Saturday, April 4, 2026

AGUS KUNCORO, GARA-GARA NANGKRING DI WARTEG KESABET MAIN FILM

 


AGUS KUNCORO, GARA-GARA NANGKRING DI WARTEG KESABET MAIN FILM, (Berita Lawas). Warung Tegal (Warteg) sangat berarti bagi Agus Kuncoro. Tidak hanya tempat makan murah meriah (dulu ya hehe kalau skg kayaknya mahal juga), juga tempat beranjak ke profesi baru. Yang tidak pernah diimpikan , yakni menjadi artis film. Ketika itu, lelaki kelahiran 11 Agustus 1972 ini bersama teman sekampusnya, Fak Seni Rupa IKJ makan dan obrol seni di warteg TIM (Taman Ismail Marzuki). Tanpa diketahui, Bambang Subeno soerang unit film Saur Sepuh 4 episode TItisan Darah Biru mengamati gerak geriknya. Merasa Cocok, Bambang Subeno menghampirinya. Lalu menawarkan main film, Agus hanya tertawa mendengarnya. 

"Tak menduga sama sekali,saya pikir cuma bcanda, dan tak menanggapinya, " kata pemuda blasteran Jawa-Madura ini. Segera Bambang Subeno melapor kepada Imam Tantowi dan segera meng ok kan. 

"Setelah teken kontrak baru yakin bahwa akan main film," ujarnya bangga. Sebelumnya pemilik tinggi 170 cm dan berat 52 ini hanya berkutat di bidang seni rupa. Tujuannya masuk IKJ, menjadi desainer interior. Justeru itu, Agus tidak mengenal akting. "Mau tidak mau harus belajar akting, " Perannya di film Saur Sepuh cukup berarti, melakoni Wana pati, generasi ketiga(kedua bukannya ya..)dinasti "Madangkara". Karena itu, Agus tidak cuma mengandalkan adegan laga, tapi juga kemampuan penghayatan peran. Sungguh berat memang bila buta akting disodorkan peran agak rumit. "Tapi belajar kilat dengan kru film. Mas Imam Tantowi banyak memberikan pengarahan kepada saya. Ini sangat berarti sekali sebagai artis baru," kilahnya merendah. 

Agus akan melejit menjadi jagoan Saur Sepuh, namun belum menemukan harapannya di film. Baginya, ladang film masih sebuah mimpi. Harapan belum bisa digantungkan sepenuhnya. Ini membuat lebih mencinai sebi rupa dan menggantungkan harapan. "Saya masih muda. Belum dapat memilih terbaik. Tapi, bagaimanapun akan tetap eksis di study saya, fak seni rupa IKJ, kata anak ke 4 dari 5 bersaudara ini yakin. 

Setelah berkenalan dengan akting jalan pikiran Agus seketika berubah, yakni ingin seni rupa dan seni peran berjalan berdampingan. "Seni rupa untuk masa depan, seni peran untuk cari uang".

Namun pemuda berbintang Leo ini juga berharap banyak akan meraih sukses di seni peran. Selain saingan menumpuk, sadar bahwa kemampuan akting masih terbatas. "Kalau dipikir-pikir, antara seni rupa dan seni peran tidak jauh beda Sama-sama penghayatan. Hanya visualnya yang berbeda. Tapi saya tidak pernah merasa seni peran itu gampang. "

Untuk mencapai akting maksimal, disela-sela suting, Agus selalu 'bertapa' dengan skenario. Membolak baliknya, dan menterjemahkannya sendiri tentang karakter yang dilakoni. Jiwanya juga berharap, lewat Saur Sepuh dia bisa menggebrak perfilman. Dan menjadikannya sebagai artis muda berbakat, selain artis-artis muda yang telah kadung ngetop, meski kehadiran didunia peran lewat keberuntungan nangkring di warteg. ~MF 127/94 Tahun VII, 11-24 Mei 1991

Friday, April 3, 2026

HERBY LATUPERISA


 HERBY LATUPERISSA, DIHAJAR ARI WIBOWO! (Berita Lawas). Ingin tahu siapa yang menjadikan Ari Wibowo, tokoh jagoan Jacky, bisa ilmu bela diri Tae Kwon Do? Inilah orangnya, Herby Latuperissa, pelanggan adegan-adegan berbahaya dalam film dan sinetron laga. Ketika jadi pelatih Tae Kwon Do di Universitas Trisakti, Ari Wibowo adalah salah seorang muridnya. Kini, antara murid dengan guru saling bermusuha, tentunya sebatas dalam cerita sinetron Deru Debu dan Jacky. 

