Monday, January 26, 2026

CHRISTINE ARIESTA


 CHRISTINE ARIESTA. Namanya sempat mencuat lewat film "Cinta Cuma Sepenggal Dusta". Dalam film yang sarat konflik itu, Christine Ariesta berperan sebagai Tasia berpasangan dengan pemain kelas Citra Deddy Mizwar dan bintang remaja Gusti Randa. 

Tasia yang Christine perankan, dikisahkan sebagai remaja yang lahir dari keluarga broken home. Lantaran kekurangan kasih sayang, Tasia akhirnya menjadi cewek pemberontak yang badung bukan kepalang. Peran yagn dibawakan itu betul-betul menantang dan katanya bertolak belakang dengan watak aslinya. 

Padahal, mahasiswi Akademi Bisnis Manajemen, Jakarta ini baru pertama kali itu terjun main film. Ia memang terbilagn bintang film berbakat. Kemampuan aktingnya cukup lumayan, diatas rata-rata pemain sekelasnya. 

Sebelum main film, gadis berbibir tipis ini dikenal sebagai foto model. Wajahnya yang unik dan fotogenic kerap nampang menghiasi sampul majalah, kalender, dan iklan. Terutama iklan yang berbau kecantikan seperti shampo , bedak dan sabun. 

Selain itu, Christine juga aktif di bidang drama. Khusus di bidang yang satu ini, dia sempat berlakon unik dalam sandiwara rakyat Sunda, "Nyai Kadarsih" produksi TVRI Stasiun pusat Jakarta. 

Sejak tampil dalam film "Cinta Cuma Sepenggal Dusta" Christine sempat berkali-kali ditawari main film panas yang berbau "ranjang" tapi tawaran itu ditampiknya mentah-mentah. Takut adegan syur? "Ah enggak, melakukan adegan seperti itu bagi saya sih nggak terlalu jadi masalah, itu kan cuma di film. Saya nggak munafik kok, " kilahnya. 

"Soalnya saya melihat ada itikad tiak baik di balik tawaran tersebut. Tahu kan itikad tidak baik?, nah itulah yang bikin saya ngeri," tukasnya lagi. 

Lantaran kukuh terhadap prinsip, untuk sementara ini Christine terpaksa cabut dulu dari dunia film. Daripada nganggur dan kesepian, dia kemudian minggat ke Pulai Bali. Ngapain? "Cari uang dan pengalaman, " sahutnya singkat. 

Di Bali cewek kelahiran 19 April 1967 ini bekerja di Sube'c Disco Mirror Club. Konon gajinya lumayan besar. Paling tidak cukup buat 'menghidupi' diri sendiri, tanpa harus bergantung pada orangtua. 

Konon Orangtua semula menentang keras dan sempat uring-uringan melihat putri tercintanya nekat jadi pekerja malam. Apalagi di diskotik yang konon selalu sesak dan ramai dibanjiri bule-bule. Christine sendiri mengakui selama bekerja disana, banyak pengunjung yang suka iseng, juga tak sedikit yagn terang-terangan mengajak kencan. 

Cukup lama juga Christine malang melintang di Bali. Setelah bosan, dia lantas balik ke kota asalnya Jakarta.  Lewat bantuan seorang kenalan, Christine akhirnya bekerja di Ebony Diskotik, sebagai lighting jockey. 

"Tugas Saya di Ebony mengatur lampu disco, agar ruangan lebih hidup dan alunan musik  terasa lebih manis bersma paduan lampu-lampu itu. 

