Monday, January 5, 2026

SINETRON JANDA KEMBANG, PEMBALASAN ROH PENASARAN


 SINETRON JANDA KEMBANG, PEMBALASAN ROH PENASARAN. SALLY MARCELLINA yang tersohor sebagai bomseks alias bintang hot lewat film-film bioskop, mulai dari Gadis Metropolis sampai Akibat Hamil Muda, kemudian terjun juga ke dunia sinetron sebagai bintang utama sinetron serial drama horror JANDA KEMBANG. 

Sebelumnya memang Sally sudah sering membintangi film horror dengan judul yang nyaris serupa, Misteri Janda Kembang arahan Tjut Djalil, 1991, dan Kembalinya Si janda Kembang arahan Sisworo Gautama Putra - 1992, disusul film horor erotis seperti Misteri Wanita Berdarah Dingin, Godaan Perempuan Halus, Ranjang Pemikat dan lain-lainnya, boleh dibilang Sally menggantikan Suzanna sebagai bintang spesialis film sejenis yang banyak di produksi PT. Soraya Intercine Film. 

Tapi Sally pun beralih ke blantika sinetron. Sebetulnya ini bukan sinetron perdananya, karena awal kariernya di dunia seni peran pun berawal dari serial Teve  ACI (Aku Cinta Indonesia) yang ditayangkan TVRI sebelum era teve swasta merebak. 

Serial produksi Soraya dari TV Program Division ini diangkt dari cerita horor karya Abdullah Harahap. Di garap Atok Suharto yang memamerkan banyak kreasi special effect menarik, jauh lebih berkembang dari Si manis Jembatan Ancol. 

Cerita di awali dengan pengenalan para tokoh Santi, Janda muda yang jadi rebutan lelaki di desanya. Santi menjatuhkan pilihan pada Rukman, pengusaha muda dari kota. baru belakangan diketahui kalau ia sudah punya anak istri. Padahal santi terlanjur hamil karena hubungan mesra diluar batas. Rukman membujuk Santi untuk melangsungkan perkawinan secara diam-diam . Ternyata di bungalow terpencil, Santi dihabisi oleh teman-teman Rukman. Mayatnya di buang ke sebuah jurang di kawasan perkebunan. 

Justru di dasar jurang terjadi keajaiban. Roh penasaran Santi betemu roh Mira, dukun wanita yang mayatnya di buang di tempat yang sama. Merasa senasib roh Mira bersedia membantu roh Santi untuk membalas dendam. Maka satu persatu teman-teman Rukman menemui kematian secara mengerikan. 

Sampai saat Roh Santi menteror Rukman di rumahnya, barulah ia melihat Sumarni, istri Rukman yang bidiwati. Memang usia Sumarni jauh lebih tua dari Rukman, namun perusahaan yang dikelola RUkman sebenarnya adalah miliknya. Pengkhianatan Rukman pada istrinya berlipat ganda karena ia juga mengincar anak tirinya, Setyorini. 

Teror Roh Santi mengakibatkan Sumarni sakit jantung dan mesti dirawat di Rumah Sakit. Roh Santi yang merasa bersalah minta bantuan roh Mira untuk menyembuhkan Sumarni. 

Nasihat dokter untuk menjauhkan Sumarni dari hal-hal yang mengejutkan, malah mendatangkan ide bagi Rukman. Bersama konconya, Hendra ia menakut-nakuti istrinya dengan hantu-hantuan. Di luar dugaan muncul roh Santi dan roh Mira. Saking panik, Hendra terbu nuh oleh Rukman. Menyusul Rukman pun menembak kepalanya sendiri. Sakit hati Santi terbalas sudah. Namun cerita masih jauh dari berakhir, karena muncul dukun trendi, Empu Batara yang dipanggil Sumarni untuk mengamankan rumahnya dari teror hantu. 

