Wednesday, February 5, 2014

MENIKMATI INDAHNYA PESONA 7 CURUG DI CILEMBER BOGOR







Pintu Masuk Curug Cilember
Air Terjun atau juga di kenal curug merupakan salah satu daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Berwisata tak harus jauh, kenali sekitar kita yuk. Kali ini yuk kita kenali Curug 7 Cilember. Curug 7 Cilember terletak di desa Jogjogan kec. Cipayung Bogor, merupakan salah satu dari curug yang memiliki pesona keindahan alamnya yang menyegarkan, asri dan sejuk.  Untuk mencapai Curug 7 Cilember dapat di tempuh melalui perjalanan dari Jakarta sekitar 2,5 jam untuk perjalanan dengan kendaraan sepeda motor sedangkan dengan mobil membutuhkan waktu sekitar 1,5jam untuk mencapai lokasi. Dari arah Jakarta, perjalanan di lanjutkan menuju Puncak di daerah Cipayung.  Setelah Chimory dan Taman Matahari kita akan melihat plang hijau penunjuk Arah menuju Curug Cilember, tinggal diikuti petunjuk tersebut.  Untuk menghindari salah jalan, ada baiknya bertanya ke penduduk sekitar. 

Curug 7 saat debit airnya tinggi

Curug 7 Saat Kemarau
Lokasi curug ini juga mudah di jangkau karena infrastruktur menuju lokasi cukup baik dengan jalan beraspal, meski jalannya cukup sempit. Untuk mencapai lokasi kita akan menemui jalan masuk menuju lokasi yang menanjak dan terus menanjak hingga ditemukan pintu gerbang Curuh CIlember. Dari kejauahan sudah terlihat kabut tipis diatas pegunungan nan hijau seolah mengundangnya untuk segera sampai ke tujuan dan ikut bercengkerama dengan mereka. 

Di pintu masuk tersedia lokasi parkir yang cukup nyaman, yang menampung mobil sedangkan bagi pengendara sepeda motor biasanya ditaruh di tempat yang berbeda meski masih satu lokasi. Bagi pengendara motor parkir tanpa menginap ditambah dengan penitipan helm dikenakan tariff 10rb sekali parkir.  Selesai? Belum…, masih belum afdol kalau belum berpose di pintu masuk CIlember. Setelah berpose sejenak maka dilanjutkan dengan membeli karcis masuk. Untuk weekend Rp. 12rb perkepala sudah termasuk asuransi kecelakaan. Dilokasi Curug Cilember sinyal handphone lumayan susah dan kadang blank sama sekali. Namun bagi yang terbiasa eksis di jejaring social jangan kuatir, karena pengelola menyediakan area hotspot sekitar curug sehingga cukup membantu bagi para pengakses internet dengan mudah.

Area Curug 7, tempat orang-orang mendirikan kemah

Spot untuk foto yang cukup bagus

slow speed sangat bagus di area ini

Pinus
Selepas loket penjualan karcis, langsung menuju pintu masuk . Begitu masuk langsung disuguhi oleh gemericik suara air pegunungan. Udara sejuk menambah adem. Hilang semua penat yang terjadi selama perjalanan dan digantikan dengan suasana yang segar.  Bagi pecinta fotografi ini merupakan salah satu surge karena dapat memotret keindahan alamnya yang masih alami serta jernihnya air yang mengalir melalui alur di sela-sela bebatuan. Filosofi Slow Speed bagi fotografer menjadi alas an utama untuk memasuki area ini karena terdapat banyak spot yang dapat di pakai untuk memotret.

