Friday, December 19, 2025

MURTISARI DEWI KECELAKAAN SUTING, LUKA BAKAR DI DADA

 


MURTISARIDEWI KECELAKAAN SUTING, LUKA BAKAR DI DADA. Mengorbit lewat peran pendekar centil Lasmini dalam film "Saur Sepuh", membuat Murti Sari Dewi terus ditawari peran sebagai pendekar wanita Selasih dalam arahan Sisworo Gautama Putra dalam film "PUSAKA PENYEBAR MAUT".

"Saya memang absen dalam Saur Sepuh IV, karena ceritanya sudah melompat ke generasi berikutnya, " aku Murti yang dalam film Pusaka Penyebar Maut ini kembali dipertemukan dengan Fendy Pradana, pemeran tokoh Arya Kamandaka. 

"Yang menggembirakan, dalam film ini, scene saya berimbang dengan Suzanna yang memerankan tokoh Nyi Polok," tambah gadis Solo ini. Padahal kan Kak Suzzy sudah jadi aktris populer sejak saya masih anak-anak,".

Hal baru lainnya yang dialami Murti adalah kesempatan untuk mengisi suaranya sendiri. "Dulu-dulu suara saya selalu diisi oleh Ivonne Susan . 

Ada yang menggembirakan, sebaliknya ada juga yang mencemaskan. Terjadi pada saat adegan penyiksaan Selasi, mendadak ada kabel listrik yang menyambar ke dadanya. Percikan api kontan membakar sebagian kulit buah dada dan juga pipi Murti. Saking sakitnya, Murti menjerit sambil berjingkrak. Kru film buru-buru merubung untuk menolong. 

"Kulit dada saya gosong," keluh Murti. 

Apakah di perlukan operasi plastik untuk memulihkannya?

"Ah nggak perlu cuma pakai obat-obat tradisional yang dibalurkan agar cepat kering, " senyumnya memperlihatkan gigi gingsulnya. 

Luka gosong itu sekarang sudah sembuh, tak meninggalkan bekas lagi. Tapi tahukah Murti kalau seorang artis mengalami musibah saat suting berhak mendapatkan santunan dari perusahaan asuransi?

"Murti menggeleng. Ah sudahlah tapi kalau ada saya mau mengasuransikan wajah supaya ndak ada jerawat, hehe."

Maklum dalam usianya 19 tahun, wajah murti memang sedang subur-suburnya sebagai ladang jerawat. Justru ini yang dianggapnya bisa mengganggu kontiniti jalannya suting. 

Thursday, December 18, 2025

FITRIA ANWAR, SUKA AKTING DI KAMAR MANDI


 KISAH FITRIA ANWAR MASUK DUNIA FILM. Fitria Anwar mengaku tidak tahu apa-apa tentang film, namun justru pada usia 17 tahun ia menjadi bintang film. Padahal menurut anak ketiga dari empat bersaudara putra putri pasangan M. Andwar dan Sutini ini, disuruh tampil di depan kelas saja malunya bukan main. "Tapi memang, sejak kecil Fitri suka ngomong sendiri, enggak cuma di kamar, di WCpun ia suka berakting." kata sang ibu yang rajin mendampingi kemana saja. 

Fitri sendiri memang merasa bisa ikut main film sebagai suatu yang istimewa. "Bayangkan saja, keputusan apakah saya bisa ikut main atau tidak hanya dalam waktu setengah jam setelah sebelumnya dinyatakan bisa" kata Fitria Anwar yang pada waktu itu berada di kelas II SMEA jurusan Manajemen Pemasaran. Dan itulah yangdialaminya dalam film "SAUR SEPUH II - Kembang Gunung Lawu" , yang digarap Imam Tantowi. 

"Saya di film itu kebagian peran Paramitha, isterinya Brama. Bisa main di film itu juga atas ajakan teman. Dulunya sih saya sering juga diajak ikut suting, tapi cuma untuk jadi figuran. "Saya pikir untuk apa kalau cuma jadi figuran, sudah nunggunya lama belum tentu gambar kita ada di film," katanya lugu. 

Dan kenapa ia mau di "Saur Sepuh" menurutnya, selain perannya cukup berarti, ia pun yakin Imam Tantowi bukan sutradara sembarangan. Malah saya enggak pakai tes segala langsung saja diterima, " ujarnya.

Padahal menurut Fitria, sebelum ikut "Saur Sepuh" ia juga ditawari untuk ikut dalam film "Anak-Anak jalanan ", dengan Budiana Film. 

