Saturday, February 7, 2026

GEBYAR ANUGRAH FESTIVAL SINETRON INDONESIA (FSI) 1996


GEBYAR ANUGERAH FSI 1996 memang sangat semarak meski tanpa dihadiri bintang-bintang ternama seperti Onky Alexander, Ayu Azhari dan Paramitha Rusady. Terdapat kesalahan-kesalahan artis yang membacakan nama pemenang dan yang lebih parah adalah kesalahan operator audio visual yang keliru menempatkan suara dan gambar-gambar yagn sedang diumumkan. Bahkan beberapa nama dewan juri tidak tertayangkan di timpa adegan-adegan sinetron. Berlangsung di Plenary Hall JHCC pada 19 Desember 1996. 

Kendati begitu, acara puncak FSI 1996 tetap berjalan semarak dengan panggung dominasi warna putih bernuasa bahari (kelautan). Artis-artis lebih banyak memakai gaun warna hitam legam, terutama ceweknya. Di pintu masuk puluhan fotografer mencegat hingga tamu-tamu agak susah masuk terhalang fotografer yang sedang memotret artis yang datang. Rata-rata artis berpasangan seperti Dede Yusuf, Devi Permatasari, Yulia Yahya, Roni Sianturi, Diah Permatasari dan lain-lain. Masing-masing mereka membawa 'yayangnya". 

Wajah-wajah cerah mewarnai suasana seusai pembacaan nama-nama pemenang, setelah sebelumnya beberapa artis yagn jadi nominasi sempat terlihat agak tegang dan gelisah. Yang kalah, tetap terlihat gembira, kendati dari mata mereka terpancar kekecewaan. Misye Arsita yang duduk berdampingan dengan saingannya, Cynthia Maramis terlihat kaget saat namanya diumumkan sebagai pemenang pemeran pembantu utama wanita kategori drama lewat sinetron Saat Memberi Saa Menerima, Cynthia Maramis juga kaget, dan raut wajahnya berubah. Tapi spontan dia cepat memberikan selamat. 

"Waduh saya nggak ada bayangan bisa menang, soalnya saya tahu saingan saya seperti Rima Melati, Rina Hassim, Cynthia Maramis dan Mien Brodjo, semua akting mereka bagus-bagus dan lebih senior dari saya. Tapi ternyata dewan juri memilih saya. ha ha ha jelas saya senang dan agak terharu banget. Tidak ada acara khusus setelah ini. Saya juga nggak bakalan menaikan tarif honor. Biasa-biasa sajalah, " kata Misye Arsita seusai menerima Piala. 

Ira Riswana, artis kelahiran Bandung, 23 Nopember 1977 yang sempat pacaran dengan Gusti Randa, terpilih sebagai pemenang pemeran utama Wanita Komedi lewat sinetron Angkot Haji Imron, menyingkirkan Elvy Sukaesih, Titi DJ, Ully Artha dan Sumiati. Ira kelihatan agak bingung, mondar mandir di lobby seperti mencari seseorang. Dia tidak memperdulikan beberapa wartawan yang ingin mewawancarainya. "Tunggu dulu, saya lagi cari orang. Sebentar ya, saya pasti balik lagi, " katanya terburu-buru sambil menenteng piala.

Ulfa Dwiyanti, pemenang pemeran Pembantu Wanita kategori komedi lewat sinetron Begaya FM, tidak mampu menyembunyikan kegembiraannya. Sambil menenteng piala, Ulfa didampingi suaminya, melayani pertanyaan-pertanyaan wartawan dengan gayanya yang kocak. Bahkan dia juga melayani foto bersama dengan beberapa remaja di lobby. "Gue memang merasa lebih pas di komedi. Tapi kalau ada yang nantang untuk peran drama, ayo! siapa takut! Masalah menangtidaknya diajang festival, gue susah berkomentar. Masalahnya yang milih bukan gue sih, melainkan juri..ha..ha..ha. Yang jelas perasaan menang sebelumnya memang ada sih. Bukan gue ngeremehin Dian Nitami dan Mbak Nungki. Tapi kalau mau berkata jujur, semua nominator pasti berharap untuk bisa menang. Nah, kebetulan gue yang menang, kata wanita kelahiran Bandung, 4 Mei 1972 yang banyak jadi pembawa acara di televisi ini. 

