Wednesday, August 19, 2026

TEGUH KARYA : MESTINYA FILM MENJADI UPACARA BERSAMA....

 


TEGUH KARYA : MESTINYA FILM MENJADI UPACARA BERSAMA....(berita lawas). Seperti sederetan sutradara tangguh lain, Teguh Karya juga berkarya di televisi. Menyemarakkan dunia sinetron, Sutradara besar ini tetap belum tertandingi dalam hal kecermatan dan ketelitian, serta menghasilkan gambar-gambar realistis dalam keseharian lewat garapan sinemanya. 

Teguh Karya yang sudah dikenal sebagai pemain sandiwara sejak akhir tahun 50-an dan menekuni bidang penyutradaraan, dalam pementasan-pementasan yang diadakan oleh ATNI, makin memantapkan dirisnya sebagai sutradara dan sineas lengkap. Tak hanya dipanggung, film-film layar lebar melainkan juga di televisi. 

Berikut cuplikan wawancara yang dimuat di majalah film No. 222/188/TH XI, 17 - 30 Des 1994, tentang kesibukannya mempersiapkan sinetron produksi barunya tentang komposer WR Soepratman di sanggarnya yang sejuk. 

T ; Apa yang menarik untuk dibicarakan dengan perkembangan produksi sinetron saat ini?

J : Apa yang disebut sinetron adalah salah satu alat kesenian pertunjukkan dramatik di televisi yang paling 'buncit' dari deretan kesenian yang lain. Saya melihatnya sinetron masih harus berproses. Tidak bisa terlalu dibicarakan. Biarkan sinetron itu berproses, ini yang paling penting. Karena apa? Karena sinetron membutuhkan proses sebagai sebuah bentuk kesenian pertunjukkan baru. 

Kita harus memberikan kesempatan kepada sinetron untuk berproses. Apapun yang sedang dibuat, dipikirkan ditafsir dan dikerjakan orang tentang sinetron, harus melihatnya dari kaitan dalam berproses. Kalau tidak begitu akan ada yang apriori. 

T : Barangkali setidak-tidaknya ada standarisasi produksi sinetron yang ingin di capai?

J : Kelak akan lahir film televisi dan drama televisi yang punya standar. Kelak ada sinetron yang lahir sebagai standar umum, ada yang unik-unik ada yang dibuat untuk kepentingan berbagai kalangan dan ada juga untuk kalangan tertentu. 

Semuanya itu membutuhkan proses, sesuai dengan bakatnya dan harus terimbangi oleh ilmunya, wawasannya, kemudian baru kit amelihat maju mundurnya dunia persinetronan. 

Festival Sinetron Indonesia (FSI) adalah salah satu yang saya sebut salah satu sebagai proses. Di zaman sekarang ini, ada kita lihat sinetron untuk kepentingan film televisi dan kepentingan drama televisi, penggarapannya dibuat bukan oleh kamera elektronik, melainkan dengan kamera magnetik (film 16 mm). Maka biarkan segala sesuatunya berproses. Baik olrang-orang, tokoh-tokohnya, dan juga peraturan-peraturannya. Biarkanlah berproses.

T : Bagaimana dengan Pak Teguh sendiri, yang juga ikut memproduksi sinetron kini?

J : Bagi orang-orang seperti saya, Slamet Rahardjo, Arifin C Noer, dan Putu Wijaya bukan gagah-gagahan datang ke dunia sinetron. Andai saja ada ceirta yang bisa dilukis, mungkin yang saya bikin adalah lukisan. Karena saya bukan pelukis tentu tidak bisa. 

T : Apa dampak adanya sutradara sinetron yang lahir tanpa latar belakag?

J : Dari satu sudut pandang seakan-akan banyak sutradara sinetron lahir tanpa latar belakang yang kuat. Bila kita lihat dalam jangka panjang biasanya yang tidak becus itu kalah. Hukum alam pada dasarnya begitu. 

