saya. Itu peran antagonis, yang menantang saya, " ujar ibu yang pernah aktif di Studi Teater Bandung ini. 

"Saya dulu pernah merasa sangsi, apakah bisa dan cocok memerankan tokoh nenek seperti itu, peranan Putu Wijaya dalam menggarap watak dan emosi saya cukup besar, " papar ibu Nani yang pada tahun 1974 sampai pembuatan film Kasmaran sempat istirahat total dari film. "Sekarang anak-anak sudah gede-gede, jadi bisa ditinggal kemana-mana, " jelasnya dengan nada rendah berwibawa. 

"Kalau saya melihat jauh keluar, saya membayangkan, kok ada orang tua yang mempunyai sifat sperti itu? Kalau ada nenek tau kakek yang ingin menikah lagi, itu banyak penyebabnya, tapi sebenarnya juga tergantung pada pribadinya dalam pergaulan, " tambah Nani lagi. 

Seperti yang ia katakan, masa-masa tua memang merupakan masa yang serba susah. Seperti nenek dalam film Cas Cis Cus itu misalnya, sebenarnya ia ingin sekali di perhatikan anak-anak , menantu dan cucu-cucunya, Kalau ada orang tua yang keinginannya tidak dituruti, tentu ia akan bereaksi. 

Nani Somanegera, memang seorang nenek setia. Bukan hanya setia pada keluarga, juga setia pada perfilman Indonesia. "Saya seperti punya tanggungjawab pada dunia film. Pertama saya senang . Dan saya memang punya keinginan menyukseskan perfilman. Kalau untuk menyalurkan bakat, saya memang sudah terlambat, "ujarnya merendah.

Sebagai seorang nenek yagn mempunyai lima putra dan 13 cucu, Nani ternyata masih giat dan tekun bekerja. Selain main film dan drama televisi, juga mempunyai kesibukan lain di rumah, yaitu merias pengantin. 

Sosok nenek yang lahir di Bandung, 17 Juli 1937 masih giat bekerja dan mampu berakting dengan mantap. Tak perlu heran, karena dia terlahir dari keluarga seni. "Suami saya juga dari teater, jadi untuk kegiatan saya di film dan seni nggak ada hambatan. 


~MF 093/61 Th VI, 20 Jan - 2 Feb 1990

Wednesday, February 25, 2026

FILM BERMUTU, KENAPA GAGAL DI PEMASARAN?


 FILM BERMUTU, KENAPA GAGAL DI PEMASARAN? (Berita lawas). Anggapan bahwa film bermutu kurang laku dalam peredarannya nampaknya memang belum mau sirna. Hal itu memang banyak buktinya. Kalau soal mutu diukur dari hasil penilaian Dewan Juri Festival Film Indonesia (FFI). Cukup banyak contohnya yang bisa ditampilkan. 

Kita lihat saja misalnya FFI '79 dimana sistem nomine mulai diterapkan. Kecuali November 1928 garapan Teguh Karya yang akhirnya terpilih sebagai Film terbaik di FFI Palembang. Masih ada beberapa film lain yang tergolong bermutu. Pengemis dan Tukang Becak garapan Wim Umboh, Buaya Deli yang disutradarai Mochtar Soemodimedjo ada pula Kemelut Hidup garapan Asrul Sani. Film-film tersebut dalam peredarannya boleh dibilang kurang berhasil, bila dibandingkan dengan Inem Pelayan Sexy atau Rahasia Perkawinan yang meraih Piala Antemas sebagai film terlaris dan banyak dibicarakan masyarakat luas. 

Tahun berikutnya, FFI '80 di Semarang, Perawan Desa terpilih sebagai film terbaik. Nah film unggulan lainnya, Kabut Sutera Ungu yang disutradarai Sjumandjaya, Rembulan dan Matahari karya pertama Slamet Rahardjo yang akhirnya terpilih sebagai film terbaik kedua , ada pula Yuyun (Pasien Rumah Sakit Jiwa) garapan Arifin C Noer, Gadis Penakluk arahan Eduard Pesta Sirait. 

Namun dibangingkan Gita Cinta Dari SMA-nya Arizal, Iramaya dan Kakek Ateng, Film-film nominasi itu dalam mengumpulkan penonton jauh ketinggalan. 

Perempuan Dalam Pasungan barangkali memiliki keistimewaan tersendiri. Film terbaik arahan Ismail Soebardjo ini memang sukses di peredran. Hal itu dimungkinkan karena peredaran film patungan Garuda film, Gemini Satria Film dan Interstudio itu memang pas masa peredarannya. Setelah terpilih sebagai film terbaik FFi '81 segera pula beredar di bioskop. 

Yang juga sukses tahun itu dalam segi mutu masih ada beberapa film . Para Perintis Kemerdekaan (Dibawah Lindungan Kabah), Seputih Hatinya Semerah Bibirnya, Laki-laki dari Nusakambangan yang memberikan piala citra pertama buat maruli Sitompul. Teguh Karyapun menyodorkan satu film, Usia 18.

Sundel Bolong, film mistik garapan Sisworo Gautama Putra yang mendapat Piala Antemas di Medan, kembali membuyarkan image yang mulai di bangun Perempuan Dalam pasungan dan Kabut Sutra ungu sebagai film bermutu dan laku. Pada tahun berikutnya tak ada film terbaik yang penontonnya mampu menyaingi perolehan penonton yang dikumpulkan film-film Warkop DKI . pertanyaan tersebut memang sulit untuk memperoleh jawaban yang pasti. Yang jelas film bermutu memang  sulit bersaing dalam pengumpulan penonton. ~ MF 114/82 Tahun VII, 10 - 23 Nov 1990.


JOSEPH GINTINGS


 JOSEPH GINTINGS. (Berita Lawas). Dia merupakan "Singa" panggung. Beberapa kali menjadi aktor terbaik pada festival teater. Kemudian dari teaterlah dia tahu akting baik yang diperolehnya dari IKJ tempatnya menimba ilmu. 

Namun sukses Joesph Gintings di panggung teater tidak sama dengan suksesnya di dunia film dan televisi. Walau begitu bapak yang menjadi salah seorang pengajar di IKJ ini merasa yakin bisa melejit ke permukaan dunia akting. 

"Saya tidak bisa idealis. Sebab tuntutan zaman kita harus bisa segalanya," katanya. "Oleh sebab itulah saya mau main TV atau film. Kalau di panggung beberapa honor yang kita terima? begitu pula banyak masyarakat yang belum kenal dunia panggung, " katanya lebih lanjut. 

Walau prestasinya di dunia panggung tidak terhitung lagi, namun Joseph merasa belum dikenal masyarakat. Padahal dia telah berkali-kali main drama atau film TV. "Itu dulu sekarang saya sudah dikenal", ujarnya sambil ngakak. Sejak kapan dikenal? "Sejak saya main film TV Setegar Lintasan Baja. Padahal dalam film itu saya terburu-buru menerima peran, " katanya. Dia memerankan seorang masinis PJKA yang penuh penderitaan batin. 

Walau sudah cukup pengalaman, tapi Joseph merasa kelimpungan ketika berperan sebagai Monang, dalam film seri "Tembang Di Tengah Padang". Kenapa bisa begitu? Pasalnya dia membawakan karakter orang Batak. Dia juga orang Batak, tapi jadi bingung orang Batak yang mana yang harus dia perankan. 

"Saya Batak, tapi Batak yang saya bawakan kejawa-jawaan, " lanjutnya. 

Dalam film seri Tembang Di Tengah Padang itu Joseph mendapat kesempatan bermain sebanyak 4 episode. Padahal ketika suting film TV itu dia juga sedang sibuk suting film Dua Diantara TIga laki-Laki, sutradara Edward Pesta Sirait, mengambil lokasi di Surabaya. 

Dan karena sutingnya bersamaan, membuatnya harus pontang panting di Surabaya-Cipanas. "Karena saya suting dua film bersamaan. Satu suting film TV, yang satu lagi film bioskop. Itulah risiko seorang artis. Harus tahan banting, " kilahnya mengenang perjalanannya dari Surabaya ke Cipanas. 

Kala di urut, banyak sudah prestasinya, antara lain dia melakoni di film Jakarta 66, Hidup Semakin Panas, Panggung Pementasan Waiting for Godot, Hilang Tanpa Bekas dan lain-lain. Berlakon di TV sudah puluhan kali, sebagai sutradara panggung dia sempat mementaskan Kebebasan Abadi naskah CM Nas dan Wek Wek naskah D. Djajakusuma. 

"Saya belum apa-apa. Saya masih harus banyak belajar. Sebagai orang seni saya selalu kurang puas, " tuturnya. Awal tahun 1990, Wahyu Sihombing gurunya telah pergi untuk selama-lamanya. "Pak Hombing tak meninggal. Saya merasa dia hanya keluar negeri. Saya pikir juga dia tidak akan pernah meninggal, " katanya dengan pandangan berkaca-kaca. 


