ANNE JUNITA COTO(berita lawas). Perjalanan panjang telah ditempuh oleh gadis jelita bertubuh sexy, tinggi nan putih ini. Sebelum menjadi pemeran utama di sinetron laga Panji Tengkorak, yang mengharuskannya bersilat-silat ria, dengan sesekali jatuh bangun, terbanting dan terjerembab oleh lawan mainnya, Anne Junita Coto pernah menjuarai sejumlah konteks kecantikan yang 'hanya' menuntutnya berlenggak lenggok diatas pentas.
Tapi permainan fisik yang keras, yang biasanya digemari lelaki, memang akrab dengannya sejak remaja. Putri ke 3 dari 6 bersaudara kelahiran Pontianak, 29 Juni 1974 ini pernah mengikuti latihan terjun bebas, terjun payung di kota kelahirannya, Pontianak. Sebelum stop, karena orangtuanya cemas. Soalnya makin lama makin nekad.
"Saya ikut-ikutan kontes karena kakak saya juga langganan kontes. Karena sering nonton, diminta bantu-bantu, akhirnya kebawa ikutan jadi peserta,"kenangnya, tentang keaktifannya di panggung kontes. Kakaknya Mimi Sylviana Wahyuni yang 5 tahun lebih tua, merupakan langganan kontes kecantikan bahkan sudah kalibar nasional.
Anne sendiri dipanggung kontes kecantikan, kemudian menyabet tak kurang 19 kejuaraan dari tingkat harapan sampai pemenang I, mulai dari level Pemilihan Bujang Dare Pontianak, Dare Ayu se Kalbar, Pemilihan Ratu Kebaya, Busana Nasional, Putri Citra, hingga putri Indonesia yang menjadi idaman gadis-gadis cantik yang padat prestasi itu.
Yang membanggakan, untuk mengikuti kontes-kontes itu gadis jangkung dengan modal tinggi 170 cm ini mencari dan mendapatkan biayanya sendiri. Orangtua hanya memberikan support moral. "Melatih Aerobik menjadi penjaga stand pameran, sales promotion girl, nyanyi dll. Pokokny ayang jadi duit Anne kerjakan. Pada dasarnya Anne memang nggak betah diam, Kalau nganggur terus mikir, enaknya ngapain? Yang menghasilkan, gitu, katanya sembari ketawa. Selain karena terdesak kebutuhan rasanya bangga juga lho, menghabiskan uang hasil keringat sendiri, tambahnya mengenangkan.
Kenikmatan dan keasyikan macam apa yang dirasakan dengan kontes-kontesan?
"Pengalaman dan popularitas," jawabnya mantap.
Ngomong-ngomong benarkahmodel cenderung longgar dan toleran, terutama dalam hal seks? "tergantung orangnya. Masing-masing juga sih ya. Orang biasa yang gampangan juga banyak, "kilahnya.
Kini kontes-kontes kecantikan menjadi kenangan selain sudah jenuh, juga karena ada tantangan lain yang lebih menarik, akting di depan kamera dan untuk layar kaca.
Bagaimana awal mulanya mengenal sinetron? "Diajak teman, ketemu di pertokoan, langsung dibawa ke lokasi suting. Gitu aja, "ungkapnya. Tak nyana suting pertama berlanjut di sinetron berikutnya. Mula-mula komedi Kanan Kiri OK, lantas melodrama Senja Makin Merah kemudian aksi laga Panji Tengkorak. Dan Selamat Pagi Suci.
Panji Tengkorak sejauh ini merupakan sinetron yang mengesankan, karena selain menurutnya untuk berlatih fisik, untuk adegan-adegan laga tak hanya ekspresi dan berdrama ria disini ia mendapat peran penting dan intens tampil 10 episode. "Anne berperan sebagai Nesia, peran antagonis, pendekar wanita yang jahat karena sanga mencintai Panji Tengkorak, dan bersaing dengan Dewi Bunga (Inung Rismadara) dan Andini (Yanti). Tokoh Panji Tengkorak dimainkan oleh Fendi Pradana.
Tentang keterlibatannya di olahraga terjun payung diungkapkan, saat ia aktif di FKPPI Organisasi putra putri tentara itu, menyelenggarakan program pelatihan terjun payung bagi yang berminat. Ia terdaftar sebagai 1 diantara 8 wanita bersama-sama 50 peserta lainnya. Katanya ia berpengalaman terjun bebas (Free fall) sebanyak 13 kali. "Yang nikmat dan mendebarkan ya waktu terjun bebas itu. Lihat bumi dari langit, Asyik. Payung belum mengembang indah dan lega rasanya kalau sudah landing, mendarat,"katanya. ~~MF No. 257/223/XII/20 April - 3 Mei 1996