Empu inilah yang dulu mencundangi dan mendalangi pembu nuhan Mira dengan ilma setannya yang luar biasa. Pengusutan Santi membuka tabir persekongkolan antara Batara dengan Eddi, suami Mira sendiri. Kini Batara menyiapkan rencana besar, menanti kelahiran seorang bayi yang disebut Sang Penerus. bayi itu berada dalam rahim Farida, isteri kedua Eddi. Ambisi jahat mereka nyaris terwujud kalau saja tak muncul roh Santi dan roh Mira yang dibantu para penghuni alam gaib menentang kekuasaan jahat majikan Batara dan Eddi yakni setan itu sendiri. 

Serial sinetron dibuat sepanjang 26 episode dan ditayangkan oleh SCTV. 

Produksi : Soraya Intercine

Produser : RAM Soraya

Sutradara : Atok Suharto

Pemain : Sally Marcellina, Rica Roy Callebout, Andi J Madjid, Irfan Yudha, Andre Bjenk 


SINETRON SEBERKAS SINAR


 SINETRON SEBERKAS SINAR, Lagu SEBERKAS SINAR , tembang manis dan mendayu-dayu yang di lantunkan almarhumah Nike Ardilla, setiap Rabu Malam sejak April 1997 lalu kembali bergema di AN-teve. Bukan saja para Nike Mania yang gembira dan menyambutnya, tetapi juga Firman Bintang, prodser Anugerah Damai Sejahtera (ADS) Production. Pasalnya sinetron yang diilhami dari lagu Deddy Dores dan dilantunkan Nike setelah tertunda penayangannya beberapa lama akhirnya ditayangkan juga. 

Seberkas sinar adalah sinetron perdana griya produksi ADS yang di kelolah Firman Bintang bersama Djadjat Sayoeti, sekaligus memberi 'pelajaran' berharga bagi Firman, "Memproduksi sinetron, nyatanya berbeda dengan memproduksi film layar lebar. Banyak hal yang tidak kami alami dalam produski film layar lebar, harus kami alami dalam produksi sinetron. Ketika memproduksi, kami tidak memperhitungkan faktor-faktor tertentu. Termasuk bargaining position dengan pengelola stasiun penyiaran, " papar Firman Bintang. 

Menurutnya, mengangkat lagu-lagu Nike Ardilla menjadi sinetron, seperti Seberkas Sinar itu, tidak muncul dan untuk "membarengi" kepergian Nike. "Kami sudah merencanakan sejak Nike masih hidup. Malah atas usulan dan saran teman-teman wartawan, sinetron itu pas jika di mainkan oleh Nike. Pembicaraan secara lisan kearah itu sudah kami lakukan. Tapi takdir menentukan lain. Kalaupun kami meneruskan dengan pemeran lain, itu sebagai penghormatan kami atas dedikasi Nike dalam peta musik dan film nasional, " Papar Firman Bintang. 

Sinetron dengan bintang pendukung Mira Asmara, Alan Nuari, Adipura, Ully Artha, Rizki Teo, Rachman Yacob, Nenny Triana, Stanley Worotikan serta sejumlah pendatang anyar lainnya itu sendiri berkisah tentang seorang anak yang kehilangan kasih sayang ibunya hingga ia terjerumus kedalam kehidupan yang nista. Mita (Mira Asmara) merasa tertekan batinnya karena ibunya yang selama ini ia banggakan, ternyata seorang wanita penghibur. Mita memprotes keras profesi ibunya itu, sehingga ia memilih hidupnya sendiri tanpa berdampingan dengan ibunya. 

Namun hidup tidaklah semudah yang di bayangkan. Karena tuntutan keadaan dalam perjalanan waktu, Mita akhirnya terjerumus dalam kehidupan malam. Ia terperosok ke dalam jurang profesi yang pernah di benci dan membuatnya kabur dari rumah menjadi wanita penghibur. 