Herby, penyandang DAN III Internasional Tae Kwon Do, memang jauh dari publikasi. Padahal perannya sangat besar dalam film dan sinetron laga. Bahkan, Film Macho I, hampir semua adegan perkelahian Barry Prima, dia yang melakukan. "Barry hanya melakukan dialognya saja, " kata Herby. 

Mantan juara Nasional kelas welter Tae Kwon Do tahun 1978 hingga 1991 ini, adalah salah seorang atlet nasional, seperti Lamting dan Joseph Hungan. "Lamting dari Jawa Barat, Joseph dari Jawa Tengah dan saya dariJakarta, " ujar Herby. Sekarang , disamping terus main, pelanggan tokoh antagonis, Herby jadi pelatih di berbagai tempat seperti di Universitas Tarumanegara, Trisakti dan instansi perkantoran. "karena terlalu banyak, bsiasanya saya percayakan pada asisten, ' katanya. 

Seperti juga Tanaka, Herby selalu harus puas dengan peran-peran tambahan, tapi adegannya beresiko tinggi. Puluhan film sudah diikutinya, puluhan kali pul akakinya retak, minimal keseleo. "Pengobatan terapi sudah langganan saya, " kata Herby. 

Herby sedikitpun tidak merasa risih, tatkala harus bertekuk lutut dihajar Ari Wibowo muridnya sendiri. Bahkan dia rela mengorbankan diri, terjatuh dalam posisi sulit tatkala Ari Wibowo melakukan kesalahan. Dalam sebuah scene, Herby harus melakukan tendangan putar di udara sebanyak 3 kali. Untuk menghindari pukulan telak ke wajah Ari, diingatkan agar Ari sedikit menghindar. 

"Tapi ketika itu saya lakukan entah kenapa Ari hanya berdiam diri saja. Saya cepat ambil inisiatif, tidak jadi menendang. Sebab bila saya tendang dengan kekuatan penuh, saya nggak bisa bayangkan, bagaimana resiko yang bakal dialaminya. Ketimbang berakibat fatal buat Ari mendingan saya keseleo, karena jatuh dalam suasana kurang kontrol. Akibatnya persendian kaki saya bergeser," tutur Herby yang juga main dalam sinetron Singgasana Brama Kumbara dan Kaca Benggala. ~257/223/XII/20Apr - 3 Mei 1996

Thursday, April 2, 2026

S BONO, ANAK BANDEL JEBOLAN KRATON


 S BONO, ANAK BANDEL JEBOLAN KRATON, Aku di lahirkan 4 Januari 1930 di Kudus dari hasil perkawinan R.A Siti Artiyah dan R.M Tumenggung Sudjono. Ibuku adalah puteri Bupati Demak dan ayah putra Bupati Sleman. Aku adalah anak ke tiga dari lim orang putra putri Bapak. Aku punya dua kakak wanita , seorang adik laki-laki dan seorang adik perempuan. 

Sejak kecil aku adalah anak yang tak suka repot dengan urusan orang tua. Aku lebih suka bermain-main saja. Tapi bapakku orangnya keras dan sangat disiplin. Sampai kemudian, ketika aku menjelang dewasa, Bapak tidak membenarkan aku tidur didalam rumah. 

"Kamu boleh makan, mandi, ganti pakaian di dalam rumah. Tapi kamu tidak boleh tidur didalam rumah ini, begitu ujar Bapak waktu itu. 

