Sunday, November 8, 2026

VERA PRIZELIA, PASANGAN SI BUTA DARI GUA HANTU

 


VERA PRIZELIA, PASANGAN SI BUTA DARI GUA HANTU (berita lawas). Namanya Vera Prizelia sebuah nama berbau barat. Ya, memang gadis yang baru berusia 19 tahun ini darahnya sedikit campuran Barat dari pihak ibu, ayahnya asli Sunda. "Saya tulen orang Indonesia, "katanya. Gadis kelahiran Bandung, 29 November 1971 ini baru tahun kemarin menamatkan SMAnya. 

Semula Vera artis tak tahu diri. Datang ke lokasi suting seenaknya. Pernah kru film break suting gara-gara menunggunya muncul di lokasi suting. Ini terjadi ketka suting film Si Buta dari Gua Hantu episode Lembah maut, sutradara H. Ratno Timoer, dia mendapat kepercayaan berlakon menjadi Ranggi, peran utama wanita. Begitu tiba di lokasi suting, kontan H Ratno Timoer marah marah. Jantung Vera tentu saja berdetak kencang. Nyaris dia menangis sejadi-jadinya kalau tidak sadar bahwa dirinya seorang artis tentu dia akan ngambek. "Syukur, saya diomelin Pak Ratno. Karena itu saya jadi tahu diri", katanya menyesali setengah mati. Sejak itu Vera mulai disiplin. "Semua orang kan belajar dari kesalahan, "sambungnya. Sejak saat itu rasa manjanya mulai memudar. Dan dia baru mengetahui bahwa modal seorang artis tidak saja kemampuan akting, atau kerupawanan, tapi juga disiplin. 

Gadis ini sebenarnya tidak begitu suka berlakon dalam film bertema aksi. Tapi apa hendak dikata, tawaran yang datang selalu action, seperti film-film yang pernah dilakoninya, Jurus Dewa Naga sebagai peran pembantu di film Barry Prima ini, kemudian pertarungan di Gua Siluman, Pancasona Mat Ireng (peran utama) dan pernah pula berlakon di layar gelas milik pemerintah dalam sinetron Topeng Pak Tepong, sutradara Oscar Anwar. Peran untuk film drama rupanya belum bergayut kepadanya. baginya tak menjadi soal. Sebab menjadi artis film sudah menjadi cita-cita sejak masih bocah ingusan. "toh kesempatan itu akan datang, "kilah gadis berbintang Scorpio ini. 

Dalam film Si Buta Dari Gua Hantu, Vera tidak menjadi artis yang jago laga. Tak satu scene pun Vera bertarung. "Saya lebih banyak bermain karakter, "katanya. "Mudah-mudahan pada kesempatan lain apa yang saya harapkan apat terkabul. "meski masih anak ingusan dalam dunia film yang Vera telah memiliki ambisi menjadi artis yang diperhitungkan tentu saja Citra. (Piala) "Citra merupakan kebanggaan insan film".

Anak kedua dari lima bersaudara pasangan Drs. H. Rachmat Saleh dan Mintari Agustin ini tak berani tinggal di Jakarta sendiri. Dia lebih banyak bermukim di rumah orangtuanya di kota Kuningan, Jawa Barat. Padahal Jakarta pusatnya orang film. Walau dia telah pula mengontrak rumah di kawasan Kemanggisan Jakarta Barat, dia jarang berada dirumahnya yang di Jakarta.

"Rumah itu lebih banyak kosong dari ditempati, "katanya. Lho kenapa ih? "Saya takut tinggal sendiri di Jakarta. Walau ada pembantu masih takut juga. Saya belum bisa jauh dari orangtua . Saya suka rindu,"ujarnya. ~MF No. 112/80 Tahun VII, 13 Okt - 26 Okt 1990

HILMAN HARIWIDJAYA, AKHIRNYA JADI LUPUS JUGA DIA

 


HILMAN HARIWIDJAYA, AKHIRNYA JADI LUPUS JUGA DIA, (berita lawas). Mengaku sudah senang menulis sejak masih SMP, lelaki ini mengesankan seorang anak muda yang sekenanya, santai, agak pendiam namun ramah. Hilman Hariwidjaya adalah "tapak" yang menanam dan menabur benih Lupus hingga ngetop  di buku dan film. Tapi lupus di film rupanya tak membuat Hilman puas. 

