Thursday, January 26, 2023

BERKUNJUNG KE MUSEUM BANK INDONESIA

Tampak Samping Museum BI

Kali ini saya akan berkunjung ke Museum Bank Indonesia. Berwisata ke museum memang tidak terlihat keren seperti sekedar duduk ngopi di cafe maupun ke mall, namun dapat menambah pengetahuan kita .

Di kutip dari Wikipedia,  Museum Bank Indonesia adalah sebuah museum  yang terletak di Jl. Pintu Besar Utara No. 3, Jakarta Barat, berada di komplek Kota Tua Jakarta Barat, dengan menempati area bekas gedung Bank Indonesia Kota yang merupakan cagar budaya peninggalan De Javasche Bank yang beraliran neo-klasikal, dipadu dengan pengaruh lokal..

Mengamati mata uang kertas
Pada tahun 1625, di tempat ini pernah dibangun sebuah gereja sederhana untuk umat Protestan.Pada tahun 1628, gereja ini dibongkar karena digunakan untuk tempat meriam besar ketika puluhan ribu tentara Sultan Agung menyerang Batavia untuk pertama kali.

Museum ini menyajikan informasi peran Bank Indonesia dalam perjalanan sejarah bangsa yang dimulai sejak sebelum kedatangan bangsa barat di Nusantara hingga terbentuknya Bank Indonesia pada tahun 1953 dan kebijakan-kebijakan Bank Indonesia, meliputi pula latar belakang dan dampak kebijakan Bank Indonesia bagi masyarakat sampai dengan tahun 2005. Penyajiannya dikemas sedemikian rupa dengan memanfaatkan teknologi modern dan multi media, seperti display elektronik, panel statik, televisi plasma, dan diorama sehingga menciptakan kenyamanan pengunjung dalam menikmati Museum Bank Indonesia.

 Selain itu terdapat pula fakta dan koleksi benda bersejarah pada masa sebelum terbentuknya Bank Indonesia, seperti pada masa kerajaan-kerajaan Nusantara, antara lain berupa koleksi uang numismatik yang ditampilkan juga secara menarik.


Untuk mencapai Museum Bank Indonesia, transportasinya sudah sangat mudah dengan menggunakan KRL turun di stasiun Kota, atau juga dapat menggunakan sarana transportasi massal TransJakarta dengan tujuan akhir Kota Tua. Bagi yang menggunakan kendaraan pribadi baik motor maupun mobil juga disediakan parkir. 


Berikut liputannya dalam bentuk foto-foto dengan model Paramitha Hioe (@mimithjegeg)

















Wednesday, January 25, 2023

MEMBURU ORNAMEN IMLEK DI KAWASAN PECINAN GLODOK

 

Suasana menjelang Imlek. Model : @mimithjegeg

Glodok , Yang terlintas adalah pusat perdagangan elektronik terbesar di Asia Tenggara. Tidak salah kalau sekilas pikiran kita akan terbawa dengan pusat perdagangan elektronik di Glodok yang memang pernah mengalami masa kejayaan sebagai pusat grosir elektronik, selain juga pusat penjualan VCD yang terkenal hingga pertengahan tahun 2000an. Namun seiring berjalannya waktu, pusat perbelanjaan tersebut pun sepi dari pengunjung, dan berimbas dengan tutupnya para penyewa ruko yang ada. Berbeda sekali ketika masa keemasan glodok yang selalu ramai pengunjung bahkan bagi yang suka berburu VCD film baik original dan bajakan di Glodok, kala itu kita sering risih ketika baru masuk ke area penampungan tiba-tiba ada yang megang tangan kita dan menawarkan film-film porno. Penulis sendiri dulu pernah mengalami dan tentu saja membuat 'ngeper' kalau ke Glodok karena takut di tawarin dan kalau kita menolak takut dimarahin hehe. Maklum saya kan anak baik-baik tapi kok bisa-bisanya ya ditawarin film porno.

Gerbang China Town di Glodok Jakarta


Namun kali ini saya bukan membahas tentang penjualan elektronik maupun VCD diGlodok namun akan sedikit mengulas tentang kawasan pecinan yang ada di Glodok. Kawasan Pecinan alias China Town Glodok, dari namanya sebenarnya kita sudah tau bahwa itu adalah kawasan dengan ornamen berbau China, kuliner-kuliner dari negeri China dan segala yang berbau China. Pecinan Glodok menarik untuk di kunjungi terutama ketika menjelang Imlek tiba, karena di kawasan ini banyak di jual ornamen-ornamen yang di butuhkan untuk merayakan Imlek bagi teman-teman etnis China. 

