Tuesday, August 11, 2026

LIKA LIKU USAHA LAYAR TANCAP, NGGAK ADA UANG DIBAYAR KAMBINGPUN JADI

 


LIKA LIKU USAHA LAYAR TANCAP, NGGAK ADA UANG DIBAYAR KAMBINGPUN JADI (berita lawas) Usaha layar tancap, masih tergolong baru (saat berita ini diturunkan), Ayong Suteja mungkin, orang pertama yang membuka usaha jawa hiburan untuk masyarakat pedesaan itu. Ia memulai usahanya sekitar tahun 60an, ketika film Indonesia masih hitam putih. 

Mantan tukang 'babi' di daerah Glodok, Jakarta barat itu semla hanya memiliki 1 unit film keliling. Berkat ketekunannya, usahanya berkembang baik. Di akhir tahun 80an ia memiliki sekitar 30 unit film keliling dengan sekitar 250 copy film yang masih layak diputar. 

Ia mengaku karena anaknya sudah jadi sarjana semua, juga dibiayai dari usaha layar tancapnya. Maka sebagian peralatnya di jualin, "sekarang ini hanya untuk kesibukan saja. Nggak kayak dulu lagi, "kilahnya. 

Setelah Ayong, bermunculan pengusaha lain, ada H. Somad salah seorang karyawan NV Perfini yang pernah menjadi anak emasnya Usmar Ismail, H Naban, Rachmad Saleh, M. Zachri Rachman, Muntalib Syah, Tito dan masih banyak lagi. (Nama terakhir pasti tahu lah ya, Tito Film dimana-mana )

Mereka itu tergolong sukses. Unit film yang dimiliki sekitar 20 unit, dan film yang dikuasaipun lebih dari 200 copy film. Bahkan H. Naban, kabarnya mempunyai lebih dari 1000 copy film dan sekitar 100 unit film, Luar Biasa!.

Teori Pengembangan usaha H. Somad hingga begitu berhasil, karena ia memberikan pelayanan purna terhadap orang yang menyewa film-filmnya. Untuk orang hajatan, misalnya, H. Somad menyewakan film dalam bentuk paket, dengan perlengkapan pesta lainnya. Tenda, dan semua perlengkapan pesta, disediakan. harga sewanya relatif murah, hanya sekitar Rp. 400.000 saja.Padahal untuk tanggapan filmnya saja, 5 film sudah sekitar Rp. 200.000, itupun dengan film-film yang tergolong baru. (angka tersebut ditahun 1989). 

Untuk film yang agak lama, di Jakarta bisa Rp. 150.000 saja, jelas Zachri. Usaya layar tancap ini, sambung H. Somad banyak unsur sosialnya. Maksudnya, sering dimintai sumbangan. Misalnya, kalau lagi Agustusan, yang diminta sumbangan film ini mulai dari kecamatan sampai tingkat RT. belum lagi dari instansi pemerintah. 

"Tapi mau bilang apa, Kalau nggak mau sosial, ya nggak punya teman. Padahal teman itu penting!"tukas H. Somad. 

Ibarat petani, lanjutnya, usaha layar tancap juga ada musim panen dan pacekliknya. Dalam setahun, musim panen itu hanya sekitar 3 bulan saja. Bulan Syawal, Besar dan bulan haji. (btw bulan besar sama bulan haji bukan sama ya, hehe). Biasanya bulan-bulan tersebut banyak yang hajatan. Mantu, khitanan atau hajatan lainnya. "Pada musim panen, unit yang keluar hampir semua. Kadang-kadang sampai cari pinjaman ke teman lain segala, " tukas M. Zachri. 

Tapi kalau lagi paceklik, biasanya musim hujan, dua panggung saja sulit. Kadang, sambung H. Somad, kosong sama sekali. Selama 22 tahun bisnis layar tancap, cukup banyak suka dukanya. Dan pengalaman yang paling menarik, beberapa tahun lalu, ia pernah menerima bayaran sewa film dengan dua ekor kambing. 

"Kasihan, sih! Tapi, saya kan juga harus bayar karyawan yang putar film, "jelas Somad seraya melanjutkan kisah lucunya itu. Beberapa tahun silam, ada orang hajatan nanggap filmnya. 

Waktu itu musim hujan. Persiapan tuan rumah tidak matang, hanya mengharapkan sumbangan dari undangan. Karena sejak sore hujan turun lebat, undangan yang hadir tak banyak . 

Karena uang tak cukup untuk membayar sewa film, tuan rumah bilang, "Silahkan ambil kambing itu dua ekor. Pilih ang dianggap cukup untuk bayar sewa film,".

"Kasihan, kambing itu, ternata kambingnya anak yang dikhitan. Dia yagn sebenarnya harus bahagia, sunat ditanggapkan film, pagi-pagi kambingnya yang buat bayar, "jelas Somad. Kelihatannya, dia mau nangis. Tak sanggup melihat anak itu lanjutnya, segera saja pamitan pulang. ~~MF 085/53/TahunVI, 30 Sept - 13 Okt 1989


No comments:

Post a Comment