Friday, January 9, 2026

CHAIRIL JM, PEMERAN PEMBANTU PRIA TERBAIK FESTIVAL SINETRON INDONESIA 1998

 


CHAIRIL JM, PEMERAN PEMBANTU PRIA TERBAIK FESTIVAL SINETRON INDONESIA 1998 

Siapa bilang artis laga tidak bisa berjaya di festival dan mendapat Piala Vidia? Chairil JM buktinya. Dalam sejarahnya, inilah kali pertama sejak di adakan Festival Sinetron Indonesia (FSI) maupun Festival Film Indonesia (FFI) bintang laga mendapat prestasi puncak dalam 'pesta' sinema Indonesia. Selama bertahun-tahun para bintang laga hanya bermimpi bisa tampil atas panggung FSI. (cat. Mimin: Beda sama FFI ya,kalau di FFI didubbing bukan suara sendiri kan tidak bisa meraih penghargaan , kalau Chairil JM suaranya kan didubbing orang lain disini)

Dengan tampilnya Chairil JM sebagai Pemeran Pembantu Pria Terbaik lewat perannya sebagai Mpu Ranubaya dalam sinetron seri Tutur Tinular untuk kategori drama seri itu merupakan suatu gebrakan baru. Para artis laga pantas untuk bergembira, sebab kemenangan Chairil JM itu tidak semata buat pribadi pria kelahiran Jambi 11 Maret 1963 ini, akan tetapi  juga kemenangan para bintang action pada umumnya. 

"Tidak pernah membayangkan kalau bintang laga seperti saya bisa naik panggung dalam acara puncak FSI. Ketika nama saya disebut sebagai pemenang, saya tetap tidak percaya kala bintang laga bisa meraih Piala Vidia. Ketika sutradara Ucik Supra menyalami, barulah saya naik panggung untuk menerima Piala Vidia," katanya. 

Padahal malam itu, ketika Chairil JM datang ke TVRI tempat acara puncak FSI, hanya sekedar memenuhi undangan panitia karena tercatat sebagai nominator Peran Pembantu Pria. Sebagai  bintang laga, selama ini, Chairil merasa dikucilkan. Seperti lazimnya bila bintang laga dan bintang drama bertemu, selalu saja bintang laga di remehkan. Malam itu kondisi itu terulang kembali. Tidak banyak artis sinetron drama yang menyapanya, kecuali kru sinetron dan beberapa sutradara. Liha saja lakon-lakon bintangnya dalam film antara lain : lelaki Sejati, Melacak Tapak Harimau, Putri Kembang Dadar, Cakar Naga, Ilmu Cambuk Api, Warisan Ilmu Karang, Pendekar Naga Seribu, Sumpah Si Pahit Lidah, Bujang Jelihim, Wiro Sableng I sampai Wiro Sableng IV, sampai tahun 98 lebih dari 50 judul film eksyen telah dibintanginya. 

"Itu artinya kami artis laga memang selalu tidak diperhitungkan. Mungkin mereka pikir bahwa artis laga itu modalnya cuma gedebak gedebuk saja, " papar artis dengan tinggi 180 cm ini. 

Memang dalam pergaulan artis secara umum maupun dalam pencalonan casting, bintang-bintang laga selalu diremehkan. Seperti yang dialami Chairil JM misalnya, selalu saja dalam pengcastingan untuk sinetron ia sering di sepelekan dan ditolak. Persoalannya karena Chairil JM dikenal sebagai bintang laga, yang identik dengan kekerasan, keperkasaan dan memiliki tubuh kekar serta hanya mampu berteriak. Sehingga diduga ia tidak mampu melahirkan inner acting sebagai artis drama lainnya. 

"Meski diperlakukan seperti itu, saya tidak pernah dendam denga sutradara yang meremehkan saya itu. Malah sebaliknya, cemoohan itu saya jadikan cambuk untuk bisa disejajarkan dengan artis drama lainnya, " katanya dengan semangat berapi api. 

Karena selalu di sepelekan, timbul suatu kekuatan dalam dirinya untuk bisa tampil sebagai bintang drama.  Usahanya tidak sia-sia. Chairil JM sempat berlakon dalam film drama seperti "Wanita berakar darah, Gairah Malam I, Gairah Malam II, Skandal Terlarang, Extasi, Pil Cinta dan lain-lainnya. Sedangkan untuk sinetron drama seperti Misteri Rumah Kontrakan, Pahlawan Tak Dikenal, Selubung Tirai Putih, dan Denpasar Moon. 

