SISWORO GAUTAMA PUTRA, SUTRADARA SPESIALIS PENEMU BINTANG . Mengaku lebih enak main di kelas menengah kebawah, Sisworo Gautama Putra punya prinsip yang diakuinya tidak berbelit. Dalam membuat film, katanya yang harus kita utamakan adalah penonton. "Dan itu sama seperti membuat majalah atau koran. Pembaca harus dinomorsatukan, " ujar sutradra kelahiran Kisaran, Sumatera Utara ini.
Karena mengutamakan keinginan penonton itulah mengapa Sisworo, seperti katanya, tak ingin menyajikan film dengan cerita yang rumit-rumit."Enak dinikmati, dan mudah dicerna, itu yang saya pegang, " kata pria kelahiran 26 Mei 1938 ini. Dan itu dibuktikannya tak cuma lewat film-film horor yang sudah menjadi trade marknya. Tapi juga lewat film komedi. "Mudah-mudahan semua film-film saya laku kok, " katanya sambil tertawa.
Sutradara yang memulai karirnya tahun 1972 lewat "Dendam Anak Haram" ini mengaku tak punya prosensi lain dalam membuat film kecuali menyajikan hiburan pada penontonnya. Tidak juga untuk jadi sutradara terbaik?. "Itu terserah penilaian orang saja, " ujarnya diplomatis.
Biar begitu toh Sisworo merasa bangga juga setelah sekian tahun menggeluti dunianya "Banyak bintang yang lahir dari tangan saya, " katanya sambil menyebut beberapa nama.
Dan bintang-bintang itu menurutnya kini sudah jadi semua. Mereka jadi bintang yang populer dan terkenal . Dan saya sendiri akan terus mencari bibit-bibit potensial untuk main film, " kata sutradara yang oleh teman-temannya ini dianggap sebagai sutradara spesialis penemu bintang.
Tentang anggapan itu, Sisworo tak menolak tapi juga tidak menerimanya. "Yah saya pikir tidak juga. Saya cuma memulainya saja kok, " tuturnya merendah. Sisworo yang ditemui saat menyelesaikan film ke 72nya berjudul Wanita Harimau atau Santet II menyebutkan kini iapun tenggah menggodok bintang baru.
"Pokoknya memakai bintang baru lebih mudah ngaturnya. Beda dengan bintang lama", ujarnya.
Namun Sisworo membuktikan ucapannya ketika suting film Santet II berlangsung. Ia marah dan kesal ketika bintang-bintang tua itu harus beberapa kali latihan adegan. "Wah kalin ini gimana sih. Sudah berkali-kali main film kok main bodoh," katanya kesal setelah itu ia kembali tertawa.
Tapi kini biar katanya ia mengacu pada selera penonton, tapi Sisworo tak ingin melakukan kesalahan lagi setelah filmnya dulu "Petualangan Cinta Nyi Blorong" menimbulkan heboh. "Sekarang saya sadar kok bahwa masyarakat kita semakin kritis, sekarang saya akan bikin film yang wajar-wajar saja dan tidak bikin penonton marah, "katanya.
di sadur dari MF No. 085/53/tahunVI, 30 September - 13 Oktober 1989

No comments:
Post a Comment