Berikut petikan wawancara dengan "anak kolong" kelahiran Bengkulu, 25 Agustus 1964 tersebut disela-sela suting lupus III episode "Topi-Topi Centil".

T : Hilman dulu Anda menolak untuk memerankan sendiri Lupus dalam film, tapi kenapa Lupus III ini, justru Anda sendiri yang memainkannya? Padahal Anda sudah sumpah-sumpah lho?

J : Dulunya saya memang enggak mau. Tapi banyak saran yang kemudian saya terima. Masukan-masukan dari teman-teman maupun dari pembaca, menghendaki saya sendiri yang memerankan Lupus. Kebetulan saya kenal dengan Edi SS (sutradara Lupus III). Dia bilang di coba saja. Dia juga berjanji untuk membimbing. Soalnya kita kepingin beri warna baru. Kalau kita tetap seperti dulu, kayaknya kita akan tetap kalah dengan si Boy. Soalnya kita memang sudah kalah segala-galanya dengan Boy. Termasuk biayanya. Cukongnya kan kuat banget. Saya kira ambil sela yang belum ditangani Boy. Nah, inikan harus ditangani sendiri. 

T : Menurut kamu, kegagalan Lupus I dan II itu dimana?

J : Sebetulnya Lupus I enggak gagal. Dari segi pemasarannya enggak gagal. Cuma yang kedua karena tidak ada kerjasama antara saya sebagai penulis cerita dengan sutradara. Karena istilahnya kan gini, Yang nyiptain Lupus kan saya. Nah, yang tahu Lupus itu kan saya. Saya tahu keinginan  penggemar Lupus itu kayak apa. Ketika dia difilmkan anpa mengikutsertakan saya berarti interpretasinya terserah pada sutradara. Dan itu tidak bisa pas dengan yang dimaui pembaca. Karena pembaca maunya yang kayak di buku. 

T : Lalu, dengan mainnya kamu di Lupus III, apa yang bisa ditawarkan?

J : Lebih dkat. Saya bisa menjamin, ini deket banget sama buku. Jadi kalau dia suka baca bukunya, pasti bisa senang sama film ini. 

T  : Bisa lebih sukses dari Lupus sebelumnya, maksud kamu?

J : Kalau soal sukses nggak tahu. 

T : Soal Ryan Hidayat sebagai pemeran Lupus?

J :  Kayaknya nggak ada masalah kalau soal Ryan. Yang masalah itu mungkin penyutradaraannya.  Juga ada beberapa yang  masa casting. Seperti tokoh Poppy dan yang lain-lainnya yang dianggap enggak sama dengan yang di buku. Karena penonton pada dasarnya sudah mengenal semua tokoh itu dari buku. Terlanjur sudah punya imej Lupus itu kayak gini, suasananya kayak gini. Tapi begitu disodorkn di film Lupus I dan II enggak sama, gitu. 

T : Jadi Lupus II ini kamu yakin bisa mengembalikan imej penonton terhadap Lupus?

J : Ya. Kalau yang diharapkan seperti yang di buku, kita memang benar-benar berangkat dari buku. Saya juga bikin treatmentnya. Dialog-dialognya juga dari saya. Jadi bukan dari orang-orang yang sudah dewasa. Itu yang membuat dialog-dialog Lupus dulu kaku. 

T : Figur Ryan seabgai pemeran Lupus I dan II kena enggak menurut Hilman?

J : Sebetulnya yang kita ingini dulu pemeran Lupus itu orang Indonesia asli. Yang kurangnya Ryan itu agak terlalu barat. Kecenderungan film kita kayaknya bintang-bintang Indo. Padahal msalah Lupus itu sendiri masalah yang mengIndonesi banget. 

T : Pengalaman apa yang kamu dapat dari pertama kali berakting di depan kamera?

J : Sulit. Lebih sulit dari mengarang ceritanya (tertawa).

T : Untuk jadi Lupus pakai latihan?

J : Latihan. Waktu itu satu sampai dua bulan. Itu untuk latihan dasar saja. 