Ternyata tidak hanya dalam tema drama saja kemampuan aktingnya di prioritaskan. Dalam sinetron seri Tutur Tinular, yang di sutradarai Muchlis Raya dan Denny HW, Chairil JM cukup alot 'merebut' peran Mpu Ranubaya. Pihak produser menolak ketika Chairil JM meminta peran Mpu Ranubaya , sebab tokoh yang harus dilakoninya berusia sekitar 80 tahunan. Chairil JM tidak mundur, ia ngotot untuk bisa mendapatkan peran itu. Akhirnya peran yang diimpikannya itu dapat diraihnya. "Keinginan saya waktu itu tidak saja karena perannya yang menantang tapi juga impian lainnya, bisa ikut suting di Beijing," tuturnya berseloroh. 

Sejak lolos Casting Mpu Ranubaya, Chairil JM bekerja keras untuk bisa masuk kedalam sosok peran yang akan dimainkanny itu. Hampir setiap hari ia belajar mengeluarkan inner acting. "Tantangan yang paling sulit adalah akting mabuk, sebab adegan mabuk untuk tokoh Mpu Ranubaya cukup banyak. Mak asaya mengusahakan akting mabuk satu dengan lainnya harus berbeda, apalagi mabuknya pendekar," katanya. 

CHAIRIL JM memulai karir sebagai figuran sejak tahun 1985.Baru beberapa kali menjadi figuran ia langsung hengkang dari film. Sebab honor yang diterima sangat minim. Karena menanggung hidup keluarga, adik-adik dan ibunya. Ia sempat banting stir menjadi penebang hutan belantara di hutan Sibolga, Tapanuli Tengah selama dua tahun. Sebelumnya selepas STM di Jambi, Chairil JM pernah pulan menjadi kelasi kapal, melanglang buana ke seluruh Nusantara. Ia juga sempat 'terdampar' di Pangkalan Susu, Sumatera Utara bahkan sampai ke Sulawesi Selatan. 

"Selama Saya di hutan saya merenung, buat apa hidupku di habiskan di hutan belantara. Apalagi saya masih muda, saya harus kembali ke Jakarta, " katanya beterus terang. Firasatnya ternyata benar, sampai di Jakarta ia langsung diterima bergabung dengan Tanaka. Waktu itu instruktur film laga yang cukup laris memiliki fighter yang cukup banyak. Di -dojo-nya Tanaka itulah Chairil belajar seni bela diri untuk film dan sempat main dalam 7 judul film. 

Sejak itu karirnya di film bergerak naik, setelah menjadi figuran kemudian naik menjadi pemeran tambahan, pemeran pembantu sampai akhirnya Chairil menjadi pemeran utama dalam film Warisan Ilmu Karang sutradara Dasri Yacob. 

"Setelah ditangani Dasri Yacob, saya menjadi rebutan sutradara yang ada di PT. Inem Film," papar artis laga ini. 


~MF 328/294/XV, 9-22 Januari 1999

Thursday, January 8, 2026

TANAKA, DARI AKTOR ANTAGONIS KE SUTRADARA


 TANAKA, DARI AKTOR ANTAGONIS KE SUTRADARA , Lebih dari 70an film yang dilakoni, tak satupun judul menempatkannya sebagai peran utama. Tanaka selalu tampil jadi tokoh antagonis, bulan-bulanan tokoh jagoan. Dan itu sudah seperti jadi merek bagi aktor kekar ini. Seperti dalam film Rio Sang Juara, ia tampil sebagai petinju brutal asal Korea, berhadapan dengan Rio yang di perankan Willy Dozan. Hanya Tanaka yang bisa memerankan tokoh petinju brutal itu. "Gigi saya sempat rontok dan jidat luka beneran," katanya. 

Tanaka memang selalu dapat peran pembantu, bahkan sampai beberapa tahun hanya jadi figuran. Tapi karena dia punya bekal ilmu bela diri yang cukup, ia kerap di perbantukan mendampingi instructure fighting dan jadi stuntman. Tanaka belajar Silat lebih 6 tahun. Karate selama 2 tahun. Baru menyandang sabuk Coklat, beralih perhatian ke Kung Fu selama 3 tahun. Tiga aliran itu digabungkannya sebagai bekal untuk menghadapi  lawan main di film. Kemudian Tanaka salah seorang bintang antagonis yagn selalu memperoleh caci maki penonton. 