Sebelum memasuki area Curug 7 dan selepas pintu masuk pengunjung dimanjakan dengan jalanan yang sudah rapi, meski hanya berkisar 1meter lebarnya, namun bukan jalanan tanah yang dilalui. Di dalam area tersebut juga disewakan tenda untuk berteduh atau bagi beberapa petualang di gunakan untuk menginap dengan diselingi api unggun bagi pengunjung yang menyewanya. Dikiri dan kanan jalan akan ditemui tenda-tenda yang didirikan untuk disewakan. Pohon pinus yang menjulang tinggi sepanjang perjalanan menuju curug 7 turut menambah indahnya pemandangan. Seolah tak bosan memandang dan melihatnya dengan kesejukan alamnya.  Hijau dan sejuk. 

Cuaca di sekitar Cilember sering di selimuti kabut tipis yang kerapkali turun dengan tiba-tiba dan menghilang lagi, hanya numpang lewat saja. Apalagi bila kondisi hujan tiba, acapkali puncak pepohonanpun tak kelihatan akibat tebalnya kabut yang turun. Kita di bawa seolah-olah sedang mendaki gunung yang tinggi. Bagi sebagian orang, turunnya kabut cukup menakutkan karena jarak pandang yang terbatas membuat imaginasi kita langsung sirna. Rasa takut segera menghampiri entah apa rasa yang dirasakan namun segera sirna ketika kabut tersebut lewat dan suasana temaram akibat kabut kembali cerah. Rasa takutpun berubah menjadi rasa optimis. Optimis untuk menggali lagi lebih dalam keindahan curug. 

Sesampai di curug 7 rasanya belum afdol kalau kaki tidak masuk air. Nyes, dingin sedingin air es…, jernih air pegunungannya sangat terasa. Tak kuasa tanganpun mengambilkan air untuk di basuhkan ke muka. Sungguh segar seluruh tubuh dibuatnya. Penat dan capai selama dalam perjalanan terbayar sudah.  Cuaca di sekitar Curug 7 juga kerap sekali di selimuti oleh kabut tipis yang kadang-kadang turun, apalagi ketika cuaca sedang hujan, maka kabut akan turun. Hal ini menambah suasana sejuk dan nyaman di hati. Kesejukan yang mampu menghunjam kedalam hati sanubari. Tenang, damai di buatnya. 

Di lokasi Curug 7 juga di sediakan penyewaan tenda bagi yang ingin sekalian camping tak jauh dari pintu masuk Curug.  Tidak perlu kuatir dengan area sanitasi karena sudah tersedia toilet, dan kalaupun mau mencoba mandi dan berendam di bawah curug 7 dengan airnya yang jernih juga bisa. 

Tracking menuju Curug 5

Tracking Menuju Curug 5
Penampakan Curug 5

Penampakan Curug 5 saat debit air sedang besar

Penampakan Curug 5 saat musim kemarau
Di Cilember, sebenarnya terdapat keseluruhan 7 curug kalau mau di telusuri. Namun kekuatan fisik untuk menyusuri satu persatu perlu di pertimbangkan mengingat jalannya yang terus menanjak.  Setelah kita mencapai Curug 7, agak keatas ada Curug 6, namun saat ini jalan untuk menuju Curug 6 sudah di tutup mengingat medannya yang cukup sulit untuk mencapai Curug 6.  Pengunjung biasanya langsung menuju ke curug 5 yang tak kalah indahnya.  Di sekitar Curug 5 pengunjung yang tidak membawa bekal juga tidak perlu kuatir karena sudah tersedia warung tempat menjual gorengan sehingga ketika kita lapar dapat membelinya disitu. 

Kalau mau kita telusuri satu persatu Curug demi curug hingga sampai ke curug 1 tidaklah mudah, karena di atas Curug 5 terdapat peringatan jika ingin menuju curug berikutnya untuk meminta ijin dulu ke pengelola. Penulis sendiri perjalanan dihentikan hingga curug 5 dan mencoba untuk berpuas diri sambil melihat pemandangan sekitar yang pada saat itu dalam kondisi berkabut sehabis turun hujan. 

