Showing posts with label christine hakim. Show all posts
Showing posts with label christine hakim. Show all posts

Thursday, August 27, 2026

CHRISTINE HAKIM, MEMANG BUKAN PEREMPUAN BIASA

 


CHRISTINE HAKIM, MEMANG BUKAN PEREMPUAN BIASA (berita lawas). Christine Hakim akhirnya bersedia juga main sinetron produksi Multivision Plus yang berjudul menarik, "Bukan Perempuan Biasa".

Karuan ini suatu kebanggaan besar bagi Produser Raam Punjabi yang sebelumnya juga berhasil mengajak pasangan bintang abadi Sophan Sophiaan - Widyawati bermain dalam serial Abad 21. 

Terus terang sudah sepuluh tahun lamanya saya ingin menjalin kerjasama dengan Christine , "aku Raam. "Waktu itu saya berhasrat membuat film bioskop, tapi baru dua tahun lalu, Christine setuju untuk bermain dalam sinetron ini yang bakal di garap oleh Arifin C Noer. Sayang beliau keburu tiada, hingga proyek nyaris tertunda. 

Adalah Jajang C Noer yang selama setahun terus mengejar Raam untuk melanjutkan proyek mendiang arifin agar tak sampai batal. Sebenarnya memang Arifin telah menulis tujuh skenario dari miniseri yang direncanakan tamat dalam sepuluh sepisode ini . Lalu bagaimana dengan tiga episode yang beum rampung?Diminta Arswendo Atmowiloto yang juga kawan lama almarhum untuk menyelesaikannya sampai tuntas. 

"Saya mau bilang apa, cuma saya sangat bersyukur telah diberi kesempatan dan kepercayaan oleh Pak Raam dan Raakhe untuk mengerjakan pekerjaan Mas Arifin yang tertinggal,"ucap Jajang. 

Bukannya tanpa susah payah bagi Jajang untuk mendapat kepercayaan tersebut karena semula Raam menghubungi sutradara-sutradara handal seperti Slamet Rahardjo, Putu Wijaya dan Garin Nugroho. Tapi diluar sepengetahuannya, Jajang juga mendatangi mereka dan berpesan setengah mengancam "Jangan mau terima twaran dari Pak Raam. Bilang saja cuma istrinya yang tahu betul dan paling tepat untuk melanjutkan karya Mas Arifin.

Al hasil Raam menyerah pada Jajang, apalagi setelah jajang menjamin bahwa Christine tetap akan menjadi leading-lady (pemeran utama). Padahal pada waktu dicari, Christine sedang berada di Sukabumi suting film produksi Emerald Film dari Belanda, Tropical Emerald. 

Bukan Perempuan Biasa didukung oleh Desy Ratnasari Dony Damara, El Manik, Pangky Suwito, Eeng Saptahadi, Remy Silado, Marini Zumarnis, Charlie Sahetapy dan banyak lagi. 

Berikut petikan wawancara yang dimuat di Majalah Film nomor : 270/236/XIII/19 Okt - 1 Nop 1996

T : Setelah sekian lama, boleh dibilang menghilang, baru sekarang anda kembali bermain?

J : Saya nggak menghilang kok mas, cuma...tersingkir. Entah kenapa tersingkir lagi musim banjir kali?!. Tapi saya merasa diri saya adalah artis yang beruntung, beruntung sekali malah. Karena saat kondisi perfilman Indonesia sedang begini, justru saya mendapat kesempatan untuk meninjau perkembangan dunia film di Australia selama enam bulan. Saya lihat disana ada Asosiasi Women Film Maker yang anggotanya lebih dari 300 sineas wanita. Bayangkan, padahal Australia kan penduduknya cuma 17 Juta, tapi begitu banyak wanita yang sudah jadi sutradara!. Lalu bermain  untuk sebuah film Jepang di Jepang. Disana juga saya empat diundang ke Women International Film Festival. Dan terakhir main film Belanda yang lokasi sutingnya di Sukabumi. 

T : Kenapa baru sekarang Anda mau main sinetron, bukankah dulu Anda cuma mau main untuk film bioskop? 

J : Saya tak pernah bilang anti sinetron, sama sekali tidak . Memang sejak dunia televisi swasta mekar, saya banyak ditawari main sinetron. Cuma waktu itu saya masih dalam kondisi prihatin dan sedih melihat film nasional, hingga merasa sulit untuk pindah ke media lain dalam hal ini teve. 