~076/44/Th.V/27 Mei-9 Juni 1989

Sunday, January 25, 2026

SALLY MARCELLINA, TAK MENOLAK CIUM DAN RANJANG


 SALLY MARCELLINA, TAK MENOLAK CIUM DAN RANJANG (kisah lawas). Si Doi merupakan film ketiga yang dibintang utamai oleh Sally Marcellina, cewek kelahiran Jakarta, 28 Juli 1969 berdarah campuran ayah Manado dan ibu berasal dari Minang. Semula judul film tersebut "Catatan Si Doi" tapi atas berbagai pertimbangan akhirnya cukup dengan "Si Doi" saja. Ceritanya seakan akan kebalikan Catatan si Boy. Yang jadi idola dalam Si Doi justru seorang cewe yagn sering nangkring diatas mobil balap Porsche. 

Di mulai sebagai figuran lewat film "Jejaka Jejaka", Sally berperan sebagai gadis cakep diincar Richie Ricardo. Kemudian muncul pula dalam film "Birahi dalam Kehidupan", dan mendukung beberapa episode ACI yang pernah ditayangkan di TVRI. 

Sudah kerasan di film rupanya, "Masih kepingin lihat-lihat dulu. Main film sekedar menyalurkan hobby, mengisi waktu sementara masih nganggur. Suatu saat nanti saya akan kuliah, " katanya. Sementara belum kuliah, Sally memang kepingin sepenuhnya konsentrasi di film. Merasa enak di film, terutama suasana kerjanya maupun pergaulannya. Kebetulan kedua orang tuanya mendukung kehadiran Sally sehingga bertambah licinlah jalan kearah itu. 

Nama Sally mulai dikenl sesudah membintangi "Macan Kampus" mendampingi Rano Karno. Sesudah itu Sally di gaet Andah Kencana Film untuk membintangi "Putri Kuntilanak" menyusul "Si Doi" dan "Si Gobang" produksi Virgo Putra Film. Dua film terakhir disutradarai oleh Atok Suharto. Bedanya kalau dalam film Si Doi sebuah film remaja masa kini sedangkan Si Gobang bercerita Betawi tahun 1800an.

Bedanya lagi dalam film ini Sally berperan sebagai Jamilah gadis Betawi tempo doeloe dengan latar belakang budaya betawi jaman baheula. Untuk menghayati tokoh Jamilah dalam si Gobang ini Sally cukup repot juga. Bayangkan memerankan sebuah tokohyang bertolak belakang dengan kehidupan sehari-hari, cukup bikin ia repot. "Tapi saya senang, karena dengan begini saya merasa ditantang, " kilahnya. Saya memang kepingin mencoba macam-macam tema, sehingga dengan begitu saya bisa mengukur kemampuan saya di film. Saya kepingin mencari pengalaman sebanyak-banyaknya di film, " lanjutnya.

Tapi konon tidak berarti Sally kepingin selamanya di film. "Nanti dulu, saya malah kepingin mendalami sastra Prancis, karena selain senang juga perhatian orang kearah ini masih belum sebanyak yan gmemilih jurusan sastra inggir misalnya. Di film sekaligus bisa di jadikan batu loncatan untuk memupuk karir di belakang hari. Setidak-tidaknya kalau saya selesai kuliah nanti, orang akan mengenal saya. Mungkin tidak terlalu sulit untuk mencari lapangan kerja yang saya minati, " katanya. 

Apa bermaksud meninggalkan dunia film? Sementara ini memang belum terpikir kearah itu. "Tapi suatu saat nanti mungkin saya akan meninggalkan film dan terjun ke masyarakat. Bekerja misalnya, nah untuk itu kan saya musti punya bekal. " katanya. 

