Showing posts with label Marga T. Show all posts
Showing posts with label Marga T. Show all posts

Sunday, October 4, 2026

NOVELIS WANITA DAN FILM NASIONAL

 


NOVELIS WANITA DAN FILM NASIONAL (berita lawas). Ketika Teguh Karya menerima order dari Suptan Film untuk menggarap "Badai Pasti Berlalu" (BPB) yang diangkat dari novelnya Marga T, semula ia merasa agak rikuh. Maklumlah, novelnya adalah novel pop, pemain utama yang dipasang juga bintang pop Roy Marten , jadi ia kudu bikin film pop, dong!. 

"Tidak, saya akan membuat cacing menjadi naga!"sesumbar Teguh. Terdengarnya rada jumawa, karena jelas-jelas memandang bahan dasar ceria cuma sekedar 'cacing'.

Walaupun begitu kemudian pada FFI 1978 di Ujungpandang , BPB menggondol 4 Piala Citra. Dan tahun berikutnya dinyatakan sebagai film terlaris. Malah Badai Pasti Berlalu adalah film yang paling banyak mengumpulkan penonton dari 10 karya Teguh, sejak dulu hingga sekarang!. 

Apakah salah satu sebab kelarisan Badai Pasti Berlalu karena pengaruh novelnya yang memang sudah sangat laris?

Empat tahun sebelum Badai Pasti Berlalu , novel perdana Marga T, sudah difilmkan oleh Ami Priyono, "Karmila" (1974), dengan pemain mahasiswi Muriani Budiwan, dan pasangannya Awang Darmawan. 

Dari penerbit Gramedia diperoleh keterangan, bahwa novel "karmila" sudah mengalami cetak ulang sampai sembilan kali!. Bukti kelarisan novelnya, sedikit banyak sangat berpengaruh pada filmnya. Apalagi karena sebelum dibukukan sudah lebih dulu dimuat sebagai cerber di harian "Kompas". Orang menjadi kepingin melihat apakah filmnya juga semenarik bukunya, bagaimana tokoh-tokoh yang selama ini cuma dikhayalkan menjadi hidup oleh para pemain nyaa?.

Kemudian pada tahun 1980, Nico Pelamonia mengarahkan kelanjutannya, "Dr. Karmila" kali ini dengan Tanty Yosepha sebagai pemeran , didukung Robby Sugara.

Marga T, yang sehari-hari berprofesi sebagai dokter, memang termasuk pengarang wanita yang karya-karyanya selalu laris dilalap penggemarnya. Dalam usia 45 tahun, wanita bertubuh mungil ini, menghitung-hitung telah menulis lebih dari 100 cerpen, dan sekitar 25 judul novel, semenjak menerbitkan buku anak-anaknya yang pertama "Rumahku aalah Istanaku" 1969.

Karya-karyanya yang lain yang juga sudah difilmkan adalah "Bukan Impian Semusim", lalu "Ranjau-Ranjau Cinta", karya penyutradaraan pertama Nasri Cheppy dengan pasangan bintang Rano Karno dan Paramitha Rusady. 

Lalu bagaimana dengan film-filmnya?

"Saya menyerahkan hak pemfilman sepenuhnya kepada sutradara, jadi terserah kepada penafsiran mereka masing-masing bagaimana memvisualkannya. 

Pendapat yang sama juga dicetuskan oleh novelis-novelis wanita rekannya seperti : Ike Soepomo, Titie Said Sadikun, Mira W, dan Nina Pane Budiarto. 

Ike, dalam usia 42 tahun masih tetap menonjolkan kecantikannya. Boleh dipuji sebagai primadonanya novelis wanita. Novelnya "Kabut Sutra Ungu" telah dicetak ulang sampai enam kali. Filmnya pun laris luar biasa di bioskop-bioskop. 

Ada anekdot ketika Sjumandjaja berniat memfilmkan novel ini. Pertama Sjuman cuma iseng membacanya dalam kereta api sebagai pembuang waktu. Tapi kemudian menjadi sangat tertarik dan menelepon kerumah Ike, "Hello, saya Sjumanjaya , saya ingin berbicara dengan Zus Ika,".

Kebetulan Ike sendiri yang menerima telepon, ketus menyahut, "Maaf, disini tidak ada yang namanya Ika, "lalu karena mengira si penelepon mengelabuinya dengan memakai nama Sjuman, ia menutup telepon. 

Sjuman penasaran, menelepon lagi, Dengan serius menyatakan niatnya untuk memfilkan "Kabut Sutra Ungu", barulah Ike mau percaya. Bahkan kemudian mereka menjadi sahabat baik. 