T : Bisa cerita bagaimana sampai Jajang berhasil membujuk Anda?

J : Saya masih ingat, Sabtu malam, jam sepuluh, saya baru selesai suting di Sukabumi, baru siap-siap untuk mengaso, mendadak Jajang menelpon saya. Dia bertanya apa benar saya menolak untuk main sinetron, saya jawab tidak benar. Langsung Jajang menceritakan bagaimana perjuangnnya sampai berhasil membujuk Raam. Mendengar ceritanya, hati saya jadi luluh. Bagi saya, yang disebut Bukan Perempuan Biasa seharusnya ya si Jajang ini. 

Lalu saya minta Jajang menunggu sampai suting Emerald selesai, baru bicara lagi. Saya tidak mau membaca skenario yang mau dikirimnya ke Sukabumi. Sebab kalau saya membacanya dan tertarik, nanti bisa mempengaruhi saya. 

T : Bagaimana sih ceritanya sinetron Bukan Perempuan Biasa?

J : Bayangkan saja ya, saya diper kosa El Manik, lalu punya anak Desi Ratnasari (tertawa). Ceritanya saya berperan sebagai Menul, perempuan desa yang minggat dari rumah karena menolak ketika hendak dikawinkan oleh ayahnya. Malah ia diper kosa oleh lima pemuda mabuk sampai hamil. Kelak menul menjadi tukang pijat tradisional di Solo. sedang anaknya, Sri, tumbuh menjadi remaja. mendadak mereka menerima kiriman barang-barang mewah. Menul merasa tak mengenal Pak Bachtiar, si pengirim serta, merta menolak. Ternyata Bachtiar ini adalah salah seorang pemerkosa yang telah insyaf dan ingin menebus dosanya. Itu cerita babak pertamanya selanjutnya masih panjang lagi. 

T : Boleh tahu berapa Christine Hakim di kontrak untuk bermain sinetron ini?

J : Sampai sekarang belum ada kontrak, saya belum menandatangani apa-apa, baru gentleman agreement saja untuk mulai kerjasama. Bagi saya yang penting dalam bekerja harus punya motivasi yang jelas, bukan uangnya, Dan kita akan berusaha untuk berbuat sebaik mungkin. 

T : Atau nanti Anda akan dikontrak pertahun, agar juga bisa main dalam sinetron-sinetron produksi Multivision yang lain?

J : Belum, kontrak yang satu ini juga maish belum ditandatangani. Tapi saya rasa kita semua sudah seharusnya berterima kasih pada Raam, meskipun jelas juga banyak orang yang jelus padanya. harus dihargai dong kreativitas dan jasa raam yang berhasil mengembangkan sinetron di teve swasta. kalau beberapa tahun lalu, produk impor seperti telenovela begitu digandrungi, Raam berhasil lewat produksi lokal mulai dari Gara-gara, Lika Liku Laki Laki sampai misalnya Pelangi Di Hatiku. Sekarang Desy Ratnasari bisa mengalahkan Maria Mercedes. Rating sinetron lokal ada diatas telenovela. Ini semua merupakan andil Raam yagn sangat besar, mesti diakui secara fair. 

Saya akan mendukung Raam, selama masih pantas di dukung. Saya yakin seribu persen, Raam pasti akan memproduksi film nasional lagi bila tiba saatnya. Pokoknya saya dukung, ya selama Raam juga masih setia pada negeri ini. Semoga tidak jadi pengkhianat (tertawa). 

T : Tidak ada keraguan bekerja di bawah penanganan seorang sutradara yang masih baru?

J : Bukan baru sekarang saya bekerjasama dengan sutradara yang untuk pertama kalinya berkarya. eros Djarot misalnya. Malah dengan sutradara baru, saya bisa merasakat spiritnya yang maih murni. Tapi saya yakin Jajang bisa kok. Saya juga sudah membaca skenarionya kalau perlu seratus kali agar bisa masuk diperannya. Sebenarnya minimal saya butuh waktu tiga bulan setelah selesai suting sebuah film, untuk melepas peran agar kembali normal, baru mulai masuk keperan baru. Tapi demi Jajang, kali ini saya langsung masuk ke peran Menul. 

T : Apakah dengan ini Anda ingin meninggalkan dunia film (bisokop)?