Di kisahnya juga, bagaimana Mita berhenti menjadi wanita penghibur dan menjadi istri Herman (Adipura). Namun ketika usia kandungannya memasuki tujuh bulan, suami yang dicintainya itu meninggal dunia. Dalam keadaan kalut dan tidak tahu yang harus di perbuat, Sarah (Rizky Teo) dan Roni (Alan Nuari) membujuknya untuk melakukan pekerjaan lama. 

Seberkas Sinar barangkali ingin menguras air mata sekaligus ingin mempermainkan keingintahuan pemirsa atas nasib Lestari, anak Mita dari perkawinannya dengan Herman. Jawaban atas teka teki itu terjawab di akhir cerita ketika Mita terbaring dan dirumah sakit menjelang ajal menjemputnya. 

Menurut Firman juga, empati masyarakat atas sinetron tersebut banyak diterima dari masyarakat, khusunya para Nike Mania. Untuk itu dalam waktu dekat pihaknya akan kembali mengangkat lagu-lagu yang pernah dinyanyikan Nike seperti Bintang Kehidupan ke layar Kaca. "Deddy Dores mendukung rencana tersebut, " akunya. 


~MF 285/251/XIII/17-30 Mei 1997

LAUREEN SAHERTIAN


 LAUREEN SAHERTIAN! ada yang ingat sosok ini? (berita lawas). Cewek mana yang nggak kesengsem melihat tampang cowok ganteng, jantan dan sorot matanya hangat? Kiranya logis bila Ria Hapsari pun terseret perasaan demikian. Maka tak pelak Ria pasang ancang-ancang. Ia segera beraksi dengan ulah untuk menarik perhatian. Malah Ria memberi alamat rumah di secarik kertas kepada cowok tersebut. Harapannya, tentu suatu saat cowok yang tiba-tiba jadi pujaannya itu bertandang kerumahnya. Eh, nggak taunya yang datang justru John Towel bukan Reo Reseh yang sangat di harap itu. Ria kecewa dan males meladeni John. 

"Tentu, siapa pun, males ngeladenin cowok yang nggak disenengin, " ungkap laureen Sahertian yang berperan sebagai Ria Hapsari dalam film "Elegi Buat Nana" yang di sutradarai oleh Achiel Nasrun. "Tau nggak, Reo Reseh itu kan di mainkan oleh Ryan Hidayat," kata Laureen di rumahnya di kawasan Tanah Abang Jakarta Pusat. Selain Ryan film tersebut dibintangi Ria Irawan, Gito Gilas, Adreas Pancarian dan sebagainya. 

Laureen Sahertian putri ketiga dari empat bersaudara ini telah menapaki dunia film sejak tahun 1984. Ia, pertama kali main dalam "Film dan Peristiwa", dilanjutkan dengan "Romantika, Galau Remaja di SMA", "Merpati Tak Pernah Ingkar Janji". "Memburu Makelar Mayat", "Pesona Natalia" dan "Jakarta 66". Menurut pengakuannya, sebelum di film, Alien panggilan akrabnya sudah terjun ke dunia tarik suara. berbekal ilmu Bina Vokalianya Pranajaya, ia merenggut Juara Harapan Perlombaan Vokal se DKI 1984. Dan beberapa kali turut mengisi acara, misalnya "Dari Masa Ke Masa" serta bersama grup Mayapada bermain drama remaja TVRI. 

Nona Manise berkulit putih ini lahir di Jakarta 22 April 1966 dari pasangan PJ Sahertian (Indo - Ambon Belanda). "Darah seni saya dapatkan dari papa. Ia sering nyanyi di RRI, dulu. Namun papa telah tiada. Ia meninggal tahun 1983. Walau begitu semangat berkeseniannya masih tetap menyala, " ujar Alien bersama kakak dan adiknya berusaha meneruskan semangat itu. 

