Saturday, January 31, 2026

SLAMET EFFENDI "PRADANA" Tertolong Kasus Brahmana


 SLAMET EFFENDI "PRADANA" Tertolong Kasus Brahmana, (Kisah Lawas) menurut pepatah kuno, banyak jalan menuju Roma. Slamet Effendi, Indon ebrdarah campuran Jawa-Madura Cina dan Belanda itu setamat SMAnya segera menenteng ransel, meninggalkan kota kelahirannya, Jember menujur Surabaya. 

Kalau kesampaian ia tentu ingin pula sampai ke Roma, Kota yang konon penuh berbagai keindahan. Cuma sampai kini Effendi yang kemudian tenar dengan nama Fendi Pradana itu masih ngendon di Jakarta, Sibuk mencari nafkah di dunia film. 

Tentang keterlibatannya dengan dunia perfilman itu. Fendi bilang bukan cita-citanya. "Kebetulan saja ada kesempatan!" tutur Fendi. Setamat SMA lanjutnya, keinginan pertama adalah mencari lapangan kerja. "Karena itu saya pergi ke Surabaya yagn lebih besar dari Jember!" jelasnya. 

Di kota Pahlawan itu, ia mulai mendapatkan lapangan kerja yang diinginkan. Pendidikan formalnya memang hanya SMA. Tapi ia punya modal lain. Postur tubuhnya atletis, tampangpun boleh. Inilah yang menggelitik  pengusaha biro iklan untuk menawarkan kesempatan, Fendi dijadikan  model iklan untuk perusahaan rokok raksasa di Indonesia. 

Perjalanan dilanjutkan ke ibukota. Di Jakarta, ternyata kesempatan yang di peroleh memang lebih besar. Ia kini  tidak saja sebagai model iklan, tapi telah  boleh menyandang predikat aktor. 

"Semula saya tidak pernah punya cita-cita jadi bintang film!" tukas Fendi yang boleh di sejajarkan dengan nama-nama tenar lainnya di film laga seperti Advent Bangun dan Barry Prima. 

Kembali ke persoalan  pepatah diatas. Memang benar, banyak cara  dan jalan untuk mencapai tujuan. Jalan yagn di tempuh Fendi melangkah ke dunia film walau tanpa di sadari, melalui dunia periklanan, lalu pada saat itu secara kebetulan  antara Tobali Film dan Kanta Film sedang memperebutkan Ferry Fadly untuk membintangi Saur Sepuh. 

Rebutan pemain untuk peran Brahma dimana akhirnya Ferry Fadly berhasil di kontrak Tobali film untuk membintangi Brahmana Kumbara (cat . Brahmana Manggala) yang jalan ceritanya "jiplakan" cerita Saur Sepuh, membuka peluang baru buat Fendi Pradana. "Saya tidak pernah mengira kalau kesempatan untuk muncul di film itu begitu mudah buat saya. Dan yang tidak pernah terpikirkan  lagi, kesempatan pertama itu langsung pegang peran utama, " Kenang Fendi. 

Tiga serial Saur Sepuh telah mengorbitkan namanya sampai ke puncak popularitasnya. Tapi untuk Saur Sepuh IV, Fendi bilang tak akan muncul lagi. "Kontrak saya sudah habis, saya tidak mau memperpanjang kontrak itu, " jelasnya. 

~sumber MF 119/87 Tahun VII, 19 Jan - 1 Feb 1991

Friday, January 30, 2026

SUTING LANGITKU RUMAHKU


SUTING PERTAMA "LANGITKU RUMAHKU". Dua jam usai syukuran, siang itu juga suting film "Langitku Rumahku" yang digarap sutradara Slamet Rahardjo, di tempat yang sama. Tepatnya lokasi itu sekitar 2km, sejajar pintu gerbang masuk Taman Impian Jaya Ancol kearah Tanjung Priok. Tempatnya di tata sedemikian rupa, hingga bila suting dilakukan, nampak mudah di kenal lewat tenda pita biru yang bersemat di baju mereka. Di balik tenda besar tempat pesta syukuran, nampak dibangun perkampungan kumuh, laik gubuk gubuk liar, yang sudah lama ada. Sepuluh hari lamanya Satari bagian artistik dari PT. Ekapraya Film, membangun seting untuk film. 