T : Yang meminta Hilman main dengan kawan-kawan asli dalam Lupus III ini, kamu sendiri atau produser?

J : Ceritanya gini. Waktu kita pindah produser, saya mengajukan syarat. Pertama, ceritanya dari saya. Terus pemain seperti Gusur, Boim, Anto itu, harus yang asli. Karena memang karakternya dia. Tapi kalau Lupus, saya enggak kasih batasan. Lupus boleh dicari siapa saja. Karena saya sendiri enggak merasa identik dengan Lupus. Jadi produser boleh nyari, Lha terus ngadain sayembara. Tapi ditest...ditesst. enggak puas-puas. Kita tersendat-sendat terus. Lalu kata Edi kita tetap pilihannya pada kamu (maksudnya Hilman). Saya jawab, saya pikirin dulu. Tapi sampai akhirnya produser minta dicoba saja duu. Termasuk untuk kawan-kawan Lupus juga asli seperti di buku. Juga untuk pemeran-pemeran lainnya kita ikut nentuin siapa yang cocok. 

T : Lupus itu siapa sebenarnya?

J : Itu cuma figur rekaan saya. Saya observasi kira-kira tokoh yang bisa disenangi remaja itu kayak apa. Jadi saya cari idealnya. Tokoh yang bisa jadi idola remaja itu kayak apa. Lupus juga bukan dari masyarakat kelas atas. Dia naik bis kota. Jadi dengan menciptakan Lupus, saya berharap remaja itu bisa menikmati yang ada padanya. Sedang tokoh lain orangnya memang ada, tapi saya kembangin lagi. ~MF No. 078/46/TH V, 24 Juni - 7 Juli 1989



Saturday, November 7, 2026

SRI YUNIATI, JANJI GOMBAL UNTUK PRODUSER NAKAL


 SRI YUNIATI, JANJI GOMBAL UNTUK PRODUSER NAKAL (Film Lawas). Terlalu banyak cewek yang menjadi korban keganasan oknum orang film. Mereka di janjikan mau diberikan peran tapi sebelumnya mesti rela di gini gitu. Setelah meraup keinginannya, janji itu hanya pepesan kosong. Yang dialami Sri Yuniati juga begitu. Bedanya cweek kelahiran Bogor 14 Juni 1968, sulung dari empat bersaudara ini memiliki jurus jitu untuk menangkalnya. Ketika seorang produser pelaksana ingin meminjam tubuhnya, Yuni bilang begini "Alaah, yang gituan kecil om. Pokoknya begitu film selesai digarap, tinggal pilih hotel mana yang akan kita pakai. Okey. Setiap saat Om bisa hubingin saya, atau kita bikin janji dulu. Soalnya kalau Om kerumah, bokap pasti nggak ngasih, "kata Yuni mengulang kembali ucapannya kepada seorang produser pelaksana hidung belang. Lantas, apa film selesai Yuni bersedia tidur bareng. Tentu tidak. "Ini siasat saja. begitu pulang dari lokasi, gue kabur-kaburan tak pernah ada dirumah. Biar dia Nyaho!".

Suatu kesempatan Yuni bertemu lagi dengan produser itu dan menawarinya kembali main film. Persyaratannya tetap sama. Rupanya produser itu mau balas dendam. Begitu Yuni tiba di lokasi hanya diberi dua scene saja. "Sialan, sutradaranya udah sekongkol. Meski begitu gue untung, tidak sapai terperangkap jebakannya, "Seloroh cewek penyantap es krim ini. 

Ceritanya diatas adalah cukilan pengalaman buruk Yuni saat nyebur di ladang film. Sayang ia meminta kepada wartawan MF untuk tidak menulis nama produser pelaksana yang bermental bejat. Yuni tak kenal menyerah. Buktinya ia berhasil merangkul sejumlah judul film diantaranya : Kelabaang Wulung, Mandala Satria Tar Tar, dan Pembalasan Laba-laba Merah. Masih ada judul lain hanya tak berani menyebutkan, lantaran perannya tidak banyak. Sebuah sinetron sempat pula mengusung namanya, tapi menyesal bagi Yuni sebab sinetron tersebut tidak tayang-tayang. ~MF 099/67 Tahun VI, 14 - 27 Apr 1990