Meski tidak pernah dipercaya jadi bintang utama, Tanaka mampu menyutradarai sinetron laga "Jacky" tayangan SCTV. "Saya sendiri tak menduga bakal ditawari menggarap sinetron Jacky. Namun karena direncanakan jauh-jauh hari, saya bisa mempersiapkan diri. Saya tidak belajar khusus, cukup menggabungkan pengalaman ketika jadi figuran, stuntman, editing dan ilmu bela diri," kata Tanaka yang pernah meraih prestasi Juara I se DKI pada kejuaraan Silat tahun 1979 ini. Mantan murid Robert Santoso, seorang instructur fighting handal ini mulai debut perdananya di layar perak lewat Bulan Madu produksi tahun 1977 dengan bintang George Rudy. 

Bersama Avent Christy, Tanaka dapat peran pembantu utama dalam film laga, Laki-laki Sejati. Disitu porsi saya cukup lumayan, tapi babak belurnya juga lumayan. Bahkan kepala saya hampir pecah ketika jatuh dari ketinggian 3 meter. Kalau keseleo atau bengkak kaki , sudah langganan, " tuturnya. 

Aktor laga pengarah kelahi dan sutradara sinetron ini tidak pernah berkecil hati. "Saya sadar diri, kenapa tidak diberi peran utama. Saya cukup puas dengan peran-peran pembantu dan stuntman, karena bisa melakukan yang tidak bisa dilakukan pemain lain," ujar pria yang sehari-hari napak santun ini. Ia menikah tahun 1981 dengan suliatawy wanita campuran Manado Jawa. 

Putra pertama keluarga Willy dengan Maryam yagn lahir di Jakarta, 25 Desember 1958 ini punya masa lalu yang keras. Sebelum ikutan main film laga, Tanaka sempat jadi sopier pengantar oli. "Hari-hari saya habis di jalanan," katanya mengenang.

Sekarang, lewat sinetron Jacky Tanaka memulai babak baru sebagai sutradara khusus sinetron laga yang juga banyak mengekspose kehidupan jalanan. "Saya mau lihat hasilnya. Jika diterima masyarakat, saya akan benar-benar menekuni dunia penyutradaraan yang lebih serius lagi. Dunia film sudah nggak bisa di harapkan oleh pemain seperti saya", tukas aktor antagonis yang pernah jadi bintang iklan Salonpas ini. 

Lebih jauh, sebelum terjun ke dunia film-film laga, Tanaka menekuni ilmu bela diri di perguruan "Dua Belas Naga" pimpinan Robert Santoso yang menggabungkan tiga aliran yaitu Silat, Karate dan Kung Fu. Salah satu yang mendorong Tanaka terjun kedunia film laga adalah karena ia hobi sekali nonton film-film eksyen, terutama yang dibintangi Bruce Lee. Setiap kali habis nonton, Tanaka merasa roh bintangnya masuk ke raganya. Dan secara kebetulan, Robert Santoso waktu itu juga sudah aktif di dunia film sebagai stuntman dan instructure fighting. Akahirnya ia diajak main film Bulan Madu di Bandung tahun 1977.

"Ketika berlatih di perguruan Dua Belas Naga, Robert Santoso belum memiliki asisten pelatih, karena belum ada yang sanggup, dan satu-satunya yang menonjol adalah saya" kata Tanaka. Saya termasuk cepat menguasai pelajaran-pelajaran yang diberikannya. Suatu ketika Robert memberikan kepercayaan kepada saya untuk jadi asistennya. Mungkin dari keseriusan saya itulah dia berani mengajak saya untuk ikut main film laga. Katanya orang seperti saya tak kenal takut untuk melakukan adegan-adegan berbahaya. Dan itu memang saya akui," ungkapnya. Demikian seperti di kutip dari artikel berjudul Tanaka, Menunggu Reaksi Masyarakat dalam MF no. 256/222/XII/6-19 April 1996

Wednesday, January 7, 2026

HANTU SOK USIL, KOMENDI HANTU-HANTU KOCAK


 HANTU SOK USIL, KOMENDI HANTU-HANTU KOCAK, Masih ingat pada sinetron serial Moody Juragan Kost? Dalam serial komedi itu Pak Tile bermain sebagai hantu tua bangka yang genit dan gemar mengganggu gadis-gadis penghuni rumah kost seperti Nurul Arifin, Diah Pertamatasari, Kiki Fatmala dan Iyut Bing Slamet. Setelah serial tersebut berakhir, PT. Soraya Intercine Films membuat serial komedi Hantu Sok Usil dengan penggantian sutradara dari Atok Suharto ke Agusti Tanjung. 