Bagaimana dengan adegan cium dan ranjang? Saya tidak tabu dengan adegan-adegan semacam itu. Asal wajar dan sesuai dengan alur cerita, ya boleh boleh saja, katanya bernada klise. Memang cewek manis yang satu ini kehadirannya di beberapa film cukup menantang. Salah satu adegan Si Doi yang terpampang penghias kalender 1989 menampilkan sebuah gambar yang cukup hangat. Pahanya tersibak keatas karena kakinya yang mulus nangkring diatas mobil warna merah yang ikut menghias film Si Doi. Posenya yang menantang itu cukup berbicara bahwa pendatang yang satu ini cukup berani sepanjang beralasan.  ~MF 066/34/Tahun V/7-20 Jan 1989


Saturday, January 24, 2026

KEMBALINYA SI JANDA KEMBANG, ARWAH CANTIK MENCARI POTONGAN TANGANNYA

 


KEMBALINYA SI JANDA KEMBANG, ARWAH CANTIK MENCARI POTONGAN TANGANNYA, Setting kisah berawal dari zaman Belanda. Willem Van Larsen beristrikan pribumi cantik, Kismi. Namun betapa murkanya Tuan ini, demi memergoki istrinya berbuat serong dengan seorang pemuda bungalownya. Tanpa ampun lagi ia menembak mereka . Si Pemuda kelojotan tewas di tempat. Tapi Kismi masih sempat lari keluar bungalow kendati dadanya telah ditembus peluru. Disiram hujan lebat, ia kabur ke hutan. 

Konon, Kismi memakai cincin Zippus dari Mesir Kuno di jari manis tangan kanannya. Itu sebabnya ia tak gampang-gampang di bu nuh, kecuali bila cincin sakti itu dicopot. 

Tuan Willem yang kalap terus memburu isterinya. Dengan kejam ia memeng gal tangan kanan Kismi. Barulah Kismi terkulai tak berdaya lagi. Selruh peristiwa mengerikan itu disaksikan oleh Kosmin, si pembantu setia merangkap sopir. Tuan Willem memaksa Kosmin merahasiakan kekejamannya dengan sejumlah uang yang besar. 

Beberapa tahun kemudian, baik Tuan Willem maupun Kosmin telah lama tiada. Bungalow peninggalannya terlihat angker menyeramkan. Sering terjadi peristiwa yang meminta korban jiwa disini. Kabarnya setiap pria yang menginap disini pasti bertemu seorang wanita jelita yang mengajaknya bercinta, Imbalannya, malam berikutnya si pria ditemukan mati bu nuh diri. 

Peristiwa ini pun dialami mahasiswa Norman. Kematiannya yang tragis sangat membuat teman-teman sekostnya penasaran. Apalagi menjelang ajal, Norman sempat menyebut-nyebut nama Kismi. 

Menyusul Deny dan Tigor pun bertemu dengan wanita misterius tersebut. Beruntun mereka juga menemui ajal secara mengenaskan. 

Mahasiswa ke empat, Hamsad berjuang keras untuk mengungkap misteri kematian ketiga rekannya. Dengan berani menyatroni bungalow angker. Sama seperti yang lainnya, iapun didatangi dan bercinta dengan Kismi. Namun Hamsad selalu waspada, berhasil mengatasi kemurkaan arwah Willem Van Larsen yang mendadak muncul. 

Terbukalah rahasia kalau arwah Tuan Willem masih terus mengawasi arwah isterinya. Ialah yang mengakibatkan kematian pemuda-pemuda yang berani berhubungan dengan Kismi. 

Hamsad terhindar dari maut. Bahkan bisa menemukan potongan tangan Kismi yang mengenakan cincin Zippus. Selama ini arwah Kismi memang gentayangan untuk mencari tangannya yang terpenggal itu. 

Dengan khidmat Hamsad menyatukan kembali tangan dengan jasad Kismi yang masih utuh karena disimpan Tuan Willem dalam peti kaca hampa udara ditempat rahasia. 