RUDY WOWOR, PERNAH JADI PEDAGANG AYAM

 


RUDY WOWOR, PERNAH JADI PEDAGANG AYAM (berita lawas). Siapa menduga sebelum dikenal di Indonesia dan punya studio sendiri di gedung Sari Ayu Martha Tilaar, Rudi Wowor, nominator lewat film "Tjoet Nja' Dhien" pernah menjadi pedagang ayam. Usaha yang dilakukannya itu memang telah menjadi sejarah hidupnya, kendati ketika masa muda ia telah berkelana ke daratanEropa. 

"Dulu, tubuh saya ini bau ayam. Ruangan kantor saya dirombak jadi kantor dagang ayam. Dimana-mana bertebaran bulu ayam, "kenangnya. Usaha yang dikelolanya sendiri itu bertahan hingga tiga bulan. 

"Sekarang kemana ayam-ayam itu?

"Masih ada kok. Tapi sudah saya serahkan pada orang lain, "lanjutnya. Dagang ayam yang ia lakukan bukan seperti di pasar-pasar, melainkan memasok ayam ke berbagai hotel, wisma dan restoran beken. 

"Jika sekarang saya masih berdagang ayam, mungkin murid-murid saya akan kabur, "katanya bergurau saat ditemui dilokasi suting di Perkebunan Tebu Sumber Harjo, Pemalang, ketika pengambilan gambar film teve "Yang Luruh Dan yang Tumbang,"yang di sutradarai Matnoor Tindaon.

Sejak film "Tjoet", Rudi nyaris nganggur dari seni peran. Setelah di gaet Matnooer. Dalam skenario yang di tulis Emil Sanossa ini, Rudi disodori peran kecil, sebagai asisten residen, saat Indonesia masih di jajah Belanda. Dan ia hanya muncul dua scene saja. 

"Bagi saya tak ada peran besar dan peran kecil. Semua sama saja, "ucapnya dengan dialek kebarat baratan. Dunia seni bagi Rudi bukan sekedar hobi melainkan telah menjadi darah daging. Pengalaman dalam  dunia akting bukan hal yang baru baginya. Ketika muda, saat berkelana ke daratan Eropa, ia banyak belajar pada seniman di sana. Sehingga ia beranggapan tak ada istilah pilih peran. Peran menurutnya adalah kekuatan bermain. Juga bukan hanya sekedar menghapal dialog dan tampil. Agaknya, itulah yang jadi  sebab ia mau menerima peran yang disodorkan Matnoor. 

Mengenai honor di TVRI, Rudi sudah memiliki standard, dan menurutnya hal itu bukan yang utama. Justru kerjasama dengan pihak TVRI sudah punya kepuasan batin sendiri, meski  ini pertama kali ia tampil di layar kaca. 

Malah rencananya, Rudi Wowor akan membuat skenario film teve. Ia merasa yakin karyanya dapat ditayangkan pihak TVRI. "Tapi saya belum tahu kapan waktunya. Saya masih sibuk. Sungguh, pada waktunya saya akan buat itu,"lontar ayah dari tiga anak ini, kalem. Aktor saya belum pandai berbahasa berbintang sagitarius ini pernah menyutradarai film "Le Potret" (1967) ketika tinggal di Paris, sedang pengambilan gambarnya di Yugoslavia. Menurutnya pula, ia berkali-kali ikut terlibat dalam pembuatan film atau sebagai pemain di daratan Eropa. 

Sesuai dengan profesinya, penata gerak, di tahun 1975 pernah menangani "Romeo Anda Juliet" yang disutradarai Ratna Sarumpaet bersama Teater Satu merah Panggung. Ketika itu Indonesia Komunikasinyapun pakai bahasa Inggris. Terus terang saya sendang membantu teater di Indonesia. Waktu mendatang pun saya ingin juga main di panggung. Kalaupun tidak ada yang mengajak, ya saya mencobanya sendiri, " kata pria kelahiran Amsterdam, 13 Desember 1941 ini. 