Absennya Pak Tile digantukan oleh pelawak-pelawak Ogut dan Kimung berhadapan dengan Nurul Arifin, Iyut dan urike Prastica. Diramaikan oleh Rina Hassim, Nasir dan Rika Roy Callebout. 

Di ceritakan Pak Ucok membawa istri dan ketiga anak gadisnya, Lolo, Lulu dan Lili serta pembantunya Legiyem dan sopir Parto pindah ke rumah baru. Konon gedung mentereng itu dihuni oleh makhluk-makhluk halus hingga dijual dengan harga murah. Pak Ucok sama sekali tak percaya adanya hantu malah sesumbar bisa menaklukan hantu. 

Padahal, sungguh-sunguh ada hantu di situ, yakni hantu Ogut, pemilik lama rumah tersebut bersama hantu putranya Boy, Dulu Boy tewas karena ekstasi saking shock, Ogut yang jantungan ikut meninggal. 

Melihat masuknya penghuni baru, hantu Ogut dan Boy mulai membuat ulah mempermainkan keluarga Pak Ucok habis-habisan. Tapi kemudian Boy yang bisa menjelma menjadi manusia berpacaran dengan Lili. Sedangkan Ogut berkencan dengan Legiyem di dapur. 

Ceritanya berkembang dari bermusuhan, Ogut dan Boy berbalik membantu berbagai masalah yang dihadapi keluarga Pak Ucok. Termasu ketika Lolo hendak dilamar oleh pengusaha tua bangka, Oom Pingo, Ogut mengacau, hingga bukan saja lamaran si Oom di tolak bahkan ia dihajar babak belur. 

Pengalaman Lulu lain lagi, ia diincar Jin Bandot yang bisa menjelma sebagai pengusaha . Memang Pak Ucok nyaris tertipu dan menerimanya menjadi menantu. Untung ada Ogut yag membuka rahasia siapa sebenarnya Jin Bandot. 

Bermunculan banyak hantu-hantu lain, baik yang palsu maupun yang asli, mulai dari sepasang drakula, sundelbolong, jin samurai, hantu genit, hantu penasaran, hantu gagu, tengkorak hidup sampai dukun internet dan lain-lainl. Cerita yang kocak dikemas dengan kreasi special effect canggih yang cukup menakjubkan. 

Produksi : Soraya Intercine

Produser : Ram Soraya

Produser Pelaksana : Jauhari Ardiwinata

Sutradara ; Agusti Tanjung

Pemain : Nurul Arifin, Iyut Bing Slamet, Rina Hassim, Yurike Prastica, Rika Roy Callebou, Nasiir, Kimung dan Ogut. 

DOLLY MARTIN

 


DOLLY MARTIN, AWAL MASUK AKTING. Nasib memang sulit di tebak. Setidaknya hal itu berlaku bagi lelaki kelahiran Jember, 8 Maret 1961 ini . Dolly Martin usai menamatkan SMA-nya di tahun 1979, meninggalkan kampung halamannya untuk test jadi Akabri di Jakarta. Tapi cita-cita itu kandas. Ia gagal masuk Akabri. Dalam kebingungan antara balik ke kampung dengan mencari kerja lain, tak disangka muncullah Frank Rorimpandey, sutradara ini kemudian memintanya ikut main film "Selamat Tinggal Masa Remaja" meskipun cuma figuran. 

"Itu masih tahun 1979. Yah daripada nganggur, saya mau saja. Hitung-hitung mengembangkan rasa ingin tahu saya. Soalnya sejak kecil saya sudah senang nonton film dan berakting", ujar anak ke 8 dari 9 bersaudara ini. Dolly yang main terbarunya di film "Kamus Cinta Sang Primadona" mengaku tidak pernah membayangkan bakal jadi pemain film. Anak pasangan pak Umar dan Ibu Tien ini malah bukan dari sekolah film. "Saya main film dari alam. Bukan dari akademis. Ya paling-paling ikut kursus akting yang diadakan Parfi," tuturnya. 

