Showing posts with label Terang bulan ditengah hari. Show all posts
Showing posts with label Terang bulan ditengah hari. Show all posts

Wednesday, May 6, 2026

COK SIMBARA, BERAT PERAN BENCONG

 


COK SIMBARA, BERAT PERAN BENCONG (berita lawas). Untuk jadi demonstran, rupanya tidak sesulit menjadi bencong. Setidaknya itulah yang dialami Ucok Hasyim Batubara alias Cok Simbara, lelaki kelahiran Penyabungan tahun 1953 ini. "Waktu diminta main sebagai demonstran dalam "Gema Kampus 66" dan Djakarta 1966 terus terang saya tidak terlalu repot. Soalnya saya pernah jadi mahasiswa kan? ujarnya. 

Tapi ketika diminta main sebagai bencong dalam film "Terang Bulan Di Tengah Hari", saya benar-benar repot. Terus terang peran Hadi yang bencong dalam film itu berat bagi saya," tambah aktor yang ngakunya tembak langsung dari Penyabungan ke Jakarta tanpa lewat Medan ini. 

Biar berat, Cok mengaku senang dengan peran bencong tersebut. "Saya suka karena banyak tantangannya. Terutama yang datang ari luar diri saya sendiri, " ujarnya. "Memang beban buat saya memainkan peran bencong tersebut. Soalnya selama ini sayakan dikenal sebagai lelaki yang terus kebagian peran gagah, " tambah aktor temuan Wim Umboh yang main film pertama kali tahun 1976 sebagai pemeran utama dalam "Kugapai Cintamu" tersebut.

Karena suka, Cok akhirnya menerima dan membutuhkan waktu sampai tiga minggu untuk beradaptasi. "Saya latihan sendiri dan observasi pada dunia model. Melihat contoh-contoh orang yang bisa saya jadikan sampel, " ujar nomine pemeran pria terbaik FFI 1987 ini yang lalu punya imej peragawan Doddy Haickel untuk tokoh Hadi. "Selain itu saya suka dengan peran ini karena saya memperoleh warna dalam film saya, " tambah Cok yang juga baru pulang dari Philipina bersama teater kecilnya Arifin C Noer. "Ikut main dalam drama "Sumur Tanpa Dasar" di Festival Seni Asia, " jelasnya. 

Cok yang memang berasal dari dunia panggung ini, memang memulai karir filmnya bersama Teater Kecil. Kemudian gabung dengan Derry Sirna dan Rudolf Puspa di teater keliling dan pernah manggung sampai ke Australia. Di film sendiri, Cok katanya sudah ikut membintangi 20an judul film sampai tahun 1988. "Saya tidak ingat lagi apa saja judulnya. Tapi untuk tahun ini saja ada empat film yang ikut saya bintangi. Empat film tersebut adalah "Akibat Kanker Payudara, Gema Kampus 66, Terang Bulan di Siang Hari, dan Jakarta 66. ~sumber MF 61/29 tahun V, 20 Oktober - 11 November 1988

Wednesday, October 15, 2025

SUTING : TERANG BULAN DI TENGAH HARI, SKENARIO TERAKHIR SYUMANDJAYA, FILM BERTEMA KEHIDUPAN PERAGAWATI


TERANG BULAN DI TENGAH HARI, SKENARIO TERAKHIR SYUMANDJAYA, FILM BERTEMA KEHIDUPAN PERAGAWATI

 Oh... Peragawati... ada yang tahu penggalan lagu dari Bill & Brod yang berjudul Peragawati? Sosok Peragawati kini sudah tidak populer lagi di jaman sekarang. Lebih simpel di gunakan kata 'Model' mengikuti perkembangaan jaman. 

