Monday, January 12, 2026

SUTING FILM PEMBURU BERDARAH DINGIN


 SUTING "PEMBURU BERDARAH DINGIN". Sekitar jam sebelas, tepatnya Senin 11 Juli 1988, masyarakat yang khususnya pada waktu itu berada diseputar Jakarta Pusat jadi pada bingung. Beapa tidak?. Siang itu, dua pesawat helikopter dengan jarak terbang rendah, tengah saling berkejaran di udara. pesawat jenis Bolgo itu saling menukik, berkelok diantara gedung-gedung pencakar langit, bolak balik diatas jalan Thamrin dari arah utara ke selatan dan sebaliknya. 

Memang siang itu sedang berlangsung suting untuk pengambilan salah satu adegan untuk film "Pemburu Berdarah Dingin". Sebanyak lima kamera telah dipersiapkan PT. Rapi Film untuk pengambilan adegan pada scene 31,32 dan 38 dalam film ini. Setiap kamera masihng-masing ditempatkan berbeda. Seperti Paul telah siap diatap gedung Hotel Indonesia, Kamto disekitar Masjid Istiqlal sedang Bambang di percayakan untuk mengambil di Jembatan Semanggi. Sementara itu, Suranal dan Asmawi masing-masing berada di dalam kedua pesawat heli yang di terbangkan dari Halim Perdana Kusumah, bersama sutradara Arizal dan pemain utama Christ Michum. 

Suting film kali ini memang bisa dikatakan lain dari kebiasaan suting pada umumnya. Diaas atap tertinggi gedung Hotel Indonesia hanya nampak 7 kru yang terdiri dari kameraman, clepper boy dan still foto. Suasana cukup hening, panas udara diatas gedung berbaur dengan hembuan angin. Semilir dan cukup hening. Tak terdengar kata-kata sutradara yang mengatur peran, seperti suara"..kamera..s iap, action.. atau cut!. Yang nampak hanya produser Gope Samtani yang mukanya mengernyit lantara sengatan matahari sambil memantau kerja kru perusahaannya. 

"Ya, sebelumnya kira-kira jam 8.00 sutradara di kantor telah memberikan pengarahan pada setiap kameraman untuk mengambil adegan kejar-kejaran heli itu, " tutur Gope yang juga turut mengatur kerja kameraman di hotel Indonesia. 

"eh...! Tiarap.... tiarap.." kata Paul, sedikit membentak orang-orang yagn dirasa menghalangi tembakan kameranya. Maklum disitu tak ada sutradara yang biasa mengatur suasana. Jadi kameramen ini sendiri yang mengatur posisi, sambil sebelah matanya tetap brada di teropong bidik kamera untuk mengambil gambar. 

Film yang telah selesai sutingnya ini memang dibintangi aktor yang membintangi film "Dendam Membara" yang juga diproduksi PT. Rapi Film, yaitu Chris Michum, Ida Iasa juga Augus Melasz. Ditambah kini dengan Roy Marten dan Paul Hay, termasuk Sutradara Arizal dan skenario Dedi Armand. 

Lokasi Suting adalah dilakukan di Jakarta, Puncak dan Bandung. Untuk film "Pemburu Berdarah Dingin" ini, PT. Rapi Film telah membeli 12 buah mobil yang dihancurkan termasuk sebuat truk tangki. MANTAP!!


~MF 056/24 tahun IV, 20 Agustus - 2 September 1988



Sunday, January 11, 2026

EMMA FEBRI, PENDEKAR WANITA

 


MENGENAL EMMA FEBRI, SALAH SATU PENDEKAR WANITA. (kisah lawas) Semula hanya coba-coba ikut pemilihan calon bintang untuk iklan sabun dan meraih juara dua, Emma Febri ngakunya malah keterusan jadi bintang film beneran. "Sampai kini (1989) sudah tiga film yang ikut saya dukung. Dua kali jadi peran pembantu dan yang teakhir jadi pemeran utama, "ujar perempuan kelahiran Medan, 19 Februri 1966 ini. 