Warung tempat istirahat di area Curug 5

Perjalanan Lanjutan

Kali ini setelah beberapa saat mengunjungi Curug Cilember dalam keadaan hujan, saya menyempatkan diri untuk datang kembali ke sana dengan keadaan yang cerah. Akhirnya setelah pada perjalanan pertama hanya sampai ke Curug 5, kali ini mengingat cuacanya bagus perjalanan dilanjutkan ke curug 4 dan Curug 3.
Jalanan yang cukup terjal membuat saya tidak mudah untuk menaklukkannya, namun Karena kondisi tanah yang bagus dan kering akhirnya setelah saya menyempatkan beristirahat sejenak di warung yang terletak di seputar Curug 5, perjalananpun cukup mudah untuk menjangkau curug 4. Curug 4 tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan Curug 5 yang lebih tinggi. Keadaan kemarau yang panjang menyebabkan debit airnya sedikit sehingga sayapun tak sungkan untuk bermain-main dengan air tanpa takut datangnya air bah.
Dingin dan jernihnya air membuat saya tertegun sejenak. Memperhatikan aliran air dan menikmati suasana sunyi alam pegunungan, dengan sesekali terdengar disana-sini suara ‘cenggeret’ yang membuat suasana meriah. Sejenak tersadar, untuk selanjutnya rasa penasaran ini membawa kakiku untuk melangkah mencari jalan untuk menuju ke Curug 3. 

Setelah cukup beristirahat di area Curug 5 perjalanan dilanjutkan ke Curug 4, kompak adalah hal utama

Penampakan Curug 5 saat debit airnya kecil

Bersantai sejenak dengan air yang dingin

Perjalanan dilanjutkan ke Curug 3
Ada dua jalan untuk dapat mencapai curug 3, yaitu balik arah seperti ketika sebelum sampai curug 4 untuk mengikuti petunjuk jalan selanjutnya, atau bisa juga menyeberangi aliran air kalau kondisinya memungkinkan. Kali ini saya mencoba menelusuri jalan dengan menyeberangi aliran air.  Setelah melewati semak belukar dengan mengikuti jalan setapak, akhirnya sampai juga ke Curug 3. 

Penampakan Curug 3 Cilember

Berpose sejenak di Curug 3 Cilember

Bersantai sejenak di area Curug 5

Saatnya turun dari Curug 3
Dibandingkan dengan curug 4, Curug 3 memiliki panorama yang lebih indah dan lebih tinggi, dengan bebatuan dibawahnya. Namun sayangnya karena debit airnya yang sedikit akibat kemarau curug ini jd kurang indah.  Akhirnya sejenak kita bermain di curug tersebut, tak terasa waktupun kian sore, dan saya memutuskan untuk kembali turun kebawah. Curug 2 dan Curug 1 sementara masih menjadi PR untuk selanjutnya dapat berkunjung kembali kesana.

Jadi, kapan lagi kita kunjungi objek wisata di sekitar kita. Tidak perlu mahal, kenali dan cintai objek sekitar kita. Line @totoandromeda

Monday, February 3, 2014

Menikmati Indahnya Jakarta Di Malam Hari dengan Tekhnik Slow Speed

Bundaran HI merupakan salah satu titik Jakarta, karena strategis tempat ini pun sering di gunakan sebagai tempat aksi damai maupun tempat unjuk rasa.

Kali ini saya ingin berbagi dengan hasil jepretan beberapa spot kota Jakarta dengan Tekhnik Slow Speed atau biasa disingkat SS di waktu malam. Beberapa foto berikut ini di ambil dalam kurun waktu yang berbeda tentu saja sesuai dengan mood. Soal hasil memang belum memuaskan.

Jakarta, identik dengan gedung tinggi, dan tentu saja lampu-lampu yang dikala malam hari. Menikmati kota Jakarta yang penuh dengan hiruk pikuknya kendaraan memang terasa membosankan, namun ketika itu sudah di tuangkan dalam sebuah fotografi maka akan enak untuk menikmatinya.