MF 095/63/Tahun VI, 17 Februari - 2 Maret 1990

Tuesday, February 24, 2026

TUANKU TAMBUSAI


 TUANKU TAMBUSAI, SINETRON TERBAIK PADA FESTIVAL FILM INDONESIA TAHUN 1990 DAN MERAIH PIALA VIDIA. "Tuanku Tambusai" sinetron peroduksi TVRI Stasiun Pusat Jakarta bekerjasama dengan Pemda Riau merupakan yang terbaik pada FFI 1990. Sinetron yang menggali Pahlawan yang kurang dikenal ini disutradarai oleh Irwinsyah. Empat Saingan Tuanku Tambusai adalah sinetron "Anak" produksi TVRI sta Jakarta Pusat Sutadara Dedi Setiadi, "Dibalik Tobong" produksi TVRI Sta. Pusat Jakarta sutradara Ananto Widodo, "Masih Ada Cinta di Prambanan" produksi BKKBN-TVRI dan PT. Sentra Focus Audio Visual sutradara Ali Sahab dan "Wahyu dan Wahyuni" produksi PT. Inconesia Mandiri sutradara Ali Sahab.

Kalau di kaji, sudah sewajarnya Tuanku Tambusai merupakan sinetron terbaik. Pembuatan sinetron boleh dibilang tidak ala kadarnya. Bahkan sangat serius untuk kerja sebuah media televisi. Persiapan sinetron yang konon merupakan kerja "kolosal" pertama kru TVRI ini cukup berarti membuat sinetron ini berjaya. Masa pra produksi dan riset tentang kesejarahannya memakan waktu 6 bulan. Untuk set markas tentara Belanda, tidak tanggung-tanggung kru membangunnya dengan biaya yang cukup mahal. Begitu juga dengan "hends property" seperti topi, sepatu, ikat pinggang dan tentu kostum tentara Belanda dan tentara Padri. Sebelum ke lapangan untukpengambilan gambar yang berlokasi di Riau dan Sumatera Barat serta Bandung, Kru Tuanku Tambusai mempelajari miniatur lokasi suting, ini membuktikan bahwa Tuanku Tambusai benar-benar digarap serius.

Alex Suprapto Yudo, penulis skenario cukup 'Babak Belur" untuk mengangkat pahlawan yagn kurang di kenal ini. Beberapa  kali skenario dirombak dan direvisi. Tanpa refernsi dan bantuan pihak Pemda Riau dalam keberaadaan sejarahnya, takkan mungkin sinetron Tuanku Tambusai menjadi tontonan yang menarik ketika ditayangkan TVRI.

Irwinsyah takkan diragukan berkarya lewat audio visual elektronik itu, Pada FFI 1988 dia mendapat piala Vidia untuk sinetron "Sayekti dan Hanafi" dan konon telah di putar di seratus negara, selalu diikutsertakan di berbagai festival dil luar negeri. 

Banyak yang pro dan kontra tentang hasil garapan Irwinsyah lewat Tuanku Tambusai. Hasil 'lukisan'nya itu ada yang mengatakan 'mengada-ada'. Namun Irwinsyah telah mencoba mendekati sejarah Tambusai. Dan membangkitkan semangat orang muda untuk mengenal pahlawannya. 

Sinetron Tuanku Tambusai dilakoni oleh Cok Simbara sebagai Tuanku Tambusai, Tino Karno sebagai Bidin, Ferry Fadly sebagai Maringgit, Renny Djayusman sebagai Isteri Tuanku Tambusai, Agus Melasz sebagai De Stuller, S. Bono sebagai Be Richmond, Ahmad Nugraha sebagai Kohar dan didukung oleh ratusan figuran Riau dan Sumatera Barat. 

Tuanku Tambusai demikian namanya. Merupakan salah seorang panglima Tuanku Imam Bonjol yang berperang melawan Belanda, setelah Pangeran Diponegoro dapat di taklukkan Belanda. Sejarah membuktikan bahwa Tuanku Imam Bonjol dan sekutunya dapat di taklukkan pula oleh Belanda. Tapi dengan perlawanan yang sengit dan pantang menyerah dari tentara Padri. 

Sinetron ini tidak selalu menggambarkan suasana peperangan. Tapi juga konflik-konflik batin yang berkecamuk pada pasukan Tambusai. Untuk itu, Tuanku Tambusai selalu berhati dingin dan berlapang dada dengan laporan-laporan prajuritnya. Meski anak buahnya sudah kena penyakit rindu kampung halaman, karena bertahun-tahun bergerilya. Tuanku Tambusai tidak hanya pimpinan perang, tapi dia juga ulama yang disegani. Lewat keberadaannya inilah, petuah-petuah berhamburan, dia tidak hanya mengupas strategi perang, tapi juga manusia dengan Tuhannya dan manusia dengan manusia. Meski adegan Tambusai berkhotbah seakan lamban, namun Irwinsyah tak membuangnya, karena ada 'missi' didalamnya. 

Penataan Cahaya cukp apik. Lorong-lorong markas Belanda yang di Bandung cukup menggambarkan suasana. Kamera cukup jeli menangkap detail-detail setiap adegan yang dihadirkan. Apa yagn di sampaikan Tambusai cukup kompleks. Soal toleransi beragama dipaparkan lewat peran Maringgit, sosok pemuda animisme yang bersimpatik terhadap gerakan tentara Padri, Lalu sosok Bidin yang hilang keseimbangan melihat isterinya gantung diri, menggila dan membakar tempat perjudian. Lewat sosok ilmuwan Belanda yang riset, lalu tertangkapnya Tambusai tidak memerlakukannya sebagai musuh. Terbuktilah tak semua orang Belanda suka penjajahan, seperti Multatuli. 

Dengan dana 300 juta, wajar kalau sinetron ini menjadi yang terbaik. Sebab segala sesuatu dikerjakan sesuai konsep yang telah di sepakati. Inilah membuat sinetron Tambusai menjadi tontonan menarik. Meski secara sinematography sinetron Tambusai bisa lebih baik, tapi Irwinsyah hanya memberikan batas waktu 40 hari untuk menyelesaikan suting yang sarat dengan misi, baik sejarah maupun agama. ~ MF 114/82 Tahun VII, 10 - 23 Nov 1990.

Monday, February 23, 2026

ADE GIULIANO, PENATA RAMBUT MAIN FILM

 


ADE GIULIANO, PENATA RAMBUT MAIN FILM , (Berita Lawas). Pada era 1960an, film-film Italia pernah merajalela di bioskop-bioskop Indonesia. Di antara bintang-bintang koboi yang sangat terkenal adalah Giuliano Gemma. Nah, sekarang dalam perfilman Indonesia juga ada Ade Giuliano. Lalu apa kira-kira ada hubungan dengan kedua Giuliano ini?

"Memang sih hubungan darah tidak ada, tapi dalam tubuh saya juga masih terdapat darah Italia, " aku Ade. Indo-Italia berasal dari ayah Primus Saleh, yang asli sunda bergabung dengan ibu Ellydemezza dari Italia.

Dilahirkan pada 22 September 1968, sejak kecil Ade sudah akrab dengan mobil. Harap maklum, bokapnya memang jual beli mobil, khususnya Datsun Nissan. "Dulu papa bergabung dengan Indo kaya, tapi sekarang sudah berdiri sendiri, ".

Kemahiran Ade mengendarai mobil berlanjut hingga hobi rally. "Saya ikut perkumpulan penggemar rally mobil Artajaya yang di pimpin Benny Kurnadi." Kegemaran yang lain, memangkas dan menata rambut . Ilmunya di pelajari dari Rudy Hadisuwarno yang sudah sangat tersohor di ibukota. Selepas SMA, Ade malah menjadi hairdresser di "Rudy Salon", Ratu Plaza. 

"Tapi sekarang saya mulai sibuk main film, terpaksa kerjaan di salon cuma freelancer saja, dalam arti kalau sedang senggang saya datang, kalau tidak ya tidak apa-apa," kilahnya. 

Debutnya di film diawali lewat film remaja "Si Roy" arahan Achiel Nasrun. Perannya sebagai pemuda gedongan yang bersaing dengan Ryan Hidayat untuk mendapatkan cinta Margie Dayana. Persaingan berlangsung cukup seru sampai terjadi adu j o t o s beberapa kali. 

Denga perawakan tinggi 1,77 meter dan berat 72 kilo ini sebenarnya Ade lebih tegap daripada Ryan. Tak urung karena heronya Ryan, maka tokoh yang diperankan Ade harus kalah, kena gebuk sampai terjungkal. Apa Ade punya bekal ilmu bela diri? "Dulu pernah juga belajar sedikit sedikit , tapi kemudian lebih memilih hobi berenang. Terus terang saya kurang senang main kasar, kala dalam film kelihatannya saya saling membenci Ryan, itu kan cuma pura-pura. Diluar film bersahabat kok. Film kedua Nakalnya Anak Muda tetap diarahkan Achiel Nasrun, juga kembali berhadapan dengan Ryan Hidayat. Sedangkan film ketiga adalah Boleh-boleh saja dengan sutradara Hadi Purnomo, merupakan drama remaja campur komedi. 


