PACAR KETINGGALAN KERETA, BENTUK LAIN KOMPROMI TEGUH KARYA, (Film Lawas). Teguh Karya ternyata tak cuma mahir sebagai seorang tragikus. Tapi juga cukup lihai sebagai pembanyol. Dan itulah yang Ia perihatkan lewat film terbarunya "Pacar Ketinggalan Kereta". Sebagai seorang tragikus, tak dapat di sangkal Teguh adalah sutradara dengan pemahaman dramatik yang nyaris tanpa cela. Tapi sebagai pembanyol ? Sense of humor Teguh agaknya terlalu tinggi untuk bisa menyaingi Srimulat.
Lihatlah, untuk keperluan membanyol itu Teguh harus menyusupkan Didi Petet dalam "Pacar Ketinggalan Kereta"(PKK) diantara deretan pemainnya yang berwajah serius. Babak demi babak pun tampak dirangkai Teguh dengan semangat yang cenderung menghibur ketimbang memberi renungan. Dan itu tanpa bisa ditolak, menunjukkan betapa Teguh saat ini sedang bergerak. Sedang memulai sebuah perjalanan yang menurut Teguh sendiri suatu yang baru dalam perjalanan kreatifnya.
Tapi, adakah yang benar-benar baru pada tawaran Teguh kali ini? Bagi Teguh sendiri mungkin ya, tapi bagi kita yang menyaksikan PKK, kecuali pola penggarapannya yang cenderung musikal yang memang menjadi pola yang langka dalam sejarah perjalanan perfilman kita sejak Usma Ismail (alm) membuat "Tiga Dara", Teguh tak menawarkan hal-hal baru yang lain. Dari cerita, apa yang diangkat, Teguh toh sebuah problema klise yang menyehari. Dan Teguh tak mencobanya memberi gereget.
Ada satu keluarga kaya dengan dua anak. Sebuah gambaran keluarga modern Indonesia. Sang ayah yang direktur di sebuah perusahaan, tanpa Teguh berusaha menjelaskan sebabnya, tampak begitu intim dengan sekretarisnya yang janda. Isteri cemburu. Dan bagi Teguh itu sudah cukup untuk membuat kehidupan keluarga itu penuh dengan omelan hingga sang anak mencoba mencari arti hidupnya sendiri.
Lalu ada keluarga si Janda. Ada keluarga Ipah yang pincang dan miskin. Ada Martubi yang supir dan Juminten yang babu. Ada Oom Nurdin yang tak jelas sosoknya dan ada pula pemain lain yang kuli, yang pengamen, yang pemilik warung dan yagn spesial hadir untuk membuat gerrr seperti Didi Petet.
Dan, seperti ceritanya, film inipun mengalir lancar bak air sungai. Yang jelas PKK berakhir dengan happy ending. Semua pemain lalu dijejerkan Teguh di layar dan nyanyi bersama diselingi upaya membanyol Didi melarikan Juminten. Lantas adakah ini potret bahwa seorang Teguh sedang berada diatas puncak tragedinya? Adakah PKK satu kemajuan atau malah kemunduran kerja kreatif Teguh?
Dibanding film Teguh yang sebelumnya, sebut saja "Doea Tanda Mata" saya lebih cenderung mengatakan Teguh saat ini sedang berada pada fase kemunduran. Atau ia mungkin ingin lebih realistis dalam menyiasati pasar film kita dan melakukan kompromi untuk hal-hal yang bisa jadi, diluar kehendak kreatifnya? Entahlah. Tapi sikap kompromis Teguh itu seperti sudah terlalu jauh ingga disadarinya atau tidak, dalam PKK Teguh tampak sebagai sutradara yang kehilangan keseriusan, ketelitian kecermatan dalam detail dan penuh dengan renungan.
Lantas apa saja yang di lakukan Teguh dengan waktu dua tahun penggarapannya? Dan itulah masalahnya memang. Sebagai karya sinematografi PKK jelas tak terlalu jelek. Teguh cukup berhasil menyajikan sebagai suatu yang menghibur. Adegan demi adegan ditata Teguh bagai menyusun buku komik. Tak berbelit-belit. Tak payah. Itu dibantu oleh editing Karsono yang juga tak ingin menyusahkan mata. Dan musik di tangan Idris Sardi, mengalir dengan selera kekinian yang, sayangnya, tanpa nuansa emosional apa-apa. Kamera yang maunya muram terus dengan dominasi warna coklat tersebut, sebenarnya sudah cukup mewakili keinginan artistik Teguh, namun tak cukup tajam untuk bisa mengarahkan penonton untuk membawa pulang pesan dan kesan emosional yang ada dalam PKK.
Teguh lewat PKK agaknya ingin menjadi remaja. Dengan lagu-lagu dan musiknya. Dengan sosok-sosok tokoh yang ditawarkan dan dengan ceritanya sendiri. Sayangnya, sosok-sosok anak muda dan hasrat mandiri mereka dalam PKK terkesan cuma melengkapi konflik keluarga kaya tersebut. Tak ada konflik yang benar-benar serius ditawarkan Teguh dalam filmnya ini. Tapi, apakah memang bisa PKK menjadi sebuah karya yang serius jika permasalahan ceritanya sendiri sebenarnya sangat sepele? Sangat sederhana?
Dan, jika Teguh masih cukup berhasil menyajikannya sebagai sebuah film yang membanyol, mungkin inilah bentuk lain dari kompromi Teguh. Dan kita patut gembira. Paling tidak , PKK memberitahu kita bahwa Teguh masih ada, meski berada dibawah masa lalunya. ~~MF 086/54/Tahun VI, 14 - 27 Okt 1989

No comments:
Post a Comment