Ayu Azhari dinobatkan sebagai pemenang pemeran utama wanita kategori drama, tidak hadir. Menurut Sarah Azhari adik kandung Ayu, kakaknya itu sedang berada di Amerika. "Terpaksa deh gue yang nenteng-nenteng pialanya, " kata Sarah yang memakai gaun malam berwarna hitam ini. Ayu Azhari menang lewat sinetron Noktah Merah Perkawinan menyisihkan Desy Ratnasari, Bella Saphira, Dewi Yull dan Paramitha Rusady. 

Jonggi Sihombing berhasil menyisihkan rekan-rekannya yang lebih senior, Enison Sinaro, Dedi Setiadi, Buce Malawau, dan Rano Karno. "Ini namanya kejutan, karena saya menggarap Norma hanya 29 hari. Saya enggak mempersiapkan  diri kok untuk masuk FSI. Makanya sejak pengumuman nominasi saja, saya udah kaget, seperti nggak percaya bisa menang. Tapi jelas saya sangat bersyukur, dan ini akan memberikan semangat yang besar bagi saya untuk membuat sinetron-sinetron berikutnya. Namun untuk ke depan, tetap saya nggak punya target khusus. Saya menggarap sinetron, ya menggarap saja, sesuai skenario dan selera saya, ujar Jonggi Sihombing didampingi Ronggur Sihombing dan Anneke Putri. 

Desy Ratnasari kendati tidak menang, tapi dia tetap jadi primadona malam itu. Entah kenapa! yang jelas, wartawan dan fotografer menyerbu serentak, mulai ketika Desy datang sampai ketika hendak pulang. Bahkan Desy hampir saja tersandar ke dinding kaca karena didesak baik oleh wartawan dan fotografer maupun undangan lainnya. 

"Saya tidak kecewa, itu semua keputusan dewan juri. Saya juga nggak berharap kok untuk bisa menang. Saya ini pemain, ya harus main. Masalah menang tidak itu kuasa dewan juri, " kata Desy yang tampak kewalahan. 

Bella Saphira, nominator pemeran utama wanita terbaik kategori drama, tengan-tenang saja, mulai saat kedatangannya hingga selesai acara. "Saya kan udah bilang, masuk nominasi saja udah bagus. Bayangkan saingan saya senior semua. Itu saya sadari sepenuhnya. Makanya nggak berharap. Sebab terlalu berharap nanti bisa kecewa..ha..ha..ha. Tapi ini semua saya jadikan pelajaran dan kebanggaan untuk kedepannya. Mbak Ayu Azhari memang pantas menang, sayang dia tidak datang, " kata Bella Saphira. 

Berikut daftar Pemenang FSI 1996

1. Sinetron Terbaik : Vonis Kepagian

2. Drama lepas : Vonis Kepagian

3. Drama Seri : Si Doel Anak Sekolahan III

4. Komedi Seri : Angkot Haji Imron

5. Pemeran Utama Pria : Herdin Hidayat (Norma)

6. Pemeran Utama Wanita : Ayu Azhari (Noktah Merah Perkawinan)

7. Pemeran Pembantu Pria : Deddy Mizwar (Vonis Kepagian)

8. Pemeran Pembantu Wanita : Misye Arsita (Saat Memberi Saat Menerima)

9. Sutradara Terbaik : Jonggi Sihombing (Norma)

10. Sutradara Komedi : Ali Shahab (Angkot Haji Imron)

11. Penulis Cerita Asli Drama : Linda Sulaiman (Vonis Kepagian)

12. Penulis Cerita Asli Komedi : Imam Tantowi (Suami Suami Takut Istri)

13. Penulis Teleplay Drama : Arswendo Atmowiloto & Didi Surya (Vonis Kepagian)

14. Penulis Teleplay Komedi : Imam Tantowi (Suami Suami Takut Istri)

15. Penyunting : Tony Siswanto  (Si Doel Anak Sekolahan III)

16. Sinefotografi : Rudy Kurwet & SUprayogi (Anakku Terlahir Kembali)

17. Penata Artistik : Sumantri Jeliteng (Singgasana Brama Kumbara)

18. Penata suara : Handy Lifat Ibrahim (SI Doel Anak Sekolahan III)

19. Penata Musik : Harry Sabar (Singgasana Brama Kumbara)

20. Pemeran  Utama Wanita Komedi : Ira Riswana (Angkot Haji Imron)

21. Pemeran Pembantu Wanita Komedi : Ulfa Dwiyanti (Begaya FM)


ada yang mau melengkapi? 