Kembalinya si Janda Kembang diperankan oleh Sally Marcellina, Ibrahim Azhari, Irfan Yudha, Eddie Gunawan, Pak Tile, Him Damsyik dan lain-lain dengan sutradara Sisworo Gautama Putra yang merupakan film terakhir dari Sisworo. ~MF 174/141/TH IV, 6 - 19 Maret 1993

HIM DAMSYIK, DISERANG PENGGEMAR AKIBAT PERAN DATUK MARINGGIH

 


HIM DAMSYIK, DISERANG PENGGEMAR AKIBAT PERAN DATUK MARINGGIH (Kisah Lawas).  Bintang film bertubuh langka Him Damsyik yang kembali mencuat lewat tokoh "Datuk Maringgih" dalam mini seri "Situ Noerbaya" kena getahnya. Tidak sedikit makian yang meluncur dari mulut pemirsa terhadap Datuk Maringgih, padahal pemutaran "Siti Noerbaya" telah lama berlalu. Makian atas keberhasilan Damsyik memerankan Datuk yang kaya, sombong, angkuh dan bermuka buruk itu. 

Baginya, permainanya dalam mini seri itu tidak ada yang perlu dibanggakan. 

"Saya rasa biasa-biasa saja, nggak ada yang luar biasa. Kalaupun dikatakan berhasil, itu cuma perasaan masyarakat saja, " Ucap Damsyik merendah. 

Meski peran antagonis, tapi Damsyik tidak melihat adanya antipati masyarakat terhadapnya. Itu terbukti ketika ia melakukan perjalanan ke tanah kelahirannya , Teluk Betung, Lampung.  "Sambutan disana luar biasa. Jalanan macet total, " katanya. Semuanya positif, begitu juga ketika berada disalah satu bank di Teluk Betung. Seluruh kegiatan bank tersebut berhenti total. Karyawan maupun manajer bank memberi selamat. 

Yang paling merepotkan, kata Damsyik, ketika dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Begitu tiba di Bakauheni, tepatnya saat memasuki kapal penyeberangan, ia langsung disambut oleh para staf kapal tersebut lewat pengeras suara. Karuan saja seluruh penumpang yang ada disitu menyerbu tempat Damsyik berada . Untuk menjaga hal-hal yang tidak diingini, Damsyik terpaksa diselamatkan dan di boyong ke anjungan kapal. 

"Sebenarnya sih nggak apa-apa. Cuma staff kapal takut terjadi sesuatu. Maklum namanya orang banyak. Mereka cuma mau salaman, ucapin selamat, foto-foto. Begitu juga waktu di Teluk Betung, ya mungkin karena mereka bangga terhadap putra daerah. Sayakan dilahirkan dan dibesarkan disana, " paparnya. 

Sambutan itupun menurutnya merata, mulai dari anak-anak, remaja maupun orang tua. Hanya saja, katanya yang paling banyak adalah kaum wanita. 

"Yang saya lihat memang ada kemajuan. Apresiasi masyarakat terhadap sinetron atau film kita cukup meningkat. Terlebih mengapresiasikan akting seorang pemain. Buktinya mereka semua salut, bukan benci, " kata Damsyik bangga. Namun berdasarkan pengamatan dari beberapa pemirsa, ada rasa dendam yang amat dalam terhadap Damsyik yang berperan sebagai Datuk Maringgih itu.

"Kalau saya ketemu itu orang, saya mau timpuk pakai batu, " kata seorang pemuda di bilangan Tanjung Duren, Tomang Barat, Jakarta Barat yang enggak disebut jati dirinya. Semula memang pemuda yang satu ini merasa biasa-biasa saja. Ia sadar kalau itu cuma kebolehan seseorang dalam memainkan peran tapi setelah ia menyaksikan episode ketiga sinetron "Siti Noerbaya" emosinyapun tiba-tiba muncul. Apalagi setelah melihat penderitaan Noerbaya yang menikah dengan Datuk Maringgih. 

"Mam pus kek orang itu," celetuk beberap aanak kecil saat menyaksikan sinetron episode ketiga itu dirumah salah satu keluarga di bilangan Cempaka Putih, Jakarta Pusat. 

