Showing posts with label Suting di China. Show all posts
Showing posts with label Suting di China. Show all posts

Sunday, March 1, 2026

TUTUR TINULAR MASUK TELEVISI


 TUTUR TINULAR IKUTAN MASUK TELEVISI. (Berita lawas). Sukses di layar lebar, kisah Tutur Tinular diangkat ke layar kaca oleh rumah produksi PT. Gentabuana Pitaloka yang di komandoi Budi Sutrisno, dan tayang di ANTV mulai 25 Oktober 1997 setiap sabtu pukul 20.00 WIB. Ini adalah sinetron kolosal (dibuat secara kolosal bukan kolosal itu artinya silat ya.. hehe) kedua yang ditayangkan ANTV setelah Singgasana Brama Kumbara. 

Tutur Tinular diangkat dari drama sandiwara radio karya S. Tijab yang sukses besar di 315 radio swasta seluruh Indonesia. Dengan posisi pemain yang sudah dirombak seperti Anto Wijaya, Lie Yin Chien (Li Yun Juan), Deivy Zulianty, Agus Kuncoro, Chairil JM, Candy Satrio, Anika Hakim dan sejumlah pemain muda lainnya. Sementara pemain lama seperti Lam Ting, Hans Wanaghi, Johan Saimima, Ricky Hosada, Piet Pagau, Murtisaridewi, Hendra Cipta, Herby Latuperisa dan puluhan pemain yang masih ikut serta. 

Suting Tutur Tinular sebenarnya di mulai sejak tahun 1996 di sekitar bumi perkemahan Cibubur . Tapi sinetron garapan sutradara Muchlis Raya ini jadi perhatian saat beberapa pemain utamanya suting di Beijing China. Lamting, Hans Wanaghi, Ricky Hosada, Steven Sakari dan Chairil JM berangkat ke Beijing sejak 4 Oktober . Disana mereka diarahkan oleh dua sutradara China dari Akademi Film Beijing, Chen Kaige dan Mude Yuan.  

Di tangan dua sutradara itu kelima aktor laga Indonesia diarahkan secara tangan dingin, efisien dan efektif dengan standar kerja perfilman China. Setting yang ditonjolkan adalah atmosfer daratan Tiongkok masa pendudukan tentara Mongol di bawah Kaisar Kubhilai Khan. 

Tata artistik yang semula ditangani oleh Abdullah Sajad digantikan oleh Chang Yi Mu, masih dari Akademi FIlm Beijing. Hang Yi Mu mengubah sosok lahiriah kelima bintang laga Indonesia itu menjadi lebih dekat ke etnis pendekar ala China. 

Bukan hanya sutradara dan penata artistik yang ditangani oleh China, tapi juga produser berganti dari Budi Sutrisno ke tangan Khao Shin, produser pelaksana selama suting di daratan China. Menurut Khao Sin, dia memilih Chen Kaige dan Mu De Yuan karena keduanya merupakan sutradara film papan atas China yang memperoleh predikat sebagai sutradara terbaik China. 

Tak kalah menarik, pemeran Mei Shin di perani oleh artis asli China yakni Lie Yin Chien. Sedangkan di film layar lebar Mei Shin di perani oleh Elly Ermawati di Tutur Tinular 1yang juga pengisi suara di serial Radio Tutur Tinular.  

Tutur Tinular yang sementara di pasok ke ANTeve sebanyak 26 episode, tata laganya ditangani oleh instruktur fighting kawakan Eddy S Jonathan dan Denny HW yang memidani serial Singgasana Brama Kumbara. 

Cerita Sinetron Tutur Tinular ini tidak jauh berbeda dengan versi sandiwar aradio dan film layar lebar. Berkisah tentang kitab Negarakertagama yang mengatakan bahwa pada tahun Saka 1206 pemerintahan Singosari (Tumapel) mulai melakukan program politik Diwpantara (meluaskan kekuasaan keluar Jawa). Maka jadilah Prabu Kertanegara sebagai pembangun Jawa Agung yang pertama. 

Namun beberapa pembesar kerajaan tidak setuju akan politik Dwipantara, seperti Pu Raganatha dan Ramapati. Mereka langsugn mengundurkan diri. Mpu Hanggareksa seorang ahli senjata pusaka tetap mendukung kebijaksanaan politik tersebut. 

Mpu Hanggareksa memiliki dua anak laki-laki, Arya Dwipangga dan Arya Kamandanu. Dalam percintaan, Arya Kamandanu selalu dikalahkan kakaknya, Arya Dwipangga. Bahkan Ratih, gadis yagn sangat dicintainya berhasil direbut dan dikawini Arya Dwipangga. 

Sementara itu sayap kekuasaan Kertanegara semakin luas. Suatu ketika Kertanegara mengeluarkan prasasti Amoghapasa yang di tujukan pada Tribhuwanaraja, raja kerajaan Melayu. Ketika program politik Dwipantara sedang dilaksanakan dengan gencar, disaat yagn sama kekuasaa Kaisar Mongol juga sedang merajalela didaratan Asia dibawah pimpinan Kaisar Kubhilai Khan yang punya kepentingan dengan kerajaan Melayu. Selanjutnya cerita berlanjut dengan konflik dan cerita yang dikemas secara bagus. 

diambil dari MF No. 297/263/XIV 1-14 November 1997