MF No. 094/62/Tahun VI 3 - 16 Feb 1990

ARIF RIVAN

 


ARIF RIVAN, Tidak Bisa Casting Rangkap (Berita Lawas). Untuk sepekan Film TV akhir tahun 1989, Arif Rivan berlakon menjadi Radeng Pengung. Cerita komedi berjudul Raden Pengung, itu berdasar skenario Arswendo Atmowiloto dan sutradara Mustafa. Karena film TV itu pula yang membuatnya marah kepad dirinya sendiri. Kenapa bisa begitu? Karena  Arif Rivan tidak puas. "Saya tidak puas karena ketika mempelajari karakter Raden Pengung terburu-buru. Bayangkan cuma 3 hari waktu saya mempelajarinya."kata artis kelahiran Padang 1 November 1951. "Apalagi cerita komedi. Dan komedinya karena karakter. " ujar anak bungsu dari 7 bersaudara ini. Padahal dia pernah berhasil melakoni cerita komedi "Nujum Pak Belalang" ketika sepekan Film Tradisional TV pada Mei 1989 di TVRI, ketika it dia melakoni seorang Raja Melayu di Sumatera Timur. 

"Ketika itu, waktu saya mempelajari karakter cukup. Apalagi didukung oleh Artis yagn berpengalaman, " lanjutnya. Untuk mempelajari karakter bagi Arif Rivan tidak cukup hanya 3 atau 5 hari. 

"Itulah sebabnya saya tidak berani menerima casting pada saat bersamaan. Kalau sudah selesai satu, barulah yang satu lagi saya terima, " kilah artis ini. Kiranya Arif Rivan mempunyai sikap juga untuk menerima tawaran. Padahal banyak artis selagi laku berani menerima tawaran 3 sampai 4 casting sekaligus. "Saya bisa saja begitu, tapi untuk mempelajari karakter kan tidak bisa terburu-buru, " tangkisnya. 

Arif Rivan pertama sekali terjun ke dunia akting melalui layar gelas. "Biar honor main TV kecil, saya puas. Selain waktu sutingnya singkat, juga kita bisa akrab dengan kru serta sutradaranya," katanya. Karena alasan itu pula membuat Arif Rivan bersedia melakoni Herman dalam film serial TV "Tembang Di Tengah Padang" sutradara Darto Joned. Ia melakoni seorang insinyur yang mengabdi di desa.  


MF 095/63/Tahun VI, 17 Februari - 2 Maret 1990

Saturday, February 21, 2026

NIKE ARDILLA MELAHAP APA SAJA


Nike Ardilla, nama cewek ini. Ia memang berawal dari menekuni dunia nyanyi. Manggung kesana kemari hingga memasuki dapur rekaman.

Kasmaran yang di tangani Slamet Rahardjo merupakan debut pertamanya. Lalu Nike kebagian casting dalam film Kabayan Saba Gota dan Gadis Foto Model. Belum lagi dalam dunia layar kaca, Nike sempat nongol dalam sinetron yang berjudul Cinta Alisa. 

Tak heran, Achiel Nasrun sutradara film Nakalnya Anak Muda berani menggaet Nike Ardilla menjadi peran utamanya dengan memerankan dua tokoh sekaligus dalam film itu. 

Ternyata sejak kecil nama Nike yang lahir 27 Desember 1975 sudah punya cita-cita jadi bintang film. "Waktu saya belum sekolah, saya sering nyanyi di atas meja makan. Dan kalau setiap bangun tidur harus di foto. Kalau nggak saya nangis, " begitu kenang Nike Ardilla yang merupakan siswi kelas III SMP 30 Bandung. 

"Jangan Lupa ya, Nike Ardilla ini nama untuk main film. Nama aslinya Nike Ratnadilla, Nama itu dari produser yang sudah disetujui mama. Nah , kalau Nike Astrina itu yang ngasih mas Denny Sabri, itu untuk musik. "

Nike Ardilla suka makanan jenis apa saja. Suka jenis musik apa saja, Suka kerja apa saja, Suka peran apa saja, tapi untuk memilih cowok idamamnya Nike tetap punya Idola, "Pokoknya yang nggak suka merokok, mengerti sama ike, baik sama Nike dan.. tentu yang Nike Suka.".


~MF 094/62/TahunVI, 3 - 16 Feb 1990~

AMOROSO KATAMSI, Pernah Jadi Tukang Becak!

 


AMOROSO KATAMSI, Pernah Jadi Tukang Becak! (Berita Lawas). Dr. Amoroso Katamsi pemeran Pak Harto dalam film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S/PKI ternyata pernah menjadi soerang penarik becak. Tapi jangan salah, pekerjaan yagn mengandalkan otot-otot itu dia geluti hanya dalam cerita sandiwara TVRI. Persisnya tahun 1973 tak lama sesudah dia dipindahkan tugasnya ke Jakarta dari Cilacap. 

"Begitu saya pindah ke Jakarta, langsung diajak kawan-kawan main sandiwara lagi," kenang Amoroso Katamsi jebolan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada Yogya tahun 1966. Apa judul Sandiwaranya? "Wah saya lupa. Yang saya ingat cuma pengarah acaranya Amir Hamzah, "katanya sambil mencoba mengingat ingat. 

Pamen ABRI berpangkat kolonel TNI AL ii memang bukan orang baru di bidang teater. Ketika masih menjadi mahasiswa di Yogyakarta, Tam demikian panggilan akrabnya terlibat aktif dalam kegiatan pentas. Tahun '62-64 dia jadi anggota grup studi drama Yogya dibawah asuhan WS Rendra, kemudian Tater Muslim ('63-66). Selesai kuliah Amoroso memasuki dinas TNI AL (1966) dan selama tiga tahun hingga 1969 ditempatkan di kapal Skadron 31 (Sebagai dokter kapal). Turun dari kapal dia ditempatkan di Lanal TNI AL  Cilacap seabgai kepala kesehatan, hingga kepindahannya ke Jakarta tahun 1973. Selama bertugas di darat itu Amoroso sempat membentuk grup Teater Widjajakusumah di Cilacap. 

Kecintaanya terhadap dunia teater ini rupanya sudah mendarah daging bagi putra pasangan Pak Slamet Martorahardjo/Iman Sopijay yang dilahirkan di Jakarta  21 Oktober 1940. Walaupun sehari-harinya dia cukup sibuk dengan tugasnya di lingkungan TNI AL, namun dia tak melewatkan kesempatan untuk tetap manggung, termasuk kegiatannya dengan Teater Kecilnya Arifin C Noer. 

Bertolak dari dunia panggung pulalah Amoroso Katamsi diajak main film. Dimulai dengan film semi dokumenter Darah Ibuku (1976). Disusul Cinta Abadi, Menanti Kelahiran, Terminal Cinta dan banyak lagi. Kesempatan paling berharga dan mungkin tak bisa dilupakan seumur hidup ialah ketika dipercaya memerankan tokoh Mayjen Soeharto dalam film Penumpasan G 30 S/PKI, sebuah film yang mengungkap peristiwa berdarah G 30 S/PKI.

Tidak banyak orang tahu, bahwa Amoroso ketika masih menjadi mahasiswa dulu (1962-1966) adalah juga seorang penyanyi seriosa di samping penyanyi koor. Kegiatan dunia tarik suara memang sejak lama dia tinggalkan, namun kegiatan akting tetap akan dia pertahankan sampai entah kapan. 

"Kebetulan pimpinan memaklumi kegemaran saya," paparnya perihal dunia akting yagn digelutinya selama ini. Jadi kalau ada tawaran main film dan kebetulan waktunya memungkinkan biasanya Pak Dokter yang Pamen ABRI ini diberi kelonggaran oleh pimpinannya. Tapi seringkali juga persis ada tawaran dia sedang sibuk-sibuknya di kantor, sehingga sulit meninggalkan tugas. Kalau terjadi begitu maka panggilan tugas biasanya lebih diutamakan. 

~MF 093/61 Th VI, 20 Jan - 2 Feb 1990

Friday, February 20, 2026

SAUR SEPUH 5, BIKSU SAKTI DAN PETUALANGAN CINTA LASMINI

 


SAUR SEPUH 5, BIKSU SAKTI DAN PETUALANGAN CINTA LASMINI (Cerita Lawas). Saur sepuh yang pernah memecahkan rekor sebagai film terlaris sepanjang masa dalam sejarah perfilman Indonesia, dilanjutkan pembuatannya. Setelah episode pertama, Satria Madangkara, disusul Pesanggrahan Keramat, Kembang Gunung Lawu dan Titisan darah Biru yang kesemuannya digarap Imam Tantowi, kini di episode ke 5, Istana Atap Langit, pengarahannya beralih ke tangan Torro Margens. 

