Thursday, January 8, 2026

TANAKA, DARI AKTOR ANTAGONIS KE SUTRADARA


 TANAKA, DARI AKTOR ANTAGONIS KE SUTRADARA , Lebih dari 70an film yang dilakoni, tak satupun judul menempatkannya sebagai peran utama. Tanaka selalu tampil jadi tokoh antagonis, bulan-bulanan tokoh jagoan. Dan itu sudah seperti jadi merek bagi aktor kekar ini. Seperti dalam film Rio Sang Juara, ia tampil sebagai petinju brutal asal Korea, berhadapan dengan Rio yang di perankan Willy Dozan. Hanya Tanaka yang bisa memerankan tokoh petinju brutal itu. "Gigi saya sempat rontok dan jidat luka beneran," katanya. 

Tanaka memang selalu dapat peran pembantu, bahkan sampai beberapa tahun hanya jadi figuran. Tapi karena dia punya bekal ilmu bela diri yang cukup, ia kerap di perbantukan mendampingi instructure fighting dan jadi stuntman. Tanaka belajar Silat lebih 6 tahun. Karate selama 2 tahun. Baru menyandang sabuk Coklat, beralih perhatian ke Kung Fu selama 3 tahun. Tiga aliran itu digabungkannya sebagai bekal untuk menghadapi  lawan main di film. Kemudian Tanaka salah seorang bintang antagonis yagn selalu memperoleh caci maki penonton. 

Meski tidak pernah dipercaya jadi bintang utama, Tanaka mampu menyutradarai sinetron laga "Jacky" tayangan SCTV. "Saya sendiri tak menduga bakal ditawari menggarap sinetron Jacky. Namun karena direncanakan jauh-jauh hari, saya bisa mempersiapkan diri. Saya tidak belajar khusus, cukup menggabungkan pengalaman ketika jadi figuran, stuntman, editing dan ilmu bela diri," kata Tanaka yang pernah meraih prestasi Juara I se DKI pada kejuaraan Silat tahun 1979 ini. Mantan murid Robert Santoso, seorang instructur fighting handal ini mulai debut perdananya di layar perak lewat Bulan Madu produksi tahun 1977 dengan bintang George Rudy. 

Bersama Avent Christy, Tanaka dapat peran pembantu utama dalam film laga, Laki-laki Sejati. Disitu porsi saya cukup lumayan, tapi babak belurnya juga lumayan. Bahkan kepala saya hampir pecah ketika jatuh dari ketinggian 3 meter. Kalau keseleo atau bengkak kaki , sudah langganan, " tuturnya. 

Aktor laga pengarah kelahi dan sutradara sinetron ini tidak pernah berkecil hati. "Saya sadar diri, kenapa tidak diberi peran utama. Saya cukup puas dengan peran-peran pembantu dan stuntman, karena bisa melakukan yang tidak bisa dilakukan pemain lain," ujar pria yang sehari-hari napak santun ini. Ia menikah tahun 1981 dengan suliatawy wanita campuran Manado Jawa. 

Putra pertama keluarga Willy dengan Maryam yagn lahir di Jakarta, 25 Desember 1958 ini punya masa lalu yang keras. Sebelum ikutan main film laga, Tanaka sempat jadi sopier pengantar oli. "Hari-hari saya habis di jalanan," katanya mengenang.

Sekarang, lewat sinetron Jacky Tanaka memulai babak baru sebagai sutradara khusus sinetron laga yang juga banyak mengekspose kehidupan jalanan. "Saya mau lihat hasilnya. Jika diterima masyarakat, saya akan benar-benar menekuni dunia penyutradaraan yang lebih serius lagi. Dunia film sudah nggak bisa di harapkan oleh pemain seperti saya", tukas aktor antagonis yang pernah jadi bintang iklan Salonpas ini. 

Lebih jauh, sebelum terjun ke dunia film-film laga, Tanaka menekuni ilmu bela diri di perguruan "Dua Belas Naga" pimpinan Robert Santoso yang menggabungkan tiga aliran yaitu Silat, Karate dan Kung Fu. Salah satu yang mendorong Tanaka terjun kedunia film laga adalah karena ia hobi sekali nonton film-film eksyen, terutama yang dibintangi Bruce Lee. Setiap kali habis nonton, Tanaka merasa roh bintangnya masuk ke raganya. Dan secara kebetulan, Robert Santoso waktu itu juga sudah aktif di dunia film sebagai stuntman dan instructure fighting. Akahirnya ia diajak main film Bulan Madu di Bandung tahun 1977.