Kalau kita memberikan kepercayaan kepada orang yang salah, atau kepada orang yang kurang tepat, maka yang akan terjadi adalah kehancuran. Tidak ada pohon besar yang tumbuh dalam sehari. Sebaliknya tidak akan ada pohon besar roboh pula dalam satu hari. 

T : Apa pendapat Pak Teguh dengan banyaknya bintang sinetron berakting teatrikal?

J : Sebenarnya tidak ada! Itu cuma kita punya rasa kecurigaan saja. ukuran akting adalah meyakinkan orang apa tidak!?. Kalau tidak meyakinkan orang berarti itu bukan akting!. Banyak yang mengatakan akting teatrikal karena kita kurang banyak perbandingan, kuran gbanyak tahu dan kurang banyak melihat. Cukup banyak pemain sinetron yang belum meyakinkan orang, seperti pemain teater yang baru tamat belajar. 

Akting adalah Akting! Akting definisinya adalah membuat orang yakin! mau dibawakan bagaimana, ya terserah asalkan orang yang melihatnya yakin dengan apa yang dilakukannya. Baik di teater, film maupun di sinetron pemain yang mati itu tidak mati betulan. Tapi seorang pelakon harus dapat meyakinkan penonton bahwa dia mati. 

T : Contohnya bagaimana?

J : Saya ambil contoh dalam film Casanova. Ketika adegan para biarawati turun dari kapal dan hendak naik perahu ke dermaga, sutradara membikin lautnya dari plastik. Anda bayangkan, plastik jadi lautan. Itu sah sah saja, dan yang membuka adegan itu bukan sutradara asal jadi. 

T : Apa pendapat Pak Teguh tentang Penyelenggaraan Festival Sinetron Indonesia?

J : Saya kembalikan dulu kepada kenyataan yang ada bahwa kit amasih lagi berproses dalam dunia persinetronan. Kalau ada kesalahan sedikit itu soal biasa. Sebab masih berproses. Jadi jangan salahkan siapa-siapa dulu. 

Mari kita lihat penilaian bukan untuk membicarakan kategori. Misalnya akting Yang mirip-mirip akting ada? Namanya pura-pura, Ada juga lagi mirip-mirip akting? Namanya imitasi. Soal ini harus membudaya. 

Karena sinetron masih barang baru dan masih berproses,biarkanlah mencari jati dirinya. bukan berarti tidak dikritik, tapi nanti setelah kelak berhasil. Untuk saat ini soal FSI saya tidak mau berkomentar banyak atau mengartikan , sebab sinetron kita masih berproses. 

T : Apa yang menggelisahkan Pak Teguh saat ini?

J : Kegelisahan saya adalah terhadap pertumbuhan film nasional. Sebab saya tidak percara bahwa pertumbuhan film kita bisa parah seperti sekarang. Kita sudah terlalu kurang menafsir apa yagn sebenarnya kita perlukan dengan film nasional. 

T : Maksudnya?

J : Kenapa tidak banyak tema-tema film nasional seperti film Di Balik Kelambu? Bagaimana seorang menantu yang kurang mampu tinggal bersama mertua, dan berhadapan dengan menantu lain yang hebat-hebat. Ini 'kan masalah yang ada di sekitar kita. Bisa saja film bicara tentang wanita yang baru beranjak dewasa. Atau bagaimana seorang janda membesarkan anak-anaknya. Persoalan-persoalan seperti  itu kan sangat dekat sekali dengan kehidupan kita pada umumnya. 

Kenapa kita tidak di bikin cerita yang dekat dengan masyarakat? Kenapa yang dibikin yang aneh-aneh? Misalnya jemput pacar dengan helikopter? Maka kita selalu bertanya bangsa apa yang sedang diceritakan dalam film tersebut. ?

Akibatnya semakin jauh masyarakat dengan film nasional. Begitu ada film Ghost, ada sineas bicara begini, "membikin film kayak gitu saya juga bisa!?" Kalau bisa kenapa tidak dari dulu bikin? Film Shost 'kan tidak  cuma cerita tentang lelaki gentayangan. 