Sementara kegiatan suting belum dimulai, nampak puluhan figuran yang kumal dan Kusam, menunggu di gubug-gubug kardus mereka. Suasananya, memang seperti berada ditengah perkampungan pemulung atau gembel saat itu. Kepulan asap dari tiap gubuk, lewat tungku dan kompor butut, berbaur dengan tumpukan karton-karton, botol-botol bekas serta rongsokan barang nampak menyampah disana. Gerobak sampah dan delapan ekor anjing yang berkeliaran, serta timbangan kusam ada tergantung di sudut kanan. Wajah para figuran yang kotor serta anak-anak yang banyak bertelanjang dada, cukup mewarnai kemelaratan saat itu. Konon para figuran yang dikerahkan dan dilibatkan untuk adegan ni, dicomot dari orang-orang asli penduduk seperti yang dituntut skenario dari daerah Rawasari dan kawasan rel kereta api Senen dan sekitarnya Ancol. 

"Tadi juga banyak yang datang untuk figuran, tapi kebanyakan disuruh pulang lagi. Dipilih yang jelek-jeleknya saja mungkin yang disuruh pulang itu kecakepan nggak cocok?, celoteh seorang sopir unit film. 

Scene 32, sedang dipersiapkan untuk diambil. Beberapa kru membantu memberikan instruksi pada para pemain. Dipinggir sungai keruh, kamera Sutomo GS sedang di set, mencoba panning, bergerak memutar 220 derajat. 

"Siap. ya...? Masing-masing sibuk. Jangan lihat kamera. Lihat tangan saya, disebelah sini mulai bergerak. Ya, mulai ya...? teriak Slamet Rahardjo sambil bertelanjang dada kepanasan. 

Lensa kamera mulai bergerak dari seberang sungai, lalangnya lalu lintas kendaraan, ke kesibukan transaksi barang-barang bekas, bapak dengan sepeda butut dan anak kecil yang kumal, serta pemulung sampai suasana perkampungan dengan kegiatan mereka. Sementara itu di dekat posisi kamera, Phil Judd , penata suara, saat itu sedang kebingungan lantaran jarum indikator bergerak nggak beres. Tangnnya sibuk mengutak ngatik peralatan, pijit tombol, goyang goyang kabel, akhirnya memberikan kode, lewat jemolan yang diarahkan ke bawah. Suara nggak jalan, Eros Djarot yang dari tadi berada dekat mereka langsung kompromi. Saat itu juga dia menyuruh kru lainnya untuk mencari alat yang rusak, ke Singapura. Akhirnya yang tadinya adegan itu akan direkam secara langsung (Direct Sound) gagal. 

Kurang lebih 3 jam, hari pertama suting dilakukan untuk mengambil adegan itu. Panasnya udara Jakarta, saat itu cukup membuat orang pada nyengir kegerahan. Christine Hakim yang saat itu berada di lokasi dengan kacamata hitamnya, langsung mojok ke tempat yang agak teduh. Sutradara yang tadi bertelanjang dada, tukar baju dengan baju kakaknya, Eros yang lebih tipis. Sementara Phill Judd yang sudah pakai topi minta untuk dipayungi disaat kerjanya. Selesai semua kegiatan, orang lebih suka untuk berada di dekat tenda besar sambil berteduh dan beristirahat. Sementara, para figuran bersama anak-anak yang ikut terlibat, langsung menyerbu meja yang ada makanan sisa syukuran. Mereka capek dan lahap atau memang mumpung ada sisa makanan? Anak-anak tampak ceria, sementara beberapa membungkus sisa makanan untuk dibawa pulang. Kacang panjang yang dibuat pagar hiasan makanan yang banyak itu, terlihat menumpuk di kepalan tangan kecil yang masih kotor lantaran make up. Mereka nampak suka untuk memanfaatkan situasi seperti itu. 