"Ketika berlatih di perguruan Dua Belas Naga, Robert Santoso belum memiliki asisten pelatih, karena belum ada yang sanggup, dan satu-satunya yang menonjol adalah saya" kata Tanaka. Saya termasuk cepat menguasai pelajaran-pelajaran yang diberikannya. Suatu ketika Robert memberikan kepercayaan kepada saya untuk jadi asistennya. Mungkin dari keseriusan saya itulah dia berani mengajak saya untuk ikut main film laga. Katanya orang seperti saya tak kenal takut untuk melakukan adegan-adegan berbahaya. Dan itu memang saya akui," ungkapnya. Demikian seperti di kutip dari artikel berjudul Tanaka, Menunggu Reaksi Masyarakat dalam MF no. 256/222/XII/6-19 April 1996

Wednesday, January 7, 2026

HANTU SOK USIL, KOMENDI HANTU-HANTU KOCAK


 HANTU SOK USIL, KOMENDI HANTU-HANTU KOCAK, Masih ingat pada sinetron serial Moody Juragan Kost? Dalam serial komedi itu Pak Tile bermain sebagai hantu tua bangka yang genit dan gemar mengganggu gadis-gadis penghuni rumah kost seperti Nurul Arifin, Diah Pertamatasari, Kiki Fatmala dan Iyut Bing Slamet. Setelah serial tersebut berakhir, PT. Soraya Intercine Films membuat serial komedi Hantu Sok Usil dengan penggantian sutradara dari Atok Suharto ke Agusti Tanjung. 

Absennya Pak Tile digantukan oleh pelawak-pelawak Ogut dan Kimung berhadapan dengan Nurul Arifin, Iyut dan urike Prastica. Diramaikan oleh Rina Hassim, Nasir dan Rika Roy Callebout. 

Di ceritakan Pak Ucok membawa istri dan ketiga anak gadisnya, Lolo, Lulu dan Lili serta pembantunya Legiyem dan sopir Parto pindah ke rumah baru. Konon gedung mentereng itu dihuni oleh makhluk-makhluk halus hingga dijual dengan harga murah. Pak Ucok sama sekali tak percaya adanya hantu malah sesumbar bisa menaklukan hantu. 

Padahal, sungguh-sunguh ada hantu di situ, yakni hantu Ogut, pemilik lama rumah tersebut bersama hantu putranya Boy, Dulu Boy tewas karena ekstasi saking shock, Ogut yang jantungan ikut meninggal. 

Melihat masuknya penghuni baru, hantu Ogut dan Boy mulai membuat ulah mempermainkan keluarga Pak Ucok habis-habisan. Tapi kemudian Boy yang bisa menjelma menjadi manusia berpacaran dengan Lili. Sedangkan Ogut berkencan dengan Legiyem di dapur. 

Ceritanya berkembang dari bermusuhan, Ogut dan Boy berbalik membantu berbagai masalah yang dihadapi keluarga Pak Ucok. Termasu ketika Lolo hendak dilamar oleh pengusaha tua bangka, Oom Pingo, Ogut mengacau, hingga bukan saja lamaran si Oom di tolak bahkan ia dihajar babak belur. 

Pengalaman Lulu lain lagi, ia diincar Jin Bandot yang bisa menjelma sebagai pengusaha . Memang Pak Ucok nyaris tertipu dan menerimanya menjadi menantu. Untung ada Ogut yag membuka rahasia siapa sebenarnya Jin Bandot. 

Bermunculan banyak hantu-hantu lain, baik yang palsu maupun yang asli, mulai dari sepasang drakula, sundelbolong, jin samurai, hantu genit, hantu penasaran, hantu gagu, tengkorak hidup sampai dukun internet dan lain-lainl. Cerita yang kocak dikemas dengan kreasi special effect canggih yang cukup menakjubkan. 

Produksi : Soraya Intercine

Produser : Ram Soraya

Produser Pelaksana : Jauhari Ardiwinata

Sutradara ; Agusti Tanjung

Pemain : Nurul Arifin, Iyut Bing Slamet, Rina Hassim, Yurike Prastica, Rika Roy Callebou, Nasiir, Kimung dan Ogut. 

