Friday, December 26, 2025

YAN BASTIAN, "SAYA SENIMAN JALANAN"


 YAN BASTIAN. Siapa tak kenal Yan Bastian lelaki yang telah membintangi puluhan film? Apalagi di lingkungan PT. Inem Film, namanya sepertinya sudak mengakar dan menyatu dengan perusahaan film tersebut. 

Menarik sekali bisa bincang-bincang dengan seniman berkumis yang memiliki wawasan luas dan logat bicara yang berwibawa. Ia selain dikenal sebagai bintang laga, juga seorang biduan. Kedua bidang seni ini telah digelutinya bertahun-tahun. Bayangkan, untuk bidang tarik suara ini saja, teman seangkatan Elly Kasim. Sedang film ia berangkat sama-sama dengan Ratno Timoer. 

Sebagai seorang seniman, kalau boleh dibilang begitu, ia nampak sederhana dan bersahaja. Tak pernah ada kesan mau mencari popularitas dalam bidang ini. "Saya ini kan seniman jalanan, seniman kecil. Ya mesti tahu diri. Nggak perlulah macam-macam. Bagi saya sikap berkesenian ini adalah berkarya," ujar lelaki asal Padang ini. 

Berkarya, sesuatu hal yang harus dilakukan seorang seniman, tapi bagi Yan Bastian, berkarya tidak harus 'ngoyo'. Ketika ditanya kemungkinan dapat Piala Citra, spontan Yan Bastian menyambar. "Buat apa citra-citraan? Biar terkenal? kalau kita sudah terkenal terus mau apa? Toh itu tidak membuat orang memiliki jiwa besar. Tak usahlah aneh-aneh," tambah Yan pemeran Ganda dalam film "Seruling Naga Sakti" yang sutingnya di Pelabuhan Ratu. 

Ia paling gemar membintangi film-film laga. Ia mungkin karena kondisi fisiknya yang mendukung, seperti tubuh tegap dan memiliki watak yang keras. Itulah sebabnya film-film yang dibintangi selalu berkisar film-film aksi. Tidak mencoba film yang memiliki tema lain, seperti drama?

"Film drama kita kan monoton. Dari itu ke itu saja. Paling yang di perlihatkan hanya yang berdasi, keluarga yang sedang makan di meja dirumahnya yang mewah. NGgak ada kecuali itu," tegas lelaki yang memulai debutnya dalam film "Dendam Berdarah" (1970) sebagai figuran. 

Menanggapi himbauan menteri Penerangan saat itu tentang pembuatan film-film cerita daerah, Yan Bastian setuju dengan imbauan Bapak Menteri Penerangan tentang pembuatan film cerita daerah. Bayagkan saja, kalau masing-masing propinsi saja membuat film, sudah tambah berapa film? Lagian film daerah itu kan banyak manfaatnya, budaya masing-masing daerah bisa di kenal di seluruh tanah air. Nilai budayanya terangkat. Dan lagi, kalau pembuatan film itu melibatkan seniman daerah, kan mereka juga berkembang . Juga akn ikut meningkatkan sektor pariwisata, " Jelas Yan Bastian.


~MF 095/63/Tahun V, 17 Feb - 2 Maret 1990


Wednesday, December 24, 2025

CHAIRIL JM INGIN KETEMU GEORGE RUDY

 


CHAIRIL JM MIRIP GEORGE RUDY?. Datang seorang lelaki dari Seberang. Tinggi, tegap dan berbadan kekar. Tak ada hubungan keluarga dengan bintang film ganteng, George Rudy, tapi sungguh wajahnya mirip dengan bintang laga itu. "Kalau muka saya mirip George Rudy, itu hanya kebetulan saja, " kilahnya. 

Sebelum memasuki dunia film, cowok ini sempat bekerja di perusahaan kayu namun kemudian berhenti, lalu melanglang buana sampai akhirnya tiba di Jakarta. Malang melintang di kota metropolitan, akhirnya ketemu Tanaka, yang banyak memberi ilmu dan pengalaman. Tanaka yang membawanya pada Dasri Yacob, sutradara yang banyak menangani film-film laga. 

Karena tubuh yang tegap, tampang nan ganteng dan punya dasar ilmu bela diri, tak heran Dasri Yacob tertarik. "Pertamanya sih cuman jadi figuran, tapi lama kelamaan saya dapat peran lebih," kilah cowok pemegang ban Coklat ini. 