Foto diambil dengan menggunakan tekhnik SS di bundaran HI

Salah satu Ikon Ibukota

Seorang fotografer sedang beristirahat, sorry candid gan... yang diambil bukan foto agan tp foto latarnya kok, dengan tekhnik SS.

Bundaran HI lewat tengah malam air mancurnya sudah dimatikan. Refleksi !!

Grand Hyatt merupakan salah satu hotel di kawasan Bundaran HI


Sebuah foto dapat disebut  slow speed apabila foto tersebut diambil dengan shutter speed yang rendah, sehingga muncul efek blur terhadap objek yang bergerak. Contohnya : air terjun yang bisa memutih seperti kapas, atau lampu mobil yang hanya tinggal garis saja .

untuk membuat foto slow speed, kita wajib menempatkan kamera pada posisi yang stabil. Karena bila ada guncangan sedikit saja pada kamera akan membuat foto menjadi blur semua.
Foto slow speed juga identik dengan light painting khususnya malam hari. Perbedaannya, light painting menggunakan suasana yang benar – benar gelap sehingga yang terlihat di foto Cuma sumber cahaya saja.
 
Tugu Monas

Sisi Lain Tugu Monas

Jalan Layang Non Tol Kampung Melayu - Tanah Abang sebelum digunakan

Jalan Layang Non Tol Kampung Melayu - Tanah Abang di foto dari bawah

Gereja Katedhral

Katedhral dari sisi yang berbeda

Tugu Pancoran


Berikut ini saya ingin berbagi tips mengenai tekhnik foto dengan slow speed.

1. Tripod
Ini sih wajib banget ya, karena tanpa tripod, camera tidak akan stabil dan akan goyang hasilnya.

2. shutter release
Untuk mengurangi goncangan ketika akan memencet tombol shutter, maka diperlukan shutter release, namun hal ini dapat di atasi dengan menggunakan self timer.

3. Waktu

Ini perlu sekali di perhatikan, karena durasi shutter akan sangat mempengaruhi hasil. Jika anda memotret objek manusia, gunakan shutter speed yang tidak terlalu lama, misalnya sekitar 5”. Jadi dalam 5 detik objek foto sebaiknya jangan bergerak biar tidak blur. Bayangkan jika anda menggunakan durasi 20” misalnya, maka kemungkinn blur lebih besar, apalagi kalau objek susah untuk berpose diam.

4. Try and error
Jangan mudah puas akan hasil. Kadang kita menemukan foto yang over exposed atau under exposed. Jika bermain – main dengan foto slow speed biasanya kita pasti menjumpai foto yang over dan under. Nah, untuk mengatasi foto over, anda bisa set aperture ke yang lebih kecil, misalkan f/22 serta ISO ke nilai minimum. Untuk mengatasi foto under, set aperture ke nilai yang lebih besar, misalkan f/10 serta ISO ke nilai yng lebih tinggi untuk membantu pencahayaan.

itu sih berdasarkan pengalaman saya, semoga dapat membantu. 

Wednesday, January 29, 2014

Aku dan Nu Green Tea



Haus Bandel!! hehe... ini ikon Nu tea banget ya... yang melekat. Nah kali ini saya pengin cerita nih dengan yang namanya Nu Green Tea.  Kalau kita berbicara masalah Nu tea memang ada beberapa rasa, baik yang rasa madu maupun yang biasa. Tapi untuk saya sendiri sih lebih suka dengan namanya Nu Green Tea...
Rasanya mantep, tidak enek... dan teman setia saya kemana saja... sehingga haus bandel pun akhirnya hilang...

Oh ya ini bukan promo lho, karena saya bukan bintang iklan Nu Tea, tapi hanya sekedar sharing pengalaman pribadi saja sih, dari beberapa air teh kemasan plastik, cuman yang paling pas untuk ngilangin haus bandel ya Nu Green Tea.... Mau di Mall, habis joging, mau dirumah atau lagi makan baso nih... kalau bisa sih beli nu green tea sebagai teman.