DOLLY MARTIN

 


DOLLY MARTIN, AWAL MASUK AKTING. Nasib memang sulit di tebak. Setidaknya hal itu berlaku bagi lelaki kelahiran Jember, 8 Maret 1961 ini . Dolly Martin usai menamatkan SMA-nya di tahun 1979, meninggalkan kampung halamannya untuk test jadi Akabri di Jakarta. Tapi cita-cita itu kandas. Ia gagal masuk Akabri. Dalam kebingungan antara balik ke kampung dengan mencari kerja lain, tak disangka muncullah Frank Rorimpandey, sutradara ini kemudian memintanya ikut main film "Selamat Tinggal Masa Remaja" meskipun cuma figuran. 

"Itu masih tahun 1979. Yah daripada nganggur, saya mau saja. Hitung-hitung mengembangkan rasa ingin tahu saya. Soalnya sejak kecil saya sudah senang nonton film dan berakting", ujar anak ke 8 dari 9 bersaudara ini. Dolly yang main terbarunya di film "Kamus Cinta Sang Primadona" mengaku tidak pernah membayangkan bakal jadi pemain film. Anak pasangan pak Umar dan Ibu Tien ini malah bukan dari sekolah film. "Saya main film dari alam. Bukan dari akademis. Ya paling-paling ikut kursus akting yang diadakan Parfi," tuturnya. 

Biar begitu, sejak tahun 1979 Dolly sudah ikut membintangi sekitar 15 judul film (Sampai th 1988). Dari yang cuma peran kecil sampai peran utama sudah ia rasakan. "Pokoknya saya mulai yakin bahwa di filmlah jalan hidup saya. Untuk itu saya ingin jadi aktor hebat. Tapi memang sekarang ini saya masih dalam proses mencari, " jelas Dolly yang filmnya antara lain "Bibir Bibir Bergincu", "Gerhana", "Putri Kuntilanak",  "Gadis Penakluk" "Untuk Sebuah Nama", "Kenikmatan Ranjang Semua Orang", "Pacar Pertama", "Pencuri Cinta", "Kamus Cinta Sang Primadona", dan lain-lain. 

Pengalaman pertama main film, Dolly mengaku grogi. "Saya gemetaran waktu pertama kali di sut. Tapi sekarang sudah enggak kok. Sudah biasa. Untuk berakting itu, Dolly memang tidak masuk sanggar atau sekolah khusus film. "Saya cuma membaca buku-buku, konsultasi dengan para senior dan belajar dari kehidupan sehari-hari", tambahnya. 

Selain itu, untuk selalu tampil lebih baik, Dolly pun selalu menjaga tubuhnya. "Saya setiap hari melakukan jogging. Lari lari di sekitar rumah saja," kata bintang film yang mengaku cuma terima bayaran 1,5 juta rupiah saat main film Kamus Cinta Sang Primadona. Film itu sendiri menurutnya biasa-biasa saja. "Cuma untuk hiburan aja kok", tutur bintang yang baru terima bayaran tertinggi 2 juta rupiah untuk sebuah film. 


~MF 063/31/Tahun V 26 Nov-9 Des 1988

Tuesday, January 6, 2026

KIKI SANDRA AMELIA, BINTANG ANAK ANAK YANG SUDAH GEDE

 


KIKI SANDRA AMELIA, BINTANG ANAK ANAK YANG SUDAH GEDE. (kisah lawas) Apa kabar Kiki Sandra Amelia? Pada usia 2,5 tahun dia sudah nampang di layar TV dan bioskop. Malah ketika berumur 6 tahun dia menerima penghargaan tertinggi dari dunia film sebagai pemeran Anak-Anak Terbaik FFI 1981 di Surabaya. Ia meraih Piala Gubernur Surabaya pada FFI 1981. Tahun itu juga, dia muncul sebagai juara I lomba baca puisi tingkat TK se DKI. Namun diusia 13 tahun dengan tinggi 158 cm dan berat 43 kg, lampu kamera justru tak pernah lagi menyorot kepadanya. Itulah Kiki Sandra Amelia, anak semata wayang pasangan Pipiet Sandra dan KM Bey Erry. 

