Showing posts with label penata artistik. Show all posts
Showing posts with label penata artistik. Show all posts

Tuesday, April 7, 2026

PENATA ARTISTIK S PARYA, MENGHADAPI TANTANGAN BUDAYA


 PENATA ARTISTIK S PARYA, MENGHADAPI TANTANGAN BUDAYA (Kabar Lawas). Sejak Perfilman dilanda lesu darah, sejak itu pula S Parya, penata artistik dan spesial effect ini, tak mendapatkan job. Kalaupun ada tantangannya tak berarti. Begitu ia dinyatakan terlibat sebagai penata artistik dalam sinetron miniseri Gema dari Kaki Gunung, semngatatnya bercahaya kembali. 

Sebagai orang Sunda, ia berbicara kultur Batak lewat visualisasi penata artistik. Katanya, tantangan ini belum ditemukanya dalam film komersial. Sinetron miniseri garapan Matnoor Tindaon total bicara soal kultur Batak. "Jadi kultur Batak bukan sebuah tempelan. Melainkan harus hidup seiring perjalanan ceritanya, " kata penata artistik yang telah berkutat di film sejak lama. 

"Terus terang saja, lewat sinetron kita banyak dihadapkan dengan tantangan berbagai budaya. Namun, saya sedikit sedih banyak sutradara selalu bervisual dengan gambar-gambar besar," ujarnya. Padahal katanya, penata artistik tidak akan berarti bila 80% visual dengan gambar-gambar besar. "Kalau semua gambar besar, kapan kesempatan penata artistik mengembangkan kemampuannya? Dan bukan itu saja cerita akan jadi semacam reportase. Maka, pada prinsipnya artistik film maupun sinetron sama saja"

S. Parya datang ke sinetron dengan konsep filmis. Sentuhan budaya karakter tokoh harus hadir dalam artistik. Ia juga mengakui banyak sinetron digarap tanpa memiliki karakter budaya yang jelas. Lebih ekstrimnya, kultur dihadirkan dengan eksen dan kostum semata. 

"Selalu saja penggarapan sinetron menganggap tv dengan frame kecil. Dan lewat sinetron Gema Dari Kaki Gunung cukup kerja keras. Sebelum membikin artistik, saya banyak bicara dengan orang Batak. Sebab apa? Kalau saya salah menempatkan artistik orang akan tertawa. Bekerja tanpa riset, " katanya. 

"Cukup Banyak sutradara membikin sinetron dengan menjual bintangnya, bukan sinetron secara keseluruhan, apakah itu artistik, gambar ataupun ceritanya, " paparnya. ~sumber : MF No. 179/146/Th IV 15-28 Mei 1993

*sebagai informasi, selain ikut bermain dalam beberapa film, S Parya juga penah meraih penghargaan pada gelaran Festival Film Indonesia (FFI) 1981 , Piala PLKJ untuk tekhnik pembuatan special effect dalam kondisi teknologi film dalam film "Ratu Pantai Selatan"..

Friday, January 23, 2026

EL BADRUN, PENATA ARTISTIK FILM SAUR SEPUH

 


EL BADRUN, PENATA ARTISTIK FILM SAUR SEPUH, DARI RAJAWALI KE MANUSIA RAKSASA. (Kisah lawas). Para penonton film "Saur Sepuh" (Satria Madangkara) pasti sudah menyaksikan bagaimana hebatnya Brama Kumbara, Satria Madangkara itu, menghancurkan musuh-musuhnya. Dari memenggal kepala, di tembus kerus tubuhnya namun tidak apa-apa, menghancurkan tubuh lawan-lawannya hingga jadi debu, sampai memanggil Rajawali tunggangannya .

Brama memang hebat. Tapi untuk film, seorang lelaki berkulit gelap berada di belakang kehebatan Satria Madangkara itu. Orang itu adalah El Badrun, lelak kelahiran 25 Januari 1950. Dari kerjanyalah muncul efek-efek khusus yang membuat kesaktian Brama Kumbara seperti di Radio, muncul dalam bentuk visual di layar bioskop.

Tapi itu belum apa-apa. Masih kerja efek khusus yang biasa, " ujar badrun. Dan memang, yang lebih dari Badrun ketika membuat efek khusus "Saur Sepuh I" adalah ketika ia menciptakan burung Rajawali Raksasa yang menghabiskan bulu angsa seratus ekor. Dengan teknik Front Projection, Badrun membuat burung itu seakan terbang di angkasa raya, membawa penunggangnya meskipun visualisasinya belum begitu sempurna. 

Kini, seperti tak ingin puas dengan kerja pertamanya tersebut, Badrun punya gagasan baru. "Untuk film Saur Sepuh II yang berjudul "Pesanggrahan Keramat", saya akan membuat manusia raksasa. Tingginya sekitar 30 meter, " ujar Badrun saat suting pertama film Saur Sepuh II. 

Untuk membuat manusia raksasa itu menurut Badrun, bahannya dari spoon plastik denga rangka besi serta rotan. Manusia raksasa itu merupakan sosok Brama Kumbara setelah ia marah dan melakukan tiwikrama atau semedi," tuturnya. "Dalam cerita ini digambarkan Brama marah lalu melakukan semedi hingga tubuhnya berubah jadi raksasa. Untuk membuat itu, saya masih tetap menggunakan  teknik front projection, " tambah lelaki yang sengaja pergi ke Bavaria - Jerman, hanya untuk memperdalam pengetahuannya  soal efek-efek khusus tersebut. 

Tentang efek-efek khusus lain yang akan ditampilkannya di dalam "Saur Sepuh II", dimana Badrun menjadi penata artistik, ia menyebutkan masih sama seperti yang pertama. "Masih mengandalkan trik-trik kamera, " jawabnya. "Tapi, selain mempertahankan imej kesaktian Brama seperti tergambar pada Saur sepuh I, kali ini kita mencoba memberi beberapa tambahan lainya," katanya. 

"Tapi saya punya target. Kalau pembuatan raksasa ini berhasil, saya yakin kita bisa membuat film-film lain yang lebih spektakuler. Film anak-anak atau film seperti "King kong" atau "ET" dan lainnya, " ujar Badrun optimis. 

Tapi untuk bisa menghasilkan kerja yang bagus bagi keperluan pembuatan film-film seperti itu, Badrun mengharap karyawan film yang terlibat mendapat imbalan yang lebih pantas dan layak. "Kalau tidak, sulit hal itu bisa di wujudkan, "katanya. 

"Saya sendiri memang mendapat bayaran yang cukup. Tapi teman-teman kerja saya masih dibayar sangat murah. Padahal siapapun tahu saya tidak bisa bekerja sendirian, " tambahnya. 

"Betul, saya akan terus memperjuangkan honorarium rekan-rekan kerja saya . Karenanya saya setuju sekali dengan sikap George Kamarullah yang memilih mundur dari dunia film karena ketimpangan honorarium yang di terima karyawan film tersebut, " tegasnya. " Tapi sayangnya karyawan film kita tidak kompak. Tidak bersatu. George contohnya, tidak ada yang mendukung dia, " kata Badrun mengakiri keluhannya. 

~MF 066/34/Tahun V/7-20 Jan 1989