Ketiga film tersebut menurut Emma adalah "Jubah Hitam", "Peluru dan Mesiu" dan "Pendekar Lembah Kuning". Ketiganya ditangani sutradara yang sama. Untuk film-film aksi itu, Emma mengaku mulanya kaku juga. "Saya enggak pernah belajar bela diri. Tapi berkat bimbingan pak Syarif, instruktur fighting dan pengarahan M. Syarifuddin sebagai sutradara, yah jadi juga saya pendekar," katanya lagi. 

Gadis Kawanua yang besar di Medan ini ngakunya punya keinginan yang cukup besar di film. Sejak dari Medan, Emma katanya emmang sudah berniat untuk terjun ke dunia film. "Saya memang sudah menjadi anggota Parfi Medan dan juga ikut kegiatan teater di daerah itu," ujar Emma yang juga senang menari, menyanyi dan main drama ini. "Tapi rasa-rasanya saya lebih cocok di film. Soalnya film punya keasyikan tersendiri dan lokasinya tidak cuma di satu tempat," katanya. 

Untuk memantapkan pilihannya itu, Emma berencana masuk IKJ jurusan sinematografi. "Soalnya saya ingin juga jadi pekerja film, " tuturnya yang mengaku tidak pernah melakukan adegan porno di film. "Betul kok, jangankan beradegan porno, di sun saja saya belum pernah di film," katanya meyaknkan. Tapi itu kan di film? Di luar film, cewek ini justru mengaku sedang patah hati. 

"Saya pernah cinta berat dengan seorang pria waktu di Medan. "Pacaran sampai empat tahun, eh malah gagal. ~MF 066/34/Tahun V/7-20 Jan 1989

Saturday, January 10, 2026

BETHARIA SONATA


 BETHARIA SONATA, BIARKAN AKU CEMBURU BERHONOR RP. 25 JUTA! (Kisah lawas). Merangkap profesi di negeri ini merupakan hal yang gampang. Ngetop di satu profesi maka kesempatanpun terbuka untuk profesi yang lain. Ngetop di dunia tarik suara, maka membuka kesempatan di film, misalnya. Itulah Betharia Sonata, Penyanyi pop yang biasa melantunkan lagu cengeng, seperti diakuinya sendiri, ikut terlibat dalam dunia layar putih. Dan tak tanggung-tanggung buat film keduanya "Biarkan Aku Cemburu" dia menerima honor Rp. 25 Juta!. (suatu nilai yang fantastis dikala itu).

SRI BETHARIA ASTUTIE nama lengkapnya. Pertama kali terjun dalam dunia layar putih lewat  film "Kamus Cinta Sang Primadona" arahan sutradara Abdi Wiyono. Dalam film ini Betha, lebih enak di panggil begitu cuma dibayar Rp . 2,5 juta. Tampaknya Betha telah membuat sejarah tersendiri soal honor dalam perfilman nasional. Paling tidak dialah bintang gres yang berani pasang honor yang selangit itu. "Soal itu ada yang mengatur, ada yang memanage, yaitu mama saya," jawab Betha ketika ditanya keberaniannya itu. 

Dalam film "Biarkan Aku Cemburu" yang dalam penyelesaian akhir, Betha memerankan Unik, seorang gadis pencemburu. Film yagn di garap sutradara Christ Helweldery ini, masih bertema seputar remaja. Unik, gadis pencemburu itu dalam menumpahkan kekesalan atau kekecewaannya di ekspresikan lewat tarian. Unik menjadi penari kontemporer. 

"Tadinya saya nggak bisa menari," ungkap Betha mengomentari perannya itu. "Karenanya saya belajar keras. Kalau ada kemauan pasti ada jalan untuk meraih sesuatu, " ucapnya mantap. 