Sumber : MF 275/241/XIII/28 Des 96-10 Jan 97


Thursday, February 5, 2026

DICKY WAHYUDI

 


DICKY WAHYUDI. Masih ingat dengan aktor yang satu ini? Kemunculan Dicky Wahyudi di layar kaca sangat ditunggu penggemarnya. Artis yagn berawal dari model iklan ini terangkat ketika membintangi sinetron bertema Ramadhan "Doaku Harapanku". Bagaimana tidak, saat itu hanya Doaku Harapanku sinetron bertema Ramadhan. Tak ayal lagi, namanya dikancah persinetronan Indonesia mulai di kenal, sekaligus di perhitungkan. "Saya nggak nyangka Doaku Harapanku nggak hanya disukai kaum ibu dan remaja putri, tapi juga bapak-bapak dan lelaki dewasa, " papar artis kelahiran Jakarta, 23 Septeber 1969. 

Dicky juga kembali hadir dengan tema sinetron religi bertajuk Maha Pengasih. Alhasil kepopuleran pun kian menggelayuti dirinya. Hal itu terus memacu dirinya untuk meningkatkan kemampuan aktingnya. Peran apapun siap di lakoninya. Karakter apa sih yang kamu inginkan? "Semua karakter saya suka. Peran yang membuaat saya tertantang adalah saat main dalam sinetron Abad 21. Disitu saya memerankan seorang lelaki yang mencintai wanita pujaannya. Tapi karena nggak disukai, kita di pisahkan. keadaan itu pula yang mengakibatkan tokoh itu melakukan perbuatan jahat. Boleh dibilang sedikit antagonislah. Model peran seperti itu yagn saya sukai, " tegas bintang sinetron ini. 

Diam-dia lelaki berzodiak Libra ini juga pernah menyanyi. Tak tanggung-tanggung, albumnya yang merupakan gabungan dengan Amartya 8 sudah muncul di pasaran. Usut punya usut album itu sendiri ternyata bermasalah. Pasalnya menurut penuturan Dicky, dia sendiri tak mengetahui albumnya telah muncul. Dan dia mengetahui dari rekannya. Tiba-tiba seorang teman memberitahu padanya bahwa albunya ada di toko kaset dan teman itu sudah mendengarnya. Lagu-lagu VCD karaoke itu tersisip di album Amartya 8. "Teman saya bilang kumpulan lagu VCD Karaoke itu, yang ada suara saya di side B, sementara side Anya lagu-lagu Amartya 8.


~selengkapnya dapat di baca di MF No. 405/371/XVII, 21 Des 2001 - 4 Jan 2002


Wednesday, February 4, 2026

NIZAR ZULMY


 NIZAR ZULMY. Kenal Barep? Dia adalah seorang bapak yang arif, lembut tatakramanya, bijaksana dalam mengambil keputusan dan menjadi panutan dalam keluarga besar Krido, pada drama seri "KISAH SERUMPUN BAMBU" karya Darto Joned yang pernah di tayangkan TVRI. 

Nizar Zulmy ini adalah sosok yang urakan, tapi tidak dengan Barep, ia tidak sama dengan Nizar bintang TV ini bekas anak pasaran alias Preman di Lubuk Pakam, Pangkalan Brandan dan Kota Medan. Dan pengalaman di pasaran itulah yang membuat ia berhasil melakoni Wiril, tokoh dalam drama "Doa seorang Narapidana" arahan Irwinsyah , drama TV yang menurutnya paling berkesan. 

Nizar Zulmy anak yang bedarah melayu Deli ini sempat menjadi panutan bagi masyarakat setelah membintangi dalam Kisah Serumpun Bambu, kemudian ia juga mendapat tantangan untuk bermain dalam drama seri karya Darto Jonet yang berjudul "Tembang Diatas Padang". Temanya agak mirip dengan Kisah Serumpun Bambu, madih berkisah tentang transmigrasi. Suting pengambilan gambar di lakukan di Sumatera. 

Apakah Tembang Diatas Padang sambungan dari Kisah Serumpun Bambu? Tidak. Memang ceritanya masih mengenai transmigrasi. Tapi transmigrasi kan macam-macam. Tidak harus selalu seperti kisah "Serumpun Bambu", kilahnya. 