T : Bagaimana menurut Pak Teguh film yang baik sekarang ini?

J : Film yang baik menurut saya film yang membuat penonton dan masyarakatnya bersatu Kalau bisa saya ibaratkan pertunjukkan film-film nasional harus seperti upacara bersama. Kalau sudah upacara bersama tidak diundang pun masyarakat akan hadir. 

T : Apa yang menjengkelkan Pak Teguh dalam perkembangan film nasional akhir-akhir ini?

J : Tanpa sebab, dalam film ada adegan seorang gadis buah dadanya di ablak-ablakkan, dudukpun disengaja-sengajakan. Contoh lain, aa adegan orang yang mati yang di close up jam tangan Albanya, jadi lama-lama kita kan malu! Akibatnya, banyak cerit afilm yang tidak dikenal oleh masyarakatnya. Ada adegan lain menggambarkan orang kaya sarapan pagi dengan menu yang luar biasa. 

Kalau di lihat film Ghost menarik karena tokoh-tokoh yang ada di dalamnya kayak manusia, begitu dengan jalan pikiran perasaannya. Flm nasional banyak yang dapat dimengerti jalan ceritanya tetapi tidak mengena di hati penontonnya. Kenyataan itu yang sering terjadi. 

T : Apa yang seharusnya dilakukan di perfilman nasional untuk saat ini?

J : Dalam kondisi sekarang ini, tidak bisa satu orang yang bisa memperbaiki perfilman nasional . Harus diperbaiki dengan sederetan orang. Yang saya sebut adalah sikap mental baru dalam memandang film nasional dan harus dilakukan secara marathon pula. 

Ada film kita bagus-bagus. Saya ambil contoh film Kejarlah Daku Kau Kutangkap, Naga Bonar dan Di balik Kelambu misalnya. Kenapa tema-tema film seperti ini tidak ada yang meneruskanya lagi? Kenapa film-film sekarang larinya kearah naluri yang cukup liar? Karena itulah film nasional memerlukan isi dan tema yang baru. Formatnya arus baru. Seperti juga kasus serupa pernah terjadi di Italia dan Perancis.

T : Apa yang ingin Pak Teguh Sampaikan lewat Alang Alang dan Pakaian dan Kepalsuan?

J : Kalau Alang-Alang pencetusnya adalah menteri kependudukan dan Keluarga Berencna, Pak Haryono Suyono dimana hendak membicarakan soal kependudukan. Saya punya respek terhadap kependudukan. Orang tidak hanya diberikan perhatian kepada pakaiannya rumahnya tau keadaanya, tetapi yang paling penting saya hendak mengatakan agar jangan sampai merasa miskin perhatian. Kalau ketemu pemuluh tuduhannya cuma maling. Intinya saya hendak bicara jangan orang merasa miskin perhatian. 

Kalau Pakaian dan Kepalsuan adalah sebuah parodi. Sebuah kelakar, jangan pakaian kemana, kelakuan kemana-mana. Tokoh-tokohnya hanya manusia biasa tetapi omongannya gede. 

T : Pak Teguh Apa benar skenario adalah sebuah karya sastra?

J : Kalau kita lihat televisi, maka yang pertama kita lihat adalah  gambar. Kalau gambar pasti ada sangkut pautnya dengan seni lukis. Kalau melihat adanya cerita pasti ada kaitannya dengan sastra. Meskipun bukan susastra. 

Kalau menggambarkan orang harus ada perjuangannya, lata belakang dan cita-cita hidupnya. kalau tidak ada sastra dalam skenario seperti membicarakan kucing saja. Kalau kita melihat film kartun dan kita dapat bersedih, artinya menggarapnya itu dengan jalan pikiran manusia yang penuh dengan kemanusiaan. Disitulah letaknya sastra dalam penulisan skenario. ~~~~


No comments:

Post a Comment