Berbelanja aneka Kebutuhan Imlek .
Inframe @mimithjegeg

Kali ini saya akan mengunjungi China Town Pancoran Glodok, meskipun ada kawasan lain seperti Petak Sembilan yang letaknya tidak jauh dari China Town Pancoran, juga ada Petak Enam yang masih satu kawasan dengan Pancoran Glodok tepatnya di Gedung Chandra Glodok. Kawasan Pecinan Glodok biasanya juga terpusat di Pancoran Chinatown Point yang tempatnya tentu saja lebih enak dengan ornamen-ornamen yang Indah. Namun tanpa harus masuk ke Chinatown Point di sepanjang jalan juga terdapat kaki lima yang menjual berbagai macam ornamen khas Imlek. 

Memasuki Gerbang China Town Jakarta kita akan di sambut ornament-ornament merah dari penjual kaki lima yang menjual berbagai macam produk Imlek. Hukum ekonomi di sepanjang jalan ini berlaku. Dimana ada banyak permintaan maka harga akan naik, demikian juga ketika menjelang Imlek, untuk membeli barang yang diinginkan maka harus pandai-pandai dalam tawar menawar dengan penjual. Survai harga sebelum masuk kawasan ini sangat di perlukan. Selain produk Imlek jajanan maupun sayuran ataupun bucket bunga juga ada yang menjual. Bagaimana dengan harganya? ya kembali lagi ke kita, harus tahu harga barang sehingga ketika mau menawar tidak terlalu jauh dengan harga pasaran yang berlaku. 

Ada yang tertarik kesini? Aksesnya cukup mudah dengan menggunakan kendaraan roda 4 maupun roda 2, namun dengan transportasi massal juga lebih mudah. Cukup naik TransJakarta dan turun di halte Glodok. Tinggal jalan kaki saja untuk sampai ke China Town Jakarta. 

Memilih sebelum membeli







Membeli Bunga


Monday, January 2, 2023

Selamat Datang 2023

 Tahun 2022 sudah berlalu dan kini kita memasuki tahun 2023 masehi. Semoga apa yang kita cita-citakan terkabul dan di permudah segala urusannya ya. 

di awal 2023 ini pemberitaan yang sedang hangat adalah kasus mutilasi seorang perempuan di Bekasi, kemudian gelaran Piala AFF . Semoga Indonesia menang ya.


Salam 2023

Wednesday, December 28, 2022

SAUR SEPUH, SATRIA MADANGKARA BAGIAN 5





Sambungan dari Bagian ke 4

Tumenggung Adiguna yang muda dan gagah memimpin rombongan sembilan orang berkuda yang memacu kuda mereka dengan pesatnya. Tak lama kemudian mereka telah tiba di perbatasan antara negeri Pamotan dan Majapahit. Di perbatasan itu nampak tanda berupa tapal batas yang terbuat dari batu bata. Di sampingnya terletak batu besar dengan ukiran bertulis yang menyatakan daerah itu merupakan tapal batas antara kedua negeri. 

Cuma ada jalan setapak yang menuju ke daerah Pamotan sebab jalur ini bukan merupakan jalan utama. Tapi pinggiran hutan yang masih cukup lebat dan angker itu terlihat beberapa ekor kuda di tambat sedang makan rumput. Di Tempat itu terlihat Tumenggng Bayan sedang istirahat di bawah pohon. Tiba-tiba seorang anak buahnya berlari-lari menghampirinya. 

Tumenggung Bayan duduk sambil menguap. Dia memasang kembali pedang yang di apakai sebagai pengganjal leher tadi ke pinggangnya. Dengan sigap dia mendengarkan laporan bawahannya. 

"Orang mana?" tanyanya dengan tegas.
"Kurang jelas den, Tapi jelas mereka bukan orang Majapahit!"

Tumenggung Bayan segera bangkit. 
Rombongan tumenggung Adiguna memasuki daerah perbatasan. Tubuh mereka berkeringat dan penuh debu. Rombongan itu di paksa berhenti karena tiba tiba dari semak-semak dan balik poohon besar muncul kira-kira lima puluh orang Pamotan dengan sorot mata yang tidak bersahabat. 

"Kami utusan dari Madangkara, mau ke Pamotan membawa surat Baginda Prabu Brama buat paduka Bre Wirabumi!" seru Tumenggung Adiguna dengan Lantang. 


Tumenggung Bayan menyeruak diantara anak buahnya. Sikapnya lebih tidak bersahabat lagi. Bentakannya membuat Tumenggung Adiguna tersinggung. 

"Turun!" Siapapun yang memasuki wilayah Kedaton Timur harus di geledah!"

Tumenggung Adiguna terpaksa turun dari kudanya. Demikian juga dengan anak buahnya. Tumenggung Bayan mendekati Tumenggung Adiguna. 

"Kamu Pemimpinnya?" Mana surat itu!

"Surat ini untuk rajamu! Kamu tidak berhak memeriksa", sahut Tumenggung Adiguna. 