Para pemain utama kembali bermain  Murti Sari Dewi si pendekar genit Lasmini, Fendy Pradana Prabu Brama Kumbara raja Madangkara, Elly Ermawatie si ketus judes Mantili, adik Brama, dibantu duet Lamting-Joseph Hungan sebagai Lugina dan Kijara, sepasang tokoh aneh musuh Brama serta Candy Satrio melanjutkan perannya sebagai Bentar. 

Munculnya tokoh-tokoh baru, dua rahib sakti dari Tibet, Biksu Kampala dan Biksu Targu di perankan oleh Golden Kasmara dan Hans Wanaghi, Datuk Saluntung penguasa Tanah Malaka diperankan oleh Baron Hermanto, Pendekar Ilalang oleh bintang tamu Gito Gilas, Raden Wanapati oleh Agus Kuncoro, juga Fitria Anwar yang berperan sebagai Harnum setelah sebelumnya di Saur Sepuh 3 berperan sebagai Dewi Paramitha. Plus 4 murid Lasmini yang diperankan oleh empat remaja, Hilda Ridwan Mas, Anita Hakim Ida, Dagmar, Gusti Retno. Tokoh-tokoh yang tak asing bagi pendengar setia serial sandiwara radio karangan Niki Kosasih yang berjaya di era pertengahan 80an .

Di banding empat episode pertama, nampak jelas berbeda kostum parara tokoh.  Penata Busana Nelwan Anwar berdalih "Cerita ini sebenarnya fiktif. Terjadi di negeri dan zaman antah berantah, jadi sah saja kalau busana Lasmini dan murid-muridnya dibuat sensual dan glamour, tak sekedar kone cepol dan berkain batik. 

Tiga grup fighting instructor bekerjasama menata adegan-adegan pertarungan seru yang meyakinkan dibawah pimpinan Sutrisno Wijaya, Eddy S Yonathan dan Robert Santosa . 

Sementara Kamerawan kawakan Tantra Suryadi mempin tiga kamera Ari-3 untuk pengambilan gambar jernih di lokasi Taman Mini Indonesia Indah dan Taman Margasatwa Ragunan. Suting berlangsung tiga bulan. Kendati bujet tak sebesar produski pertama (Satu Milyar) namun sudahmenghabiskan lebih dari 600juta. 

Petualangan Cinta Lasmini. Episode ke 5 ini merupakan kelanjutan langsung episode ke 3 Kembang Gunung lawu. Pada akhir film terlihat Lasmini  yang pingan seelah duel sengit dengan Mantili, dilarung ke laut. Seperti bisa di duga ia belum ditakdirkan ajal. Ditolong Datuk Saluntung tokoh sakti dari Tanah Malaka. 

Lasmini di sembuhkan, dan di peristri oleh Datuk Saluntung. Tibalah dua rahib sakti dari Tibet. Biksu Targhu dan Biksu Kampala untuk bertemu Datuk Saluntung. Mereka ingin pergi ke Jawa Dwipa untuk mencari Brama Kumbara. Melihat kesaktian mereka, Lasmini menjadi cemas. Dalam hati kecilnya ia memang masih mencintai Brama. Maka iapun pamit pada Saluntung untuk memberi bisikan pada Brama tentang ancaman dua biksu tersebut. 

Ketika Lasmini sendiri mencoba mencegah, ia dikalahkan dengan mudah. Berita pun bertiup ke istana Madangkara. Justru sang Prabu tengah bersemedi untuk menciptakan gabungan ilmu-ilmu puncak. Maka Panglima Ringkin mengutus Daha dan Landu untuk melacak niat kedua Biksu. Namun kedua utusan pontang panting kena labrak. Saat lari, Daha dan Landu bertemu Lasmini yang mengingatkan adanya ancaman terhadap Brama. 

Mantili malah salah paham. Menduga Lasmini yang sengaja mendatangkan kedua Biksu. Iapun mengundang Ki Jara dan Lugina, sedang Raden Bentar resah sendiri karena masih menyimpan rasa terhadap Lasmini. 

Bentruk antar pendekar berbuntut tewasnya Biksu Targhu dan Lugina secara Sampyuh. Gugurnya sang saudara seperguruan membuat Kampala murka tak kepalang. Ki Jara dihajar ringsek. Ada orang yagn secara sembunyi menambah penderitaan dengan mempercepat kematian dengan senjatanya anggrek. Tepat pada saat itulah Lasmini muncul seolah melerai. Kampala yang dilanda emosi diajak ke padepokan Anggrek Jingga milik Lasmini. 

Usai memperabukan jenazah Biksu Targhu, Kampala yang berduka di rayu Lasmini. Ternyata iman sang Biksu tidak tergoyahkan. Lasmini menghalalkan segala cara, menuang racun kedalam minuman. Hebatnya meski keracunan, Kampala masih bisa menggebah keempat murid Lasmini sebelum melesat kabur. Lasmini batal mengejar karena di cegat oleh Mantili yang tiba-tiba muncul. Dua pendekar wanita ini langsung saja adu mulut dan pedang. 

Biksu Kampala ditolong Bentar, kembali ke padepokan Anggrek Jingga. Bertepatan dengan Robohnya Mantili dan Lasmini yagn sama-sama luka dalam. Lasmini ditolong oleh Aki Kolot, tokoh sakti yang sudah mengundurkan diri dari dunia persilatan, sedangkan mantili diobati oleh Biksu Kampala. 

Mantili menghadap Brama, mengungkapkan tujuan Biksu Kampala yang sebenarnya ingin bertukar ilmu secara persahabatan. Brama dan Kampala mulai tertanding. Sama tinggi ilmunya dan hasilnya dihitung seri karena sama-sama terluka. Di akhir kisah, Bentar ikut berguru ke Tibet bersama Biksu Kampala. 


Thursday, February 19, 2026

AMAK BALJUN JADI TUKANG PIJAT DI CAS CIS CUS

 


AMAK BALJUN JADI TUKANG PIJAT DI CAS CIS CUS. "Ini film komedi pintar. Tidak sekonyol film komedi lain. Ada segi intelektualnya, " kata Amak Baljun memberi komentar tentang skenario film Cas Cis Cus. 

Lho, kok, berani-beraninya ngasih komentar. Lalu apa hubungannya dengan Cas Cis Cus? Jangan buru-buru emosi. Amak Baljun, senior Teater Kecil yang juga menjadi direktur sebuah PT yang menangani barang-barang cetakan,  ikut meramaikan film Cas Cis Cus. Dalam film ini, Amak begitu panggilan akrabnya memerankan tokoh Item. Seorang tua yang buta, punya jabatan jadi tukang pijat. Karena sering memicat nenek Cas Cis Cus, hati dua insan kakek nenek ini pun bergetar. Lalu mereka kawin dengan tuntutan harus diramaikan dengan musik dangdut. Dasar nenek!. 

Pak item alias Amak Baljun ini dilahirkan di Surabaya, 12 Juli 1944. Sejak kecil aktif di dunia seni. Lalu tahun 1972 menikah dengan seorang wanita Betawi. Dalam dunia seni peran, Amak Baljun selalu totalitas dalam bermain. Ia juga dikenal sebagai Si Komarudin dalam film Janur Kuning .

~MF 093/61 Th VI, 20 Jan - 2 Feb 1990

Wednesday, February 18, 2026

SUTING FILM RAWING II


 SUTING FILM RAWING II, Lesunya Perfilman Nasional tidak membuat produser maupun sineas negeri ini staknasi. Sebaliknya, keadaan yang ada dijadikan semangat untuk mencari terobosan baru dalam memproduksi sebuah film. 

Alternatifnya tidak hanya anggaran di perketat, tapi juga sistem penggarapannya. Demikian produser Andi Mulyo yang kini berbendera PT. Elang Perkasa Fim menggerakan 'armadanya'. beberapa film telah diuji coba, diantaranya Saur Sepuh V, Angling Dharma II dan Tutur Tinular IV. Ketiganya action klasik tersebut di produksi didalam kota jakarta berlokasi di Taman mini Indonesia Indah dan  Kebon Binatang Ragunan. Meski rada lemah dalam sinematography, tapi lumayan dalam pemasukan. Dalam kondisi perfilman lagi lesu, ternyata sistem ini cukup efektif. 

Bukan hal yang mengagetkan bila Rawing II, film tema action klasik ini 100% berlokasi di Jakarta. Tommy Burnama selaku sutradara, membikin film tersebut 80% berlokasi di Pulo Mas Pacuan Kuda. Suatu hal yagn jarang terjadi membikin film tema action klasik di tengah kota yang padat penduduk. 

