Tuesday, February 24, 2026

TUANKU TAMBUSAI


 TUANKU TAMBUSAI, SINETRON TERBAIK PADA FESTIVAL FILM INDONESIA TAHUN 1990 DAN MERAIH PIALA VIDIA. "Tuanku Tambusai" sinetron peroduksi TVRI Stasiun Pusat Jakarta bekerjasama dengan Pemda Riau merupakan yang terbaik pada FFI 1990. Sinetron yang menggali Pahlawan yang kurang dikenal ini disutradarai oleh Irwinsyah. Empat Saingan Tuanku Tambusai adalah sinetron "Anak" produksi TVRI sta Jakarta Pusat Sutadara Dedi Setiadi, "Dibalik Tobong" produksi TVRI Sta. Pusat Jakarta sutradara Ananto Widodo, "Masih Ada Cinta di Prambanan" produksi BKKBN-TVRI dan PT. Sentra Focus Audio Visual sutradara Ali Sahab dan "Wahyu dan Wahyuni" produksi PT. Inconesia Mandiri sutradara Ali Sahab.

Kalau di kaji, sudah sewajarnya Tuanku Tambusai merupakan sinetron terbaik. Pembuatan sinetron boleh dibilang tidak ala kadarnya. Bahkan sangat serius untuk kerja sebuah media televisi. Persiapan sinetron yang konon merupakan kerja "kolosal" pertama kru TVRI ini cukup berarti membuat sinetron ini berjaya. Masa pra produksi dan riset tentang kesejarahannya memakan waktu 6 bulan. Untuk set markas tentara Belanda, tidak tanggung-tanggung kru membangunnya dengan biaya yang cukup mahal. Begitu juga dengan "hends property" seperti topi, sepatu, ikat pinggang dan tentu kostum tentara Belanda dan tentara Padri. Sebelum ke lapangan untukpengambilan gambar yang berlokasi di Riau dan Sumatera Barat serta Bandung, Kru Tuanku Tambusai mempelajari miniatur lokasi suting, ini membuktikan bahwa Tuanku Tambusai benar-benar digarap serius.

Alex Suprapto Yudo, penulis skenario cukup 'Babak Belur" untuk mengangkat pahlawan yagn kurang di kenal ini. Beberapa  kali skenario dirombak dan direvisi. Tanpa refernsi dan bantuan pihak Pemda Riau dalam keberaadaan sejarahnya, takkan mungkin sinetron Tuanku Tambusai menjadi tontonan yang menarik ketika ditayangkan TVRI.

Irwinsyah takkan diragukan berkarya lewat audio visual elektronik itu, Pada FFI 1988 dia mendapat piala Vidia untuk sinetron "Sayekti dan Hanafi" dan konon telah di putar di seratus negara, selalu diikutsertakan di berbagai festival dil luar negeri. 

Banyak yang pro dan kontra tentang hasil garapan Irwinsyah lewat Tuanku Tambusai. Hasil 'lukisan'nya itu ada yang mengatakan 'mengada-ada'. Namun Irwinsyah telah mencoba mendekati sejarah Tambusai. Dan membangkitkan semangat orang muda untuk mengenal pahlawannya. 

Sinetron Tuanku Tambusai dilakoni oleh Cok Simbara sebagai Tuanku Tambusai, Tino Karno sebagai Bidin, Ferry Fadly sebagai Maringgit, Renny Djayusman sebagai Isteri Tuanku Tambusai, Agus Melasz sebagai De Stuller, S. Bono sebagai Be Richmond, Ahmad Nugraha sebagai Kohar dan didukung oleh ratusan figuran Riau dan Sumatera Barat. 

Tuanku Tambusai demikian namanya. Merupakan salah seorang panglima Tuanku Imam Bonjol yang berperang melawan Belanda, setelah Pangeran Diponegoro dapat di taklukkan Belanda. Sejarah membuktikan bahwa Tuanku Imam Bonjol dan sekutunya dapat di taklukkan pula oleh Belanda. Tapi dengan perlawanan yang sengit dan pantang menyerah dari tentara Padri. 

Sinetron ini tidak selalu menggambarkan suasana peperangan. Tapi juga konflik-konflik batin yang berkecamuk pada pasukan Tambusai. Untuk itu, Tuanku Tambusai selalu berhati dingin dan berlapang dada dengan laporan-laporan prajuritnya. Meski anak buahnya sudah kena penyakit rindu kampung halaman, karena bertahun-tahun bergerilya. Tuanku Tambusai tidak hanya pimpinan perang, tapi dia juga ulama yang disegani. Lewat keberadaannya inilah, petuah-petuah berhamburan, dia tidak hanya mengupas strategi perang, tapi juga manusia dengan Tuhannya dan manusia dengan manusia. Meski adegan Tambusai berkhotbah seakan lamban, namun Irwinsyah tak membuangnya, karena ada 'missi' didalamnya. 

Penataan Cahaya cukp apik. Lorong-lorong markas Belanda yang di Bandung cukup menggambarkan suasana. Kamera cukup jeli menangkap detail-detail setiap adegan yang dihadirkan. Apa yagn di sampaikan Tambusai cukup kompleks. Soal toleransi beragama dipaparkan lewat peran Maringgit, sosok pemuda animisme yang bersimpatik terhadap gerakan tentara Padri, Lalu sosok Bidin yang hilang keseimbangan melihat isterinya gantung diri, menggila dan membakar tempat perjudian. Lewat sosok ilmuwan Belanda yang riset, lalu tertangkapnya Tambusai tidak memerlakukannya sebagai musuh. Terbuktilah tak semua orang Belanda suka penjajahan, seperti Multatuli. 

Dengan dana 300 juta, wajar kalau sinetron ini menjadi yang terbaik. Sebab segala sesuatu dikerjakan sesuai konsep yang telah di sepakati. Inilah membuat sinetron Tambusai menjadi tontonan menarik. Meski secara sinematography sinetron Tambusai bisa lebih baik, tapi Irwinsyah hanya memberikan batas waktu 40 hari untuk menyelesaikan suting yang sarat dengan misi, baik sejarah maupun agama. ~ MF 114/82 Tahun VII, 10 - 23 Nov 1990.

No comments:

Post a Comment