"Perannya cukup besar juga sih. Tapi saya tolak. Soalnya ada adegan buka-bukaannya," kata Fitri tegas.  Dan tentang adeganbuka-buka ini, Fitri memang sudah bertekad  untuk menolaknya. "Mudah-mudahan sikap ini bisa saya pertahankan," katanya. Soalnya film Saur sepuh ini toh banyak artis ternama yang cukup berbobot meski tak buka-uka. "Saya mau seperti mbak Christine Hakim, " ujarnya 

Fitri agaknya memang tak berlebihan dengan keinginannya itu. Apalagi ia toh pernah jadi model kalender dengan pose yang tentu saja sopan. "Soalnya bukan cuma karena papa streng orangnya, tapi saya sendiri memang enggak suka. Malu dan risih rasanya untuk memamerkan anggota tubuh, " kilahnya. Dengan sikap seperti itu, ia tok tak merasa karirinya di film bakal terhalang meskipun ia sendiri mengaku di film hanya pengin nyoba saja. 

"Saya memang belum memutuskan untuk terjun penuh ke dunia film penuh. Soalnya takut sih, mungkin karena saya belum kenal betul dengan dunia ini, " tuturnya. Untuk itulah ia ingin bekerja saja dulu. "Memang saya pernah minta papa untuk masuk IKJ. Tapi papa melarang. ia takut saya jadi seniman. Biasakan orang tua cuma akan masa depan anaknya", cerita fitri. 

Dan kalau kemudian si pemalu ini jadi bintang film beneran, nampaknya itu bukan hanya karena ia memang punya bakat alam yang baik, tapi juga karena keinginannya untuk mencoba. "Padahal saya ini orangnya ogah ogahan lho. Di film saja saya belum pernah ikut kecuali dulu ikut film " Bunga Bunga tersayang", tapi itu di Video dan untuk Malaysia, ujarnya. "Lagi pula kalau sekarang saya ingin betul-betul di film, wah repot. Sebabnya karena sekolah saya terlalu ketat. Kita tidak bisa di beri ijin sembarangan. Kan repot juga kalau saya harus suting  keluar kota. " tambahnya. 

~MF 88/56/Tahun VI, 11 - 24 Nov 1989

Wednesday, December 17, 2025

DIAH PERMATASARI SI PUTRI SOLO DI AWAL KARIR

 


DIAH PERMATASARI SI PUTRI SOLO DI AWAL KARIR. Kota Solo terkenal dengan putri-putrinya yang punya wajah cantik-ayu. Kalau di zaman film hitam putih, superstar Titien Sumarni pernah bermain film laris "Putri Solo", maka dalam perfilman pun muncul gadis-gadis asal Solo. Antara lain yang menanjak namanya Murti Saridewi, Okky Irwina Savitri dan pendatang baru Diah Permatasari. 

Perempuan berbintang Aquarius yang lahir di tanggal 25 Januari adalah merupakan anak ke3 dari empat bersaudara dimana prianya cuma satu si bungsu dari pasangan Djon Sangidoe dan Insiah Ratna, semuanya asli wong Solo.

Kendati ayahnya berbisni batik dan barang antik, ternyata Diah tak berminat pada Anthropologie. Selulus SMA, ia tancap tekad melanjutkan ke LPKJ jurusan Seni Rupa. 

Terjunnya ke film, dimulai secara tak sengaja. Saat suting "Selamat Tinggal Jeanette", di lokasi keraton Solo, ia danbeberapa kawan datang menonton, "Tahun 19887 itu saya masih duduk di bangku SMA, " kenang Diah. Kehadirannya menarik perhatian sutradara Bobby Sandy yang kebetulan membutuhkan seorang pemeran tambahan berwajah khas Jawa. Maka, beruntung bagi Diah yang ditawari peran tersebut dan dapat pengalaman baru, main film. 

"Saya muncul sebagai Erna, putri Solo yang hendak di jodohkan dengan Mathias Muchus oleh ibunya (diperankan oleh Nani Widjaya). Saya tak diberi dialog, cuma sekedar mejeng untuk dilihat Muchus, " ungkapnya. 

Baru saat Nurhadie Irawan mencari pemain untuk film garapannya, "Tutur Tinular, Pedang Naga Puspa", ia mendapat kesempatan yang lebih berarti. "Saya memerankan pendekar Sakawuni. Dalam episode pertama itu memang masih pemeran pembantu, tapi kalau nanti dilanjutkan episode ke dua, bakal meningkat jadi peran utama juga!" (kenyataannya gak diajak lagi ya hehe)

Pembuatan kelanjutan Tutur Tinular masih belum diketahui, tahu-tahu Diah diajak main "PERWIRA KSATRIA" arahan Norman Benny. "Jadi Ayu Ajeng Rini, putri bangsawan, pacar pilot muda Prasojo (dimainkan oleh Donny Damara). Wah, senagn sekali main film drama, lebih enak dibanding film silat dimana saya harus digantung pakai kawat sling untuk adengan terbang. Ya maklumlah sebenarnya kan saya tak bisa silat".