Area Lokasi suting paling banter 1000 meterr persegi, sementara di sekelilingnya terhampar kawasan rumah elite. Lokasi tersebut lebih mirip sebuah studio, hanya saja tak beratap. Dua bangunan utama, rumah panggung yang tak jelas akar budayanya, menjadi titik sentral tempat permasalahan (konflik) terjadi. Batang pohon akasia seperti dewa penolong dapat dijadikan bertenggernya kawat sling. 

Bangunan Induk tersebut dibikin dengan biaya tidak terlalu mahal, kayu rombengan dengan atap nipah kering sebagai bahan dasarnya cukup artistik untuk  kelas film action. Delsy Sjamsumar, selaku penata artistik cukup jeli memanfaatkan gundukan tanah sperti sebuah lembah di tengah bukit, di sebuah pedesaan. Kalau bisa di duga, semahal-mahalnya film ini paling banter menghabiskan dana 150 juta. Namun, anggaran bukan sebuah alasan untuk tidak bisa membikin film laku. 

Dari keseluruhan suting, nyaris 75% adegan dibuat malam hari. Sangat menolong sekali untuk dapat menyolong lampu-lampu jalanan , maupun lampu-lampu yang datang dari rumah dikawasan elit itu. Kalau mau jujur, lokasi tak layak untuk membikin film bertema klasik. Kalau kamera berputar 90 derajat maka kamerawan akan menyapu atmospher yang berbau modern. 

Thomas Susanto selaku kamerawan tidak mau tinggal diam, akalnya cukup jeli mencari angle kamera. "Mau tidak mau, saya lebih banyak mengambil low angle, " katanya. Dengan menyapu kamera mengarah ke langit, menutupi atmospher modern. "Saya harus ekstra kerja keras, " katanya disela suting berlangsung. Tak jarang juga Thomas Susanto memanfaatkan sling untuk mencari kedinamisan angle. Dengan sling apa adanya, masih primitif bila dibangingkan film impor, tak membuat kru yang lainnya patah semangat. Malah sebaliknya, keinginan kru membikin film laku sangat menggebu gebu. 

"Kami tidak mau berteiak menangisi lesunya perfilman, sekarang bagi kami adalah membikin film laku, " kata seorang kru dari departemen artistik. Disana sini masih terdengar keluhan kru tentang honor film. "Kecil tidak apa-apalah, yang penting bisa kerja, " ujar kru lainnya yang tak mau di sebutkan jati dirinya. 

"Setelah dilihat rush-copy film ini ternyata hasilnya tidak jauh beda dengan suting di Pelabuhan Ratu atau di Pangandaran. Yang jelas tidak ada kebocoran suasana modern, " kata Tommy Burnama di sela suting. 

Agaknya sistem suting seperti ini akan terus dilaksanakan setelah diuji cukup efektif. Industri film Hongkong sendiri membikin tema action klasik berlokasi suting ditengah kota. "Ketika kru Hongkong datang ke lokasi suting kami, mereka juga menyambut gembira. Begini cara kami membikin film di negeri kami, " kata Tommy menirukan kru film Hongkong. 

*****


Rawing I sangat beda dengan Rawing II dalam episode si Rawing Pilih tanding ini. Baik dari segi bintangnya maupun krunya. Rawing I disutradarai oleh Denny HW, berlokasi di Pelabuhan Ratu dengan pelakon utama Erick Soemadinata dan Anita Sarah Boom. Sedangkan Rawing II di sutradarai oleh Tommy Burnama dengan pelakon utama Bary Prima dan Christine Terry. 

Begitu juga dalam materi cerita. Dalam episode kali ini tidak hanya mengandalkan adegan laga sebagai gacoannya. Unsur komedi dan sensualitas juga alternatif lain yang bisa menarik minat penonton untuk datang ke bioskop. 

"Saya di percayakan untuk menghadirkan komedi. Tapi mereka minta komedi slapstik, yang saya hadirkan komedi situasi. Jadi saya bermain karakter. Garis cerita memang tokoh Ki Debleng yang memegang kendali, " kata Winky Harun di sela break suting. 

Cerita berawal dari Rawing dan Ki Debleng berhasil mengamankan desanya dari gangguan perampok. Namun, sial bagi Ki Debleng, karena barang yang dicuri para perampok adalah barang Nini Iswari, isterinya. Tentu saja Nini Iswari marah-marah. Ia menduga suaminya sendiri yang telah mencuri  barang berhaganya. Muncul tuduhan lain dari isterinya, bahwa semua barang-barang yang hilang selama ini adalah kerjaan suaminya sendiri, Ki Debleng. 

Kalau memang bukan Ki Debleng yang mencuri, maka ia tidak boleh keluar malam, demikian larangan istrinya. Tatkala Rawing hendak pergi ke Perguruan Macan Liar, Ki Debleng merasa perlu ikut. Akibarnya, ia dikejar-kejar Nini Iswari. Akhirnya, Rawing berhasil mengalahkan Gempar sementara Nini Iswari berhasil menangkap Ki Debleng. 

Para Pelakon diantaranya Barry Prima (Rawing), Yurika Prastica (Nini iswari), Wingky Harun (Ki Debleng), Yoseph Hungan (Gempar), Christine Terry (Kartika) dan Sinta Naviri (Dayang). 

Dibidang kru : Tommy Burnama (Sutradara), Prawoto Soeboer Rahardjo (Astrada) Thomas Susanto (Kameramen), Delsy Sjamsumar (Penata Artistik), Usman Jiro (Pencatat Skrip), Karim Muda (Pimpinan Produksi ) dan Naryono Hadi sebagai Pimpinan Unit. 


MF : 178/145/THIX 1-14 Mei 1993



Monday, February 16, 2026

TEMBANG DI TENGAH PADANG, Suting Sederhana, Namun Selalu di tunggu

 


TEMBANG DI TENGAH PADANG, Suting Sederhana, Namun Selalu di tunggu (Berita Lawas).Persaingan film seri dalam negeri yang ditayangkan TVRI cukup ketat seperti antara Jendela Rumah Kita, Sartika, Keluarga Rahmat, Pak Kontak dan Tembang di Tengah Padang. Film seri Tembang di Tengah Padang sempat terhenti masa putarnya di TVRI bukan berarti film seri itu tak bergeming lalu mati. "Kami terhenti karena masalah teknis saja, " kata Darto Joned selaku sutradara. 

Dan film seri itu bangkit untuk menggebrak kembali. Suting mengambil lokasi di Segunung Cipanas, Bogor dan Muara Enim. Dalam satu paket mereka kemas enam episode sekaligus.

Semula film seri ini berjudul Serumpun Bambu lalu kemudian berganti dengan Tembang di Tengah Padang. "Penggantian judul bukan berarti kami mencari bentuk baru. Tidak sama sekali. Supaya dekat dengan masyarakat saja. Kalau tembang itu kan sederhana, "lanjut Darto Joned yang menyutradarai film seri ini. 

Awal berdirinya film seri ini terjadi lima tahun lalu (1985an) ketika pihak Departemen Transmigrasi ingin membuat film untuk ditayangkan di TVRI. Untuk menyutradarainya ditunjuklah Darto Joned, sementara manajemennya di percayakan kepada PT. Puyuh Sedayu Film. Pembiayaan per episode rata-rata kurang lebih 30 juta, seperti biasanya satu paket film TV. 

Kalau kita lihat film seri yang ada sekarang ini, maka pantaslah dikatakan bahwa Tembagn di Tengah Padang merupakan film seri yang sederhana, baik ide cerita, penggarapan, juga pembiayaannya. Namun demikian Darto Joned selaku sutradara mempunyai warna sendiri. Set dan suting digarap ecara apik dan profesional. Karena penggarapan yang serius, maka tak jarang suting sampai dinihari. Kami kru, pemain dan pekerja lainnya benar-benar membuat sebuah film dengan sikap kekeluargaan, " kata Darto Joned menambahkan.

Ide cerita dikatakan sederhana, karena kejadian cerita memang hidup di masyarakat. Tidak mencari-cari atau semacam gagah-gagahan untuk membuat cerita. Yang utama jelas menggambarkan kehidupan transmigrasi. Dan dari film seri ini juga melemparkan pesan moral kepada penonton. Selain itu tidak untuk mengangkat satu orang pemain. Pembagian perannya merata. Tidak ada yang dilebihkan porsinya. 

Dalam Episode Wiryo dan Kemal, yang saat itu sedang dibuat, Keduanya transmigrasi asal Jakarta, yang biasa hidup di ibukota dengan aneka kehidupan. Lalu hidup dalam alam yang jauh berbeda. Mereka berontak pada alam, tapi penyelesaian konflik tidak ada seorang nabi sebagai juru selamat. Kesadaran berontak karena situasi konflik itu sendiri.