"Tidak usah macam macam, surat itu aku yang mengantar! sebab sementara kalian harus di periksa dulu, siapa tahu kalian mata-mata Majapahit, atau sekutu Majapahit!" Tumenggung Bayan berkeras 

Tumenggung Adiguna tidak bersedia di perlakukan seperti itu. 

"Tumenggung Adiguna pantang di hina! Rajaku menyuruh aku mengantar surat ini dengan tanganku sendiri!"

Dengan gerak kepalanya Tumenggung Bayan memberi isyarat kepada anak buahnya untuk menyerang.

"Paksa!", serunya dengan suara keras.



Perkelahianpun terjadi keadaanya sangat tidak seimbang, nyaris satu melawan lima. Tapi Tumenggung Adiguna adalah orang yang sangat ahli menggunakan pedangnya. Berpuluh kali dia terjun ke medan perang mendampingi rajanya. Maka dalam waktu singkat dia berhasil menewaskan prajurit penjaga dari Pamotan. 

Tapi Tumenggung Bayan juga buan orang sembarangan. Dia benar-benar orang kepercayaan Pamotandan pernah mengikuti pendidikan militer singkat dari perwira perwira utusan Kaisar Yang La. 

Perkelahian terjadi dengan serunya sampai akirnya kedua Tumenggung itu berhadap-hadapan satu sama lain. Keduanya sama-sama sakti dan sama-sama memiliki ilmu berkelahi yang sangat tinggi. Bedanya Tumenggung Bayan memiliki ilmu kedigdayaan. 

Setelah bertarung dengan ilmu keprajuritan, ternyata Tumenggung Adiguna cukup mahir maka Tumenggung Bayan yang jumawa mulai mengelurakan ajian Cadas Ngampar. Sebuah ajian dengan akibat yang sangat fatal kalau sampai mengenai sasaran karena hasil pukulan itu bisa menghancurkan bukit karang sekalipun. 

Tumenggung Bayang melompat mundur beberapa tindak kemudian menempelkan tangan kanannya dengan telapak kiri dalam gerakan yang sangat bertenaga di lontarkannya pukulan ke arah Tumenggung Adiguna yang secara naluriah mengerti akan bahaya pukulan tersebut. Dia segera melompat dan pukulan Cadas Ngampar itu menghancurkan tonggak tapal batas yang berdiri kokoh dari batu bata. 


Tumenggung Adiguna makin hati-hati sementara Tumenggung Bayan makin gencar dengan serangannya. Beberapa pohon tumbang ole pukulan itu karena batangnya hancur. Tumenggung Bayan seperti orang kesurupan. Gerakan-gerakan Tumenggung Adiguna yang lincah berlompatan seperti tupai segera menjadi pemikiran Tumenggung Bayan untuk memberikan pancingan. Sementara itu perkelahian antara anak buah makin tidak seimbang. Orang-orang Madangkara di babat habis, tinggal dua orang lagi yang masih bertahan. 

Ketika itu Tumenggung Bayan memancing seolah-olah dia menyerang lagi dengan ilmunya. Tumenggung Adiguna melompat seperti tupai dan baru ketika itulah Bayan melepas Cadas Ngamparnya sehingga tubuh yang melayang itu meledak, hancur berkeping-keping. Salah seorang anak buah Adiguna yang seungguhnya sudah terluka parah melihat kejadian itu. Dia segera bergulingan menyambar tas terbuat dari kulit yang ikut melayang kemudian dengan gesit melompat ke atas kudanya yang segera di pacu dengan cepat.

Beberapa orang anak buah Tumenggung Bayan hendak mengejar tapi di cegah oleh Tumenggung yang sakti tapi sombong itu.

"Tidak usah! Dia akan mati kehabisan darah! Kuburkan para korban dengan baik, bagaimanapun mereka pahlawan dari negerinya!", perintahnya segera. 

Malam hari di Kaputren Pamotan nampak seorang wanita setengah baya sedang duduk merenung di dekat lampu minyak yang menerangi ruangan itu. Dia adalah ibu angkat Bre Wirabumi yang bernama Rajasaduhitunggadewi. Bre Wirabumi duduk menunggu di dampingi isterinya yang bertubuh gemuk. 

"Tekadmu sudah bulat nak?", tanya Tunggadewi
"Kenapa ibu tanya lagi?".

"Karena tekad itu akan menentukan sebuah perang saudara yang pasti akan menghancurkan trah Narraya Sanggramawijaya. Dendam akan mengalir pada detak-detak jantung para keturunan gugur", Tunggadewi memberi nasehat kepada Bre Wirabumi. 

"Terpaksa hamba lakukan kanjeng ibu, sebab ini masalah hak. Hak yang di berikan secara keliru oleh ayahanda gusti Prabu Hayam Wuruk kepada Wikramawardana", Bre Wirabumi menyahut. 