Betharia Sonata, lahir 14 Desember 1961 di Bandung, mengelak disebut serakah dalam profesi. "Kesempatan itu datang, kenapa tidak diambil," kilahnya. "Dan saya ingin mencoba mengembangkan bakat. Setebutlnya, dulu saya bercita-cita ingin jadi bintang film. Tapi, rupanya saya kecantol di nyanyi. Sekaranglah saatnya saya mengembangkan bakat. Sejak kecil saya sudah ikut-ikuan main drama. Di SMP IV Bogor, saya pernah ikut pentas drama berjudul "Raja Diraja". Juga pernah grup drama sekolahan saya menjadi juara I se Kabupaten Bogor. Dunia akting sudah nggak asing lagi , kan? Kini di dunia film, saya akan lebih serius lagi, " tuturnya dengan penuh semangat. 

Meski begitu, pertengahan tahun lalu (1988) Betha pernah bikin "kesal" sutradara Sophan Sophiaan saat menggarap film "Ayu dan Ayu". Betha yang hendak dijadikan peran utama film tersebut malah membatalkannya karen kesibukan, walaupun ia sudah menandatangani kontrak. 

Betha memulai karirnya tahun 1979. Ia muncul di TVRI Stasiun Pusat Jakarta. Ia mulai menyeruak di bantika musik lewat karya cipta Rinto Harahap dalam lagu "Kau Tercipta Untukku". Namanya kian melambung, dan karena lagu ini pula ia berhasil meraih Piringan Emas (1980-1981). Tampaknya lewat tangan Rinto Harahap nama Betharia Sonata di kenal di seantero nusantara. Dan di tahun 1981 ia memperoleh Plakat Anugerah III dari Kiskotik Indonesia. Belakangan ini pun nama Betha sering di sebut, karena lagunya yang berjudul "Hati Yang Luka" karangan Obbie Mesakh menjadi penyulut dilarangnya lagu-lagu cengeng ditayangkan di TVRI. 

"Sebetulnya kita juga lagi bingung mencari lagu yang tak termasuk kriteria tersebut. Tapi, kita terus mencari lagu yang dapat di terima masyarakat," komentarnya. Namun ia segera menyambung dalam nada bingung. " warnanya apa atuh?!".

Ketika ditanya mana yang lebih enak antara dua profesi itu, Betharia menjawab bahwa dua duanya enak. Tapi kalau di nyanyi meledak, ada bonus. Sayang sekali, yah, di film nggak ada itu. Saya terima, kok kelumrahan itu," ucapnya dengan berat hati.  ~MF 066/34/Tahun V/7-20 Jan 1989


Friday, January 9, 2026

CHAIRIL JM, PEMERAN PEMBANTU PRIA TERBAIK FESTIVAL SINETRON INDONESIA 1998

 


CHAIRIL JM, PEMERAN PEMBANTU PRIA TERBAIK FESTIVAL SINETRON INDONESIA 1998 

Siapa bilang artis laga tidak bisa berjaya di festival dan mendapat Piala Vidia? Chairil JM buktinya. Dalam sejarahnya, inilah kali pertama sejak di adakan Festival Sinetron Indonesia (FSI) maupun Festival Film Indonesia (FFI) bintang laga mendapat prestasi puncak dalam 'pesta' sinema Indonesia. Selama bertahun-tahun para bintang laga hanya bermimpi bisa tampil atas panggung FSI. (cat. Mimin: Beda sama FFI ya,kalau di FFI didubbing bukan suara sendiri kan tidak bisa meraih penghargaan , kalau Chairil JM suaranya kan didubbing orang lain disini)

Dengan tampilnya Chairil JM sebagai Pemeran Pembantu Pria Terbaik lewat perannya sebagai Mpu Ranubaya dalam sinetron seri Tutur Tinular untuk kategori drama seri itu merupakan suatu gebrakan baru. Para artis laga pantas untuk bergembira, sebab kemenangan Chairil JM itu tidak semata buat pribadi pria kelahiran Jambi 11 Maret 1963 ini, akan tetapi  juga kemenangan para bintang action pada umumnya. 

"Tidak pernah membayangkan kalau bintang laga seperti saya bisa naik panggung dalam acara puncak FSI. Ketika nama saya disebut sebagai pemenang, saya tetap tidak percaya kala bintang laga bisa meraih Piala Vidia. Ketika sutradara Ucik Supra menyalami, barulah saya naik panggung untuk menerima Piala Vidia," katanya. 