Kali ini Rudi sedang sibuk membantu istrinya, Reni Hoegeng, dalam persiapan pameran lukisan di ITB Bandung. Rudi menjadi pembina administrasi pameran. Melihat kemauan istrinya yang begitu besar dalam dunia seni rupa, Rudi merencanakan membuat suatu pameran lukisn dalam bentuk lain. Untuk pameran yang berbentuk  abstrak itu, ia akan berusaha memadukan beberapa unsur seni, antara lain tari (gerak), sastra, musik dan seni rupa itu sendiri. 

"Tempat bukanlah ukuran. Itu hanya status. Mungkin saya akan pilih sebuah gudang. Tinggal lagi menatanya, kok, "ujarnya sembari tersenyum. 

Komentar tentang "Yang luruh Dan Yang Tumbuh "? Saya kira film teve ini baik, Matnoor Tindaon sebagai sutradara terasa sekali kehadirannya, ia banyak mengetahui kesalahan saya, namun hal itu terselesaikan  dengan berdiskusi dengannya, "lanjutnya. 

~MF No. 078/46/TH V, 24 Juni - 7 Juli 1989

WINA WIDYAWATI, MAIN FILM LUPUS III

 


WINA WIDYAWATI, MAIN LUPUS 3 (berita lawas). Dia-usia masih muda, cewek satu ini sudah pintar jadi tukang bohong. Cuma itu bukan dalam kehidupan sebenarnya dari putri semata wayang keluarga Widodo dan Kirana Soekarno ini tentu saja. 

"Itu cuma peran saya di film "Lupus III, Topi-Topi Centil" saja kok, "celoteh Wina Widyawati. Ceritanya, Wina yang memerankan Lulu, adik Lupus, satu hari diajari bohong sama kakaknya. Cuma parahnya, cweek ini boongny akelewat banget. Bayangin ia harus bilang Lupus sakit kepala, ngadunya bukan main. Katanya, Lupus sakit beraaat. jatuh dari pohon, kepalanya retak dan mukanya bengkak serta kakinya patah. Pokoknya pengaduannya cukup bombastis.!

Sebetulnya Wina baru saja menyelesaikan ujian di SMA Tunas Karya. Rencananya, gadis ini kepingin masuk sekolah kedokteran, seperti cita-citanya semula. Menurut pengakuannya, sedikitpun ia tak memimpikan bakal terjun ke dunia film. 

"Tapi sekarang sih sudah tahu. Ternyata enak juga ya main film. Orang-orangnya baik seperti keluarga sendiri. Cita-cita jadi dokter masih tetap dong. Buat saya main film kan masih belajar. Belum tahu banyak. Pengenya sih terus main film, "kata Wina yang mulai kesengsem dalam bidang dunia peran. 

Awal karirnya itu, katanya, termasuk aneh. Ketika ia sedang jalan di Blok M, Jakarta, tiba-tiba seseorang yang tak dikenalnya mencoleknya. Ternyata si pencolek itu fotografer majalah Gadis. ia potret, lalu terpampang wajahnya dimajalah tersebut. Tau-tau di taksir untuk main film. 

"Kak Enison, astrada film "Lupus III", yang datang kerumah. Waktu itu perasaan saya gimana ya, ada senang tapi juga ada kagetnya. Sebab saya kan nggak langsung menerima tawaran itu. Mesti minta ijin mama dulu dong. Setelah mama tahu, ia membolehkan. Dan tentu saya mau, "kata WIna kelahiran Bandug, 24 Mei 1973 ini. 

Seminggu setelah menerima skenario dan dapat pengarahan sutradara Edi SS, akir Mei maka Wina pun siap berakting di depan kamera. Main film ini, diakui Wina, juga dianggap sebagai hadiah ulang tahunnya yang bersamaan saat dimulai suting. 

"Perasaan saya pertama kali main film...ah biasa saja".

Wina juga menceritakan bahwa ia melihat dulu akting Lulu di Lupus sebelumnya. Begitu ditanya tentang Lupus yang dimainkan Ryan Hidayat dulu, Wina yang belum 17 tahun usianya menjawab, "Saya lebih suka Hilman. Orangnya sederhana, tampangnya biasa-biasa saja, namn suka humor. Pokoknya cowok seperti itu yang jadi idola saya, "celoteh Wina lagi. Tampanya, type Hilman berkenan di hati gadis ini. 

