Wednesday, February 4, 2026

NIZAR ZULMY


 NIZAR ZULMY. Kenal Barep? Dia adalah seorang bapak yang arif, lembut tatakramanya, bijaksana dalam mengambil keputusan dan menjadi panutan dalam keluarga besar Krido, pada drama seri "KISAH SERUMPUN BAMBU" karya Darto Joned yang pernah di tayangkan TVRI. 

Nizar Zulmy ini adalah sosok yang urakan, tapi tidak dengan Barep, ia tidak sama dengan Nizar bintang TV ini bekas anak pasaran alias Preman di Lubuk Pakam, Pangkalan Brandan dan Kota Medan. Dan pengalaman di pasaran itulah yang membuat ia berhasil melakoni Wiril, tokoh dalam drama "Doa seorang Narapidana" arahan Irwinsyah , drama TV yang menurutnya paling berkesan. 

Nizar Zulmy anak yang bedarah melayu Deli ini sempat menjadi panutan bagi masyarakat setelah membintangi dalam Kisah Serumpun Bambu, kemudian ia juga mendapat tantangan untuk bermain dalam drama seri karya Darto Jonet yang berjudul "Tembang Diatas Padang". Temanya agak mirip dengan Kisah Serumpun Bambu, madih berkisah tentang transmigrasi. Suting pengambilan gambar di lakukan di Sumatera. 

Apakah Tembang Diatas Padang sambungan dari Kisah Serumpun Bambu? Tidak. Memang ceritanya masih mengenai transmigrasi. Tapi transmigrasi kan macam-macam. Tidak harus selalu seperti kisah "Serumpun Bambu", kilahnya. 

Perokok berat ini merasa telah menyatu dengan "Kisah Serumpun Bambu" dan Nizar merasa sedih meninggalkannya. Tapi apaholeb buat, ternyata drama ini hanya sampai 24 episode saja. "Kami dilapangan ketika itu seperti satu keluarga. Saling membantu. Pokoknya AMK-lah (Aktor merangkap Kuli). ya kadang saya menjadi supier, menjemput artis atau keperluan lain. Kadang juga mengurus kostum dan membangun setting, " katanya. 

Nizar yang siap juga utnuk di botaki atau menguruskan badan, mengaku telah ratusan drama telah ia lakonkan. Tapi dia belum merasa apa-apa. "Saya memang ingin bermain jadi apa saja. Saya sanggup melakonkan apa saja. Dari presiden hingga tukang beling, " katanya. 

"Berdrama bagi saya bukan sekedar hobby, tapi ia sudah menjadi tuntutan hidup bagi saya, "sambungnya melanjutkan. Inilah yang membuat Nizar atau akrabnya Bung Adek ini tidak pilih-pilih peran. Asal mengena di hatinya kontan diterimanya, di dunia film pun Bung Adek bukan muka baru. Tapi dia berkeyakinan satu saat nanti ia akan melambung ke tangga terhormat dalam perfilman Indonesia. 

~MF 61/29 Tahun V, 29 Oktober- 11 November 1988

Monday, February 2, 2026

SUTING NYANYIAN CINTA DIIRINGI HUJAN

 


SUTING NYANYIAN CINTA DIIRINGI HUJAN (Kisah Lawas), Nyanyian Cinta yang kemudian berubah judul menjadi Cinta Anak Muda. Pagi itu, suasana di Pusat Perfilman H. Usmar Ismail Kuningan Jakarta mendung. Kru Film yang baru tiba pukul 08.00 bergegas menurunkan peralatan. Suasana bertambah mendung tapi mereka tetap semangat. Lokasi yang mulanya sepi mendadak jadi tontonan , apalagi melihat Nike Ardilla , mereka tidak sabar ingin sekali mendekati. 

Film yang suting hari itu berjudul Nyanyian Cinta, sutradara Hadi Purnomo dengan para pendukung selain Nike Ardilla yang ikut suting hari itu, diantaranya Hudy Prayoga, Pendatang Baru Za Rina (Zarima), Jans Stanver dan para figuran. 