Kiki Pertama kali terlibat dalam dunia film tahun 1977. Mulanya main di TVRI Jakarta bersama grup Ratu Asia, waktu itu umur Kiki masih 2,5 tahun. Jadi masih bayi," katanya.  Menurut Kiki sampai kini (1988) dia sudah ikut main dalam ratusan sandiwara TV, dua sandiwara panggung dan 11 judul film. 

Menurut Kiki yang bercita-cita ingin jadi insinyur Pertanian dia sudah tidak ingat lagi judul-judul sinetron TV yang pernah ikut dibintanginya. "Waktu itu masih kecil sih. Tapi kalau untuk film, Kiki main pertama kali dalam film "Rosita" Waktu itu tahun 1977," jelasnya. 

Setelah Rosita, Kiki yang semaja remajanya aktif di Karang Taruna kelurahan ini berturut-turut membintangi film "Nasib Si Miskin", "Nakalnya Anak Anak", di film ini Kiki mendapat penghargaan sebagai pemain cilik terbaik FFI 1981, kemudian film "Jangan Sakiti Hatinya", Tiga Dara Mencari Cinta", "Buaya Putih", "Usia 18, "Perempuan Dalam Pasungan" dan yang terakhir adalah "Neraca Kasih" dan album rekaman dengan judul "Singkatan". Sejak itu Kiki enggak pernah lagi main film maupun rekaman. Padahal Kiki masih kepingin lho," tambahnya. 

Ketika disinggung masalah honor yang diterimanya setiap main film, Kiki cuma angkat bahu, " semuanya ibu yang ngatur sih, ".Kiki Taunya cuma main , ibu juga enggak pernahnyebut jumlahnya. Paling-paling kalau udah siap main film atau nyanyi ibu cuma nanya, kamu mau beli baju atau enggak? tuturnya. 

~MF 51/19 Tahun IV, 11-24 Juni 1988


Monday, January 5, 2026

SINETRON JANDA KEMBANG, PEMBALASAN ROH PENASARAN


 SINETRON JANDA KEMBANG, PEMBALASAN ROH PENASARAN. SALLY MARCELLINA yang tersohor sebagai bomseks alias bintang hot lewat film-film bioskop, mulai dari Gadis Metropolis sampai Akibat Hamil Muda, kemudian terjun juga ke dunia sinetron sebagai bintang utama sinetron serial drama horror JANDA KEMBANG. 

Sebelumnya memang Sally sudah sering membintangi film horror dengan judul yang nyaris serupa, Misteri Janda Kembang arahan Tjut Djalil, 1991, dan Kembalinya Si janda Kembang arahan Sisworo Gautama Putra - 1992, disusul film horor erotis seperti Misteri Wanita Berdarah Dingin, Godaan Perempuan Halus, Ranjang Pemikat dan lain-lainnya, boleh dibilang Sally menggantikan Suzanna sebagai bintang spesialis film sejenis yang banyak di produksi PT. Soraya Intercine Film. 

Tapi Sally pun beralih ke blantika sinetron. Sebetulnya ini bukan sinetron perdananya, karena awal kariernya di dunia seni peran pun berawal dari serial Teve  ACI (Aku Cinta Indonesia) yang ditayangkan TVRI sebelum era teve swasta merebak. 

Serial produksi Soraya dari TV Program Division ini diangkt dari cerita horor karya Abdullah Harahap. Di garap Atok Suharto yang memamerkan banyak kreasi special effect menarik, jauh lebih berkembang dari Si manis Jembatan Ancol. 

Cerita di awali dengan pengenalan para tokoh Santi, Janda muda yang jadi rebutan lelaki di desanya. Santi menjatuhkan pilihan pada Rukman, pengusaha muda dari kota. baru belakangan diketahui kalau ia sudah punya anak istri. Padahal santi terlanjur hamil karena hubungan mesra diluar batas. Rukman membujuk Santi untuk melangsungkan perkawinan secara diam-diam . Ternyata di bungalow terpencil, Santi dihabisi oleh teman-teman Rukman. Mayatnya di buang ke sebuah jurang di kawasan perkebunan. 

Justru di dasar jurang terjadi keajaiban. Roh penasaran Santi betemu roh Mira, dukun wanita yang mayatnya di buang di tempat yang sama. Merasa senasib roh Mira bersedia membantu roh Santi untuk membalas dendam. Maka satu persatu teman-teman Rukman menemui kematian secara mengerikan. 