Namun inilah pengakuan selanjutnya, "Dulu .. ketika umur 13 tahun, sekarang sudah nggak uh!" nah kini, Wina main film bareng dengan type cowok yang ia senangi..~MF No. 078/46/TH V, 24 Juni - 7 Juli 1989

Friday, November 6, 2026

MANGARA SIAHAAN, KALAU BINTANG FILM SUPIR TAKSI

 


MANGARA SIAHAAN, KALAU BINTANG FILM SUPIR TAKSI (Berita Lawas). Kalau suatu saat anda naik taksi di ibukota, mungkin tanpa disadari taksi itu dikemudikan oleh bintang film dan mantan Ketua II Parfi. Dialah Mangara Siahaan, seorang dari sekian banyak sopir taksi yang berpacu di jalanan Jakarta. Profesi ini telah ditekuni hampir sembilan bulan di perusahaan taksi Ratak, Jakarta. Dan ini bukan adegan film. Ini periuk nasi Mangara. 

Menurutnya, betapa banyak pengalaman yang diperoleh selama ia beralih ke profesi tersebut. Dari satu jalan ke jalan lain ia bergulir bersama sedannya menelusuri kota Jakarta. Penumpang yang dibawanya beragam tingkah polahnya. Ada yang tergopoh-gopoh mengejar waktu, ada juga yang santai. Ada yang cerewet, ada juga yang penuh pengertian. Terkadang ada beberapa penumpang yang bisik-bisik ketika wajahnya dikenali mereka. Atau ada yang ragu-ragu, lalu menanyakan langsung apakah betul sopir itu si Mangara. Semuanya ia ladeni. "Bahkan, anehnya, ada yang meminta supaya saya yang mengantar, "ucap Mangara sambil tersenyum. "Tapi saya nggak mau memonopoli. Diperusahaan, saya kan nggak sendirian. Sopir lain juga kan cari penumpang, "ujarnya. 

Profesi yang sedang Mangara jalani ini konon berawal dari kterlibatan dirinya dengan salah satu kontestan pemilu, ketika ia pilih jadi anggota PDI. Menurutnya, ia secara sadar masuk paratai tersebut, bukan sekedar ikut-ikutan. Dan iapun sudah siap menerima segala konsekuensi yang menimpanya. Tatkala seorang sutradar amenawari main film, justru ia ditolak oleh sang produser. Alasannya produser tak mau menanggung resiko, tentu jika film yang dibintanginya tak boleh beredar. Begitu pula, ungkapnya dengan film serial TVRI "Saraswati" (12 seri), namanya dicoret dari proyek tersebut. 

"Karena itu, saya realistis saja. Orang dirumah, istri dan dua anak, kan perlu makan. Ya beginilah jadinya, "kata aktor yang dipuji permainannya dalam "Binalnya Anak Muda" 1978.

"Saya mengharapkan kesenimanan saya tidak dimatikan. Yang terakhir itu tidak biasa, "lontar sang sopir yang sol sepatunya lebih cepat aus daripada sebelum ia jadi sopir. 

Mangara Monang Siahaan, dilahirkan 19 April 1947 di P. Siantar, Tapanuli Tengah, tercatat pula ia memiliki beberapa nama samaran, misalnya, Marshall, Acang, Aaron atau Phytagoras. Putra pasangan AMS Siahaan dan T. Pasaribu ini pernah kuliah di Fakultas Hukum UI, tapi tidak tamat. Bahkan jauh sebelumnya, 1967 Mangara pernah menjadi ketua Presidium KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia). Perkawinannya dengan Maria Karina Magdalena membuahkan dua anak, Kennedy dan Carter. Pertama terjun di dunia film Mangara ikut membintangi film "Perawan di Sektor Selatan" 1969 dan hingga kini ia telah bermain di 50 film. 

Mangara mengakui, ia akan bersedia tetap main film jika diberi kesempatan lagi. Bagaimana dengan taksinya? "Yah, lihat-lihat saja, nanti kalau film bayarannya memadai mengapa tidak?".


~ MF No. 052/20 Tahun ke IV, 25 Juni - 8 Juli 1988