J : Saya tidak pernah meninggalkan dunia film, tapi ingat, saya juga bukan satpam yang kerjanya menjaga film. Saya ingat jaman jaya-jayanya film nasional, mendadak semua orang merasa punya kepentingan, ikut mengatur, harus begini harus begitu. Jadinya ya begitu, kebanyakan pesan. Mestinya biarkan saj atumbuh seperti apa adanya. 

Bukan cuma di Indonesia banyak negara lain, termasik Prancis, yang punya masalah tak bisa bersaing dengan Film Amerika, akhirnya memilih untuk memproduksi film teve. Yang penting, harus berbuat terus berekspresi. 

Sekarang saya bisa merasakan getar wartawan yang merindukan film nasional. Dibawa sadar kita semua ada kerinduan film nasional berkembang seperti dulu, seharusnya wartawan yang berperan besar menjadi satpam tadi. Saya tidak tahu apakah film nasional masih unya kesempatan untuk bangkit lagi apalagi menghadapi zaman global. Hukumnya wajib bagi kita semua untuk melindungi film dan sinetron sebagai produksi budaya. ~~


Thursday, May 7, 2026

BUKAN PEREMPUAN BIASA, SINETRON PERDANA CHRISTINE HAKIM


BUKAN PEREMPUAN BIASA, SINETRON PERDANA CHRISTINE HAKIM, (Kisah Lawas). Christine Hakim main sinetron, ini sudah jadi pemberitaan. Raam Punjabi, produser Multivision Plus, berhasil menarik aktris nomor satu dalam perfilman nasional itu, untuk memperkuat kubunya. Adalah Jajang C Noer yang berhasil membujuk Christine Hakim untuk bermain dalam karya penyutradaraannya yang pertama ini. 

BUKAN PEREMPUAN BIASA memang menjanjikan sebagai miniseri (terdiri dari 10 episode) yang berbobot lebih dari produksi Multi sebelumnya. Bukan cuma karena pemeran utamanya Christine dan suradaranya Jajang, tapi juga karena cerita-skenarionya merupaka warisan dari almarhum Arifin C Noer, yang bagian klimaksnya ditambal sulam oleh Arswendo Atmowiloto (karena skenario asli tulisan Arifin baru mencapai tujuh episode). Disamping itu sinetron inipun di dukung oleh pemain yang sudah tidak asing lagi seperti : Desy Ratnasari, Donny Damara, El Manik, Pangki Suwito, Remy Silado, Eeng Saptahadi, Anwar Fuady, Arswendi Nasution, serta bintang muda Ari Sihasale, Hans Wanaghi dan Marini Zumarnis. 

Sutingnya hampir keseluruhannya berlokasi di desa diluar kota Solo, Jawa Tengah. Editor Karsono Hadi menyuntingnya, sinetron ini ditayangkan di RCTI pada medio bulan Mei 1997.

Ceritanya sebagai berikut. 

Menul (Christine Hakim) perempuan desa yang menolak kehendak ayahnya untuk menikah dengan seorang lelaki tua, minggat dari rumahnya. Malang, ia diperkosa oleh lima pemuda mabuk. Akibatnya berkepanjangan, karena ia hamil tanpa jelas siapa yang menghamilinya. 

Dua puluh lima tahun kemudian, Menul telah menjadi perempuan paro baya yang berprofesi sebagai tukang pijat tradisional. Ia cuma hidup bersama putrinya, Sri (Desy Ratnasari) yang baru menamatkan kuliahnya di Fakultas Hukum. 

Mendadak Menul yang tinggal dirumah sederhana dipinggiran kota Solo dikirimi kulkas dan teve baru. Menul menolak menerimanya karena tak pernah merasa memesan. Sebaliknya si pengirim, usahawan sukses Pak Bachtiar (El Manik) tak habis mengerti mengapa maksud baiknya ditolak. 

Bachtiar sendiri menemui Menul. Bahkan secara mengejutkan mengajukan lamaran. Tapi menul tak menanggapi , karena kekecewaan hidupnya dimasa silam. 

Dalam pada itu, kegembiraan Sri yang baru di wisuda, pupus demi pcarnya , Soni (Donny Damara), memutuskan hubungan. Pasalnya orangtua Soni mengangap latar belakang Sri sangat tidak jelas. Sri menjadi penasara, ingin mengetaui siapa ayahnya sebenarnya. Demi mmebongkar kamar bunya, Sri menemukan ratusan wesel yagn tak pernah diuangkan, kiriman dari Hamdan (Pangky Suwito). 