Padahal malam itu, ketika Chairil JM datang ke TVRI tempat acara puncak FSI, hanya sekedar memenuhi undangan panitia karena tercatat sebagai nominator Peran Pembantu Pria. Sebagai  bintang laga, selama ini, Chairil merasa dikucilkan. Seperti lazimnya bila bintang laga dan bintang drama bertemu, selalu saja bintang laga di remehkan. Malam itu kondisi itu terulang kembali. Tidak banyak artis sinetron drama yang menyapanya, kecuali kru sinetron dan beberapa sutradara. Liha saja lakon-lakon bintangnya dalam film antara lain : lelaki Sejati, Melacak Tapak Harimau, Putri Kembang Dadar, Cakar Naga, Ilmu Cambuk Api, Warisan Ilmu Karang, Pendekar Naga Seribu, Sumpah Si Pahit Lidah, Bujang Jelihim, Wiro Sableng I sampai Wiro Sableng IV, sampai tahun 98 lebih dari 50 judul film eksyen telah dibintanginya. 

"Itu artinya kami artis laga memang selalu tidak diperhitungkan. Mungkin mereka pikir bahwa artis laga itu modalnya cuma gedebak gedebuk saja, " papar artis dengan tinggi 180 cm ini. 

Memang dalam pergaulan artis secara umum maupun dalam pencalonan casting, bintang-bintang laga selalu diremehkan. Seperti yang dialami Chairil JM misalnya, selalu saja dalam pengcastingan untuk sinetron ia sering di sepelekan dan ditolak. Persoalannya karena Chairil JM dikenal sebagai bintang laga, yang identik dengan kekerasan, keperkasaan dan memiliki tubuh kekar serta hanya mampu berteriak. Sehingga diduga ia tidak mampu melahirkan inner acting sebagai artis drama lainnya. 

"Meski diperlakukan seperti itu, saya tidak pernah dendam denga sutradara yang meremehkan saya itu. Malah sebaliknya, cemoohan itu saya jadikan cambuk untuk bisa disejajarkan dengan artis drama lainnya, " katanya dengan semangat berapi api. 

Karena selalu di sepelekan, timbul suatu kekuatan dalam dirinya untuk bisa tampil sebagai bintang drama.  Usahanya tidak sia-sia. Chairil JM sempat berlakon dalam film drama seperti "Wanita berakar darah, Gairah Malam I, Gairah Malam II, Skandal Terlarang, Extasi, Pil Cinta dan lain-lainnya. Sedangkan untuk sinetron drama seperti Misteri Rumah Kontrakan, Pahlawan Tak Dikenal, Selubung Tirai Putih, dan Denpasar Moon. 

Ternyata tidak hanya dalam tema drama saja kemampuan aktingnya di prioritaskan. Dalam sinetron seri Tutur Tinular, yang di sutradarai Muchlis Raya dan Denny HW, Chairil JM cukup alot 'merebut' peran Mpu Ranubaya. Pihak produser menolak ketika Chairil JM meminta peran Mpu Ranubaya , sebab tokoh yang harus dilakoninya berusia sekitar 80 tahunan. Chairil JM tidak mundur, ia ngotot untuk bisa mendapatkan peran itu. Akhirnya peran yang diimpikannya itu dapat diraihnya. "Keinginan saya waktu itu tidak saja karena perannya yang menantang tapi juga impian lainnya, bisa ikut suting di Beijing," tuturnya berseloroh. 

Sejak lolos Casting Mpu Ranubaya, Chairil JM bekerja keras untuk bisa masuk kedalam sosok peran yang akan dimainkanny itu. Hampir setiap hari ia belajar mengeluarkan inner acting. "Tantangan yang paling sulit adalah akting mabuk, sebab adegan mabuk untuk tokoh Mpu Ranubaya cukup banyak. Mak asaya mengusahakan akting mabuk satu dengan lainnya harus berbeda, apalagi mabuknya pendekar," katanya. 

