IN MEMORIAM! (TIDAK) UNTUNG (TIDAK) ADA GEPENG BAGIAN 1 (Berita Lawas). Gepeng, Anak Panggung yang Tragis! "Saya sekarang sadar apa artinya punya banyak teman. Saya ternyata tidak bisa sendiri terus. Saya masih membutuhkan bimbingan. Dan itulah yang membuat mengapa saya kembali ke Srimulat. Dan saya berjanji tidak akan bertingkah lagi, "ujar Gepeng, suatu hari ketika ia baru saja bergabung dengan Srimulat, pada Majalah "FILM".
Namun, disaat ia baru saja hendak memenuhi janjinya itu, nasib lain datang lebih cepat. Gepeng pergi untuk selama-lamanya, setelah penyakit lever yang ia derita merenggut nyawanya. Dunia hiburan Indonesia kehilangan satu lagi artisnya. Gaung kalimat yang mempropulerkannya "Untung Ada Saya..." mungkin saja akan terus bergema sampai beberapa tahun mendatang. Tapi kita tidak akan pernah lagi menyaksikan seorang lelaki b e g o , dengan kumis menumpuk di ujung bibir dan bicara tersendat-sendat, beraksi diatas panggung dengan langkah kaki diseret.
Lahir di desa kecil Muntilan, Jawa Tengah pada hari Jumat Kliwon, 27 Agustus 1950. Gepeng meninggal dalam usia menjelang 38 tahun di Rumas Sakit Panti Waluyo, Solo, Pukul 13. 05 WIB, Kamis 16 Juni 1988 akibat lever yang dideritanya kambuh. Ia kemudian dimakamkan keesokan harinya, Jumat, 17 Juni 1988 di pemakaman umum Bonoloyo Solo dengan dihadiri kerabat terdekatnya dan teman-temannya sesama pelawak.
Tapi siapakah Gepeng?
Lahir dari perkawinan Karso, seorang tukang kendang berusia 30 tahun dengan Tami, seorang pengrawit berusia 27 tahun dan sudah janda, putri seorang bangsawan dari Tempel, Muntilan, Gepeng adalah anak pertama yang hidupnya menjadi potret yang jelas tentang keadaan seniman-seniman tradisional pada waktu itu. Sekalipun ibunya adalah putri bangsawan, namun hidup Gepeng tidaklah gemerlapan. Sebagai anak keluarga seniman panggung, bisa dibayangkan bagaimana Gepeng kecil menghabiskan masa kanak-kanaknya. Ia lebih suka memilih ikut Bapak ibunya manggung dan belajar mendalang ketimbang pergi sekolah. Tak heran kalau iapun cuma bisa menyelesaikan sekolah hanya sampai kelas dua SD.
Kehidupan ekonomi keluarganya yang tidak menentu, akhirnya menyeret Gepeng nekat berangkat ke Jakarta dalam usianya yang masih 12 tahun. Namun ia kemudian dijemput Bapaknya untuk ikut bergabung dengan URRIL (Urusan Moril) yakni grup kesenian tentera. Namun Gepeng dan Bapaknya tak bertahan lama di grup ini. Dari sini ia kemudian gabung dengan grup wayang orang Edi Budoyo setelah sebelumnya, ketika masih di Jakarta , ia bergabung dengan Wayang Orang Pancamurti. Di WO Edi Budoyo - ini pulalah ia mengenal Supiah yang waktu kecil jadi penari dan masih kecil.~ MF No. 052/20 Tahun ke IV, 25 Juni - 8 Juli 1988
~~ Bersambung Bag 2, Gepeng Menikah dan Nenggak Alkohol
