Showing posts with label eeng saptahadi. Show all posts
Showing posts with label eeng saptahadi. Show all posts

Tuesday, September 29, 2026

EENG SAPTOHADI : SANGAT DISAYANGKAN ARTIS YANG BERORIENTASI PADA JOB


EENG SAPTAHADI : SANGAT DISAYANGKAN ARTIS YANG BERORIENTASI PADA  JOB (berita lawas). Lama sudah Eeng Saptohadi tak ketiban tawaran untuk berlakon di film. Kondisi perfilman negeri ini masih di tutupi awan tebal. Tapi tidak begitu dengan seni peran, media sinetron masih menghembuskan angin segar. Semakin tegarnya TV swasta dan menjamurnya Production House (Rumah Produksi) membuat artis mendapat nafas baru. 

"Banyak peran menghampiri, banyak pula yang saya tolak. Bukan soal honor, tapi soal peran yang akan dilakoni, "kata artis jebolan IKJ ini.

Awal tahun 1993, Eeng langsung di berondong tawaran dan semuanya untuk media televisi. Sekian banyak Eeng hanya menerima Untung Nak (TVRI), Badai Pasti Berlalu (TPI) dan sinetron Rumah Tuhan Rumah Kehidupan (TPI).

Bagi Eeng untuk menjadi artis di negeri ini banyak pengorbanan. Sebab, artis Indonesia harus lebih pintar, punya waktu, lebih cerdas, lebih ngotot dan harus bisa segalanya. "Karena iklim yang menciptakan artis Indonesia harus bersikap seperti ini. Sebab, berurusan dengan ngepulnya dapur sang artis. Honor artis di negeri ini sangat minim sekali. Karena itu ia terjebak kerja rutinitas, begitu ia selesai berlakon, mau tidak mau menerima pesan apa aja. Kalau sudah terjebak dengan iklim ini maka kreatifitas akan buntu, "ujarnya berapi-api. 

Justru itu tak jarang Eeng mengorbankan honornya hanya untuk membeli kostum. Untuk supaya tampil eksis, bila mendapat peran beruntun, tak jarang mengurung diri di kamar untuk analisa skenario. "Kan sudah saya katakan artis Indonesia harus bisa menitih bui. Dengan honor kecil harus bisa berakting semaksimal mungkin,"kilahnya. Maka tak berlebihan bila banyak orang mengatakan bahwa artis Indonesia di dalam satu atmosfir memeras akting. "Akhirnya lupa bagaimana caranya mengembangkan akting. Seperti inilah iklim artis Indonesia, "lanjutnya. 

Eeng mengakui ia juga terjebak dengan kenyataan itu, tapi ia tetap mencoba keluar dari lingkaran atmosfir yang gelap gulita itu. Meski  ia juga salah seorang pengajar IKJ, untuk menjadi  seorang aktor perlu jam terbang tertentu dalam seni peran. "Jam terbang bisa dilakukan di film, sinetron maupun panggung, semua itu aalah medianya untuk seorang aktor, dengan bahasa kerennya media ekspresi".

Eeng mencoba melawan iri walau dalam keadaan krisis setia dengan keinginan jiwanya, menjadi seorang aktor. "Cukup banyak artis di negeri ini orientasinya adalah job. Ini sangat disayangkan. 

Di Indonesia masih mejual yang namanya fisik, bukan menjual ilmu. Orientasinya masih fisik, "ada sebuah istilah. Biarkan tokoh itu mencari manusianya. Watak yang ada di dalam skenario akan mencari manusianya. Seorang pemain harus ada dialog antara penulis skenario dan sutradara. Sampai mencapai yang namanya kesepakatan dalam persepsi. Begitu sudah ada kaa sepakat, barulah  ia mncari manusianya. Jadi bukan karena komersial dari apapun namanya. 

Obsesi Eeng sebagai seorang pelakon cukup sederhana dalam jangka dekat ini, katanya "Kita sudah kalah di bioskop tapi jangan kalah dirumah kita sendiri. Sebab, bila kesenian dicampur adukan dengan birokrasi, pasti akan timbil keterbatasan-keterbatasan. Kita perlu keterbatasan-keterbatasan. Kta perlu kebebasan dan kemerdekaan untuk  berkesenian apapun namanya. 