"Saya malah belajar membuat skenario dari Bung Sjuman juga," mengakui Ike yang telah menyelesaikan skenario , Kembang Padang Kelambu, Hilangnya sebuah Mahkota, Hati Selembut Salju dan Mawar Jingga. 

Yang tersebut terakhir ini, memecahkan rekor dalam honorarium penulisan skenario dan pembelian hak untuk memfilmkannya. Produser Hatoek Soebroto, konon membayar Rp. 25 juta. Sayang, filmnya yang disutradarai Has Manan dengan bintang Lenny Marlina, Frans Tumbuan dan El Manik, serta syuting sampai ke Eropa segala, ternyata kurang berhasil dalam peredarannya. 

Sudah cukup lama Ike belum menulis, baik novel maupun skenario lagi. Mungkin karena berbagai kesibukannya yang sangat menyita waktu. Tapi Nyonya Drs. Soepomo Prono ini berkilah, "Saya menulis seperti -maaf- kentut saja kok. Artinya kalau mau baru menulis, kalau lgi tidak kepingin ya tidak bisa dipaksa gitu!".

Perkara Produktif, memang Ike kalah jauh dibandingkan rekannya Mira W. Sama seperti Marga T, Mira juga seorang dokter. Usianya baru 36 tahun tapi novelnya telah lebih dari 40 judul, serta separuhnya telah difilmkan. 

Dimulai dari novel pertamanya "Disini Cinta Pertama Kali Bersemi", yang dicetak ulang sampai 6 kali, kemudian diproduksi oleh Sanggar Film dibawah penyutradaraan Wim Umboh yang mempertemukan Widyawati dengan Roy Marten. 

Beruntun difilmkan juga "Ketika Cinta Harus Memilih", "Kemilau Kemuning Senja", "Permainan Bulan Desember", "Biarkan Kami Bercinta" dari novel Dari jendela SMP, "Seandainya Aku Boleh Memilih" dari novel Tak Kupersembahkan Keranda Bagimu, "Kidung Cinta" dari novel Kidung Cinta Buat Pak Guru Muda, "Romantika" dari novel Galau Remaja di SMA, "Cinta Di Usia 30", dan "Panah dan Jantung" dari novel Bila Camar Terbang Senja serta "Perisai Kasih Yang Terkoyak".

Sesungguhnya, Mira yang bermarga Widjaja ini memang berasal dari keluarga orang film. Ayahnya, Othniel Widjaja adalah produser Cendrawasih Film, sedangkan abangnya, Willy Wilianto adalah seorang sutradara. Namun, belum pernah Mira bekerjasama dengan Willy dalam urusan pembuatan film. 

Agak berbeda dengan Mira yang menyebutkan tokoh-tokoh novelnya adalah fiktif, sebaliknya Titi Said Sadikun yang juga wartawati, menegaskan, "Novel-novel saya diangkat dari kisah nyata yang sungguh-sungguh pernah terjadi di Indonesia!. Tokoh-tokoh benar-benar pernah hidup, cuma saja namanya sengaja disamarkan, dan kalaupun ada bumbu-bumbu itu sah saja sebagai dramatisasi alur cerita!".

Novel-novel karya Titie yang sering dibantu oleh adiknya sendiri, Lies Said kebanyakan berkisah tentang perjuangan wanita yang ulet dan mengharukan. Tidak banyak yang difilmkan memang, namun rata-rata cukup mengesankan. Lihat saja "Jangan Ambil Nyawaku" dibintangi Lenny Marlina, "Lembah Duka", dibintangi Suzanna, "Budak Nafsu" dari novel Fatimah dibintangi Yenny Rahman dan "Selamat Tinggal Jeanette" dibintangi Meriam Bellina. 

Dua novelis lain yang karya-karyanya pernah difilmkan pula adalah Nina Pane Budiarto (Serpihan Mutiara Retak) dan Maria A. Sardjono (Dibalik Dinding Kelabu). 

Kalau Marta T dan Mira W adalah dokter, ada pula Insinyur yang punya hobby menulis, Ir. Budiyati Abiyoga nama aslinya, tapi bila menulis selalu menggunakan nama puterinya , Prasanti. 

Berbeda dengan novelis-novelis lainnya, justru ia sendirilah yang memproduksi film berdasarkan novelnya, "Hati Yang Perawan". Mungkin karena Insyinyur kita ini memang punya modal kuat. Nama perusahaanya, Prasidi Teta Film diambil dari nama putera sulungnya. 

~MF 047/15/Tahun ke IV, 16 - 29 April 1988