Apalagi nih kalau saya sedang haus bandel akibat aktivitas pasti pertama kali di cari nu green tea biasanya sih aku pilih yang dingin...sensasinya nyessss.....................
tapi tetap juga sih bawa air putih sebagai penawar rasa... itu wajib.

mungkin konyol juga sih kalau malam-malam jam 12 haus dan pengin air dingin, yang aku cari pasti ke warung babe tuh yang jam 12 malem masih buka hanya untuk membeli Nu green tea, boleh percaya boleh enggak sih... tapi ya gak tau kenapa itu yang terjadi.

Sebagai seorang pecinta fotografi, tak lupa saya juga setiap kali mau hunting foto sedia payung sebelum hujan dulu nih, sedia Nu green tea dulu sebelum haus bandel datang........, jadi gak masalah mau huntingnya di gunung, di pantai yang jauh dari penjualnya, di tas paling enggak bawa satu untuk diminum.........., Rasanya pas, manisnya juga gak bikin eneg pastinya...


Ada yang punya pengalaman yang sama gak? yuk di share.........

Thursday, January 16, 2014

SELAMAT TAHUN BARU 2014

Tak terasa waktu terus berjalan, ternyata sudah tahun 2014 saja. Banyak hal yang di lalui selama tahun 2013 suka, duka, cinta, sedih, bahagia, susah maupun senang. Tahun 2013 telah beralalu kini kita songsong kembali tahun 2014 yang penuh harapan dan penuh makna.

Bagi saya sendiri tahun 2014 merupakan sebuah harapan semoga di tahun ini kehidupan saya lebih baik dari tahun lalu, lebih mapan, lebih matang dan juga lebih bijaksana dalam menghadapi setiap masalah . demikian juga dalam dunia blog, semoga di tahun 2014 ini saya akan lebih produktif untuk menulis, berbagi cerita didalam blog ini. Baik itu tentang sebuah perjalana, sebuah pengalaman maupun sebuah cerita yang dikemas secara sederhana.

Di tahun 2014 ini juga harapan saya semoga makin bisa mengasah skill untuk fotografi, makin cinta Indonesia, sehingga dapat berbagi bersama.

Salam 2014

Wednesday, December 11, 2013

PANTAI BALEKAMBANG, TANAH LOTNYA MALANG




Berkunjung ke kota Malang rasanya belum lengkap kalau kita tidak mampir ke pantai Balekambang yang terletak di Malang Selatan – Jawa Timur.  Selain terkenal dengan kota apelnya, Malang menyimpan banyak sekali daerah wisata yang wajib untuk dikunjungi, selain wisata sejarah candi-candi peninggalan kerajaan Singosari, juga ada air terjun yang menarik untuk di kunjungi seperti Coban Rondo. Malang juga merupakan daerah perlintasan bagi para wisatawan yang ingin ke kawah Bromo.  Tujuan kali ini adalah sebuah pantai yang eksotis, terletak di wilayah Malang selatan, dengan jarak tempuh sekitar 3 Jam dari kota Malang, yaitu pantai Balekambang.  Pantai Balekambang terletak di desa Srigonco kecamatan Bantur kab. Malang , sekitar 65 km dari kota Malang.

 ini yang namanya jurang mayit

Perjalanan dari kota Malang menuju pantai Balekambang cukup panjang dan berliku, beruntung karena untuk mencapai pantai, jalan yang kami tempuh cukup mulus. Dengan mobil dari kota Malang, kita diantar menuju lokasi. Meski jalanan berliku, dan panjang, namun indahnya alam pedesaan yang kami lalui menjadikan sebuah obat tersendiri sehingga selama perjalanan tidak merasa capek, namun mata ini di manjakan oleh hijaunya pesawahan. Sebelum mencapai lokasi kita harus melewati sebuah tanjakan curam dan berliku yang lebih dikenal oleh penduduk setempat dengan ‘jurang mayit’. Kenapa di namakan jurang mayit? Menurut driver yang mengantar kami, tempat tersebut dinamakan jurang mayit karena tidak sedikit kecelakaan yang terjadi di daerah tersebut yang menyebabkan korban meninggal dunia. Mayit adalah bahasa Jawa yang berarti mayat.