Karena itu Eeng mempersiapkan moral untuk berkarya meski sekarang ini ia hanya menjadi seorang pemain. "Hanya kematian yang memisahkan saya dengan seni peran,"katanya dengan bersemangat. Ada PH yang menawarkan kepadanya untuk menjadi sutradara, kontan ditolaknya. Alasannya ia masih setia dengan profesi yang digelutinya. 

"Mulai tahun gajah, tetap saja honor sinetron selalu kecil. Bagaimana seorang artis bisa bermain baik, bila honor yang diterimanya pas-pasan? sampai saat ini saya hanya menyampaikan kepada  semua PH supaya meningkatkan kualitas sinetron maupun pemberian honor  kepada pemainnya. Menurut saya, selama saya berlakon dalam sinetron hanya "Tasi Oh Tasi" sutradara Arifin C Noer, yang memberikan honor paling besar, "katanya dengan tangan gemetar. ~MF No. 174/141/TH.IX, 6 - 19 Maret 1993




Monday, June 1, 2026

JAWARA JAWARA, KALAU ANAK MUDA JADI JAWARA


 JAWARA JAWARA, KALAU ANAK MUDA JADI JAWARA (suting film). Firman Triyadi, sutradara anyar jebolan LPKJ, yang dipilih oleh duo produser Budiati Abiyoga-Adi Putra Tahir untuk produksi bersama PT. Prasidi Teta Film dan PT. Mutiara Eranusa Film yang berjudul "Jawara Jawara".

Kendati baru untuk pertama kalinya menyutradarai , namun dengan modal ketrampilan dan kesungguhan kerjanya, Triyadi bersama krunya berhasil merampungkan suting cuma dalam tempo tiga minggu saja. 

"Hampir seluruh pemain berasal dari TIM, mulai dari Eeng Saptahadi, sampai ke Joseph Ginting, sedangkan bintang filmnya antara lain Dewi Yull dan Ayu Azhari, " jelas sang sutradara yang memilih lokasi daerah-daerah pinggiran jakarta seperti Pondok Cina. 

Jangan terkecoh judulnya, mengira film ini sebuah film silat seperti "Si Jampang" atau "Si Gobang" karena sesungguhnya "Jawara Jawara" adalah sebuah komedi dengan setting lokasi di Batavia pada era 1942-1944.

"Tokoh-tokoh utama cerita adalah anak-anak muda dari sebuah desa di Betawi tempo doeloe. Sebagai anak muda mereka masih bersikap sok jago, padahal sih ilmunya masih cetek. Ada yang petantang petenteng menganggap diri sendiri sebagai jawara ulung. Ada yang ikut latihan militer di markas Dai Nippon kemana-mana berseragam militer menyandang pedang panjang, " ungkap Eeng yang dipertemukan lagi dengan Dewi Yull setelah dulu bermain sebagai pasangan suami istri Jarot-Sri dalam drama serial televisi "Losmen".

Menurut catatan sejarah, bala tentara Dai Nippon menyerbu Batavia pada 5 Maret 1942. Saking ketakutannya, tentara kerajaan Belanda kabur lintang pukang ke selatan. Kekalutan melanda sampai ke kampung-kampung. 

Tiga anak muda, Sayuti, Komar dan Malik bersaing. Ada lagi Nonon si penari Topeng dan Tikah, gadis desa yang naksir Sayuti. Namun pada akhirnya semua bersatu padu untuk merebut senjata dari tangan Jepang. 

"Betapapun tengil dan soknya sikap mereka, namun semangat kebangsaan untuk memerdekakan tanah air sudah tertanam dalam jiwa mreka, " ujar Triyadi tentang tokoh-tokoh cerita rekaannya ini. 

"Seluruh prosessing film ini dikerjakan di dalam negeri," lanjut Budiati. "Dan kami harapkan film yang keseluruhannya di kerjakan oleh anak muda ini bisa memenuhi selera masyarakat akan film komedi yang cukup bermutu serta lain dari komedi-komedi yang sekarang banyak dibuat produser lain. ~Sumber MF No. 104/72 tahun VI, 23 Juni - 6 Juli 1990


*setelah film jadi judulnya berganti menjadi "Jawara Sok Kota"