MF 140/107 Th VIII/9-22 Nov 1991

Friday, January 23, 2026

EL BADRUN, PENATA ARTISTIK FILM SAUR SEPUH

 


EL BADRUN, PENATA ARTISTIK FILM SAUR SEPUH, DARI RAJAWALI KE MANUSIA RAKSASA. (Kisah lawas). Para penonton film "Saur Sepuh" (Satria Madangkara) pasti sudah menyaksikan bagaimana hebatnya Brama Kumbara, Satria Madangkara itu, menghancurkan musuh-musuhnya. Dari memenggal kepala, di tembus kerus tubuhnya namun tidak apa-apa, menghancurkan tubuh lawan-lawannya hingga jadi debu, sampai memanggil Rajawali tunggangannya .

Brama memang hebat. Tapi untuk film, seorang lelaki berkulit gelap berada di belakang kehebatan Satria Madangkara itu. Orang itu adalah El Badrun, lelak kelahiran 25 Januari 1950. Dari kerjanyalah muncul efek-efek khusus yang membuat kesaktian Brama Kumbara seperti di Radio, muncul dalam bentuk visual di layar bioskop.

Tapi itu belum apa-apa. Masih kerja efek khusus yang biasa, " ujar badrun. Dan memang, yang lebih dari Badrun ketika membuat efek khusus "Saur Sepuh I" adalah ketika ia menciptakan burung Rajawali Raksasa yang menghabiskan bulu angsa seratus ekor. Dengan teknik Front Projection, Badrun membuat burung itu seakan terbang di angkasa raya, membawa penunggangnya meskipun visualisasinya belum begitu sempurna. 

Kini, seperti tak ingin puas dengan kerja pertamanya tersebut, Badrun punya gagasan baru. "Untuk film Saur Sepuh II yang berjudul "Pesanggrahan Keramat", saya akan membuat manusia raksasa. Tingginya sekitar 30 meter, " ujar Badrun saat suting pertama film Saur Sepuh II. 

Untuk membuat manusia raksasa itu menurut Badrun, bahannya dari spoon plastik denga rangka besi serta rotan. Manusia raksasa itu merupakan sosok Brama Kumbara setelah ia marah dan melakukan tiwikrama atau semedi," tuturnya. "Dalam cerita ini digambarkan Brama marah lalu melakukan semedi hingga tubuhnya berubah jadi raksasa. Untuk membuat itu, saya masih tetap menggunakan  teknik front projection, " tambah lelaki yang sengaja pergi ke Bavaria - Jerman, hanya untuk memperdalam pengetahuannya  soal efek-efek khusus tersebut. 

Tentang efek-efek khusus lain yang akan ditampilkannya di dalam "Saur Sepuh II", dimana Badrun menjadi penata artistik, ia menyebutkan masih sama seperti yang pertama. "Masih mengandalkan trik-trik kamera, " jawabnya. "Tapi, selain mempertahankan imej kesaktian Brama seperti tergambar pada Saur sepuh I, kali ini kita mencoba memberi beberapa tambahan lainya," katanya. 

"Tapi saya punya target. Kalau pembuatan raksasa ini berhasil, saya yakin kita bisa membuat film-film lain yang lebih spektakuler. Film anak-anak atau film seperti "King kong" atau "ET" dan lainnya, " ujar Badrun optimis. 

Tapi untuk bisa menghasilkan kerja yang bagus bagi keperluan pembuatan film-film seperti itu, Badrun mengharap karyawan film yang terlibat mendapat imbalan yang lebih pantas dan layak. "Kalau tidak, sulit hal itu bisa di wujudkan, "katanya. 

"Saya sendiri memang mendapat bayaran yang cukup. Tapi teman-teman kerja saya masih dibayar sangat murah. Padahal siapapun tahu saya tidak bisa bekerja sendirian, " tambahnya. 

"Betul, saya akan terus memperjuangkan honorarium rekan-rekan kerja saya . Karenanya saya setuju sekali dengan sikap George Kamarullah yang memilih mundur dari dunia film karena ketimpangan honorarium yang di terima karyawan film tersebut, " tegasnya. " Tapi sayangnya karyawan film kita tidak kompak. Tidak bersatu. George contohnya, tidak ada yang mendukung dia, " kata Badrun mengakiri keluhannya. 