Film anak-anak yagn dibintangi oleh Banyu Biru Djarot, Pietrajaya Burnama, Reynaldo Thamrin, Totok Sutrisno, Sunaryo , dan Andri Sentanu ini mengisahkan tentang persahabatan dua anak yang berbeda karena kelas ekonomi keluarganya. Keduanya memang jadi anak jaman yang hidup sekarang yang lagi ramai dibuat film anak-anak. Semua kan beda seleranya. Saya cuma tertarik untuk mencoba karena film ini dibuat secara 'direct sound', tadinya kan saya sedang mempersiapkan film "Harimau Harimau". Tapi saya juga masih mau untuk membuat film anak-anak yagn kedua, ketiga... tapi tidak mau untuk jadi spesialis film anak-anak lho?, Komentar Slamet Rahardjo yang mengakui belum punya metode untuk bikin film anak-anak ini. 

"Pokoknya untuk seting dengan figuran ini saja, satu hari harus mengeluarkan dana setengah juta, " kata Eros Djarot selaku produser film yang diangkat dari cerita Harry Tjahyono ini. 

~MF 082/50/TH.V, 19 Agustus - 1 Sept 1988



GINO MAKASUTJI, KORBAN MALAM JUMAT KLIWON


GINO MAKASUTJI, KORBAN MALAM JUMAT KLIWON, (Cerita Lawas) Boleh percaya  tidakpun tak apa. Di zaman modern serba canggih sekarang ini, ternyata sebagian masyarakat, khususnya orang-orang tua di Jawa baik itu Jawa Timur, Jawa Tengah maupun Jawa Barat, masih menganggap malam Jumat adalah malam "keramat" terlebih lagi malam Jumat Kliwon. 

Karena dianggap keramat, orang yang melakukan aktivitas kerja, sesaat, harus berhenti dan istirahat. Bila dilanggar akan terjadi sesuatu yang tidak dinginkan. Sekali lagi, inipun boleh percaya, tidak pun tak apa. 

Mungkin hanya kebetulan mungkin pula malam "keramat" itu minta korban. Gino Makasutji, di malam Jumat Kliwon ketika suting film "Perempuan Berambut Api" menjadi korban. Ia jatuh dari pohon besar, dari ketinggian sekitar 3,5 meter. Karena patah tulang, malam itu ia tak lagi bisa melanjutkan sutingnya. Ia dilarikan ke dokter terdekat, lalu siangharinya diobati dukun ahli patah tulang. 

Sebenarnya tengah malam keramat itu, seluruh kru dan pemain sudah istirahat menikmati kopi hangat dan makan tengah malam. Kebiasaan seperti ini menurut Lilik Sudjio, sutradara film tersebut, memang bukan hanya pada malam Jumat tapi setiap malam. 

"kita kerja, harus ada istirahatnya. Sebab kalau di paksakan pasti hasilnya juga tidak baik. Apalagi kerja di malam hari, kondisi kesehatan mudah rapuh karena angin malam. Karena itu tak mau terlalu forsir," tutur Lilik. 

Sebagian karyawan waktu itu sambng Subekto, pimpinan unit film, memang sudah ada yang mulai bekerja, mengatur lampu dan set agar segera bisa suting lagi. "Disaat karyawan itu sedang sibuk kerja, tiba-tiba Gino teriak : "Oke!" lalu ia lari memanjat pohon besar yang dijadikan rumahnya .  Sampai di atas, ...buk... ia lepas, jatuh menimpa cabang pohon, baru kemudian jatuh ke tanah, " jelas Bekto. Kalau tidak jatuh kepala Gino pasti pecah karena jauthnya kepala duluan. 

"Pohon besar itu memang angker, " tukas Gino. Waktu itu, lanjutnya , perasaan sutradara sudah memberi aba-aba siap action. "Maka sayapun segera lari," tegasnya. 

Jangankan aba-aba action, menurut Bekto, menata lampu pun belum selesai. 

Ia juga bilang, sebagai orang Jawa, juga atas saran warga setempat untuk mengadakan selamatan, telah dilakukan. "Namanya juga mohon keselamatan.Setiap kita akan melangkah, kita kan harus berdoa. Apalagi kerja di tengah hutan, dimana masih banyak pohonnya yang besar. Roh roh halus, masih banyak. Kita harus hati-hati, " kata Bekto. 