Biar begitu, sejak tahun 1979 Dolly sudah ikut membintangi sekitar 15 judul film (Sampai th 1988). Dari yang cuma peran kecil sampai peran utama sudah ia rasakan. "Pokoknya saya mulai yakin bahwa di filmlah jalan hidup saya. Untuk itu saya ingin jadi aktor hebat. Tapi memang sekarang ini saya masih dalam proses mencari, " jelas Dolly yang filmnya antara lain "Bibir Bibir Bergincu", "Gerhana", "Putri Kuntilanak",  "Gadis Penakluk" "Untuk Sebuah Nama", "Kenikmatan Ranjang Semua Orang", "Pacar Pertama", "Pencuri Cinta", "Kamus Cinta Sang Primadona", dan lain-lain. 

Pengalaman pertama main film, Dolly mengaku grogi. "Saya gemetaran waktu pertama kali di sut. Tapi sekarang sudah enggak kok. Sudah biasa. Untuk berakting itu, Dolly memang tidak masuk sanggar atau sekolah khusus film. "Saya cuma membaca buku-buku, konsultasi dengan para senior dan belajar dari kehidupan sehari-hari", tambahnya. 

Selain itu, untuk selalu tampil lebih baik, Dolly pun selalu menjaga tubuhnya. "Saya setiap hari melakukan jogging. Lari lari di sekitar rumah saja," kata bintang film yang mengaku cuma terima bayaran 1,5 juta rupiah saat main film Kamus Cinta Sang Primadona. Film itu sendiri menurutnya biasa-biasa saja. "Cuma untuk hiburan aja kok", tutur bintang yang baru terima bayaran tertinggi 2 juta rupiah untuk sebuah film. 


~MF 063/31/Tahun V 26 Nov-9 Des 1988

Tuesday, January 6, 2026

KIKI SANDRA AMELIA, BINTANG ANAK ANAK YANG SUDAH GEDE

 


KIKI SANDRA AMELIA, BINTANG ANAK ANAK YANG SUDAH GEDE. (kisah lawas) Apa kabar Kiki Sandra Amelia? Pada usia 2,5 tahun dia sudah nampang di layar TV dan bioskop. Malah ketika berumur 6 tahun dia menerima penghargaan tertinggi dari dunia film sebagai pemeran Anak-Anak Terbaik FFI 1981 di Surabaya. Ia meraih Piala Gubernur Surabaya pada FFI 1981. Tahun itu juga, dia muncul sebagai juara I lomba baca puisi tingkat TK se DKI. Namun diusia 13 tahun dengan tinggi 158 cm dan berat 43 kg, lampu kamera justru tak pernah lagi menyorot kepadanya. Itulah Kiki Sandra Amelia, anak semata wayang pasangan Pipiet Sandra dan KM Bey Erry. 

Kiki Pertama kali terlibat dalam dunia film tahun 1977. Mulanya main di TVRI Jakarta bersama grup Ratu Asia, waktu itu umur Kiki masih 2,5 tahun. Jadi masih bayi," katanya.  Menurut Kiki sampai kini (1988) dia sudah ikut main dalam ratusan sandiwara TV, dua sandiwara panggung dan 11 judul film. 

Menurut Kiki yang bercita-cita ingin jadi insinyur Pertanian dia sudah tidak ingat lagi judul-judul sinetron TV yang pernah ikut dibintanginya. "Waktu itu masih kecil sih. Tapi kalau untuk film, Kiki main pertama kali dalam film "Rosita" Waktu itu tahun 1977," jelasnya. 

Setelah Rosita, Kiki yang semaja remajanya aktif di Karang Taruna kelurahan ini berturut-turut membintangi film "Nasib Si Miskin", "Nakalnya Anak Anak", di film ini Kiki mendapat penghargaan sebagai pemain cilik terbaik FFI 1981, kemudian film "Jangan Sakiti Hatinya", Tiga Dara Mencari Cinta", "Buaya Putih", "Usia 18, "Perempuan Dalam Pasungan" dan yang terakhir adalah "Neraca Kasih" dan album rekaman dengan judul "Singkatan". Sejak itu Kiki enggak pernah lagi main film maupun rekaman. Padahal Kiki masih kepingin lho," tambahnya. 