Sebuah Hall dalam gedung Patra jasa malam itu menjadi sebuah ruang 'fashion show'. Pada salah satu sisi ruang itu, dibangun 'stage' dengan bentuk huruf T yang dihiasi dengan lampu-lampu kelap-kelip yang ratusan jumlahnya. Baik pada dinding 'stage' maupun dinding pada sisi-sisi lain ruang itu, di penuhi dengan nama-nama perusahaan yang mensponsori acara 'fashion show' itu. Di depan maupun id kanan kiri stage dipenuhi dengan berpuluh pasang meja kursi yang semuanya diisi oleh tamu-tamu dengan pakaian lengkap menyaksikan acara itu. 

Kemudian dari balik dinding stage muncullah Sora seorang peragawati yang di perankan oleh Zoraya Perucha diiringi 2 peragawati lainnya, sedang berlenggak lenggok mengikuti irama musik move kearah kamera, memperagakan pakaian yang dikenakan mereka sampai menengok kiri-kanan dan melempar senyum ke arah tamu-tamu didalam ruang itu. 

'Okey ganti kostum" teriak Chaerul Umam yang menyutradarai film ini, setelah 'take' untuk adegan diatas. Maka Ucha dan 2 pengiringnya segera ke ruang ganti untuk meyiapkan kostum 'scene' yang lain. 

Pada saat sebelumnya, masih pada ruang yang sama api stage dengan dekorasi yang lain, ada sepuluh peragawati yang memperagakan pakaian yang direkam oleh pita selluloid untuk keperluan film "Terang Bulan Di Tengah Hari". Dengan penata fotografi atau juru kamera Tantra Suryadi. Satu diantara 10 Peragawati itu diperankan oleh Yatty Surachman. 

Setelah dilaksanakan 'master shot' suting diatas, segera diambil beberapa 'cover shot' dari beberapa sudut pandang kamera sebagai 'point of view' para tamu. Kemudian diambil pula beberapa 'inset' dari tamu-tamu sebagai reaksi dari adegan-adegan diatas. 

"Film ini memang menceritakan tentang kehidupan peragawati dengan skenario dibuat Syumanjaya", tutur Chaerul Umam, sutradara yang memimpin suting pembuatan film ini. 

"Mas Syuman menulis cerita film ini setelah menulis "Opera Jakarta", namun baru Opera Jakarta yang di filmkan oleh beliau (sebelum meninggal saat proses Opera Jakarta). Cerita Terang Bulan di Tengah Hari ini skenarionya beberapa perubahan oleh Chaerul Umam sebelum mulai suting. Skenario ini merupakan haril kerjasama Syumanjaya dan Chaerul Umam", tutur Zoraya Perucha mantan istri Syumanjaya, sekaligus sebagai pemeran utama wanita dalam film tersebut sekaligus sebagai produser PT Rembulan Semesta Film yang memproduksi film ini. 

Selanjutnya, Perucha mengatakan bahwa film yang menceritakan tentang  kehidupan peragawati sepenuhnya, yang baik maupun yang buruk sebagaimana kehidupan manusia lain pada umumnya ini, menghabiska budget diatas budget pembuatan biasa pada umumnya. Dengan memakan waktu suting lebih dari empat bulan serta memakan waktu lebih dari 70 lokasi suting. Standar pembuatan film pada umumnya memakai antara 20-30 lokasi. Lokasi-lokasi tersebut diantaranya Jakarta, Semarang, Yogyakarta dan Pemalang. Pemain-pemain yang mendukung film ini selain Zoraya Perucha sendiri sebagai pemeran utama wanita, Slamet Rahardjo, Yatty Surachman, Cok Simbara, Sys NS, juga didukung oleh Bob Sadino dan Herman Sarens Sudiro sebagai pengusaha yang ikut berpartisipasi mendukung film ini. 

Biaya keperluan artistik film ini memang glamour menghabiskan hampir Rp. 100 juta, namun sebagian dibantu oleh para sponsor yang ikut berpartisipasi, kata Berthy Ibrahim Lindya penata artistik atau Art Director film ini. Setelah suting, film ini disunting oleh editor Elfenfy Dhoytha, kemudian musiknya diisi oleh Dodo Zakaria dan selain Sutradara Chaerul Umam juga dibantu asisten sutradara Ucik Supra.