Showing posts with label Pak Tile. Show all posts
Showing posts with label Pak Tile. Show all posts

Friday, September 4, 2026

PAK TILE, KARENA BUTA HURUF DIBELENGGU KONTRAK

 


PAK TILE, KARENA BUTA HURUF DIBELENGGU KONTRAK (film lawas). Pak Tile Buta Huruf, tapi tidak pernah menyesal. Begitu adanya. Namun, paling sedih dirasakan artis jebolan "Lenong" ini adalah ketika dibelenggu kontrak. Akibat secarik kertas "perjanjian" itu tak berkutik, tak bisa berbuat banyak, dan rupiah pun berlalu. Oleh produser yang ada dinegeri ini, Pak Tile dibelenggu kontrak, isinya, setahun tak boleh ikut produksi lain. Sesuai perjanjian, Pak Tile perbulan dibayar Rp. 100.000,-, walau tidak suting. Bila suting dibayar Rp. 200.000,' sebagai honor. Selama setahun, cuma kebagian produksi 4 film. Tentu saja anak Betawi yang tidak tahu tanggal lahir ini hanya bisa menerima apa adanya. 

"Waktu itu begitu awam dengan film. Tak mengerti soal kontrak. Dan saya bersyukur karenanya, "katanya mengenang. Kontrak itu pula membelenggu dirinya. Sehingga tidak bisa berbuat apa. meski produser lain tertarik atas kemampuanya guyonannya. Soraya Intercine Film misalnya, ingin memakai Pak Tile. Honor sudah dibayar separuh, Tapi apa lacur, kabar akan berlakon di perusahaan lain sempat juga ketelinga bos pengontrak. 

"Saya tidak diizinkan, "kenangnya. Sederhana itukah alasannya? "Oh tidak! Katanya, nanti Pak Tile kalah, "sambar gaek bergigi ompong ini. Kalimat itu merupakan 'basa basi'. Kalimat semacam ini sering meluncur dari mulut produser dinegeri ini. Sebab, untuk bersikap tegas, terkadang tak punya nyali. 

"Saya malu pada produser yang akan memakai. Syukur saja dapat memakluminya,"lanjutnya sambil terkekeh. Semestinya, sebagai seorang artis Pak Tile bebas bekerja dengan perusahaan film manapun. Akibatnya, kesempatan untuk berbuat banyak berlalu, dkubur belenggu. Meski, lakonan Pak Tile cukup mujarab untuk memasukkan uang ke kocek produser. Tapi hasil honor selama dikontrak setahun, paling banter Pak Tile mendapat Dua Juta Rupiah. Meski begitu pahit, namun bapak yang kocak ini selalu bersyukur. Memang sudah menjadi pribadinya artis bernama lengkap Tile Bayan. 

Masa pahit telah berlalu. "Sekarang ogah dikontrak panjang. Sekarang, saya baru tahu gayanya  orang film,"ujar artis komedi yang melejit lewat film Cintaku Di Rumah Susun. Sutradara Nyak Abbas Akup. 

Jadilah sekarang seperti burung. Karena itu, Pak Tile telah menyelesaikan film Pasti Bisa Tahan, sutradara A Rizal. Kini lagi ikut suting film Lupus V, kebagian peran menjadi pelayan hotel,"Lumayan, honor sehari dapat dua ratus lima puluh ribu. Enaknya bisa bebas berbuat apa saja, " kata gaek yagn telah berlakon lebih dari 17 film selama berkutat 4 tauun sebagai artis nasional. 

Itu kisah sedih si buta aksara. Tapi, masih ada manusia memanfaatkan situasi ketika tahuannya itu tentang tulis menulis, "Sekarang telah bisa menentukan diri sendiri, justru itu saya bisa ikut Lenong Kembang Sereh untuk Pesta Istiqlal,"katanya sambil menarik rokok dalam-dalam saat latihan di Gelanggang Remaja Jakarta Timur. ~MF 139/106 Tahun III/26 Okt - 8 Nov 1991. 


Wednesday, March 4, 2026

PAK TILE, AKTOR BETAWI YANG BUTA HURUF

 


PAK TILE, AKTOR BETAWI YANG BUTA HURUF (Berita lawas), Siapa bilang hanya bintang-bintang berwajah indo yang biasa bikin film Indonesia semarak? Siapa bilang untuk bisa berakting baik harus lulusan sekolah akting? Siapa bilang untuk jadi bintang film harus bertubuh kekar dan berwajah tampan?

