SINETRON WARISAN II, KEBANGKITAN DARTO JONED DI SINETRON SERIAL (Berita lawas).Waktu Warisan I yang di bikin sebanyak 6 episode dan di tayangkan RCTI tahun 1993, sinetron drama seri ini berada "diatas angin" dalam perolehan iklan. Jeda tayangan 18.5 menit yang di sediakan langsung banjir dengan iklan. Maka wajar kalau sinetron produksi Joned Vidia Sinema sekaligus arahan pemiliknya, Darto Joned ini meraih rating 52 dalam perolehan iklan. Satu hal yang tidak diduga oleh banyak pihak, terutama RCTI sendiri.
Januari 1995 pihak RCTI memperpanjang kerjasama dengan Joned Vidia Sinema untuk memproduksi sinetron seri Warisan II (mulai episode 7 sampai 33) dibikin sebanyak 26 episode. Penayangan ditetapkan pada 7 Maret 1995 pukul 19.30 dengan durasi 48 menit.
Langkah yang luar biasa bagi Darto Joned, disaat menjamurnya sinetron ia tetap berdiri tegar dan dapat berdiri sejajar dengan sutradara-sutradara beken RCTI.
"Kiat saya dalam membuat sinetron adalah bagus dan komersil. Artinya saya tidak ingin membikin sinetron sok seni, tetapi tidak banyak yang menantinya, akibatnya tidak komersial, " katanya di sela break suting di kawasan Cipanas, Jawa Barat.
Darto Joned dikenal sebagai sineas yang pendiam, tapi produktif. Bersama-sama Ali Shahab, ia termasuk perintis dan "pembabat hutan" persinetronan Indonesia. Dari tangannya banyak lahir sinetron-sinetron panjang dan populer, seperti diantaranya "Serumpun Bambu, Tembang Di Tengah Padang, Minarti Bidan Tercinta, semuanya ditayangkan di TVRI saat stasiun itu masih satu-satunya yang mendominasi pemirsa TV . Tak heran jika jumlah penggemar yang cukup membanggakan.
Dengan ketrampilan dan produktivitas serta jam terbang yang dimilikinya, kini Darto Joned menjadi rebutan televisi swasta. Seusai menggarap Jalur Putih untuk Indosiar, langsung di cecar stasiun televisi lainnya. Lepas Warisan II ia segera memproduksi tiga sinetron yakni, Lampor Bala Tentara Ratu Kidul, Dua Pilar dan Darah Leluhur.
Joned Vidia Sinema mampu membikin 6 hari suting untuk satu episode dengan durasi 48 menit. "Bagi saya membikin sinetron harus cepat, namun laku dan komersial. Tidak zamamnya lagi membikin sinetron berlama-lama," ujarnya.
Dari Setting, property, dan para pendukung sinetron Warisan II kelihatan keinginan Darto Joned untuk merebut pasar. Wajar saja bila anggaran untuk satu episodenya mencapai 50 juta rupiah.
Lihat para pelakonnya, Nike Ardilla, Tabah Penemuan, drg. Fadly, Anggraini Joned, El Manik, Alicia Djohar, Firdha Razak, Eeng Saptahadi, Clara Shinta, Sigit Hardadi, Retno Mulandari, Tahta Perlawanan, Rita Zahara, Nizar Zulmi, Herman Ngantuk, Roldiah Matulessy, Elly Ermawatie, BZ Kadaryono dll. Sinetron terbilang mahal ini mengambil lokasi suting diantaranya Jakarta, Sukabumi, Bogor, Cipanas dan Jawa Barat lainnya.
Pada Warisan episode sebelumnya telah di ceritakan bahwa Bayu yang dulu dibuang oleh orang tuanya, kini hidup dan besar di kalangan keluarga Danu Prakosa, pemilik pabrik dan perkebunan teh. Dalam Warisan II ini, mengkisahkan tentang apa saja yang terjadi terhadap Bayu, setelah ia kembali kepada orang tuanya. Banyak persoalan yang dihadirkan, sebagai sebuah fenomena dalam kehidupan sekarang.
Dengan penceritaan yang melemparkan masalah besar tapi dapat di cerna oleh segala level kehidupan ini semakin keatas semakin tajam. Ada suspance, laga dan diramu dengan drama keluarga yagn menegangkan. Untuk mewujudkan visual itu direkrut kru handal seperti Ambari BA (Kamerawan), Surya Haditya (Co Sutradara) Ninos Retna Niswara (Editor), Nanang Hidayat (Penata Suara), Wandhono Trinugroho (penata Artistik), Srie M Ariesa (Penata Rias) , Bogel Alkatiri (Pimpinan Unit) dan M Daim Pohan (Pimpinan Perusahaan).~MF 227/193/XI/25 Feb - 10 Maret 1995