Ibu angkat Wirabumi hanya menggelengkan kepalanya. Separuh wajahnya yang  sendu tertimpa sinar cahaya lampu. Air matanya menitik perlahan. 

"Ini cuma masalah hawa nafsu. Kamu terpengaruh oleh cita-cita kakekmu Sriwijaya Rajasa sang Apanji Waning Hyun, yang ingin melepaskan diri dari bayangan kekuasaan menantunya sendiri, ayahmu. Itulah sebabnya sang Apanji ayahku mengangkat kamu sebagai anakku untuk meneruskan keinginannya melepaskan diri dari Majapahit,"

Bre Wirabumi terdiam. Rajasaduhitunggadewi bangkit menuju ke jendela dimana di kejauhan terlihat rumah-rumah bangunan istana Pamotan yang telah gelap. 

"Sialnya kemarin aku mimpi buruk sekali",

"Tentang Apa?" tanya Bre Wirabumi

Wajah setengah tua itu berusaha untuk bisa menahan perasaan yang sebenarnya sedang menghancurkan kalbunya. 

"Singgasana Pamotan berlumur darah...."

Bre Wirabumi kaget tapi dia berusaha menenangkan sikapnya. 

"Ibu.... mimpi itu bukan untuk hamba. Banyak negeri yang mendukung Pamotan. Bre Tumapel pun berada di belakang hamba. Dan seperti ibu ketahui Kaisar Yung La dari negeri Cina telah memberikan stempel emas pada hamba. Mereka semua akan berdiri di belakang Pamotan. Percayalah mimpi itu bukan untuk hamba!"

Wajah ibu setengah baya itu kian mendung. Di elusnya rambut Bre Wirabumi. 

"Ibu tidak menghalang-halangi iatmu. Cuma cemas, sebab dalam mata hati ibu perang itu sudah terjadi. Perang yang akan mengguncangkan seluruh bumi Nusantara. Perang Paregreg!.

BERSAMBUNG KE BAGIAN 6...............................


Monday, December 12, 2022

SAUR SEPUH SATRIA MADANGKARA BAGIAN 4

 

Tumenggung Adiguna melawan Pasukan Tumenggung Bayan

LANJUTAN DARI BAGIAN 3.............

Beberapa orang prajurit dengan pakaian kerajaan Pamotan tampak siap di samping kuda masing-masing. Mereka kurang lebih sepuluh orang. Sementara itu seekor kuda yang kelihatan lebih besar dan gagah di bandingkan yang lainnya masih kosong. Beberapa orang murid padepokan ilmu silat Bukit Kalam menunggu dengan duduk-duduk di teritisan bangunan pendopo padepokan yang cukup sederhana. Dari dalam rumah padepokan muncul seorang tumenggung yang di kenal dengan nama tumenggung Bayan, Orang kuat dalam pamotan. 

Ia diiringi seorang wanita cantik dengan tubuh sintal dan bentuk bibir yang selalu menantang. Sementara itu sorot matanya selalu kelihatan mengajak dan nakal. Wanita itu bernama Lasmini guru dari padepokan silat tersebut. 

Kali ini kelihatan Lasmini tengah merajuk sementara tumenggung Bayan berusaha menentramkan hati pacarnya atau simpanannya mengingat ia sendiri sudah menikah. 

"Kalau tidak ada tugas pasti aku menginap Lasmini, Keadaan semakin gawat, semua tentara di siagakan  di semua gerbang Pamotan dengan Majapahit". Tumenggung Bayan menjelaskan. 

"Hamba takut kakang Bayan punya perempuan lain. Saya tahu gadis-gadis Pamotan jauh lebih cantik dari gadis Pajajaran seperti saya", Lasmini kembali merajuk. 

"Selain istriku yang sah cuma ada kamu. Besok kakang kemari lagi", Tumenggung Bayan berusaha meyakinkan.

"Menginap?", tanya Lasmini manja sekali. 

"Pasti".

Tumenggung Bayan menaiki kudanya kemudian pergi bersama rombongannya. Malam mulai gelap. Obor Obor menerangi halaman padepokan dengan sinarnya yang meriap-riap di terpa angin. 

Lasmini tersenyum nakal sambil memandang ke kejauhan. 


BERSAMBUNG... KE BAGIAN 5

Monday, December 5, 2022

SAUR SEPUH, SATRIA MADANGKARA BAGIAN 3

 

Mantili dan Patih Gotawa terlibat perkelahian

............LANJUTAN dari Bagian 2

Bangunan-bangunan di komplek istana Madangkara ini hampir menyamai bentuknya dengan keraton di Majapahit dan Pajajaran. Hanya bentuknya lebih kecil dan tidak terlampau mewah. Dua orang penjaga gerbang dalam pakaian keprajuritan Madangkara dengan sikap tegak bersenjatakan tombak, mengawasi beberapa orang yang sedang berjualan di bawah sebatang pohon yang rindang dekat pintu gerbang.