Akupun setiap malam akhirnya boyong ke luar. Membawa senapan angin, tikar dan mencari tempat tidur dibawah pohon yang rindang. Kerjaku di tengah malam cumalah menembaki anjing yang masuk ke pekarangan. Waktu itu para tetangga sampai ngomong kok pak Djono itu tega-teganya menyuruh anaknya tidur diluar. 

Tapi belakangan aku menyadari maksud Bapak tersebut. Rupanya Bapak ingin agar aku tidak menjadi laki-laki yang manja dan menggantungkan hidup pada orang tua. Aku akhirnya bisa mengerti itu. Sebab Bapak sendiri adalah anak yang bandel. Anak yang menyangkal tradisi kraton. Bapak tidak seperti saudara-saudaranya yang lain. Bapak keluar dari kraton dan hidup sendiri. Sekolah sendiri sampai ia kemudian fasih berbahasa Belanda. Dn, kalau kemudian Bapak diangkat jadi Bupati Rembang, lalu Bupati Kebumen, itu adalah karena usaha Bapak Sendiri. Bukan karena garis keturunannya. Dan kayaknya Bapak menginginkan agar aku bisa bersikap seperti dia. 

Aku kemudian kuliah di UGM dan nyambi jadi wartawan "Merdeka" punya pak BM Diah. Tapi tidak lama. Kuliahku juga tidak selesai. Lalu aku masuk berbagai kursus dan akademi. Aku menguasai tiga bahasa dengan baik, Bahasa Prancisku rupanya mengundang Duta Besar Prancis untuk mengirim aku kenegerinya. Setelah lama disana aku kembali sampai sekarang aku mengajarkan pengetahuanku itu pada anak-anak sekolah. Aku juga bisa Bahasa Belanda dan Inggris. Akupun sudah mendaangi banyak negara di dunia ini, tapi bukan maksudku menyombongkan diri dengan menceritakan semua ini. Sebab cerita sukses ini hanyalah awal dari kenyataan hidup yang lain sama sekali dengan keadaanku sekarang. 

Dalam kerja aku memang sukses. Aku sendiri tidak tahu kenapa Tuhan begitu murah hati padaku. Aku dari pegawai menengah kemudian diangkat jadi pegawai tinggi. Baik di kementrian Dalam Negeri, Pariwisata, Keuangan bahkan menjabat direksi di beberapa hotel. Dalam bidang Pariwisata aku malah ernah menjadi Promotion Director dan mengatur seluruh urusan pariwisata Indonesia, tapi semua itu tidak berlangsung lama. Dan adalah Bapak juga yang menghendaki aku hidup di dunia yang lain. Bukan dunia kepegawaian. Bapak bilang aku harus berhenti jadi pegawai negeri. Mulanya aku kaget juga. Tapi akhirnya aku bisa memahami maksud Bapak itu. 

Bapak rupanya ingin melihat aku mandiri. Menjadi raja  bagi diri sendiir. Sekarangpun walau hidupku tidak terlalu mewah, aku merasa bahagia. Aku bebas melakukan apa saja sesuai mauku dan kepentinganku. Aku kemudian ikut main sandiwara. Dan saat itulah, ketka aku bermain dalam sandiwara "Ksatria", Dr. Huhung menawariku untuk main film. AKu terima tawaran itu dan untuk pertama  kalinya aku kemudian tampil di layar putih lewat film "Antara Bumi dan Langit" sekitar tahun 1950an. Sejak itu berubahlah sejarah hidupku dari dunia seorang pegawai ke dunia artis film. 

Dunia kepegawaian suah aku tinggalkan sama sekali. Dan sejak filmku yang pertama, sampai sekarang sudah ratusan film aku bintangi. Malah aku bukan cuma ingin jadi pemain, tapi juga jadi sutradara, pimpinan produksi serta produser. Perjalanan karir di dunia film memang mulus meskipun tidak spektakuler. Bahkan lewat dunia film pula aku pernah mendapat sebutan 4 PALING, dari hasil angket penonton film, wartawan dan pembaca. Waktu itu diantara tahun 1950an - 1960an. Dan aku sudah menikah dengan ibunya Debby Cintya Dewi. Sebutan itu ialah Paling Bagus mainnya, Paling ganteng Orangnya, Paling Box Office Filmnya dan Paling populer.