Setelah lega melewati jurang Mayit, kita akan disambut oleh hutan yang di kelola oleh perhutani sebelum akhirnya sampai pada lokasi. Gerbang tiket sudah menanti, saatnya memasuki wilayah pantai. Memasuki wilayah pantai pemandangan akan terlihat luas ke laut lepas. Pasir putihnya yang membentang sekitar 2km. Siang itu udara terasa sangat terik, namun tak perlu kuatir karena di pinggir pantai terdapat pohon-pohon yang rindang sehingga masih dapat menikmati keindahan pantai Balekambang dari bawah pohon.

Pantai Balekambang membentang dengan 3 pulau kecil, yaitu pulau Wisanggeni, pulau Ismoyo dan pulau Anoman. Nah, yang menarik dari pantai Balekambang adalah adanya Pura yang terletak di pulau Ismoyo. Ini membawa ingatan kita tanah Lot yang terletak di Bali, dimana di Tanah Lot terdapat pura yang digunakan untuk sembahyang. Demikian juga di pura kecil di pulau Ismoyo . Pura Ismoyo di resmikan oleh Bupati Malang pada 17 Oktober 1985.  Balekambang boleh dibilang adalah Tanah Lotnya Jawa. Ketika air pasang maka untuk mencapai pulau Ismoyo harus menggunakan perahu, namun pengunjung tidak perlu kuatir karena sejatinya Pulau Ismoyo dan Pulau Wisanggeni dihubungkan oleh sebuah jembatan, sehingga untuk mencapai pulau ismoyo cukup dengan melewati jembatan yang sudah disediakan.  Para Wisatawan diperbolehkan untuk memasuki wilayah pulau Ismoyo yang kecil , namun tidak diperkenankan untuk memasuki wilayah Pura, karena merupakan daerah suci yang hanya digunakan ketika upacara atau sembahyang bagi umat Hindu.


Kalau kita telusuri dari awal, begitu masuk ke pantai, di sebelah barat akan terlihat sebuah pulau kecil yang dihubungkan dengan jembatan dengan pura yang menjulang.  Meski terasa jauh namun kaki ini serasa tidak sabar untuk mencapai pura yang terdapat di pulaunya.  Disisi sebelah barat dari pulau ismoyo juga pemandangan pulau yang belum terhubung dengan jembatan yang baru setengah patut untuk dikunjungi.   Ombaknya dengan buih putih turut menambah keindahannya.  Menyelusuri pantai dengan panjang 2 kilometer dari barat ke timur memang cukup menguras tenaga namun akan terbayar dengan keindahan yang di dapat.


Pantai Balekambang akan terasa lebih ramai biasanya pada bulan Suro, karena akan diadakan upacara adat suroan atau bagi penduduk sekitar disebut juga dengan upacara Jalanidha Puja.  Bagi pecinta fotografi khususnya landscaper, menjelajah Pantai Balekambang dapat menjadi salah satu tujuan yang patut di perhitungkan, karena terdapat banyak spot yang bisa di kunjungi dan diabadikan kedalam sebuah potret.  Selain itu di Balekambang sendiri juga dapat menikmati sunset yang indah.

Lelah dengan perjalanan, wisatawan dapat melepas lelah di bawah pohon dengan angin sepoi-sepoi yang justru akan membawa kantuk karenanya. Di sekitar pantai Balekambang kita tidak perlu kuatir untuk kelaparan karena terdapat banyak sekali warung-warung yang sudah ditata oleh Pemda sekitar, juga bagi yang mau menginap di sediakan penginapan dipinggir pantai. Namun demikian penginapan biasanya akan terisi ketika akhir pekan atau ketika hari libur panjang tiba.