Showing posts with label Yuyun pasien rumah sakit jiwa. Show all posts
Showing posts with label Yuyun pasien rumah sakit jiwa. Show all posts

Wednesday, February 25, 2026

FILM BERMUTU, KENAPA GAGAL DI PEMASARAN?


 FILM BERMUTU, KENAPA GAGAL DI PEMASARAN? (Berita lawas). Anggapan bahwa film bermutu kurang laku dalam peredarannya nampaknya memang belum mau sirna. Hal itu memang banyak buktinya. Kalau soal mutu diukur dari hasil penilaian Dewan Juri Festival Film Indonesia (FFI). Cukup banyak contohnya yang bisa ditampilkan. 

Kita lihat saja misalnya FFI '79 dimana sistem nomine mulai diterapkan. Kecuali November 1928 garapan Teguh Karya yang akhirnya terpilih sebagai Film terbaik di FFI Palembang. Masih ada beberapa film lain yang tergolong bermutu. Pengemis dan Tukang Becak garapan Wim Umboh, Buaya Deli yang disutradarai Mochtar Soemodimedjo ada pula Kemelut Hidup garapan Asrul Sani. Film-film tersebut dalam peredarannya boleh dibilang kurang berhasil, bila dibandingkan dengan Inem Pelayan Sexy atau Rahasia Perkawinan yang meraih Piala Antemas sebagai film terlaris dan banyak dibicarakan masyarakat luas. 

Tahun berikutnya, FFI '80 di Semarang, Perawan Desa terpilih sebagai film terbaik. Nah film unggulan lainnya, Kabut Sutera Ungu yang disutradarai Sjumandjaya, Rembulan dan Matahari karya pertama Slamet Rahardjo yang akhirnya terpilih sebagai film terbaik kedua , ada pula Yuyun (Pasien Rumah Sakit Jiwa) garapan Arifin C Noer, Gadis Penakluk arahan Eduard Pesta Sirait. 

Namun dibangingkan Gita Cinta Dari SMA-nya Arizal, Iramaya dan Kakek Ateng, Film-film nominasi itu dalam mengumpulkan penonton jauh ketinggalan. 

Perempuan Dalam Pasungan barangkali memiliki keistimewaan tersendiri. Film terbaik arahan Ismail Soebardjo ini memang sukses di peredran. Hal itu dimungkinkan karena peredaran film patungan Garuda film, Gemini Satria Film dan Interstudio itu memang pas masa peredarannya. Setelah terpilih sebagai film terbaik FFi '81 segera pula beredar di bioskop. 

Yang juga sukses tahun itu dalam segi mutu masih ada beberapa film . Para Perintis Kemerdekaan (Dibawah Lindungan Kabah), Seputih Hatinya Semerah Bibirnya, Laki-laki dari Nusakambangan yang memberikan piala citra pertama buat maruli Sitompul. Teguh Karyapun menyodorkan satu film, Usia 18.

Sundel Bolong, film mistik garapan Sisworo Gautama Putra yang mendapat Piala Antemas di Medan, kembali membuyarkan image yang mulai di bangun Perempuan Dalam pasungan dan Kabut Sutra ungu sebagai film bermutu dan laku. Pada tahun berikutnya tak ada film terbaik yang penontonnya mampu menyaingi perolehan penonton yang dikumpulkan film-film Warkop DKI . pertanyaan tersebut memang sulit untuk memperoleh jawaban yang pasti. Yang jelas film bermutu memang  sulit bersaing dalam pengumpulan penonton. ~ MF 114/82 Tahun VII, 10 - 23 Nov 1990.