Ketika disinggung masalah honor yang diterimanya setiap main film, Kiki cuma angkat bahu, " semuanya ibu yang ngatur sih, ".Kiki Taunya cuma main , ibu juga enggak pernahnyebut jumlahnya. Paling-paling kalau udah siap main film atau nyanyi ibu cuma nanya, kamu mau beli baju atau enggak? tuturnya. 

~MF 51/19 Tahun IV, 11-24 Juni 1988


Monday, January 5, 2026

SINETRON JANDA KEMBANG, PEMBALASAN ROH PENASARAN


 SINETRON JANDA KEMBANG, PEMBALASAN ROH PENASARAN. SALLY MARCELLINA yang tersohor sebagai bomseks alias bintang hot lewat film-film bioskop, mulai dari Gadis Metropolis sampai Akibat Hamil Muda, kemudian terjun juga ke dunia sinetron sebagai bintang utama sinetron serial drama horror JANDA KEMBANG. 

Sebelumnya memang Sally sudah sering membintangi film horror dengan judul yang nyaris serupa, Misteri Janda Kembang arahan Tjut Djalil, 1991, dan Kembalinya Si janda Kembang arahan Sisworo Gautama Putra - 1992, disusul film horor erotis seperti Misteri Wanita Berdarah Dingin, Godaan Perempuan Halus, Ranjang Pemikat dan lain-lainnya, boleh dibilang Sally menggantikan Suzanna sebagai bintang spesialis film sejenis yang banyak di produksi PT. Soraya Intercine Film. 

Tapi Sally pun beralih ke blantika sinetron. Sebetulnya ini bukan sinetron perdananya, karena awal kariernya di dunia seni peran pun berawal dari serial Teve  ACI (Aku Cinta Indonesia) yang ditayangkan TVRI sebelum era teve swasta merebak. 

Serial produksi Soraya dari TV Program Division ini diangkt dari cerita horor karya Abdullah Harahap. Di garap Atok Suharto yang memamerkan banyak kreasi special effect menarik, jauh lebih berkembang dari Si manis Jembatan Ancol. 

Cerita di awali dengan pengenalan para tokoh Santi, Janda muda yang jadi rebutan lelaki di desanya. Santi menjatuhkan pilihan pada Rukman, pengusaha muda dari kota. baru belakangan diketahui kalau ia sudah punya anak istri. Padahal santi terlanjur hamil karena hubungan mesra diluar batas. Rukman membujuk Santi untuk melangsungkan perkawinan secara diam-diam . Ternyata di bungalow terpencil, Santi dihabisi oleh teman-teman Rukman. Mayatnya di buang ke sebuah jurang di kawasan perkebunan. 

Justru di dasar jurang terjadi keajaiban. Roh penasaran Santi betemu roh Mira, dukun wanita yang mayatnya di buang di tempat yang sama. Merasa senasib roh Mira bersedia membantu roh Santi untuk membalas dendam. Maka satu persatu teman-teman Rukman menemui kematian secara mengerikan. 

Sampai saat Roh Santi menteror Rukman di rumahnya, barulah ia melihat Sumarni, istri Rukman yang bidiwati. Memang usia Sumarni jauh lebih tua dari Rukman, namun perusahaan yang dikelola RUkman sebenarnya adalah miliknya. Pengkhianatan Rukman pada istrinya berlipat ganda karena ia juga mengincar anak tirinya, Setyorini. 

Teror Roh Santi mengakibatkan Sumarni sakit jantung dan mesti dirawat di Rumah Sakit. Roh Santi yang merasa bersalah minta bantuan roh Mira untuk menyembuhkan Sumarni. 

Nasihat dokter untuk menjauhkan Sumarni dari hal-hal yang mengejutkan, malah mendatangkan ide bagi Rukman. Bersama konconya, Hendra ia menakut-nakuti istrinya dengan hantu-hantuan. Di luar dugaan muncul roh Santi dan roh Mira. Saking panik, Hendra terbu nuh oleh Rukman. Menyusul Rukman pun menembak kepalanya sendiri. Sakit hati Santi terbalas sudah. Namun cerita masih jauh dari berakhir, karena muncul dukun trendi, Empu Batara yang dipanggil Sumarni untuk mengamankan rumahnya dari teror hantu. 