Perokok berat ini merasa telah menyatu dengan "Kisah Serumpun Bambu" dan Nizar merasa sedih meninggalkannya. Tapi apaholeb buat, ternyata drama ini hanya sampai 24 episode saja. "Kami dilapangan ketika itu seperti satu keluarga. Saling membantu. Pokoknya AMK-lah (Aktor merangkap Kuli). ya kadang saya menjadi supier, menjemput artis atau keperluan lain. Kadang juga mengurus kostum dan membangun setting, " katanya. 

Nizar yang siap juga utnuk di botaki atau menguruskan badan, mengaku telah ratusan drama telah ia lakonkan. Tapi dia belum merasa apa-apa. "Saya memang ingin bermain jadi apa saja. Saya sanggup melakonkan apa saja. Dari presiden hingga tukang beling, " katanya. 

"Berdrama bagi saya bukan sekedar hobby, tapi ia sudah menjadi tuntutan hidup bagi saya, "sambungnya melanjutkan. Inilah yang membuat Nizar atau akrabnya Bung Adek ini tidak pilih-pilih peran. Asal mengena di hatinya kontan diterimanya, di dunia film pun Bung Adek bukan muka baru. Tapi dia berkeyakinan satu saat nanti ia akan melambung ke tangga terhormat dalam perfilman Indonesia. 

~MF 61/29 Tahun V, 29 Oktober- 11 November 1988

Monday, February 2, 2026

SUTING NYANYIAN CINTA DIIRINGI HUJAN

 


SUTING NYANYIAN CINTA DIIRINGI HUJAN (Kisah Lawas), Nyanyian Cinta yang kemudian berubah judul menjadi Cinta Anak Muda. Pagi itu, suasana di Pusat Perfilman H. Usmar Ismail Kuningan Jakarta mendung. Kru Film yang baru tiba pukul 08.00 bergegas menurunkan peralatan. Suasana bertambah mendung tapi mereka tetap semangat. Lokasi yang mulanya sepi mendadak jadi tontonan , apalagi melihat Nike Ardilla , mereka tidak sabar ingin sekali mendekati. 

Film yang suting hari itu berjudul Nyanyian Cinta, sutradara Hadi Purnomo dengan para pendukung selain Nike Ardilla yang ikut suting hari itu, diantaranya Hudy Prayoga, Pendatang Baru Za Rina (Zarima), Jans Stanver dan para figuran. 

Pengambilan gambar yang berlangsung didalam lingkungan Pusat Perfilman, ternyata tidak lama, hanya 45 menit. Saa itu adegan di jalanan antara Nike dengan Hudy. Namun sempat diulangi 3 kali karena Nike kurang konsentrasi. 

Sekitar pukul 11.00 kru film tiba-tiba kelabakan, ada yang mengamankan kamera dan menutupi seperangkat peralatan film yang sebagian masih ada di mobil. Cuaca hujan gerimis, tapi sutradara tetap pada pendirian, suting berjalan terus. "Wah,bisa-bisa kalangkabut, " teriak salah seorang kru yang saat itu menjaga peralatan. 

Ketika suting dilanjutkan di jalan raya dekat pom bensin, hujan bukan berhenti, namun agak deras. Atas seruan sutradara suting tetap berjalan. Kameraman yang membidikkan kamera diatas mobil jadi puning, kewalahan, ia bukan hanya membidik, tapi berusaha mengamankan  kamera dari tetesan air hujan. Pengambilan gambar saat itu adegan olehraga sepeda dan lari. 

Pukul 13.00 pengambilan gambar dilanjutkan di lokasi gedung Regent Kuningan. Karena melihat hujan semakin deras, maka suting terpaksa untuk sementara di hentikan. Madu Mathany selaku produserdalam film ini mengatakan "Film ini menghabiskan biaya sekitar Rp. 150 juta. Dalam hal ii honor tertinggi Hadi Purnomo, Sutradara film dibayar Rp. 12.5 juta, sedang peran utama dibintangi Nike Ardilla dibayar Rp. 7 juta. 

~sumber MF 119/87 Tahun VII, 19 Jan - 1 Feb 1991

PENGALAMAN SUTING AZRUL ZULMI, TAK BISA MAKAN INGAT BAU MAYAT


 PENGALAMAN SUTING AZRUL ZULMI, TAK BISA MAKAN INGAT BAU MAYAT, Bukan cuma karena kasus mayat terpotong tujuh banyak orang datang ke kamar mayat RS Cipto Mangunkusumo. Tapi Azrul Zulmi, terpaksa ikut-ikutan kesana. Bukan untuk melihat mayat terpotong-potong itu, tapi untuk suting film. Akibatnya bapak dua anak ini seminggu tidak bisa makan. 