Pengambilan gambar yang berlangsung didalam lingkungan Pusat Perfilman, ternyata tidak lama, hanya 45 menit. Saa itu adegan di jalanan antara Nike dengan Hudy. Namun sempat diulangi 3 kali karena Nike kurang konsentrasi. 

Sekitar pukul 11.00 kru film tiba-tiba kelabakan, ada yang mengamankan kamera dan menutupi seperangkat peralatan film yang sebagian masih ada di mobil. Cuaca hujan gerimis, tapi sutradara tetap pada pendirian, suting berjalan terus. "Wah,bisa-bisa kalangkabut, " teriak salah seorang kru yang saat itu menjaga peralatan. 

Ketika suting dilanjutkan di jalan raya dekat pom bensin, hujan bukan berhenti, namun agak deras. Atas seruan sutradara suting tetap berjalan. Kameraman yang membidikkan kamera diatas mobil jadi puning, kewalahan, ia bukan hanya membidik, tapi berusaha mengamankan  kamera dari tetesan air hujan. Pengambilan gambar saat itu adegan olehraga sepeda dan lari. 

Pukul 13.00 pengambilan gambar dilanjutkan di lokasi gedung Regent Kuningan. Karena melihat hujan semakin deras, maka suting terpaksa untuk sementara di hentikan. Madu Mathany selaku produserdalam film ini mengatakan "Film ini menghabiskan biaya sekitar Rp. 150 juta. Dalam hal ii honor tertinggi Hadi Purnomo, Sutradara film dibayar Rp. 12.5 juta, sedang peran utama dibintangi Nike Ardilla dibayar Rp. 7 juta. 

~sumber MF 119/87 Tahun VII, 19 Jan - 1 Feb 1991

PENGALAMAN SUTING AZRUL ZULMI, TAK BISA MAKAN INGAT BAU MAYAT


 PENGALAMAN SUTING AZRUL ZULMI, TAK BISA MAKAN INGAT BAU MAYAT, Bukan cuma karena kasus mayat terpotong tujuh banyak orang datang ke kamar mayat RS Cipto Mangunkusumo. Tapi Azrul Zulmi, terpaksa ikut-ikutan kesana. Bukan untuk melihat mayat terpotong-potong itu, tapi untuk suting film. Akibatnya bapak dua anak ini seminggu tidak bisa makan. 

"Bau mayat yang membusuk di kamar mayat itu membuat saya muntah-muntah. Sampai sekarangpun kenangan terhadap bau itu tetap  menghantui saya. Saya sering nggak bisa menelan nasi kalau teringat, " tuturnya. 

Awalnya adalah ketika Azrul ikut main dalam film "Tragedi Bintaro" garapan Buce Malawau. Azrul berperan sebagai bapak Junet, diharuskan menjenguk korban kecelakaan Kereta Api di Bintaro tersebut di kamar mayat. Mulanya sih Azrul menduga kamar mayat biasa-biasa saja. "Saya memang tidak takut melihat mayat. Tapi begitu masuk, baunya yang buat saya nggak tahan. Akibatnya saya muntah. Padahal sutingnya lama banget. Mana panas terik lagi, baunya jadi menguap, " cerita Azrul. 

Karena bau yang tak tertahankan itu, menurutnya, selesai suting ia buru-buru keluar. Tapi sepatunya ternyata penuh bercak karena lantai becek. "Sepatu sayapun membawa bau. Saya buang saja. Soalnya saya kehabisan akal untuk menyelamatkan sepatu saya agar tak membawa wabah penyakit ke rumah, " ujarnya. 

Pengalaman itu, menurut Azrul merupakan pengalaman paling menarik sepanjang karirnya di dunia film. "Tapi saya tidak pernah jera untuk ikut suting di kamar mayat. Asalkan perannya cukup besar, " katanya. 

Tentang film "Tragedi Bintaro" itu sendiri, Azrul mengaku dapat peran yang menantang meskipun tokoh Effendy, ayah Junet itu tidak punya kelebihan apa-apa. "Karakternya terlalu datar, " ujarnya. "api pengalaman suting di kamar mayat itu lucu juga lho. Saya terpaksa kaki ayam pulang dari lokasi, " tutur Azrul sambil tertawa, 

~MF 082/50/TH.V, 19 Agustus - 1 Sept 1988