Empu inilah yang dulu mencundangi dan mendalangi pembu nuhan Mira dengan ilma setannya yang luar biasa. Pengusutan Santi membuka tabir persekongkolan antara Batara dengan Eddi, suami Mira sendiri. Kini Batara menyiapkan rencana besar, menanti kelahiran seorang bayi yang disebut Sang Penerus. bayi itu berada dalam rahim Farida, isteri kedua Eddi. Ambisi jahat mereka nyaris terwujud kalau saja tak muncul roh Santi dan roh Mira yang dibantu para penghuni alam gaib menentang kekuasaan jahat majikan Batara dan Eddi yakni setan itu sendiri. 

Serial sinetron dibuat sepanjang 26 episode dan ditayangkan oleh SCTV. 

Produksi : Soraya Intercine

Produser : RAM Soraya

Sutradara : Atok Suharto

Pemain : Sally Marcellina, Rica Roy Callebout, Andi J Madjid, Irfan Yudha, Andre Bjenk 


SINETRON SEBERKAS SINAR


 SINETRON SEBERKAS SINAR, Lagu SEBERKAS SINAR , tembang manis dan mendayu-dayu yang di lantunkan almarhumah Nike Ardilla, setiap Rabu Malam sejak April 1997 lalu kembali bergema di AN-teve. Bukan saja para Nike Mania yang gembira dan menyambutnya, tetapi juga Firman Bintang, prodser Anugerah Damai Sejahtera (ADS) Production. Pasalnya sinetron yang diilhami dari lagu Deddy Dores dan dilantunkan Nike setelah tertunda penayangannya beberapa lama akhirnya ditayangkan juga. 

Seberkas sinar adalah sinetron perdana griya produksi ADS yang di kelolah Firman Bintang bersama Djadjat Sayoeti, sekaligus memberi 'pelajaran' berharga bagi Firman, "Memproduksi sinetron, nyatanya berbeda dengan memproduksi film layar lebar. Banyak hal yang tidak kami alami dalam produski film layar lebar, harus kami alami dalam produksi sinetron. Ketika memproduksi, kami tidak memperhitungkan faktor-faktor tertentu. Termasuk bargaining position dengan pengelola stasiun penyiaran, " papar Firman Bintang. 

Menurutnya, mengangkat lagu-lagu Nike Ardilla menjadi sinetron, seperti Seberkas Sinar itu, tidak muncul dan untuk "membarengi" kepergian Nike. "Kami sudah merencanakan sejak Nike masih hidup. Malah atas usulan dan saran teman-teman wartawan, sinetron itu pas jika di mainkan oleh Nike. Pembicaraan secara lisan kearah itu sudah kami lakukan. Tapi takdir menentukan lain. Kalaupun kami meneruskan dengan pemeran lain, itu sebagai penghormatan kami atas dedikasi Nike dalam peta musik dan film nasional, " Papar Firman Bintang. 

Sinetron dengan bintang pendukung Mira Asmara, Alan Nuari, Adipura, Ully Artha, Rizki Teo, Rachman Yacob, Nenny Triana, Stanley Worotikan serta sejumlah pendatang anyar lainnya itu sendiri berkisah tentang seorang anak yang kehilangan kasih sayang ibunya hingga ia terjerumus kedalam kehidupan yang nista. Mita (Mira Asmara) merasa tertekan batinnya karena ibunya yang selama ini ia banggakan, ternyata seorang wanita penghibur. Mita memprotes keras profesi ibunya itu, sehingga ia memilih hidupnya sendiri tanpa berdampingan dengan ibunya. 

Namun hidup tidaklah semudah yang di bayangkan. Karena tuntutan keadaan dalam perjalanan waktu, Mita akhirnya terjerumus dalam kehidupan malam. Ia terperosok ke dalam jurang profesi yang pernah di benci dan membuatnya kabur dari rumah menjadi wanita penghibur. 

Di kisahnya juga, bagaimana Mita berhenti menjadi wanita penghibur dan menjadi istri Herman (Adipura). Namun ketika usia kandungannya memasuki tujuh bulan, suami yang dicintainya itu meninggal dunia. Dalam keadaan kalut dan tidak tahu yang harus di perbuat, Sarah (Rizky Teo) dan Roni (Alan Nuari) membujuknya untuk melakukan pekerjaan lama. 