Memang, sambung Lilik Sudjio, sebagai orang beragama, berdoa sebelum melakukan sesuatu pekerjaan, menjadi keharusan. "Soal tempat angker, roh halus dan sebagainya kita ini ya percaya nggak percaya.

Akibat kejadian malam Jumat Kliwon itu, sutradara, kameramen, pemain dan siapa saja yang terlibat dalam produksi film Perempuan Berambut Api selalu berhati-hati. "Apalagi film ini sutingnya hampir 75% harus adegan malam, " jelas Lilik Sudjio. 

Menceritakan pengalaman naasnya di malam Jumat Kliwon itu, Gino Makasutji pemain film tampang Indo itu bilang "Saya sebenarnya baru kali ini mengalami kecelakaan suting film. Soal adegan-adegan keras yang menuntut ketramprilan, bagi saya hal yang biasa. memang saya lebih banyak main film action. Dan kali inipun sebagai Datuk Panglima Kumbang, tokoh orang sakti , tentu saja saya harus menunjukkan ketrampilan saya. Di samping mungkin benar, tempat itu angker, saya lagi naas,".

Menurut perasaan Gino, sebelum jatuh, ada orang yang menepuk nepuk bahunya, lalu mendorongnya. Setelah itu, ia tak tahu apa-apa lagi. "Saya sadar setelah digotong, " kenangnya. 


~sumber MF 119/87 Tahun VII, 19 Jan - 1 Feb 1991

Thursday, January 29, 2026

FEBBY RENASARY LAWRENCE

 


FEBBY RENASARY LAWRENCE, memasuki era 90an wajah-wajah baru yang ranum dan membangkitkan gairah, tetap muncul di pentas artis Indonesia seberapapun kusut kondisi perfilmannya. Inilah dia salah satu contohnya, Febby Renasary Lawrence, si jelita Indo Jerman yang masih 19 tahun di tahun 1993 yang juga menjajal peruntungan di dunia film, sinetron dan model. 

Film yang menampilkan wajahnya pertama adalah Rini Tomboy garapan sutradara IKJ Noto Bagaskoro yagn langsung menjadi film pilihan FFI 1992. 

Lalu dia di boyong ke Jepang untuk membintangi sinetron yagn dikonsumsi di Jepang. "Febby sebulan tinggal di Tokyo," katanya. Dan begitu kembali, ia berperan di  film Gadis Metropolis garapan sutradara Slamet Riyadi. Selanjutnya film-film bertema erotis ia bintangi sesuai dengan tuntutan jaman , dan masuk jajaran artis-artis 'panas' meski kemudian ia juga bermain dalam sinetron seperti Serpihan Mutiara Retak. 



Wednesday, January 28, 2026

ATIN MARTINO, SI MANTAN JUARA SILAT


 ATIN MARTINO, SI MANTAN JUARA SILAT, Hidup Harus Ulet dan Tekun! Hidup itu tidak gampang, penuh tantangan dan untuk menghadapi segala tantangan itu, perlu perjuangan dan ketekunan, keuletan agar meraih sukses yang diharapkan. 

Demikian papar mantan juara IPSI se Jatim yagn sejak akhir tahun 1985 menggeluti dunia film, ketika wawancara disela-sela suting "Anak Anak Kolong" arahan Lukmantoro yang berlokasi di Cirebon - Kuningan dan sekitarnya. 

ATIN MARTINO yang mengawali karir sebagai film figuran lewat film perdananya "Menerjang Badai" arahan Dasri Yacob ini mengaku sejak usia SD hobby nonton film action. Dari situlah ia tertarik belajar bela diri Pencak Silat dan menggemari kung fu. 

Anak bungsu dari pasangan Soedirman dan Soenarti ini terlahir di kota Surabaya tepatnya 16 Desember 1962. Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, ia dituntut mengikuti jejak kakak-kakaknya belajar hidup mandiri dan tidak menggantungkan diri pada orang lain. 