Prestasi lain dara yang hobi di foto ini, menggondol gelar Putri Ayu Indonesia 1987-1988yang di selenggarakan oleh Dewi Motik, Covergirl Mode 87, Wajah Femina 1989 "Paling sering jadi model dan sampul majalah Femina, "akunya. 

~MF 120/88 Tahun VI, 2 - 15 Feb 1991

Tuesday, December 16, 2025

MAMAT YATIM, BIAR CEBOL SUDAH BERCUCU


 MAMAT YATIM, BIAR CEBOL SUDAH BERCUCU. Ada yang tahu aktor kecil ini? Baru berumur 3 bulan ayahnya meninggal. Dan ketika dia berusia 2 bulan, ibunya meninggal. Lalu sejak itu dia berpetualang dalam kehidupannya. Lebih dari itu, dia lahir sudah memiliki cacat. Kakinya letter O lalu diapun diberi nama Muhammad Yatim alias Mamat Yatim. 

Walau tingginya tidak sampai 1 meter, namun Mamat Yatim tidak pernah putus asa. 

Sekali waktu, Ratno Timoer mengenalnya di suatu tempat. Melihat Mamat, hati Ratno Timoer tergetar. Dan dia pun di beri kesempatan berperan dalam film Misteri Candi Borobudur (Misteri Borobudur) dan Pendekar Bambu Kuning, tahun 70an. Dan sejak saat itulah Mamat terlibat dalam film nasional secara penuh. Ratno, memberi nama Mamat yatim. Dan sampai sekarang (tahun 1990) telah membintangi lebih dari 40 judul film nasional. 

Aktor cebol ini lahir pada tanggal 16, bulannya lupa, tahunnya 1930. Artinya usianya sudah menginjak 60 tahun pada tahun 1990. Walau usia telah diambang senja, namun fisiknya kelihatan seperti anak berusia 5 tahun. Wajahnya pun belum menggambarkan usianya telah demikian matang. Hanya saja penglihatan dan pendengarannya sudah berkurang, layaknya kebanyakan orang tua. Namun begitu kalau sedang berakting, gerakannya masih gesit, begitu pula jurus-jurus yagn dimainkannya. Bahkan dia bisa loncat dari ketinggian 3 sampai 5 meter. Dan itu dilakukan dengan baik. 

Walau tubuhnya cebol, Mamat rajin bekerja. Sering dia sebagai pembantu umum dalam sebuah produksi film. Mamat senang guyon. Dan tak jarang kru artis ngakak dibuatnya. "Andaikata ada yang membawa saya, saya bisa menjadi pelawak. Kalau yang namanya Jojon bisa putus saya buat," katanya sambil ngakak. 

Mamat memiliki 6 anak dan bercucu 5 orang. Rumah tangganya selalu bahagia dan rukun. Sekarang ini anaknya yang perempuan selalu mendampingi Mamat pergi suting. "Barangkali mereka kuatir karena saya sudah tua," katanya. 

Sebagai aktor, Mamat selalu mendapat honor sesuai dengan perannya. Pertama sekali main film dia dapat honor sebesar lima ratus ribu rupiah. "Saya ucapkan terima kasih kepada mas Ratno, kalau tidak ada dia mungkin saya tidak jadi artis," lanjutsta. Kan tidak baik untuk  menolak pemberian orang  apa lagi orang itu ikhlas?" lanjutnya. 

Namun demikian bila naik bis kota, Mamat Yatim tetap bayar. "Sebagai bintang film malu kalau tidak bayar ongkos. Apalagi saya sudah di kenal," katanya guyon.


~MF 094/62/Tahun VI, 3 - 16 Feb 1990

Monday, December 15, 2025

SI ROY, AKIBAT KECELAKAAN SUTING ALUR CERITAPUN DI BELOKKAN

 


SI ROY, AKIBAT KECELAKAAN SUTING ALUR CERITAPUN DI BELOKKAN. PT. Andalas Kencana Film termasuk perusahaan yang cukup produktif menggarap film-film komersial. Awal tahun (1989) lalu menyuguhkann "Si Doi" (Sally Marcellina) yang merupakan epigon "Catatan Si Boy". dan awal 1990 pun menyuguhkan film "Si Roy" yang masih tetap membuntuti cerita "Catatan Si Boy"nya Onky Alexander. 