Kalau kita lihat film seri tv seperti Jendela Rumah Kita, maka akan kita lihat kehidupan wah dari satu keluarga bekas pejuang yang punya anak sebagai juru selamat. Sartika juga menggambarkan kehidupan yang wah. Tapi Tembang di Tengah Padang mengambil lokasi yang benar-benar sederhana. Walau itu rumah insinyur sekalipun. Satu setting bisa di ciptakan menjadi beberapa suasana rumah untuk pemeran lainnya. Mereka membuat studio sendiri untuk film seri Tembang Di Tengah Padang. Bukan studio seperti TVRI yang serba canggih itu. Tapi studio sederhana yang dibangun oleh anak-anak remaja yang bergerak di Teater Sendiri di Jakarta. Dengan pengarahan Yopie selaku Art Director. 

Di tengah lokasi suting, Darto Joned kelihatan arif. Ini membuat komunikasi lancar antara pemain, kru dan sutradara. "Kami bukanlah yang terbaik, tapi telah berbuat baik untuk satu kerja film, " kata Darto Joned merendah. 

~MF 093/61 Th VI, 20 Jan - 2 Feb 1990

Sunday, February 15, 2026

SYARIEF FRIANT TERUS BELAJAR


 SYARIEF FRIANT TERUS BELAJAR! (Berita Lawas)Untuk jadi pemain film memang memerlukan pengorbanan. Paling tidak itulah yang di alami Syarief Friant. Pasalnya laki-laki tinggi besar kelahiran Ambon ini harus menggunduli rambutnya yang hitam lebat hingga plontos. "Dengan kepala plontos begini saya kebagian peran Kubilai Khan dalam film Tutur Tinular, ' katanya. 

Film itu merupakan film kesekian puluh yang dibintanginya. "Temanya laga. Dan kali ini saya diarahkan oleh Nurhadie Irawan". 

Menceritakan keterlibatannya di dunia film, Syarief menyebutkan awal terjun ke dunia film adalah tahun 1982. "Waktu itu saya diajak untuk ikut main dalam film "Pendekar Liar", katanya. Dan sejak tahun itulah, katanya ia terus ketagihan main film meskipun belum mendapat peran yang berarti. "Tapi saya senang juga. Soalnya saya terus diajak ikut main meskipun peran yang saya terima baru peran pembantu," tutur Karateka yang cuma sampai sabuk coklat ini. 

Di akuinya sampai tahun 1989 sudah lebih 40 judul film pernah melibatkan dirinya sebagai pemain. "Baik peran-peran kecil maupun peran yang agak lumayan. Terakhir sebelum membintangi Tutur Tinular , ia ikut Liliek Sudjio  dalam film Misteri Dari Gunung Merapi, " ujarnya. Di film itu sendiri Syarief mengaku masih kebagian peran sebagai Jawara anak buah Mardian. "Ya masih dalam peran banting-bantinganlah, " kata pemain yang juga pernah jadi stuntman ini. 

Toh biar baru kebagian peran-peran yang melulu berkelahi , Syarief tak berniat berhenti dari film. "Saya terus belajar kok! baik dari sutradara maupun rekan-rekan sesama pemain yang lebih senior. Saya memang nggak belajar secara formal, tapi otodidak. Biar begitu saya tetap punya niat suatu saat nanti bisa dapat peran dalam film yang temanya lain," katanya. 

Dan itu memang sudah di buktikan Syarief dengan bermain dalam film komedi. "Saya sendiri nggak tahu apa alasan Arizal mengajak saya main dalam film komedi. "Saya sih mau aja. Dan kalaupun nanti ada yagn ngajak saya ikut main drama, saya tak menolak. Soalnya saya mau main dalam film bertema apa saja, " katanya. 

~MF 093/61 Th VI, 20 Jan - 2 Feb 1990

Saturday, February 14, 2026

VALENTINE UNTUK KASIH SAYANG


 VALENTINE UNTUK KASIH SAYANG, Film Valentine dibuat untuk menyambut hari Kasih Sayang sebutan khasnya Valentine Day, 14 Februari 1990. 

Suting terakhir film Valentine di Bandung 1-8 Januari 1990 di Studio East. Sementara itu dilanjut masuk isi suara dan editing. Isi suara memakan waktu 2-3 hari, sambil Billy Budiardjo yang ilustrator musiknya mempersiapkan musik untuk film ini. 

Proses cetak copy film di lakukan di Inter Studio. Valentine sebuah film drama remaja. Diangkat dari novel karya Hilman Hariwijaya. Kisah tentang persahabatan tiga remaja yang senang musik, menari dan menyanyi. Mulanya kompak saling menyayangi, tapi kemudian lantaran situasi dan kondisi keremajaan sekali waktu menimbulkan konflik yang nyaris menghancurkan rasa persahabatan yang selama ini dibangunnya. 

Lebih-lebih lantaran terkait juga soal percintaan segitiga remaja. Sementara pendukung film ini juga bintang-bintang remaja yang sedang naik daun, Sophia Latjuba, Karina Suwandi, Dian Nitami, Arianto Wibowo, Thomas Djorgi dan Frelly E David. Film di sutradarai oleh Bobby Sandy. 

ADVENT BANGUN, DI PROTES PENGGEMAR

 


ADVENT BANGUN, DI PROTES PENGGEMAR, (Kisah Lawas) Lewat penampilannya di layar kaca duet bersama Devi Novita membawakan lagu dangdut "Pacarku Rewel" Advent Bangun seperti memprokaliirkan diri sebagai penyanyi. Sengaja memilih lagu dangdut, Advent Bangun bukan saja ingin menambah barisan artis tarik suara, sekaligus ingin mengukuhkan diri tidak saja sebagai bintang laga, tetapi juga kepengin merangkul golongan bawah yang diketahui amat dominan menggemari lagu jenis ini. 

"Mereka amat banyak. Saya ingin jadi bagian dari mereka, " katanya ditengah suting film "Mat Pelor" yang disutradarai Rachmat Kartolo di Cimelati Sukabumi Jawa Barat. Advent bangun juga menjelaskan kenapa akhir-akhir ini nampak gigih berjuang di jalur ini. 

"Berhadapan langsung dengan penggemar di saat saya menyanyi, buat diri saya membawa kepuasan tersendiri. Saya tahu persis apa yang mereka inginkan. berhadapan langsung sikap spontan mereka yang tak dibuat-buat membuat batin saya ingin membalas sikap positif demikian dengan mematangkan karier baru ini".

Itulah sebabnya ditengha kesibkan shooting saat break ia buru-buru memacu sedan Volvonya ke Cibadak . Untuk apa? "Saya harus interlokal ke Devi Novita, merancang jadwal rekaman musik untuk volume ke IV yang bakal di garap awal januari 1991 ". Devi Novita berusia 17 tahun dan baru di kelas III SMP, merupakan pasangan duetnya. 

Devi Novita sudah dikenalnya sejak 1987 ketika sama-sama mendukung film sinetron TVRI "Arus Bawah". Devi Novita yang memiliki "jam terbang" nyanyi, langsung saja merasa cocok berpasangan dengan Advent Bangun. Advent Bangun sendiri mulai melangkah tarik suara ketika sering di panggung diundang, atau pada tour PARFI di daulat penonton untuk tarik suara, ia terpaksa unjuk diri tak kalah angin. 

"Dari situ saya merasa lebih yakin bahwa saya juga bisa menyanyi, " tambahnya. Pertama kali ia muncul dalam volume lagu keroyokan : Kutak Katik bersama 10 arstis film lainnya seperti Deddy Mizwar, Harry Capri dan lain-lain, untuk kemudian diteruskan memasuki Vol II dalam album Parade artis Ndang Ndut. 

"Saya kepingin mematangkan diri di karir baru ini. Saya terus belajar dan mencoba membuat lagu sendiri. "Advent Bangun memang terus sibuk lewat film barunya ini "MAT PELOR" merupakan filmnya yang ke 54, ia juga terus sibuk melatih karate d Paspampres dan juga Kopassus Group II Cijantung. 

Ketiganya merupakan karir yang dicobanya jalan seiring masing-masing memiliki romantikanya sendiri sendiri. 

Sebagai bintang laga, Advent Bangun nyaris mogok dan mengundurkan diri, ia menjelaskan hal itu disebabkan karena ia sudah merasa jenuh dengan peran antagonis yang selalu membuatnya makin lama makin dijauhi penggemar film silat. 

"Saya selalu menerima surat protes dan kecaman. Masak selalu jadi tokoh garang, sebenarnya awal 1989 saya sudah merencanakan akan mengundurkan diri. Bagi saya menjadi aktor lagasudah biasa, tetapi kalau terus terusan ketiban peran antagonis jadi jenuh. Saya kepingin peran lain yang aneka. Saya juga rindu dapat peran yang simpatik. Bahkan akhir-akhir ini saya tergoda dengan peran kemudian. Pengin Banget", Pada akhirya Advent Bangun membatalkan rencananya. Peran-peran protagonis mengalir kehadapannya. 

