RUDY WOWOR, PERNAH JADI PEDAGANG AYAM (berita lawas). Siapa menduga sebelum dikenal di Indonesia dan punya studio sendiri di gedung Sari Ayu Martha Tilaar, Rudi Wowor, nominator lewat film "Tjoet Nja' Dhien" pernah menjadi pedagang ayam. Usaha yang dilakukannya itu memang telah menjadi sejarah hidupnya, kendati ketika masa muda ia telah berkelana ke daratanEropa.
"Dulu, tubuh saya ini bau ayam. Ruangan kantor saya dirombak jadi kantor dagang ayam. Dimana-mana bertebaran bulu ayam, "kenangnya. Usaha yang dikelolanya sendiri itu bertahan hingga tiga bulan.
"Sekarang kemana ayam-ayam itu?
"Masih ada kok. Tapi sudah saya serahkan pada orang lain, "lanjutnya. Dagang ayam yang ia lakukan bukan seperti di pasar-pasar, melainkan memasok ayam ke berbagai hotel, wisma dan restoran beken.
"Jika sekarang saya masih berdagang ayam, mungkin murid-murid saya akan kabur, "katanya bergurau saat ditemui dilokasi suting di Perkebunan Tebu Sumber Harjo, Pemalang, ketika pengambilan gambar film teve "Yang Luruh Dan yang Tumbang,"yang di sutradarai Matnoor Tindaon.
Sejak film "Tjoet", Rudi nyaris nganggur dari seni peran. Setelah di gaet Matnooer. Dalam skenario yang di tulis Emil Sanossa ini, Rudi disodori peran kecil, sebagai asisten residen, saat Indonesia masih di jajah Belanda. Dan ia hanya muncul dua scene saja.
"Bagi saya tak ada peran besar dan peran kecil. Semua sama saja, "ucapnya dengan dialek kebarat baratan. Dunia seni bagi Rudi bukan sekedar hobi melainkan telah menjadi darah daging. Pengalaman dalam dunia akting bukan hal yang baru baginya. Ketika muda, saat berkelana ke daratan Eropa, ia banyak belajar pada seniman di sana. Sehingga ia beranggapan tak ada istilah pilih peran. Peran menurutnya adalah kekuatan bermain. Juga bukan hanya sekedar menghapal dialog dan tampil. Agaknya, itulah yang jadi sebab ia mau menerima peran yang disodorkan Matnoor.
Mengenai honor di TVRI, Rudi sudah memiliki standard, dan menurutnya hal itu bukan yang utama. Justru kerjasama dengan pihak TVRI sudah punya kepuasan batin sendiri, meski ini pertama kali ia tampil di layar kaca.
Malah rencananya, Rudi Wowor akan membuat skenario film teve. Ia merasa yakin karyanya dapat ditayangkan pihak TVRI. "Tapi saya belum tahu kapan waktunya. Saya masih sibuk. Sungguh, pada waktunya saya akan buat itu,"lontar ayah dari tiga anak ini, kalem. Aktor saya belum pandai berbahasa berbintang sagitarius ini pernah menyutradarai film "Le Potret" (1967) ketika tinggal di Paris, sedang pengambilan gambarnya di Yugoslavia. Menurutnya pula, ia berkali-kali ikut terlibat dalam pembuatan film atau sebagai pemain di daratan Eropa.
Sesuai dengan profesinya, penata gerak, di tahun 1975 pernah menangani "Romeo Anda Juliet" yang disutradarai Ratna Sarumpaet bersama Teater Satu merah Panggung. Ketika itu Indonesia Komunikasinyapun pakai bahasa Inggris. Terus terang saya sendang membantu teater di Indonesia. Waktu mendatang pun saya ingin juga main di panggung. Kalaupun tidak ada yang mengajak, ya saya mencobanya sendiri, " kata pria kelahiran Amsterdam, 13 Desember 1941 ini.
Kali ini Rudi sedang sibuk membantu istrinya, Reni Hoegeng, dalam persiapan pameran lukisan di ITB Bandung. Rudi menjadi pembina administrasi pameran. Melihat kemauan istrinya yang begitu besar dalam dunia seni rupa, Rudi merencanakan membuat suatu pameran lukisn dalam bentuk lain. Untuk pameran yang berbentuk abstrak itu, ia akan berusaha memadukan beberapa unsur seni, antara lain tari (gerak), sastra, musik dan seni rupa itu sendiri.
"Tempat bukanlah ukuran. Itu hanya status. Mungkin saya akan pilih sebuah gudang. Tinggal lagi menatanya, kok, "ujarnya sembari tersenyum.
Komentar tentang "Yang luruh Dan Yang Tumbuh "? Saya kira film teve ini baik, Matnoor Tindaon sebagai sutradara terasa sekali kehadirannya, ia banyak mengetahui kesalahan saya, namun hal itu terselesaikan dengan berdiskusi dengannya, "lanjutnya.
~MF No. 078/46/TH V, 24 Juni - 7 Juli 1989

No comments:
Post a Comment