Di balai penghadapan Keraton Madangkara, Sang Prabu Brama Kumbara kelihatan sedang bercengkerama dengan adiknya, Dewi Mantili serta Patih Gutawa yang merupakan suami adiknya dan Harnum permaisurinya. 

Sementara itu beberapa dayang emban dengan penuh pengabdian duduk bersila pada lantai bawah. Empat orang prajurit penjaga keraton berdiri tegak di samping-samping ruang yang berbentuk pendopo agung itu. Sang Prabu duduk di atas singgasana dari kayu berukir indah dengan bantalan kain yang dirajut dengan benang-benang emas sementara mahkota yang dikenakannya tidak terlalu rumit namun indah dan mahal.

"Untuk sementara kamu saya bebaskan dari tugas-tugas kenegaraan dinda patih, gunakan waktu itu untuk bersenang-senang dengan istrimu", Seru Brama Kumbara.

Patih Gotawa senyum menunduk. Sementara Dewi Mantili yang agak tersipu berusaha untuk menutupi perasaanya. Harnum tersenyum melihat keadaan seperti itu. Patih Gotawa dan Mantili adalah sepasang pengantin baru 

"Kami merencanakan mau ke kampung Jamparing kakang Brama, kangen sama Raden Bentar dan kakang Dewi Pramitha", sela Patih Gotawa. 

"Apa cocok untuk pengantin baru?", tanya Brama Kumbara

Patih Gotawa cepat menyahut : "Itu kemauan dinda Mantili gusti Prabu!".

"Mestinya kamu tidak boleh selalu memaksakan kehendak, Mantili.Sekarang kamu adalah seorang istri, bukan lagi Dewi Mantili si Pedang setan yang selalu bertindak seenaknya. Ada orang lain yang jadi pemimpinmu, suamimu!", Brama Kumbara berkata dengan penuh wibawa.

Mantili cuma tersenyum simpul sementara Harnum yang duduk mendampingi sang Prabu juga ikut tersenyum. Kemudian Harnum ikut Bicara : 

"Sebenarnya saya juga  ingin ke Jamparing kakang Prabu, sudah hampir tiga bulan kita belum kesana. Mungkin Nanda Bentar juga sudah kangen sama kakang Prabu, Dinda Paramita mestinya juga begitu."

Brama Kumbara menoleh kepada istrinya sambil tersenyum. 

"Memang akan lebih bijaksana kalau isteri-isteriku berkumpul disini. Kalau saja aku tidak memikirkan pendidikan Bentar, Paramita kuharuskan tinggal di sini. Gotawa....suruh tumenggung Ajisanta menghadap. Dia yang akan mewakili selama kita pergi."

"Baik Gusti Prabu."

Dari luar terlihat Senopati Ringkin masuk dan duduk memberi hormat. 

"Ada apa Senopati", Tanya Brama Kumbara.

"Maaf Gusti Prabu, kami menangkap delapan orang dari Majapahit dan Pamotan yang bertikai di perbatasan Madangkara. Mereka mau menghaturkan surat dari raja mereka masing-masin", Senopati Ringkin segera melaporkan apa yang telah terjadi.

Brama Kumbara agak kurang mengerti mendengar laporan Ringkin yang aneh. Kedatangan utusan dari negara besar seperti Majapahit ke Madangkara benar benar suatu kehormatan. Tapi utusan dari Pamotan yang setau beliau adalah negeri bawahan Majapahit benar-benar mengherankan. 

"Hadapkan pimpinan mereka satu-satu!, serunya segera

"Daulat Gusti!".

Tumenggung Bayan dan Satria Madangkara

Utusan dari Majapahit yang tiga orang memisahkan diri dari lima orang pamotan dimana diantara mereka yang terluka akibat perkelahian. Kedua belah pihak kelihatan saling membenci. Beberapa orang prajurit Madangkara mengawasi mereka. Senopati Ringkin mendatangi kelompok utusan tersebut lalu membawa mereka satu persatu menghadap Brama Kumbara. 

Mantili dan Patih Gotawa menoleh ke arah kedatangan utusan dari Pamotan. Brama Kumbara dengan tenang menyuruh panglima Rowi untuk menyampaikan maksudnya. Panglima Rowi duduk dengan hormat dan mengeluarkan surat yang diserahkan pada Brama Kumbara. 

"Ada pesan dari rajamu?", tanya Brama Kumbara.

"Daulat Gusti, hamba di utus untuk menyampaikan ini!".

Sang Prabu membaca surat itu. Mukanya menjadi keruh. Agak sulit baginya utuk menentukan jawaban. 