Kendati begitu, Alien ragu terhadap kemampuan dirinya. Sudah pas atau belum di dunia seni, atau tetap mencoba  profesi lain yang lebih menghasilkan kepuasan dan materi. "Saya akui, saya memang masih labil. Pemilihan profesi kan berkaitan dengan masa depan. Makanya, sementara ini saya masih mencoba kemampuan di profesi dunia seni atau kerja di kantoran. Suatu saat saya harus menetapkan suatu profesi, bila kestabilan telah terasa" tuturnya. Dan alien yang pernah bekerja sebagai Costumer service dan sekretaris itu, kini mendalami ilmu sekretaris di Interstudy. 

Laureen yang punya favorit warna biru dan senang pada permainan Al Pacino dan Stalon, mengatakan bahwa film-film yang dibintanginya itu pernah ditonton lagi walau sudah rampung. "Saya cukup melihat ketika dubbing saja. Setelah itu, paling-paling saya dengerin kritik dari keluarga atau teman-teman. Ungkapnya. 


Saturday, January 3, 2026

MURTI SARI DEWI, TAKUT DITUDUH MURAHAN

 


MURTI SARI DEWI, TAKUT DITUDUH MURAHAN, Sejak kali pertama menginjakkan kaki di Jakarta dan sekaligus terpilih sebagai pemeran Lasmini dalam film "Saur Sepuh" Murti Sari Dewi masih tetap diliput kebimbangan. Paling tidak mengingat iklim perfilman yang cenderung mengeksploitasi bagian-bagian tubuh wanita yang tergolong sensitif. Misal paha, buah dada yang dirancang sedemikian rupa melalui skenario agar sang pemain tak bisa menghindar dari kenyataan itu. Misalnya saja dalam film "Catat Namaku Rintan", (Berubah judul menjadi Cinta Punya Mau) yang dibintanginya. 

Masih beruntung bagi Murti, sutradara Chris Helweldery mau mengerti tentang dirinya. Cukup dengan busana renang dan bukan bikini sesuai tuntutan skenario. Meski begitu , Murti yang berperan sebagai Rintan masih merasa kikuk. 

Pada kenyataanya, gadis hitam manis yagn dijuluki si Gingsul ini telah tiga tahun malang melintang sebagai Lasmini. Dan tampil dalam tiga episode kisah "Saur Sepuh" di bawah pengarahan sutradara Imam Tantowi. Untuk tampil sebagai Lasmini, bagi Murti ternyata tidak ada problem yang begitu mendasar. Kecuali sikap Lasmini yang agak kemayu, kata Murti.

Sedangkan dalam film Catat Namaku Rintan ia merasa ibarat gadis desa yang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan kota besar seperti Jakarta. Hidup dan pribadinya begitu kontras dengan tokoh Rintan yang diperaninya. Bukan saja lidah Jawa yang begitu kental, cukup sulit bagi Murti untuk berlakon dengan gaya Jakarta yang cuek. 

"Tapi saya tetap berusaha untuk itu. Terlebih artis-artis lainnya cukup ngemong dan mau mengarahkan murti. Apalagi Mas Chris cukup sabar dan mau mengerti kekurangan Murti," kata Murti saat suting adegan kolam renang di Kelapa Gading Sport Club Jakarta utara. 

Saat wawancara mengabadikan dirinya dengan busana renang, ia selalu berusaha menutupi bagian pahanya. "Bukan apa-apa mas, saya takut dituduh sebagai artis murahan dan buka bukaan. Ia kalau masyarakat mau mengerti, kalau nggak? untuk adegan film nggak apa apa deh, " pintanya.

Selain soal busana minim, Murti ternyata serba salah dalam menghadapi filmnya ini. Karena selain dengan busana renang yang menurutnya cukup risih, juga adegan 'ci uman" yang bakal dilakoni bersama Mathias Muchus. 

"Soalnya belum pernah sih mas, jangankan dengan pacar , lha punya saja belum", kilahnya. 