CHAIRIL JM memulai karir sebagai figuran sejak tahun 1985.Baru beberapa kali menjadi figuran ia langsung hengkang dari film. Sebab honor yang diterima sangat minim. Karena menanggung hidup keluarga, adik-adik dan ibunya. Ia sempat banting stir menjadi penebang hutan belantara di hutan Sibolga, Tapanuli Tengah selama dua tahun. Sebelumnya selepas STM di Jambi, Chairil JM pernah pulan menjadi kelasi kapal, melanglang buana ke seluruh Nusantara. Ia juga sempat 'terdampar' di Pangkalan Susu, Sumatera Utara bahkan sampai ke Sulawesi Selatan. 

"Selama Saya di hutan saya merenung, buat apa hidupku di habiskan di hutan belantara. Apalagi saya masih muda, saya harus kembali ke Jakarta, " katanya beterus terang. Firasatnya ternyata benar, sampai di Jakarta ia langsung diterima bergabung dengan Tanaka. Waktu itu instruktur film laga yang cukup laris memiliki fighter yang cukup banyak. Di -dojo-nya Tanaka itulah Chairil belajar seni bela diri untuk film dan sempat main dalam 7 judul film. 

Sejak itu karirnya di film bergerak naik, setelah menjadi figuran kemudian naik menjadi pemeran tambahan, pemeran pembantu sampai akhirnya Chairil menjadi pemeran utama dalam film Warisan Ilmu Karang sutradara Dasri Yacob. 

"Setelah ditangani Dasri Yacob, saya menjadi rebutan sutradara yang ada di PT. Inem Film," papar artis laga ini. 


~MF 328/294/XV, 9-22 Januari 1999

Thursday, January 8, 2026

TANAKA, DARI AKTOR ANTAGONIS KE SUTRADARA


 TANAKA, DARI AKTOR ANTAGONIS KE SUTRADARA , Lebih dari 70an film yang dilakoni, tak satupun judul menempatkannya sebagai peran utama. Tanaka selalu tampil jadi tokoh antagonis, bulan-bulanan tokoh jagoan. Dan itu sudah seperti jadi merek bagi aktor kekar ini. Seperti dalam film Rio Sang Juara, ia tampil sebagai petinju brutal asal Korea, berhadapan dengan Rio yang di perankan Willy Dozan. Hanya Tanaka yang bisa memerankan tokoh petinju brutal itu. "Gigi saya sempat rontok dan jidat luka beneran," katanya. 

Tanaka memang selalu dapat peran pembantu, bahkan sampai beberapa tahun hanya jadi figuran. Tapi karena dia punya bekal ilmu bela diri yang cukup, ia kerap di perbantukan mendampingi instructure fighting dan jadi stuntman. Tanaka belajar Silat lebih 6 tahun. Karate selama 2 tahun. Baru menyandang sabuk Coklat, beralih perhatian ke Kung Fu selama 3 tahun. Tiga aliran itu digabungkannya sebagai bekal untuk menghadapi  lawan main di film. Kemudian Tanaka salah seorang bintang antagonis yagn selalu memperoleh caci maki penonton. 

Meski tidak pernah dipercaya jadi bintang utama, Tanaka mampu menyutradarai sinetron laga "Jacky" tayangan SCTV. "Saya sendiri tak menduga bakal ditawari menggarap sinetron Jacky. Namun karena direncanakan jauh-jauh hari, saya bisa mempersiapkan diri. Saya tidak belajar khusus, cukup menggabungkan pengalaman ketika jadi figuran, stuntman, editing dan ilmu bela diri," kata Tanaka yang pernah meraih prestasi Juara I se DKI pada kejuaraan Silat tahun 1979 ini. Mantan murid Robert Santoso, seorang instructur fighting handal ini mulai debut perdananya di layar perak lewat Bulan Madu produksi tahun 1977 dengan bintang George Rudy. 

Bersama Avent Christy, Tanaka dapat peran pembantu utama dalam film laga, Laki-laki Sejati. Disitu porsi saya cukup lumayan, tapi babak belurnya juga lumayan. Bahkan kepala saya hampir pecah ketika jatuh dari ketinggian 3 meter. Kalau keseleo atau bengkak kaki , sudah langganan, " tuturnya. 