Sutradara Achiel Nasrun sudah beberapa kali mengarahkan Ryan Hidayat (Lupus 1 Tangkaplah Daku Kau Kujitak, lupus II Makhluk Manis Dalam Bis dan juga Elegi Buat Nana). Jadi kerjasama mereka sudah cukup kompak. Cuma kali ini Ryan bukan jadi siswa SMA yang doyan permen karet, melainkan mahasiswa sederhana yang gemar mendaki gunung. 

Selain Ryan, boleh dibilang para pendukung film ini adalah kaum remaja pendatang baru semua. Margi Dyana yang bertubuh sintal sebagai mahasiswi materealistis, Ade Giuliano sebagai mahasiswa kaya yang bersaing dengan Roy, dan Monica Gunawan sebagai mahasiswi lembut yang diam-diam mencintai Roy. 

Alur cerita boleh dibilang sederhana atau malah gampangan. Sebagai Ketua Senat Mahasiswa, Roy punya ide. Berkemah sambil manjat gunung. Suasana di perkemahan sebenarnya banyak yang bisa di jadikan adegan menarik dan kocak, sayang dilewatkan begitu saja cuma untuk hiruk pikuk.

Saat mendaki ke kawah, Novi terjatuh  ke lembah curam. Iwan yang mengajaknya tak mampu menolong. Tentu saja hanya Roy yang jadi penolong. Sejak saat itulah Novi bersedia meladeni Roy. Tiwi yang lembut diam-diam menyingkir melihat Roy berpacaran dengan Novi. 

Kembali ke Ibukota, Novi mulai menghindari Ro, dan intim lagi dengan Iwan. Akibatnya beberapa kali terjadi baku hantam antara Roy dan Iwan. Padahal Roy yang berpenapilan sederhana sebenarnya anak boss orangtua Novi. Demi menyadari hal ii, Novi pun bersedia pacaran lagi dengan Roy. 

Kalau menurut cerita aslinya, seharusnya Roy menolak Novi dan memilih Tiwi. Sayang sekali tokoh Tiwi tak mungkin muncul lagi karena pemerannya, Monica Gunawan mengalami kecelakaan berat. Mobil yang membawanya terbalik dan terbakar di jalan tol Bogor-Jakarta. Sebagian wajah Monica luka terbakar. Sedangkan beberapa awak (kru film) ini tak tertolong lagi. Karena kefatalan inilah, terpaksa alur cerita di belokkan. Tokoh Tiwi di ceritakan melanjutkan sekolah musik keluar negeri, sedangkan Novi baikan lagi sama Roy. 

~MF 094/62/Tahun VI, 3 - 16 Feb 1990

Sunday, December 14, 2025

SYAMSURI KAEMPUAN

 


SYAMSURI KAEMPUAN, Salah satu bintang yang kerap bermain meski hanya sebagai pemeran pembantu. Lebih dari 70 film pernah di perkuatnya dalam peran-peran yang bersifat antagonis. 

Syamsuri Kaempuan, ayah dari 4 orang anak yang lahir di Banyuwangi, 31 April 1936 ini sudah membulatkan tekad hidupnya dari jerih payah main film. "Saya bersedia jadi apapun, sebab sebagai aktor harus siap segalanya, mental maupun persiapan sebagai pemain," kata Syamsuri yang juga telah bermain puluhan kali di sinetron TVRI. 

Pernah suatu saat dalam keadaan sakit parah, ia masih memaksakan diri hadir di lokasi suting dengan kawalan salah seorang anaknya. Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa bahkan hikmahnya dipetik. Saat sedagn sakit Syamsuri Kaempuan menandatangani surat kontrak untuk bermain dalam film-film Titisan Si Pitung, Mustika Pemikat dan Tutur Tinular, 3 film sekaligus dalam waktu satu bulan. 

MF 094/62/Tahun VI, 3 - 16 Feb 1990

Saturday, December 13, 2025

GEORGE RUDY PUNYA 5 FAHAM


GEORGE RUDY PUNYA 5 FAHAM. Diam-diam kiranya George Rudy bapak dari 3 anak ini memiliki 5 faham, sehingga sukses. Kelima faham itulah yang selama ini diterapkannya. Karena 5 faham itu pula membuatnya kepingin menjadi sutradara film. Dan pernah pula menjadi Eksekutif Produser, serta menulis skenario film "Badai Jalanan" yang sudah di produksinya. 