~MF 095/63/Tahun V, 17 Feb - 2 Maret 1990


Friday, January 2, 2026

LEBIH DEKAT DENGAN FARIDA PASHA

 


LEBIH DEKAT DENGAN FARIDA PASHA. (Berita lawas) . Siapa nama asli Farida Pasha? dan Apa film pertama Farida? Bagi Farida Pasha, kecantikan agaknya bukan suatu yang utama. Sebab seperti diakuinya, ia tak terlalu ngotot merawat tubuhnya agar tetap kelihatan cantik. "Soalnya cantik itu kan relatif. Tergantung masing-masing orang." ujarnya. Sebaliknya, menurut Ida apa yang selalu dijaganya adalah imej masyarakat terhadapnya selama ini. "Imej yang baik itu pula yang membuat saya enggak berani datang dan keluar sendirian dari hotel. Sebab wanita yang keluar masuk  hotel sendirian, kecuali dia memang pegawai hotel tersebut, bisa menimbulkan imej macam macam. Dan saya takut menghadapi imej tersebut," katanya. 

Ketakutan itu menurutnya karena selama ini masyaakat sudah mengenalnya sebagai wanita 'baik-baik'. Sebagai ibu rumah tangga yang baik. "Sejak pertama saya main film, saya sudah tanamkan sikap seperti itu. Pertama main film, saya minta agar di beri penginapan di hotel. Saya lebih suka tinggal di satu keluarga yang punya anak wanita," katanya. Dan tentang film berikut petikan wawancara dengan Farida Pasha saat pembuatan film "Misteri Dari Gunung Merapi" di Pangandaran. 

Kenapa saban main film anda kebagian peran antagonis dan melulu film-film bertema horor?

Sejak pertama main film saya memang sudah kebagian peran antagonis. Mereka pikir saya berhasil untuk peran itu. Saya sendiri enggak pernah tanya pada produser atau sutradara kenapa mereka pakai saya untuk peran-peran antagonis melulu. Padahal saya mampu lho main dengan peran-peran yang lembut. Tapi kayaknya orang tidak yakin karena saya terlalu sering dapat peran antagonis dan kasar. 

Bagi kehidupan pribadi ada dampak peran-peran tersebut?

Enggak ada tuh. Tapi emang orang-orang apalagi di daerah suka kaget bila bertemu saya. Mereka bingung kok Farida di film beda dengan sehari-hari. Kok bisa ya orang selembut anda jadi galak di film. Saya jawab saja, itulah namanya akting. Dari situ saya jadi tahu pula, ternyata masih ada masyarakat kita yang menganggap penampilan artis di film begitu juga penampilannya sehari-hari. 

Mulanya main film, gimana ceritanya?

Saya main film enggak sengaja kok. Kebetulan saja. Waktu itu tahun 1979 saya sudah berumah tangga dan punya anak satu. Waktu itu saya buka dagangan di rumah dengan seorang teman pengusaha batik. Tiba-tiba seorang teman saya datang meminta foto saya. Saya enggak tahu kalau foto itu bakal di berikan ke sutradara film yang lagi suting di bandung.  Mereka sedang bikin film "Guna Guna Istri Muda" dan sutradaranya BZ Kadaryono . Mereka sedang mencari pemain katanya sudah dua minggu tapi belum juga ketemu. Saya datang kerumah teman tersebut. Tapi dirumah itu ternyata sudah menunggu BZ Kadaryono. Waktu itu bayangan saya yang namanya sutradara itu gemerlapan lho. Ternyata biasa saja, saya lalu ditest. Saya mau karena ingin cepat pulang dan mendapatkan foto saya yang dibawa teman tersebut. Eh, ternyata malah saya lulus. Mulanya sih saya menolak, tapi akhirnya saya kalah dengan rayuan BZ Kadaryono. Di film itulah saya langsung dapat peran utama dan langsung antagonis . 

Lantas ganti nama?