Aku memang senang dengan sebutan itu. Tapi itu ketika aku masih muda. Aku hanya ingin bagaimana aku bisa lebih dekat dengan Tuhan. Kalau ditanya kenapa aku memilih film, aku tidak punya alasan lain sebagai jawabnya kecuali karena aku memang senang main film. Dan aku tidak tahu kapan aku berhenti main film meskipun aku tahu dari film kebutuhan hidupku dan hidup dari keluarga tidak bisa tercukupi. Karena aku bekerja dibidang lain. Aku mengajar dan melakukan apa saja.



Oh ya hampir aku lupa. Nama asliku sebenarnya Raden mas Imam Subono. Tapi ketika masih jadi pegawai aku lebih sering dipanggil dengan nama Mr. Parto. Sedang S Bono adalah namaku di film. Aku punya tujuh orang anak. Dari dua istriku terdahulu dan lima dengan istriku yang kini R.A Widyawati . Setelah aku tidak jadi pegawai bersama keluargaku aku tinggal di Gg Gading XIV No. 47 Pisangan Timur Jakarta, setelah tidak jadi pegawai semua barang-barangku yang di beri kantor aku kembalikan. Dan kini aku hidup bahagia dengan isteri dan anak-anakku meskipun tanpa pensiun. 

Sekarang inipun aku sedang bersiap-siap untuk kembali suting drama TV Pondokan dan film "Langit Takkan Runtuh", Tapi untuk apa sebenarnya aku ceritakan semua ini? Kisah hidupku. Toh tidak semenarik cerita-cerita film atau novel, Kalau soal aku di gembleng oleh sikap dan didikan Bapak yang keras dan penuh disiplin, itu aku akui dan itu memang kurasakan manfaatnya sekarang. 

Tapi maafkan aku kalau ta mengungkapkan semuanya. Aku memang menjadi sangat hati-hati sekarang ini. Aku takut salah. Aku takut menyinggung perasaan siapa saja. Baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Aku takut berdosa. Dan itulah yang membuat aku untuk berbicara tentang duniaku sendiri saja, yakni dunia film tidak kuasa. Bukan aku tidak mau, tapi aku takut menyinggung perasaan orang lain. Aku memang membatasi diri untuk itu. Aku ingin semua orang baik padaku. 

Bagiku, apa yang kumiliki sekarang memang sudah mencukupi. Artinya aku sudah cukup bahagia dengan anak-anak dan isteriku. Sungguh kok, aku takut berbuat salah lagi, kalau aku ngomongkan semuanya, nanti orang-orang menganggap aku sombong. Nah kalau nanti aku merendah, orang-orang mencibir dan bilang yang enggak-enggak tentang aku. Ah aku memang melihat hidup ini serba payah. Demikian dituturkan S Bono dalam MF No. 049/17 Tahun IV, 14 - 27 Mei 1988

Wednesday, April 1, 2026

RICCA RAHIM LEBIH NIKMAT NGURUS SUAMI

 


RICCA RAHIM LEBIH NIKMAT NGURUS SUAMI, (Kabar lawas). Bukan frustasi kalau Ricca Rahim mengaku tak lagi merasa suka main film. Bukan tak ada tawaran, tapi karena ia memang lagi tidak suka saja. Ricca Rahim kelahiran Bandung, 17 April 1956. 

"Film bagi saya bukan segala-galanya kok," kilah istri raja dangdut Rhoma Irama ini. Dan karena bukan segala-galanya inilah mengapa Ricca tenang-tenang saja meskipun tak lagi muncul di layar putih. "Saya bahagia dengan keadaan saya sekarang kok. Sekarang ini saya merasa lebih nikmat ngurus suami, rumah tangga dan anak-anak, " kata artis yang terjun ke film tahun 1977 lewat film "Jakarta Jakarta" garapan Ami Priyono, sekaligus sebagai film terbaik FFI 1978.