"Bau mayat yang membusuk di kamar mayat itu membuat saya muntah-muntah. Sampai sekarangpun kenangan terhadap bau itu tetap  menghantui saya. Saya sering nggak bisa menelan nasi kalau teringat, " tuturnya. 

Awalnya adalah ketika Azrul ikut main dalam film "Tragedi Bintaro" garapan Buce Malawau. Azrul berperan sebagai bapak Junet, diharuskan menjenguk korban kecelakaan Kereta Api di Bintaro tersebut di kamar mayat. Mulanya sih Azrul menduga kamar mayat biasa-biasa saja. "Saya memang tidak takut melihat mayat. Tapi begitu masuk, baunya yang buat saya nggak tahan. Akibatnya saya muntah. Padahal sutingnya lama banget. Mana panas terik lagi, baunya jadi menguap, " cerita Azrul. 

Karena bau yang tak tertahankan itu, menurutnya, selesai suting ia buru-buru keluar. Tapi sepatunya ternyata penuh bercak karena lantai becek. "Sepatu sayapun membawa bau. Saya buang saja. Soalnya saya kehabisan akal untuk menyelamatkan sepatu saya agar tak membawa wabah penyakit ke rumah, " ujarnya. 

Pengalaman itu, menurut Azrul merupakan pengalaman paling menarik sepanjang karirnya di dunia film. "Tapi saya tidak pernah jera untuk ikut suting di kamar mayat. Asalkan perannya cukup besar, " katanya. 

Tentang film "Tragedi Bintaro" itu sendiri, Azrul mengaku dapat peran yang menantang meskipun tokoh Effendy, ayah Junet itu tidak punya kelebihan apa-apa. "Karakternya terlalu datar, " ujarnya. "api pengalaman suting di kamar mayat itu lucu juga lho. Saya terpaksa kaki ayam pulang dari lokasi, " tutur Azrul sambil tertawa, 

~MF 082/50/TH.V, 19 Agustus - 1 Sept 1988


Saturday, January 31, 2026

RANJANG CINTA, Derita Istri Bersuami Sadis

 


RANJANG CINTA, Derita Istri Bersuami Sadis. Rapi Films merupakan satu dari sedikit perusahaan film yang masih berkiprah di tengah kelesuan produksi film nasional di pertengahan tahun 90an, suatu semangat kerja yang patut di puji. Produksinya "Ranjang Cinta" merupakan karya sutraara Emil G Hampp yang diangkat dari cerita skenario rekaan Armantono. Dibintangi oleh si cantik terlaris sepanjang tahun 1995 Inneke Koesherawati dengan dukungan Teguh Yulianto, Ferry Tanjung serta pendatang baru seperti Rika Herlina, Lydia Larengkeng, Nancy Prancis dan Hengky Siregar. 

Di ceritakan, Clara adalah istri yang merasa sangat tersiksa oleh ulah suaminya sendiri, Aldo. Walaupun Aldo adalah usahawan sukses yang kaya raya dan bisa melimpahinya dengan harta. Bagaimana tidak, karena setiap malam, bila hendak menunaikan tugas intim, hubungan suami sitri, selalu aldo lebih dulu menyiksanya. Aldo baru mendapatkan kepuasan lahir batin setelah kelihatan Clara merintih kesakitan. Rupanya lelaki muda ini mengidap penyakit s e k s , Sado-Masochis yang sudah akut. 

Aldo bukannya tak menyadari hal in, maka demi cintanya pada Clara ia pun mencoba mengobati penyakitnya ini pada dokter. Malangnya, belum pernah berhasil pulih sebagaimana lazimnya lelaki normal. 

Muncul tokoh lain, Atari, seorang pemuda yang baru diterima Aldo bekerja sebagai pelatih kuda di ranchnya. Clara yang begitu menderita phisik ditangan suaminya, merasa menemukan kelembutan pada usapan tangan Atari. Si nyonya cantik terhanyut rayuan si tukang kuda, hingga terjerumus ke lembah perselingkuhan. 

