IWAN DARMANSYAH, SALAH SATU PEMERAN FILM PACAR KETINGGALAN KERETA (berita lawas). Ada cicak dapat main film? itulah Iwan Darmansyah, yang berperawakan kecil, Kini kalau ada yagn penasaran tampangnya dapat dilihat di film "Pacar Ketinggalan Kereta" (PKK) garapan Teguh Karya.
"Ya, karena saya masih kecil dimata mereka, saya selalu dilindungi mereka. bahkan anak cicak nggak boleh ikutan berantem, kata mereka. Sejak itu saya belajar karate dan taekwondo. Sebetulnya sih cuma mau nunjukkin saja, bahwa saya juga siap untuk beran tem, "cerita Iwan sembari ketawa lebar, saat ditemui di Teater Populer, jakarta. Tapi kemudian ia mengerti, ikut beladiri bukan untuk beran tem, melainkan olah tubuh sekaligus buat kesehatan.
Usai menamatkan SMA, anak keenam dari tujuh bersaudara pasangan Darlis Ibrahim dan Bainer ini disarankan oleh keuda orangtuanya untuk masuk Akabri. Tapi eh Iwan malah kecantol dunia akting. Kedua orangtuanya yang moderat pun memakluminya dan malah bilang "Hadapilah!" Maka semangatpun menggebu untuk menekuni bidang tersebut. "Karena ayah saya anggota ABRI, pengennya saya mengikuti jejaknya. Tapi saya punya pilihan lain, dan ayah saya ngasih kebebasan kok, "ucapnya mantap.
Lewat drama "Pernikahan Darah" memerankan tokoh pemuda, yang dipentaskan di TIM Jakarta, 1986, Iwan mengawali dunia akting. Dan ketika film "Ibunda" dibikin lelaki berambut keriting dan alis mata tebal ini diberi peran tokoh Fikar selagi muda. "Di dunia seni ini, mata saya bermasyarakat, pengetahuan, juga selalu ada tantangan, yaitu suatu tanggungjawab, "tuturnya diiringi satu isapan rokok kretek filter. Menurutnya, semangat hidup itu tumbuh ketika melihat cara kerja disanggar yang dipimpin Teguh Karya, yang telah banyak memberi masukan.
Sampailah nasibnya kebagian peran Arsal di PKK , anak janda bu Retno, yang selalu ketiban gunjingan itu. "Ternyata betapa sulitnya main film, Karena tanggungjawab itulah saya berusaha keras untuk menjadi sosok lain, Arsal. Setiap saat saya gelisah, nggak bisa tidur. Unring-uringan deh pokoknya. Saya memikirkan apakah saya ngedapetin Arsal yang seperti dikehendaki Pak Teguh?" ujar Iwan yang lahir di Jakarta, 4 Desember 1966. Namun setelah rampung film tersebut tambahnya, masih tetap dihinggapi ketidakpuasan diri apa yang telah dibahas.
"Dan masa kegelisahan dan uring-uringan itu persis saat bercinta. Sebab, disitulah tantangan untuk mendapatkan cinta sekaligus berusaha bertanggungjawab pada orang saya cintai itu, "tegasnya sembari menyeringai.
Di lain waktu, Teguh Karya pernah memberi komentar terhadap permainan anak muda ini, pemain yang belum ngetop bisa main setara dengan pemain yang sudah ngetop. "Lihat dan bandingkan, jelas antara Iwan dengan Onky, itu misalnya kan permainannya nggak ada bedanya,"tegas sutradara kawakan itu. Pendapat Iwan sendiri? Ia hanya tersenyum sedikit sumringah. "O, saya senang dapat komentar sepert itu. Terus terang saya main secara maksimal. Tapi setelah itu saya selalu merasa tidak puas. Saya pengin lebih dari itu lagi. Lagi pula saya main bukan dengan Onky, tapi lawan main saya adalah tokoh Heru yagn dimainkan di film PKK ini . Jadi tokoh Arsal dengan tokoh-tokoh lainnya yang mesti dilihat permainannya, "jelasnya bersungguh-sungguh. ~MF 087/55/Tahun VI, 28 Okt - 10 Nov 1989