Tidak, tapi BZ Kadaryono yang menggantinya. Nama saya yang asli adalah NUNUNG FARIDA, BZ kemudian menggantinya dengan Farida Regina. Tapi saya kok kurang sreg dengan nama itu, lalu saya ganti sendiri dengan Farida Pasha. Nama Pasha itu sendiri saya ambil dari nama keluarga saya. Soalnya saya kan blasteran Sunda Pakistan. Tapi saya enggak percaya lho kalau nama bisa memberi keberuntngan pada pemakainya. 

Pernah Menolak Peran yang Di berikan?

Pernah beberapa kali. Misalnya ketika saya ditawari peran dalam film "Bibir Bibir Bergincu" Saya menolak peran di film itu hanya karena ada adegan yang meminta saya membuang BH. Saya menolak peran itu karena saya percaya penonton kita sudah pintar pintar kok. 

Sejak 79, sampai sekarang pengalaman apa yang di dapatkan dari bermain film?

Banyak sekali. Paling tidak buat pribadi saya. Selain pergaulan, saya banyak melihat orang-orang film pun banyak yang masih berpegang pada keteguhan imannya. Aedy Moward almarhum misalnya. Dia tidak pernah meninggalkan sholatnya sekalipun waktu suting. Ini pelajaran baik buat saya. Bagi saya sendiri main film adalah main film. Setelah suting selesai, semuanya selesai. Saya kembali sebagai manusia biasa. Saya memang selalu berusaha untuk menjadi artis waktu suting saja. Kalau di rumah atau waktu tidak suting, saya tetap ibu rumahtangga. 

Pernah merasa di ganggu waktu memerankan tokoh dalam film horor?

Sampai sekarang mudah-mudahan tidak. Tapi sebagai muslim kita harus percaya pada yang gaib. Bahwa setan itu ada. Memang sayang sering dengar bahwa ada orang yang kesurupan waktu sedang suting. Tapi saya pikir itu karena dia sedang kosong jiwanya. Saya sendiri saban suting selalu baca ayat ayat. berdoa. Saya baca ayat apa saja yagn saya ingat agar saya tidak diganggu. Malah waktu ikut dalam film "Panasnya Selimut malam" saya terus menerus berdoa. Minta ampun sama Allah. Soalnya di film itu saya kebagian peran sebagai orang yang minta tolong pada setan. Itu kan syirik jadinya, bagi saya kalau kita yakin pada kekuasaan Allah dan niat kita baik, saya yakin tidak akan terjadi apa-apa. 


~MF086/54/Tahun VI, 14-27 Okt 1989

SUTING MISTERI DARI GUNUNG MERAPI

 


LOKASI SUTING MISTERI DARI GUNUNG MERAPI, Lampu lampu sudah dinyalakan, pemain juga sudah bersiap-siap untuk pengambilan gambar. Malam hari yang tanpa purnama di suaka alam Pangandaran itu, Sutradara Liliek Sudjio akan mengambil adegan fight antara Sembara (Fendy Pradana) dengan anak buah Raisman (Asrul Zulmi). Adegan baru berjalan beberapa saat ketika Liliek selesai berteriak "Kamera action," seorang pemain tiba-tiba saja keluar dari kamera dan melopat-lompat kesakitan. "Cut"! teriak Liliek melihat tingkah pemainnya. 

Orang-orang saling berpandangan. Ada apa? "Gerakan itu tak ada dalam latihan kan?", tanya Liliek pada sang pemain. Sambil terus meringis sang pemain tetap tak menjawab. Setelah di selidiki, sang pemai yang meringis bukan karena Fendy terlalu keras memukul musuhnya, tapi , nah ini pemain tersebut rupanya menginjak pecahan botol dan luka. 

Loho kok bisa ada kaca di lokasi tersebut? setelah tanya sana tanya sini, ternyata seorang bule yang teler (mabuk) memecahkan botol di lokasi itu. Dan Liliek cuma bisa geleng kepala. 