Itulah sebabnya ia memutuskan memilih film sebagai ladang hidupnya. Siapa bilang film tidak bisa diharapkan, buktinya saya berangkat dari bawah sebagai figuran. Modalnya itikad dan semangat juang, saya bersikeras menggeluti dunia film ini sampai prestasi puncak, tutur arek Suroboyo penggemar musik cadas ini. 

Alhamdulillah sudah banyak film yang saya geluti diantaranya Mat Ireng, Wiro Sableng dalam judul Kapak Maut Tutur Sepuh , Anak-anak Kolong dan lain-lain yang sebagian besar film aksi, " ujar Atin Martino yang berperakawan kekar dengan tinggi 172 cm . 

Aktor yang mulai naik daun ini sudah beberapa kali memegang peran utama. Namun ia sendiri tidak pernah merasa puas, ia selalu mengevaluasi diri dari film yang satu ke film lain, disamping menimba pengalaman dari para senior dan sutradara. 

Setiap insan pasti merindukan keluarga, akan halnya saya dalam kegiatan syuting terkadang muncul rasa rindu. Dalam hal ini, kita harus bisa membagi jadwal antara profesi dan kepentingan keluarga, dengan penuh pengertian dan ketulusan hati, " ucap Atin . 

Menyinggung soal honor main film, ia mengelak. Ini rahasia dong dan rasanya kurang etis diketahui secara umum kilahnya. Pokoknya lumayan buat kebutuhan "dapur ngebul" dan prinsip hidup saya, menerima apa adanya dengan penuh kesadaran ikhlas dan tabah menghadapi tantangan hidup, ujar laki-laki yang benci kepada orang yang tidak jujur dan munafik ini. 

~sumber MF 119/87 Tahun VII, 19 Jan - 1 Feb 1991

Tuesday, January 27, 2026

ADVENT BANGUN, PUNYA DUA KARAKTER


 ADVENT BANGUN, PENULIS SKENARIO DAN CERITA  GENTA PERTARUNGAN Jangan pingin jadi juara kalau anda tak bisa menaklukkan diri sendiri. Ini bukan nasihat, tapi setidaknya ini wanti-wanti yang harus di dengar oleh setiap orang yang akan memasuki perguruan silat atau ilmu bela diri yang lain. 

Advent Bangun, Jawara dalam soal beran tem dalam film, memegang kuat falsafah ini. Dan dia laris membintangi film laga. Sebuah film yang juga masih berkisar soal bak buk muncul. Ide ceritanya diilhami oleh pengalaman Advent sendiri. Film itu berjudul Genta Pertarungan yang mempunyai judul asli "Sang Pemenang". 

"Ide itu memang muncul dari pengalaman pribadi, yang kemudian saya angkat dalam cerita. Tentu perlu di dramatisir sedikit supaya tambah seru, " kilah Karateka penyandang DAN IV ini dengan suara mantap dan menggelegar. 

Film ini menceritakan tentang seorang karateka yang mempunyai keinginan besar untuk menyabet kejuaraan terbuka, dalam sebuah perlombaan. Padahal oleh isteri dan mertuanya, sang jagoan ditentang mati-matian karena khawatir akan terjadi apa-apa. Sampai-sampai pakaian karate yang sering di gunakan di bakar oleh si mertua. Si jagoan ini makin penasaran. Pada saat pertandingan berlangsung, ia sudah mulai cedera. Tangannya luka parah, bahkan nyaris patah tulang. Apalagi ia tahu kalau ada lawannya yang menggunakan dopping. Ia ingin menaklukkan lawannya sekaligus menaklukkan diri sendiri. Akhirnya iapun memenangkan pertandingan itu, menjadi sang pemenang. 

"ini memang pengalaman pribadi saya. Sebenarnya saya dilarang ikut karate oleh orang tua dan kakak saya. Darisinilah ide itu saya tulis dalam sebuah cerita dan setelah saya sodorkan pada produser, ernyata diterima, " tambah Advent Bangun. 