"Kamu boleh pulang, saya akan mengutus orang untuk menyampaikan suratku pada Bre Wirabumi!".

"Terima Kasih Gusti, hamba mohon pamit!"; sahut Panglima Rowi sambil mohon diri.

Brama mengangguk arif, Panglima Rowi segera meninggalkan tempat. Mantili benar-benar ingin tahu apa isi surat itu. Segera ia bertanya pada Brama Kumbara.

"Kalau Boleh tahu, apa isi surat itu Kakang Prabu?',

"Sulit untuk menentukan pilihan, Bre Wirabumi meminta dukungan untuk melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit", sahut Brama Kumbara.

"Memberontak?", tanya Mantili tak mengerti. 

"Akhirnya akan kesana, sebab tidak mungkin Majapahit akan membiarkan negeri bawahannya berdiri sendiri dan ini akan menjadi malapetaka bagi kerajaan besar itu. 

"Mungkn karena Bre Wirabumi merasa berhak menguasai tahta daripada Wikrama Wardhana", sela Harnum. 

"Saya kurang mengerti, tapi seorang raja agung seperti gusti Dyah Hayam Wuruk tidak mungkin bertindak tanpa pikiran yang matang. Mungkin beliau beranggapan bahwa menantunya justru lebih cerdas dan jujur untuk memimpin sebuah negeri yang maha luas kekuasanya daripada putra lelakinya yang kebetulan lahir dari seorang selir", Brama kumbara mengemukakan pendapatnya.

Tumenggung Bayan dan para pasukannya

Tak lama kemudian utusan dari Majapahit datang dan duduk bersembah. Brama Kumbara menyambutnya dengan senyuman yang bijak. 

"Hamba Hulubalang Ludaka, menghaturkan surat Baginda Prabu Wikramawardhana  yang agung!", seru Hulubalang Ludaka sambil mengingsut mendekati tahta Prabu Brama Kumbara. 

Brama Menerima surat itu dan membukanya. Surat itu di buat dari daun lontar yang ditulis dengan indah.

"Selain ke Madangkara, kemana lagi kamu akan pergi?", tanya Brama Kumbara. 

"Menghubungi semua kerajaan sahabat Majapahit, Hamba akan ke Pajajaran, ke Sumedang Larang, Gunung Singguruh dan ke Malayapati", sahut Hulubalang Ludaka.

Prabu Brama Kumbara Mengangguk.

"Ke negeri-negeri itu utusan dari Pamotanpun akan datang. Kamu boleh meneruskan perjalanan, aku akan mengirim utusan khusus ke Majapahit secepatnya".

"Terima kasih Gusti Prabu, hamba mohon pamit!".

Hulubalang Ludaka bangkit dan meninggalkan tempat. Brama kumbara melirik patih Gotawa.

"Gotawa, Panggil tumenggung Adiguna, dia akan kuutus membawa suratku untuk Pre Pamotan dan Baginda Wikramawardana!".

"Daulat Gusti Prabut!".


BERSAMBUNG KE BAGIAN 4------------------------------------------------



Wednesday, November 30, 2022

SAUR SEPUH, SATRIA MADANGKARA BAGIAN 2



 ..........Sambungan dari Bagian 1


Sebuah tugu yang terbuat dari batu bata dengan bentuk seperti lingga dengan gaya pasundan terlihat menjulang pada dataran di areal pegunungan. Di kejauhan terlihat lima orang penunggang kuda dengan sigap mengendarai kuda tunggangan tercepat pada jaman itu. Mereka berhenti tepat dimana terdapat pertigaan jalan. 

Salah seorang diantara mereka adalah Hulubalang Robi, pemimpin dari lima orang itu. Menilik dari pakaiannya mereka adalah prajurit Pamotan (Kedaton Timur).

"Kita sudah sampai di Madangkara, ini tugu perbatasannya!," seru hulubalang Rowi kepada bawahannya. 

Hulubalang yang berbadan tegap dengan kumis melintang itu menyipitkan matanya melihat ke kejauhan. Dan sayup-sayup terlihat sekelompok bangunan yang merupakan sebuah kota yang tidak terlalu besar namun juga tidak kecil. Bangunan-bangunan rumah dan tembok keliling kerajaan serta gerbangnya terlihat cukup megah. Sementara kelima orang Pamotan itu masih belum beranjak, terdengar suara derap kuda dari arah lain. Mereka lalu menoleh. 

Tiga orang penunggang kuda kelihatan terburu-buru kenuju ke arah mereka. Para penunggang kuda itu sedikit terkejut melihat  adanya lima orang di atas kuda berdiri di hadapan mereka. Dan yang lebih membuat mereka terkejut adalah orang-orang itu mereka kenal sebagai orang Pamotan. Dan ketiga penunggang kuda itu adalah utusan dari Majapahit. Mereka segera menghentikan kudanya. 

