Sunday, November 8, 2026

HILMAN HARIWIDJAYA, AKHIRNYA JADI LUPUS JUGA DIA

 


HILMAN HARIWIDJAYA, AKHIRNYA JADI LUPUS JUGA DIA, (berita lawas). Mengaku sudah senang menulis sejak masih SMP, lelaki ini mengesankan seorang anak muda yang sekenanya, santai, agak pendiam namun ramah. Hilman Hariwidjaya adalah "tapak" yang menanam dan menabur benih Lupus hingga ngetop  di buku dan film. Tapi lupus di film rupanya tak membuat Hilman puas. 

Berikut petikan wawancara dengan "anak kolong" kelahiran Bengkulu, 25 Agustus 1964 tersebut disela-sela suting lupus III episode "Topi-Topi Centil".

T : Hilman dulu Anda menolak untuk memerankan sendiri Lupus dalam film, tapi kenapa Lupus III ini, justru Anda sendiri yang memainkannya? Padahal Anda sudah sumpah-sumpah lho?

J : Dulunya saya memang enggak mau. Tapi banyak saran yang kemudian saya terima. Masukan-masukan dari teman-teman maupun dari pembaca, menghendaki saya sendiri yang memerankan Lupus. Kebetulan saya kenal dengan Edi SS (sutradara Lupus III). Dia bilang di coba saja. Dia juga berjanji untuk membimbing. Soalnya kita kepingin beri warna baru. Kalau kita tetap seperti dulu, kayaknya kita akan tetap kalah dengan si Boy. Soalnya kita memang sudah kalah segala-galanya dengan Boy. Termasuk biayanya. Cukongnya kan kuat banget. Saya kira ambil sela yang belum ditangani Boy. Nah, inikan harus ditangani sendiri. 

T : Menurut kamu, kegagalan Lupus I dan II itu dimana?

J : Sebetulnya Lupus I enggak gagal. Dari segi pemasarannya enggak gagal. Cuma yang kedua karena tidak ada kerjasama antara saya sebagai penulis cerita dengan sutradara. Karena istilahnya kan gini, Yang nyiptain Lupus kan saya. Nah, yang tahu Lupus itu kan saya. Saya tahu keinginan  penggemar Lupus itu kayak apa. Ketika dia difilmkan anpa mengikutsertakan saya berarti interpretasinya terserah pada sutradara. Dan itu tidak bisa pas dengan yang dimaui pembaca. Karena pembaca maunya yang kayak di buku. 

T : Lalu, dengan mainnya kamu di Lupus III, apa yang bisa ditawarkan?

J : Lebih dkat. Saya bisa menjamin, ini deket banget sama buku. Jadi kalau dia suka baca bukunya, pasti bisa senang sama film ini. 

T  : Bisa lebih sukses dari Lupus sebelumnya, maksud kamu?

J : Kalau soal sukses nggak tahu. 

T : Soal Ryan Hidayat sebagai pemeran Lupus?

J :  Kayaknya nggak ada masalah kalau soal Ryan. Yang masalah itu mungkin penyutradaraannya.  Juga ada beberapa yang  masa casting. Seperti tokoh Poppy dan yang lain-lainnya yang dianggap enggak sama dengan yang di buku. Karena penonton pada dasarnya sudah mengenal semua tokoh itu dari buku. Terlanjur sudah punya imej Lupus itu kayak gini, suasananya kayak gini. Tapi begitu disodorkn di film Lupus I dan II enggak sama, gitu. 

T : Jadi Lupus II ini kamu yakin bisa mengembalikan imej penonton terhadap Lupus?

J : Ya. Kalau yang diharapkan seperti yang di buku, kita memang benar-benar berangkat dari buku. Saya juga bikin treatmentnya. Dialog-dialognya juga dari saya. Jadi bukan dari orang-orang yang sudah dewasa. Itu yang membuat dialog-dialog Lupus dulu kaku. 

T : Figur Ryan seabgai pemeran Lupus I dan II kena enggak menurut Hilman?

J : Sebetulnya yang kita ingini dulu pemeran Lupus itu orang Indonesia asli. Yang kurangnya Ryan itu agak terlalu barat. Kecenderungan film kita kayaknya bintang-bintang Indo. Padahal msalah Lupus itu sendiri masalah yang mengIndonesi banget. 

T : Pengalaman apa yang kamu dapat dari pertama kali berakting di depan kamera?

J : Sulit. Lebih sulit dari mengarang ceritanya (tertawa).

T : Untuk jadi Lupus pakai latihan?

J : Latihan. Waktu itu satu sampai dua bulan. Itu untuk latihan dasar saja. 

T : Yang meminta Hilman main dengan kawan-kawan asli dalam Lupus III ini, kamu sendiri atau produser?

J : Ceritanya gini. Waktu kita pindah produser, saya mengajukan syarat. Pertama, ceritanya dari saya. Terus pemain seperti Gusur, Boim, Anto itu, harus yang asli. Karena memang karakternya dia. Tapi kalau Lupus, saya enggak kasih batasan. Lupus boleh dicari siapa saja. Karena saya sendiri enggak merasa identik dengan Lupus. Jadi produser boleh nyari, Lha terus ngadain sayembara. Tapi ditest...ditesst. enggak puas-puas. Kita tersendat-sendat terus. Lalu kata Edi kita tetap pilihannya pada kamu (maksudnya Hilman). Saya jawab, saya pikirin dulu. Tapi sampai akhirnya produser minta dicoba saja duu. Termasuk untuk kawan-kawan Lupus juga asli seperti di buku. Juga untuk pemeran-pemeran lainnya kita ikut nentuin siapa yang cocok. 

T : Lupus itu siapa sebenarnya?

J : Itu cuma figur rekaan saya. Saya observasi kira-kira tokoh yang bisa disenangi remaja itu kayak apa. Jadi saya cari idealnya. Tokoh yang bisa jadi idola remaja itu kayak apa. Lupus juga bukan dari masyarakat kelas atas. Dia naik bis kota. Jadi dengan menciptakan Lupus, saya berharap remaja itu bisa menikmati yang ada padanya. Sedang tokoh lain orangnya memang ada, tapi saya kembangin lagi. ~MF No. 078/46/TH V, 24 Juni - 7 Juli 1989



No comments:

Post a Comment