~MF 066/34/Tahun V/7-20 Jan 1989



Thursday, January 22, 2026

JAWARA JAWARA FILM INDONESIA, BAGIAN 2


 JAWARA JAWARA FILM INDONESIA, BAGIAN 2. Setelah sebelumnya membicarakan Jawara-jawara film Indonesia yang berantagonis, selanjutnya adalah jawara-jawara  lain yang nasibnya sedikit lebih beruntung. Barry Prima, Fendy Pradhana, Erick Soemadinata dan Baron Hermanto, adalah jawara-jawara film aksi yang nyaris tak pernah jadi antagonis. Barry misalnya sejak pertama main film, ia langsung kebagian peran protagonis. Jadi jagoan dan itu bertahan hingga saat ini (1989)dengan bayaran paling tinggi diantara para jawara film aksi lainnya, yakni 150 juta pertahun.

Yang senasib sama seperti Barry adalah Fendy Pradana. Sejak main film pertama kali dengan Sisworo Gautama Putra lewat film "Malam Satu Suro" Fendy terus kebagian peran jagoan. Belum banyak film yang dibintanginya memang. Tapi posisinya sebagai jawara tampaknya semakin kuat. "Tapi kalau ada tawaran main film dalam jenis lain, saya pasti mau. Jadi tidak terus menerus fight setiap main film, " ujar mantan karateka sabuk coklat ini. 

Beda dengan Barry dan Fendy, adalah Baron Hermanto. Putra aktor Bambang Hermanto ini terjun ke film pertama kali malah bukan  sebagai pemeran film aksi. "Saya main pertama kali film "Permata Biru" tahun 1984. Entah kenapa belakangan ini  saya kok banyak main dalam film-film aksi, " ujarnya yang juga seorang karateka. Baron sendiri mengaku sudah banyak ikut main dalam film Indonesia. 

"Memang saya  sendiri sudah kenal film sejak masih kecil. Tapi kalau main film setelah usia 20 tahun, katanya. 

Jawara lain yang beruntung adalah Erick Soemadinata. Mantan pegawai sebuah biro swasta ini, begitu main film memang tak langsung jadi jagoan. "Mulanya saya jadi  figuran dan kebagian peran-peran kecil pada tahun 1986", ujarnya. Tapi nasib baik membawa lelaki yang pernah belajar silat di PS Panglipur ini ke peran utama lewat film "Si Gobang I dan II". Sejak itu belum banyak film yagn ia bintangi memang. "Tapi saya bertekad untuk terus hidup di film. Terserah jadi antagonis atau apa. Dalam film aksi atau film jenis lain ," tuturnya. 

Memang masih ada beberapa  Jawara lain yang malang melintang dalam film aksi kita ini. Tapi nama-nama diatas agaknya sudah cukup sebagai jaminan bagi mengukur niat kemampuan dan kapasitas mereka sebagai pemain film. Namun entah kenapa sampai  saat ini mereka melulu kebagian porsi sebagai tukang-tukang be r a n t e m di film. Tukang kelahi dan nyaris tak pernah dilirik niat baik dan keinginan mereka untuk benar-benar berakting. "Padahal film aksi kan tak cuma ciat ciat. Dan  kami juga tak cuma bisa berciat ciat. Tapi kesempatan itu kayaknya belum datang ya, ?" tutur Advent . 

Advent benar , film aksi memang bukan melulu film ciat-ciat. Tapi agaknya kecenderungan untuk membuat film aksi adalah film yang melulu  b e r a n t e m , sudah begitu mentradisi. Akibatnya para jawara film Indonesia itu, jarang dilirik, tak terkecuali dalam ajang Festival Film Indonesia. Kenyataan seperti itulah yang membuat Advent Bangun misalnya mencoba merangkum. "Saya ingin peran yang lain. Film yang lain yagn tak melulu aksi. Terserah film drama atau komedi, " ujarnya. 