Seberkas Sinar barangkali ingin menguras air mata sekaligus ingin mempermainkan keingintahuan pemirsa atas nasib Lestari, anak Mita dari perkawinannya dengan Herman. Jawaban atas teka teki itu terjawab di akhir cerita ketika Mita terbaring dan dirumah sakit menjelang ajal menjemputnya. 

Menurut Firman juga, empati masyarakat atas sinetron tersebut banyak diterima dari masyarakat, khusunya para Nike Mania. Untuk itu dalam waktu dekat pihaknya akan kembali mengangkat lagu-lagu yang pernah dinyanyikan Nike seperti Bintang Kehidupan ke layar Kaca. "Deddy Dores mendukung rencana tersebut, " akunya. 


~MF 285/251/XIII/17-30 Mei 1997

LAUREEN SAHERTIAN


 LAUREEN SAHERTIAN! ada yang ingat sosok ini? (berita lawas). Cewek mana yang nggak kesengsem melihat tampang cowok ganteng, jantan dan sorot matanya hangat? Kiranya logis bila Ria Hapsari pun terseret perasaan demikian. Maka tak pelak Ria pasang ancang-ancang. Ia segera beraksi dengan ulah untuk menarik perhatian. Malah Ria memberi alamat rumah di secarik kertas kepada cowok tersebut. Harapannya, tentu suatu saat cowok yang tiba-tiba jadi pujaannya itu bertandang kerumahnya. Eh, nggak taunya yang datang justru John Towel bukan Reo Reseh yang sangat di harap itu. Ria kecewa dan males meladeni John. 

"Tentu, siapa pun, males ngeladenin cowok yang nggak disenengin, " ungkap laureen Sahertian yang berperan sebagai Ria Hapsari dalam film "Elegi Buat Nana" yang di sutradarai oleh Achiel Nasrun. "Tau nggak, Reo Reseh itu kan di mainkan oleh Ryan Hidayat," kata Laureen di rumahnya di kawasan Tanah Abang Jakarta Pusat. Selain Ryan film tersebut dibintangi Ria Irawan, Gito Gilas, Adreas Pancarian dan sebagainya. 

Laureen Sahertian putri ketiga dari empat bersaudara ini telah menapaki dunia film sejak tahun 1984. Ia, pertama kali main dalam "Film dan Peristiwa", dilanjutkan dengan "Romantika, Galau Remaja di SMA", "Merpati Tak Pernah Ingkar Janji". "Memburu Makelar Mayat", "Pesona Natalia" dan "Jakarta 66". Menurut pengakuannya, sebelum di film, Alien panggilan akrabnya sudah terjun ke dunia tarik suara. berbekal ilmu Bina Vokalianya Pranajaya, ia merenggut Juara Harapan Perlombaan Vokal se DKI 1984. Dan beberapa kali turut mengisi acara, misalnya "Dari Masa Ke Masa" serta bersama grup Mayapada bermain drama remaja TVRI. 

Nona Manise berkulit putih ini lahir di Jakarta 22 April 1966 dari pasangan PJ Sahertian (Indo - Ambon Belanda). "Darah seni saya dapatkan dari papa. Ia sering nyanyi di RRI, dulu. Namun papa telah tiada. Ia meninggal tahun 1983. Walau begitu semangat berkeseniannya masih tetap menyala, " ujar Alien bersama kakak dan adiknya berusaha meneruskan semangat itu. 

Kendati begitu, Alien ragu terhadap kemampuan dirinya. Sudah pas atau belum di dunia seni, atau tetap mencoba  profesi lain yang lebih menghasilkan kepuasan dan materi. "Saya akui, saya memang masih labil. Pemilihan profesi kan berkaitan dengan masa depan. Makanya, sementara ini saya masih mencoba kemampuan di profesi dunia seni atau kerja di kantoran. Suatu saat saya harus menetapkan suatu profesi, bila kestabilan telah terasa" tuturnya. Dan alien yang pernah bekerja sebagai Costumer service dan sekretaris itu, kini mendalami ilmu sekretaris di Interstudy. 

Laureen yang punya favorit warna biru dan senang pada permainan Al Pacino dan Stalon, mengatakan bahwa film-film yang dibintanginya itu pernah ditonton lagi walau sudah rampung. "Saya cukup melihat ketika dubbing saja. Setelah itu, paling-paling saya dengerin kritik dari keluarga atau teman-teman. Ungkapnya.