Sri ingin mencari Hamdan di Jakarta. Menul mencegahnya, sampai tak tahan menampar wajah Sri. Demi menenangkan Sri yang histeris, Menul mengungkap masa lalunya. 

Gara-gara ayahnya suka berjudi, keluarga Menul dililit hutang pada renternir Sunardi. Untuk melunasi hutangnya, asah Menul (TB Maulana Husni) setuju menikahkan putrinya dengan si lintah darat. Tapi Menul memilih minggat. Ia mencari sahabatnya , Wiwik (Clara Sinta) yang bekerja di kompleks rumah peristirahatan 

Ketika Menul bekerja sebagai pelayan di kompleks inilah, ia di perkosa oleh lima pemuda yang tengahberpesta minuman keras. Dengan menahan sengsara, Menul pulang kerumah oranguanya.Terpaksa menyetujui dinikahkan dengan Sunardi. Namun Sunardi yang kecewa karena Menul sudah tak perawan lagi, segera menceraikannya. 

Terlunta-lunta Menul ang diusir ayahnya, mengembara sendirian. Bekerja sebagai pelayan di restoran kecil, sampai bertemu Wiwik yang mengajaknya menjadi wanita penghibur. Namun Menul tak bisa memaksakan diri berkencan. Menul memilih bunur diri, beruntung muncul pemuda Joko (Arswendi Nasution) yang menolong dan menampungnya di rumah kostnya. Bahkan Joko inilah yang mengurus Menul sampai melahirkan Sri. 

Cerita panjang Menul, menyadarkan Sri betawa menderitanya sang Ibu. Sri mengajak ibunya menyelidiki siapa senenarnya Hamdan. Tiba di stasiun Gambir, mereka disambut Hamdan dan putranya. Burhan (Ari Sihasale). Dirumah ada pula Hanny (Marini Zumarnis) adik Burhan. 

Dalam sebuah kamar, Menu melihat banyak lukisan wajah. Mungkinkah Hamdan salah seorang pemuda yang dulu memperkosanya? Hamdan mengakui, saat peristiwa itu terjadi, memang ia berada disana, tapi ia tak ikut memperkosa. Atas inisiatif Burhan dan Hanny, Hamdan bersama Menul dan Sri merancang rekontruksi untuk membuktikan siapa sebenarnya ayah Sri. 

Lima lelaki diundang untuk reuni ditempat dulu mereka memperkosa Menul. Kelimanya asyik bernostalgia sampai mendadak muncul Sri yang didandani persis Menul dulu. Kelimanya terkesiap dan mulai saling tuduh dengan versi masing-masing. Ada yang berargumentasi kalau dirinya impoten, hingga tak mungkin memperkosa, ada yang berdalih batal melakukannya karena ketakutan melihat Menul sudah pingsan. Lalu siapakah sebenarnya ayah kandung Sri?

Diam-diam Menul sudah menyiapkan sebilah pisau dalam tasnya untuk membalas dendam pada laki-laki yang telah menghancurkan hidupnya dua puluh lima tahun yang lalu. 

Gaya bertuur Jajang yang disesuaikan dengan skenarionya Arifin, terasa tidak biasa dilakukan dalam Sinetron Indonesia. Cenderung mengngatkan pada karya besar Sutradara Empu dari Jepang, Akira Kurosawa , Rashomon (Pemenang PIala Oscar untuk film Asing Terbaik 1950) di mana tokoh-tokoh yang terlibat dalam suatu kasus perampokan pembunuhan, pemerkosaan secara kilas balik mengungkap apa yang terjadi menurut versi masing-masing. 

BUKAN PEREMPUAN BIASA membuktikan Christine Hakim bukan aktris Biasa. Dengan kekuatan aktingnya yang telah jauh lebih matang daripada saat bermain di film Ponirah Terpidana produksi 1983 dengan peran nyaris serupa, ia bisa membuat pemirsa berminat untuk terus menontonnya dari episode perdana sampai tuntas. Lalu mungkin kelak ada Bukan Perempuan Biasa, kedua  atau sinetron lain yang dilakoni Christine Hakim. ~MF284/250/XIII/3-16 Mei 1997