~MF 086/54/Tahun VI, 14-27 Okt 1989

JAWARA JAWARA FILM INDONESIA, BAGIAN 1


 JAWARA JAWARA FILM INDONESIA, BAGIAN 1  Film Indonesia adalah film dengan beragam tema. Dan kalau film aksi lebih banyak peminatnya , jangan salahkan produser atau sutradara, tapi tanyakan pada selera. Lihat saja, dari 99 judul film yang ikut FFI (1989), 39 judul diantaranya adalah film aksi dan 60 judul lainnya baru film-film untuk jenis drama komedi dan horor. 

Berdasar dari data it saja, wajar kalau kemudian film Indonesia di tahun tersebut di dominasi oleh pemain-pemain yang bisa ciat ciat dan mahir baku hantam, tapi minus kemampuan akting. Simak saja, bandit dalam film Indonesia adalah bandit dengan ciri-ciri yang mudah ditebak. Berotot menonjol dan berwajah keras. Kaku dalam tindakan dan sinis kalau bicara. Antagonisme dalam film Indonesia agaknya memang lebih gampang agaknya diwijudkan lewat ciri-ciri begitu. Lagi pula , siapa di negeri ini yang mau menerima gambaran lain, seorang bandit adalah sosok yang tampan dan berhati mulia?.

Kebalikan dari peran antagonis itu adalah sosok peran buat tokoh protagonis. Sosok -sosok yang digambarkan begitu gagah, tampan, jagoan, lembut dan berhati mulia. Dan perbedaan profile karakteristik tokoh yang hitam putih itu justru sangat kentara dalam film-film aksi kita. Coba saja, apa ada produser aau malah penonton yang mau menerima jika Barry Prima atau Fendy Pradana jadi bandit? sebaliknya apa mungkin Advent Bangun atau Yoseph Hungan jadi jagoannya. Bisakah identik aksi dalam film Indonesia denga akting?

"Seharusnya bisa. Tapi kondisi perfilman di Indonesia tampaknya terlanjur membentuk seorang antagonis untuk tetap antagonis, " ujar Piet Pagau salah satu pemeran antagonis film Indonesia. Dan memang contoh itu sudah dibuktikan oleh Piet sendiri maupun beberapa pemain lain, Advent Bangun misalnya. Sepanjang sejarah keterlibatan dalam dunia film, jarang sekali memerankan peran lain selain peran antagonis. Di film "Siluman Kera" Advent tidak main sebagai antagonis. "Saya juga nggak tahu kenapa begitu. Padahal saya yakin bisa main jadi apa saja. Terus terang saya rindu lho dapat peran yang tidak antagonis melulu, " ujarnya. 

Biar antagonis Advent toh tergolong jawara kelas satu dalam film Indonesia. Ada beberapa nama lain yang mendampinginya dan tak pernah luput saban film aksi dibuat. Yoseph Hungan misalnya , lelaki bertubuh kekar dan bentuk kulit hitam ini sejak pertama kali terlibatdi film tahun 1987 perannya melulu antagonis. "Saya tidak punya cita-cita main film lho. Saya ikut main film karena diajak Willy Dozan ketika bikin film "Pernikahan Berdarah" tapi kok rasanya main film itu enak. Saya bisa nabung, " ujar DAN II Internasional Tae Kwon Do yang mantan pegawai Dolog di Semarang ini. 

Padahal sebagai Tae Kwon Doin, prestasi Yoseph tak kelanga tanggung. Delapan kali ia secara berturut-turut memegang gelar juara nasional untuk empat kelas sekaligus. Tapi rupanya film memberi peluang lain. Akibatnya dia mengundurkan diri dari kontingen Sea Games Indonesia tahun 1989."Soalnya saya tidak bisa meninggalkan film. Itu tempat saya cari makan. " katanya jujur. 