Main film terakhir dalam "Sunan Gunung Jati" garapan Bay Isbahi sebagai Nyi Mas Gandasari, sampai kini Ricca memagn sudah terbilang lama tidak muncul di film. "Bukan saya tidak mau. Tawaran ada kok, pak haji juga tidak melarang saya main film terus. Tapi sekarang ini saya belum siap. Saya lagi mood ngurusin rumah tangga, " ujarnya. 

Begitupun, Ricca punya alasan lain mengapa ia lebih suka ngurus rumah tangga ketimbang main film, "Saya enggak mau sembarangan lagi menerima peran. Saya tidak mau main film asal main saja. Kalau saya main film lagi, perannya harus benar-benar menantang. Harus serius dan tidak gampangan. Soalnya kalau saya main lagi, saya punya target khusus, katanya lagi..

Tak takut kehilanggan penggemar? Tak takut menjadi tidak terkenal? "Tidak. Saya tidak takut, saya sudah siap kok untuk tidak terkenal, untuk kehilangan penggemar, " jawabnya. "Kalau saya sudah merasa bahagia dengan keadaan saya sekarang ini, keadaan saya yang begitni, kenapa saya mesti takut. Tujuan hidup saya hanyalah untuk membahagiaan diri saya," katanya lagi. 

Biar begitu toh Ricca tak bisa sepenuhnya melepasan dari dunia yang pernah membawanya dikenal banyak orang tersebut. Sebagai isteri, ia toh masih setia mendampingi sang suami, Rhoma Irama kemanapun bila suting film. "Saya memang enggak bisa melupakan film, tapi untuk main film lagi, saya memang harus berpikir panjang. Betapapun saya ingin melakukan sesuatu dengan konsentrasi yang penuh. Kalau saya main film lagi sekarang ini, siapa yang bisa menjamin rumah tangga saya enggak terabaikan?" kilahnya. 

Alasan tak ingin membagi konsentrasi itu, menurutnya merupakan alasan utama yang membuatnya menghindar dari dunia film. "Tapi kalau beberapa tahun mendatang ada tawaran yang cukup menantang dalam rti peran yang diberikan pada saya itu peran yang serius bisa jadi saya akan main film lagi, " katanya. "Bagaimanapun saya harus memilih satu saja dalam hidup ini kalau mau berhasil, " tambahnya. "Soalnya apa sih yang ingin saya capai dalam hidup ini kecuali kebahagiaan?" katanya lagi. ~MF 069/37/Tahun-V/18 Feb - 3 Maret 1989

SELAMAT JALAN IBU NETTY HERAWATI


SELAMAT JALAN IBU NETTY HERAWATI (Kabar Lawas). Tak Seorangpun diantara pengurus Parfi muncul disaat pemakaman artis tiga jaman Netty Herawati, Selasa siang 7 Februari 1989. Namun sejumlah artis tua dan muda turut mengantarnya sampai ke liang lahat. Pemakaman Karet yang menjadi saksi bisu pada upacara pemakaman bintang film layar putih dan TV itu dipenuhi oleh sejumlah masyarakat pecinta film Nasional, para kerabat baik kalangan artis tua maupun muda. Bahkan superstar Persari di jaman tahun 50an, Rd. Mochtar yang menetap di Cimahi Bandung menyempatkan diri memberikan penghormatan terakhir kepada bekas lawan mainnya pada jaman jaya-jayanya dulu. 

"Heran ya, kok pada saat-saat begini tidak satupun pengurus harian Parfi yang hadir, " kata salah seorang artis muda yang tak mau disebutkan namanya. "Kalau terhadap seorang Netty Herawati yang demikian besar jasanya terhadap perfilman kita, mereka para pengurus Parfi maksutnya seolah olah tidak mau tahu apalagi terhadap kami yang masih belum apa-apa," katanya lebih lanjut. Salah seorang menimpali, apakah ini krisis kewibawaanpengurus Parfi itu terhadap anggotanya. Sepantasnya untuk hal-hal seperti ini merek amemerlukan datang sebagai tanda ikut berbelasungkawa, lanjutnya. 

