HERRY TOPAN INTERCINE & PRODUCTION, MEMBIDIK YANG BETAH DI DEPAN TV, (berita lawas). Setelah lama menghilang, tiba-tiba Herry Topan muncul dengan membawa ledakan dasyat untuk broadcast swasta RCTI. Menggaet mitra kerja pelawak kondang, Kasino melempar sinetron 'sensasional' Si Manis Jembatan Ancol, sinetron inilah yang memberi keyakinan para pengasuh program lokal stasiun televisi, bahwa sinetron anak negeri juga bisa digemari masyarakat, yang waktu itu TV swasta kita tengah di jejali sinetron dan film produk Amerika.
Sejak sukses dengan sinetron yang dibintangi dan sekaligus mempopulerkan bintang-bintangnya, Diah Permatasari dan Ozy Syahputra, nama Herry Topan ikut populer. RCTI pun menjadi ketagihan dengan produk-produk yang dihasilkan Herry Topan Intercine & Production (HTI). Padahal ketika produk pertama HTI sebelumnya, yang berbentuk Variety Show dengan mata acara Bugar Bersama Dr. Sadoso dan Sinetron Sebening Air Matanya, RCTI setengah hati dalam menayangkannya.
Lazimnya perusahaan patungan yang meraih sukses, ujung-ujungnya pasti bertikai dan bubar. Begitupun dengan Herry Topan dan Kasino. Keduanya jalan sendiri-sendiri dan Herry Topan kemudian mengibarkan bendera Herry Topan Inercine.
"Begitu sukses denan Si Manis, RCTI makin memberi kesempatan kami untuk berkarya berikutnya. Syukurlah produk kami berikutnya yang berjudul Si Buta Dari Gua Hantu dan Wiro Sableng mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat, " papar Herry Topan ketika diwawancara oleh wartawan MF di mobil terbarunya, Blazer warna biru metalik menuju ke lokasi suting sinetron Wiro Sableng di Purwakarta, Jawa Barat.
Walau tidak sesukses Si Manis Jembatan Ancol, Si Buta Dari Gua Hantu karya besar Ganes TH mendapat tempat dihati masyarakat pecinta action klasik. Sebenarnya, menurut sumber MF, Si Buta secara bisnis rugi dan membuat RCTI kebakaran jenggot, karena mulanya RCTI berkeyakinan kalau Si Buta akan meraup iklan banyak dan meraih rating tinggi. Tapi ternyata pemasang iklan pada enggan pamer iklan produk-produknya disitu.
Jeblok di Si Buta, tidak membuat RCTI jera. Kali ini cerita karya besar Bastian Tito, Wiro Sableng yang bukunya hingga kini masih laris, lagi-lagi jadi andalan RCTI untuk tayangan Minggu Siang. Kali ini RCTI cukup berhasil. Wiro berhasil meraup iklan dan penonton serta melambungkan nama aktor pendatang , Ken Ken sebagai pemeran Wiro Sableng.
Entah siapa yang harus disalahkan. Tapi yang jelas suksesnya Wiro Sableng memancing kekisruhan untuk kedua kalinya di tubuh Herry Topan Intercine. Kali ini tidak lagi sesama rekan bisnisnya tapi dengan ken Ken sebagai pemeran Wiro Sableng. Pertikaian diantara produser dan pemain utama ini tidak menghalangi kerja Herry Topan bersama kru. Lagi-lagi Herry berprinsip the show must go on. Apapun yang terjadi produksi harus jalan terus. Karenanya, walaupun prtikaian antara dirinya dan Ken Ken terus berlangsung tapi produksi sinetron Wiro Sableng harus jalan terus. Maka, jalan keluarnya mengganti Ken Ken dengan pemain baru. Jadi tak heran bila Wiro Sableng ganti wajah baru mulai episode 53.
Judul yang sedang dikerjakan oleh HTI yakni Wiro Sableng dan Misteri Penunggu Makam. Rencananya akan ditayangkan di Indosiar. Apa sih resep HTI sehingga broadcast tetap percaya dengan produksinya? "Gampang saja, dalam melihat pasar, saya mencoba membidik orang yang punya kesempatan nonton TV. Lalu pertanyaannya Siapa sih punya banyak waktu untuk menonton TV? Menurut hemat saya wania dan anak-anak. Kalau sudah begitu, kita tinggal mencari produksi apa yang paling disukai wanita dan anak-anak, " papar Herry Topan.
Kata Herry lagi, tontonan yang disukai wanita dan anak-anak adalah cerita action dan misteri. Dicontohkannya, kenapa Si Buta bisa meraih sukses, karena jam tayangnya siang, dimana anak-anak ada di rumah dan ibu-ibu selesai masak. Begitupun dengan Si Manis Jembatan Ancol dan Misteri Delima dan cerita misteri lain.
Pada dasarnya cewek itu takut melihat film atau sinetron horor, tapi anehnya mereka paling suka kalau nonton sinetron horor. Kerenanya, dalam berproduksi saya mencoba memilik market anak-anak dan wanita, " ujarnya.
Agar produksinya tidak keteter dan terkejar jam tayang, seperti yagn banyak dialami ph-ph larin , maka Herry topan mencoba melengkapi peralatan pendukungnya seperti Kamera 5 buah, editing 2 set, 5 diesel, dink dolly, lighting lengkap untuk 5 produksi, komputer grafis dan animasi.
Untuk biaya produksi Herry tidak bisa memastikannya. Tapi katanya antara 50-60juta. Tapi untuk sinetron action seperti Wiro Sableng dan Si Buta bisa lebih dari itu. Tergantung situasinya lah, katanya. ~MF284/250/XIII/3-16 Mei 1997