Produksi PT Multivision Plus

Produser : Raam Punjabi

Sutradara : Jajang C Noer, 

Cerita/Skenario : Arifin C Noer

Kamerawan : Winaldha Melalatoa

Penata Artistik : Berty Ibrahim

Editor : Karsono Hadi

Pemain ; Christin Hakim, Desy Ratnasari, Donny Damara, El Manik, Pangky Suwito, Remy Silado, Eeng Saptahadi, Ari Sihasale, Marini Zumarnis, Clara Sintya

Sunday, December 29, 2019

FILM Perjuangan : BANDUNG LAUTAN API

Bandung Lautan Api

JUDUL FILM        : BANDUNG LAUTAN API
SUTRADARA       : ALAM SURAWIJAYA
PRODUKSI           : PT. PROPELAT KODAM VI SILIWANGI & PT. SRI AGUNG UTAMA   FILM
CERITA                  : LUKMAN MADEWA
PRODUSER          : Ny. YULIES ROFI’I
TAHUN PROD    : 1974
JENIS                     : FILM PERJUANGAN
PEMAIN               : DICKY ZULKARNAEN, CHRISTINE HAKIM, TATIEK TITO, ARMAN EFFENDI, HADISHAM TAHAK, MILA KARMILA

SINOPSIS : 

Film Bandung lautan api adalah sebuah film yang berlatar dari peristiwa Bandung lautan api yang terjadi pada 24 Maret 1946. Film berlatar perjuangan putra putri Indonesia yang di bumbui dengan kisah cinta segitiga antara Hidayat (Dicky Zulkarnaen), Nani (Christine Hakim) dan Priatna (Arman Effendy). 

Hidayat (Dicky Zulkarnaen) dan Nani (Christine Hakim) adalah orang-orang yang kerja di Radio Bandung.  Nani juga menjadi anggota PMI untuk perjuangan Indonesia. Setelah Proklamasi Berkumandang yang juga di teruskan oleh Radio Bandung, maka rakyat pun bergembira. Pekik Merdeka bersautan dimana-mana.  Pasukan Jepang yang berjaga-jaga di tarik. Antara Hidayat dan Nani sering berselisih paham, karena Hidayat selalu meras a benar dan menang sendiri seolah meremehkan orang lain. Hidayat lebih mengedepankan perjuangan melalui otak tidak hanya lewat fisik. Adalah Priatna, pejuang bekas tentara PETA yang juga ikut berjuang mengamankan radio Bandung ketika mengumandangkan proklamasi kemerdekaan. Priatna berhasil mencuri perhatian 
Nani pada pandangan pertama. Sementara Hidayat selalu membandingkan antara Priatna dengan dirinya, kalau Priatna selalu mengedepankan perjuangan fisik sedangkan Hidayat melalui otak. 

Pasca Proklamasi Kemerdekaan, di bentuklah BKR (Badan Keamanan Rakyat) yang di sambut antusias oleh pemuda-pemuda Bandung untuk mendaftarkan diri termasuk juga Hidayat yang juga seorang mantan PETA, termasuk juga dengan Priatna yang  masuk ke BKR. Antara Priatna dan Hidayat terdapat perbedaan bagi bawahannya. Hidayat masuk ke BKR dan di tunjuk menjadi salah seorang komandan kompi. Penunjukkan ini mendapat tentangan dari sebagian orang yang tidak setuju, namun demi perjuangan merebut kembali Indonesia untuk mengusir Belanda yang membonceng sekutu, Priatna berhasil meredam ketidaksetujuan di beberapa kalangan. 

Sementara itu Nani pulang ke kampungnya dengan mengajak Priatna. Namun kedatangan Nani tidak disambut gembira oleh ayahnya, seorang antek Belanda. Ayahnya menginginkan Nani untuk pulang ke desanya dan menjadi guru, Ia merasa kalau kehidupan yang Nani peroleh karena peran Belanda sudah sangat cukup, daripada harus berjuang. Namun Nani berjanji pada ayahnya akan tetap membela Indonesia meski ayahnya hanya mementingkan diri sendiri dengan mengabdikan hidupnya untuk penjajah. Nani pun kecewa. Ia kembali ke markas.