Kejadian kecil itu adalah bagian dari pernik-pernik suting "Misteri Dari Gunung Merapi", di Pangandaran, jawa Barat. Suting yang direncanakan memakan waktu selama 15 hari di lokasi tersebut memang kerap terganggu bukan cuma oleh tingkah polah monyet beneran yang usil, tapi juga oleh ledakan pengunjung yang menyaksikan suting dan sulit di terbitkan. Dan memang beberapa kali suting ditunda dari jadwal yang direncanakan hanya karena repotnya ngatur pengunjung yang ingin menyaksikan cara membuat film. 

"Saya cuma ingin melihat bintang filmnya saja kok. Bukan mau tahu bagaimana bikin film. Saya sudah tahu. Pangandaran kan sudah sering di jadikan tempat bikin film," kata Yati, salah seoran gpenduduk pangandaran. Dan motivasi seperti itu nyatanya tak cuma ada dalam diri Yati, tapi hampir semua pengunjung yang berjubel "Pengin lihat dari dekat wajah Iasha", Kata Nano, penduduk Tasik Jawa Barat yagn mengaku sengaja datang ke Pangandaran untuk santai sekaligus bertemu Ida Iasha. 

Namun masyarakat yang berjubel itu nyaris tak perduli dengan kepentingan para pembuat film. "Padahal ranting pohon patah saja di Pangandaran ini, kita diharuskan bayar ganti rugi," tutur Sindhudarma Pimpinan produksi film "Misteri Dari Gunung Merapi". Tak cuma itu beberapa kru juga sering mengombel karena tiba-tiba saja kabel lampu terseret kaki pengunjung yang hilir mudik. "Tapi kit akan tak bisa mengusir mereka?" keluh kru yang lain. 

Film yang katanya menghabiskan biaya Rp. 1 Milyar ini selain di Pangandaran juga melakukan suting di Jakarta, Bogor, Tegal, Solo dan Semarang. Tapi memang saban suting di tempat tersebut kami di serbu penonton. Yang pingin kenal lah, yang minta tanda tanganlah, Tapi kita mau bilang apa? Ya, terpaksa kita layani, Kalau nggak nanti dibilang sombong", tutur Farida Pasha yang berperan sebagai Mak Lampir. 

Di Pangandaran sendiri menurut Liliek, Suting film ini selain untuk pengambilan panorama asli cerita juga  alamnya sesuai dengan tuntutan cerita juga mengambil beberapa adegan fight dan special effectnya. 

Tapi kenapa harus di banyak lokasi? Adalah Liliek Sudjio yang kemudian menjawab "Kalau mengambil secara murni dari sandiwara radionya, mestinya lokasi dan cerita film ini terjadi di Sumatera. Tapi saya tidak mau menimbulkan imej film ini dbuat hanya untuk masyarakan Sumatera. Saya ingin menjadikan film ini film untuk semua masyarakat Indonesia, dengan wawasan nusantara," katanya. "Dan itulah alasan mengapa mengambil lokasi di banyak daerah, " tambahnya. 


~MF086/54/Tahun VI, 14-27 Okt 1989

SI GOBANG, DAUD SUMADINATA SEBELUM BERGANTI ERICK.

 


SI GOBANG, DAUD SUMADINATA SEBELUM BERGANTI ERICK. 

Ini sebuah film yang diangkat dari cerita yang berlatar belakang kehidupan masyarakat Betawi tempo dulu. Cerita ini pernah dimuat di harian Pos Kota karya Hadi Noor, dengan skenario di tulis oleh Cut Djalil. Film ini di sutradarai oleh Atok Suharto. Suting di daerah Tangerang Jawa Barat (sekarang Banten), dimulai pertengahan Desember 1988, yang selesai sekitar 40 hari suting. 