Aktor laga pengarah kelahi dan sutradara sinetron ini tidak pernah berkecil hati. "Saya sadar diri, kenapa tidak diberi peran utama. Saya cukup puas dengan peran-peran pembantu dan stuntman, karena bisa melakukan yang tidak bisa dilakukan pemain lain," ujar pria yang sehari-hari napak santun ini. Ia menikah tahun 1981 dengan suliatawy wanita campuran Manado Jawa. 

Putra pertama keluarga Willy dengan Maryam yagn lahir di Jakarta, 25 Desember 1958 ini punya masa lalu yang keras. Sebelum ikutan main film laga, Tanaka sempat jadi sopier pengantar oli. "Hari-hari saya habis di jalanan," katanya mengenang.

Sekarang, lewat sinetron Jacky Tanaka memulai babak baru sebagai sutradara khusus sinetron laga yang juga banyak mengekspose kehidupan jalanan. "Saya mau lihat hasilnya. Jika diterima masyarakat, saya akan benar-benar menekuni dunia penyutradaraan yang lebih serius lagi. Dunia film sudah nggak bisa di harapkan oleh pemain seperti saya", tukas aktor antagonis yang pernah jadi bintang iklan Salonpas ini. 

Lebih jauh, sebelum terjun ke dunia film-film laga, Tanaka menekuni ilmu bela diri di perguruan "Dua Belas Naga" pimpinan Robert Santoso yang menggabungkan tiga aliran yaitu Silat, Karate dan Kung Fu. Salah satu yang mendorong Tanaka terjun kedunia film laga adalah karena ia hobi sekali nonton film-film eksyen, terutama yang dibintangi Bruce Lee. Setiap kali habis nonton, Tanaka merasa roh bintangnya masuk ke raganya. Dan secara kebetulan, Robert Santoso waktu itu juga sudah aktif di dunia film sebagai stuntman dan instructure fighting. Akahirnya ia diajak main film Bulan Madu di Bandung tahun 1977.

"Ketika berlatih di perguruan Dua Belas Naga, Robert Santoso belum memiliki asisten pelatih, karena belum ada yang sanggup, dan satu-satunya yang menonjol adalah saya" kata Tanaka. Saya termasuk cepat menguasai pelajaran-pelajaran yang diberikannya. Suatu ketika Robert memberikan kepercayaan kepada saya untuk jadi asistennya. Mungkin dari keseriusan saya itulah dia berani mengajak saya untuk ikut main film laga. Katanya orang seperti saya tak kenal takut untuk melakukan adegan-adegan berbahaya. Dan itu memang saya akui," ungkapnya. Demikian seperti di kutip dari artikel berjudul Tanaka, Menunggu Reaksi Masyarakat dalam MF no. 256/222/XII/6-19 April 1996

Wednesday, January 7, 2026

HANTU SOK USIL, KOMENDI HANTU-HANTU KOCAK


 HANTU SOK USIL, KOMENDI HANTU-HANTU KOCAK, Masih ingat pada sinetron serial Moody Juragan Kost? Dalam serial komedi itu Pak Tile bermain sebagai hantu tua bangka yang genit dan gemar mengganggu gadis-gadis penghuni rumah kost seperti Nurul Arifin, Diah Pertamatasari, Kiki Fatmala dan Iyut Bing Slamet. Setelah serial tersebut berakhir, PT. Soraya Intercine Films membuat serial komedi Hantu Sok Usil dengan penggantian sutradara dari Atok Suharto ke Agusti Tanjung. 

Absennya Pak Tile digantukan oleh pelawak-pelawak Ogut dan Kimung berhadapan dengan Nurul Arifin, Iyut dan urike Prastica. Diramaikan oleh Rina Hassim, Nasir dan Rika Roy Callebout. 

Di ceritakan Pak Ucok membawa istri dan ketiga anak gadisnya, Lolo, Lulu dan Lili serta pembantunya Legiyem dan sopir Parto pindah ke rumah baru. Konon gedung mentereng itu dihuni oleh makhluk-makhluk halus hingga dijual dengan harga murah. Pak Ucok sama sekali tak percaya adanya hantu malah sesumbar bisa menaklukan hantu. 