Di markas BKR, Hidayat mengendus adanya pertemuan dari pihak musuh. Dengan membawa beberapa pejuang, Hidayat di tugaskan untuk mengintip dan mendengarkan isi pembicaraan mereka. Namun Hidayat dan kawannya berhasil di ketahui maka terjadilah baku tembak, hingga akhirnya seluruh peserta pertemuan yang hadir tewas terembak termasuk juga ayah Nani yang ikut dalam pertemuan tersebut. Setelah tahu ayah Nani tertembak, Hidayat marah, karena telah terjadi kesalah pahaman antara dirinya yang menyuruh menghabisi mereka dengan Jarot yang telah menembaki mereka secara membabi buta. Namun Hidayat dengan jantan mengakui kesalahannya pada Nani.  Sementara itu Nani tetap ikut berperan aktif di PMI.
*****
Mendaratnya sekutu di Indonesia telah di setujui oleh pemerintah pusat. Wilayah Bandung utara disuruh untuk di kosongkan. Dan pemerintah Pusat juga telah menyetujui sekutu untuk membawa tawanan di daerah Bandung Selatan. Pemerintah kota Bandung tidak bisa berbuat apa-apa. Namun pejuang-pejuang yang berada di wilayah Bandung Selatan tidak mau mendengar perintah dari pusat karena kuatir dengan dibawanya tawanan perang, maka Belanda dengan leluasa akan bertindak semena-mena. Priatnya yang di tugaskan di Wilayah Bandung Selatan juga tidak bisa meredam kemarahan rakyat, hingga terjadilah pertempuran sengit. Para pejuang dapat di pukul mundur. Kekalahan ini menjadi bahan cemoohan oleh Kompi Hidayat yang di tugaskan di Bandung Utara karena di anggap tidak menggunakan strategi yang bagus. Terjadi sedikit ketegangan antara Kompi Priatna dan Kompi Hidayat. 

Priatna menolak Kompi Hidayat untuk turut serta melakukan serangan dan ingin membuktikan pada Hidayat, namun Hidayat bersikeras karena meski ia tidak biasa berjuang secara fisik, namun ia juga mampu untuk berjuang dan tidak hanya bisa ngomong saja. Dalam pertempuran tersebut Hidayat tertembak. Ia di tolong Priatna untuk di bawa ke kamp PMI. Hidayat di rawat oleh Nani yang sesungguhnya ia cintai. Namun jiwa besar Hidayat, akhirnya ia menyuruh Nani untuk menemui Priatna dengan pakaian terbagusnya. Hidayat dengan berbesar hati menyuruh Nani untuk menemui Priatna yang ia cintai. 

Akhirnya setelah menolong Hidayat, Nani buru-buru minta di antarkan ke wilayalah  utara untuk mengambil baju yang di simppan di rumah ibunya.  Sementara itu kekalahan yang kali ini di derita juga di sinyalir akibat adanya pengkhianat diantara para pejuang. Setelah ditangkap orang yang di curigai, komandannya menjamin bahwa bukan dialah orangnya. Ia mengaku malam sebelumnya ke wilayah perbatasan utara hanya untuk mengantar Nani. Maka tertuduh utama kini beralih ke Nani. Nani bersama Jarot salah seorang bawahan kompi Hidayat yang sedang menghampiri Priatna akhirnya di hadang dan dituduh menjadi pengkhianat. Setelah menganggap Nani adalah Pengkhianat, maka Priatna menembakkan pelurunya untuk ditujukan padanya. Namun sayang sekali peluru tidak mengenai Nani, tapi Jarot. Nani disuruh lari oleh Jarot. Akhirnya semua terkuak, kalau Nani bukanlah pengkhianat. Ia pergi ke wilayah utara malam-malam hanya ingin mengambil baju di rumah ibunya dengan tujuan untuk memakai baju bagus untuk menemui Priatna. Namun sayang sekali Jarot sudah tertembak dan Nani telah lari pergi. Priatna hanya membeku karena telah salah menerka. 

Perlawanan para pejuang Bandung meresahkan Sekutu, sehingga sekutu memberi ultimatum pada para pejuang untuk mundur. Namun hal ini di jawab oleh para pejuang dengan membumihanguskan kota Bandung . Pembakaran di mana-mana. Termasuk rumah keluarga Nani ikut terbakar. Nani dan Ibunya tidak mau keluar dari rumah, Ia lebih memilih mati tertembak oleh musuh, namun meski awalnya menolak, Nani akhirnya mau menuruti untuk keluar dari rumah yang hampir roboh karena api setelah di bujuk oleh Jarot. Sementara itu Hidayat yang terkena luka tembak akhirnya meninggal.