Ke 5 faham itu adalah Bakat, Pendidikan, Kesempatan, Skill dan Disiplin atau Tanggungjawab. "Saya kira itu faham saya. Dan itu baik buat pendatang baru," lanjut kelahiran Jember 1954 ini. "Tanpa itu saya kira seorang pemain tak mungkin berjaya," katanya. 

Karena itu pula membuatnya tertarik menjadi sutradara film. Tapi untuk melangkah lebih jauh, George Rudy belum punya nyali. "Masalahnya bukan apa-apa, kita harus belajar lagi. Ternyata George Rudy punya pengalaman tersendiri berlakon dalam film drama. Dia merasa tidak berbakat untuk melakon film-film drama. Kalaupun ada hanya beberapa. "Film drama saya hanya sedikit. Sedangkan film laga hampir 95%," katanya , "Saya bukan artis drama", ujarnya pula saat di temui disela-sela suting Titisan Si Pitung di Sukabumi. 

Ketika tahun 70an lagi top-topnya film remaja, George Rudy sempat pula meninggalkan film. "Saya bukan meninggalkan film, karena ketika itu film remaja lagi top. Sedangkan film action kurang diminati," kata karateka yang berbintang Libra ini. 

Namun George Rudy merasa belum puas bila melakoni film action memakai stuntman sehingga bila melakukan adegan-adegan berbahaya dia  mantap melakukannya. Tapi selalu saja pihak produser atau sutradara melarangnya, kuatir cedera berakibat film di tunda. 


~MF 094/62/TahunVI, 3 - 16 Feb 1990

BINTANG CILIK DALAM FILM TRAGEDI BINTARO DAN SI BADUNG.


BINTANG CILIK DALAM FILM TRAGEDI BINTARO DAN SI BADUNG, PUTRA DARI TORRO MARGENS IKUT BERMAIN

Sutradara Tragedi Bintaro, Buce Malawau dalam kaitannya dengan FFI 1989 menyimpulkan Komite seleksi salah sebut. Tidak ada pemeran bernama Nastiti dalam film saya itu. Kemungkinan besar yang dimaksud adalah tokoh yang bernama Astuti. Sudah dicantumkan dalam surat rekomendasinya , Astuti dipeankan oleh Chika Fransisca.

Dalam film Tragedi bintaro dengan sutradara pendeta Buce Malawau, bintang cilik yang ikut bermain terutama dalam satu keluarga junet yang terdiri dari lima orang anak. Si Sulung Mulyadi diperankan oleh Andi Otniel, Nomor dua adalah Juned, satu satunya dari lima bersaudara yang hidup kendati cacad dengan tragedi itu, diperankan oleh Ferry Octora, Nomor tiga , Aswadi diperankan oleh Tampan Maratiga anak dari Torro Margens. Baru yang ke 4 Astuti diperankan oleh Chika Fransisca dan terakhir si Bungsu di perankan oleh Yoga Pratama. 

Pemain Anak-anak ini di pilih khusus oleh Buce. Kebanyakan berlatar belakang dunia teater. Ferry Octora dan Ferry Iskandar (pemeran teman juned, penjual koran) keduanya berasal dari Teater Adinda Bocah. 

Ferry Iskandar yang berperan sebagai Hamid si penjaja koran, sudah beberapa kali bermain film. Antaranya diarahkan Arifin C Noer sebagai seorang anak Marissa Haque dalam film "Matahari Matahari". Berperan sebagai anak asuhnya Tuti Indra Malaon dalam film "Perisai Kasih Yang Terkoyak". Juga sudah pernah di sutradarai Buce Malawau yakni sebagai anak Yati Surachman dalam film Luka di atas Luka. 

Sama seperti anak-anak pemeran "Tragedi Bintaro" yang baru duduk dikelas VI kebawah, demikian juga dengan para pemain "Si Badung" yang disutradarai Imam Tantowi. Dua bocah badung, Koko dan Dori diperankan oleh Nelson Sodak dan Rully Johan yang baru kelas VI. Sedangkan "Kelompok Lima" diperankan oleh lima anak yang juga sebenarnya bagu kelas V mereka adalah Viona Rosalina, Rini Retno Mukti Remo Herfandi, Raymond Robot dan Ibnu Sandi Adam. 

Ikut mendukung Sheren Regina Dau (pernah bermain sebagai Anak Marissa Haque dalam film "Pesona Natalia" ) serta Toma Gagah Putra (Anak sulung Torro Margens) Boleh juga di ketahui kalau Rini adalah puteri dari Elly "Mantili" Ermawatie. Sedangkan Viona Rosalina ternyata puteri Editor Mulyo Handoyo. 

~sumber : MF 88/56/Tahun VI, 11-24 November 1989