Peluang itu pula yang menyeret Syarief Friant masuk dunia film. Terjun pertama kali ke film tahun 1982 lewat "Pendekar Liar" sampai tahun 1989 Syarief mengaku sudah ikut main dalam 40 judul film dan semuanya kebagian peran antagonis. "Tapi saya pernah ikut film komedi lho. Entah kenapa Arizal mengajak saya main dalam film "Sama Sama Enak". Saya sendiri maunya bisa ikut main dalam film jenis apa saja dan tidak melulu film aksi, " kata bekas Karateka penyandang sabuk Coklat ini. 

Sebagai antagonis, baik Advent Bangun, Yoseph Hungan maupun Syarief Friant agaknya memang memenuhi syarat-syarat seorang antagonis untuk film Indonesia. Selain bertubuh kekar, tinggi besar, mereka pun bertampang serem dan punya dasar-dasar fight yang memang dibutuhkan. "Tapi saya ingin belajar. Saya ingin lebih dari peran yang saya mainkan selama ini, " ujar syarief. Keinginan itu pula yang mendorong Yoseph Hungan  dan Advent Bangun untuk terus menerus jadi antagonis. "Apapun saya bisa kalau diberi kepercayaan, " ujar mereka. BERSAMBUNG BAG 2


~MF 086/54/Tahun VI, 14-27 Okt 1989

Tuesday, January 20, 2026

DOYOK SUDARMADJI

 


DOYOK SUDARMADJI, ASAL MULA PAKAI NAMA DOYOK DAN KEHIDUPAN SEBELUM MAIN FILM, Nasib baik memang tak pernah pandang bulu. Dan nasib baik itu pula yang menyinggahi Doyok Sudarmadji. arek Surabaya yang kondang sebagai pelawak."Padahal dulu saya ini hobbynya ngebut lho, sampai pernah jungkir balik di jalanan, " ujar Doyok. 

Padahal, menurut Bapak bertubuh kecil ini, sebelumnya jadi pelawak dan kemudian main film, hidupnya sejak berada di Jakarta begitu pahit. "Saya malah pernah jadi tukang tambal ban, " tuturnya.  Tidak cuma itu, iapun mengaku sempat pula hidup dalam suasana yang ugal-ugalan. "ngebut dan petentengan di jalanan dengan motor besar, itu dulu menjadi bagian sehari-hari saya, " katanya. 

Namun nasib lain kemudian merubah hidupnya. Ya kecelakaan di jalanan waktu ngebut itulah yang menurutnya membuat sadar. Lalu bersama beberapa rekannya yang seide ia lalu bikin grup lawak yang diberi nama "Doyok Group". "Nama Doyok sendiri kami ambil dari nama tokoh komik di Poskota atas izin mas Kelik, pengarangnya. Waktu itu kami akan ikut lomba lawak di Ancol," ujar Doyok. 

Doyok yang mengaku dari hasil melawak dan main film itu bisa beli rumah dan pasang telepon, menyebutkan, dunia lawak dan film tampaknya memang sudah menjadi bagian dari hidupnya. "Pokoknya saya akan terus main film dan melawak," tuturnya. Lalu bagaimana pembagian rejeki dengan teman-teman? "Kalau soal itu kita berusaha terbuka. Kita bagi rata hasil pendapatan kita. Tentunya dengan aturan main tersendiri dong, " jawabnya. 

Lalu apa sih enaknya main film dan melawak? "Wah pokoknya lebih enak daripada ngebut. Main film itu bisa bikin saya dikenal banyak orang, dan melawak bikin saya gembira karena bisa menghibur orang banyak," jawabnya. Demikian seperti dituturkan dalam MF tahun 1988

~MF 082/50/TH.V, 19 Agustus - 1 Sept 1988