Padahal, sungguh-sunguh ada hantu di situ, yakni hantu Ogut, pemilik lama rumah tersebut bersama hantu putranya Boy, Dulu Boy tewas karena ekstasi saking shock, Ogut yang jantungan ikut meninggal. 

Melihat masuknya penghuni baru, hantu Ogut dan Boy mulai membuat ulah mempermainkan keluarga Pak Ucok habis-habisan. Tapi kemudian Boy yang bisa menjelma menjadi manusia berpacaran dengan Lili. Sedangkan Ogut berkencan dengan Legiyem di dapur. 

Ceritanya berkembang dari bermusuhan, Ogut dan Boy berbalik membantu berbagai masalah yang dihadapi keluarga Pak Ucok. Termasu ketika Lolo hendak dilamar oleh pengusaha tua bangka, Oom Pingo, Ogut mengacau, hingga bukan saja lamaran si Oom di tolak bahkan ia dihajar babak belur. 

Pengalaman Lulu lain lagi, ia diincar Jin Bandot yang bisa menjelma sebagai pengusaha . Memang Pak Ucok nyaris tertipu dan menerimanya menjadi menantu. Untung ada Ogut yag membuka rahasia siapa sebenarnya Jin Bandot. 

Bermunculan banyak hantu-hantu lain, baik yang palsu maupun yang asli, mulai dari sepasang drakula, sundelbolong, jin samurai, hantu genit, hantu penasaran, hantu gagu, tengkorak hidup sampai dukun internet dan lain-lainl. Cerita yang kocak dikemas dengan kreasi special effect canggih yang cukup menakjubkan. 

Produksi : Soraya Intercine

Produser : Ram Soraya

Produser Pelaksana : Jauhari Ardiwinata

Sutradara ; Agusti Tanjung

Pemain : Nurul Arifin, Iyut Bing Slamet, Rina Hassim, Yurike Prastica, Rika Roy Callebou, Nasiir, Kimung dan Ogut. 

DOLLY MARTIN

 


DOLLY MARTIN, AWAL MASUK AKTING. Nasib memang sulit di tebak. Setidaknya hal itu berlaku bagi lelaki kelahiran Jember, 8 Maret 1961 ini . Dolly Martin usai menamatkan SMA-nya di tahun 1979, meninggalkan kampung halamannya untuk test jadi Akabri di Jakarta. Tapi cita-cita itu kandas. Ia gagal masuk Akabri. Dalam kebingungan antara balik ke kampung dengan mencari kerja lain, tak disangka muncullah Frank Rorimpandey, sutradara ini kemudian memintanya ikut main film "Selamat Tinggal Masa Remaja" meskipun cuma figuran. 

"Itu masih tahun 1979. Yah daripada nganggur, saya mau saja. Hitung-hitung mengembangkan rasa ingin tahu saya. Soalnya sejak kecil saya sudah senang nonton film dan berakting", ujar anak ke 8 dari 9 bersaudara ini. Dolly yang main terbarunya di film "Kamus Cinta Sang Primadona" mengaku tidak pernah membayangkan bakal jadi pemain film. Anak pasangan pak Umar dan Ibu Tien ini malah bukan dari sekolah film. "Saya main film dari alam. Bukan dari akademis. Ya paling-paling ikut kursus akting yang diadakan Parfi," tuturnya. 

Biar begitu, sejak tahun 1979 Dolly sudah ikut membintangi sekitar 15 judul film (Sampai th 1988). Dari yang cuma peran kecil sampai peran utama sudah ia rasakan. "Pokoknya saya mulai yakin bahwa di filmlah jalan hidup saya. Untuk itu saya ingin jadi aktor hebat. Tapi memang sekarang ini saya masih dalam proses mencari, " jelas Dolly yang filmnya antara lain "Bibir Bibir Bergincu", "Gerhana", "Putri Kuntilanak",  "Gadis Penakluk" "Untuk Sebuah Nama", "Kenikmatan Ranjang Semua Orang", "Pacar Pertama", "Pencuri Cinta", "Kamus Cinta Sang Primadona", dan lain-lain. 