"Saya kemudian juga sadar, bahwa bertahan pada ego sendiri merupakan sikap yang kurang benar. Banyak faktor yang mempengaruhi pemilihan peran dalam film. Tidak tergantung pada kemauan saya sendiri, " terusnya. 

Ia bercita-cita kelak, meniru jejak Silvester Stalone. Tidak saja bertindak sebagai pemeran utama, tetapi juga penulis skenario, sutradara, sukur-sukur kalau jadi produsernya. 

~sumber MF 119/87 Tahun VII, 19 Jan - 1 Feb 1991

Friday, February 13, 2026

BUBU SAMUDERA, PEMERAN RA YUYU dan Ki GEDONG

 


BUBU SAMUDERA, PEMERAN RA YUYU dan Ki GEDONG. TERnyata tak mudah untuk mencapai sebuah popularitas dalam dunia keartisan. Seperti diakui Bubu Samudera, aktor laga yang coba menyeruak persaingan antar bintang yang makin ketat. bermain dalam sinetron seri yang" cukup panjang, "Mahkota Majapahit", bubu mengakui bahwa ia belum menemukan karakter yang pas. "Baru sebatas memamerkan adegan bera ntem saja, " aku pria yang berperan sebagai Ra Yuyu dalam Mahkota Majapahit. 

Bersyukur Bubu mendapat kesempatan untuk memamerkan akting plus kekerasan tubuhnya lewat film layar lebar "Macho" bersama bintang laga lainnya termasuk Barry Prima. 

Berperan sebagai  tokoh mafia dengan seragam khusus tentunya, Bubu merasa beruntuk bisa bertemu Barry. "Dia banyak memberi masukan positif buat saya  termasuk juga cara manjaga kondisi tubuh, Tutur Bubu. 

Entah penampilannya yang mendukung atau memang nasib masih condong begitu, Bubu sendiri  belum nendapat jawaban pasti kenapa ia selalu kebagian peran antagonis. Kalau dalam sinteron Mahkota Majapahit dia memerankan sosok Ra Yuyu maka kesempatan berikutnya yang datang menyongsong masih saja peran serupa oleh Imam Tantowi, ustradara yang menggarap sinetron Kaca Benggala, bubu lagi-lagi kebagian peran antagonis. 

"Saya berperan sebagai  Ki Gedong, sebuah peran yagn menurut saya cukup menantang. Saya suka banget dengan peran saya kali ini, ungkap Bubu terang-terangan tanpa harus kecewa pada perannya di sinetron lain. 

Berpindah-pindah karakter dari Ra Yuyu menjadi Ki Gedong atau sebaliknya, ternyata tidak menyulitkan Bubu. Kendatikedua tokoh tersebut harus diperankannya dalam waktu yang berdekatan, tidak membuat Bubu harus sembunyi-sembunyi atau kabur dari lokasi. 

"Kebetulan kedua sinetron ini, kan masih dalam satu perumahan, " balasnya seperti ingin membela diri. 


Thursday, February 12, 2026

ARIE SANJAYA


 ARIE SANJAYA, Ada yang tahu sosok ini? Bagi yang pernah menonton Operasi Trisula, Penumpasan Sisa-Sisa PKI di Blitar Selatan,atau sinetron SCTV Perjalanan tentu masih ingat sosok ini. Ya dialah Arie Sanjaya. 

Sebagai seorang aktor yang sudah malang melintang di dunia layar perak, seperti Arie Sanjaya, memainkan sebuah tokoh sentral bukan sesuatu yang baru. Bahkan merupakan makanan sehari-hari. Pria kelahiran Ambarawa 17 Agustus 1932 ini baru merasakan kenikmatan sebagai seorang aktor, karena pada sinetron Opera Senja, Pak Arie demikian pria yang hampir seluruh rambutnya memutih ini dipercaya oleh Noto Bagaskoro untuk menggantikan posisi almarhum S Bono yang waktu itu tidak bisa main karena sudah mulai sakit-sakitan. 

"Saya sungguh bersyukur dipercaya sutradara untuk menggantikan peran Pak Bono, namun kepercayaan itu buat saya sangat berat. Karena antara saya dan Pak Bono kemampuan aktingnya jauh berbeda, tapi sebagai pemain saya telah berusaha untuk bermain sebaik mungkin. Dan alhamdulillah tidak ada masalah apa-apa, kelihatannya sutradara juga puas dengan permainan saya, " tandas pemeran Pak MOchtar di sinietron yang juga dibintangi oleh Bob Sadino, Wawan Wanisar, Mathias Muchus dan Cut Rizky Theo ini. 

Aktor yang menekuni dunia film sejak tahun 1960an lewat film Si Pendek dan Sri panggung garapan sutradara Said HJ ini mengaku walau permainannya di puji sutradara karena dianggap mendekati permainan S Bono ini, tetap merasa belum maksimal. Karena dalam sinteron yang di produksi 6 episode ini, Pak Arie belum mengeluarkan seluruh kemampuannya. 

"Wah, kalau dibandingkan dengan Pak Bono, saya nggak ada apa-apanya, " ujar pria yang sudah lama menduda ini merendah. 

Ketika disinggung mengenai kesendiriannya tiba-tiba wajahnya yang menyiratkan kedamaian berubah keruh. Kemudian bintang iklan salah satu produk minuman energi dan Pasar Raya ini sorot matanya menerawang ke masa-masa indah bersama keluarganya dulu. 

"Karena usaha saya ancur, keluargapun jadi berantakan. Semua itu karena istri saya nggak bisa menerima kenyataan, terus terang waktu saya masih bekerja sebagai Manajer Imam (Industri Artis Music Management) di Surabaya dan Kalimantan, hidup saya lumayan, tapi tiba-tiba usaha tersebut mengalami kemerosotan sehingga usaha bangkrut dan akhirnya saya kembali kedunia seni seperti sekarang ini, ujarnya. 

Pak Arie kemudian sedikit mengungkapkan masa lalunya, bahwa istrinya yang tadinya terbiasa hidub berkecukupan, tidak bisa menerima perubahan nasib yang dialami suaminya. Akhirnya sang istri pilih cerai dan kawin lagi dengan salah seorang pengusaha, sementara Pak Arie masih betah menduda. 

"Saya tidak menyesal tidak menikah lagi, karena terus terang ketika saya mau memulai memikirkan untuk berumah tangga lagi, impian buruk saya berumahtangga dulu terus membayangi, jadi saya terus diliputi rasa takut ketika mau menikah lagi, " paparnya. 

~MF


Wednesday, February 11, 2026

SUCI INDAHSARI PEMERAN SI GANJEN DALAM KEMBALINYA SI MANIS

 


SUCI INDAHSARI PEMERAN SI GANJEN DALAM KEMBALINYA SI MANIS, (berita lawas). Kalau nasib lagi mujur tak seorangpun dapat menghaluanya. Begitulah kemujuan artis bernama lengkap Suci Indah Sari Rajo Bintang ini. Sebab cewek bertubuh langsing ini mengaku tak bermimpi menjadi artis. Baginya Marissa Haque ibarat dewa kemujuran. Ketika masih SMA di kota Padang, Marissa Haque menawarkan lakon sebagai Syamsiah dalam "Masih Ada Kapal ke Padang". Sejak itu saya tertarik dengan seni peran dan orangtua sangat mendukung, " kata gadis berdarah Minang ini. 

Hijrah ke Jakarta kesempatan emas datang lagi, anak ke 4 dari 5 bersaudara ini diberikan kepercayaan oleh Herry Topan menjadi "si Ganjen" kembaran Mariam dalam sinetron "Kembalinya Si Manis".

Kalau Suci mujur lagi, maka ia akan ngetop lewat Kembalinya Si Manis. Sebelum Diah Permatasari menyanggupi menjadi pemeran Si Manis, kartu populeritas sudah ditangan Suci. Perempuan yang saat itu kuliah di Interstudy of Public Relations ini tidak putus asa. ia tetap bertekad akan mampu mencapai tangga populer, "Saya tidak merasa bersaing dengan Mbak Diah Permatasari. Saya hanya ingin bermain baik, "katanya saat ditemui dilokasi suting. 

Meski tidak mengaku, diam-diam diantara Diah dan Suci terjadi persaingan. Kejadian yang paling norak adalah ketika Diah menolak foto bersama dengan Suci oleh sebuah tabloid terbitan Jakarta. Produser sudah susah payah memberi pengertian, akan tetapi keduanya tidak mau berfoto bareng. 

"Saya masih banyak belajar tentang akting. Dan saya tidak mengerti tentang persaingan, " papar Suci. 

Di lokasi Suting, Suci sering serba salah. Banyak orang menduga bahwa dirinyalah pemeran Si Manis. Kesalahan tafsiran itu kadang sering pula disalah artikan. Untung selama suting mamanya selalu mendampingi hingga hatinya sedikit terhibur. 