Penunggang-penunggang kuda dari Majapahit itu mengerutkan dahi. Salah seoangdari mereka yang bernama hulubang Ludika menjadi geram. 

"Oang-orang Pamotan, mereka pasti utusan Bre Wirabumi untuk mencari dukungan dari kerajaan-krajaan did aerah Kulon!," Seru hulubalng Ludika kepada bawahannya. Lalu dengan kepala yang pasti hulubalang yang tidak kalah gagahnya dengan hluubalang Rowi menyuruh kedua kawannya untuk mengikutinya.  Ketiga ekor kuda itu segera melaju menghampiri ke lima orang Pamotan.

Hulubalang Rowi maklum apa yang akan terjadi. Perlahan-lahan tangannya bergerak membetulkan letak kerisnya. Dengan gaya yang meyakinkan ketiga Penunggang kuda dari Majapahit itu menghentikan kuda mereka. Kaki kuda yang mereka tunggangi melunjak dengan ganas. Dengan tenang Hulubalang Rowi memandangi orang Majapahit itu.

"Mau apa kalian?," tanyanya

"Menghantikan tugas kalian. Serahkan surat-surat itu padaku!," sahut Hulubalang Ludika.

Hulubalang Rowi menatap tajam ke arah Hulubalang Ludika dan kawan-kawannya lalu berkata : 

"Kamu tidak ada hak untuk menghalangi tugas kami, Minggir!,"

Hulubalang Rowi segera menjalankan kudanya. Dengan terpaksa ia menghindar dari halangan ketiga orang Majapahit itu. Tapi tiba-tiba Hulubalang Ludika menyerang dengan tendangan kaki. Tapi denan sigap Rowi menangkis dengan lengannya. Perkelahian terjadi. Mereka slaing melompat dari atas kuda. Dari cara mereka berkelahi nampak jelas bahwa utusan ini adalah orang-orang pilihan di negeri mereka masing-masing. 

Ditengah perkelahian yang terjadi dengan seru, muncul pasukan tentara Madangkara yang di pimpin oleh Senopati Ringkin yang dengan gagah di atas kudanya di dampingi olehbeberapa orang berkuda lainnya. Dibelakang mereka nampak puluhan prajurit berlari-laridengan tombak di tangan. 

Mereka yang sedang berkelahi sedikit terpecahperhatiannya. Senopati Ringkin berteriak keras dari atas kudanya. 

"Hentikan!,".

Tapi perkelahian itu masih saja terjadi. Mereka yang berkelahi nampak tidak mengacuhkan perintah itu. Senopati Ringkin berseru lagi.\:

"Kalian akan kami serang kalau tidak mau berhenti. Ini daerah Madangkara!".

Orang-orang Majapahit dan Pamotan menghentikan perkelahian mereka ketika pasukan bertombak berkeliling mengepung. 

"Kalian kami tahan!", perintah Senopati Ringkin dengan Tegas.


BERSAMBUNG KE BAGIAN 3.................................................


SAUR SEPUH, SATRIA MADANGKARA BAGIAN 1


Kali ini saya akan menulis cerita dari Film Saur Sepuh Satria Madangkara .

Sumber tulisan : Majalah Ria Film Nomor 744 yang saat ini majalah tersebut sudah tidak terbit lagi.

Saur Sepuh Satria Madangkara dibintangi oleh : 

Fendy Pradhana sebagai Brama Kumbara, Hengky Tornando sebagai Patih Gotawa, Elly Ermawatie sebagai Mantili, Anneke Putri sebagai Harnum, Murtisaridewi sebagai Lasmini dan lainya.

Produksi PT Kanta Indah Film bekerjasama dengan PT Kalbe Farma

Penulis cerita Niki Kosasih , Skenario/Sutradara : Imam Tantowi

Penyunting gambar Yanis Badar, Instruktur Fighting :Robert Santoso

Bagian 1 :

Sang Prabu Wikramawardana berjalan melintas beberapa orang bawahannya termasuk Patih Gajah Lembana, Prabu Stri dan beberapa lagi Narapati Kerajaan Majapahit lainnya. Kelihatannya ada sesuatu yang sangat penting.  Sang Prabu dengan muka kusut duduk diatas singgasana. Sementara itu penerangan ruangan yang berasal dari lampu minyak berbentuk ukiran burung dari perunggu cukup membuat suasana menjadi murung.

Dengan suaranya yang penuh wibawa, Prabu Wikramawardana berkata : 

"Jelas Wirabumi mau melepaskan dari dari kekuasaan Majapahit, Rupanya dia mau mewujudkan cita-cita sang panji Waning Hyun yang belum terlaksana sampai beliau wafat."