Chairil JM sudah banyak membintangi film, misalnya di Wiro Sableng saja ia sapai ikut lima kali. Belum lagi film lain seperti Tapak Sakti, Warisan Ilmu Karang, Seruling Naga Sakti, Si Pahit Lidah II , bujang jelihim dan beberapa film lagi. Dalam film "Warisan Ilmu-Karang" misalnya  ia menjadi leading-man. Lalu bersama sutradara Liliek Sudjio, Chairil ikut dalam film "Orang-orang Sakti" film pertamanya sendiri sudah ia perani tahun 1985 dalam "Lelaki Sejati".

Prestasinya tidak diraihnya begitu saja. Kedisiplinan dalam suting banyak membantu meningkatkan karirnya. "Saya selalu bangun subuh setiap pagi untuk lari lari. Yah sekedar menjaga kondisi. Kalau malam saya nggak bisa begadang. Paling banter setelah warta Berita TVRI, " sela pria kelahiran Jambi, 11 Maret 1964 ini. 

Tapi kenapa wajah kamu mirip dengan George Rudy? bagaimana kalau kamu ketemu dia dalam satu film? Memang  pingin ketemu George Rudy dalam satu film, tambah lelaku yang lama dibesarkan di Padang Sumatera Barat ini. 


~MF 095/63/Tahun V, 17 Feb - 2 Maret 1990


*)Chairil JM juga dikenal sebagai Mpu Ranubaya dalam sinetron Tutur Tinular 1997, dan Chairil JM sudah meninggal beberapa waktu yang lalu. 

Tuesday, December 23, 2025

ARIFIN C NOER, PERNAH DEMAM KAMERA

 


ARIFIN C NOER, PERNAH DEMAM KAMERA. Percaya tak percaya tapi anda harus percaya. Ini salah satu adegan yang harus di lakukan oleh Arifin C Noer dalam film komedi situasi yang berjudul Cas Cis Cus. Ia memerankan seorang direktur dari sebuah perusahaan. "Saya ingat waktu memainkan Sang Mertua dalam drama Pinangannya Anton Chekov tahun 60an.Saya ingat itu, maka saya minta kumis ini," ujar Arifin sambil tertawa. 

"Dan kacamata in sudah lama saya simpan, untuk film ini saja, kacamata ini saya pakai kembali," tambah Arifin. Soal mengatur akting dia memang bilangnya, berkali-kali menyutradarai drama dan film, tapi dalam film ini justru ia jadi pemain. 

Saat pengambilan gambar, Arifin grogi, sampai tidak mampu menggerakan badan. Bahkan mulutnya pun tak mengeluarkan suara, terpaksa suting diulangi. Eh ternyata masih kagok juga. Baru pada pengambilan gambar yang ketiga kalinya Arifin seperti menemukan kekuatannya kembali. Ia bermain bagus dan lancar. 

~MF


Monday, December 22, 2025

LEROY OSMANI, ANTI PERAN UTAMA

 


LEROY OSMANI, JEBOLAN PESANTREN YANG ANTI PERAN UTAMA. Ada aktor yang mengaku selalu menolak memerankan peran utama dalam film. Itulah Leroy Osmani. Saya tidak akan memerankan tokoh utama kalau saya tidak yakin bisa memainkannya dengan bagus. Sasaran pasti merebut Citra, minimal masuk nominasi, " kata jebolan pesantren Gontor, Ponorogo yang lahir di Ujung Pandang. 

Tampaknya prinsip ini dipegang betul Leroy yang fasih menirukan beberapa logat daerah itu. Selama kiprahnya di layar perak belum pernah memegang peran utama. Apa ini termasuk kiat mempertahankan eksistensinya di film?"mungkin,"jawabnya. 

"Film adalah pilihan hidup saya. Apapun yang terjadi saya akan tetap berada di jalur yagn sudah saya pilih. Untuk itu saya harus tetap eksis. Seperti juga saya memilih istri. Apapun yang terjadi, baik atau buruk harus saya terima. Tidak ada kamus cerai dalam hidup saya. Saya paling benci kata-kata itu. Tapi nambah lagi boleh dong?, seloroh bapak tiga anak yang juga terlibat dalam film Dua Kekasih arahan sutradara Agus Eliyas. Dalam film ini, Leroy masih tetap kebagian peran antagonis. 