Tile Bayan atau populernya Pak Tile adalah contohnya. Kakek yang sudah tak bergigi ini membuktikan betapa kelirunya pandangan produser film Indonesia selama ini. Tak percaya? Lhat saja film "Kipas Kipas Cari Angin". Dari sekian banyak bintang yang di pajang di film itu, hanya Pak Tile yang mampu berakting wajar sesuai dengan porsi perannya. 

Padahal, seperti diakuinya, tak setetes pendidikan pernah ia terima. Jangankan pendidikan Sinematography, pendidikan umum pun tidak. Dan ngomong dengan lelaki kurus ompong berkulit hitam ini, kesan yang muncul tak bisa lain kecuali keluguan manusia Jakarta yang sangat mempribumi Kurang yakin? Dengar saja penuturannya. 

"Nama saya Tile Bayan. Tapi saya lebih dikenal dengan panggilan Pak Tile saja. Saya enggak tahu kapan saya lahir, tanggal berapa, bulan apa tahun berapa. Yang saya tahu menurut yang ada di KTP saya, umur saya kini 63 tahun (1989). Saya punya anak delapan orang, empat putra empat putri. Yang empat sudah kawin. Saya betawi Asli, Betawi pinggiran. Saya menikah tahun 1951 dan kini tinggal di daerah Lenteng Agung dekat rel kereta api. Pokoknya umur saya segitu. Gak percaya nih baca KTP Saya, tapi jangan suruh saya baca. Saya nggak bisa baca,".

"Saya main film pertama kali karena diajak oleh Nyak Abbas Akup di film "Cintaku Di Rumah Susun. Di film itu saya jadi Hansip. Ajakan itu membuat saya senang sekali. Waktu itu saya di bayar 20.000 rupiah untuk satu hari suting. Ceritanya saya bisa ikut main film itu, Nya Abbas rupanya melihat saya tampil di TVRI. Saya memang sering tampil di TVRI. Soalnya saya ini pemain Lenong. Saya sudah main Lenong sejak tahun 1948 dan sampai kini terus ikut Lenong."

"Saya bisa main film ini sangat senang lho. Dulunya sih saya suka juga diajak ikut main film dokumenter. Film penerangan. Tapi untuk film bioskop, wah saya bangga sekali. Soalnya saya ini enggak bisa nulis enggak bisa baca lho. Saya ini buta huruf . Nah siapa yang enggak bangga kalau orang buta huruf seperti saya ternyata  bisa main film. Enggak cuma saya, anak-anak saya pun senang. Tetangga-tetangga saya juga senang . Pak Tile jadi bintang film, begitu kata mereka, Saya sendiri rasanya wah gimana gitu. 

"Saya kemudian diajak lagi ikut main dalam film"Kecil-kecil jadi Pengantin". Peran saya jadi okem. Tapi kalau kemudian di film "Kipas-kipas Cari Angin" banyak orang memuji permainan saya, saya sendiri enggak tahu. Terima kasih deh atas pujiannya. Di film itu saya di bayar Rp. 500.000. Tapi saya cuma terima Rp. 450.000. Katanya sih yang 50.000 dipotong untuk pajak. Ya sudah. Saya enggak tahu soal begituan sih. Sekarang ini saya malah sudah teken kontrak lagi. Tapi kali ini dengan Parkit Film. Judulnya "Curi Curi Kesempatan" Pokoknya saya senang aja. Ternyata saya kok bisa main film ya?.

Dan Pak Tile mengaku tak punya kerjaan lain kecuali main lenong dan buka warung kecil-kecilan dirumahnya itu punya pengalaman menarik dari film "Kipas-kipas Cari Angin" tersebut. 

"Rumah saya kebetulan berada pas di depan gedung bioskop, Ketika film itu di putar sampai 15 hari berturut-turut malah, penontonnya berjubel. Tahu apa yang mereka teriakkan ketika keluar dari gedung bioskop? Pak Tile, Pak Tile jadi bintang film ya? Pak Tile hebat ya? wah perasaan saya bungah rasanya," tutur lelaki yagn bila di beru buah apel hanya akan di emut-emut saja karena sudah kehabisan gigi. 

Tapi bagaimana bisa mengucapkan dialog kalau pak Tile enggak bisa nulis dan baca?"Gampang aja, saya suruh sutradara ngucapin apa dialog saya. dan saya ngapalin. sepele kan?.. ~dikutip dari MF No. 087/55/Tahun VI, 28 Okt - 10 Nov 1989