Showing posts with label In Memoriam. Show all posts
Showing posts with label In Memoriam. Show all posts

Saturday, February 28, 2026

IN MEMORIAM TUTI INDRA MALAON


IN MEMORIAM TUTI INDRA MALAON. (Berita Lawas). Sebulan sebelum kepergiannya, seorang rekan menyapa "Mbak, kelihatannya sehat dan ceria banget. Ikut fitness ya? Yang disapa bilang "Ah , nggak juga, orang penyakitan kok, mana sempat ikutan fitness."

Itu kiranya pertanda yang tak disadari. Penyakit yang diderita Tuti Indra Malaon, yang disapa itu ternyata memang serius. Tiga hari menjelang tutup usia, ia di operasi di RSAL Mintohardjo Jakarta karena menderita Sirosis hepatitis (pengerutan hati) dengan beberapa komplikasi. Dan hari Rabu, 20 September 2989 pukul 04.55 ia wafat. 

"Ia tak pernah mengeluh tentang penyakitnya itu. Ia tak ingin orang lain tahu, " lontar N Riantiarno, rekan sekerjanya di majalah "Matra". Nggak nyangka kalau mbak Tuti mengidap penyakit serius. Sewaktu dubbing film "Pacar Ketinggalan Kereta" ia biasa-biasa saja, sehat, " Ungkap Camelia Malik di TPU Karet, Jakarta. 

Tuti yang nama lengkapnya Pudjiastuti lahir 1 Desember 1939 di Jakarta adalah tipikal pecinta sekaligus pengabdi kehidupan. Ia berjalan dengan banyak peran yang di beri nuansa kesungguhan. Dedikasi terhadap pilihan hidupnya begitu sarat. 

Pertama kali naik Pentas pada HUT ke 5 Kemerdekaan RI di Istana Merdeka. Saat itu ia membawakan tari Gambir Anom, Tari bedoyo dan berperan sebagai Satria dalam tari duet perang tanding antara Satria dan Bambang Cakil. Dan sempat belajar di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI), tapi tak sampai selesai. Namun, ia sering terpilih menjadi anggota misi kesenian, antara lain ke Filipina, Muangthai (Skg Thailand), Korea, Kamboja, RRC, Vietnam, Jepang dan Uni Sovyet (Apa dan siapa..PT. Grafiti).

Tahun 1965 anak kelima dari sembilan bersaudara ini lulus sarjana Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan tiga tahun kemudian ia diangkat menjadi dosen. Hingga akhir hayatnya ia adalah pengajar tetap pada FSUI seksi Bahasa Inggris. Pada waktu yang bersamaan , 1968 ia bersama Slamet Rahardjo bergabung dengan Teater Populer pimpinan Teguh Karya yang pada saat itu bermarkas di Hotel Indonesia lalu pindah ke Kebon Kacang. Tuti pernah ikut mementaskan "Pernikahan Darah" (FG Lorca). Serta ia pun tampil bersama Teater Koma, dalam pertunjukan "Opera Kecoa" (1987). 

Sejak tahun 1971, putri kelaurta Suratno Sastroamidjojo ini, menapakkan kaki di dnia film lewat "Wajah Seorang Laki-laki" garapan Teguh Karya. Dengan sutradara yang sama ia terus memamerkan seni akting yang indah dan manis pada "Kawin Lari" "Perkawinan Dalam Semusim" , "Ibunda" dan yang terakhir "Pacar Ketinggalan kereta", serta Tuti pun main untuk filmnya Nyak Abbas Acup "Cintaku Di Rumah Susun", Hengky Solaiman "Neraca Kasih", "Arifin C Noer "Matahari Matahari", dan Hadi Purnomo "Perisai Kasih Yang Terkoyak". Dan pencapaian anugerah dalam seni akting dirahnya Piala Citra sebagai peran utama wanita terbaik dalam film "Ibunda" FFI 1989 dan Pacar Ketinggalan Kereta FFI 1989 yang diraih setelah wafat. 

Niatnya yang belum kesampaian ialah menyelesaikan disertasi doktor tentang dunia teater. Ia mendalami tentang black theatre di AS. 

Tuti- yang juga anggota MPR pun memerankan ibu sekaligus ayah dari tiga anaknya Dama Meivida, Reita Indriani dan Ridho Zulfikar, setelah suaminya Indra Malaon meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas di jalan tol.

Dalam kegiatan menulis, Tuti banyak membuat artikel mengenai kewanitaan, kritik film dan drama, juga terjemahan misalnya "Perempuan Dilihat Dewa" karya Bertold Bracht. Sebagai anggota sidang redaksi majalah Matra, Tuti selalu mengisi rubrik wawancara dan etiket. Untuk rubrik wawancara itu, ia telah mewawancarai 33 tokoh terkenal dari berbagai bidang di Indonesia diantaranya ada WS Rendra, Mendikbud Fuad Hassan, Menko Polkan Sudomo, TB Simatupang, Menpen Harmoko, Mensesneg Moerdiono, Dubes AS Paul Wolfowitz, Dubes Malaysia Dato' Muhammad Khatib, Deddy Mizwar, Teguh Karya, Rhoma Irama dan banyak lagi. 

Ia meninggalkan nama dan kenangan yang indah dan manis. Pudjiastuti, selamat jalan.....

di sadur dari MF No. 085/53/tahunVI, 30 September - 13 Oktober 1989