Showing posts with label wawancara dono.. Show all posts
Showing posts with label wawancara dono.. Show all posts

Saturday, September 19, 2026

Drs. WAHYU SARDONO, RASANYA SAYA SEMPURNA SAJA

 


Drs. WAHYU SARDONO, RASANYA SAYA SEMPURNA SAJA (berita lawas).  Jutaan rakyat Indonesia mengenalnya sebagai sosok lucu yang slealu menghibur tak hanya di panggung, di layar lebar, namun juga di layar TV. Anak-anak, remaja hingga dewasa segera gatal menerikakan namanya setiap kali melihat wajahnya yang khas. 

Itulah Dono Warkop. Terlahir atas nama Wahyu Sardono, bersama grupnya Warkop DKI, Ia menjadi figur fenomenal yang menimbulkan pro-kontra. Grup ini beranggotakan para Sarjana Intelektual, dari universitas terkemuka di republik ini Universitas Indonesia (UI), tapi dilayar perak, mereka hanya menjadi komedian-komedian korban plesetan. 

Dalam keseharian, Dono tidak begitu lucu. Berkesan serius, dan formil, malah bila dalam setiap pembicaraan terselip kata-kata lucu, memang 'kecelakaan'.

Dono adalah seniman komplit. Dengan bekal kecerdasan sebagai sarjana Sospol, dan kejeliannya sebagai artis, ia juga merambah dunia karang mengarang, menulis novel (Cemara-Cemara Kampus dan Bila Satpam bercinta), menjadi wartawan majalah Vista, memotret, mengelola studio (PT. Adam Intercine), menyutradarai sinetron (Opera Tiga Jaman dan Gado-gado RCTI), menjadi produser film layar lebar (Peluk Daku dan Lepaskan) dan mendirikan biro iklan kecil-kecilan. Tapi menjadi pelawak di layar perak memang darah dagingnya. Orang-orang tetap mengenalnya dari situ. 

Selama 14 tahun menekuni seni peran dan naik turun panggung, bermain di 28 film adalah perjalanan panjang, menjadikannya seniman yang kenyang dengan segala macam kritik, pujian, sanjungan dan makan. Dan ia tetap populer. 

Ia menikahi Titi Kusumawardhani, teman sekampusnya di UI dan kini menjasi ayah yang serius dan berbahagia dari 3 anaknya yang kesemuanya jejaka, Aryo, Damar dan Satrio. 

Berikut adalah petikan Wawancara dengan Dono yang di muat di majalah film nomor : 203/169/TH.X, 9-22 Aril 1994

T : Apa yang anda sesali setelah menjadi orang terkenal seperti sekarang ini?

J : Sering bertemu dengan wartawan yang mengajak wawancara. Sialnya, terkadang setengah memaksa dengan alasan di kejar deadline. Padahal saya tak selalu siap buat diwawancara karena lagi ada kerjaan atau lagi nggak mood. 

T : Dalam penampilan seperti sekarang ini, apa yang embuat anda merasa kurang sempurna?

J : Nggak ada. Rasanya saya sempurna-sempurna saja seperti layaknya orang lain. Sebab di jagad ini memang tak ada yang benar-benar sempurna. Jadi kalau kita selalu takut tak sempurna, kita tak akan pernah berbuat apa-apa. 

T : Kalau anda sedang bercermin, anda merasa bagian tubuh sebelah mana yang menjengkelkan?

J : Tahi lalat ang ada di punggung saya. Soalnya, saya harus ngaca dengan dua cermin. 

T : Hal-hal apa yang gampang membuat anda senang?

J : Jika orang senang dengan tingkah laku saya, sikap saya, hasil kerja saya. Pokoknya apa saja yang orisinil berasal dari saya. 

T : Hal-hal apa yang gampang membuat anda marah?

J : Kalau tersentuh per amarah saya. Misalnya, pas saya lagi sakit gigi, mendadak ada yang belajar jadi penyanyi. Sudah lagunya jelek, suaranya parau lagi. Disini amarah saya jadi terangsang. 

T : Saat-saat sekarang hal apa yang ada takuti?

J : Berurusan dengan petugas keamanan, atau orang-orang yang sok berlagak mengamankan. Padahal keadaan sebenarnya aman-aman saja. 

T : Benda apa yang selalu anda bwa kemanapun pergi?

J : Dompet, sedikit uang, dan kartu telepon. Tapi celakanya barang-baran gitu kerap ketinggalan lantaran kelupaan

T : Perlakuan apa yang anda harapkan dari orang yang anda sayangi?

J : Ready for used setiap saat. Sedikit sadis, tapi memuaskan kedua belah pihak. 

T : Ditempat mana dan dalam kesempatan apa anda selalu merasa bahagia?

J : Berada di dekat anak-anak saya. bermain, bercanda dengan mereka. Wah bukan main lucunya. 

T : Perlakuan macam apa yang tidak anda sukai dari orang lain?

J : Kalau dipaksa. Apalagi melakukan pekerjaan yang sebenarnya tak saya sukai. 

T : Bagaimana mengatasi rasa bosen?

J : Dengan cara tidak melakukan apa-apa. Jika bosan ngeseks saya nggak ngeseks. Kalau bosan makan bakso, saya nggak ngebaso, sederhana saja masalahnya. 

T : Bagaimana mengisi keisengan?