Soal penampilan dalam acara TV Kamera Ria bersama Jabrik, kelompok vokal yang terdiri dari sembilan aktor beken, Leroy berkomentar "Pokoknya penyanyi panggung putus, sekali take langsung jadi, nggak pakai latihan latihan segala."

Kenapa cuma sembilan orang? "Sengaja , Dalam judi sembilan kan angka paling top. Lagu Kutak Katik kan tentang membolak balikkan angka Porkas, kata aktor yang dalam album ini membawakan lagu Semalam di Malaysia. 

~MF 095/63/Tahun V, 17 Feb - 2 Maret 1990


Sunday, December 21, 2025

GUGUN BENGET, LELAKI OK, WANITA OK


 GUGUN BENGET, LELAKI OK, WANITA OK. Hingga tahun 1990 tidak terasa sudah 7 film yang di dukungnnya. Sejak kali pertama dan secara kebetulan ia direkrut oleh sutradara Tommy Burnama meramaikan film Warkop DKI, "Saya Suka Kamu Punya", Semula ia tidak yakin kehadirannya lewat film kocak itu akan berkepanjangan dan memberikan tempat baginya di lahan film yang penuh pesona. Apalagi kehadirannya saat pecinta film nasional sedang keranjingan tokoh b a n c i Emon yang di perankan oleh Didi Petet. Sementara ia sendiri identik denan Emon yang dilayar putih  maupun sehari hari. 

Meski begitu, Gugun Benget yang terlahir dengan nama Ibnu Gugun Siregar ini tidak mau dikatakan pria berperilaku kewanita-wanitaan. Padahal sikam dan gayanya yang feminin itulah yang membuat beberapa sutradara memberikan kesempatan padanya. Seperti halnya dalam film "Saya Suka Kamu Punya" ia berperan sebagaimana dirinya yang feminin, staf Direktur sebuah perusahaan yang juga agak kewanita-wanitaan. Langkah berikutnya dalam film "Si Doi" juga tampil dalam film "Lebih Asyik sama Kamu", "Godain Kita Dong" dan juga "Catat Namaku Rintan" (Cinta Punya Mau). 

Meski kehadirannay di lahan film karena keberadaanya yang demikian, tapi ia tetap mengaku sebagai lelaki tulen. "Boleh di test bang, saya lelaki tulen kok. Tulis yang gagah, laki-laki jantan tigu. Aaauuu... pintanya, tanpa disadari gayangnya yang khas tetap nyeonong.

Sebenarnya ia takut kalau keberadaanya yang demikian ini terbaca dan diketahui oleh kedua orangtuanya di Medan. Alasan lain karena ia mengaku dari keluarga fanatik. Langkahnya di film mendapat protes keras dari kedua orangtuanya. 

Meski begitu, keinginannya untuk tetap menekuni film tidak pernah surut, Untuk itulah ia sangat mendambakan peran yang lebih berbobot. Tentunya bukan sebagai "pria Wanita" yang selama ini dilakoninya tapi  yang lebih menantang sebagai laki-laki. Tapi anehnya ketika ditanya mau jadi apa ia hadir sebagai pemain film, oleh bintang gress yang lahir di Medan, 12 Juni 1964. Pokoknya Lelaki OK, wanita OK.

~MF 094/62/Tahun VI, 3 - 16 Feb 1990 

Friday, December 19, 2025

MURTISARI DEWI KECELAKAAN SUTING, LUKA BAKAR DI DADA

 


MURTISARIDEWI KECELAKAAN SUTING, LUKA BAKAR DI DADA. Mengorbit lewat peran pendekar centil Lasmini dalam film "Saur Sepuh", membuat Murti Sari Dewi terus ditawari peran sebagai pendekar wanita Selasih dalam arahan Sisworo Gautama Putra dalam film "PUSAKA PENYEBAR MAUT".

"Saya memang absen dalam Saur Sepuh IV, karena ceritanya sudah melompat ke generasi berikutnya, " aku Murti yang dalam film Pusaka Penyebar Maut ini kembali dipertemukan dengan Fendy Pradana, pemeran tokoh Arya Kamandaka. 

"Yang menggembirakan, dalam film ini, scene saya berimbang dengan Suzanna yang memerankan tokoh Nyi Polok," tambah gadis Solo ini. Padahal kan Kak Suzzy sudah jadi aktris populer sejak saya masih anak-anak,".