Film ini jelasnya mengisahkan heroisme seseorang. Benar begitu bung? "Lho saya kan jagoan, tapi saya nggak boleh sombong. Apalagi saya hidup di Melayu. Kan haru srendah hati. Meski saya orang Batak, tapi saya pernah lama hidup di Yogya. Makanya saya punya dua karakter, Batak dan Jawa.. haha.

~MF

Monday, January 26, 2026

CHRISTINE ARIESTA


 CHRISTINE ARIESTA. Namanya sempat mencuat lewat film "Cinta Cuma Sepenggal Dusta". Dalam film yang sarat konflik itu, Christine Ariesta berperan sebagai Tasia berpasangan dengan pemain kelas Citra Deddy Mizwar dan bintang remaja Gusti Randa. 

Tasia yang Christine perankan, dikisahkan sebagai remaja yang lahir dari keluarga broken home. Lantaran kekurangan kasih sayang, Tasia akhirnya menjadi cewek pemberontak yang badung bukan kepalang. Peran yagn dibawakan itu betul-betul menantang dan katanya bertolak belakang dengan watak aslinya. 

Padahal, mahasiswi Akademi Bisnis Manajemen, Jakarta ini baru pertama kali itu terjun main film. Ia memang terbilagn bintang film berbakat. Kemampuan aktingnya cukup lumayan, diatas rata-rata pemain sekelasnya. 

Sebelum main film, gadis berbibir tipis ini dikenal sebagai foto model. Wajahnya yang unik dan fotogenic kerap nampang menghiasi sampul majalah, kalender, dan iklan. Terutama iklan yang berbau kecantikan seperti shampo , bedak dan sabun. 

Selain itu, Christine juga aktif di bidang drama. Khusus di bidang yang satu ini, dia sempat berlakon unik dalam sandiwara rakyat Sunda, "Nyai Kadarsih" produksi TVRI Stasiun pusat Jakarta. 

Sejak tampil dalam film "Cinta Cuma Sepenggal Dusta" Christine sempat berkali-kali ditawari main film panas yang berbau "ranjang" tapi tawaran itu ditampiknya mentah-mentah. Takut adegan syur? "Ah enggak, melakukan adegan seperti itu bagi saya sih nggak terlalu jadi masalah, itu kan cuma di film. Saya nggak munafik kok, " kilahnya. 

"Soalnya saya melihat ada itikad tiak baik di balik tawaran tersebut. Tahu kan itikad tidak baik?, nah itulah yang bikin saya ngeri," tukasnya lagi. 

Lantaran kukuh terhadap prinsip, untuk sementara ini Christine terpaksa cabut dulu dari dunia film. Daripada nganggur dan kesepian, dia kemudian minggat ke Pulai Bali. Ngapain? "Cari uang dan pengalaman, " sahutnya singkat. 

Di Bali cewek kelahiran 19 April 1967 ini bekerja di Sube'c Disco Mirror Club. Konon gajinya lumayan besar. Paling tidak cukup buat 'menghidupi' diri sendiri, tanpa harus bergantung pada orangtua. 

Konon Orangtua semula menentang keras dan sempat uring-uringan melihat putri tercintanya nekat jadi pekerja malam. Apalagi di diskotik yang konon selalu sesak dan ramai dibanjiri bule-bule. Christine sendiri mengakui selama bekerja disana, banyak pengunjung yang suka iseng, juga tak sedikit yagn terang-terangan mengajak kencan. 

Cukup lama juga Christine malang melintang di Bali. Setelah bosan, dia lantas balik ke kota asalnya Jakarta.  Lewat bantuan seorang kenalan, Christine akhirnya bekerja di Ebony Diskotik, sebagai lighting jockey. 

"Tugas Saya di Ebony mengatur lampu disco, agar ruangan lebih hidup dan alunan musik  terasa lebih manis bersma paduan lampu-lampu itu. 