Pengalaman pertama main film, Dolly mengaku grogi. "Saya gemetaran waktu pertama kali di sut. Tapi sekarang sudah enggak kok. Sudah biasa. Untuk berakting itu, Dolly memang tidak masuk sanggar atau sekolah khusus film. "Saya cuma membaca buku-buku, konsultasi dengan para senior dan belajar dari kehidupan sehari-hari", tambahnya. 

Selain itu, untuk selalu tampil lebih baik, Dolly pun selalu menjaga tubuhnya. "Saya setiap hari melakukan jogging. Lari lari di sekitar rumah saja," kata bintang film yang mengaku cuma terima bayaran 1,5 juta rupiah saat main film Kamus Cinta Sang Primadona. Film itu sendiri menurutnya biasa-biasa saja. "Cuma untuk hiburan aja kok", tutur bintang yang baru terima bayaran tertinggi 2 juta rupiah untuk sebuah film. 


~MF 063/31/Tahun V 26 Nov-9 Des 1988

Tuesday, January 6, 2026

KIKI SANDRA AMELIA, BINTANG ANAK ANAK YANG SUDAH GEDE

 


KIKI SANDRA AMELIA, BINTANG ANAK ANAK YANG SUDAH GEDE. (kisah lawas) Apa kabar Kiki Sandra Amelia? Pada usia 2,5 tahun dia sudah nampang di layar TV dan bioskop. Malah ketika berumur 6 tahun dia menerima penghargaan tertinggi dari dunia film sebagai pemeran Anak-Anak Terbaik FFI 1981 di Surabaya. Ia meraih Piala Gubernur Surabaya pada FFI 1981. Tahun itu juga, dia muncul sebagai juara I lomba baca puisi tingkat TK se DKI. Namun diusia 13 tahun dengan tinggi 158 cm dan berat 43 kg, lampu kamera justru tak pernah lagi menyorot kepadanya. Itulah Kiki Sandra Amelia, anak semata wayang pasangan Pipiet Sandra dan KM Bey Erry. 

Kiki Pertama kali terlibat dalam dunia film tahun 1977. Mulanya main di TVRI Jakarta bersama grup Ratu Asia, waktu itu umur Kiki masih 2,5 tahun. Jadi masih bayi," katanya.  Menurut Kiki sampai kini (1988) dia sudah ikut main dalam ratusan sandiwara TV, dua sandiwara panggung dan 11 judul film. 

Menurut Kiki yang bercita-cita ingin jadi insinyur Pertanian dia sudah tidak ingat lagi judul-judul sinetron TV yang pernah ikut dibintanginya. "Waktu itu masih kecil sih. Tapi kalau untuk film, Kiki main pertama kali dalam film "Rosita" Waktu itu tahun 1977," jelasnya. 

Setelah Rosita, Kiki yang semaja remajanya aktif di Karang Taruna kelurahan ini berturut-turut membintangi film "Nasib Si Miskin", "Nakalnya Anak Anak", di film ini Kiki mendapat penghargaan sebagai pemain cilik terbaik FFI 1981, kemudian film "Jangan Sakiti Hatinya", Tiga Dara Mencari Cinta", "Buaya Putih", "Usia 18, "Perempuan Dalam Pasungan" dan yang terakhir adalah "Neraca Kasih" dan album rekaman dengan judul "Singkatan". Sejak itu Kiki enggak pernah lagi main film maupun rekaman. Padahal Kiki masih kepingin lho," tambahnya. 

Ketika disinggung masalah honor yang diterimanya setiap main film, Kiki cuma angkat bahu, " semuanya ibu yang ngatur sih, ".Kiki Taunya cuma main , ibu juga enggak pernahnyebut jumlahnya. Paling-paling kalau udah siap main film atau nyanyi ibu cuma nanya, kamu mau beli baju atau enggak? tuturnya. 

~MF 51/19 Tahun IV, 11-24 Juni 1988