J : Saya nggak pernah iseng seperti yang ada lakukan saat ini. Baca majalah ini bukan karena iseng-iseng saja kan? Soalnya kalau sekedar iseng kita tak akan pernah beroleh apa-apa. 

T : Apa bacaan favoritmu?

J : Bacaan apa saja yang tercetak bagus. Sebab kalau cetakannya jelek, mama bisa tertarik. Apalagi yang cetakannya belepotan, bisa makin nambah minus saja kacamata kita. 

T : Akhir-akhir ini peristiwa aaapa yang membuat anda terharu?

J : Ketika bertemu wartawan yang sama, dengan mengajukan pertanyaan yangsama pula. itu-tu melulu. Sepertinya tak ada soal lain, sampai bosa saya menjawabnya. 

T : Peristiwa apa yang terakhir ini membuat anda frustasi?

J : Belum pernah mengalami dan semoga jangan pernah terjadi. Sebab frustasi tak memcahkan masalah, malah makin memperumit, Dengan pendekatan humor, masalah pelik akan lumer juga. 

T : Terakhir kali kapan anda mengalami kesedihan?

J : Sekarang ini saat menjawab wawancara ini. Pertanyaannya kok banyak sekali dan bermacam-macam lagi. Ini buat saya harus berpikir keras untuk menjawabnya. Sedihnya, tak bisa nyontek lagi, atau tanya teman kiri kanan.

T : Dengan cara apa anda menjadi orang matang?

J : Memangnya saya ini pisang goreng, harus dimatangkan dulu untuk bisa dimakan?

T : Apa yang ada dapat dari pengalaman bersekolah?

J : Dapat teman, dan bergaul dengan anak yang makan sekolahan. Selain dapat juga relasi, yang akan berguna untuk memenangkan tender, jika mereka sudah pada jadi bos nanti. 

T : Bagaimana anda mengatasi pertengkaran?

J : Dengan cara mengheningkan cipta, berharap pertengkaran itu cepat selesai. Tapi ini bukan masalahnya yang benar-benar selesai, sebab itu urusan masing-masing. Nanti dikira saya intervensi utusan dalam negeri orang lain. Hanya soalnya saya paling nggak suka lihat orang yang marah. itusaja!. 

T : Bakat apa yang anda sadari sejak belia?

J ; Bakat memimpin bangsa ini menjadi banysa yang maju, adil dan beradb. Sayangnya tak ada yang tahu bakat terpendam saya. 

T : Apa yang anda lakukan di hari libur?

J : Full berlibur. Tanpa terbebani tetek bengek urusan pekerjaan. 

T : Keberhasilan saat meraih prestasi apa yang selalu anda kenang?

J : Setiap keberhasilan semua saya kenang, tanpa membedakan besar kecilnya. Karena bagi saya setiap keberhasilan adalah prestasi yang pantas disyukuri. 

T : Apa yang kelewat dari masa kanak-kanak anda?

J : Ketika saya baru menyadari kenyataan, kalau saya ini orang Indonesia. Coba jika dari masa kanak-kanak dulu, saya akan buru-buru mengaku sebagai oragn Amerika. 

T : Apa gagasan anda untuk mencapai kebahagiaan sempurna?

J : Satu gagasan yang belum tentu saya lakukan, yakni menjadi Presiden RI dari tahun .....sampai lewat tahun 2000

T : Orang macam apa yang anda anggap sebagai sahabat?

J : Jelas orang yang menganggap saya sahabatnya juga. Sebab jika tidak, berarti bukan sahabat, tapi musuh dalam selimut. 

T : Apa yang anda anggap paling jahat dalam hidup ini?

J : Orang yagn selalu berpikir negatif mengenai masalah apa saja. Selalu apriori, selalu yang buruk-buruk. Pokoknya dilihat segi jeleknya saja, seolah-olah tak ada sisi baiknya. Padahal jika ada bopeng diluar kan belum tentu tak ada yang mulus didalam bukan?

T : Terakhir kali kapan anda mengalami puncak kebahagiaan?

J : Baru saja, tadi malam! Tapi perkara yang satu ini tak usah diperjelas. Kita sama-sama maklumlah, soalnya kebahagiaan saya kan seperti kebahagiaan anda juga. 

T : Apa yang biasa anda lakukan kalau bangun di tengah malam?

J : Memegang dada saya, dan menyadari bahwa saya masih hidup. Baru kemudian ke kamar mandi, melepas hajat buang air kecil. 

T : Kalimat apa yang selalu anda ucapkan setiap hari?

J : Kalimat lengkap yang ada subjek, predikat dan objek. Minimal itu, sesuai petunjuk Bu Guru Bahasa Indonesia di SMP dulu. 

T : Apa yang gampang membuat anda menangis?

J : Jika bawang merah di gosokkan di dekat mata saya

T : Dengan cara apa anda ingin mati?

J : Maaf, saya belum sempat konsultasi dengan malaikat El Maut, tentang bagaimana cara paling afdol untuk mati nantinya. 

T : Kalau telah meninggal, anda ingin dikenang sebagai apa?

J : Terserah yang mengenang dong!. Soalnya kalau saya bilang sekarang, nanti disangka mendikte. Lagian kalau saya sudah mati, kan tak bisa protes jika ada yang tak sesuai dengan kehendak saya sebelumnya. 

Sekian dan Terima kasih.