Sepandai-pandainya mereka menyembunyikan rahasia, toh akhirnya Aldo mengendus juga hubungan serong istrinya dengan pegawai barunya. Ternyata bukan cuma Atari yang pandai memanfaatkan kesempatan , ada lelaki ketiga, Pak Mul yang justru merupakan tangan kanan alias orang terdekat ALdo dalam bisnisnya. Pada saat Aldo dirawat di rumah sakit internsional di Singapura, lelaki parobaya ini nekad memper kosa Clara. 

Cerita berkembang dengan terungkapnya rahasia Atari. Diam-diam pemuda ini menyimpan dendam kesumat pada Aldo. Sebenarnya ia adalah aduk kandung istri pertama Aldo yang tewas tersiksa diatas ranjang. Itu sebabnya, kini Atari sengaja merusakkan rumah tangga barunya Aldo. 

Film Ranjang Cinta mulai tayang sejak 29 Maret 1996 ditengah kelesuan film Indonesia. 

Produksi : PT. Rapi Films

Produser : Gope T Samtani

Sutradara : Emil G Hampp

Skenario : Armantono

Kamerawan : Tantra Suryadi

Penata Musik : Musya Joenoes

Pemain : Inneke Koesherawati, Teguh Yulianti, Ferry Tanjung, Rika Herlina, Lydia Larengkeng, dan lain-lain 

RODA RODA ASMARA DI SIRKUIT SENTUL


 RODA RODA ASMARA DI SIRKUIT SENTUL, Cinta Segi Tiga Pembalap Muda. (Kilas Balik)  Produksi PT. Virgo Putra Film yang ke 63 merupakan film nasional yang menggelar adegan balap mobil di sirkuit internasional Sentul. Sutradara muda Norman Benny yang berpengalaman menggarap film mengenai penerbang-penerbang muda dalam Perwira Ksatria, kali ini menghadirkan pembalap muda Alvin Bahar sebagai pemeran utama prianya. Dari namanya sudah ketahuan kalau Alvin adalah putra pembalap senior Asvin Bahar. 

Dua bintang seksi yang sedang naik daun Inneke Koesherawati dan Febby R Lawrence dipasang sebagai pendamping-pendampingnya. Kalau anda jadi Alvin, siapa yang lebih menarik, Inneke atau Febby? pasti sulit menjawabnya karena mereka memiliki kecantikan dan daya tarik sensual masing-masing. 

Diperkuat lagi oleh Achmad Yusuf, Monang Batubara (Abang kandung Cok Simbara), Lucy Imelda, Dewi Octaviana, Irul Luthan, Yan Rompies, dan Novita Wibowo. Ikutan mendukung sebagai bintang-bintang tamu juara-juara balap sejadi seperti Chandra Alim, Suhandi ANgriawan, dan pembalap remaja Ananda Mikola. 

Tiga tokoh utama dalam cerita film yang skenarionya di tulis oleh Zarra Zettira Zr ini adalah Desi, Alvin dan Novi. Sebagai wanita karir, Desi yang berkecimpung di dunia desain busana sudah memiliki peruahaan garmen. Hubungan Desi dengan pacarnya, Jodi, pembalap senior yang mulai redup pamornya, kian merenggang. Apalagi sejak Desi mengenal Alvin, pembalap muda penuh harapan. Padahal sahabat Desi sendiri, Novi, sudah semenjang kecil berteman baik dengan Alvin. Sekarang Novi yang tomboy malah bekerja sebagai mekanik untuk tim balap Garuda, tempat mangkal Alvin. 

Jodi yang ingin meniti karier di luar arena balap, mengincar kursi Direktur Garmen Desi. Demi ambisinya, ia bersama Desi sengaja memabukkan Alvin dalam pesta topeng. Dalam kondisi teler, Alvin meniduri wanita yang disangkanya Desi, padahal sebenarnya Novi. Akibatnya Novi hamil, tapi ia tetap merahasiakan hal tersebut. Sebaliknya, Alvin yang merasa bersalah pada Desi terpaksa mematuhi Desi meskipun sebenarnya tak mencintainya. 

Alvin sering absen dari latihan hingga prestasinya terus menurun. Baru setelah pelatihnya mengancam keras, Alvin bertekan berlatih untuk mengejar ketinggalannya. Desi yagn merasa kesal berkencan dengan teman lamanya, Benny. Melihat hal ini Alvin pun memutuskan hubungannya. 