Dalam hal-hal seperti ini sepertinya para pengurus Parfi itu memang acuh tak acuh. COntohnya ketika pemakaman aktor tiga jaman A.N. Alcaf, Sulastri atau bahkan mantan Ketua Umum Parfi , Sudewo beberapa waktu lalu. Para pengurus organisasi artis film itu sepertinya tidak tahu menahu terhadap anggotanya yang telah pergi untuk selama-lamanya. Malah orang-orang seperti Dicky Zulkarnaen bersama istrinya Mieke Wijaya, Basuki Zaelany, Rachmat Kartolo, Misbach Yusa Biran, Sumardjono dan sejumlah nama lainnya selalu memerlukan datang melayat dan menghantarkannya ke pemakaman. 

Sejak berangkat dari rumah duka di Jl. Otista Jakarta Timur, solidaritas justru lebih tercermin dari kalangan angkatan tua seperti janda mendiang Djamaludin Malik, Rahayu Effendi, Wahyu Sihombing dan masih banyak lagi para artis tua dan muda serta insan insan TVRI. 

Dicky Zulkarnaen sempat mengusahakan pasukan bermotor Polantas yang memandu iring-iringan jenazah Netty Herawati hingga ke pemakaman Karet. Dalam hal beginian, Dicky Zulkarnaen, Rachmat Kartolo memang selalu tampil didepan. Mereka tak segan-segan menyingsingkan lengan bajunya untuk sekedar meringankan para keluarga yang sedang berduka cita. 

Sehari sesudah pemakamanya, Rabu 8 Februari 1989 , TVRI menayangkan sinetron "Jangan Ganti Namaku" yang direncanakan terdiri tiga episode. Episode berikutnya ditayangkan 15 dan 22 Februari 1989. Drama keluarga arahan Darto Joned ini antara lain dibintangi oleh Netty Herawati dan Drs. Usman Effendi. Sesudah itu mungkin masih akan muncul cerita sinetron lainnya yang dibintangi oleh artis kelahiran Surabaya, 4 April 1930 ini karena beliau aktif sekali bermain dilayar kaca TVRI stasiun Pusat Jakarta. Seperti diketahui bersama suaminya, Darussalam, almarhumah mendirikan grup Senyum Jakarta yang selama beberapa tahun hingga akhir 70an manggung di TVRI. 

Kecuali sering tampil dalam drama TV, fragmen dan sebagainya, Netty Herawati masih sering main di film. Setelah meyelesaikan pendidikannya pada R.K. Zuzter School, almarhumah sempat malang melintang di panggung pertunjukan. Pernah ikutan dengan grup sandiwara Irama Mas, Tri Murti, Bintang Surabaya dan Bintang Timur. 

Karirnya di film dimulai tahun 1949 langsung jadi bintang utama dalam film "Sapu Tangan" tapi namanya kemudian melonjak lewat "Jembatan Merah", "Lewat Djam Malam", "Calon Duta". Dia kemudian dikontrak Persari dan menjadi bintang andalannya. 

Dikalangan artis tua, dia dikenal sebagai seorang kolega yang baik, ramah dan rendah hati. Sementara dikalangan artis-artis muda diapun dikenal sebagai seorang ibu, guru dan sekaligus sahabat yang suka memberi dan membimbing. Keteladanannya sebagai pasangan suami istri Darusalam dan Netty Herawati tetap konsisten dalam dunianya. Dan lebih dari itu baik Netty Herawati almarhumah maupun suaminya adalah insan film yang selalu setia pada profesinya dan dicintai jutaan penggemarnya. Innalillahi wainna ilaihi roji'un. ~MF 069/37/Tahun-V/18 Feb - 3 Maret 1989