Gobang (Daud Sumadinata) yang telah berubah jadi pemuda yang saleh, karena diusir oleh ayahnya Haji Madun, kembali ke kampung halaman. Namun semuanya telah berubah. Kehadiran Gobang telah membuat marah Jufri (Advent Bangun). Jufri menuduh Gobang membunuh Bek Madi (Jack Maland). Juragan Naning menugaskan Jabrik menangkap Gobang tapi kedatangan Haji Somad (Him Damsyik), guru Silat Gobang dan Jabrik berhasil mendamaikan keduanya. 

Pemain-pemain lain yang mendukung film ini adalah Yurike Prastica sebagai Nio, Doddy Wijaya sebagai Haji Solihun, Lina Budiarti sebagai Empok Hindun, Bram Adrianto sebagai Mandor. Para pekerja lain yang mendukung film ini adalah Suryo Susanto sebagai juru kamera, Henry Winarto penata artistik, Ermis Tahir editor. "Si Gobang" di produksi PT. Virgo Putra Film dengan produser Ferry Angriawan, pimpinan produksi Beslah. 

"Sebagaimana film-film silat pada umumnya , dalam film saya ini membicarakan tentang kebaikan yang mengalahkan kejahatan, kata Atok yang sebelum menyutradarai film ini telah membuat Putri Duyung, Langganan, Bukit Berdarah, Perempuan Malam, Putri Kuntilanak, dan Si Doi. 


~MF 066/34/Tahun V/7-20 Januari 1989

NIKE ASTRINA, DARI NYANYI KE FILM

 


NIKE ASTRINA, DARI NYANYI KE FILM. Tidak Kecil, bukan anak-anak lagi. Sudah belia, cantik, jangkung, semampai, rambut panjang, terurai dan sederhana. Demikian sosok artis penyanyi dari Bandung yang lagi meniti karir dalam dunia film. Penampilannya, sepintas memang seperti pendiam. Padahal jika sudah akrab, ia keluarkan aslinya sebagai periang, supel dan ramah. Itulah Nike Ratnadilla alias NIKE ASTRINA. Putri bungsu dari tiga saudara keluarga R.E Kusnadi, karyawan Pusdiklan PJKA Bandung. 

Nike Ratnadilla lahir di Bandung, pada 27-12-1975. Pelajar SMP Negeri 30 Bandung, tinggi 160 ini berat tidak tahu (soalnya Nike takut ditimbang badan). Warna kulit yang kuning langsat tada bule, punya latar cerita, konon tatkala "Nike" masih dalam kandungan sang ibu, sang ayah sempat mengIslamkan bule dari Australia. Ada-ada saja, Nike, nike!.

Ada lagi sebuah cerita ihwal Nike, syahdan, tatkala suting film "Kasmaran" yang berlangsung di Bandung, sutradara Slamet Rahardjo Djarot sempat pusing setengah keliling. Apa pasalnya? Slamet beserta balanya kesulitan mencari pemeran adik Ida Iasha dalam film yang digarapnya. 

Kesulitan Slamet Rahardjo segera pupus ketika penulis MF menyodorkan foto Nike Ratnadilla dan bertutur ihwal apa dan siapa gadis belia yang rada bule itu. Setelah ditatap dan ditilik, ternyata sosok Nike pas untuk peran yang dimaksud. Maka, Nike pun di koling dan besoknya langsung suting. 

Dalam film "Kasmaran" itu, biarin porsi Nike cuma sebagai pemeran pembantu, tetapi aktingnya tidak mengecewakan, Bahkan Slamet Rahardjo sempat berkomentar, "Gadis yang cantik ini miliki bakat untuk jadi bintang film, lain kali jika memang ada casting untuknya, saya bakal orbitkan Nike, " katanya. 

Tatkala berlangsung acara final "Lomba Calon Bintang 1988" yang diselenggarakan PARFI cabang Jawa Barat bekerjasama dengan Majalah Film, di hotel Homann Bandung, Nike sempat bertlalala melantunkan dua lagu. 

~MF