Sampai saat Roh Santi menteror Rukman di rumahnya, barulah ia melihat Sumarni, istri Rukman yang bidiwati. Memang usia Sumarni jauh lebih tua dari Rukman, namun perusahaan yang dikelola RUkman sebenarnya adalah miliknya. Pengkhianatan Rukman pada istrinya berlipat ganda karena ia juga mengincar anak tirinya, Setyorini. 

Teror Roh Santi mengakibatkan Sumarni sakit jantung dan mesti dirawat di Rumah Sakit. Roh Santi yang merasa bersalah minta bantuan roh Mira untuk menyembuhkan Sumarni. 

Nasihat dokter untuk menjauhkan Sumarni dari hal-hal yang mengejutkan, malah mendatangkan ide bagi Rukman. Bersama konconya, Hendra ia menakut-nakuti istrinya dengan hantu-hantuan. Di luar dugaan muncul roh Santi dan roh Mira. Saking panik, Hendra terbu nuh oleh Rukman. Menyusul Rukman pun menembak kepalanya sendiri. Sakit hati Santi terbalas sudah. Namun cerita masih jauh dari berakhir, karena muncul dukun trendi, Empu Batara yang dipanggil Sumarni untuk mengamankan rumahnya dari teror hantu. 

Empu inilah yang dulu mencundangi dan mendalangi pembu nuhan Mira dengan ilma setannya yang luar biasa. Pengusutan Santi membuka tabir persekongkolan antara Batara dengan Eddi, suami Mira sendiri. Kini Batara menyiapkan rencana besar, menanti kelahiran seorang bayi yang disebut Sang Penerus. bayi itu berada dalam rahim Farida, isteri kedua Eddi. Ambisi jahat mereka nyaris terwujud kalau saja tak muncul roh Santi dan roh Mira yang dibantu para penghuni alam gaib menentang kekuasaan jahat majikan Batara dan Eddi yakni setan itu sendiri. 

Serial sinetron dibuat sepanjang 26 episode dan ditayangkan oleh SCTV. 

Produksi : Soraya Intercine

Produser : RAM Soraya

Sutradara : Atok Suharto

Pemain : Sally Marcellina, Rica Roy Callebout, Andi J Madjid, Irfan Yudha, Andre Bjenk 


SINETRON SEBERKAS SINAR


 SINETRON SEBERKAS SINAR, Lagu SEBERKAS SINAR , tembang manis dan mendayu-dayu yang di lantunkan almarhumah Nike Ardilla, setiap Rabu Malam sejak April 1997 lalu kembali bergema di AN-teve. Bukan saja para Nike Mania yang gembira dan menyambutnya, tetapi juga Firman Bintang, prodser Anugerah Damai Sejahtera (ADS) Production. Pasalnya sinetron yang diilhami dari lagu Deddy Dores dan dilantunkan Nike setelah tertunda penayangannya beberapa lama akhirnya ditayangkan juga. 

Seberkas sinar adalah sinetron perdana griya produksi ADS yang di kelolah Firman Bintang bersama Djadjat Sayoeti, sekaligus memberi 'pelajaran' berharga bagi Firman, "Memproduksi sinetron, nyatanya berbeda dengan memproduksi film layar lebar. Banyak hal yang tidak kami alami dalam produski film layar lebar, harus kami alami dalam produksi sinetron. Ketika memproduksi, kami tidak memperhitungkan faktor-faktor tertentu. Termasuk bargaining position dengan pengelola stasiun penyiaran, " papar Firman Bintang. 

Menurutnya, mengangkat lagu-lagu Nike Ardilla menjadi sinetron, seperti Seberkas Sinar itu, tidak muncul dan untuk "membarengi" kepergian Nike. "Kami sudah merencanakan sejak Nike masih hidup. Malah atas usulan dan saran teman-teman wartawan, sinetron itu pas jika di mainkan oleh Nike. Pembicaraan secara lisan kearah itu sudah kami lakukan. Tapi takdir menentukan lain. Kalaupun kami meneruskan dengan pemeran lain, itu sebagai penghormatan kami atas dedikasi Nike dalam peta musik dan film nasional, " Papar Firman Bintang. 