Kedatangan Suci ke kancah persinetronan sebagai artis sungguhan bukan dengan tangan kosong. Di kota Padang tempat ia bercita-cita menjadi pengusaha ini sudah cukup dikenal. Ia sempat menyabet gelar sebagai Uni Sumatera Barat tahun 1995, Juara III Sari Ayu 1993, dan Miss Suzuki 1993. 

Kemujuran ke 4, main film layar lebar yang datang langsung ditolaknya mentah-mentah. Alasannya ia belum siap untuk main film. Padahal peran yang ditawarkan cukup menggiurkan sebagai pemeran utama. 


~sumber berita MF 258/224/XII/4-17 Mei 1996

DIAH PERMATASARI DAN SI MANIS JEMBATAN ANCOL


 DIAH PERMATASARI DAN SI MANIS JEMBATAN ANCOL (berita lawas). Kedua Rumah produksi tidak merasa 'berperang' dalam produksi dan penayangan Si Manis jembatan Ancol, dengan alasan kedua sinetron memiliki jiwa yang berbeda. Akan tetapi secara diam-diam keduanya berebut dalam mendapatkan pemeran "Si Manis Jembatan Ancol", Diah Permatasari yang memang menjadi daya jual utamanya itu. Ketika Si Manis Jembatan Ancol versi baru diproduksi untuk layar lebar, Soraya Intercine Films dapat mengontrak Diah permatasari. Namun ketika dilayargelaskan Diah Permatasari ngacir ke Herry Topan. 

"Bagaimana saya bisa suting dengan Soraya Intercine Film, sebab waktu itu saya sedang ada ikatan kontrak dengan Starvision untuk sinetron Mutiara Cinta dan Nikita. Se"Ya ingga saya tidak apat izin dari Starvision untuk suting tempat lain karena jadwal saya cukup padat,' papar Diah Permatasari. 

Sementara itu Kiki Fatmala pemran Mariam Si Manis Jembatan Ancol produksi Soraya Intercine Film mengungkapkan "Saya sudah sering menjadi bintang di Soraya Film terutama bertemakan horor. Karena itu barangkali Atok Suharto memberikan kepercayaan peran Si Manis kepada saya" ujar Kiki Fatmala pemeran Mariam. Bagi Kiki peran Si manis sebagai peran yagn biasa-biasa Saja, tidak terlalu menantang. "Ya karena ada bumbu komedinya dan make upnya pun tidak pula menantang,".

Jika untuk Kiki Fatmala tokoh Mariam sebagai sosok yagn biasa-biasa saja, dan dari segi pemeranan tak memerlukan kemampuan akting yagn berarti, tidak demikian bagi Diah Permatasari. 

Dia berterus terang, ia sangat kecewa karena perannya sebagai Si Manis digantikan oleh Kiki Fatmala. "Karena saya sayang banget dengan Mariam. Waktu dulu saja ketika saya ke Amerika peran saya digantikan oleh Poppy Farida juga merasa sedih sebab sudah merasa terlanjur akrab dan sangat saya jiwai dan hayati," katanya melanjutkan. 

Bermain sebagai Si Manis nampaknya memang peruntungan Diah satu-satuya. Beberapa sinetron yang kemudian dimainkan tidak mau mengangkat kembali namanya. Ia cuma jadi penggembira belaka. Bahkan untuk sinetron sejenis Simanis, komedi misteri seperti Moody Juragan Kost. 

Tak heran jika Diah ngotot dengan peran Si Manis. Setelah kecewa digantikan Poppy Farida, dan kemudian didahului oleh Kiki Fatmala, kini dalam kisah lanjutannya, Diah nampak harus bersaing kembali untuk merebut perhatian masyarakat kepada Si Manis yang dirasakan Diah identik dengan dirinya. 

Diah kembali bermain dalam Kembalinya Si Manis produksi Herry Topan degan  Suci Indahsari yang berperan sebagai "Si Ganjen" kembarannya. Jumlah Peran si Manis Jembatan ancol dari Lenny Marlina, Diah Permatasari, Poppy Farida, Kiki Fatmala hingga si Ganjen Suci Indahsari. 

~sumber berita MF 258/224/XII/4-17 Mei 1996

Monday, February 9, 2026

CHRISTINE TERRY




CHRISTINE TERRY, Memulai karir artisnya dari level paling dasar, figuran film. Ia tetap tabah melakoninya. Pasang surut artis tidak ada yang bisa menduga. Meski terseok seok Christine Terry tetap dengan ambisinya, ngetop di jalur film. 

Maka, di tahun 1991 artis bernama lengkap Lucyana Christine Terry ini memasuki dunia film. Selang beberapa bulan, Dasri Yacob menggiringnya ke film lewat film action klasik, Warok Suromenggolo. "Dalam film ini, peran gua tak begitu besar, tapi cukup berani untuk menapak ke film, " kilahnya. 

Film berikutnya, ia cuma ketiban figuran diantaranya Masuk Kena Keluar Kena (Arizal), Kembalinya si Janda Kembang (Sisworo Gautama Putra) dan dalam film Misteri di Malam pengantin sutradara Atok Suharto memberinya peran lebih besar, sebagai pemeran pembantu wanita lewat film Rawing II bertema action klasik Tommy Burnama selaku sutradaranya. 

Saya besar dengan kepahitan, " kata cewek kelahiran Bandung 24 Desember 1973 ini. 

Tamparan yang datang dari sahabatnya cukup telak, tatkala mencemplungkan diri ke film. Macam-macam isyu dilemparkan ada yang bilang cewek gampangan, artis film breng sek, dan beraneka  gosip lainnya. "Cuek saja dengan ocehan seperti itu. Kalau dipikir bisa merusak diri sendiri. Kenyataan benar apa tidak, kan ada pada diri gua sendiri, " katanya. 

Seperti diketahui Christine Terry juga bermain dalam film Walet Merah dengan bintang utama Barry Prima dan Devy Permatasari. Ada yang masih ingat film-filmnya?


MF 

Sunday, February 8, 2026

BUCE MALAWAU MENCARI RUMAH UNTUK SUTING TRAGEDI BINTARO, KETEMU RUMAH ANGKER DI JAKARTA


 BUCE MALAWAU MENCARI RUMAH  UNTUK SUTING TRAGEDI BINTARO, KETEMU RUMAH ANGKER DI JAKARTA, Agaknya tak seorang pernah membayangkan kalau di Jakarta masih ada rumah penduduk yang jendelanya tak pernah di buka. Tapi itulah yang di temui Buce Malawau ketika ubek-ubekan mencaro lokasi untuk suting film "Tragedi Bintaro".

"Saya kaget juga. Kusen jendelanya malah sudah pada keropos. Tapi rumah itu masih tetap di tempati yang punya sepasang suami istri yang sudah tua. Begitu ketemu rumah itu, saya langsung saja tertarik. Padahal hati kecil saya was-was juga", kata sutradara Tragedi Bintaro ini. 

Rumah di jalan Perdatam Raya kawasan Pancoran menurut Buce, memang sangat unik. Letaknya di pojok. Di sela-sela rumah penduduk. Sekeliling umah ditutupi oleh rimbun pohon bambu dan pohon-pohon lain. Cat dindingnya yang putih sudah berubah menjadi kecoklatan. Dan lebih dari semua itu, perabotan rumah itu tampak seperti dibiarkan berantakan. 

"Mulanya sulit juga meminta izin pada pemilik rumah tersebut untuk tempat suting. Tapi lama-lama mereka benarkan juga. Dengan catatan, jendela tetap tidak boleh dibuka, " ujar Buce. Karena tak menemukan alasan yang tepat mengapa jendela tak boleh dibuka, Buce lalu mencoba bertanya pada orang-orang disekitar rumah itu. 

Tragedi Bintaro, kisah nyata yang ditulis menjadi skenario oleh Marseli ini, adalah film ke lima Buce setelah "Gerhana", "Beri Aku Waktu", "Luka diatas Luka", dan "Cinta Anak Jaman". Tapi ada yang membuat Buce, seperti katanya harus berhati-hati menerima skenario yang disodorkan padanya. "Soalnya saya tidak ingin pengalaman menggarap "Cinta Anak Zaman" yang ternyata saduran dari film barat, terulang lagi, " katanya. 

Lalu tentang rumah angker itu?, "Mudah mudahan selama 15 hari suting disitu, semua berjalan aman. Meskipun untuk itu saya dan semua kru harus ekstra hati-hati. Soalnya langit-langit rumahnya saja sudah pada bolong, " komentar Buce. "Rasanya kita memang sulit bisa percaya kalau di Jakarta masih ada rumah penduduk yang tak pernah terbuka jendelanya, " kata Buce lagi. Tapi untuk suting kali ini, Buce toh merasakan manfaat rumah seperti itu.


~MF 082/50/TH.V, 19 Agustus - 1 Sept 1988