Hal baru lainnya yang dialami Murti adalah kesempatan untuk mengisi suaranya sendiri. "Dulu-dulu suara saya selalu diisi oleh Ivonne Susan . 

Ada yang menggembirakan, sebaliknya ada juga yang mencemaskan. Terjadi pada saat adegan penyiksaan Selasi, mendadak ada kabel listrik yang menyambar ke dadanya. Percikan api kontan membakar sebagian kulit buah dada dan juga pipi Murti. Saking sakitnya, Murti menjerit sambil berjingkrak. Kru film buru-buru merubung untuk menolong. 

"Kulit dada saya gosong," keluh Murti. 

Apakah di perlukan operasi plastik untuk memulihkannya?

"Ah nggak perlu cuma pakai obat-obat tradisional yang dibalurkan agar cepat kering, " senyumnya memperlihatkan gigi gingsulnya. 

Luka gosong itu sekarang sudah sembuh, tak meninggalkan bekas lagi. Tapi tahukah Murti kalau seorang artis mengalami musibah saat suting berhak mendapatkan santunan dari perusahaan asuransi?

"Murti menggeleng. Ah sudahlah tapi kalau ada saya mau mengasuransikan wajah supaya ndak ada jerawat, hehe."

Maklum dalam usianya 19 tahun, wajah murti memang sedang subur-suburnya sebagai ladang jerawat. Justru ini yang dianggapnya bisa mengganggu kontiniti jalannya suting. 

Thursday, December 18, 2025

FITRIA ANWAR, SUKA AKTING DI KAMAR MANDI


 KISAH FITRIA ANWAR MASUK DUNIA FILM. Fitria Anwar mengaku tidak tahu apa-apa tentang film, namun justru pada usia 17 tahun ia menjadi bintang film. Padahal menurut anak ketiga dari empat bersaudara putra putri pasangan M. Andwar dan Sutini ini, disuruh tampil di depan kelas saja malunya bukan main. "Tapi memang, sejak kecil Fitri suka ngomong sendiri, enggak cuma di kamar, di WCpun ia suka berakting." kata sang ibu yang rajin mendampingi kemana saja. 

Fitri sendiri memang merasa bisa ikut main film sebagai suatu yang istimewa. "Bayangkan saja, keputusan apakah saya bisa ikut main atau tidak hanya dalam waktu setengah jam setelah sebelumnya dinyatakan bisa" kata Fitria Anwar yang pada waktu itu berada di kelas II SMEA jurusan Manajemen Pemasaran. Dan itulah yangdialaminya dalam film "SAUR SEPUH II - Kembang Gunung Lawu" , yang digarap Imam Tantowi. 

"Saya di film itu kebagian peran Paramitha, isterinya Brama. Bisa main di film itu juga atas ajakan teman. Dulunya sih saya sering juga diajak ikut suting, tapi cuma untuk jadi figuran. "Saya pikir untuk apa kalau cuma jadi figuran, sudah nunggunya lama belum tentu gambar kita ada di film," katanya lugu. 

Dan kenapa ia mau di "Saur Sepuh" menurutnya, selain perannya cukup berarti, ia pun yakin Imam Tantowi bukan sutradara sembarangan. Malah saya enggak pakai tes segala langsung saja diterima, " ujarnya.

Padahal menurut Fitria, sebelum ikut "Saur Sepuh" ia juga ditawari untuk ikut dalam film "Anak-Anak jalanan ", dengan Budiana Film. 

"Perannya cukup besar juga sih. Tapi saya tolak. Soalnya ada adegan buka-bukaannya," kata Fitri tegas.  Dan tentang adeganbuka-buka ini, Fitri memang sudah bertekad  untuk menolaknya. "Mudah-mudahan sikap ini bisa saya pertahankan," katanya. Soalnya film Saur sepuh ini toh banyak artis ternama yang cukup berbobot meski tak buka-uka. "Saya mau seperti mbak Christine Hakim, " ujarnya 

Fitri agaknya memang tak berlebihan dengan keinginannya itu. Apalagi ia toh pernah jadi model kalender dengan pose yang tentu saja sopan. "Soalnya bukan cuma karena papa streng orangnya, tapi saya sendiri memang enggak suka. Malu dan risih rasanya untuk memamerkan anggota tubuh, " kilahnya. Dengan sikap seperti itu, ia tok tak merasa karirinya di film bakal terhalang meskipun ia sendiri mengaku di film hanya pengin nyoba saja. 