Sinetron dengan bintang pendukung Mira Asmara, Alan Nuari, Adipura, Ully Artha, Rizki Teo, Rachman Yacob, Nenny Triana, Stanley Worotikan serta sejumlah pendatang anyar lainnya itu sendiri berkisah tentang seorang anak yang kehilangan kasih sayang ibunya hingga ia terjerumus kedalam kehidupan yang nista. Mita (Mira Asmara) merasa tertekan batinnya karena ibunya yang selama ini ia banggakan, ternyata seorang wanita penghibur. Mita memprotes keras profesi ibunya itu, sehingga ia memilih hidupnya sendiri tanpa berdampingan dengan ibunya. 

Namun hidup tidaklah semudah yang di bayangkan. Karena tuntutan keadaan dalam perjalanan waktu, Mita akhirnya terjerumus dalam kehidupan malam. Ia terperosok ke dalam jurang profesi yang pernah di benci dan membuatnya kabur dari rumah menjadi wanita penghibur. 

Di kisahnya juga, bagaimana Mita berhenti menjadi wanita penghibur dan menjadi istri Herman (Adipura). Namun ketika usia kandungannya memasuki tujuh bulan, suami yang dicintainya itu meninggal dunia. Dalam keadaan kalut dan tidak tahu yang harus di perbuat, Sarah (Rizky Teo) dan Roni (Alan Nuari) membujuknya untuk melakukan pekerjaan lama. 

Seberkas Sinar barangkali ingin menguras air mata sekaligus ingin mempermainkan keingintahuan pemirsa atas nasib Lestari, anak Mita dari perkawinannya dengan Herman. Jawaban atas teka teki itu terjawab di akhir cerita ketika Mita terbaring dan dirumah sakit menjelang ajal menjemputnya. 

Menurut Firman juga, empati masyarakat atas sinetron tersebut banyak diterima dari masyarakat, khusunya para Nike Mania. Untuk itu dalam waktu dekat pihaknya akan kembali mengangkat lagu-lagu yang pernah dinyanyikan Nike seperti Bintang Kehidupan ke layar Kaca. "Deddy Dores mendukung rencana tersebut, " akunya. 


~MF 285/251/XIII/17-30 Mei 1997

LAUREEN SAHERTIAN


 LAUREEN SAHERTIAN! ada yang ingat sosok ini? (berita lawas). Cewek mana yang nggak kesengsem melihat tampang cowok ganteng, jantan dan sorot matanya hangat? Kiranya logis bila Ria Hapsari pun terseret perasaan demikian. Maka tak pelak Ria pasang ancang-ancang. Ia segera beraksi dengan ulah untuk menarik perhatian. Malah Ria memberi alamat rumah di secarik kertas kepada cowok tersebut. Harapannya, tentu suatu saat cowok yang tiba-tiba jadi pujaannya itu bertandang kerumahnya. Eh, nggak taunya yang datang justru John Towel bukan Reo Reseh yang sangat di harap itu. Ria kecewa dan males meladeni John. 

"Tentu, siapa pun, males ngeladenin cowok yang nggak disenengin, " ungkap laureen Sahertian yang berperan sebagai Ria Hapsari dalam film "Elegi Buat Nana" yang di sutradarai oleh Achiel Nasrun. "Tau nggak, Reo Reseh itu kan di mainkan oleh Ryan Hidayat," kata Laureen di rumahnya di kawasan Tanah Abang Jakarta Pusat. Selain Ryan film tersebut dibintangi Ria Irawan, Gito Gilas, Adreas Pancarian dan sebagainya. 

Laureen Sahertian putri ketiga dari empat bersaudara ini telah menapaki dunia film sejak tahun 1984. Ia, pertama kali main dalam "Film dan Peristiwa", dilanjutkan dengan "Romantika, Galau Remaja di SMA", "Merpati Tak Pernah Ingkar Janji". "Memburu Makelar Mayat", "Pesona Natalia" dan "Jakarta 66". Menurut pengakuannya, sebelum di film, Alien panggilan akrabnya sudah terjun ke dunia tarik suara. berbekal ilmu Bina Vokalianya Pranajaya, ia merenggut Juara Harapan Perlombaan Vokal se DKI 1984. Dan beberapa kali turut mengisi acara, misalnya "Dari Masa Ke Masa" serta bersama grup Mayapada bermain drama remaja TVRI. 