"Ampun gusti Prabu, Kalau Kaisar Yung Lo tidak mau memberikan pengakuan pada Bre Wirabumi, tidak mungkit Pamotan berani melakukan tindakan gegabah itu. Hal yang sama pernah di lakukan oleh Kaisar Hung Wu yang merestui Kebebasan negeri SwarnaBhumi dari Kekuasaan Majapahit." seru Patih Gajah Lembana dengan suara yang lantang.

"Alasan Lain adalah karena Wirabhumi Putra Ramanda Hayam Wuruk, dia merasa paling berhak daripada aku yang hanya seorang menantu. Meskipun seharusnya dia memahami bahwa isteriku adalah putri permaisuri, sedang dia terlahir dari seorang selir", Pangerang Wikramawardhana melanjutkan ucapannya.

Suasana menjadi lengang, Narapati Raden Gajah beberapa kali mau mencoba ikut bicara namun ia selalu ragu. Akhirnya dia beranikan juga setelah Prabu memberikan kesempatan untuk bicara.

"Apa lagi yang akan kalian laporkan? Kamu? Narapati Raden Gajah?"Seru Pangeran Wikramawardhana.

Narapati menganggukkan kepala sambil bersembah. 

"Dari mata-mata, yang hamba kirim ke Pamotan , melaporkan bahwa Pamotan sedang mempersiapkan angkatan perangnya secara sunguh-sungguh", Narapati Radeng Gajah menyampaikan Laporannya.

Memang pada kenyataanya ratusan tentara Pamotan  sedang melakukan latihan besar-besaran. Mereka mempergunakan kuda dan duaekor gajah membentuk formasi penyerangan dalam bentuk supit urang seperti yang pernah dilakukan oleh Gajah Mada. Di samping itu ratusan tentara bersenjata tombak berlari-lari di belakangnya. 

Diatas panggung kelihatan Bre Wirabhumi dan para pembesar negeri Pamotan menyaksikan dengan gembira. Diantaranya terlihat beberapa puluh orang dengan seragam tentara Cina. 

Perang Pamotan dan Majapahit

Raden Gajah melanjutkan laporannya. 

"Utusan Kaisar Yung Lo juga terlihat di sana, Mungkin mereka membawa cap kerajaan yang terbuat dari perak berlapis emas sebagai pengakuan dari kaisar.

Tentara Pamotan dengan membawa tameng dan tombak bergerak dengan tegap. Kemudian secara tiba-tiba mereka berjongkok. Ketika itulah pasukan panah melepaskan anak panahnya. Lalu secara bersamaan pula pasukan tombak kembali berdiri dan berlari menyerang ke arah depan. 

Bre Wirabumi gembira bukan main, Para pembesar kerajaan bertepuk tangan, begitu pula utusan Kaisar Yung Lo.

Pasukan berkuda juga memamerkan keahlian-keahliannya berlari cepat dengan prajurit yang menungganginya membabatkan pedang ke arah tonggak-tonggak yang di ibaratkan sebagai musuh. 

Sementara pasukan pembawa bendera dan Pataka Kerajaan Pamotan baik yang di atas kuda maupun yang berjalan bersorak sorai dalam iringan genderang perang.

Siang harinya di Balai perjamuan kerajaan Pamotan, Bre Wirabumi menjamu tamunya. Ia meneguk minuman dari gelas peraknya sementara para narapati dan pejabat h negeri tetangga akan kuberitahu!," seru Bre Wirabumi dengan jumawa, Tamu-tamuna serentak bertepuk tangan. 

Apa Yang di ucapkan Bre Wirabumi bukanlah sekedar isapyang lain ikut meneguk cawan-cawan peraknya termasuk utusan Kaisar Yung Lo. 

"Saatnya sudah dekat Wirabumi menguasai Majapahit! Seluruan jempol belaka, Negeri itu nampaknya sungguh-sunggu sedang bersiap-siap untuk berperang. Para ahli dan pandai besi sibuk membuat berbagai senjata perang. 

Seorang pandai besi yang sudah tua nampak sedang mengamati mata tombak yang masih membara. Para pembantunya yang masih muda bekerja memompa an. gin menjaga tungku tungku agar menyala.

"Perang hanya akan menyengsarakan. Mematikan perdagangan dan memiskinkan rakyat baik yang menang maupun yang kalan!," seru Empu pandai besi itu sambil menghela napas.

Salah seorang pembantunya menyahut : "Kalau romo tidak bikin senjata, orang kan malas perang mo? Mau perang pakai apa? Wong senjatanya ndak ada?"

Sang Empu tua hanya melirik sekilas. Dalam hati ia membenarkan kata-kata anak muda itu.

------------------------BERSAMBUNG KE BAGIAN 2



Cat. Sumber tulisan Majalah Ria No. 744