"Saya memang belum memutuskan untuk terjun penuh ke dunia film penuh. Soalnya takut sih, mungkin karena saya belum kenal betul dengan dunia ini, " tuturnya. Untuk itulah ia ingin bekerja saja dulu. "Memang saya pernah minta papa untuk masuk IKJ. Tapi papa melarang. ia takut saya jadi seniman. Biasakan orang tua cuma akan masa depan anaknya", cerita fitri. 

Dan kalau kemudian si pemalu ini jadi bintang film beneran, nampaknya itu bukan hanya karena ia memang punya bakat alam yang baik, tapi juga karena keinginannya untuk mencoba. "Padahal saya ini orangnya ogah ogahan lho. Di film saja saya belum pernah ikut kecuali dulu ikut film " Bunga Bunga tersayang", tapi itu di Video dan untuk Malaysia, ujarnya. "Lagi pula kalau sekarang saya ingin betul-betul di film, wah repot. Sebabnya karena sekolah saya terlalu ketat. Kita tidak bisa di beri ijin sembarangan. Kan repot juga kalau saya harus suting  keluar kota. " tambahnya. 

~MF 88/56/Tahun VI, 11 - 24 Nov 1989

Wednesday, December 17, 2025

DIAH PERMATASARI SI PUTRI SOLO DI AWAL KARIR

 


DIAH PERMATASARI SI PUTRI SOLO DI AWAL KARIR. Kota Solo terkenal dengan putri-putrinya yang punya wajah cantik-ayu. Kalau di zaman film hitam putih, superstar Titien Sumarni pernah bermain film laris "Putri Solo", maka dalam perfilman pun muncul gadis-gadis asal Solo. Antara lain yang menanjak namanya Murti Saridewi, Okky Irwina Savitri dan pendatang baru Diah Permatasari. 

Perempuan berbintang Aquarius yang lahir di tanggal 25 Januari adalah merupakan anak ke3 dari empat bersaudara dimana prianya cuma satu si bungsu dari pasangan Djon Sangidoe dan Insiah Ratna, semuanya asli wong Solo.

Kendati ayahnya berbisni batik dan barang antik, ternyata Diah tak berminat pada Anthropologie. Selulus SMA, ia tancap tekad melanjutkan ke LPKJ jurusan Seni Rupa. 

Terjunnya ke film, dimulai secara tak sengaja. Saat suting "Selamat Tinggal Jeanette", di lokasi keraton Solo, ia danbeberapa kawan datang menonton, "Tahun 19887 itu saya masih duduk di bangku SMA, " kenang Diah. Kehadirannya menarik perhatian sutradara Bobby Sandy yang kebetulan membutuhkan seorang pemeran tambahan berwajah khas Jawa. Maka, beruntung bagi Diah yang ditawari peran tersebut dan dapat pengalaman baru, main film. 

"Saya muncul sebagai Erna, putri Solo yang hendak di jodohkan dengan Mathias Muchus oleh ibunya (diperankan oleh Nani Widjaya). Saya tak diberi dialog, cuma sekedar mejeng untuk dilihat Muchus, " ungkapnya. 

Baru saat Nurhadie Irawan mencari pemain untuk film garapannya, "Tutur Tinular, Pedang Naga Puspa", ia mendapat kesempatan yang lebih berarti. "Saya memerankan pendekar Sakawuni. Dalam episode pertama itu memang masih pemeran pembantu, tapi kalau nanti dilanjutkan episode ke dua, bakal meningkat jadi peran utama juga!" (kenyataannya gak diajak lagi ya hehe)

Pembuatan kelanjutan Tutur Tinular masih belum diketahui, tahu-tahu Diah diajak main "PERWIRA KSATRIA" arahan Norman Benny. "Jadi Ayu Ajeng Rini, putri bangsawan, pacar pilot muda Prasojo (dimainkan oleh Donny Damara). Wah, senagn sekali main film drama, lebih enak dibanding film silat dimana saya harus digantung pakai kawat sling untuk adengan terbang. Ya maklumlah sebenarnya kan saya tak bisa silat".

Prestasi lain dara yang hobi di foto ini, menggondol gelar Putri Ayu Indonesia 1987-1988yang di selenggarakan oleh Dewi Motik, Covergirl Mode 87, Wajah Femina 1989 "Paling sering jadi model dan sampul majalah Femina, "akunya. 

~MF 120/88 Tahun VI, 2 - 15 Feb 1991