Nona Manise berkulit putih ini lahir di Jakarta 22 April 1966 dari pasangan PJ Sahertian (Indo - Ambon Belanda). "Darah seni saya dapatkan dari papa. Ia sering nyanyi di RRI, dulu. Namun papa telah tiada. Ia meninggal tahun 1983. Walau begitu semangat berkeseniannya masih tetap menyala, " ujar Alien bersama kakak dan adiknya berusaha meneruskan semangat itu. 

Kendati begitu, Alien ragu terhadap kemampuan dirinya. Sudah pas atau belum di dunia seni, atau tetap mencoba  profesi lain yang lebih menghasilkan kepuasan dan materi. "Saya akui, saya memang masih labil. Pemilihan profesi kan berkaitan dengan masa depan. Makanya, sementara ini saya masih mencoba kemampuan di profesi dunia seni atau kerja di kantoran. Suatu saat saya harus menetapkan suatu profesi, bila kestabilan telah terasa" tuturnya. Dan alien yang pernah bekerja sebagai Costumer service dan sekretaris itu, kini mendalami ilmu sekretaris di Interstudy. 

Laureen yang punya favorit warna biru dan senang pada permainan Al Pacino dan Stalon, mengatakan bahwa film-film yang dibintanginya itu pernah ditonton lagi walau sudah rampung. "Saya cukup melihat ketika dubbing saja. Setelah itu, paling-paling saya dengerin kritik dari keluarga atau teman-teman. Ungkapnya. 


Saturday, January 3, 2026

MURTI SARI DEWI, TAKUT DITUDUH MURAHAN

 


MURTI SARI DEWI, TAKUT DITUDUH MURAHAN, Sejak kali pertama menginjakkan kaki di Jakarta dan sekaligus terpilih sebagai pemeran Lasmini dalam film "Saur Sepuh" Murti Sari Dewi masih tetap diliput kebimbangan. Paling tidak mengingat iklim perfilman yang cenderung mengeksploitasi bagian-bagian tubuh wanita yang tergolong sensitif. Misal paha, buah dada yang dirancang sedemikian rupa melalui skenario agar sang pemain tak bisa menghindar dari kenyataan itu. Misalnya saja dalam film "Catat Namaku Rintan", (Berubah judul menjadi Cinta Punya Mau) yang dibintanginya. 

Masih beruntung bagi Murti, sutradara Chris Helweldery mau mengerti tentang dirinya. Cukup dengan busana renang dan bukan bikini sesuai tuntutan skenario. Meski begitu , Murti yang berperan sebagai Rintan masih merasa kikuk. 

Pada kenyataanya, gadis hitam manis yagn dijuluki si Gingsul ini telah tiga tahun malang melintang sebagai Lasmini. Dan tampil dalam tiga episode kisah "Saur Sepuh" di bawah pengarahan sutradara Imam Tantowi. Untuk tampil sebagai Lasmini, bagi Murti ternyata tidak ada problem yang begitu mendasar. Kecuali sikap Lasmini yang agak kemayu, kata Murti.

Sedangkan dalam film Catat Namaku Rintan ia merasa ibarat gadis desa yang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan kota besar seperti Jakarta. Hidup dan pribadinya begitu kontras dengan tokoh Rintan yang diperaninya. Bukan saja lidah Jawa yang begitu kental, cukup sulit bagi Murti untuk berlakon dengan gaya Jakarta yang cuek. 

"Tapi saya tetap berusaha untuk itu. Terlebih artis-artis lainnya cukup ngemong dan mau mengarahkan murti. Apalagi Mas Chris cukup sabar dan mau mengerti kekurangan Murti," kata Murti saat suting adegan kolam renang di Kelapa Gading Sport Club Jakarta utara. 

Saat wawancara mengabadikan dirinya dengan busana renang, ia selalu berusaha menutupi bagian pahanya. "Bukan apa-apa mas, saya takut dituduh sebagai artis murahan dan buka bukaan. Ia kalau masyarakat mau mengerti, kalau nggak? untuk adegan film nggak apa apa deh, " pintanya.

Selain soal busana minim, Murti ternyata serba salah dalam menghadapi filmnya ini. Karena selain dengan busana renang yang menurutnya cukup risih, juga adegan 'ci uman" yang bakal dilakoni bersama Mathias Muchus. 

"Soalnya belum pernah sih mas, jangankan dengan pacar , lha punya saja belum", kilahnya. 


~MF 095/63/Tahun V, 17 Feb - 2 Maret 1990