~076/44/Th.V/27 Mei-9 Juni 1989

Sunday, January 25, 2026

SALLY MARCELLINA, TAK MENOLAK CIUM DAN RANJANG


 SALLY MARCELLINA, TAK MENOLAK CIUM DAN RANJANG (kisah lawas). Si Doi merupakan film ketiga yang dibintang utamai oleh Sally Marcellina, cewek kelahiran Jakarta, 28 Juli 1969 berdarah campuran ayah Manado dan ibu berasal dari Minang. Semula judul film tersebut "Catatan Si Doi" tapi atas berbagai pertimbangan akhirnya cukup dengan "Si Doi" saja. Ceritanya seakan akan kebalikan Catatan si Boy. Yang jadi idola dalam Si Doi justru seorang cewe yagn sering nangkring diatas mobil balap Porsche. 

Di mulai sebagai figuran lewat film "Jejaka Jejaka", Sally berperan sebagai gadis cakep diincar Richie Ricardo. Kemudian muncul pula dalam film "Birahi dalam Kehidupan", dan mendukung beberapa episode ACI yang pernah ditayangkan di TVRI. 

Sudah kerasan di film rupanya, "Masih kepingin lihat-lihat dulu. Main film sekedar menyalurkan hobby, mengisi waktu sementara masih nganggur. Suatu saat nanti saya akan kuliah, " katanya. Sementara belum kuliah, Sally memang kepingin sepenuhnya konsentrasi di film. Merasa enak di film, terutama suasana kerjanya maupun pergaulannya. Kebetulan kedua orang tuanya mendukung kehadiran Sally sehingga bertambah licinlah jalan kearah itu. 

Nama Sally mulai dikenl sesudah membintangi "Macan Kampus" mendampingi Rano Karno. Sesudah itu Sally di gaet Andah Kencana Film untuk membintangi "Putri Kuntilanak" menyusul "Si Doi" dan "Si Gobang" produksi Virgo Putra Film. Dua film terakhir disutradarai oleh Atok Suharto. Bedanya kalau dalam film Si Doi sebuah film remaja masa kini sedangkan Si Gobang bercerita Betawi tahun 1800an.

Bedanya lagi dalam film ini Sally berperan sebagai Jamilah gadis Betawi tempo doeloe dengan latar belakang budaya betawi jaman baheula. Untuk menghayati tokoh Jamilah dalam si Gobang ini Sally cukup repot juga. Bayangkan memerankan sebuah tokohyang bertolak belakang dengan kehidupan sehari-hari, cukup bikin ia repot. "Tapi saya senang, karena dengan begini saya merasa ditantang, " kilahnya. Saya memang kepingin mencoba macam-macam tema, sehingga dengan begitu saya bisa mengukur kemampuan saya di film. Saya kepingin mencari pengalaman sebanyak-banyaknya di film, " lanjutnya.

Tapi konon tidak berarti Sally kepingin selamanya di film. "Nanti dulu, saya malah kepingin mendalami sastra Prancis, karena selain senang juga perhatian orang kearah ini masih belum sebanyak yan gmemilih jurusan sastra inggir misalnya. Di film sekaligus bisa di jadikan batu loncatan untuk memupuk karir di belakang hari. Setidak-tidaknya kalau saya selesai kuliah nanti, orang akan mengenal saya. Mungkin tidak terlalu sulit untuk mencari lapangan kerja yang saya minati, " katanya. 

Apa bermaksud meninggalkan dunia film? Sementara ini memang belum terpikir kearah itu. "Tapi suatu saat nanti mungkin saya akan meninggalkan film dan terjun ke masyarakat. Bekerja misalnya, nah untuk itu kan saya musti punya bekal. " katanya. 

Bagaimana dengan adegan cium dan ranjang? Saya tidak tabu dengan adegan-adegan semacam itu. Asal wajar dan sesuai dengan alur cerita, ya boleh boleh saja, katanya bernada klise. Memang cewek manis yang satu ini kehadirannya di beberapa film cukup menantang. Salah satu adegan Si Doi yang terpampang penghias kalender 1989 menampilkan sebuah gambar yang cukup hangat. Pahanya tersibak keatas karena kakinya yang mulus nangkring diatas mobil warna merah yang ikut menghias film Si Doi. Posenya yang menantang itu cukup berbicara bahwa pendatang yang satu ini cukup berani sepanjang beralasan.  ~MF 066/34/Tahun V/7-20 Jan 1989