Di bengkel, Alvin bertemu lagi dengan Novi. Saking cemburu Desi melabrak Novi, akibatnya gadis bengkel itu terjatuh dan keguguran. Desi terpana demi mendengar pengakuan Novi tentang keamilannya. Sadarlah Desi bahwa sebenarnya Alvin terpaksa menemaninya, cuma karena merasa bersalah atas peristiwa malam itu. Desi menunggu sampai Novi sembuh, lalu mengajaknya ke arena balap Sentul. Alvin tengah berjuang melwan pembalap-pembalap kawakan untuk memperebutkan piala Juara Balap Indonesia. 

Drama berlatar dunia balap mobil yagn cukup berbobot ini mulai tayang di Jakarta pada 4 April 1996 ditengah lesunya perfilman Indonesia 

Produksi : PT Virgo Putra Film

Produser : Ferry Angriawan

Sutradara : Norman Benny

Cerita-Skenario : Zarra Zetira

Kamerawan : Syamsudin

Penata Musik : Chossy Pratama

Pemain : Alvin Bahar, Inneke Koesherawati, Febby R Lawrence, Achmad Yusuf, Monang Batubara


SLAMET EFFENDI "PRADANA" Tertolong Kasus Brahmana


 SLAMET EFFENDI "PRADANA" Tertolong Kasus Brahmana, (Kisah Lawas) menurut pepatah kuno, banyak jalan menuju Roma. Slamet Effendi, Indon ebrdarah campuran Jawa-Madura Cina dan Belanda itu setamat SMAnya segera menenteng ransel, meninggalkan kota kelahirannya, Jember menujur Surabaya. 

Kalau kesampaian ia tentu ingin pula sampai ke Roma, Kota yang konon penuh berbagai keindahan. Cuma sampai kini Effendi yang kemudian tenar dengan nama Fendi Pradana itu masih ngendon di Jakarta, Sibuk mencari nafkah di dunia film. 

Tentang keterlibatannya dengan dunia perfilman itu. Fendi bilang bukan cita-citanya. "Kebetulan saja ada kesempatan!" tutur Fendi. Setamat SMA lanjutnya, keinginan pertama adalah mencari lapangan kerja. "Karena itu saya pergi ke Surabaya yagn lebih besar dari Jember!" jelasnya. 

Di kota Pahlawan itu, ia mulai mendapatkan lapangan kerja yang diinginkan. Pendidikan formalnya memang hanya SMA. Tapi ia punya modal lain. Postur tubuhnya atletis, tampangpun boleh. Inilah yang menggelitik  pengusaha biro iklan untuk menawarkan kesempatan, Fendi dijadikan  model iklan untuk perusahaan rokok raksasa di Indonesia. 

Perjalanan dilanjutkan ke ibukota. Di Jakarta, ternyata kesempatan yang di peroleh memang lebih besar. Ia kini  tidak saja sebagai model iklan, tapi telah  boleh menyandang predikat aktor. 

"Semula saya tidak pernah punya cita-cita jadi bintang film!" tukas Fendi yang boleh di sejajarkan dengan nama-nama tenar lainnya di film laga seperti Advent Bangun dan Barry Prima. 

Kembali ke persoalan  pepatah diatas. Memang benar, banyak cara  dan jalan untuk mencapai tujuan. Jalan yagn di tempuh Fendi melangkah ke dunia film walau tanpa di sadari, melalui dunia periklanan, lalu pada saat itu secara kebetulan  antara Tobali Film dan Kanta Film sedang memperebutkan Ferry Fadly untuk membintangi Saur Sepuh. 

Rebutan pemain untuk peran Brahma dimana akhirnya Ferry Fadly berhasil di kontrak Tobali film untuk membintangi Brahmana Kumbara (cat . Brahmana Manggala) yang jalan ceritanya "jiplakan" cerita Saur Sepuh, membuka peluang baru buat Fendi Pradana. "Saya tidak pernah mengira kalau kesempatan untuk muncul di film itu begitu mudah buat saya. Dan yang tidak pernah terpikirkan  lagi, kesempatan pertama itu langsung pegang peran utama, " Kenang Fendi. 

Tiga serial Saur Sepuh telah mengorbitkan namanya sampai ke puncak popularitasnya. Tapi untuk Saur Sepuh IV, Fendi bilang tak akan muncul lagi. "Kontrak saya sudah habis, saya tidak mau memperpanjang kontrak itu, " jelasnya. 

~sumber MF 119/87 Tahun VII, 19 Jan - 1 Feb 1991