Showing posts with label Fendi Pradana. Show all posts
Showing posts with label Fendi Pradana. Show all posts

Saturday, January 31, 2026

SLAMET EFFENDI "PRADANA" Tertolong Kasus Brahmana


 SLAMET EFFENDI "PRADANA" Tertolong Kasus Brahmana, (Kisah Lawas) menurut pepatah kuno, banyak jalan menuju Roma. Slamet Effendi, Indon ebrdarah campuran Jawa-Madura Cina dan Belanda itu setamat SMAnya segera menenteng ransel, meninggalkan kota kelahirannya, Jember menujur Surabaya. 

Kalau kesampaian ia tentu ingin pula sampai ke Roma, Kota yang konon penuh berbagai keindahan. Cuma sampai kini Effendi yang kemudian tenar dengan nama Fendi Pradana itu masih ngendon di Jakarta, Sibuk mencari nafkah di dunia film. 

Tentang keterlibatannya dengan dunia perfilman itu. Fendi bilang bukan cita-citanya. "Kebetulan saja ada kesempatan!" tutur Fendi. Setamat SMA lanjutnya, keinginan pertama adalah mencari lapangan kerja. "Karena itu saya pergi ke Surabaya yagn lebih besar dari Jember!" jelasnya. 

Di kota Pahlawan itu, ia mulai mendapatkan lapangan kerja yang diinginkan. Pendidikan formalnya memang hanya SMA. Tapi ia punya modal lain. Postur tubuhnya atletis, tampangpun boleh. Inilah yang menggelitik  pengusaha biro iklan untuk menawarkan kesempatan, Fendi dijadikan  model iklan untuk perusahaan rokok raksasa di Indonesia. 

Perjalanan dilanjutkan ke ibukota. Di Jakarta, ternyata kesempatan yang di peroleh memang lebih besar. Ia kini  tidak saja sebagai model iklan, tapi telah  boleh menyandang predikat aktor. 

"Semula saya tidak pernah punya cita-cita jadi bintang film!" tukas Fendi yang boleh di sejajarkan dengan nama-nama tenar lainnya di film laga seperti Advent Bangun dan Barry Prima. 

Kembali ke persoalan  pepatah diatas. Memang benar, banyak cara  dan jalan untuk mencapai tujuan. Jalan yagn di tempuh Fendi melangkah ke dunia film walau tanpa di sadari, melalui dunia periklanan, lalu pada saat itu secara kebetulan  antara Tobali Film dan Kanta Film sedang memperebutkan Ferry Fadly untuk membintangi Saur Sepuh. 

Rebutan pemain untuk peran Brahma dimana akhirnya Ferry Fadly berhasil di kontrak Tobali film untuk membintangi Brahmana Kumbara (cat . Brahmana Manggala) yang jalan ceritanya "jiplakan" cerita Saur Sepuh, membuka peluang baru buat Fendi Pradana. "Saya tidak pernah mengira kalau kesempatan untuk muncul di film itu begitu mudah buat saya. Dan yang tidak pernah terpikirkan  lagi, kesempatan pertama itu langsung pegang peran utama, " Kenang Fendi. 

Tiga serial Saur Sepuh telah mengorbitkan namanya sampai ke puncak popularitasnya. Tapi untuk Saur Sepuh IV, Fendi bilang tak akan muncul lagi. "Kontrak saya sudah habis, saya tidak mau memperpanjang kontrak itu, " jelasnya. 

~sumber MF 119/87 Tahun VII, 19 Jan - 1 Feb 1991

Tuesday, September 5, 2023

Fendy Pradana, "Tokoh Brama Terpilih dari 11.719 Calon


P
embuatan film "Saur Sepuh" tertunda-tunda terus karena belum di temukannya pemeran tokoh utamanya, Brama. Sampai ke akhir bulan Maret 1988 setelah menyeleksi 11.719 orang calon, akhirnya sutradara Imam Tantowi menetapkan pilihannya, Fendy Pradana. Pendatang Baru dalam dunia film kit yang berasal dari surabaya. 


Karate

Kesan pertama ketika bertemu dengannya adalah seorang pemuda yang bertubuh tinggi tegap. Kalau orang yang bertubuh rada pendek tentu saja harus agak mendongak untuk berbicara dengannya. Maklumlah tingginya 1,86 meter dan bobotnya tidak kurang dari 84 kilo. 

"Tapi saya perlu latihan lagi untuk menambah bobot saya barang tiga empat kilo lagi, di samping juga membuat dada saya lebih bidang", ujar pemuda berusia 23 tahun ini. 

Di lahirkan pada 3 Februari 1965, dari keluarga Citrokusumo, yang berasal dari Jember , Jawa Timur. Nama aslinya, Slamet Effendy, Nama Panggilannya, Fendy. Kini memakai nama komersil, Fendy Pradana. 

Olahraga kegemarannya balap sepeda, lari pagi dan jogging, sedangkan untuk bela diri ia pernah mengikuti Karate Kyokusinkai pada tahun 1982. Mulai tertarik pada dunia peragawan. Coba-coba menjadi peragawan dengan mengikuti peragawan beken Surabaya, George Harry Susanto. Tidak berapa lama merasa kurang cocok, dan untuk mengembangkan karirnya, Fendy hijrah ke ibukota.

"Saya belum lama kok di Jakarta ini. Baru setahun empat bulan" mengaku Fendy. "Lagipula saya tidak punya keluarga disini, sampai sekarang masih kost di Kebayoran Baru".

Di jakarta ia mulai menjadi model iklan. Diantaranya untuk iklan minuman keras, tekstil dan minyak rambut, selain kalender-kalender.

Awal 1988 ini terbukalah jalan di dunia film. Sutradara Sisworo Gautama Putra yang pertama menariknya ke dunia film berpasangan Suzanna dalam film horor "Malam Satu Suro".

Belum lagi selesai suting film perdananya ini, Iwan sudah membawanya ke Kanta Indah Film, untuk di pertemukan dengan Imam Tantowi. Pertemuan ini membuahkan hasil. Fendy di percaya memvisualkan tokoh pendekar Brama. 

"Cuma untuk membuatnya nampak berwibawa, ia harus memakai kumis", saran Tantowi saat test make up.

Fendy Pradana


Cacad

Sosoknya rada meyakinkan. Namun  seperti pepatah, "tiada gading yang tak retak" pemuda ini pun punya cacad agak mencolok, suaranya pecah dan agak gagap. 

"Saya memang pernah mengalami kecelakaan jatuh dari sepeda, belakang kepala saya terbentur  keras sekali ke aspal", kenang Fendy.

Lalu bagaimana untukurusan  main film?

Dalam "malam satu suro jelas suaranya diisi oleh dubber. Untuk "saur sepuh" Tantowi masih belum memikirkannya. Cuma mengajurkan ", "sebaiknay Fendy harus tekun berlatih fokal, mengucapkan setiap patah kata dengan jelas dan tenang.


di kutip dari Majalah Film NO. 047/15 tahun ke IV , 16 April - 29 April 1988